Home / Romansa / Rahim Tawanan / Kemarahan Kenan

Share

Kemarahan Kenan

Author: Queenau
last update publish date: 2024-03-10 08:40:22

Pria dengan kemeja yang digulung sampai siku itu tampak serius di balik meja kerjanya. Sekretaris pria itu dengan setia di sampingnya dan dengan sigap menjawab ketika ditanya oleh atasan nya itu. Bahkan sekretarisnya rela menahan punggungnya yang pegal dan harus selalu fokus karena atasannya itu terlihat begitu menyeramkan ketika sedang serius seperti ini. Keduanya larut dalam pekerjaan sampai dering ponsel sang sekretaris menghentikan kegiatan mereka.

“Angkatlah.” titah sang tuan tanpa menengok sama sekali.

“Baik tuan.” Laki - laki dengan jas rapi itu tanpa disuruh dua kali segera mengangkat teleponnya.

“Emm tuan, Nyonya sepertinya bergerak kembali.” Dengan wajah ragunya sang sekretaris mengatakan informasi yang baru saja ia dapat dari si penelpon.

“Apa?! Apa lagi sekarang?” tanya pria yang kini sudah mengalihkan atensi sepenuhnya.

“Nyonya menyewa seorang gadis untuk mengandung anak Tuan Ken.” ucap sang sekretaris dengan suara lantang.

Kenan, sang tuan pun segera bangkit dari kursinya dengan amarah tercetak di wajahnya.

“Segera siapkan mobil Rik, kita ke rumah utama.”

Dengan langkah lebar, Riko sang sekretaris meninggalkan ruangan untuk menyiapkan apa yang diperintahkan tuannya.

Meski wajahnya tampak tenang, tapi Riko tau sang tuan pasti sedang memendam amarahnya sekarang. Lelaki itu sebenarnya ingin memperlambat laju mobilnya karena enggan melihat kemarahan tuannya. Namun, tak membutuhkan waktu lama untuk mobil itu sampai ke kediaman utama alis mansion Nyonya Besar Askandar. Kedatangannya dengan Riko mengalihkan perhatian para pelayan. Dengan tatapan tajamnya ia berjalan dengan cepat ke sebuah ruangan yang menjadi tujuan utamanya. Begitu sampai, ia membuka kasar pintu ruangan itu dan membuat penghuni ruangan itu terlonjak kaget.

“Apa yang Mami rencanakan? Kenapa Hans bilang Mami menyewa seorang perempuan?” Tanya Kenan pada penghuni ruangan yang ternyata ibu dari laki - laki itu sendiri.

“Kenapa memangnya?” Tanya Sang ibu yang kembali menekuni pekerjaannya dibalik meja dengan wajah santai. Meski sempat terlonjak kaget, nyatanya wanita yang masih terlihat awet muda di usianya yang tak lagi muda itu, tak terganggu akan kedatangan putra semata wayangnya.

“Mami jangan kelewat batas, untuk apa menyewa seorang ja*ang? Memangnya Mami rela cucu Mami lahir dari seorang ja*ang?” Tanya Kenan dengan mata yang masih berkilat marah.

“Tidak masalah, asalkan ada penerus dikeluarga ini.” Meski anaknya berkata dengan begitu kasar dan sarat akan amarah di setiap ucapannya, Madam Soraya masih menanggapinya dengan santai.

“Tapi Ken yang tidak terima Mami! Ken pastikan Ken tidak akan pernah meniduri ja*ang itu!” Ucap Kenan dengan wajah mengeras.

“Siapa yang menyuruhmu menidurinya Ken? Mami tidak pernah menyuruhmu. Mami hanya perlu mendatangkan dokter Stef maka dia yang akan menangani pembuatan cucu Mami.”

Kenan langsung memasang wajah kaget. “Maksud Mami?”

“That's right, bayi tabung. Cukup kamu sumbangkan beberapa tetes spermamu, itu saja sudah cukup bagi Mami.” Ucap Madam Soraya dengan senyum terukir di wajahnya. “Lagipula Mami sudah lelah menuntutmu untuk menikah. Semua gadis kamu tolak dengan mentah - mentah. Mami saat ini hanya ingin memiliki pewaris, tapi kalau kamu berubah pikiran dan ingin menikah katakan pada Mami akan Mami batalkan rencana Mami ini.”

Kenan langsung terdiam mendengar ucapan ibunya. Merasa tidak benar dengan rencana ibunya itu tapi juga merasa tidak begitu buruk. Kalau seperti ini ia bisa terbebas dari rengekan ibunya yang setiap hari menyuruhnya untuk menikah. Tapi ia juga tidak rela jika anaknya dikandung oleh seorang ja*ang sesuai anggapannya.

“Semua tergantung padamu Ken, pikirkan baik - baik dan katakan pada Mami keputusanmu segera.” Ucap Madam Soraya dengan menepuk pundak putranya itu sebelum keluar dari ruangannya.

Kenan menundukkan kepalanya. Ia memejamkan mata dan menghembuskan nafas keras. Riko, sang sekertaris yang baru saja masuk ruangan itu pun ragu untuk memanggil majikannya.

“Rik cari tau siapa perempuan yang Mami sewa. Saya tunggu informasinya malam ini.” Titah Kenan.

“Baik Tuan.” Jawab Riko dengan patuh.

Kedua laki - laki itu langsung meninggalkan ruangan dengan langkah tegap mereka.

***

Jika dipikirkan ulang, Kenan tidak trauma akan sebuah pernikahan. Ia dari keluarga yang lengkap juga cenderung harmonis, meski beberapa tahun ini agak terpuruk semenjak papinya berpulang. Tapi ia belum percaya akan sebuah komitmen. Ia masih menginginkan kebebasan sebagai pria lajang. Ia masih ingin mengepakkan sayapnya di dunia bisnis juga menikmati kehidupan damainya karena Kenan percaya bahwa perempuan hanya akan membawa permasalahan baru di hidupnya.

Namun kini, ia harus memikirkan masalah perempuan karena ulah ibunya. Sebenarnya bukan kali ini saja sih karena ia sering dijodoh - jodohkan, tapi kali ini yang paling parah. Bisa - bisanya ibunya itu menyewa seorang perempuan hanya untuk mengandung anaknya. Sungguh kejadian yang tidak pernah Kenan pikirkan sebelumnya.

Drrt drrt

Getar ponselnya membuat Kenan langsung meraih benda persegi panjang itu dari saku celananya. “Apa sudah dapat informasinya?” Tanya Kenan to the point. Ia membenci basa basi yang tidak penting. “Apa Rik? Keluarga Arbaha yang itu yang kamu maksud? Baiklah filenya bisa kamu kirimkan lewat email.”

Kenan mematikan panggilan dan langsung melamun. Pikirannya jadi menerawang. “Arbaha ya? Cukup menarik.” Gumam laki - laki itu dengan seringai di bibirnya.

Kenan lalu mengotak - atik ponselnya kembali. “Mam, I want to meet her.” Ucap Kenan dalam panggilannya dengan ibunya.

“Apa? Oh tidak bisa, Mami tidak akan tertipu denganmu lagi Ken.” Ucap Maminya dengan suara tegas. Jangan salahkan Maminya kalau ia tidak percaya pada Kenan, karena lelaki itu sendiri yang suka membohongi ibunya. “Terakhir Mami percaya permintaanmu kamu membuat anak orang ketakutan dan trauma Ken.”

Ken jadi mengingat perbuatannya bulan lalu dimana ia dijodohkan dengan seorang gadis yang takut akan ular. Maka demi membatalkan perjodohan itu ia rela seharian di kandang ular demi membatalkan perjodohannya dan berhasil, karena gadis itu langsung ketakutan dan trauma.

“Mam please, Ken nggak akan berbuat ulah kali ini. Kenan hanya ingin memastikan keputusan apa yang perlu Ken ambil. Ini juga menyangkut masa depan anak Ken kelak Mam.” Maka dari itu, Kenan berkata dengan suara sungguh - sungguh.

“Hmm baiklah, datanglah besok saat makan siang. Mami pegang janjimu, jika kamu berbohong akan Mami tarik seluruh saham Mami di perusahaanmu.”

“Baik Mam, good night Mam.” Saking senangnya bahkan Kenan menjawab dengan cepat.

“Hmm.”

Dengan wajah sumringah Kenan memainkan ponselnya. Untung Maminya itu selalu tidak kuat dengan rengekannya dan mudah dibujuk rayu. Ia jadi tidak sabar menunggu esok hari.

“Sampai jumpa besok, Nona Arbaha.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahim Tawanan   Malam itu🔞

    Bunyi kulit saling beradu terdengar dangat nyaring di sebuah kamar hotel. Dua anak adam berbeda jenis kelamin itu begitu terbuai satu sama lain. Kegiatan itu tidak hanya sekali dua kali tapi terjadi berulang kali hingga si gadis mengeluh. "Ashya capekh." Keluhan itu hanya dianggap angin lalu oleh pria yang kini tengah mengungkung Ashyana itu. Seakan tak puas setelah melakukan berulang kali, nyatanya kegiatan itu tak kunjung terhenti. "Tuanh." tubuh Ashyana masih mebgeliat kesana kemari karena tangan nakal pria di atasnya itu. "Panggil namaku dan aku akan mengakhirinya sekali ini." "Tidakh sopanh tuanh." tatapan sayu yang Ashyana berikan bukannya menghentikan kegiatan pria itu di atas tubuh Ashyana tapi malah menjadi. "Cukup panggil namaku dipuncaknya nanti atau kamu mau menambah beberapa ronde lagi?" Ashyana langsung menggeleng kepalanya kuat. Bibir yang rasanya sudah kebas itu semakin kebas saat benda kenyal pria itu memagutnya kesekian kalinya. Ashyana yang sebenarn

  • Rahim Tawanan   Kebun Anggur, Fastival dan Rahasianya

    Meski sudah tidak pusing lagi, Ashyana memilih bertahan di kamarnya. Ia tbahkan tidak turun untuk sarapan dan itu membuat Kenan kini menghampirinya. Padahal sudah jelas tujuan Ashyana ingin menghindari tuannya itu. "Kamu masih demam?" Refleks tangan Kenan terangkat untuk mengecek suhu Ashyana, dan refleks juga gadis itu memundurkan kepalanya. "Enggak Tuan." jawab Ashyana dengan kepala tertunduk dan jari memilin piyama tidurnya. "Syukurlah, siap - siaplah 30 menit lagi kita keluar." pernyataan yang keluar dari mulut Kenan itu membuat Ashyana mengerjap sebelum mengangguk patuh. "Bi Elle tolong bantu Nona Ashyana bersiap." Bibi Elle pun mengangguk patuh. "Ti-" Ashyana menelan protesn yang akan ia keluarkan begitu teringat prinsipnya semalam. "Ada apa Nona Ashyana?" Kenan yang akan berbalik itu mengurungkan niatnya mendengar suara Ashyana tadi. "Tidak apa - apa Tuan." jawab Ashyana masih dengan kepala menunduknya. Meski merasa janggal Kenan hanya mengangkat sebelah alisnya d

  • Rahim Tawanan   Bertengkar

    Ashyana masih tenggelam dalm lautan mimpinya saat sebuah tangan besar mengusik tidur nyenyaknya. "Cy jangan menggangguku, aku beneran pusing ih." gumam Ashyana tanpa repot - repot membuka matanya. Ia balikkan tubuhnya dari posisi semula sehingga kini ia memunggungi si pengganggu tidurnya itu. "Langsung periksa saja Steve." Dan tidurnya itu menjadi semakin terusik saat lamat - lamat ia mendengar suara pria yang akhir - akhir ini begitu familiar ditelinganya. Tak lama setelah itu, dapat Ashyana rasakan benda yang ia yakini sebagai stetoskop itu menyentuh dadanya. Karena semakin mengganggu tidurnya, akhirnya Ashyana membuka mata dan langsung dihadapkan pada dua wajah tampan yang sama - sama memasang wajah seriusnya. "Nyonya Ashyana masih merasa pusing?" tanya dokter Steve yang diangguki oleh Ashyana. "Selain itu apa yang dirasakan?" "Udah itu aja Dok." Setelah itu dokter Steve tidak bertanya lagi dan sibuk memilah obat. Ashyana sendiri memilih untuk memejamkan matany

  • Rahim Tawanan   Bayi Tabung Part 2

    Hari pertama hingga hari terakhir proses penyuntikan diperut Ashyana selalu ditemani oleh Madam Soraya dan Kenan yang sesekali datang untuk melihat prosesnya. Ibu dan anak itu meskipun dengan wajah yang masih angkuh tak tergoyahkan menjadi begitu perhatian dan protektif terhadap Ashyana apalagi Kenan yang kini terlihat lebih manusiawi. Dan ternyata hal itu sangat membantu Ashyana untuk bisa bersemangat menjalani proses ini. Karena jujur saja, sejak penyuntikan pertama Ashyana mulai merasa perbedaan yang sulit dijelaskan pada tubuhnya sendiri dan itu wajar menurut dokter Key. Karena suntikan tersebut sangat berpengaruh terhadap hormonnya jelas menjadikannya begitu lelah baik secara fisik maupun psikisnya. Seperti malam ini, setelah suntikan terakhir yang dilakukan tepat dijam yang sama yaitu pukul 7 malam, Ashyana tiba-tiba menitikkan air matanya sebab moodnya memburuk. Tubuhnya terasa lelah padahal tidak ada kegiatan berat apapun karena memang kegiatannya selama di rumah ini selal

  • Rahim Tawanan   Bayi Tabung Part 2

    Hari pertama hingga hari terakhir proses penyuntikan diperut Ashyana selalu ditemani oleh Madam Soraya dan Kenan yang sesekali datang untuk melihat prosesnya. Ibu dan anak itu meskipun dengan wajah yang masih angkuh tak tergoyahkan menjadi begitu perhatian dan protektif terhadap Ashyana apalagi Kenan yang kini terlihat lebih manusiawi. Dan ternyata hal itu sangat membantu Ashyana untuk bisa bersemangat menjalani proses ini. Karena jujur saja, sejak penyuntikan pertama Ashyana mulai merasa perbedaan yang sulit dijelaskan pada tubuhnya sendiri dan itu wajar menurut dokter Key. Karena suntikan tersebut sangat berpengaruh terhadap hormonnya jelas menjadikannya begitu lelah baik secara fisik maupun psikisnya. Seperti malam ini, setelah suntikan terakhir yang dilakukan tepat dijam yang sama yaitu pukul 7 malam, Ashyana tiba-tiba menitikkan air matanya sebab moodnya memburuk. Tubuhnya terasa lelah padahal tidak ada kegiatan berat apapun karena memang kegiatannya selama di rumah ini selal

  • Rahim Tawanan   Bayi Tabung Part 1

    "Ashyana." Panggilan itu membuat Ashyana yang sedang menghapus make up terlonjak kaget. Bukan karena suaranya yang keras, tapi karena ia mengenali suara itu milik Kenan yang membuatnya kaget. Jujur ia masih kepkiran dengan ucapan Kenan tadi tentang malam pertama dan kini pipinya memerah tanpa sebab. "I-iya tuan, ada apa?" Ashyana tidak berani membalikkan tubuhnya atau hanya sekedar memalingkan wajahnya ke Kenan. "Mom meminta kita untuk kebawah," ucap Kenan yang kini menatap bayangan Ashyana dalam cermin. Meski pipi yang kemerahan itu tidak tertangkap sempurna dalam penglihatannya, Kenan tau jika Ashyana sedang salah tingkah dengan kedatangannya. "Saya sedang menghapus make up, bolehkah saya menyusul tuan?" "Aku tunggu." "Tapi tuan-" "Atau mau aku bantu nona?" Ashyana menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dengan buru-buru ia menghapus sisanya bahkan dengan gerakan yang cukup brutal. "Hei calm down, jika terlalu keras kulitmu nanti akan terluka." Ashyana langsung melo

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status