ログイン"Kok bisa!" Dante menyambar kerah kemeja Arthur, lalu melepaskannya dengan kasar. "Gimana sistem kepemimpinan di divisi itu? Masak divisi sepenting itu bisa memasuki ranah Dewan Pusat sesuka hati! Itu penghinaan."
Arthur tetap berdiri tegak. Ia merapikan kerah jasnya yang sedikit miring, lalu melipat kedua tangan di depan dada. "Keputusan Dewan tidak pernah mutlak di mata militer. Kau tau itu." "Aku tidak peduli!" Dante menggeleng keras, seolah semua penjelas"Semuanya udah datang?" Zen meletakkan proyektor kecil di atas meja. Cahaya redup memenuhi ruang bawah tanah mansion Dante saat layar perlahan menyala. "Kurang Aruna." Malik menutup pintu, lalu memastikan penguncinya benar-benar aktif sebelum ikut duduk. "Dia tetap ikut." Zen mengetuk komunikator di tengah meja. Lampu indikatornya berkedip beberapa kali sebelum sambungan berhasil terhubung. "Aku dengar." Suara Aruna terdengar pelan dari balik alat itu. Dengung statis sesekali memotong ucapannya. "Kondisimu?" "Masih hidup." Zen terkekeh kecil sambil menggeleng. Jawaban itu sudah cukup memberi tahu bahwa Aruna masih bisa berbicara tanpa pengawasan langsung. "Yaudah, kita mulai." "Aku nemu ini." Dante meletakkan sebuah buku tua di atas meja. Sampul kulitnya mulai retak, tetapi lambang keluarga Ashford masih terlihat jelas. "Arsip keluarga?" "Lebih tua." Dante membuka halaman pertama dengan hati-hati. Kertasnya menguning, sementara tinta hitam di beberapa bagian mulai memu
Zen memutar kursinya menghadap Cilian. Beberapa monitor di belakangnya masih dipenuhi deretan data yang terus bergerak. "Belum bisa dipastikan." Cilian menggulir halaman demi halaman dengan wajah serius. Sesekali ia berhenti cukup lama pada satu laporan sebelum kembali melanjutkan. "Jangan gantung." "Aku lagi nyusun polanya." Cilian memperbesar salah satu dokumen. Nomor arsip di pojok kanan atas membuat dahinya sedikit berkerut. "Lihat nomor ini." Zen mendekat. Nomor dokumen itu berurutan, tetapi file setelahnya langsung meloncat beberapa angka. "Ada yang hilang?" "Bukan satu." Cilian menggeser layar ke laporan lain. Pola yang sama kembali muncul. "Ada yang sengaja ngapus rantainya." "Berarti datanya masih ada." Zen kembali ke kursinya. Jemarinya mulai mengetik lebih cepat, mencoba melacak jejak file yang sudah dihapus dari server utama. "Kalau benar dimusnahkan, jejak digitalnya juga ikut hilang." "Tapi ini nggak." Cilian menunjuk sederet kode kecil di bagian bawah layar.
"Masuk ke server pusat itu sama aja bunuh diri." Zen memutar kursinya menghadap deretan monitor. Jemarinya menari di atas keyboard, sementara baris-baris kode terus memenuhi layar di depannya. "Untung aku nggak takut mati." Satu per satu firewall Dewan muncul di monitor. Zen menyusup melalui server logistik, lalu berpindah ke jaringan medis sebelum akhirnya mencapai pusat data Genesis. "Ketemu...." Sudut bibirnya terangkat tipis. Puluhan folder bermunculan di layar, tetapi hampir semuanya ditandai ikon gembok berwarna merah. "Masih dikunci?" Zen membuka salah satu arsip. Layar hanya menampilkan stempel DATA TELAH DIMUSNAHKAN. Ia berpindah ke folder lain, tetapi hasilnya tetap sama. "Seseorang sengaja nyapu bersih." Jemarinya kembali bergerak di atas keyboard. Kali ini ia mencoba memaksa membuka server yang tingkat enkripsinya paling tinggi. "Biasanya kamu nggak selama ini." Suara itu keluar dari headset di telinganya. Zen tersenyum kecil tanpa menghentikan pekerjaannya. "
"Buka pintunya." Dua petugas berseragam hitam berdiri di kanan-kiri lorong. Salah satunya menggeser senapan ke dada saat Aruna melangkah turun dari kendaraan. "Selamat datang kembali, Aset 01." Aruna tidak menjawab. Pandangannya menyapu bangunan yang menjulang di hadapannya. Tak ada yang berubah. Bahkan bau antiseptik yang menguar dari ventilasi masih sama seperti terakhir kali ia pergi. "Ikuti kami." Pintu baja terbuka perlahan. Suara gesekan logam bergema sepanjang lorong sebelum kembali tertutup rapat di belakang mereka. "Berhenti." Seorang petugas perempuan mengangkat alat pemindai ke depan Aruna. Cahaya biru menyapu tubuhnya dari kepala hingga kaki. Sesaat kemudian, layar monitor memunculkan data medis lengkap beserta status kehamilan yang kini berubah menjadi TERMINATED. "Pemeriksaan selesai." Petugas itu melepas gelang identitas lama dari pergelangan tangan Aruna, lalu menggantinya dengan gelang hitam berlapis logam. "Apa bedanya?" "Model terbaru." Petugas mengunci
"Sophie! Jangan!"Teriakan itu memecah kesibukan mansion. Para pelayan menjatuhkan pekerjaan mereka, sementara beberapa prajurit serentak mendongak ke balkon lantai dua."Cepat! Naik ke atas!"Dua penjaga baru saja hendak berlari ketika Dante keluar dari dalam mansion. Tatapannya langsung terkunci pada sosok yang berdiri diam di balkon."Berhenti. Jangan ada yang mendekat."Suara Dante membuat langkah mereka tertahan. Tak seorang pun berani membantah, meski udara dipenuhi bisik-bisik cemas."Dia berdiri di sana dari tadi....""Jangan-jangan...."Kalimat itu menggantung. Tak ada yang sanggup mengucapkan dugaan yang sama-sama mereka pikirkan."Sophie!"Eros menerobos kerumunan tanpa menghiraukan siapa pun. Ia menaiki tangga dua anak sekaligus hingga akhirnya tiba di balkon."Aku di sini."Sophie tidak menoleh. Pandangannya tetap lurus ke langit yang tertutup awan kelabu, seolah tak mendengar langkah kaki di belakangnya."Aku minta maaf."Eros berhenti beberapa langkah darinya. Napasnya
Aruna mendorong dada Eros. Pria itu mundur setengah langkah. "Jangan ngaco." "Terus ini apa?" Zen menunjuk mereka bergantian. "Lima menit lalu kalian baku hantam. Habis itu pelukan. Sekarang nangis. Aku beneran nggak ngerti." Aruna mengusap cepat pipinya yang basah. "Orang dia yang maksa peluk, lagian nggak semua orang pelukan karena saling cinta." "Ya, tapi biasanya ada alasannya." Eros mengembuskan napas panjang. "Ini salahku." Zen meliriknya. "Yang mana?" "Semuanya." Dahi Zen berkerut. "Sumpah, kalian hobinya ngomong pakai teka-teki, ya?" Aruna mendengus pelan. "Dia lagi nyesel." "Karena?" Aruna menatap Eros beberapa detik sebelum akhirnya membuka suara lagi. "Dia baru aja menghancurkan hidup seseorang." Suhu ruangan seolah turun. Zen tidak lagi melipat tangan di depan dada. Tatapannya terkunci pada Eros yang berdiri
"Tembak siapa saja yang mendekati kendaraan ini! Jangan biarkan tikus-tikus Sektor Luar itu menyentuh Aruna!"Suara komando Dante menggelegar melalui radio taktis. Kendaraan tempur raksasa itu berhenti dengan sentakan keras tepat di depan Gerbang Batas Sektor 7.Di luar, badai polusi kelabu tampa
"Suhu tubuhnya terus meningkat, Dante. Stimulan Valeska mempercepat reaksi kimia di rahimnya."Suara Cilian menggema di dalam kamar mewah milik Dante. Aruna terbaring lemah di atas ranjang sutra, napasnya memburu dengan keringat yang membanjiri pelipisnya.Dante berdiri di dekat jendela, menata
"Keluar! Jangan buat aku menyeretmu lagi!" geram Dante. Aruna tersentak. Pintu kendaraan tempur terbuka, menyajikan pemandangan Sektor 7 yang mengerikan. Bangunan-bangunan beton raksasa berdiri kaku di bawah langit kelabu yang menyesakkan. Tidak ada matahari. Hanya lampu-lampu halogen yang me
"Luruskan punggungmu, Aruna! Kau bukan pelacur murahan dari Sektor Luar!" Suara Paman Juna menggelegar di ruang makan bunker yang kedap suara. Aruna tersentak. Tangannya yang memegang sendok perak gemetar hebat. "Maaf, Paman," bisik Aruna pelan. Ia segera memperbaiki posisi duduknya. Belasan tah







