เข้าสู่ระบบ"Keluar! Jangan buat aku menyeretmu lagi!" geram Dante.
Aruna tersentak. Pintu kendaraan tempur terbuka, menyajikan pemandangan Sektor 7 yang mengerikan. Bangunan-bangunan beton raksasa berdiri kaku di bawah langit kelabu yang menyesakkan. Tidak ada matahari. Hanya lampu-lampu halogen yang menyilaukan mata. "Ini ... Sektor 7?" bisik Aruna. Paru-parunya langsung terasa gatal saat menghirup udara yang beraroma kimia. Dante tidak menjawab. Ia mendorong punggung Aruna menuju sebuah gedung putih yang tampak steril dan dingin. Di dalam lobi, seorang wanita tua dengan rambut yang disanggul sangat rapi sudah menunggu. Tatapannya setajam belati. "Kau terlambat sepuluh menit, Komandan," ujar wanita itu. Suaranya datar tanpa emosi. "Aset ini sedikit merepotkan di jalan, Madam Valeska," jawab Dante acuh tak acuh. Madam Valeska melangkah mendekat. Ia memutari tubuh Aruna seperti seorang pembeli yang sedang memeriksa kualitas ternak. "Kotor. Bau keringat dan darah pengkhianat," desis Valeska sambil menutup hidungnya dengan saputangan. Aruna mencoba menegakkan punggungnya. "Namaku Aruna. Aku bukan aset." Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi Aruna. Kepalanya terlempar ke samping. Rasa panas menjalar seketika. "Di sini, kau tidak punya nama. Kau hanya nomor seri yang harus berfungsi dengan baik," ucap Valeska dingin. Dante hanya bersandar di dinding sambil bersedekap, menikmati pemandangan itu dengan seringai tipis. "Bawa dia ke ruang inspeksi. Aku ingin melihat apakah rahimnya sepadan dengan biaya operasional kita," perintah Valeska. Aruna diseret oleh dua penjaga ke sebuah ruangan yang dipenuhi alat-alat medis futuristik. Lampu halogen di atas meja operasi menyala terang. "Lepaskan pakaianmu," perintah Valeska sambil mengenakan sarung tangan latex. Aruna memeluk tubuhnya sendiri. "Tidak. Paman Juna bilang—" "Pamanmu sudah mati! Sekarang, buka atau aku akan menyuruh para penjaga pria ini yang merobeknya!" bentak Valeska. Dengan tangan gemetar, Aruna melepas gaun sutranya. Ia berdiri telanjang di bawah cahaya lampu yang menyakitkan mata. Valeska mulai melakukan inspeksi fisik. Tangannya yang dingin meraba setiap inci kulit Aruna dengan kasar. "Pinggulnya cukup lebar. Tulang belakangnya kuat. Potensi reproduksinya tinggi," gumam Valeska seolah Aruna tidak ada di sana. Valeska mengambil sebuah pakaian ketat berbahan lateks hitam dari meja. Ia melemparkannya ke wajah Aruna. "Pakai ini. Ini akan menjaga suhu tubuhmu agar hormonmu tetap stabil," perintahnya. Pakaian itu sangat sempit. Aruna merasa kulitnya seperti tercekik saat mencoba mengenakannya. Martabat yang dijaga Juna kini hancur total. "Dante, dia sudah siap. Bawa dia ke kamarnya sebelum Dewan memanggilmu," ucap Valeska tanpa menoleh lagi. Dante maju, menarik lengan Aruna yang kini terbungkus pakaian ketat yang memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya. "Jangan menatapku seperti itu, Aruna. Kau terlihat jauh lebih menggoda dengan baju ini," bisik Dante di telinganya. Aruna hanya bisa menunduk. Ia merasa seperti barang pajangan yang siap dijual kepada penawar tertinggi. Dante membawanya melewati lorong-lorong sunyi hingga mereka sampai di sebuah paviliun kaca yang tampak asing. "Valeska dan aku ada urusan dengan Dewan. Jangan mencoba kabur jika kau masih ingin bernapas," ancam Dante. Dante pergi, meninggalkan Aruna sendirian di tengah keheningan paviliun yang dipenuhi tanaman hijau—pemandangan yang sangat kontras dengan sterilitas Sektor 7. Aruna berjalan perlahan, mencoba mencari udara segar, hingga ia mencium aroma cendana yang menenangkan. "Keindahan yang murni di tengah dunia yang busuk. Sungguh pemandangan yang langka," suara lembut menyapa dari balik pepohonan. Aruna berbalik. Seorang pria dengan setelan jas rapi dan senyum hangat berdiri di sana. Dia adalah Malik. "Siapa kau?" tanya Aruna waspada. Malik melangkah mendekat, memberikan saputangan sutra kepada Aruna untuk menghapus sisa air matanya. "Aku Malik. Orang yang akan memastikan kau tidak merasa kesepian di neraka ini, Sayang." Malik mengusap rambut Aruna dengan lembut, tatapannya penuh dengan empati yang terasa sangat nyata. "Dante dan Valeska sangat kasar, bukan? Aku bisa memberimu kenyamanan yang mereka tidak punya," bisik Malik. Aruna terpaku. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan bunker, ia merasakan sentuhan yang tidak menyakitinya. Namun, saat Aruna mulai merasa tenang, Malik membisikkan sesuatu yang membuat jantungnya hampir berhenti. "Tapi kau tahu, Aruna? Kadang pelukan yang paling hangat adalah pelukan yang paling mematikan.” Senyum ramah di wajah Malik mendadak terasa begitu dingin dan mencekam. Aruna membeku dengan napas tertahan, menyadari bahwa pria berjas rapi di hadapannya ini adalah monster jenis lain yang siap menguliti kewarasannya secara perlahan. 'Aku takut ... Paman Juna, aku harus apa agar mereka bisa melepaskanku. Aku ingin kembali ke bunker aja. Di sini tidak seperti yang Paman Juna ceritakan selama ini. Paman, kenapa membohongiku?'"Aruna." Seorang perawat mengetuk pintu kamar sebelum masuk membawa nampan berisi sarapan. Aroma sup hangat langsung memenuhi ruangan yang sejak pagi terasa begitu sunyi. "Sarapanmu." "Taruh aja di situ." Aruna masih berdiri di dekat jendela. Pandangannya mengarah ke halaman Sektor 7 yang dipenuhi patroli sejak matahari terbit. "Nggak dimakan sekarang?" "Nanti." Perawat itu mengangguk pelan sebelum meletakkan nampan di atas meja. Ia sempat melirik wajah Aruna yang terlihat lebih pucat dibanding kemarin. "Kalau ada apa-apa, panggil saya." Pintu kembali tertutup. Aruna mengusap tengkuknya pelan, lalu berjalan menghampiri meja makan dengan langkah yang jauh lebih lambat dari biasanya. "Aneh." Ia baru menyendok satu suap. Belum sempat menelannya, aroma sup itu langsung membuat perutnya bergolak hingga sendok di tangannya berhenti di udara. "Ugh...." Aruna b
"Direbut?" Zen memiringkan kepalanya. Jemarinya kembali mengetuk permukaan meja, seolah sedang menghitung kemungkinan yang baru saja diucapkan Aruna. "Iya." "Selama Jantung Dunia ada di tangan Dewan, mereka selalu punya kendali." Aruna berbicara tanpa ragu. Suaranya tetap tenang meski hanya terdengar melalui komunikator di tengah meja. "Kalau mesinnya pindah tangan, yang kehilangan kendali justru mereka." Zen perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sudut bibirnya terangkat tipis saat satu demi satu kemungkinan mulai tersusun di kepalanya. "Masuk akal." "Tapi aksesnya nggak bakal gampang." Cilian mengusap layar tabletnya. Denah fasilitas bawah tanah kembali memenuhi proyektor, dipenuhi garis-garis pengaman berwarna merah. "Fasilitas itu dibangun buat mencegah penyusup." "Bukan buat menyambut tamu." Malik mengembuskan napas pelan. Tatapannya mengikuti ja
"Semuanya udah datang?" Zen meletakkan proyektor kecil di atas meja. Cahaya redup memenuhi ruang bawah tanah mansion Dante saat layar perlahan menyala. "Kurang Aruna." Malik menutup pintu, lalu memastikan penguncinya benar-benar aktif sebelum ikut duduk. "Dia tetap ikut." Zen mengetuk komunikator di tengah meja. Lampu indikatornya berkedip beberapa kali sebelum sambungan berhasil terhubung. "Aku dengar." Suara Aruna terdengar pelan dari balik alat itu. Dengung statis sesekali memotong ucapannya. "Kondisimu?" "Masih hidup." Zen terkekeh kecil sambil menggeleng. Jawaban itu sudah cukup memberi tahu bahwa Aruna masih bisa berbicara tanpa pengawasan langsung. "Yaudah, kita mulai." "Aku nemu ini." Dante meletakkan sebuah buku tua di atas meja. Sampul kulitnya mulai retak, tetapi lambang keluarga Ashford masih terlihat jelas. "Arsip keluarga?" "Lebih tua." Dante membuka halaman pertama dengan hati-hati. Kertasnya menguning, sementara tinta hitam di beberapa bagian mulai memu
Zen memutar kursinya menghadap Cilian. Beberapa monitor di belakangnya masih dipenuhi deretan data yang terus bergerak. "Belum bisa dipastikan." Cilian menggulir halaman demi halaman dengan wajah serius. Sesekali ia berhenti cukup lama pada satu laporan sebelum kembali melanjutkan. "Jangan gantung." "Aku lagi nyusun polanya." Cilian memperbesar salah satu dokumen. Nomor arsip di pojok kanan atas membuat dahinya sedikit berkerut. "Lihat nomor ini." Zen mendekat. Nomor dokumen itu berurutan, tetapi file setelahnya langsung meloncat beberapa angka. "Ada yang hilang?" "Bukan satu." Cilian menggeser layar ke laporan lain. Pola yang sama kembali muncul. "Ada yang sengaja ngapus rantainya." "Berarti datanya masih ada." Zen kembali ke kursinya. Jemarinya mulai mengetik lebih cepat, mencoba melacak jejak file yang sudah dihapus dari server utama. "Kalau benar dimusnahkan, jejak digitalnya juga ikut hilang." "Tapi ini nggak." Cilian menunjuk sederet kode kecil di bagian bawah layar.
"Masuk ke server pusat itu sama aja bunuh diri." Zen memutar kursinya menghadap deretan monitor. Jemarinya menari di atas keyboard, sementara baris-baris kode terus memenuhi layar di depannya. "Untung aku nggak takut mati." Satu per satu firewall Dewan muncul di monitor. Zen menyusup melalui server logistik, lalu berpindah ke jaringan medis sebelum akhirnya mencapai pusat data Genesis. "Ketemu...." Sudut bibirnya terangkat tipis. Puluhan folder bermunculan di layar, tetapi hampir semuanya ditandai ikon gembok berwarna merah. "Masih dikunci?" Zen membuka salah satu arsip. Layar hanya menampilkan stempel DATA TELAH DIMUSNAHKAN. Ia berpindah ke folder lain, tetapi hasilnya tetap sama. "Seseorang sengaja nyapu bersih." Jemarinya kembali bergerak di atas keyboard. Kali ini ia mencoba memaksa membuka server yang tingkat enkripsinya paling tinggi. "Biasanya kamu nggak selama ini." Suara itu keluar dari headset di telinganya. Zen tersenyum kecil tanpa menghentikan pekerjaannya. "
"Buka pintunya." Dua petugas berseragam hitam berdiri di kanan-kiri lorong. Salah satunya menggeser senapan ke dada saat Aruna melangkah turun dari kendaraan. "Selamat datang kembali, Aset 01." Aruna tidak menjawab. Pandangannya menyapu bangunan yang menjulang di hadapannya. Tak ada yang berubah. Bahkan bau antiseptik yang menguar dari ventilasi masih sama seperti terakhir kali ia pergi. "Ikuti kami." Pintu baja terbuka perlahan. Suara gesekan logam bergema sepanjang lorong sebelum kembali tertutup rapat di belakang mereka. "Berhenti." Seorang petugas perempuan mengangkat alat pemindai ke depan Aruna. Cahaya biru menyapu tubuhnya dari kepala hingga kaki. Sesaat kemudian, layar monitor memunculkan data medis lengkap beserta status kehamilan yang kini berubah menjadi TERMINATED. "Pemeriksaan selesai." Petugas itu melepas gelang identitas lama dari pergelangan tangan Aruna, lalu menggantinya dengan gelang hitam berlapis logam. "Apa bedanya?" "Model terbaru." Petugas mengunci
"Tanganmu terlalu lancang untuk ukuran seorang diplomat, Malik!"Suara berat dan serak itu memecah keheningan paviliun kaca. Langkah kaki yang kasar terdengar mendekat dari balik bayang-bayang pohon pakis raksasa.Aruna tersentak, langsung menarik dirinya menjauh dari jangkauan Malik. Jantungnya be
"Luruskan punggungmu, Aruna! Kau bukan pelacur murahan dari Sektor Luar!" Suara Paman Juna menggelegar di ruang makan bunker yang kedap suara. Aruna tersentak. Tangannya yang memegang sendok perak gemetar hebat. "Maaf, Paman," bisik Aruna pelan. Ia segera memperbaiki posisi duduknya. Belasan tah
"Tembak siapa saja yang mendekati kendaraan ini! Jangan biarkan tikus-tikus Sektor Luar itu menyentuh Aruna!"Suara komando Dante menggelegar melalui radio taktis. Kendaraan tempur raksasa itu berhenti dengan sentakan keras tepat di depan Gerbang Batas Sektor 7.Di luar, badai polusi kelabu tampa
"Berbaringlah. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni ketakutanmu."Suara sedingin es itu membuat Aruna langsung terduduk di ranjangnya. Suasana kamar yang semula sunyi mendadak terasa mencekam.Seorang pria dengan jubah putih kaku melangkah masuk tanpa mengetuk pintu logam kamarnya. Sarun







