Home / Romansa / Rahim Terakhir di Sektor 7 / Bab 2. Inspeksi Tubuh

Share

Bab 2. Inspeksi Tubuh

Author: Marsalsa
last update publish date: 2026-05-19 16:05:52

"Keluar! Jangan buat aku menyeretmu lagi!" geram Dante.

​Aruna tersentak. Pintu kendaraan tempur terbuka, menyajikan pemandangan Sektor 7 yang mengerikan.

​Bangunan-bangunan beton raksasa berdiri kaku di bawah langit kelabu yang menyesakkan.

Tidak ada matahari. Hanya lampu-lampu halogen yang menyilaukan mata.

​"Ini ... Sektor 7?" bisik Aruna.

Paru-parunya langsung terasa gatal saat menghirup udara yang beraroma kimia.

​Dante tidak menjawab.

Ia mendorong punggung Aruna menuju sebuah gedung putih yang tampak steril dan dingin.

​Di dalam lobi, seorang wanita tua dengan rambut yang disanggul sangat rapi sudah menunggu. Tatapannya setajam belati.

​"Kau terlambat sepuluh menit, Komandan," ujar wanita itu. Suaranya datar tanpa emosi.

​"Aset ini sedikit merepotkan di jalan, Madam Valeska," jawab Dante acuh tak acuh.

​Madam Valeska melangkah mendekat. Ia memutari tubuh Aruna seperti seorang pembeli yang sedang memeriksa kualitas ternak.

​"Kotor. Bau keringat dan darah pengkhianat," desis Valeska sambil menutup hidungnya dengan saputangan.

​Aruna mencoba menegakkan punggungnya. "Namaku Aruna. Aku bukan aset."

​Plak!

​Satu tamparan keras mendarat di pipi Aruna. Kepalanya terlempar ke samping. Rasa panas menjalar seketika.

​"Di sini, kau tidak punya nama. Kau hanya nomor seri yang harus berfungsi dengan baik," ucap Valeska dingin.

​Dante hanya bersandar di dinding sambil bersedekap, menikmati pemandangan itu dengan seringai tipis.

​"Bawa dia ke ruang inspeksi. Aku ingin melihat apakah rahimnya sepadan dengan biaya operasional kita," perintah Valeska.

​Aruna diseret oleh dua penjaga ke sebuah ruangan yang dipenuhi alat-alat medis futuristik. Lampu halogen di atas meja operasi menyala terang.

​"Lepaskan pakaianmu," perintah Valeska sambil mengenakan sarung tangan latex.

​Aruna memeluk tubuhnya sendiri. "Tidak. Paman Juna bilang—"

​"Pamanmu sudah mati! Sekarang, buka atau aku akan menyuruh para penjaga pria ini yang merobeknya!" bentak Valeska.

​Dengan tangan gemetar, Aruna melepas gaun sutranya. Ia berdiri telanjang di bawah cahaya lampu yang menyakitkan mata.

​Valeska mulai melakukan inspeksi fisik. Tangannya yang dingin meraba setiap inci kulit Aruna dengan kasar.

​"Pinggulnya cukup lebar. Tulang belakangnya kuat. Potensi reproduksinya tinggi," gumam Valeska seolah Aruna tidak ada di sana.

​Valeska mengambil sebuah pakaian ketat berbahan lateks hitam dari meja. Ia melemparkannya ke wajah Aruna.

​"Pakai ini. Ini akan menjaga suhu tubuhmu agar hormonmu tetap stabil," perintahnya.

​Pakaian itu sangat sempit. Aruna merasa kulitnya seperti tercekik saat mencoba mengenakannya. Martabat yang dijaga Juna kini hancur total.

​"Dante, dia sudah siap. Bawa dia ke kamarnya sebelum Dewan memanggilmu," ucap Valeska tanpa menoleh lagi.

​Dante maju, menarik lengan Aruna yang kini terbungkus pakaian ketat yang memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya.

​"Jangan menatapku seperti itu, Aruna. Kau terlihat jauh lebih menggoda dengan baju ini," bisik Dante di telinganya.

​Aruna hanya bisa menunduk. Ia merasa seperti barang pajangan yang siap dijual kepada penawar tertinggi.

​Dante membawanya melewati lorong-lorong sunyi hingga mereka sampai di sebuah paviliun kaca yang tampak asing.

​"Valeska dan aku ada urusan dengan Dewan. Jangan mencoba kabur jika kau masih ingin bernapas," ancam Dante.

​Dante pergi, meninggalkan Aruna sendirian di tengah keheningan paviliun yang dipenuhi tanaman hijau—pemandangan yang sangat kontras dengan sterilitas Sektor 7.

​Aruna berjalan perlahan, mencoba mencari udara segar, hingga ia mencium aroma cendana yang menenangkan.

​"Keindahan yang murni di tengah dunia yang busuk. Sungguh pemandangan yang langka," suara lembut menyapa dari balik pepohonan.

​Aruna berbalik. Seorang pria dengan setelan jas rapi dan senyum hangat berdiri di sana. Dia adalah Malik.

​"Siapa kau?" tanya Aruna waspada.

​Malik melangkah mendekat, memberikan saputangan sutra kepada Aruna untuk menghapus sisa air matanya.

​"Aku Malik. Orang yang akan memastikan kau tidak merasa kesepian di neraka ini, Sayang."

​Malik mengusap rambut Aruna dengan lembut, tatapannya penuh dengan empati yang terasa sangat nyata.

​"Dante dan Valeska sangat kasar, bukan? Aku bisa memberimu kenyamanan yang mereka tidak punya," bisik Malik.

​Aruna terpaku. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan bunker, ia merasakan sentuhan yang tidak menyakitinya.

​Namun, saat Aruna mulai merasa tenang, Malik membisikkan sesuatu yang membuat jantungnya hampir berhenti.

​"Tapi kau tahu, Aruna? Kadang pelukan yang paling hangat adalah pelukan yang paling mematikan.”

Senyum ramah di wajah Malik mendadak terasa begitu dingin dan mencekam.

​Aruna membeku dengan napas tertahan, menyadari bahwa pria berjas rapi di hadapannya ini adalah monster jenis lain yang siap menguliti kewarasannya secara perlahan.

'Aku takut ... Paman Juna, aku harus apa agar mereka bisa melepaskanku. Aku ingin kembali ke bunker aja. Di sini tidak seperti yang Paman Juna ceritakan selama ini. Paman, kenapa membohongiku?'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   135

    Di kejauhan, cahaya Jantung Dunia menyala semakin terang. Di bawah langit yang perlahan berubah warna, kehidupan baru mereka akhirnya benar-benar dimulai.Kabut yang selama bertahun-tahun menutupi langit mulai menipis, menyisakan cahaya yang belum pernah Aruna lihat sejelas itu.Hari berganti minggu, lalu bulan. Rumput tumbuh di sepanjang jalan yang dahulu dipenuhi debu, sementara embun menempel di daun-daun setiap pagi. Sesekali, Aruna masih terbangun dan mencari langit kelabu yang dulu selalu menyambutnya, hanya untuk menemukan warna biru terbentang luas di balik jendela.Keenam bayinya tumbuh semakin besar. Mereka mulai duduk sendiri, merangkak ke mana-mana, lalu tertawa ketika salah satu dari mereka berhasil menarik kain meja hingga hampir menjatuhkan sesuatu. Suara riuh itu memenuhi rumah setiap pagi, membuat Aruna beberapa kali hanya bisa menggeleng sambil menahan tawa.Pagi itu, mereka berkumpul di beranda yang kini dipenuhi tanaman hijau. Malik meletakkan setumpuk laporan di

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 134

    “Dari mana?”Aruna tertawa kecil. Ujung jarinya menyentuh kelopak hijau yang masih segar itu, berhati-hati agar tidak merusaknya. Angin mengibaskan beberapa helai rambut di pipinya, sementara aroma tanah basah memenuhi halaman yang dulu hanya dipenuhi debu dan asap.Aset 02 tidak menjawab. Ia menurunkan tangan, lalu meletakkan bunga itu di sisi keranjang bayi tanpa menyentuh tubuh kecil yang tertidur di dalamnya.Setelah itu, ia kembali berdiri di tempatnya, hanya beberapa langkah dari Aruna.“Kau sudah banyak berubah,” ucap Aruna pelan, matanya masih tertuju pada bunga itu. “Dulu kau tak akan peduli pada bunga, atau hal kecil apa pun.”Aset 02 mengikuti arah pandangnya. Jemarinya sempat bergerak, menyentuh ujung salah satu daun yang tumbuh di dekat kakinya. “Karena dulu aku tak tahu rasanya melihat sesuatu tumbuh… dan ingin ia tetap hidup.”Langkah kaki terdengar dari bawah beranda. Malik muncul sambil membawa setumpuk berkas yang bagian ujungnya sudah tertekuk. Ia menaiki tangga,

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 133

    “Kita terkunci di sini… dan gas itu menyebar makin cepat.” Aset 02 menegakkan tubuhnya. Kabut putih telah merayap hingga pinggang, menyusup di antara kaki mereka dan membuat pandangan di seberang ruangan semakin kabur. Ia segera menarik Aruna mendekat, lalu merobek bagian bawah jubahnya dengan sekali sentakan. “Tahan napas,” bisiknya pelan sambil merobek ujung kain jubahnya, lalu melipat-lipat rapat menutupi hidung serta mulut Aruna. “Jangan hirup udara apa pun sampai kita cari jalan lain.” Aruna mencengkeram kain di depan wajahnya. Matanya beralih ke pintu yang masih terkunci, kemudian ke kabut yang terus meninggi. Aset 02 sudah berbalik dan menekan telapak tangannya ke panel darurat, tetapi lampu merah tetap berkedip tanpa perubahan. Di ruang Jantung Dunia, Eros memukul pinggiran pagar besi keras sekali hingga bunyi dentang bergema luas. Ia menatap indikator yang berubah merah perlahan, lalu membalikkan badan menatap Malik dan Dante. “Gas menyala, mereka nggak pu

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 132

    “Karena kalau aku mati… kalian semua ikut hancur bersamaku.” Aset 02 bicara datar, tak ada nada naik turun. Tangannya tak melonggar sedikit pun dari leher Valeska. Matanya diam menatap tiap wajah penjaga yang kini menahan napas serempak. Lampu merah terus berkedip pelan sepanjang dinding. Bunyi peringatan halus berirama, naik turun tak berhenti. Tak satu pun berani melangkah maju atau menjangkau senjata di pinggang. “Balikin anak‑anakku sekarang,” desis Aruna, suaranya pecah namun tajam. Ia melangkah maju meski kakinya masih goyah. “Kau bilang mereka aman, bawa mereka ke sini!” Valeska tersedak, wajahnya merah padam, bibir bergetar berusaha bicara. Matanya melirik ke arah panel di sisi pintu lalu beralih tajam ke Aset 02. “Mereka… nggak ada di sini dipindahkan ke tempat terpisah.” “Ke mana?” potong Cilian cepat, melangkah berdiri di samping Aruna, bahunya menegang. “Bicara sekarang juga!" Di ruang terpisah jauh, Zen duduk lurus di depan susunan layar besar. Jari‑jarinya bergerak

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 131

    Kelopak mata Aruna bergerak perlahan. Begitu terbuka, tangannya langsung meraba sisi ranjang yang kosong. Pandangannya beralih cepat ke sekeliling, mencari suara-suara kecil yang tadi memenuhi ruangan, tetapi yang tersisa hanya bunyi alarm dan langkah kaki yang bersahutan. “Anakku... mana mereka?” Aruna mencoba bangkit, tetapi tubuhnya limbung. Ia menepis tangan yang hendak menahannya, lalu menarik selimut dan memandang ke balik ranjang seolah keenam bayinya mungkin tersembunyi di sana. “Mana anak-anak aku?” Napasnya semakin memburu. Jemarinya mencengkeram seprai sampai kusut, lalu tangannya berpindah ke lengan Cilian ketika tak menemukan satu pun dari mereka. “Jangan... jangan bilang mereka dibawa.” Cilian belum sempat menjawab ketika Aruna kembali meronta. Kakinya dipaksa menapak lantai, tetapi lututnya langsung kehilangan tenaga hingga tubuhnya nyaris ambruk. “Lepasin aku!” Tangannya terus memukul dada Cilian, semakin lemah setiap kali bergerak. Air mata membasahi

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 130

    “Selama ini kalian yang menentukan siapa yang layak hidup.”Malik menurunkan kedua tangannya perlahan.Tatapannya berpindah kepada Dante yang masih berdiri di depan tuas merah. Kemudian kepada Eros yang tak sedikit pun menurunkan senjatanya, dan kembali menatap para petinggi Dewan.“Siapa yang terlalu lemah? Siapa yang terlalu banyak menghabiskan sumber daya? Siapa yang dianggap tidak memiliki masa depanm”Malik terkekeh pelan. Ia melangkah mendekati hologram, seolah ingin memastikan seluruh wajah mereka terlihat jelas olehnya.“Sekarang coba rasakan bagaimana rasanya ketika nasib kalian berada di tangan orang lain.”Beberapa anggota Dewan tampak mulai beranjak dari tempat duduknya. Sebagian mencoba meninggalkan Ruang Sidang Pusat, sementara yang lain berteriak memberikan perintah.Malik hanya menggeleng kecil. Senyumnya kembali muncul.“Tidak perlu terburu-buru. Kalian masih punya waktu.”Ia melirik Dante. “Berapa lama, Dan?”Dante tidak menjawab. Tangannya tetap berada di atas tuas

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 7. Siapa Pria Pertama yang Menyentuhnya?

    "Tembak siapa saja yang mendekati kendaraan ini! Jangan biarkan tikus-tikus Sektor Luar itu menyentuh Aruna!"​Suara komando Dante menggelegar melalui radio taktis. Kendaraan tempur raksasa itu berhenti dengan sentakan keras tepat di depan Gerbang Batas Sektor 7.​Di luar, badai polusi kelabu tampa

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 6. Kebenaran Busuk Mendiang Juna

    ​"Suhu tubuhnya terus meningkat, Dante. Stimulan Valeska mempercepat reaksi kimia di rahimnya."​Suara Cilian menggema di dalam kamar mewah milik Dante. Aruna terbaring lemah di atas ranjang sutra, napasnya memburu dengan keringat yang membanjiri pelipisnya.​Dante berdiri di dekat jendela, menata

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 5. Sabotase Ilegal di Rahim Aset 01

    "Berdiri, Aset 01! Jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan postur seperti binatang!"​Suara Madam Valeska menggelegar, memecah kesunyian ruang latihan yang berdinding perak steril. Aruna tersentak. Seluruh tubuhnya terasa seperti terbakar dari dalam.​"Maaf, Madam," rintih Aruna, suaranya parau

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   ​Bab 4. Eksekusi Rahim Aset 01

    ​"Berbaringlah. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni ketakutanmu."​Suara sedingin es itu membuat Aruna langsung terduduk di ranjangnya. Suasana kamar yang semula sunyi mendadak terasa mencekam.​Seorang pria dengan jubah putih kaku melangkah masuk tanpa mengetuk pintu logam kamarnya. Sarun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status