Share

Bab 125

Penulis: Marsalsa
last update Tanggal publikasi: 2026-08-03 13:15:41

Zen menggeleng pelan. Ia menekan beberapa tombol hingga jalur itu berubah merah, menandakan aksesnya hanya bisa dibuka dari dalam.

"Semua pintunya pakai otorisasi Dewan."

"Berarti lewat bawah."

Malik menggeser pandangannya ke jaringan saluran utilitas yang membentang di bawah kota.

Beberapa lorong terlihat cukup besar untuk dilewati seseorang.

"Ada kemungkinan."

"Kemungkinannya kecil."

Cilian memperbesar bagian salur
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 125

    Zen menggeleng pelan. Ia menekan beberapa tombol hingga jalur itu berubah merah, menandakan aksesnya hanya bisa dibuka dari dalam. "Semua pintunya pakai otorisasi Dewan." "Berarti lewat bawah." Malik menggeser pandangannya ke jaringan saluran utilitas yang membentang di bawah kota. Beberapa lorong terlihat cukup besar untuk dilewati seseorang. "Ada kemungkinan." "Kemungkinannya kecil." Cilian memperbesar bagian saluran itu. Beberapa simbol peringatan langsung bermunculan di sepanjang jalur. "Lorongnya dipenuhi sensor biologis." "Menyebalkan." Zen menyandarkan tubuh ke kursinya. Untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai, ia benar-benar merasa Dewan tidak memberi celah sedikit pun. "Tapi bukan berarti nggak bisa ditembus." Kondisi di sektor 7, seorang penjaga membuka pintu taman belakang. Ia memberi isyarat agar Aruna berjalan sesuai rute yang suda

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 124

    "Aruna." Seorang perawat mengetuk pintu kamar sebelum masuk membawa nampan berisi sarapan. Aroma sup hangat langsung memenuhi ruangan yang sejak pagi terasa begitu sunyi. "Sarapanmu." "Taruh aja di situ." Aruna masih berdiri di dekat jendela. Pandangannya mengarah ke halaman Sektor 7 yang dipenuhi patroli sejak matahari terbit. "Nggak dimakan sekarang?" "Nanti." Perawat itu mengangguk pelan sebelum meletakkan nampan di atas meja. Ia sempat melirik wajah Aruna yang terlihat lebih pucat dibanding kemarin. "Kalau ada apa-apa, panggil saya." Pintu kembali tertutup. Aruna mengusap tengkuknya pelan, lalu berjalan menghampiri meja makan dengan langkah yang jauh lebih lambat dari biasanya. "Aneh." Ia baru menyendok satu suap. Belum sempat menelannya, aroma sup itu langsung membuat perutnya bergolak hingga sendok di tangannya berhenti di udara. "Ugh...." Aruna b

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 123

    "Direbut?" Zen memiringkan kepalanya. Jemarinya kembali mengetuk permukaan meja, seolah sedang menghitung kemungkinan yang baru saja diucapkan Aruna. "Iya." "Selama Jantung Dunia ada di tangan Dewan, mereka selalu punya kendali." Aruna berbicara tanpa ragu. Suaranya tetap tenang meski hanya terdengar melalui komunikator di tengah meja. "Kalau mesinnya pindah tangan, yang kehilangan kendali justru mereka." Zen perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sudut bibirnya terangkat tipis saat satu demi satu kemungkinan mulai tersusun di kepalanya. "Masuk akal." "Tapi aksesnya nggak bakal gampang." Cilian mengusap layar tabletnya. Denah fasilitas bawah tanah kembali memenuhi proyektor, dipenuhi garis-garis pengaman berwarna merah. "Fasilitas itu dibangun buat mencegah penyusup." "Bukan buat menyambut tamu." Malik mengembuskan napas pelan. Tatapannya mengikuti ja

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 122

    "Semuanya udah datang?" Zen meletakkan proyektor kecil di atas meja. Cahaya redup memenuhi ruang bawah tanah mansion Dante saat layar perlahan menyala. "Kurang Aruna." Malik menutup pintu, lalu memastikan penguncinya benar-benar aktif sebelum ikut duduk. "Dia tetap ikut." Zen mengetuk komunikator di tengah meja. Lampu indikatornya berkedip beberapa kali sebelum sambungan berhasil terhubung. "Aku dengar." Suara Aruna terdengar pelan dari balik alat itu. Dengung statis sesekali memotong ucapannya. "Kondisimu?" "Masih hidup." Zen terkekeh kecil sambil menggeleng. Jawaban itu sudah cukup memberi tahu bahwa Aruna masih bisa berbicara tanpa pengawasan langsung. "Yaudah, kita mulai." "Aku nemu ini." Dante meletakkan sebuah buku tua di atas meja. Sampul kulitnya mulai retak, tetapi lambang keluarga Ashford masih terlihat jelas. "Arsip keluarga?" "Lebih tua." Dante membuka halaman pertama dengan hati-hati. Kertasnya menguning, sementara tinta hitam di beberapa bagian mulai memu

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 121

    Zen memutar kursinya menghadap Cilian. Beberapa monitor di belakangnya masih dipenuhi deretan data yang terus bergerak. "Belum bisa dipastikan." Cilian menggulir halaman demi halaman dengan wajah serius. Sesekali ia berhenti cukup lama pada satu laporan sebelum kembali melanjutkan. "Jangan gantung." "Aku lagi nyusun polanya." Cilian memperbesar salah satu dokumen. Nomor arsip di pojok kanan atas membuat dahinya sedikit berkerut. "Lihat nomor ini." Zen mendekat. Nomor dokumen itu berurutan, tetapi file setelahnya langsung meloncat beberapa angka. "Ada yang hilang?" "Bukan satu." Cilian menggeser layar ke laporan lain. Pola yang sama kembali muncul. "Ada yang sengaja ngapus rantainya." "Berarti datanya masih ada." Zen kembali ke kursinya. Jemarinya mulai mengetik lebih cepat, mencoba melacak jejak file yang sudah dihapus dari server utama. "Kalau benar dimusnahkan, jejak digitalnya juga ikut hilang." "Tapi ini nggak." Cilian menunjuk sederet kode kecil di bagian bawah layar.

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 120

    "Masuk ke server pusat itu sama aja bunuh diri." Zen memutar kursinya menghadap deretan monitor. Jemarinya menari di atas keyboard, sementara baris-baris kode terus memenuhi layar di depannya. "Untung aku nggak takut mati." Satu per satu firewall Dewan muncul di monitor. Zen menyusup melalui server logistik, lalu berpindah ke jaringan medis sebelum akhirnya mencapai pusat data Genesis. "Ketemu...." Sudut bibirnya terangkat tipis. Puluhan folder bermunculan di layar, tetapi hampir semuanya ditandai ikon gembok berwarna merah. "Masih dikunci?" Zen membuka salah satu arsip. Layar hanya menampilkan stempel DATA TELAH DIMUSNAHKAN. Ia berpindah ke folder lain, tetapi hasilnya tetap sama. "Seseorang sengaja nyapu bersih." Jemarinya kembali bergerak di atas keyboard. Kali ini ia mencoba memaksa membuka server yang tingkat enkripsinya paling tinggi. "Biasanya kamu nggak selama ini." Suara itu keluar dari headset di telinganya. Zen tersenyum kecil tanpa menghentikan pekerjaannya. "

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 7. Siapa Pria Pertama yang Menyentuhnya?

    "Tembak siapa saja yang mendekati kendaraan ini! Jangan biarkan tikus-tikus Sektor Luar itu menyentuh Aruna!"​Suara komando Dante menggelegar melalui radio taktis. Kendaraan tempur raksasa itu berhenti dengan sentakan keras tepat di depan Gerbang Batas Sektor 7.​Di luar, badai polusi kelabu tampa

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 6. Kebenaran Busuk Mendiang Juna

    ​"Suhu tubuhnya terus meningkat, Dante. Stimulan Valeska mempercepat reaksi kimia di rahimnya."​Suara Cilian menggema di dalam kamar mewah milik Dante. Aruna terbaring lemah di atas ranjang sutra, napasnya memburu dengan keringat yang membanjiri pelipisnya.​Dante berdiri di dekat jendela, menata

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   Bab 5. Sabotase Ilegal di Rahim Aset 01

    "Berdiri, Aset 01! Jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan postur seperti binatang!"​Suara Madam Valeska menggelegar, memecah kesunyian ruang latihan yang berdinding perak steril. Aruna tersentak. Seluruh tubuhnya terasa seperti terbakar dari dalam.​"Maaf, Madam," rintih Aruna, suaranya parau

  • Rahim Terakhir di Sektor 7   ​Bab 4. Eksekusi Rahim Aset 01

    ​"Berbaringlah. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni ketakutanmu."​Suara sedingin es itu membuat Aruna langsung terduduk di ranjangnya. Suasana kamar yang semula sunyi mendadak terasa mencekam.​Seorang pria dengan jubah putih kaku melangkah masuk tanpa mengetuk pintu logam kamarnya. Sarun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status