LOGINBeberapa hari kembali berlalu.
Dan seperti biasa base kelompok Joni terus berkembang dengan kecepatan yang bahkan mulai terasa tidak normal bagi para anggotanya sendiri. Area aman mereka kini meluas lagi sampai mencakup satu kompleks pabrik tambahan yang baru dibersihkan. Bangunan itu sekarang dijadikan markas divisi elektronik. Tempat tinggal para teknisi. Tempat perakitan alat. Dan pusat proyek-proyek baru kelompok mereka. Malam hari di area itu bahkan mulai terang oleh lampu kerja dan suara mesin yang hampir tidak pernah berhenti. Sementara itu Joni sendiri hampir beberapa hari penuh menghilang di ruangan khususnya. Ruangan yang dulu penuh sampah sekarang berubah menjadi tempat penuh kotak, komponen kecil, kabel, dan rak-rak penyimpanan. Di atas meja besar, ribuan komponen elektronik berserakan dalam wadah-wadah kecil. Dioda. Capacitor. Transistor. IC. Chip kecil. Dan berbagai benda yang bahkan Joni sendiri awalnya tidak tahu namanya namun sekarang dia mulai terbiasa melihat semuanya. Joni duduk di depan tumpukan barang elektronik rusak sambil menggunakan traitnya berulang kali. Benda-benda itu menghilang lalu berubah menjadi komponen dasar yang kemudian dipisahkan satu per satu. Di sampingnya, Sindy sibuk membantu menyortir sambil membaca tulisan pada wadah-wadah kecil. “Yang ini transistor.” “Yang ini resistor.” “Yang ini buat power supply katanya.” Joni cuma manggut-manggut sambil terus bekerja. Kadang salah masukin wadah. Kadang bikin Sindy harus benerin lagi sambil menghela napas kecil. Namun suasana kerja mereka justru terasa jauh lebih santai dibanding sebelumnya. Sementara itu di luar, divisi elektronik akhirnya berhasil membuat sistem radio pertama kelompok mereka. Meskipun sederhana, alat itu bisa menjangkau sekitar lima kilometer menggunakan frekuensi radio rakitan mereka sendiri. Dan itu sudah luar biasa di dunia sekarang. “Tes tes. Base utama dengar?” Suara radio mulai terdengar di beberapa pos penjagaan. Para anggota bahkan terlihat kagum sendiri mendengar komunikasi jarak jauh itu berhasil. Tidak hanya itu, repeater tambahan juga sedang dibangun oleh tim maintenance yang dipimpin Deri. Dengan repeater itu, jangkauan komunikasi mereka bisa diperluas jauh lebih besar antar area aman kelompok Joni. Di markas utama kelompok Broto, suasana ruangan kembali dipenuhi asap rokok dan ketegangan. Broto duduk diam di kursinya sambil membaca beberapa catatan logistik yang kini berantakan akibat hilangnya fasilitas produksi mereka. Pintu ruangan akhirnya terbuka. Raka masuk bersama beberapa anak buahnya. “Bang.” Broto langsung mengangkat kepala. “Ketemu?” Raka mengangguk. “Kemungkinan besar udah.” Dia meletakkan peta kasar area industri di atas meja lalu menunjuk salah satu lokasi. “Kelompok baru. Mereka makin gede beberapa minggu terakhir. Punya kendaraan banyak dan keliatannya mulai nguasain beberapa area pabrik.” Broto menyipitkan mata. “Pemimpinnya?” Raka menggeleng. “Belum tau pasti. Orangnya jarang keliatan dan jumlah total juga belum jelas. Tapi…” Tatapannya sedikit serius. “…mereka keliatannya cukup terorganisir.” Broto terdiam beberapa detik lalu akhirnya tersenyum dingin. “Bagus.” Dia berdiri perlahan dari kursinya. “Berarti mereka emang yang nyentuh barang gue.” Lalu dia menoleh ke arah pintu ruangan. “DANI!” Tidak lama kemudian seseorang masuk. Pria tinggi dengan tubuh penuh bekas luka dan ekspresi malas. Salah satu awakener inti kelompok Broto. “Apaan lagi…” Broto langsung menunjuk peta di meja. “Lu ikut Raka. Bawa delapan puluh orang.” Dani langsung mengangkat alis. “Banyak amat.” Broto menatap dingin. “Hancurin kelompok itu. Biar semua orang ngerti…” Tatapannya menyipit. “…kelompok Broto bukan buat dimainin.” Raka langsung mengangguk paham. “Siap bang.” Dani hanya menyeringai kecil sambil memutar lehernya. “Yaudah. Udah lama juga ga perang besar.” Broto kembali duduk lalu berkata santai namun penuh tekanan. “Gue ga peduli siapa mereka. Kalau perlu… bakar semua tempatnya.” Raka langsung bergerak keluar ruangan untuk mulai mempersiapkan anggota. Sementara di luar puluhan anggota kelompok Broto mulai dipanggil dan dipersenjatai untuk operasi penyerangan besar pertama mereka dalam waktu lama. Malam itu, di markas kelompok Broto, suasana dipenuhi suara logam dan langkah kaki berat. Puluhan anggota mulai berkumpul di halaman utama sambil mempersiapkan senjata mereka. Magazine dimasukkan. Senapan dicek. Armor dipasang. Raka berjalan di tengah persiapan itu sambil memeriksa satu per satu kendaraan yang akan dipakai. “Peluru tambahan masuk mobil belakang.” “Tim depan bawa granat.” “Jangan ada yang telat gerak.” Sementara itu Dani duduk santai di atas salah satu kendaraan sambil mengasah pisaunya dengan ekspresi malas. Namun aura berbahaya di sekitarnya tetap terasa jelas. “Delapan puluh orang buat kelompok baru…” Dia tertawa kecil sendiri. “…semoga ga langsung habis.” Di sisi lain kota suasana di base kelompok Joni justru dipenuhi aktivitas yang jauh berbeda. Di beberapa pos penjagaan, anggota mulai menerima HT rakitan dan radio komunikasi hasil kerja divisi elektronik mereka. “Tes tes. Pos timur dengar?” Suara radio pecah kecil sebelum dijawab cepat. “Pos timur dengar jelas.” Beberapa anggota sampai terlihat kagum sendiri mendengar komunikasi itu bekerja. Di area patroli luar, dua kendaraan kelompok Joni mulai bergerak menyusuri wilayah aman mereka. Dan untuk pertama kalinya mereka bisa saling memberi laporan tanpa harus kembali ke base. “Patroli utara aman. Dua zombie biasa di jalur rel udah diberesin.” “Copy.” “Tim barat lagi cek gudang kosong.” Koordinasi mereka langsung berubah jauh lebih cepat dan rapi. Dulu kalau ada masalah, anggota harus lari atau kembali ke base untuk melapor. Sekarang cukup lewat radio. Pak Bram bahkan mulai menggunakan sistem shift patroli yang lebih teratur karena komunikasi sudah jauh lebih mudah. Sementara Deri sibuk memasang repeater tambahan di atas salah satu cerobong pabrik tinggi agar sinyal semakin luas. Dan di tengah semua perkembangan itu, tak satu pun dari kelompok Joni sadar kalau di saat bersamaan kelompok Broto juga sedang bersiap bergerak ke arah mereka. Pagi datang dengan langit kelabu dan suara mesin yang meraung memecah kesunyian kota mati itu. Di markas kelompok Broto gerbang besar terbuka perlahan lalu satu per satu kendaraan mulai keluar. Mobil pickup penuh besi tambahan. Truk tua dengan senjata rakitan di bak belakang. Offroad penuh coretan cat dan plat logam. Beberapa kendaraan bahkan dipasang pengeras suara dan lampu sorot besar seperti konvoi orang gila. Suasananya brutal, liar dan orang-orang di atas kendaraan tertawa keras sambil memegang senjata mereka. Beberapa menembakkan peluru ke udara hanya untuk bersenang-senang. DOR! DOR! “WOOOO!!” “Bakar semuanya!” “Kasih tau siapa raja daerah sini!” Suara tawa dan teriakan memenuhi jalanan. Di salah satu mobil depan, Raka duduk sambil memperhatikan peta area. Sementara Dani berdiri di bak belakang kendaraan sambil menikmati angin dengan senyum tipis penuh haus darah. Konvoi besar itu bergerak cepat melewati jalan industri menuju wilayah kelompok Joni. Debu tebal mengepul panjang di belakang mereka dan di sisi lain kota base kelompok Joni masih berjalan seperti biasa. Patroli pagi sedang berkeliling wilayah aman sambil berkomunikasi lewat radio. Di ruangan utama komunikasi, beberapa operator sibuk mendengarkan laporan dari berbagai area. Radio-radio kecil terus berbunyi bergantian. “Patroli timur aman.” “Pos rel aman.” “Area gudang sektor tiga bersih.” Lalu tiba-tiba, suara lain masuk dengan nada panik. “Base! Base!” Operator langsung menoleh cepat ke radio utama. Suara nafas berat terdengar di speaker. “Konvoi besar... Sekitar lima belas mobil mendekat dari arah barat!” Ruangan langsung tegang. Operator buru-buru meraih mic. “Identifikasi?” Namun sebelum jawaban datang— DOR! DOR! DOR! Suara tembakan langsung terdengar dari radio. Teriakan panik menyusul. “KONTAK! MEREKA NEMBAK—” KRRRRRSHHHH— Suara radio langsung dipenuhi static.Beberapa hari berikutnya, perang antara kelompok Joni dan Broto mulai berubah menjadi perang bayangan bukan lagi serangan frontal.Melainkan perburuan, dan dimulai dengan salah satu kelompok kecil yang diam-diam sudah diajak kerja sama oleh Pak Kusno.Mereka pura-pura tetap menjadi survivor biasa di area sekitar wilayah Broto.Dan pagi itu radio komunikasi kelompok Joni berbunyi.“Base. Kelompok Broto keluar.”Suara samar terdengar dari HT kecil.“Empat mobil. Arah selatan.”Di ruangan komunikasi, anggota langsung mencatat lalu menyampaikan informasi itu ke Joni.Beberapa menit kemudian konvoi kecil kelompok Joni langsung bergerak keluar.Joni di mobil depan bersama Pak Bram sambil melihat peta kasar area.“Mereka biasanya loot apa di selatan?”Pak Bram menjawab sambil terus memperhatikan jalan.“Gudang makanan sama bengkel lama.”Joni mengangguk kecil.“Berarti jalur baliknya kemungkinan lewat sini.”Dia menunjuk jalan industri sempit di peta. Dan benar saja beberapa jam kemudian rom
Tidak lama setelah Sindy kabur keluar ruangan, pintu kembali terbuka. Deri masuk sambil mengernyit.“Bang…”Dia menunjuk ke arah luar.“Si Sindy kenapa merah banget mukanya?”Joni yang masih agak bengong langsung refleks duduk lebih tegak.“…hah?”Deri makin curiga.“Lu marahin dia?”“Engga.”Jawaban Joni terlalu cepat namun Deri langsung menyipitkan mata.“…curiga gue.”Namun sebelum Deri sempat lanjut, Joni buru-buru mengalihkan topik.“Udah upgrade?”Wajah Deri langsung berubah semangat.“Udah.”Dia langsung membuka panel traitnya.“Schematic sekarang berubah jadi Machinist.”Joni langsung nyengir.“Wah. Sekarang lu masokis?”Deri langsung melotot.“BUKAN MASOKIS! Machinist!”Joni langsung ketawa ngakak.“Mirip anjir namanya.”Deri cuma geleng-geleng kesel dab Joni lalu kembali serius.“Yaudah. Fungsinya apa sekarang? Udah dites?”Deri langsung mengangguk semangat.“Sedikit.”Dia duduk lalu mulai menjelaskan sambil gerak-gerakin tangan excited.“Sekarang gue bisa bikin blueprint le
Beberapa hari setelah serangan kelompok Broto, ruangan rapat kelompok Joni kembali dipenuhi anggota inti mereka.Namun kali ini suasananya berbeda, kali ini lebih serius, lebih berat karena sekarang semua orang sadar, mereka sudah resmi masuk perang besar antar kelompok.Joni duduk di ujung meja sambil melihat satu per satu orang di ruangan itu.“Mulai laporan.”Tatapannya berpindah ke Sindy terlebih dulu.“Sindy.”Sindy langsung membuka beberapa catatan di depannya.“Soal combat drugs…”Tatapannya naik ke Joni.“Setelah abang kasih sampelnya buat aku teliti lebih lanjut…”Dia menarik napas kecil.“…aku bisa ngilangin efek sampingnya.”Ruangan langsung diam dan Deri langsung menoleh cepat.“…hah?”Namun Sindy melanjutkan dengan serius.“Efek gagal organ, kerusakan saraf, sama stimulasi berlebihan itu muncul karena beberapa komponen kimianya ga stabil.”“Kalau dipisah dan diseimbangin ulang… harusnya bisa jauh lebih aman.”Mata Joni langsung menyipit tertarik dan Sindy lalu menambahkan
Sindy menatap layar biru transparan itu dengan napas masih tidak stabil.Tulisan di depannya perlahan berhenti berubah.═══════════Trait: Pharmatrix═══════════“…Pharmatrix?”Suaranya pelan penuh bingung namun sebelum dia sempat memahami lebih jauh, Pak Bram langsung memeluknya erat.“SINDY!”Pria itu sampai menangis lega sambil memegang kepala anaknya.“Lu hidup… Syukur…”Joni yang berdiri di dekat sana juga akhirnya menghembuskan napas panjang lega setelah tegang sejak tadi.Sementara Sindy sendiri masih terlihat blank. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar sesuatu.“…kok aku hidup?”Pak Bram langsung menoleh ke Joni dan Joni akhirnya menjelaskan singkat.“Kristal. Kita pake kristal zombie ke luka lu.”Sindy langsung membeku mendengar itu karena dia tahu artinya lalu Joni menyipitkan mata sedikit.“Lu sekarang awakener?”Sindy perlahan menoleh lagi ke layar biru yang masih mengambang di pandangannya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.“…iya.”Joni langsu
Tubuh Sindy semakin kejang hebat di atas kasur.KRAK… KREEET…Tali pengikat mulai berderit keras karena tubuhnya terus bergerak tidak normal.Kasur darurat itu bahkan ikut bergeser sedikit di lantai akibat hentakan tubuh Sindy yang semakin brutal.“ARGH—!”Suara napas dan erangan aneh keluar dari tenggorokannya.Mila langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.“Bang… Ini ga normal…”Pak Bram yang melihat itu justru semakin hancur. Air matanya tidak berhenti jatuh sambil terus memegang kepalanya sendiri.“Sindy…”Namun Joni tetap berdiri di dekat tempat tidur dengan wajah tegang. Tatapannya tidak lepas dari tubuh Sindy.Lalu urat hitam mulai muncul perlahan dari sekitar luka di perutnya.Menyebar sedikit demi sedikit. Mata beberapa anggota langsung membesar ketakutan. Karena mereka semua tahu seperti apa awal perubahan zombie.Deri refleks langsung mengangkat senjatanya sedikit dan Joni langsung sadar situasinya makin berbahaya.“Senjata.”Suara Joni terdengar berat.“Kasih gu
Joni keluar dari gudang sambil terus menyeret tubuh Dani yang tidak sadarkan diri di lantai beton.Suara gesekan tubuh dan oli terdengar kasar di tengah suasana base yang masih penuh asap dan sisa pertempuran.Begitu melihat Deri dan Pak Bram di depan, Joni langsung bertanya santai.“Udah selesai?”Deri yang masih melongo melihat kondisi Dani langsung menjawab cepat.“Mereka kabur.”Pak Bram ikut mengangguk.“Udah mundur semua.”Lalu dia melihat ke arah luar base yang rusak cukup parah.“Tapi…”Tatapannya kembali ke Joni.“…mereka sebenernya dari mana sih?”Joni berhenti sebentar.Tatapannya menyapu area gerbang yang hancur dan tembok pertahanan yang dulu mereka perkuat mati-matian.Kini sebagian sudah runtuh penuh bekas ledakan dan api. Alisnya mengernyit melihat kerusakan itu.“…kelompok Broto.”Nada suaranya berubah dingin.“Mereka balas dendam soal pabrik energi itu.”Deri langsung menghela napas kasar.“Anjing…”Lalu matanya turun lagi ke arah Dani yang diseret Joni.“…terus ini







