Share

51. Pabrik Perang

Penulis: SleepyFace
last update Tanggal publikasi: 2026-05-22 13:23:05

Tidak lama setelah Sindy kabur keluar ruangan, pintu kembali terbuka. Deri masuk sambil mengernyit.

“Bang…”

Dia menunjuk ke arah luar.

“Si Sindy kenapa merah banget mukanya?”

Joni yang masih agak bengong langsung refleks duduk lebih tegak.

“…hah?”

Deri makin curiga.

“Lu marahin dia?”

“Engga.”

Jawaban Joni terlalu cepat namun Deri langsung menyipitkan mata.

“…curiga gue.”

Namun sebelum Deri sempat lanjut, Joni buru-buru mengalihkan topik.

“Udah upgrade?”

Wajah Deri langsung berubah semangat.

“Udah.”

Dia langsung membuka panel traitnya.

“Schematic sekarang berubah jadi Machinist.”

Joni langsung nyengir.

“Wah. Sekarang lu masokis?”

Deri langsung melotot.

“BUKAN MASOKIS! Machinist!”

Joni langsung ketawa ngakak.

“Mirip anjir namanya.”

Deri cuma geleng-geleng kesel dab Joni lalu kembali serius.

“Yaudah. Fungsinya apa sekarang? Udah dites?”

Deri langsung mengangguk semangat.

“Sedikit.”

Dia duduk lalu mulai menjelaskan sambil gerak-gerakin tangan excited.

“Sekarang gue bisa bikin blueprint lebih kompleks. Mesin besar juga mulai kebayang struktur sama komponennya.”

Tatapannya mulai berbinar.

“Kayak conveyor otomatis, sistem produksi, alat press… bahkan kendaraan berat mungkin bisa.”

Mata Joni langsung sedikit membesar tertarik.

“Wah.”

Deri lanjut lagi.

“Dan kayaknya… gue sekarang bisa ngerti sistem mesin lebih dalem. Ga cuma ngerakit tapi optimasi juga.”

Joni langsung bersandar sambil berpikir beberapa detik lalu perlahan senyum muncul di wajahnya.

“Oke.”

Tatapannya kembali ke Deri.

“Kalau gitu mulai sekarang… lu ga cuma jadi montir kelompok.”

Deri langsung mengangkat alis. Joni menunjuk peta dan area base mereka.

“Gue mau base ini berubah jadi pabrik perang.”

Deri langsung diam mendengarkan serius. Joni lanjut bicara.

“Pertama. Produksi amunisi. Kita ga bisa terus ngandelin loot. Kedua…”

Dia menunjuk area pertahanan.

“Gue mau turret otomatis sederhana di pos-pos luar. Minimal alarm otomatis. Ketiga...”

Tatapannya makin serius.

“Modif kendaraan tempur. Kalau perang sama Broto lanjut… kita butuh kendaraan yang lebih brutal.”

Deri perlahan mulai nyengir juga sekarang. Karena semua yang disebut Joni terdengar sangat seru buat trait barunya. Namun Joni belum selesai.

“Dan satu lagi.”

“Hm?”

Joni menyeringai tipis.

“Gue mau lu bikin workshop terbesar di kelompok ini. Karena mulai sekarang… perkembangan kelompok kita tergantung lu juga.”

Di markas kelompok Broto, suasana ruangan utama dipenuhi amarah.

BROTO membanting map ke meja dengan keras.

BRAK!

“DELAPAN PULUH ORANG! Dan kalian kalah lawan kelompok baru itu?!”

Semua bawahan di ruangan langsung diam menunduk. Raka berdiri paling depan dengan wajah tegang dan Broto menunjuknya marah.

“Itu kelompok siapa sebenernya?! Siapa pemimpinnya?!”

Raka menggertakkan gigi sebentar sebelum menjawab.

“…ga tau bang.”

Broto langsung melotot.

“GA TAU?!”

Raka buru-buru menjelaskan.

“Soal pemimpin… Dani yang ngurus. Dia yang masuk paling dalem.”

Broto langsung menatap sekeliling.

“Terus Dani mana?”

Ruangan langsung sunyi dan Raka perlahan menunduk.

“…belum balik.”

Salah satu anggota lain ikut menambahkan pelan.

“Udah beberapa hari ga ada kabar…”

BROTO langsung menendang kursi di dekatnya.

“TAI!”

Suasana makin tegang. Di sudut ruangan, Putri yang sejak tadi diam memperhatikan mulai terlihat kaget sendiri.

Karena sekarang dia sadar, Broto benar-benar menyerang kelompok Joni dan yang lebih mengejutkan ternyata mereka kalah. Lalu pikiran aneh sempat muncul di kepalanya.

“…apa pindah aja ya.”

Tatapannya kosong sebentar.

“Bawa orang-orang yang percaya sama gue ke sana…”

Namun beberapa detik kemudian dia langsung menggeleng kecil sendiri.

“…ga mungkin.”

Dia masih ingat jelas banyak anggota Broto dulu ikut ngebully Joni dan dia ragu Joni mau menerima mereka begitu saja. Sementara itu Broto tiba-tiba menoleh ke arah Putri.

“Putri.”

Putri mengangkat kepala malas.

“Hancurin kelompok itu.”

Nada Broto penuh emosi namun Putri langsung menjawab datar.

“Ga.”

Ruangan langsung sedikit hening lalu Broto menyipitkan mata.

“Lu nolak gue?”

Putri menatap balik tanpa takut.

“Dari awal aku gabung sama kamu… syaratnya jelas. Aku bantu lawan monster dan kelompok yang nyerang duluan. Bukan buat nyerang orang sembarangan.”

Broto langsung terlihat makin kesal namun sebelum dia meledak lagi, pintu ruangan terbuka. Ray masuk sambil membawa beberapa catatan penuh coretan.

“Udah udah.”

Dia melambaikan tangan malas.

“Masalah kelompok itu belakangan aja.”

Tatapannya ke Broto.

“Pesanan atas udah ketunda. Kita harus lanjut produksi drugs.”

Broto langsung memijat pelipisnya frustrasi karena sekarang semua masalah datang bersamaan.

Pabrik hancur. Dani hilang. Kelompok baru muncul. Dan pesanan drugs mereka tertunda. Akhirnya dia menggertakkan gigi lalu berkata kesal.

“…oke. Jangan ganggu kelompok itu dulu.”

Tatapannya dingin.

“Fokus selesain pesenan. Sekalian bikin pabrik baru buat Ray.”

Ray langsung nyengir puas.

“Gitu dong.”

Lalu Broto menoleh lagi ke Putri.

“Lu. Amankan pabrik baru itu.”

Putri hanya menatap malas beberapa detik sebelum menghela napas kecil.

“…iya.”

Namun saat dia berjalan keluar, suara Broto masih terdengar ngomel marah dari belakang.

“Kelompok sialan itu… bakal gue hancurin sendiri nanti.”

Di pinggiran kota industri yang jauh dari markas utama Broto, sebuah pabrik kecil mulai dibersihkan dan dijadikan fasilitas produksi baru milik Ray.

Tempatnya jauh lebih kecil dibanding fasilitas lama namun justru itu alasan Ray memilihnya.

Lebih tersembunyi. Lebih aman. Dan lebih sulit ditemukan kelompok lain.

Sementara beberapa anggota sibuk memindahkan alat dan bahan kimia ke dalam gedung, Putri berdiri sendirian di area depan pabrik.

Api menyala di kedua tangannya.

WHOOSH.

Semburan api langsung membakar kerumunan zombie kecil di dekat gerbang sampai hangus hitam namun ekspresinya kosong.

Tidak fokus dan pikirannya terus kembali ke kelompok Joni.

Ke pabrik narkotika itu. Ke orang-orang yang dirantai. Dan ke cara Joni melihat dirinya waktu itu.

“Lu capek-capek nyelametin orang… padahal bos lu jualan beginian.”

Putri menggertakkan giginya pelan.

“…tai.”

Api di tangannya membesar sesaat karena emosinya. Dia langsung melempar bola api lagi ke arah zombie lain.

BOOM.

Namun tetap saja pikirannya kacau. Karena semakin dia memikirkan semuanya semakin muncul rasa tidak nyaman di dadanya.

Bagaimana kalau Joni memang benar selama ini? Dan dirinya yang salah memihak.

Putri menatap api di tangannya sendiri beberapa detik lalu perlahan menunduk.

Karena untuk pertama kalinya sejak dunia runtuh, dia mulai benar-benar meragukan kelompok tempat dia berdiri sekarang. Sampai akhirnya—

“ANJING!”

BOOOOM!!

Api besar langsung meledak dari tubuh Putri. Gelombang panas menyapu area sekitar secara brutal.

Zombie-zombie di dekat gerbang langsung terbakar hidup-hidup bahkan sebelum sempat mendekat.

Putri mengangkat tangannya lagi dengan emosi yang akhirnya pecah total.

WHOOSHH!!

Semburan api berikutnya jauh lebih besar.

Api menyapu tumpukan kendaraan rongsok, pagar, bahkan sebagian dinding pabrik. Beberapa anggota kelompok Broto langsung panik.

“PUTRI! GEDUNGNYA!”

Namun Putri sama sekali tidak peduli. Dia terus membakar zombie-zombie itu dengan wajah penuh frustrasi dan emosi campur aduk.

BOOM!

WHOOSH!!

Api terus menyala liar sampai sebagian sisi gedung mulai ikut terbakar.

Baru beberapa detik kemudian Putri akhirnya tersadar. Matanya membesar melihat api mulai menyebar ke bangunan.

Dia langsung mematikan apinya sendiri. Napasnya kacau. Tubuhnya sedikit gemetar.

Area sekitar sekarang penuh asap dan bangkai zombie hangus namun justru setelah semuanya diam, Putri malah terlihat makin frustrasi.

Tangannya mengepal kuat.

“…kenapa gue jadi begini.”

Dia memegang kepalanya sendiri pelan. Karena semakin dia mencoba menyangkal semakin besar rasa tidak nyaman dan keraguan itu tumbuh di dalam dirinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   54. Pilihan Putri

    Di belakang kendaraan kelompok Joni, dua anggota sedang buru-buru membalut lengan Joni yang tertembak.“Anjing…”Joni meringis sambil memegang lengannya.“Baru sembuh bentar udah ketembak lagi.”Pak Bram berdiri di sampingnya sambil tetap mengawasi area depan dengan sniper di tangan lalu dia menoleh datar ke arah Joni.“…kenapa tadi ga langsung ditembak aja cewek itu?”Joni mendengus kecil kesal.“Karena dia bukan musuh gue.”Pak Bram mengangkat alis.“Serius?”Namun sebelum Joni sempat menjawab lagi—BOOOOM!!Ledakan besar tiba-tiba mengguncang area dalam pabrik. Semua orang langsung membeku.“…hah?”Lalu—BOOOOM!!Ledakan kedua menyusul. Api besar mulai terlihat dari dalam area pabrik dan detik berikutnya teriakan orang-orang menggema keluar.“AAAAARGH!!”“API!”Beberapa anggota kelompok Broto tiba-tiba berlarian keluar dari dalam pabrik dengan tubuh terbakar hidup-hidup.Api menyelimuti seluruh badan mereka. Mereka berguling di tanah sambil menjerit kesakitan.Pemandangan itu bahkan

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   53. Api Pengkhianat

    Keesokan paginya konvoi kelompok Broto kembali keluar dari markas mereka.Beberapa kendaraan pickup bergerak membawa anggota bersenjata lengkap menuju area loot di sisi timur kota.Namun kali ini Putri ikut bersama mereka. Dia duduk di atas kap mobil paling depan sambil memandang jalan kosong dengan ekspresi datar.Api kecil sesekali muncul di ujung jarinya lalu menghilang lagi. Sementara anggota lain terlihat jauh lebih santai karena merasa aman ada Putri bersama mereka.“Kalau ada kelompok sialan itu lagi… langsung dibakar aja sama mbak Putri.”Beberapa orang bahkan tertawa kecil namun Putri sama sekali tidak menanggapi. Pikirannya masih kacau sejak beberapa hari terakhir.Dan jauh dari sana radio kecil milik salah satu kelompok kecil sekutu Joni mulai berbunyi.“Base. Konvoi Broto keluar. Lima kendaraan. Arah timur.”Di ruang komunikasi kelompok Joni, anggota langsung mencatat cepat lalu menyampaikan laporan itu.Tidak lama kemudian mesin kendaraan kelompok Joni mulai menyala satu

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   52. Perang Bayangan

    Beberapa hari berikutnya, perang antara kelompok Joni dan Broto mulai berubah menjadi perang bayangan bukan lagi serangan frontal.Melainkan perburuan, dan dimulai dengan salah satu kelompok kecil yang diam-diam sudah diajak kerja sama oleh Pak Kusno.Mereka pura-pura tetap menjadi survivor biasa di area sekitar wilayah Broto.Dan pagi itu radio komunikasi kelompok Joni berbunyi.“Base. Kelompok Broto keluar.”Suara samar terdengar dari HT kecil.“Empat mobil. Arah selatan.”Di ruangan komunikasi, anggota langsung mencatat lalu menyampaikan informasi itu ke Joni.Beberapa menit kemudian konvoi kecil kelompok Joni langsung bergerak keluar.Joni di mobil depan bersama Pak Bram sambil melihat peta kasar area.“Mereka biasanya loot apa di selatan?”Pak Bram menjawab sambil terus memperhatikan jalan.“Gudang makanan sama bengkel lama.”Joni mengangguk kecil.“Berarti jalur baliknya kemungkinan lewat sini.”Dia menunjuk jalan industri sempit di peta. Dan benar saja beberapa jam kemudian rom

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   51. Pabrik Perang

    Tidak lama setelah Sindy kabur keluar ruangan, pintu kembali terbuka. Deri masuk sambil mengernyit.“Bang…”Dia menunjuk ke arah luar.“Si Sindy kenapa merah banget mukanya?”Joni yang masih agak bengong langsung refleks duduk lebih tegak.“…hah?”Deri makin curiga.“Lu marahin dia?”“Engga.”Jawaban Joni terlalu cepat namun Deri langsung menyipitkan mata.“…curiga gue.”Namun sebelum Deri sempat lanjut, Joni buru-buru mengalihkan topik.“Udah upgrade?”Wajah Deri langsung berubah semangat.“Udah.”Dia langsung membuka panel traitnya.“Schematic sekarang berubah jadi Machinist.”Joni langsung nyengir.“Wah. Sekarang lu masokis?”Deri langsung melotot.“BUKAN MASOKIS! Machinist!”Joni langsung ketawa ngakak.“Mirip anjir namanya.”Deri cuma geleng-geleng kesel dab Joni lalu kembali serius.“Yaudah. Fungsinya apa sekarang? Udah dites?”Deri langsung mengangguk semangat.“Sedikit.”Dia duduk lalu mulai menjelaskan sambil gerak-gerakin tangan excited.“Sekarang gue bisa bikin blueprint le

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   50. Awal Serangan Balik

    Beberapa hari setelah serangan kelompok Broto, ruangan rapat kelompok Joni kembali dipenuhi anggota inti mereka.Namun kali ini suasananya berbeda, kali ini lebih serius, lebih berat karena sekarang semua orang sadar, mereka sudah resmi masuk perang besar antar kelompok.Joni duduk di ujung meja sambil melihat satu per satu orang di ruangan itu.“Mulai laporan.”Tatapannya berpindah ke Sindy terlebih dulu.“Sindy.”Sindy langsung membuka beberapa catatan di depannya.“Soal combat drugs…”Tatapannya naik ke Joni.“Setelah abang kasih sampelnya buat aku teliti lebih lanjut…”Dia menarik napas kecil.“…aku bisa ngilangin efek sampingnya.”Ruangan langsung diam dan Deri langsung menoleh cepat.“…hah?”Namun Sindy melanjutkan dengan serius.“Efek gagal organ, kerusakan saraf, sama stimulasi berlebihan itu muncul karena beberapa komponen kimianya ga stabil.”“Kalau dipisah dan diseimbangin ulang… harusnya bisa jauh lebih aman.”Mata Joni langsung menyipit tertarik dan Sindy lalu menambahkan

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   49. Pharmatrix

    Sindy menatap layar biru transparan itu dengan napas masih tidak stabil.Tulisan di depannya perlahan berhenti berubah.═══════════Trait: Pharmatrix═══════════“…Pharmatrix?”Suaranya pelan penuh bingung namun sebelum dia sempat memahami lebih jauh, Pak Bram langsung memeluknya erat.“SINDY!”Pria itu sampai menangis lega sambil memegang kepala anaknya.“Lu hidup… Syukur…”Joni yang berdiri di dekat sana juga akhirnya menghembuskan napas panjang lega setelah tegang sejak tadi.Sementara Sindy sendiri masih terlihat blank. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar sesuatu.“…kok aku hidup?”Pak Bram langsung menoleh ke Joni dan Joni akhirnya menjelaskan singkat.“Kristal. Kita pake kristal zombie ke luka lu.”Sindy langsung membeku mendengar itu karena dia tahu artinya lalu Joni menyipitkan mata sedikit.“Lu sekarang awakener?”Sindy perlahan menoleh lagi ke layar biru yang masih mengambang di pandangannya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.“…iya.”Joni langsu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status