تسجيل الدخولSindy menatap layar biru transparan itu dengan napas masih tidak stabil.
Tulisan di depannya perlahan berhenti berubah. ═══════════ Trait: Pharmatrix ═══════════ “…Pharmatrix?” Suaranya pelan penuh bingung namun sebelum dia sempat memahami lebih jauh, Pak Bram langsung memeluknya erat. “SINDY!” Pria itu sampai menangis lega sambil memegang kepala anaknya. “Lu hidup… Syukur…” Joni yang berdiri di dekat sana juga akhirnya menghembuskan napas panjang lega setelah tegang sejak tadi. Sementara Sindy sendiri masih terlihat blank. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar sesuatu. “…kok aku hidup?” Pak Bram langsung menoleh ke Joni dan Joni akhirnya menjelaskan singkat. “Kristal. Kita pake kristal zombie ke luka lu.” Sindy langsung membeku mendengar itu karena dia tahu artinya lalu Joni menyipitkan mata sedikit. “Lu sekarang awakener?” Sindy perlahan menoleh lagi ke layar biru yang masih mengambang di pandangannya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan. “…iya.” Joni langsung menyilangkan tangan. “Trait lu apa?” Sindy kembali membaca tulisan itu. “…Pharmatrix.” Joni langsung mengernyit. “Itu apaan?” Namun Sindy justru menggeleng pelan. “…ga tau.” Lalu perlahan dia mencoba bangun dari tempat tidur. Pak Bram langsung panik menahannya. “Eh eh! Jangan dulu! Kamu baru sadar!” Namun Sindy malah terlihat bingung sendiri. “…pak.” Dia melihat tubuhnya sendiri. “Aku kayaknya gapapa.” Tangannya langsung menyentuh perutnya dan benar, lukanya hilang. Tidak ada bekas tusukan sama sekali bahkan rasa sakitnya juga sudah lenyap. Sindy sendiri terlihat makin bingung dengan kondisi tubuhnya lalu saat dia melihat ke sekitar ruangan beberapa anggota terluka sedang dirawat Mila dan anggota lain di sudut ruangan. Dan saat itulah Sindy tiba-tiba mengernyit karena di matanya beberapa layar biru transparan lain muncul melayang di dekat tubuh orang-orang terluka itu. Tulisan-tulisan kecil bergerak di atas luka mereka seperti data medis hidup. Sindy langsung membeku melihat itu. Sindy terus menatap layar-layar biru yang muncul di sekitar orang-orang terluka itu. Tulisan-tulisan transparan bergerak sendiri di depan matanya. Data. Komponen. Reaksi tubuh dan anehnya, dia bisa memahaminya tanpa sadar. “…hah?” Sindy langsung turun dari tempat tidur lalu berjalan cepat ke arah salah satu anggota yang sedang dirawat di sudut ruangan. “Eh— Sindy!” Pak Bram refleks berdiri panik namun Joni langsung menahan bahunya pelan. “Biarin dulu pak.” Tatapannya mengikuti Sindy karena dia sadar ini mirip seperti waktu Deri pertama awakening. Trait mereka seperti langsung memberi pemahaman baru. Maka Joni pun ikut berjalan di belakang Sindy sambil memperhatikan. Di depan mereka, salah satu anggota kelompok sedang duduk meringis kesakitan. Lengannya robek cukup dalam akibat serpihan ledakan. Mila dan anggota lain sedang membersihkan lukanya memakai alkohol sebelum ditutup perban dan diberikan salep luka seadanya. Namun saat Sindy melihat luka itu, layar biru langsung muncul lebih jelas di depan matanya. ═══════════ Luka terbuka: Resiko infeksi tinggi Alkohol konsentrasi tinggi menyebabkan iritasi jaringan Disarankan: Larutan saline Penutupan steril Antibiotik spektrum... ═══════════ Tulisan lain terus bermunculan. Nama obat. Efek samping. Komponen kimia. Reaksi tubuh orang itu secara spesifik. Dan semuanya langsung masuk ke kepala Sindy seperti pemahaman alami. “Jangan gitu.” Sindy tiba-tiba berbicara dan Mila langsung menoleh bingung. “Hah?” Sindy menunjuk alkohol di tangan Mila. “Kalau kebanyakan nanti jaringan lukanya rusak. Infeksi malah lebih gampang.” Ruangan langsung diam karena bahkan Sindy sendiri tidak sadar bagaimana dia bisa tahu itu. Namun tubuhnya bergerak otomatis mengikuti pemahaman yang terus muncul di kepalanya. Dia langsung mengambil kain bersih lain. “Air saline ada?” Beberapa orang bingung saling melirik namun Sindy sudah mulai menjelaskan sendiri sambil bekerja. “Bersihin dulu bagian luar. Jangan langsung nutup luka kotor.” Tangannya bergerak jauh lebih tenang dan tepat dibanding sebelumnya. Bukan seperti mengikuti tutorial melainkan seperti dia benar-benar memahami obat, luka, dan tubuh manusia secara alami. Joni yang berdiri di belakang mulai menyipitkan mata serius melihat itu. Setelah luka anggota itu selesai ditangani, pria tadi bahkan terlihat jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Pendarahannya berhenti lebih cepat dan rasa panas di lukanya juga berkurang. Mila yang dari tadi memperhatikan akhirnya melongo sendiri. “…lu kok tau beginian?” Sindy sendiri masih terlihat sedikit bingung dengan dirinya namun sebelum dia menjawab, Joni sudah menyilangkan tangan sambil menghela napas lega. “…kayaknya kita udah tau trait lu apa.” Sindy menoleh ke arahnya lalu mengangguk pelan. “Iya…” Tatapannya turun ke tangannya sendiri. “…gue juga mulai ngerti.” Joni langsung tertawa kecil penuh lega. “Syukur dah. Akhirnya di kelompok gue ada orang yang ngerti ngobatin orang.” Pak Bram yang berdiri di belakang bahkan sampai menutup wajahnya sebentar karena terlalu lega anaknya hidup dan sekarang justru jadi awakener penting. Joni lalu menunjuk ruangan penuh anggota terluka itu. “Untuk sekarang…” Tatapannya serius lagi. “Rawat mereka semua. Mila bantuin.” Mila langsung mengangguk cepat. “Siap.” Lalu Joni menatap Sindy sekali lagi. “Kalau udah selesai… ke ruang gue.” Sindy mengangguk pelan dan setelah itu, ruangan berubah jadi sibuk lagi namun kali ini berbeda. Karena sekarang Sindy mulai bergerak dari satu pasien ke pasien lain sambil melihat layar-layar biru transparan yang hanya bisa dia lihat sendiri. Di depan salah satu anggota, layar menunjukkan reaksi alergi terhadap antibiotik tertentu. Sindy langsung menghentikan obat yang hampir diberikan Mila. “Jangan yang itu.” Mila bingung. “Kenapa?” “Dia alergi.” Seketika semua orang menoleh karena bahkan anggota itu sendiri tampak kaget. “…hah? Kok tau?” Namun Sindy sendiri sudah bergerak ke pasien lain. Di pasien berikutnya dia langsung tahu luka mana yang mulai infeksi. Mana yang butuh dijahit. Mana yang cukup dibersihkan. Mana yang berbahaya kalau ditutup terlalu cepat. Dan semua itu terasa alami baginya. Seperti traitnya terus menerjemahkan tubuh manusia menjadi data dan pemahaman medis di depan matanya. Semua berlangsung cepat dan Sindy sibuk mengobati. Mila membantu mengambil alat dan obat. Orang-orang yang tadinya kesakitan mulai membaik sedikit demi sedikit. Dan untuk pertama kalinya kelompok Joni akhirnya punya seseorang yang bisa benar-benar menangani luka dan medis secara serius. Setelah semua anggota yang terluka selesai ditangani sementara, Sindy akhirnya berjalan menuju ruangan Joni. Tubuhnya masih sedikit lelah, namun langkahnya jauh lebih stabil dibanding sebelumnya. Saat pintu dibuka, Joni sudah duduk menunggu di dalam sambil memegang beberapa catatan. “Masuk.” Sindy masuk lalu duduk pelan di depan meja dan Joni langsung menatapnya serius. “Udah di obatin semua kan? Sekarang jelasin trait lu gimana kerjanya?” Sindy diam beberapa detik mencoba merangkai kata-kata. “…gue juga belum ngerti semuanya bang. Tapi kayak…” Dia menyentuh pelipisnya sendiri. “…gue bisa liat kondisi tubuh orang. Obat, komponen, reaksi kimia, efek samping.” Tatapannya turun ke tangannya sendiri. “Dan gue ngerti cara nanganinnya.” Joni mendengarkan serius tanpa memotong lalu Sindy melanjutkan pelan. “Semakin parah kondisinya… semakin banyak informasi yang muncul. Kayak layar data.” Joni perlahan mulai mengangguk. Jadi trait Sindy bukan cuma healer biasa melainkan sesuatu yang jauh lebih spesifik dan kompleks. Trait medis. Trait farmasi. Trait analisa tubuh. Dan tiba-tiba sesuatu muncul di kepala Joni. Matanya langsung membesar sedikit. “Sebentar.” Dia langsung berdiri lalu membuka salah satu laci besi di ruangannya. Dari dalam dia mengambil botol cairan merah gelap. Combat drugs. Sindy langsung mengenali botol itu dan Joni menaruhnya di meja. “Lu tau ini komponennya apa?” Tatapannya serius. “Dan efeknya.” Sindy perlahan mengambil botol itu dan begitu matanya fokus, layar biru langsung muncul di depan pandangannya jauh lebih besar dari sebelumnya. Tulisan merah langsung berkedip di bagian atas. ═══════════ PERINGATAN Resiko Tinggi Gagal organ Pendarahan otak Kerusakan saraf Kelumpuhan permanen Overstimulasi adrenal Ketergantungan tinggi ═══════════ Mata Sindy langsung membesar membaca itu.Beberapa hari berikutnya, perang antara kelompok Joni dan Broto mulai berubah menjadi perang bayangan bukan lagi serangan frontal.Melainkan perburuan, dan dimulai dengan salah satu kelompok kecil yang diam-diam sudah diajak kerja sama oleh Pak Kusno.Mereka pura-pura tetap menjadi survivor biasa di area sekitar wilayah Broto.Dan pagi itu radio komunikasi kelompok Joni berbunyi.“Base. Kelompok Broto keluar.”Suara samar terdengar dari HT kecil.“Empat mobil. Arah selatan.”Di ruangan komunikasi, anggota langsung mencatat lalu menyampaikan informasi itu ke Joni.Beberapa menit kemudian konvoi kecil kelompok Joni langsung bergerak keluar.Joni di mobil depan bersama Pak Bram sambil melihat peta kasar area.“Mereka biasanya loot apa di selatan?”Pak Bram menjawab sambil terus memperhatikan jalan.“Gudang makanan sama bengkel lama.”Joni mengangguk kecil.“Berarti jalur baliknya kemungkinan lewat sini.”Dia menunjuk jalan industri sempit di peta. Dan benar saja beberapa jam kemudian rom
Tidak lama setelah Sindy kabur keluar ruangan, pintu kembali terbuka. Deri masuk sambil mengernyit.“Bang…”Dia menunjuk ke arah luar.“Si Sindy kenapa merah banget mukanya?”Joni yang masih agak bengong langsung refleks duduk lebih tegak.“…hah?”Deri makin curiga.“Lu marahin dia?”“Engga.”Jawaban Joni terlalu cepat namun Deri langsung menyipitkan mata.“…curiga gue.”Namun sebelum Deri sempat lanjut, Joni buru-buru mengalihkan topik.“Udah upgrade?”Wajah Deri langsung berubah semangat.“Udah.”Dia langsung membuka panel traitnya.“Schematic sekarang berubah jadi Machinist.”Joni langsung nyengir.“Wah. Sekarang lu masokis?”Deri langsung melotot.“BUKAN MASOKIS! Machinist!”Joni langsung ketawa ngakak.“Mirip anjir namanya.”Deri cuma geleng-geleng kesel dab Joni lalu kembali serius.“Yaudah. Fungsinya apa sekarang? Udah dites?”Deri langsung mengangguk semangat.“Sedikit.”Dia duduk lalu mulai menjelaskan sambil gerak-gerakin tangan excited.“Sekarang gue bisa bikin blueprint le
Beberapa hari setelah serangan kelompok Broto, ruangan rapat kelompok Joni kembali dipenuhi anggota inti mereka.Namun kali ini suasananya berbeda, kali ini lebih serius, lebih berat karena sekarang semua orang sadar, mereka sudah resmi masuk perang besar antar kelompok.Joni duduk di ujung meja sambil melihat satu per satu orang di ruangan itu.“Mulai laporan.”Tatapannya berpindah ke Sindy terlebih dulu.“Sindy.”Sindy langsung membuka beberapa catatan di depannya.“Soal combat drugs…”Tatapannya naik ke Joni.“Setelah abang kasih sampelnya buat aku teliti lebih lanjut…”Dia menarik napas kecil.“…aku bisa ngilangin efek sampingnya.”Ruangan langsung diam dan Deri langsung menoleh cepat.“…hah?”Namun Sindy melanjutkan dengan serius.“Efek gagal organ, kerusakan saraf, sama stimulasi berlebihan itu muncul karena beberapa komponen kimianya ga stabil.”“Kalau dipisah dan diseimbangin ulang… harusnya bisa jauh lebih aman.”Mata Joni langsung menyipit tertarik dan Sindy lalu menambahkan
Sindy menatap layar biru transparan itu dengan napas masih tidak stabil.Tulisan di depannya perlahan berhenti berubah.═══════════Trait: Pharmatrix═══════════“…Pharmatrix?”Suaranya pelan penuh bingung namun sebelum dia sempat memahami lebih jauh, Pak Bram langsung memeluknya erat.“SINDY!”Pria itu sampai menangis lega sambil memegang kepala anaknya.“Lu hidup… Syukur…”Joni yang berdiri di dekat sana juga akhirnya menghembuskan napas panjang lega setelah tegang sejak tadi.Sementara Sindy sendiri masih terlihat blank. Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar sesuatu.“…kok aku hidup?”Pak Bram langsung menoleh ke Joni dan Joni akhirnya menjelaskan singkat.“Kristal. Kita pake kristal zombie ke luka lu.”Sindy langsung membeku mendengar itu karena dia tahu artinya lalu Joni menyipitkan mata sedikit.“Lu sekarang awakener?”Sindy perlahan menoleh lagi ke layar biru yang masih mengambang di pandangannya. Beberapa detik kemudian dia mengangguk pelan.“…iya.”Joni langsu
Tubuh Sindy semakin kejang hebat di atas kasur.KRAK… KREEET…Tali pengikat mulai berderit keras karena tubuhnya terus bergerak tidak normal.Kasur darurat itu bahkan ikut bergeser sedikit di lantai akibat hentakan tubuh Sindy yang semakin brutal.“ARGH—!”Suara napas dan erangan aneh keluar dari tenggorokannya.Mila langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.“Bang… Ini ga normal…”Pak Bram yang melihat itu justru semakin hancur. Air matanya tidak berhenti jatuh sambil terus memegang kepalanya sendiri.“Sindy…”Namun Joni tetap berdiri di dekat tempat tidur dengan wajah tegang. Tatapannya tidak lepas dari tubuh Sindy.Lalu urat hitam mulai muncul perlahan dari sekitar luka di perutnya.Menyebar sedikit demi sedikit. Mata beberapa anggota langsung membesar ketakutan. Karena mereka semua tahu seperti apa awal perubahan zombie.Deri refleks langsung mengangkat senjatanya sedikit dan Joni langsung sadar situasinya makin berbahaya.“Senjata.”Suara Joni terdengar berat.“Kasih gu
Joni keluar dari gudang sambil terus menyeret tubuh Dani yang tidak sadarkan diri di lantai beton.Suara gesekan tubuh dan oli terdengar kasar di tengah suasana base yang masih penuh asap dan sisa pertempuran.Begitu melihat Deri dan Pak Bram di depan, Joni langsung bertanya santai.“Udah selesai?”Deri yang masih melongo melihat kondisi Dani langsung menjawab cepat.“Mereka kabur.”Pak Bram ikut mengangguk.“Udah mundur semua.”Lalu dia melihat ke arah luar base yang rusak cukup parah.“Tapi…”Tatapannya kembali ke Joni.“…mereka sebenernya dari mana sih?”Joni berhenti sebentar.Tatapannya menyapu area gerbang yang hancur dan tembok pertahanan yang dulu mereka perkuat mati-matian.Kini sebagian sudah runtuh penuh bekas ledakan dan api. Alisnya mengernyit melihat kerusakan itu.“…kelompok Broto.”Nada suaranya berubah dingin.“Mereka balas dendam soal pabrik energi itu.”Deri langsung menghela napas kasar.“Anjing…”Lalu matanya turun lagi ke arah Dani yang diseret Joni.“…terus ini







