MasukJoni memarkir mobilnya tidak jauh dari area pabrik air, lalu mematikan mesin dan turun perlahan. Begitu kakinya menyentuh tanah, dia langsung merasakan sesuatu yang aneh. Terlalu sepi. Tidak ada geraman, tidak ada suara langkah menyeret seperti biasanya.
“...di sini ga ada zombi?” Tangannya refleks meraih senapan, tubuhnya sedikit merendah. Matanya menyapu area sekitar dengan cepat, mencoba menangkap pergerakan sekecil apa pun. Tapi tidak ada. Justru itu yang bikin tidak nyaman. “Ga beres ini…” Dia tidak memilih masuk dari depan. Terlalu terbuka. Pandangannya bergeser ke samping, lalu menemukan jalan sempit di antara dua bangunan. “Lewat situ aja.” Joni bergerak ke sana dengan hati-hati, langkahnya ringan tapi terukur. Sampai di sisi bangunan, dia mulai mencari jendela untuk melihat ke dalam. Jendela pertama kosong. Berantakan, tapi tidak ada orang. Jendela kedua sama saja. Namun di jendela ketiga, dia berhenti. Ada orang. Joni langsung merendah, mengintip dari bawah dengan posisi serendah mungkin. Di dalam, seorang wanita berdiri di depan dengan senjata rakitan di tangannya. Wajahnya tegang, tapi posisinya tidak goyah. Di belakangnya, seorang pria duduk bersandar sambil memegangi lengannya yang berdarah, menahan sakit. Di depan mereka berdiri lima orang. Semua bersenjata. Semua mengarah ke dua orang itu. “Hei, hei… jangan aneh-aneh. Sini kristal lu, terus lu mati tanpa rasa sakit.” Wanita itu tidak mundur sedikit pun. “Coba maju. Gue tembak. Gue mati, kalian ikut.” Pria di belakangnya menggeram pelan. “Kenapa lu balik lagi sih, Mel… gue udah bilang lari aja.” “Ngaco lu, Bang. Lu mati, gue juga ga bakal lama hidup.” Salah satu dari kelompok itu tertawa kasar. “Udah bos, sikat aja. Kita pake rame-rame juga beres.” Tawa mereka menyusul, bikin suasana makin kotor. Pemimpin mereka menjilat bibirnya pelan. “Lihat? Pilihan lu gampang. Kasih dan mati cepet… atau kita bikin pelan-pelan.” Joni mengamati semua itu tanpa bergerak. Tatapannya dingin. “...mampus tuh mereka.” Dia hampir mundur. Bukan urusannya. Tapi kemudian matanya berhenti di senjata yang dipegang wanita itu. Rakitan. Tidak standar. Tapi jelas bisa dipakai. Joni menyipitkan mata, pikirannya mulai jalan. “...mereka bisa benerin senjata?” Dia menimbang cepat. Lima orang di dalam. Dua yang terpojok. Ditambah dirinya. Resiko ada tapi peluang juga ada. “Gue bantuin… atau cabut aja?” Joni tetap diam di tempatnya, mengamati lebih lama, menunggu momen yang tepat—atau alasan untuk bergerak. Joni menarik napas pelan, matanya tetap mengunci situasi di dalam. Dia sudah cukup melihat. Lima orang bersenjata, dua orang terpojok, dan satu di antaranya kelihatan ngerti senjata. Cukup. “Ah, persetan lah… kalau nolak juga bisa gue tembak.” Dia menggeser posisi sedikit, menyesuaikan laras senapannya ke celah jendela. Bidikannya langsung jatuh ke pria paling depan—yang jelas kelihatan jadi pemimpin. “Bos dulu… biar panik.” Joni menutup sebelah mata, menahan napas, lalu menekan pelatuk. Dor. Tembakan itu memotong suasana. Pria itu belum sempat menurunkan tangannya saat kepalanya tersentak dan tubuhnya langsung jatuh. Semua orang di dalam membeku sepersekian detik, seolah otaknya telat memproses apa yang baru terjadi. “Bos—!” Salah satu anak buahnya berteriak panik. Momentum itu langsung diambil. Wanita itu bergerak lebih dulu, menarik pelatuk tanpa ragu. Dua tembakan dilepaskan ke arah kelompok itu, menjatuhkan dua orang sekaligus. Sisanya langsung kacau. Mereka tidak tahu harus mengarah ke mana—ke wanita di depan atau ke sumber tembakan dari luar. Joni tidak memberi mereka waktu. Dia menembak lagi, cepat dan terukur. Tiga peluru dilepas hampir tanpa jeda, dan dua orang yang mencoba mengarahkan senjata ke jendela langsung tumbang. Di saat yang sama, wanita itu juga menembak satu orang terakhir yang mengincarnya. Dalam beberapa detik saja, semuanya selesai. Lima orang tergeletak. Sunyi kembali. Joni masih dalam posisi siap, matanya tetap mengawasi. “Lu gapapa?” Belum sempat dia bergerak dari posisinya, wanita itu langsung berbalik. Senjata di tangannya naik cepat dan mengarah lurus ke jendela. Dor. Kaca di depan Joni pecah. Dia refleks menjatuhkan tubuhnya ke bawah, menjauh dari garis tembak. “Woi anjing! Gue udah bantuin lu, malah nembak gue, bangsat!” Suara wanita itu langsung terdengar dari dalam, tajam dan waspada. “Siapa lu?! Ngapain bantuin gue?!” Senjatanya masih terarah ke jendela, tidak turun sedikit pun. Joni yang masih merunduk mendecak kesal. “Woi sialan, gue bantuin lu. Lu mau mati kek, mau idup kek, bodo amat gue.” Dia tidak mencoba muncul lagi. Tubuhnya tetap rendah saat dia mulai menjauh, merangkak pelan menjauhi jendela. Di dalam, wanita itu masih diam beberapa detik, mendengarkan. Setelah tidak ada suara lagi, dia akhirnya berbalik. “Lu gimana, Bang? Gapapa?” Pria itu mengangguk pelan, masih menahan sakit. Tatapannya sempat bergeser ke arah jendela yang pecah. “Lu ngapain sih, Mel… nembak dia? Dia bantuin kita tadi.” Sementara itu, di luar, Joni sudah cukup jauh dari posisi awalnya. Dia berdiri pelan sambil merapikan bajunya, wajahnya masih kesal. “Cewe gila… bukannya makasih kek, malah nembak gue.” Dia mendengus. “Bajingan emang manusia sekarang.” Tanpa mau ambil pusing lebih jauh, Joni langsung berjalan menjauh dari area itu, menuju bagian lain dari kompleks pabrik—gedung produksi yang lebih besar di sisi dalam. Begitu sampai di gedung produksi, langkah Joni langsung melambat. Rasa kesalnya hilang begitu saja. Di dalam, galon-galon kosong berserakan di mana-mana. Banyak yang penyok, lecet, kotor—tapi masih utuh. Matanya langsung hidup. “Nah… ini harta karun gue.” Dia masuk tanpa ragu dan langsung mulai mengumpulkan. Satu galon, dua, lalu bertambah. Tapi ukurannya besar, tidak praktis dibawa banyak sekaligus. Akhirnya dia berhenti setelah empat atau lima galon di tangannya. Dia menghela napas. “Sialan… harus bolak-balik gini?” Joni menoleh ke sekitar, mencari sesuatu—troli, keranjang, apa pun yang bisa bantu. Tapi tidak ada yang berguna. Kosong dan Dia mendecak. “Ah, monyet lah…” Galon-galon itu dia turunkan lagi ke lantai. “Pake mobil gue aja sekalian.” Joni langsung berbalik dan keluar dari gedung, langkahnya cepat. Dia tidak ambil jalur yang sama. Instingnya bilang lebih aman memutar, menjauh dari arah jendela tadi. Dia tidak mau kena peluru nyasar dari wanita gila itu lagi. Saat sampai di belokan dan melihat mobilnya, langkah Joni langsung berhenti. Matanya menyipit. Di sana ada orang lalu dia mendecak kesal. “Sialan… cewe gila itu ngapain di mobil gue?” Tanpa buang waktu, Joni langsung mengangkat senjatanya. Tubuhnya merendah, lalu bergerak pelan mendekat, memanfaatkan bayangan dan posisi kendaraan di sekitarnya. Di dalam mobil, wanita itu tidak sadar. “Bang, mobil ini masih bagus… bensin penuh. Kita kabur pake ini aja.” Suaranya cepat, panik tapi berusaha tenang. “Lu tahan dulu… gue coba nyalain.” Di kursi sebelah, pria itu sudah hampir tidak sadar. Matanya setengah terpejam, napasnya berat. Darah masih merembes dari lengannya. Wanita itu menunduk ke bawah stir, membuka panel seadanya dan mulai mencari kabel. “Mana sih…” Tangannya akhirnya menemukan kumpulan kabel. Dia meraihnya— “Mau ngapain mobil gue, lu?” Suara itu datang dari samping. Datar dan dekat. Wanita itu langsung menoleh. Joni berdiri di luar pintu, senjata sudah terarah lurus ke kepalanya. Wajahnya asing tapi suaranya dia kenal. Orang yang tadi membantu mereka.Malam itu suasana ruang makan utama cukup ramai.Di salah satu meja besar, Joni sedang makan bersama orang-orang inti kelompoknya. Pak Bram, Putri, Sindy, Deri, Mila, Pak Anton, dan Pak Kusno duduk mengelilingi meja yang penuh dengan berbagai hidangan.Tidak jauh dari sana, tim elit yang baru dibentuk juga sedang makan bersama. Suasana mereka jauh berbeda dibanding beberapa hari lalu. Obrolan terdengar lebih cair, tawa mulai muncul sesekali, dan tidak ada lagi kecanggungan seperti saat pertama direkrut.Pak Bram sempat melirik ke arah mereka lalu tersenyum kecil."Jauh beda dibanding hari pertama."Putri mengangguk."Dulu masih saling jaga jarak.""Kalau sekarang?" tanya Deri sambil menyendok makanannya.Pak Bram tertawa kecil."Sekarang mulai kayak tim."Joni ikut melirik ke arah meja para awakener dan anggota elit itu.Beberapa sedang bercanda dan beberapa lainnya membahas latihan hari ini. Bahkan ada yang sudah saling mengejek dengan santai.Joni mengangguk puas."Nah, gitu lebih e
Mobil yang membawa Charles dan Nada perlahan mendekati kawasan pasar. Namun semakin dekat mereka ke tujuan, laju kendaraan justru semakin melambat hingga akhirnya hampir berhenti total.Di depan, jalan dipenuhi lapak dan orang-orang yang masih beraktivitas meski hari sudah malam. Beberapa gerobak bahkan memakan sebagian badan jalan.Charles mengerutkan kening."Ada apa?""Jalannya penuh, Jenderal."Charles menatap ke depan lalu berkata singkat,"Klakson."Pengemudi langsung membunyikan klakson beberapa kali.TIN! TIN!Beberapa orang menoleh lalu kembali ke urusan masing-masing namun tidak ada yang menyingkir dan Charles mulai tidak senang."Klakson lagi."TIN! TIN!Kali ini seorang pedagang yang sedang duduk santai di depan lapaknya berdiri lalu berteriak ke arah mereka."MAU LEWAT KE MANA LU WOI!!!"Charles membuka jendela."Kasih jalan."Pedagang itu justru terlihat heran."Lah, parkir sana."Charles mengerutkan kening."Kami mau masuk."Pedagang itu menunjuk ke belakang."Ya parkir
Menjelang sore, iring-iringan kendaraan militer akhirnya tiba di kawasan kompleks industri. Begitu memasuki area tersebut, Charles langsung menyadari satu masalah baru.Tempat itu jauh lebih ramai daripada yang ia perkirakan.Jalanan yang dulu sepi kini dipenuhi berbagai kendaraan. Truk, mobil pickup, hingga kendaraan rakitan terlihat terparkir di banyak tempat. Beberapa bangunan pabrik yang masih layak pakai bahkan sudah ditempati kelompok-kelompok survivor lain.Charles memperhatikan keadaan itu dari dalam mobil komando sambil mengerutkan kening."Apa seramai ini sebelumnya?"Nada yang duduk di sampingnya menggeleng."Enggak."Charles kembali melihat ke luar jendela.Di kejauhan terlihat beberapa pos jaga sederhana, lapak perdagangan kecil, bahkan orang-orang yang lalu lalang membawa barang.Tidak sulit menebak penyebabnya yaitu pasar milik Joni.Sejak pasar itu berkembang, kelompok-kelompok kecil mulai berkumpul di sekitarnya untuk mencari keamanan dan akses perdagangan. Akibatnya,
Charles menatap medan perang di luar tembok menatap Rey, menatap para awakener yang baru saja berubah, menatap Zombie King yang masih berdiri diam di belakang semuanya.Untuk sesaat, ia tidak bergerak. Tidak berbicara dan hanya memperhatikan lalu ia mengambil keputusan. Keputusan yang paling tidak ingin ia ambil.BOOM!Charles melompat dan tubuh gorilanya mendarat di atas menara penjagaan tertinggi di dekat tembok. Struktur baja itu bergetar keras di bawah berat tubuhnya.Semua orang langsung menoleh. Prajurit, warga sipil, PPetugas logistik bahkan Nada yang masih berada di atas tembok.Charles menarik napas lalu mengaum sekeras mungkin."SEMUA ORANG DENGERIN GUE!"Suaranya menggema ke seluruh markas sehingga menenggelamkan suara tembakan, menenggelamkan suara zombie dan menenggelamkan semuanya."LARI!"Semua orang membeku."TINGGALKAN MARKAS INI!"Beberapa prajurit membelalakkan mata."SEKARANG!"Charles menunjuk ke arah timur."EVAKUASI TOTAL!""BAWA SEMUA YANG BISA DIBAWA!""TINGG
BOOOM!Rey menghantam seorang Tanker tepat di bagian dada.Tubuh mutan raksasa itu terangkat dari tanah sebelum terlempar menghantam gerombolan zombie di belakangnya.Puluhan zombie langsung hancur tertimpa tubuh Tanker tersebut."Hahaha!" Rey tertawa keras. Tubuhnya yang telah bermutasi bergerak tanpa sedikit pun tanda kelelahan.Setiap pukulannya menghancurkan apa pun yang berada di jalurnya.Di sisi lain, salah satu awakener mutan menerjang ke tengah kerumunan, lengannya yang berubah menjadi bilah tulang berputar liar.Dalam hitungan detik, belasan zombie terpotong menjadi beberapa bagian, darah dan potongan tubuh berhamburan ke segala arah.Mutan lain yang tubuhnya membesar seperti Tanker justru menggunakan tubuhnya sebagai pendobrak.BRAK!Ia menerjang langsung ke barisan zombie dan puluhan makhluk itu terlempar seperti boneka. Gerombolan yang tadinya tampak tidak berujung mulai menunjukkan celah.Namun jumlah mereka tetap mengerikan. Ribuan zombie masih memenuhi medan di depan t
Dengan kemunculan Rey, situasi di dalam markas perlahan mulai berubah. Bukan menjadi aman tapi setidaknya tidak lagi berada di ambang kehancuran.Brak!Rey menghantam seorang Screamer hingga tubuhnya terpelanting menembus dinding gudang lalu ia berbalik dan menangkap Speedster yang mencoba menerjang dari samping.Krak!Leher mutan itu dipatahkan begitu saja.Di sekitar area itu, para prajurit mulai bisa bernapas sedikit lebih lega.Charles yang sebelumnya harus berlari dari satu titik ke titik lain kini akhirnya mampu memusatkan pasukannya kembali.Formasi mulai dibentuk, garis pertahanan darurat mulai berdiri dan jumlah zombie yang berhasil masuk mulai berkurang."Hahaha!"Rey masih tertawa sambil menghancurkan zombie berikutnya."Lihat?! Aku bilang aku benar!"Charles mendengus kesal kalau bukan karena situasi saat ini, ia sudah menyuruh orang menembak Rey dari tadi lalu Rey tiba-tiba menoleh ke arah salah satu kelompok awakener miliknya yang sedang membantu membersihkan zombie.Mat
Setelah suasana mulai tenang, Joni akhirnya sibuk menjelaskan ke semua orang bahwa dirinya tidak gay dan semua itu hanya salah paham konyol dari omongan Deri.Walaupun begitu, beberapa orang masih terlihat memandangnya dengan tatapan aneh.Terutama Pak Bram.Pria itu bahkan beberapa kali menghela n
Wanita itu hanya diam beberapa detik, menatap Joni. Lalu matanya melirik ke samping, ke arah kakaknya yang napasnya sudah tersengal-sengal.“Bang… tolong. Bantuin kakak gue dulu.”Tangannya terangkat sedikit, menunjuk ke arah pria itu. Joni tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap dingin.“Eh sial
Tengah malam, Joni terbangun.Perutnya masih hangat karena makanan tadi, tapi telinganya menangkap sesuatu.Suara dari luar, Dia langsung membuka mata penuh. Refleks.Tangannya meraih senjata di sampingnya, lalu dia bangkit pelan dan berjalan mendekati jendela yang pecah.Di luar gelap, tapi cahaya
Darian masuk ke dalam mobil dengan santai, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam, lalu berkata tanpa melihat siapa pun secara spesifik,“Perhatiin perimeter. Fokus ke depan.”Beberapa orang hanya melirik sebentar, lalu kembali mengawasi jalan cuku







