مشاركة

5. Wilayah Gue

مؤلف: SleepyFace
last update تاريخ النشر: 2026-05-13 16:56:41

Tengah malam, Joni terbangun.

Perutnya masih hangat karena makanan tadi, tapi telinganya menangkap sesuatu.

Suara dari luar, Dia langsung membuka mata penuh. Refleks.

Tangannya meraih senjata di sampingnya, lalu dia bangkit pelan dan berjalan mendekati jendela yang pecah.

Di luar gelap, tapi cahaya bulan cukup untuk melihat. Beberapa bayangan bergerak. Joni menyipitkan mata, cuma dua lalu senyum tipis muncul.

“Pas…”

Dia mundur pelan, kembali ke tasnya. Semua barang dia cek cepat—rapi, siap. Satu tas dia panggul di depan, satu lagi di belakang.

Berat tapi tidak masalah baginya.

Joni kembali ke depan, mengendap mendekati pintu dan dia buka sedikit.

Mengangkat senjata lalu bidik.

Dor.

Zombie pertama terlempar ke belakang. Yang satu lagi langsung menoleh, menggeram dan mulai bergerak ke arahnya.

Joni tidak panik, dia sudah siap.

Dor.

Zombie kedua jatuh.

Sunyi.

Joni tidak langsung bergerak. Dia diam beberapa detik, mendengarkan.

Tidak ada geraman lain. Tidak ada langkah tambahan. Aman, baru dia keluar.

Langkahnya tetap hati-hati, matanya terus menyapu kiri kanan.

Sepi.

Dia langsung menuju mobil off-road yang tadi meledak. Sekarang tinggal rangka hitam, hangus.

Joni berdiri di depannya.

“...ayo bisa.”

Tangannya menyentuh badan mobil.

Fokus kemudian cahaya muncul dan mobil itu perlahan diselimuti sinar samar.

Joni refleks menyeringai.

“Yes—”

Dia langsung menutup mulutnya sendiri. Cahaya itu hilang dan mobil di depannya berubah.

Permukaannya kembali utuh, catnya mengilap, kaca bersih, ban sempurna.

Seperti baru keluar dari pabrik. Joni menatapnya beberapa detik lalu tertawa pelan.

“Anjing… keren banget.”

Tanpa buang waktu, dia membuka pintu dan memasukkan kedua tasnya ke dalam. Setelah itu, dia berkeliling sebentar, memunguti selongsong peluru yang berserakan di jalan.

Satu per satu masuk ke kantong. Tidak ada yang disia-siakan.

Setelah cukup, dia masuk ke kursi pengemudi. Memutar kunci dan mesin langsung menyala halus.

Joni melirik indikator.

“...anjing, bensin penuh.”

Dia tertawa kecil.

“Gila…”

Tangannya menggenggam setir. Mobil mulai bergerak pelan, lalu semakin cepat meninggalkan area itu.

Joni menatap jalan di depannya dengan matanya yang tajam.

“Gue tau… harus ke mana.”

Mobil melaju keluar dari area kota.

Jakarta sudah hancur. Sepanjang jalan, bangunan rusak, kendaraan terbengkalai, dan zombie berkeliaran tanpa arah.

Joni tidak melambat. Siapa pun yang menghalangi—dilindas.

Brak.

Satu tubuh terpental dari depan mobil. Joni tertawa.

“Woy—minggir!”

Mobilnya bukan tanpa kerusakan. Kaca sempat retak, bemper sempat copot, kap sempat penyok.

Tapi dia tidak peduli karena semua itu bisa diperbaiki. Mobil terus melaju ke arah timur.

Jakarta Timur. Kawasan industri Pulogadung.

Jalanan mulai lebih lebar. Di kanan kiri, deretan pabrik berdiri diam, besar dan kosong. Beberapa masih utuh, beberapa sudah rusak.

Zombie masih ada dan masih banyak berseliweran di jalan.

Joni menyeringai.

“...nah.”

BRAK!

Satu lagi ditabrak.

“Ini tempat gue.”

Matanya menyapu area itu dengan cepat.

“Di sini… gue bangun wilayah gue.”

Mobil terus melaju, menyusuri jalan besar itu. Dia tidak terburu-buru sekarang lebih seperti memilih dan menilai.

Beberapa menit berlalu lalu Joni melihat sesuatu. Sebuah area warehouse besar yang agak terpisah.

Bangunannya tidak terlalu rusak dan aksesnya jelas lalu senyumnya muncul.

“...ini.”

Dia langsung membelokkan mobil masuk ke area itu. Beberapa zombie masih berkeliaran di sekitar.

Joni langsung berhenti, buka pintu, turun.

Dor.

Satu jatuh.

Dor.

Yang lain menyusul. Tidak pakai lama semua yang terlihat—habis.

Setelah itu, dia berjalan ke gerbang utama. Dengan cepat, dia menarik dan menutupnya, mengganjal sebisanya agar tidak mudah dibuka dari luar.

Aman untuk sementara.

Joni kembali ke tengah area parkiran, berdiri diam sambil melihat sekeliling.

Gudang besar di depannya. Di kejauhan bangunan lain dan dia mengenali beberapa.

Pabrik air, pabrik makanan, pabrik obat. Senyumnya perlahan melebar.

“Anjing… ini pas banget.”

Dia berjalan kembali ke mobil, mengambil tasnya, lalu memanggulnya. Langkahnya mantap saat menuju gudang.

“Sekarang belum…”

Suaranya rendah.

“Tapi nanti—”

Dia berhenti di depan pintu gudang dan menatap ke dalam.

“Semua ini… punya gue.”

Beberapa jam berlalu.

Matahari sudah tinggi ketika Joni berdiri di tengah gudang, melihat hasil kerjanya.

Tempat itu sudah berubah. Tidak rapi sempurna, tapi jelas terstruktur.

Area perlengkapan di satu sisi. Area tidur di sudut yang lebih tertutup. Satu ruang dia jadikan titik aman—lapisannya lebih tebal, aksesnya sempit, mudah dijaga.

Semua celah yang dia temukan sudah ditutup sebisanya. Dia tidak ambil risiko.

Di luar itu, “sampah” yang dia kumpulkan sudah dipisah. Tumpukan bahan mentah di satu gudang, barang jadi di gudang lain.

Sekarang bukan sekadar bertahan. Ini sudah mulai jadi awal kehidupan barunya.

Joni sudah makan, mandi seadanya, dan sempat tidur sebentar.

Hal-hal kecil yang dulu biasa sekarang terasa mahal.

Dia duduk di depan meja, beberapa senjata terbongkar di hadapannya. Bagian-bagian kecil berserakan, sebagian sudah jelas rusak.

Joni mengangkat satu komponen, memutarnya di tangan.

“Anjing… ini apaan sih.”

Dia menyipitkan mata.

“Gue ga ngerti beginian.”

Dia lempar pelan ke meja.

“Buat apaan anjir.”

Tatapannya bergeser ke samping. Ke senjata yang masih bisa dipakai cuma sedikit.

Tiga senapan, dua pistol dan sisanya rongsokan. Dia mendengus lalu melirik ke meja lain peluru tersusun rapi dan banyak.

“Peluru aman sih…”

Dia bersandar.

“Tapi masa gue nimpuk pake peluru doang.”

Tangannya naik, menggaruk kepala.

“Gue butuh orang…”

Dia diam sebentar berpikir.

“...tapi di mana?”

Wajahnya sedikit mengeras.

“Bisa gue percaya nggak?”

Beberapa detik lalu dia menghela napas kasar dan berdiri.

“Ah, udah lah. Ntar aja.”

Dia pindah ke meja lain.

Meja besar dengan kertas-kertas yang sudah dia susun. Di atasnya, coretan denah area sekitar—kasar, tapi cukup jelas.

Joni menunjuk satu titik.

“Gue di sini.”

Jarinya geser.

“Ini pabrik makanan… tapi gue masih ada stok.”

Geser lagi.

“Ini pabrik air… gue juga ada.”

Dia berhenti dan keningnya berkerut.

“Bentar…”

Matanya menyipit.

“Kalau gitu… gue butuh galon.”

Dia menoleh ke belakang, menghitung cepat.

“Gue cuma punya empat doang.”

Dia kembali ke peta dan beberapa detik diam lalu senyum muncul di wajahnya.

“...sip.”

Jarinya mengetuk satu titik.

“Gue ambil dari sini.”

Joni berdiri di tengah gudang, mengecek perlengkapannya sekali lagi.

Dua senapan dia selempangkan dan satu pistol di pinggang.

Amunisi masuk ke tas kecil yang dia temukan sebelumnya—ringan, tapi cukup.

Dia tidak bawa berlebihan yang penting, efisien.

“Cukup…”

Joni melangkah keluar, lalu menutup pintu gudang besar itu. Pengunci dia pastikan terpasang, ditambah ganjalan seadanya.

Aman untuk sementara dan dia berjalan ke arah mobilnya.

Kondisinya masih sama—rusak, penyok, bekas perjalanan brutal sebelumnya tapi Joni malah tersenyum.

“Tenang aja…”

Dia membuka pintu, masuk ke dalam. Sebelum langsung menyalakan mesin, tangannya menyentuh dashboard.

Fokus.

Cahaya muncul, menyelimuti seluruh badan mobil. Pelan lalu menghilang.

Mobil itu kembali utuh. Bersih. Mulus. Seperti baru keluar dari pabrik.

Joni terkekeh.

“Hehehe… mantap.”

Dia langsung memutar kunci. Mesin menyala halus dan tanpa ragu, dia menginjak gas.

Mobil keluar dari area warehouse, meninggalkan base pertamanya.

Menuju target berikutnya pabrik air mineral.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   102. Kesimpulan Sindy

    Malam itu suasana ruang makan utama cukup ramai.Di salah satu meja besar, Joni sedang makan bersama orang-orang inti kelompoknya. Pak Bram, Putri, Sindy, Deri, Mila, Pak Anton, dan Pak Kusno duduk mengelilingi meja yang penuh dengan berbagai hidangan.Tidak jauh dari sana, tim elit yang baru dibentuk juga sedang makan bersama. Suasana mereka jauh berbeda dibanding beberapa hari lalu. Obrolan terdengar lebih cair, tawa mulai muncul sesekali, dan tidak ada lagi kecanggungan seperti saat pertama direkrut.Pak Bram sempat melirik ke arah mereka lalu tersenyum kecil."Jauh beda dibanding hari pertama."Putri mengangguk."Dulu masih saling jaga jarak.""Kalau sekarang?" tanya Deri sambil menyendok makanannya.Pak Bram tertawa kecil."Sekarang mulai kayak tim."Joni ikut melirik ke arah meja para awakener dan anggota elit itu.Beberapa sedang bercanda dan beberapa lainnya membahas latihan hari ini. Bahkan ada yang sudah saling mengejek dengan santai.Joni mengangguk puas."Nah, gitu lebih e

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   101. Pengungsi Di Pasar

    Mobil yang membawa Charles dan Nada perlahan mendekati kawasan pasar. Namun semakin dekat mereka ke tujuan, laju kendaraan justru semakin melambat hingga akhirnya hampir berhenti total.Di depan, jalan dipenuhi lapak dan orang-orang yang masih beraktivitas meski hari sudah malam. Beberapa gerobak bahkan memakan sebagian badan jalan.Charles mengerutkan kening."Ada apa?""Jalannya penuh, Jenderal."Charles menatap ke depan lalu berkata singkat,"Klakson."Pengemudi langsung membunyikan klakson beberapa kali.TIN! TIN!Beberapa orang menoleh lalu kembali ke urusan masing-masing namun tidak ada yang menyingkir dan Charles mulai tidak senang."Klakson lagi."TIN! TIN!Kali ini seorang pedagang yang sedang duduk santai di depan lapaknya berdiri lalu berteriak ke arah mereka."MAU LEWAT KE MANA LU WOI!!!"Charles membuka jendela."Kasih jalan."Pedagang itu justru terlihat heran."Lah, parkir sana."Charles mengerutkan kening."Kami mau masuk."Pedagang itu menunjuk ke belakang."Ya parkir

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   100. Pengungsi Berseragam

    Menjelang sore, iring-iringan kendaraan militer akhirnya tiba di kawasan kompleks industri. Begitu memasuki area tersebut, Charles langsung menyadari satu masalah baru.Tempat itu jauh lebih ramai daripada yang ia perkirakan.Jalanan yang dulu sepi kini dipenuhi berbagai kendaraan. Truk, mobil pickup, hingga kendaraan rakitan terlihat terparkir di banyak tempat. Beberapa bangunan pabrik yang masih layak pakai bahkan sudah ditempati kelompok-kelompok survivor lain.Charles memperhatikan keadaan itu dari dalam mobil komando sambil mengerutkan kening."Apa seramai ini sebelumnya?"Nada yang duduk di sampingnya menggeleng."Enggak."Charles kembali melihat ke luar jendela.Di kejauhan terlihat beberapa pos jaga sederhana, lapak perdagangan kecil, bahkan orang-orang yang lalu lalang membawa barang.Tidak sulit menebak penyebabnya yaitu pasar milik Joni.Sejak pasar itu berkembang, kelompok-kelompok kecil mulai berkumpul di sekitarnya untuk mencari keamanan dan akses perdagangan. Akibatnya,

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   99. Evakuasi Total

    Charles menatap medan perang di luar tembok menatap Rey, menatap para awakener yang baru saja berubah, menatap Zombie King yang masih berdiri diam di belakang semuanya.Untuk sesaat, ia tidak bergerak. Tidak berbicara dan hanya memperhatikan lalu ia mengambil keputusan. Keputusan yang paling tidak ingin ia ambil.BOOM!Charles melompat dan tubuh gorilanya mendarat di atas menara penjagaan tertinggi di dekat tembok. Struktur baja itu bergetar keras di bawah berat tubuhnya.Semua orang langsung menoleh. Prajurit, warga sipil, PPetugas logistik bahkan Nada yang masih berada di atas tembok.Charles menarik napas lalu mengaum sekeras mungkin."SEMUA ORANG DENGERIN GUE!"Suaranya menggema ke seluruh markas sehingga menenggelamkan suara tembakan, menenggelamkan suara zombie dan menenggelamkan semuanya."LARI!"Semua orang membeku."TINGGALKAN MARKAS INI!"Beberapa prajurit membelalakkan mata."SEKARANG!"Charles menunjuk ke arah timur."EVAKUASI TOTAL!""BAWA SEMUA YANG BISA DIBAWA!""TINGG

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   98. Pemburu Jadi Buruan

    BOOOM!Rey menghantam seorang Tanker tepat di bagian dada.Tubuh mutan raksasa itu terangkat dari tanah sebelum terlempar menghantam gerombolan zombie di belakangnya.Puluhan zombie langsung hancur tertimpa tubuh Tanker tersebut."Hahaha!" Rey tertawa keras. Tubuhnya yang telah bermutasi bergerak tanpa sedikit pun tanda kelelahan.Setiap pukulannya menghancurkan apa pun yang berada di jalurnya.Di sisi lain, salah satu awakener mutan menerjang ke tengah kerumunan, lengannya yang berubah menjadi bilah tulang berputar liar.Dalam hitungan detik, belasan zombie terpotong menjadi beberapa bagian, darah dan potongan tubuh berhamburan ke segala arah.Mutan lain yang tubuhnya membesar seperti Tanker justru menggunakan tubuhnya sebagai pendobrak.BRAK!Ia menerjang langsung ke barisan zombie dan puluhan makhluk itu terlempar seperti boneka. Gerombolan yang tadinya tampak tidak berujung mulai menunjukkan celah.Namun jumlah mereka tetap mengerikan. Ribuan zombie masih memenuhi medan di depan t

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   97. Sebelas Mutan

    Dengan kemunculan Rey, situasi di dalam markas perlahan mulai berubah. Bukan menjadi aman tapi setidaknya tidak lagi berada di ambang kehancuran.Brak!Rey menghantam seorang Screamer hingga tubuhnya terpelanting menembus dinding gudang lalu ia berbalik dan menangkap Speedster yang mencoba menerjang dari samping.Krak!Leher mutan itu dipatahkan begitu saja.Di sekitar area itu, para prajurit mulai bisa bernapas sedikit lebih lega.Charles yang sebelumnya harus berlari dari satu titik ke titik lain kini akhirnya mampu memusatkan pasukannya kembali.Formasi mulai dibentuk, garis pertahanan darurat mulai berdiri dan jumlah zombie yang berhasil masuk mulai berkurang."Hahaha!"Rey masih tertawa sambil menghancurkan zombie berikutnya."Lihat?! Aku bilang aku benar!"Charles mendengus kesal kalau bukan karena situasi saat ini, ia sudah menyuruh orang menembak Rey dari tadi lalu Rey tiba-tiba menoleh ke arah salah satu kelompok awakener miliknya yang sedang membantu membersihkan zombie.Mat

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   7. Makanan Mewah

    Wanita itu hanya diam beberapa detik, menatap Joni. Lalu matanya melirik ke samping, ke arah kakaknya yang napasnya sudah tersengal-sengal.“Bang… tolong. Bantuin kakak gue dulu.”Tangannya terangkat sedikit, menunjuk ke arah pria itu. Joni tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap dingin.“Eh sial

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   6. Cewek Gila

    Joni memarkir mobilnya tidak jauh dari area pabrik air, lalu mematikan mesin dan turun perlahan. Begitu kakinya menyentuh tanah, dia langsung merasakan sesuatu yang aneh. Terlalu sepi. Tidak ada geraman, tidak ada suara langkah menyeret seperti biasanya.“...di sini ga ada zombi?”Tangannya refleks

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   4. Mampus Kalian Semua

    Darian masuk ke dalam mobil dengan santai, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam, lalu berkata tanpa melihat siapa pun secara spesifik,“Perhatiin perimeter. Fokus ke depan.”Beberapa orang hanya melirik sebentar, lalu kembali mengawasi jalan cuku

  • Raja Logistik di Dunia Zombie   3. Giliran Gue

    Satu hari berlalu.Joni duduk di lantai supermarket, bersandar dengan santai. Di belakangnya, barang-barang numpuk—mie instan, air kemasan, makanan kaleng, obat-obatan. Berantakan, tapi banyak.Di tangan kanannya, dia pegang botol air mineral yang udah rusak setengah. Plastik penyok, bagian bawahny

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status