MasukDarian masuk ke dalam mobil dengan santai, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam, lalu berkata tanpa melihat siapa pun secara spesifik,
“Perhatiin perimeter. Fokus ke depan.” Beberapa orang hanya melirik sebentar, lalu kembali mengawasi jalan cukup lengah. Joni menyipitkan mata. “Sekarang…” Dia membuka sedikit pintu toko, cukup untuk celah kecil. Tangannya bergerak cepat—dua tabung gas dia gelindingkan ke luar. Klang… klang… klang… Tabung itu menggelinding mulus di aspal, pelan tapi pasti menuju mobil off-road. Beberapa orang langsung sadar. “Eh—itu ap—” Mereka menoleh dan melihat Joni berdiri di balik pintu sambil tersenyum. Tabung itu berhenti tepat di bawah mobil. Belum sempat siapa pun bereaksi, Joni mengangkat flare gun. Menembak. Tushhh—! Cahaya merah melesat lurus. Mengenai tabung itu dan dalam sepersekian detik hening, lalu— DUAAR! Ledakan pertama menghantam keras lalu disusul— DUAARRR!! Ledakan kedua jauh lebih besar, tangki bensin mobil ikut tersulut. Api meledak keluar, menghantam sekeliling. Orang-orang di dekatnya terpental. Panas dan tekanan menyapu area itu dan pintu toko bergetar keras. Joni sendiri terlempar ke belakang, tubuhnya menghantam lantai dalam toko. Pendengarannya berdengung, pandangan bergetar. Di luar teriakan pecah. Teriakan panik dan rintihan bersautan. Api membakar mobil, asap hitam membumbung tinggi. Beberapa orang merangkak, beberapa tidak bergerak sama sekali. Kelompok yang tersisa langsung kacau. “Masuk! Masuk!!” “Cepat!!” Mereka tidak peduli lagi dengan barang. Tidak peduli apa pun. Satu per satu langsung naik ke mobil van, pintu dibanting, dan dalam hitungan detik kendaraan itu melaju menjauh dari tempat itu. Meninggalkan kekacauan dan api yang berkobar-kobar. Di dalam toko, Joni tergeletak beberapa detik, telinganya masih berdengung lalu dia batuk. Pelan-pelan, dia memaksakan diri bangkit. “...gila…” Tubuhnya masih terasa berat, tapi dia tetap berdiri. Langkahnya sedikit goyah saat berjalan ke arah pintu. Keluar dan asap langsung menyambutnya, bau terbakar dan sisa-sisa ledakan yang masih berderak pelan. Salah satu tubuh bergerak perlahan dan terseret keluar dari balik bangkai mobil yang masih terbakar. Setengah badannya sudah tidak berbentuk, darah mengalir di aspal, tapi tangannya masih berusaha menggapai sesuatu. “H… tolong…” Suaranya serak, hampir tidak terdengar. Joni berhenti dan menatap orang itu lalu orang itu mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Darian. “Jon… tolong, Jon…” Matanya gemetar, penuh harap yang menyedihkan namun Joni tidak menjawab. Dia hanya menatapnya beberapa detik. Dingin dan kosong. Lalu dia melangkah maju perlahan dan berhenti tepat di depannya. “Mampus kau, Dar.” Tanpa ragu, Joni mengayunkan kakinya. KRAAK—! Tendangan itu menghantam kepala Darian dengan keras. Lehernya patah seketika, tubuhnya terpelanting ke samping dan menghantam sisa mobil yang masih terbakar. Diam. Tidak bergerak lagi. Joni tidak melihatnya lagi dan tatapannya bergeser ke sekeliling. Beberapa tubuh lain tergeletak di jalan. Ada yang tidak bergerak, ada yang masih menggeliat lemah, darah menggenang di bawah mereka. Rintihan pelan terdengar. “Tolong…” “Jangan…” Joni berjalan santai di antara mereka. Dia membungkuk sebentar, mengambil senjata yang terlempar di dekat salah satu tubuh. Dia cek sekilas. Masih bisa dipakai lalu dia mengangkatnya. Satu langkah. Satu target. Dor. Kepala pertama pecah dan dia lanjut menembak. Dor. Yang kedua tewas. Tidak ada ekspresi di wajah Joni. Tidak ada ragu hanya gerakan yang bersih dan pasti. Setiap suara tembakan memotong rintihan yang tersisa, satu per satu… sampai tidak ada lagi yang bersuara. Sunyi. Joni berdiri di tengah jalan, pistol masih di tangannya. Asap hitam membumbung di belakangnya, panas dari api masih terasa di kulit. Dia diam beberapa detik dan napasnya perlahan turun lalu sudut bibirnya terangkat tipis. “...akhirnya.” Matanya menatap tubuh Darian yang sudah tidak bergerak. Semua tendangan, semua hinaan dan semua ludah yang pernah dia terima sudah terbayar. Belum semuanya. Tapi ini… awal. Joni mengangkat pistolnya sedikit, lalu menurunkannya lagi. “Baru mulai…” Suaranya rendah dingin. “Broto…” Tatapannya menajam. “Tunggu aja, gue bikin mampus lo.” Dia menghela napas pendek, lalu menatap sekeliling—ke arah mayat-mayat yang berserakan. Senyumnya masih ada. Lebih jelas sekarang. “Mampus kalian semua.” Ledakan itu tidak berhenti di situ. Beberapa detik setelah api membesar, suara lain mulai muncul dari ujung jalan. Geraman banyak. Joni langsung menoleh. Di kejauhan, bayangan bergerak memenuhi jalan. “...anjir.” Jumlahnya jauh lebih banyak dari sebelumnya. Tanpa buang waktu, Joni langsung bergerak. Dia menyambar senjata yang berserakan di sekitar—pistol, senapan, apa pun yang masih bisa diambil—lalu berlari kembali ke dalam supermarket. Begitu masuk, dia langsung menarik dan menambah barikade. Rak didorong, barang ditumpuk, celah ditutup seadanya. Lebih tebal dan lebih kuat. Beberapa detik kemudian— Grrr… GAAAH— Horde itu sampai. Joni mengintip dari balik jendela yang pecah. Zombie-zombie itu langsung mengerubungi tubuh-tubuh di luar. Mereka tidak peduli apa pun selain daging. Suara sobekan dan kunyahan memenuhi udara. Joni meringis tipis. “Untung gue tembak kepalanya…” Dia menyandarkan diri sebentar. “Kalau nggak… nambah lagi tuh.” Matanya lalu beralih ke senjata yang dia bawa masuk. Dia ambil salah satu senapan. “...ini termasuk barang pabrik nggak ya?” Dia fokus. Diam namun tidak ada reaksi, tidak ada cahaya. Senapan itu tetap sama—kotor, rusak, seadanya. Joni mendecak. “Sialan… tahu gitu nggak gue ledakin tadi.” Dia memutar senapan itu, wajahnya sedikit kesal. “Ini masih bisa dipake apa nggak sih…” Dia menurunkannya, lalu matanya menangkap sesuatu di lantai. Selongsong peluru. Dia ambil satu dan menatapnya. “Kalau ini…” Dia fokus lagi dan cahaya itu sekarang muncul. Dalam sekejap, selongsong kosong itu berubah—kembali jadi peluru utuh, siap pakai. Joni terdiam sepersekian detik lalu senyumnya muncul. “Nah… gini mendingan.” Dia memutar peluru itu di jarinya. “Senjata nggak bisa… tapi peluru bisa.” Senyumnya makin lebar. “Berarti tinggal butuh selongsong kosong…” Matanya kembali ke luar. Zombie-zombie itu masih berkumpul, sibuk dengan “pesta” mereka. Di jalan, selongsong peluru berserakan cukup banyak. Joni menyipitkan mata. “...lumayan.” Dia bersandar santai. “Gue tunggu aja sampe mereka pergi.” Pandangan Joni sempat melirik ke arah mobil yang terbakar di luar. “Mobilnya juga…” Dia mendengus pelan. “Bisa nggak ya…” Tapi perutnya langsung protes. Kruuuk. Joni diam lalu menghela napas. “Yaudah… ntar aja.” Dia berbalik, berjalan ke arah tumpukan barang yang sudah dia kumpulkan. “Gue laper.” Joni duduk di dekat kompor portable, air mulai mendidih di dalam panci. Kali ini dia tidak pelit. Mie instan langsung dua bungkus. Sosis. Kornet—lebih banyak dari sebelumnya dan aromanya cepat memenuhi ruangan. Sambil menunggu, tangannya tidak diam. Dia menarik tas carrier yang masih kosong, lalu mulai mengisinya satu per satu. Botol air, makanan kaleng, obat-obatan, biskuit—apa pun yang bisa dibawa, langsung masuk. Gerakannya cepat, efisien. Tidak rapi, tapi penuh. “Yang nggak masuk… ya udah.” Dia melirik sisa tumpukan di belakang. “Gue tinggalin aja di sini.” Tas itu makin berat, tapi dia tidak peduli. Setelah cukup, dia berhenti, lalu membuka tas satunya. Sleeping bag dan matras dia keluarkan, dilempar ke samping. “Abis makan… gue tidur.” Nada suaranya santai, seolah dunia di luar tidak lagi penting untuk beberapa jam ke depan. Air di panci mulai berbuih lebih keras. Joni kembali fokus ke masakannya, mengaduk mie, mencampur semuanya tanpa ragu. Hangat. Bau makanan. Dan untuk saat ini sejak semuanya hancur, situasinya terasa terkendali.Malam itu suasana ruang makan utama cukup ramai.Di salah satu meja besar, Joni sedang makan bersama orang-orang inti kelompoknya. Pak Bram, Putri, Sindy, Deri, Mila, Pak Anton, dan Pak Kusno duduk mengelilingi meja yang penuh dengan berbagai hidangan.Tidak jauh dari sana, tim elit yang baru dibentuk juga sedang makan bersama. Suasana mereka jauh berbeda dibanding beberapa hari lalu. Obrolan terdengar lebih cair, tawa mulai muncul sesekali, dan tidak ada lagi kecanggungan seperti saat pertama direkrut.Pak Bram sempat melirik ke arah mereka lalu tersenyum kecil."Jauh beda dibanding hari pertama."Putri mengangguk."Dulu masih saling jaga jarak.""Kalau sekarang?" tanya Deri sambil menyendok makanannya.Pak Bram tertawa kecil."Sekarang mulai kayak tim."Joni ikut melirik ke arah meja para awakener dan anggota elit itu.Beberapa sedang bercanda dan beberapa lainnya membahas latihan hari ini. Bahkan ada yang sudah saling mengejek dengan santai.Joni mengangguk puas."Nah, gitu lebih e
Mobil yang membawa Charles dan Nada perlahan mendekati kawasan pasar. Namun semakin dekat mereka ke tujuan, laju kendaraan justru semakin melambat hingga akhirnya hampir berhenti total.Di depan, jalan dipenuhi lapak dan orang-orang yang masih beraktivitas meski hari sudah malam. Beberapa gerobak bahkan memakan sebagian badan jalan.Charles mengerutkan kening."Ada apa?""Jalannya penuh, Jenderal."Charles menatap ke depan lalu berkata singkat,"Klakson."Pengemudi langsung membunyikan klakson beberapa kali.TIN! TIN!Beberapa orang menoleh lalu kembali ke urusan masing-masing namun tidak ada yang menyingkir dan Charles mulai tidak senang."Klakson lagi."TIN! TIN!Kali ini seorang pedagang yang sedang duduk santai di depan lapaknya berdiri lalu berteriak ke arah mereka."MAU LEWAT KE MANA LU WOI!!!"Charles membuka jendela."Kasih jalan."Pedagang itu justru terlihat heran."Lah, parkir sana."Charles mengerutkan kening."Kami mau masuk."Pedagang itu menunjuk ke belakang."Ya parkir
Menjelang sore, iring-iringan kendaraan militer akhirnya tiba di kawasan kompleks industri. Begitu memasuki area tersebut, Charles langsung menyadari satu masalah baru.Tempat itu jauh lebih ramai daripada yang ia perkirakan.Jalanan yang dulu sepi kini dipenuhi berbagai kendaraan. Truk, mobil pickup, hingga kendaraan rakitan terlihat terparkir di banyak tempat. Beberapa bangunan pabrik yang masih layak pakai bahkan sudah ditempati kelompok-kelompok survivor lain.Charles memperhatikan keadaan itu dari dalam mobil komando sambil mengerutkan kening."Apa seramai ini sebelumnya?"Nada yang duduk di sampingnya menggeleng."Enggak."Charles kembali melihat ke luar jendela.Di kejauhan terlihat beberapa pos jaga sederhana, lapak perdagangan kecil, bahkan orang-orang yang lalu lalang membawa barang.Tidak sulit menebak penyebabnya yaitu pasar milik Joni.Sejak pasar itu berkembang, kelompok-kelompok kecil mulai berkumpul di sekitarnya untuk mencari keamanan dan akses perdagangan. Akibatnya,
Charles menatap medan perang di luar tembok menatap Rey, menatap para awakener yang baru saja berubah, menatap Zombie King yang masih berdiri diam di belakang semuanya.Untuk sesaat, ia tidak bergerak. Tidak berbicara dan hanya memperhatikan lalu ia mengambil keputusan. Keputusan yang paling tidak ingin ia ambil.BOOM!Charles melompat dan tubuh gorilanya mendarat di atas menara penjagaan tertinggi di dekat tembok. Struktur baja itu bergetar keras di bawah berat tubuhnya.Semua orang langsung menoleh. Prajurit, warga sipil, PPetugas logistik bahkan Nada yang masih berada di atas tembok.Charles menarik napas lalu mengaum sekeras mungkin."SEMUA ORANG DENGERIN GUE!"Suaranya menggema ke seluruh markas sehingga menenggelamkan suara tembakan, menenggelamkan suara zombie dan menenggelamkan semuanya."LARI!"Semua orang membeku."TINGGALKAN MARKAS INI!"Beberapa prajurit membelalakkan mata."SEKARANG!"Charles menunjuk ke arah timur."EVAKUASI TOTAL!""BAWA SEMUA YANG BISA DIBAWA!""TINGG
BOOOM!Rey menghantam seorang Tanker tepat di bagian dada.Tubuh mutan raksasa itu terangkat dari tanah sebelum terlempar menghantam gerombolan zombie di belakangnya.Puluhan zombie langsung hancur tertimpa tubuh Tanker tersebut."Hahaha!" Rey tertawa keras. Tubuhnya yang telah bermutasi bergerak tanpa sedikit pun tanda kelelahan.Setiap pukulannya menghancurkan apa pun yang berada di jalurnya.Di sisi lain, salah satu awakener mutan menerjang ke tengah kerumunan, lengannya yang berubah menjadi bilah tulang berputar liar.Dalam hitungan detik, belasan zombie terpotong menjadi beberapa bagian, darah dan potongan tubuh berhamburan ke segala arah.Mutan lain yang tubuhnya membesar seperti Tanker justru menggunakan tubuhnya sebagai pendobrak.BRAK!Ia menerjang langsung ke barisan zombie dan puluhan makhluk itu terlempar seperti boneka. Gerombolan yang tadinya tampak tidak berujung mulai menunjukkan celah.Namun jumlah mereka tetap mengerikan. Ribuan zombie masih memenuhi medan di depan t
Dengan kemunculan Rey, situasi di dalam markas perlahan mulai berubah. Bukan menjadi aman tapi setidaknya tidak lagi berada di ambang kehancuran.Brak!Rey menghantam seorang Screamer hingga tubuhnya terpelanting menembus dinding gudang lalu ia berbalik dan menangkap Speedster yang mencoba menerjang dari samping.Krak!Leher mutan itu dipatahkan begitu saja.Di sekitar area itu, para prajurit mulai bisa bernapas sedikit lebih lega.Charles yang sebelumnya harus berlari dari satu titik ke titik lain kini akhirnya mampu memusatkan pasukannya kembali.Formasi mulai dibentuk, garis pertahanan darurat mulai berdiri dan jumlah zombie yang berhasil masuk mulai berkurang."Hahaha!"Rey masih tertawa sambil menghancurkan zombie berikutnya."Lihat?! Aku bilang aku benar!"Charles mendengus kesal kalau bukan karena situasi saat ini, ia sudah menyuruh orang menembak Rey dari tadi lalu Rey tiba-tiba menoleh ke arah salah satu kelompok awakener miliknya yang sedang membantu membersihkan zombie.Mat
Wanita itu hanya diam beberapa detik, menatap Joni. Lalu matanya melirik ke samping, ke arah kakaknya yang napasnya sudah tersengal-sengal.“Bang… tolong. Bantuin kakak gue dulu.”Tangannya terangkat sedikit, menunjuk ke arah pria itu. Joni tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap dingin.“Eh sial
Joni memarkir mobilnya tidak jauh dari area pabrik air, lalu mematikan mesin dan turun perlahan. Begitu kakinya menyentuh tanah, dia langsung merasakan sesuatu yang aneh. Terlalu sepi. Tidak ada geraman, tidak ada suara langkah menyeret seperti biasanya.“...di sini ga ada zombi?”Tangannya refleks
Tengah malam, Joni terbangun.Perutnya masih hangat karena makanan tadi, tapi telinganya menangkap sesuatu.Suara dari luar, Dia langsung membuka mata penuh. Refleks.Tangannya meraih senjata di sampingnya, lalu dia bangkit pelan dan berjalan mendekati jendela yang pecah.Di luar gelap, tapi cahaya
Satu hari berlalu.Joni duduk di lantai supermarket, bersandar dengan santai. Di belakangnya, barang-barang numpuk—mie instan, air kemasan, makanan kaleng, obat-obatan. Berantakan, tapi banyak.Di tangan kanannya, dia pegang botol air mineral yang udah rusak setengah. Plastik penyok, bagian bawahny







