Mag-log inWanita itu hanya diam beberapa detik, menatap Joni. Lalu matanya melirik ke samping, ke arah kakaknya yang napasnya sudah tersengal-sengal.
“Bang… tolong. Bantuin kakak gue dulu.” Tangannya terangkat sedikit, menunjuk ke arah pria itu. Joni tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap dingin. “Eh sialan… tadi gue bantuin lu, lu malah nembak gue.” Nada suaranya naik sedikit. “Sekarang minta tolong?” Wanita itu menggigit bibir. “Tapi bang—” “Udah. Bacot.” Joni memotong, senapannya maju sedikit. Jaraknya makin dekat ke kepala wanita itu. “Lu aja belum bilang makasih.” Wanita itu terdiam. Bahunya mulai gemetar. Matanya berkaca-kaca. “Bang… tolong…” Suaranya pecah. “Bantuin kakak gue… abis itu terserah lu mau apa… gue turutin…” Joni melirik ke arah pria itu. Wajahnya pucat, napasnya pendek-pendek, darah masih keluar dari lengannya. Beberapa detik hening lalu Joni mendengus pelan. “Oke.” Dia mengangkat dagu sedikit. “Tangan lu mana.” Wanita itu menurut, mengulurkan tangannya. Begitu dekat, Joni langsung menangkap pergelangannya, memutar kasar dan mengikatnya dengan tali yang dia ambil dari dalam mobil. “Ah—!” Wanita itu meringis, sedikit meronta. “Diem.” Joni tidak peduli. Ikatannya dikencangkan. “Pindah ke belakang.” Wanita itu menurut, walau dengan susah payah. Dia bergeser ke kursi belakang. Joni masuk ke kursi pengemudi, menyalakan mobil tanpa ragu. Mesin hidup dan mobil langsung bergerak. “Mau ke mana…?” Wanita itu bertanya pelan. “Gue ambil galon dulu sebentar.” Mobil melaju kembali ke gedung produksi. Begitu sampai, Joni langsung turun. Dia tidak buang waktu, langsung masuk dan mengambil galon-galon kosong yang tadi dia kumpulkan. Satu per satu dia lempar ke belakang mobil. Buk. Buk. Brak. “Aduh—! Woi bang—!” “Ahh—!” Suara galon menghantam bercampur dengan teriakan wanita itu. Joni tidak peduli. Dia terus melempar sampai cukup. Setelah itu, dia menutup pintu dengan santai. Senyum miring muncul di wajahnya. “Mampus lu.” Dia menoleh ke belakang sekilas. “Masih mending itu galon kosong… bukan peluru kayak yang lu tembak ke gue.” Joni langsung tancap gas. Mobil melesat keluar dari area pabrik tanpa ragu. Dia tidak peduli lagi dengan sekitar, fokusnya cuma satu—balik ke base. Wanita itu di belakang hanya diam, sesekali menahan suara saat mobil menghantam jalanan rusak. Kakaknya di sampingnya makin lemas, napasnya makin berat. Beberapa menit kemudian, mobil masuk ke area warehouse. Joni langsung berhenti. “Turun.” Wanita itu buru-buru turun, lalu mencoba membantu kakaknya. “Cepet.” Nada Joni tajam. Wanita itu tidak berani bantah. Dengan susah payah dia memapah kakaknya keluar dari mobil. Tubuh pria itu hampir tidak kuat berdiri, lebih banyak diseret daripada berjalan. “Jangan lelet.” “Iya… iya…” Mereka masuk ke dalam gudang. Begitu sampai, Joni langsung menunjuk ke sudut. “Lu duduk di situ. Jangan gerak.” Wanita itu menurut, duduk di pojokan dengan tangan masih terikat di belakang. “Bang—” “Diem.” Joni memotong tanpa lihat. Dia langsung membawa pria itu ke meja besar, lalu merebahkannya di atas sana. “Kalau lu mau dia hidup, jangan ganggu gue.” Wanita itu langsung diam. Joni bergerak cepat. Dia mengambil kotak obat-obatan, membukanya, lalu mulai mengeluarkan alat-alat yang dia butuhkan—tang kecil, jarum jahit, benang, alkohol. Tangannya tidak ragu. Dia membuka luka di lengan pria itu, membersihkan darah yang mengering, lalu mulai bekerja. Pria itu mengerang pelan. “Tahan.” Suara Joni datar. Tang masuk perlahan. Mencari. Beberapa detik yang terasa lama lalu peluru itu berhasil ditarik keluar. Joni langsung membuangnya ke samping, lalu menuangkan cairan untuk membersihkan luka. Pria itu menggertakkan gigi, menahan sakit. “Jangan gerak.” Joni mengambil jarum dan benang, lalu mulai menjahit luka itu dengan gerakan cepat dan efisien. Tidak rapi seperti dokter, tapi cukup untuk menutup. Di pojok ruangan, wanita itu hanya bisa diam. Matanya tidak lepas dari Joni meskipun tangannya masih terikat. Dia tidak berkata apa-apa. Hanya melihat orang yang tadi dia tembak sekarang sedang menyelamatkan kakaknya. Setelah selesai, Joni menarik napas panjang dan mundur selangkah dari meja. Tangannya masih berlumur darah, tapi pekerjaannya sudah selesai. “Gue udah bantu sebisa gue.” Suaranya datar, tanpa emosi. “Dia mati apa idup… bukan tanggung jawab gue lagi.” Wanita itu mengangguk pelan. Air matanya akhirnya jatuh, satu per satu, tanpa suara. “Makasih…” Joni melirik sekilas, lalu mengangkat dagu ke arah kursi. “Lu bangun. Duduk sini.” Wanita itu menurut, bergerak mendekat ke meja. “Tungguin abang lu. Jangan ke mana-mana.” “Iya…” Joni tidak menanggapi lagi. Dia langsung berbalik dan keluar dari gudang. Dia bolak-balik dari mobil ke dalam, memindahkan galon satu per satu. Langkahnya cepat, tidak mau buang waktu. Sesekali dia melirik ke dalam—wanita itu masih di tempatnya, duduk di samping kakaknya, bahunya naik turun menahan tangis, sesekali mengusap air mata dengan bahu karena tangannya masih terikat. Joni tidak peduli. Setelah semua galon masuk, dia berhenti sejenak dan menghitung. “...mantap.” Senyumnya muncul. “Dapet dua belas galon sekali jalan.” Dia mengangguk puas, lalu berbalik lagi, memastikan sekali lagi ke dalam gudang. Wanita itu masih di sana, tidak bergerak. Aman. Joni berjalan ke arah dapur kecil yang dia susun di sudut, lalu mulai menyiapkan makanan. Seperti biasa, mie lagi. Joni keluar dari dapur sambil membawa semangkuk mie panas. Isinya penuh—sosis, kornet, nugget. Uapnya naik pelan, aromanya langsung memenuhi ruangan. Di sisi lain, wanita itu masih duduk di samping kakaknya, wajahnya penuh khawatir. Tapi begitu aroma itu sampai, kepalanya refleks menoleh. Matanya langsung tertuju ke mangkuk di tangan Joni. Joni duduk tidak jauh dari sana, menaruh mangkuk di meja. “Lu siapa. Jelasin.” Wanita itu tidak langsung jawab. Tatapannya masih terpaku ke mie itu. Harumnya bikin dia berkali-kali menelan ludah tanpa sadar. Joni mengernyit, lalu setengah teriak. “Woi, jangan bengong.” Wanita itu tersentak, buru-buru menoleh. “Iya—iya…” “Lu siapa?” Wanita itu menelan ludah lagi, suaranya sedikit terbata. “Gu-gue Mila, bang… ini kakak gue, Deri.” Joni mengangguk singkat. Dia mengambil mie itu, meniup sebentar, lalu langsung makan. “Lu dari mana?” katanya dengan mulut masih penuh. “Dan ngapain di sana?” Mila kembali menelan ludah, matanya masih sesekali melirik mangkuk itu. “Gue… sama abang gue lagi nyari air, bang. Stok kita udah habis.” Joni mengambil sosis, langsung masuk ke mulut. “Terus?” “Terus… ada orang-orang itu. Mereka langsung nembak abang gue. Abang gue nyuruh gue kabur, tapi gue ga tega… terus ya—” Dia berhenti, lalu tanpa sadar menatap lagi ke mie itu. “Bang… enak ya?” Joni menaikkan alis, lalu melirik mangkuknya sendiri. “Eh anjir…” Dia terkekeh pelan. “Gue lupa ini makanan mewah sekarang.” Dia lanjut makan santai, lalu bertanya lagi. “Senjata rakitan itu… siapa yang bikin?” Mila menoleh ke arah meja lain, ke senjata yang tadi dibawa. “Itu abang gue yang buat, bang.” Joni mengangguk, lalu menyeruput kuah mie. Suara seruputannya jelas dan Mila langsung menelan ludah lagi. “Ahh… mantap.” Joni melirik ke arahnya lagi. “Lu mau ini?” Mila diam. Tidak langsung jawab. Kepalanya sedikit menunduk, pikirannya jelas jalan. Di dunia seperti ini, tidak ada yang gratis. Dia menelan ludah sekali lagi lalu mengangguk pelan namun Joni menyeringai. “Tunggu kakak lu bangun dulu.” Dia berdiri, membawa mangkuk kosongnya kembali ke dapur dengan santai. Sambil berjalan, dia bergumam pelan, “Mampus kan lu.”Malam itu suasana ruang makan utama cukup ramai.Di salah satu meja besar, Joni sedang makan bersama orang-orang inti kelompoknya. Pak Bram, Putri, Sindy, Deri, Mila, Pak Anton, dan Pak Kusno duduk mengelilingi meja yang penuh dengan berbagai hidangan.Tidak jauh dari sana, tim elit yang baru dibentuk juga sedang makan bersama. Suasana mereka jauh berbeda dibanding beberapa hari lalu. Obrolan terdengar lebih cair, tawa mulai muncul sesekali, dan tidak ada lagi kecanggungan seperti saat pertama direkrut.Pak Bram sempat melirik ke arah mereka lalu tersenyum kecil."Jauh beda dibanding hari pertama."Putri mengangguk."Dulu masih saling jaga jarak.""Kalau sekarang?" tanya Deri sambil menyendok makanannya.Pak Bram tertawa kecil."Sekarang mulai kayak tim."Joni ikut melirik ke arah meja para awakener dan anggota elit itu.Beberapa sedang bercanda dan beberapa lainnya membahas latihan hari ini. Bahkan ada yang sudah saling mengejek dengan santai.Joni mengangguk puas."Nah, gitu lebih e
Mobil yang membawa Charles dan Nada perlahan mendekati kawasan pasar. Namun semakin dekat mereka ke tujuan, laju kendaraan justru semakin melambat hingga akhirnya hampir berhenti total.Di depan, jalan dipenuhi lapak dan orang-orang yang masih beraktivitas meski hari sudah malam. Beberapa gerobak bahkan memakan sebagian badan jalan.Charles mengerutkan kening."Ada apa?""Jalannya penuh, Jenderal."Charles menatap ke depan lalu berkata singkat,"Klakson."Pengemudi langsung membunyikan klakson beberapa kali.TIN! TIN!Beberapa orang menoleh lalu kembali ke urusan masing-masing namun tidak ada yang menyingkir dan Charles mulai tidak senang."Klakson lagi."TIN! TIN!Kali ini seorang pedagang yang sedang duduk santai di depan lapaknya berdiri lalu berteriak ke arah mereka."MAU LEWAT KE MANA LU WOI!!!"Charles membuka jendela."Kasih jalan."Pedagang itu justru terlihat heran."Lah, parkir sana."Charles mengerutkan kening."Kami mau masuk."Pedagang itu menunjuk ke belakang."Ya parkir
Menjelang sore, iring-iringan kendaraan militer akhirnya tiba di kawasan kompleks industri. Begitu memasuki area tersebut, Charles langsung menyadari satu masalah baru.Tempat itu jauh lebih ramai daripada yang ia perkirakan.Jalanan yang dulu sepi kini dipenuhi berbagai kendaraan. Truk, mobil pickup, hingga kendaraan rakitan terlihat terparkir di banyak tempat. Beberapa bangunan pabrik yang masih layak pakai bahkan sudah ditempati kelompok-kelompok survivor lain.Charles memperhatikan keadaan itu dari dalam mobil komando sambil mengerutkan kening."Apa seramai ini sebelumnya?"Nada yang duduk di sampingnya menggeleng."Enggak."Charles kembali melihat ke luar jendela.Di kejauhan terlihat beberapa pos jaga sederhana, lapak perdagangan kecil, bahkan orang-orang yang lalu lalang membawa barang.Tidak sulit menebak penyebabnya yaitu pasar milik Joni.Sejak pasar itu berkembang, kelompok-kelompok kecil mulai berkumpul di sekitarnya untuk mencari keamanan dan akses perdagangan. Akibatnya,
Charles menatap medan perang di luar tembok menatap Rey, menatap para awakener yang baru saja berubah, menatap Zombie King yang masih berdiri diam di belakang semuanya.Untuk sesaat, ia tidak bergerak. Tidak berbicara dan hanya memperhatikan lalu ia mengambil keputusan. Keputusan yang paling tidak ingin ia ambil.BOOM!Charles melompat dan tubuh gorilanya mendarat di atas menara penjagaan tertinggi di dekat tembok. Struktur baja itu bergetar keras di bawah berat tubuhnya.Semua orang langsung menoleh. Prajurit, warga sipil, PPetugas logistik bahkan Nada yang masih berada di atas tembok.Charles menarik napas lalu mengaum sekeras mungkin."SEMUA ORANG DENGERIN GUE!"Suaranya menggema ke seluruh markas sehingga menenggelamkan suara tembakan, menenggelamkan suara zombie dan menenggelamkan semuanya."LARI!"Semua orang membeku."TINGGALKAN MARKAS INI!"Beberapa prajurit membelalakkan mata."SEKARANG!"Charles menunjuk ke arah timur."EVAKUASI TOTAL!""BAWA SEMUA YANG BISA DIBAWA!""TINGG
BOOOM!Rey menghantam seorang Tanker tepat di bagian dada.Tubuh mutan raksasa itu terangkat dari tanah sebelum terlempar menghantam gerombolan zombie di belakangnya.Puluhan zombie langsung hancur tertimpa tubuh Tanker tersebut."Hahaha!" Rey tertawa keras. Tubuhnya yang telah bermutasi bergerak tanpa sedikit pun tanda kelelahan.Setiap pukulannya menghancurkan apa pun yang berada di jalurnya.Di sisi lain, salah satu awakener mutan menerjang ke tengah kerumunan, lengannya yang berubah menjadi bilah tulang berputar liar.Dalam hitungan detik, belasan zombie terpotong menjadi beberapa bagian, darah dan potongan tubuh berhamburan ke segala arah.Mutan lain yang tubuhnya membesar seperti Tanker justru menggunakan tubuhnya sebagai pendobrak.BRAK!Ia menerjang langsung ke barisan zombie dan puluhan makhluk itu terlempar seperti boneka. Gerombolan yang tadinya tampak tidak berujung mulai menunjukkan celah.Namun jumlah mereka tetap mengerikan. Ribuan zombie masih memenuhi medan di depan t
Dengan kemunculan Rey, situasi di dalam markas perlahan mulai berubah. Bukan menjadi aman tapi setidaknya tidak lagi berada di ambang kehancuran.Brak!Rey menghantam seorang Screamer hingga tubuhnya terpelanting menembus dinding gudang lalu ia berbalik dan menangkap Speedster yang mencoba menerjang dari samping.Krak!Leher mutan itu dipatahkan begitu saja.Di sekitar area itu, para prajurit mulai bisa bernapas sedikit lebih lega.Charles yang sebelumnya harus berlari dari satu titik ke titik lain kini akhirnya mampu memusatkan pasukannya kembali.Formasi mulai dibentuk, garis pertahanan darurat mulai berdiri dan jumlah zombie yang berhasil masuk mulai berkurang."Hahaha!"Rey masih tertawa sambil menghancurkan zombie berikutnya."Lihat?! Aku bilang aku benar!"Charles mendengus kesal kalau bukan karena situasi saat ini, ia sudah menyuruh orang menembak Rey dari tadi lalu Rey tiba-tiba menoleh ke arah salah satu kelompok awakener miliknya yang sedang membantu membersihkan zombie.Mat
Setelah suasana mulai tenang, Joni akhirnya sibuk menjelaskan ke semua orang bahwa dirinya tidak gay dan semua itu hanya salah paham konyol dari omongan Deri.Walaupun begitu, beberapa orang masih terlihat memandangnya dengan tatapan aneh.Terutama Pak Bram.Pria itu bahkan beberapa kali menghela n
Joni memarkir mobilnya tidak jauh dari area pabrik air, lalu mematikan mesin dan turun perlahan. Begitu kakinya menyentuh tanah, dia langsung merasakan sesuatu yang aneh. Terlalu sepi. Tidak ada geraman, tidak ada suara langkah menyeret seperti biasanya.“...di sini ga ada zombi?”Tangannya refleks
Tengah malam, Joni terbangun.Perutnya masih hangat karena makanan tadi, tapi telinganya menangkap sesuatu.Suara dari luar, Dia langsung membuka mata penuh. Refleks.Tangannya meraih senjata di sampingnya, lalu dia bangkit pelan dan berjalan mendekati jendela yang pecah.Di luar gelap, tapi cahaya
Darian masuk ke dalam mobil dengan santai, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam, lalu berkata tanpa melihat siapa pun secara spesifik,“Perhatiin perimeter. Fokus ke depan.”Beberapa orang hanya melirik sebentar, lalu kembali mengawasi jalan cuku







