Home / Zaman Kuno / Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku / Bab 242 - Pengangkatan Huang Ziyan

Share

Bab 242 - Pengangkatan Huang Ziyan

Author: Chryztal
last update Last Updated: 2026-01-28 15:41:41
Istana Kekaisaran Wangjing menyambut pagi dengan suasana yang berbeda. Bukan karena perubahan cuaca, melainkan karena arah angin kekuasaan yang akhirnya menetap. Setelah badai panjang yang mengguncang istana dalam, hari itu terasa seperti titik henti yang tegas, sekaligus awal yang baru.

Upacara pengangkatan Menteri Kesehatan dilangsungkan di Aula Qianyuan, tanpa kemegahan berlebihan. Tidak ada pesta, tidak ada musik perayaan. Hanya barisan petinggi, gulungan dekrit, dan kesunyian yang penuh makna. Semua orang yang hadir memahami satu hal dengan jelas, jabatan ini bukan hadiah, melainkan amanah yang lahir dari darah, risiko, dan pilihan sulit.

Huang Ziyan berdiri di tengah aula dengan jubah resmi berwarna hijau tua, warna yang melambangkan kehidupan dan pemulihan. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tidak lagi menyimpan ambisi mentah seperti dahulu. Bertahun-tahun berada di bawah bayang-bayang intrik istana telah mengikis kesombongan yang pernah ia miliki, menggantinya dengan kew
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 242 - Pengangkatan Huang Ziyan

    Istana Kekaisaran Wangjing menyambut pagi dengan suasana yang berbeda. Bukan karena perubahan cuaca, melainkan karena arah angin kekuasaan yang akhirnya menetap. Setelah badai panjang yang mengguncang istana dalam, hari itu terasa seperti titik henti yang tegas, sekaligus awal yang baru. Upacara pengangkatan Menteri Kesehatan dilangsungkan di Aula Qianyuan, tanpa kemegahan berlebihan. Tidak ada pesta, tidak ada musik perayaan. Hanya barisan petinggi, gulungan dekrit, dan kesunyian yang penuh makna. Semua orang yang hadir memahami satu hal dengan jelas, jabatan ini bukan hadiah, melainkan amanah yang lahir dari darah, risiko, dan pilihan sulit. Huang Ziyan berdiri di tengah aula dengan jubah resmi berwarna hijau tua, warna yang melambangkan kehidupan dan pemulihan. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tidak lagi menyimpan ambisi mentah seperti dahulu. Bertahun-tahun berada di bawah bayang-bayang intrik istana telah mengikis kesombongan yang pernah ia miliki, menggantinya dengan kew

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 241 - Hukuman Ibu Suri

    “Apakah keputusan ini sudah final, Yang Mulia?”Satu pertanyaan itu saja cukup membuat Aula Kehakiman Kekaisaran jatuh ke dalam keheningan absolut.Aula Kehakiman Kekaisaran pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena musim, melainkan karena keputusan yang akan dijatuhkan tidak menyisakan ruang untuk belas kasihan. Para tetua dan bangsawan tinggi berdiri berderet rapi, kepala menunduk, napas ditahan. Tidak ada bisik-bisik, tidak ada gerakan sia-sia. Semua orang paham, satu kata yang salah bisa mengundang malapetaka.Wang Rui berdiri di singgasana, posturnya tegak dan tak tergoyahkan. Tatapannya menyapu aula dengan ketenangan yang justru menekan. Sejak naik takhta, ia jarang menunjukkan emosi. Namun hari ini, ketenangannya bukan lagi tanda keraguan, melainkan keputusan yang telah matang dan tidak dapat dipatahkan.“Sudah.” jawab Wang Rui singkat. “Umumkan sekarang.”Di tengah aula, Ibu Suri berlutut. Jubahnya sederhana berwarna putih polos, tanpa lambang kehormatan. Semua

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 240 - Kehamilan Lin Qian

    “Tarik napas. Jangan bergerak.”Nada suara Huang Ziyan terdengar profesional, tenang, terlalu tenang untuk situasi yang sedang ia hadapi. Jarinya masih menekan pergelangan tangan Lin Qian, menghitung denyut nadi dengan ketelitian yang nyaris kejam. Wajahnya kaku, alisnya sedikit berkerut, seolah ada satu variabel yang tidak seharusnya muncul namun menolak disangkal.Lin Qian duduk di ranjang rendah Paviliun Medis, punggungnya lurus, namun telapak tangannya dingin. Ada firasat aneh yang membuat dadanya terasa sesak.“Ziyan.” katanya pelan. “katakan saja.”“Jika hasilnya salah, aku sendiri yang akan bertanggung jawab.”Kalimat Huang Ziyan jatuh tegas, tanpa celah untuk dibantah. Ruang pemeriksaan Paviliun Medis Kekaisaran dijaga ketat, jauh lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada tabib lain. Tidak ada pelayan. Hanya mereka bertiga.Wang Rui berdiri di sisi ranjang, satu langkah terlalu dekat untuk disebut formal, namun terlalu jauh untuk benar-benar tenang. Sejak Lin Qian dibaringkan, tata

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 239 - Kesehatan Lin Qian Memburuk

    “Apa yang kau sembunyikan dariku?”Kalimat itu meluncur datar dari Lin Yuan, namun tekanan di baliknya cukup untuk membuat tabib-tabib istana menahan napas. Aula kecil Paviliun Timur yang biasanya tenang berubah menjadi ruang dengan atmosfer tertekan, seolah satu kesalahan kata saja bisa memicu ledakan.Lin Qian duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak, wajahnya pucat namun tetap terjaga. Ia baru saja menyelesaikan pemeriksaan denyut nadi rutin yang semestinya tidak memakan waktu lama. Namun sejak fajar, kepalanya terasa berat, penglihatannya sesekali mengabur, dan tubuhnya seolah kehilangan daya tahan yang selama ini menjadi kebanggaannya.“Aku tidak menyembunyikan apa pun.” jawab Lin Qian akhirnya, suaranya tenang namun jelas lebih lemah dari biasanya.Lin Yuan tidak puas. Ia melangkah mendekat, terlalu dekat. Tangannya mengepal di balik lengan jubah prajurit bayangan, rahangnya mengeras. Reaksinya jauh melampaui standar kewaspadaan seorang kakak, apalagi seorang prajurit yang terbi

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 238 - Penegasan Posisi Lin Qian

    “Mulai hari ini, tidak ada lagi yang boleh mempertanyakan posisimu.” Ucapan Wang Rui terdengar tenang, namun beratnya terasa jelas di ruang dalam Paviliun Anxin. Lin Qian berdiri di hadapannya, cahaya pagi menyelinap lewat tirai tipis, memantulkan bayangan keduanya di lantai batu. Kalimat itu bukan janji manis, melainkan pernyataan yang sudah diputuskan. Lin Qian mengangkat pandangan. “Keraguan tidak akan hilang hanya dengan pengumuman, Yang Mulia.” “Aku tahu.” jawab Wang Rui singkat. “Karena itu hari ini bukan soal pengumuman. Ini soal peneguhan.” Hari itu istana bergerak dengan ritme yang berbeda. Tidak gaduh, namun jelas terarah. Para petinggi dan bangsawan dipanggil satu per satu, bukan ke aula besar, melainkan ke ruang pertemuan kecil yang biasanya dipakai untuk diskusi inti. Wang Rui sengaja memilih cara itu. Tidak semua hal perlu dipertontonkan. Beberapa cukup ditegaskan pada orang-orang yang memegang kendali nyata. Lin Qian duduk di sisi Wang Rui, bukan setengah la

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 237 - Kembalinya Klan Lin

    “Apakah kalian benar-benar percaya bahwa ini semua hanya kebetulan?” Suara Wang Rui memecah keheningan aula istana sebelum siapa pun sempat menata napas. Para petinggi yang baru saja duduk kembali setelah rangkaian sidang panjang langsung menegakkan punggung. Kalimat itu terdengar ringan, namun tekanannya membuat udara terasa menurun beberapa derajat. Wang Rui berdiri di depan singgasana, tidak duduk seperti biasanya. Sikap itu sendiri sudah menjadi pernyataan. Di sisi kanannya, Lin Qian berdiri dengan tenang, wajahnya datar, seolah apa pun yang akan diucapkan Kaisar bukan sesuatu yang perlu ia sangkal atau benarkan. Ia sudah melewati fase pembelaan. Kini, ia hanya menunggu. "Kehebatan dan ilmu Permaisuri Lin,” lanjut Wang Rui, suaranya stabil. “bukanlah keanehan. Bukan pula keberuntungan rakyat jelata yang tiba-tiba menyentuh langit.” Beberapa bangsawan saling bertukar pandang. Sejak awal, kecurigaan semacam itu sebenarnya sudah beredar. Terlalu rapi, terlalu presisi, terla

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status