Share

Bab 245 - Huang Ziyan & Yue Er

Penulis: Chryztal
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-30 13:00:13

Hubungan antara Huang Ziyan dan Yue Er tidak pernah diumumkan. Tidak pernah pula disepakati secara resmi sejak awal. Ia tumbuh diam-diam, seperti akar yang menembus tanah keras tanpa suara, bertahan dari tekanan, dan memilih arah sendiri tanpa perlu disorot siapa pun.

Semua bermula jauh sebelum kekacauan istana mencapai puncaknya. Saat Huang Ziyan pertama kali menyadari bahwa perintah Ibu Suri tidak lagi sekadar manipulasi, melainkan ancaman nyata terhadap nyawa Kaisar dan Permaisuri
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 247 - Akhir Kisah Lin Qian dan Wang Rui

    ​"Hoo... Huuuuuhhhh." ​Hari itu tidak datang dengan suara guntur atau langit yang berubah warna. Tidak ada pertanda besar di angkasa, tidak ada lonceng darurat yang dibunyikan di puncak menara. Pagi hanya terbuka perlahan, seolah semesta sengaja menahan napas agar tidak mengganggu satu peristiwa kecil yang akan mengubah segalanya. ​Lin Qian terbaring dengan napas yang mulai terputus-putus. Keringat dingin membasahi pelipisnya, jemarinya mencengkeram kain seprai hingga memutih. Rasa sakit itu datang bergelombang, menghantam tubuhnya tanpa ampun, namun matanya tetap jernih—setajam kristal yang ditempa api. Ia pernah menghadapi racun yang membakar tenggorokan, pengadilan yang dingin, dan penjara bawah tanah lembab yang menyiksa. Namun, rasa ini berbeda. ​Ini bukan rasa takut akan kehilangan nyawa. Ini adalah rasa sakit yang membawa berkah, sebuah perjuangan ketika hidup baru tengah mendobrak gerbang untuk lahir ke dunia. ​Di sisinya, Wang Rui berdiri kaku. Tidak ada mahkota emas

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 246 - Saat Dunia Tidak Lagi Berisik

    Istana akhirnya terasa tentram dan damai. Bukan diam karena takut, bukan pula sunyi karena kehilangan arah. Ini adalah keheningan yang lahir setelah badai benar-benar lewat, ketika dinding tidak lagi menunggu retak, dan langkah kaki tidak lagi membawa gema ancaman. Semuanya terasa aman Pagi datang tanpa tergesa. Cahaya matahari menyelinap masuk ke lorong-lorong istana, jatuh lembut di lantai batu yang kini jarang dilalui dengan langkah terburu-buru. Para pelayan bergerak dengan ritme wajar. Tidak ada bisikan panik, tidak ada mata yang selalu mengarah ke pintu seolah menunggu kabar buruk. Lin Qian merasakan perubahan itu dari dalam tubuhnya sendiri. Kehamilannya membuat waktu terasa berbeda. Setiap hari seolah melambat, namun justru terasa penuh. Ia tidak lagi bangun dengan pikiran yang langsung sibuk menimbang kemungkinan terburuk. Tubuhnya menuntut perhatian, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengabulkannya tanpa rasa terbebani. Ia duduk di paviliun terbuka, juba

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 245 - Huang Ziyan & Yue Er

    Hubungan antara Huang Ziyan dan Yue Er tidak pernah diumumkan. Tidak pernah pula disepakati secara resmi sejak awal. Ia tumbuh diam-diam, seperti akar yang menembus tanah keras tanpa suara, bertahan dari tekanan, dan memilih arah sendiri tanpa perlu disorot siapa pun.Semua bermula jauh sebelum kekacauan istana mencapai puncaknya. Saat Huang Ziyan pertama kali menyadari bahwa perintah Ibu Suri tidak lagi sekadar manipulasi, melainkan ancaman nyata terhadap nyawa Kaisar dan Permaisuri, ia tidak langsung memberontak. Ia memilih diam. Mengamati. Menimbang risiko dengan kepala dingin seorang tabib yang tahu, satu kesalahan kecil bisa merenggut banyak nyawa.Di masa itulah Yue Er sering berada paling dekat dengannya. Wanita muda itu tidak bertanya banyak. Tidak mendesak penjelasan. Namun kehadirannya konsisten. Membawa laporan kecil, membantu mengatur jalur logistik obat, menutup celah yang seharusnya tidak terlihat. Yue Er tidak pernah menuntut keju

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 244 - Cinta yang Hadir

    Pagi di istana tidak lagi terasa seperti medan siaga. Cahaya matahari masuk tanpa terburu-buru, menyentuh lantai kayu Paviliun Qinghe yang bersih dan hangat. Tidak ada langkah cepat pelayan, tidak ada laporan mendesak. Dunia berjalan pelan, seolah memberi ruang bagi mereka yang selama ini hidup dengan kewaspadaan berlebihan.Lin Qian duduk di dekat jendela, mengenakan Hanfu santai yang sederhana. Tidak ada perhiasan berat, tidak ada sanggul ketat. Rambutnya jatuh longgar di punggung, menandakan bahwa pagi ini ia bukan Permaisuri yang harus siap dilihat siapa pun. Ia hanya seorang perempuan yang sedang mencoba menikmati keheningan.Buku terbuka di pangkuannya, namun halaman itu tidak berubah sejak beberapa waktu lalu. Pikirannya tidak benar-benar berada di sana. Tubuhnya ada di paviliun, tetapi jiwanya masih belajar menerima kenyataan bahwa ia tidak lagi harus bersiaga setiap detik.Langkah kaki terdengar dari belakang. Tidak disertai pengumuman, tidak

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 243 - Kekaisaran Menuju Kemajuan

    Tidak ada genderang perang, tidak ada lonceng darurat, tidak pula bisik-bisik cemas yang biasa menyertai perubahan besar di Kekaisaran Wang. Reformasi justru dimulai dalam keheningan yang rapi, seperti air yang mengalir perlahan namun pasti mengubah bentuk batu.Lin Qian duduk di ruang kerjanya ketika gulungan pertama laporan reformasi tiba. Bukan laporan darurat, melainkan catatan perkembangan. Angka-angka yang dulunya berantakan kini tersusun rapi. Klinik-klinik daerah melaporkan penurunan angka kematian ibu dan bayi. Akademi Yaonu Tang mencatat lonjakan murid perempuan dari berbagai latar, termasuk putri petani dan anak perempuan tabib keliling yang dulu tidak pernah berani bermimpi sejauh ini.Ia membaca semuanya tanpa senyum kemenangan yang terlalu lebar, sudut bibirnya hanya terangkat sedikit sebagai senyuman tulus. Wajahnya tenang, hampir datar, namun matanya jernih. Reformasi tidak pernah terasa seperti pencapaian pribadi baginya. Ini selalu tenta

  • Raja Yang Agung Itu Berlutut Di Hadapanku   Bab 242 - Pengangkatan Huang Ziyan

    Istana Kekaisaran Wangjing menyambut pagi dengan suasana yang berbeda. Bukan karena perubahan cuaca, melainkan karena arah angin kekuasaan yang akhirnya menetap. Setelah badai panjang yang mengguncang istana dalam, hari itu terasa seperti titik henti yang tegas, sekaligus awal yang baru. Upacara pengangkatan Menteri Kesehatan dilangsungkan di Aula Qianyuan, tanpa kemegahan berlebihan. Tidak ada pesta, tidak ada musik perayaan. Hanya barisan petinggi, gulungan dekrit, dan kesunyian yang penuh makna. Semua orang yang hadir memahami satu hal dengan jelas, jabatan ini bukan hadiah, melainkan amanah yang lahir dari darah, risiko, dan pilihan sulit. Huang Ziyan berdiri di tengah aula dengan jubah resmi berwarna hijau tua, warna yang melambangkan kehidupan dan pemulihan. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tidak lagi menyimpan ambisi mentah seperti dahulu. Bertahun-tahun berada di bawah bayang-bayang intrik istana telah mengikis kesombongan yang pernah ia miliki, menggantinya dengan kew

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status