LOGIN"Mbak, di depan kaya ada orang apa yah?" Oji terperanjat begitu telinganya mendengar sesuatu."Nggak ada," Mia malah menanggapinya dengan santai. Wanita bahkan semakin erat menempelkan tubuh polosnya pada pada tubuh Oji."Ada kok, Mbak, kaya ketuk-ketuk pintu," Oji meragukannya. "Coba sih, dicek.""Kamu aja yang ngecek, sana," balas Mia masih dengan santainya. "Paling cuma orang lewat. Udah biasa itu. Kalau pun mau masuk ke sini, setidaknya dia teriak-teriak nyari pemilik rumah."Oji tercenung. Selain mencerna ucapan si pemilik rumah, dia juga pertajam pendengarannya. Tak lama setelahnya, senyum anak muda itu terkembang agak malu."Tubuh kamu nyaman banget sih, Ji, buat dipeluk," ujar Mia sambil terus mengencangkan dekapannya. "Hangat."Oji tentu bangga mendengarnya. "Padahal tubuh kurus dan kotor loh, Mbak," balas Oji merendah. "Justru yang kurus kaya kamu ini, paling enak buat dipeluk," ucap Mia tak mau kalah. "Lagian tubuhnya bukan kurus banget. Perutnya aja ngebentuk sempurna."O
Langkah Oji seketika terhenti kala matanya menangkap sosok yang dia kenal, sedang bercanda bersama teman-teman barunya.Ada rasa iri dan kesal kala Oji melihat kebersamaan mantan sahabatnya yang nampak bahagia, berteman dengan orang-orang yang membenci Oji. Namun, dia segera menyadari kekurangannya, yang menyebabkan temannya memilih berkhianat. Untuk menghindari bertatap muka dengan mereka, Oji memilih jalan lain yang bisa nembus rumah Mia."Oji?" Seru Mia beberapa detik kemudian kala membuka pintu rumahnya. "Sini masuk," wanita itu nampak sumringah dan semangat menyambut kedatangan anak muda itu. Oji segera menutup payung dan membawanya masuk ke dalam rumah. Sedangkan Mia langsung mengunci pintu demi keamanan."Kenapa ke sini jam segini, Ji? Bukankah janjinya jam enam?" Tanya Mia lagi. Oji pun sontak cengengesan. "Daripada di rumah nggak ada kerjaan, Mbak. Lagian jam segini atau nanti sama aja kan?"Mia pun turut tersenyum senang. "Iya juga sih. Apa lagi hujannya deras banget," ba
"Nadia?" Oji sampai terperanjat begitu wanita yang namanya baru disebut, kini ada di hadapannya."Eh, Mbak, mau ngapain?" Seketika wajah Oji langsung panik kala wanita itu tiba-tiba menarik tangannya. "Mbak...""Diam!" Sentak Nadia galak. "Aku mau dibawa kemana?" Oji tetep bersuara. Tapi dari arah langkah kakinya, Oji tahu kalau dia akan dibawa kerumah wanita itu.Seketika itu juga Oji jadi teringat dengan kejadian kemarin dan dia yakin, Nadia pasti marah karena dia memilih kabur daripada membajak ladang wanita itu.Oji dipaksa masuk, lalu tubuhnya didorong hingga Oji terjerambab di atas sofa. Tidak hanya itu, Nadia juga duduk di pangkuan Oji dan mengunci pergerakan anak muda itu sampai tak berkutik."Mbak, mau ngapain?" Oji sangat panik sampai bicaranya agak terbata. "Kenapa kemarin kamu kabur?" Wanita itu menatap tajam mata Oji dengan jarak yang sangat dekat.Tebakan Oji benar, pasti ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin. "Kemarin, aku..." Oji bingung mencari alasan yan
Oji saat ini tengah duduk santai sambil beristirahat melepas lelah sambil memperhatikan orang-orang yang ada di lapangan.Namun, secara tiba-tiba, dia terperanjat kala anak muda itu merasakan sesuatu pada pinggangnya.Dengan cepat Oji menunduk. Mata anak itu langsung melebar kala menyaksikan dua tangan tengah melingkar erat memeluknya dari belakang.Oji pun langsung menoleh ke belakang. "Mbak Mia?" Seru anak itu. "Apa yang kamu lakukan?" Oji mencoba berontak.Namun sayang, Mia tak mau mengalah. Wanita itu malah tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya."Kamu kenapa kemarin kabur?" tanya Mia dengan entengnya."Aduh, Mbak, lepasin," Oji sampai memohon. "Nanti ada yang lihat. Bahaya.""Biarin," balas Mia cuek. "Salah sendiri, kamu kemarin kabur begitu saja. Kamu harus tanggung jawab dong."Oji mendengus. Anak itu benar-benar panik karena baru kali ini ada yang berani berbuat seperti itu kepadanya di tempat umum.Apa lagi yang memeluk, statusnya masih istri orang. Bisa tambah runyam j
Di luar rumah, hujan deras masih mengguyur. Di dalam rumah, Oji sudah terkapar di atas ranjang, menatap langit-langit kamar, tanpa kain yang menutupi tubuhnya.Anak muda itu sungguh tidak menyangka, perkenalannnya dengan wanita bernama Rani, berakhir di atas ranjang, dalam kamar wanita itu.Pikiran Oji pun berkelana, mengenang kembali kenikmatan demi kenikmatan, yang baru saja dia rasakan untuk pertama kalinya sebagai pria.Sejenak Oji menoleh, menatap wanita yang tengah asyik menghirup aroma ketiaknya. Kepala Oji menggeleng samar, heran dengan wanita yang menyukai bau asam ketiaknya.Oji lalu menatap miliknya yang terkulai lemas. Kali ini dia merasa bangga karena isi kolornya bekerja dengan baik sampai si wanita terus menjerit kenikmatan."Mbak," setelah sekian menit terdiam karena melepas lelah, akhirnya Oji mengeluarkan suara kembali."Hum?" Balas wanita, yang tengah asyik menghirup ketiak Oji."Boleh minta tolong nggak?" tanya anak muda itu."Minta tolong?" Rani agak mendongakan k
"Ji.""Iya, Mbak?""Kamu..." Rani menjeda ucapannya sejenak. "Pernah berselingkuh?"Sejenak kening Oji agak berkerut. Tapi tak lama kemudian, anak muda itu malah nampak tersipu dan salah tingkah."Jangankan selingkuh, Mbak, pacaran aja belum pernah," jawab Oji malu."Hah!" Mata Rani langsung melebar. "Serius, Ji, kamu belum pernah pacaran?" Oji mengangguk pelan sambil menahan senyum. "Kenapa?"Oji berpikir sejenak. "Mungkin karena aku bukan anak gaul dan anak orang kaya, Mbak. Jadi, nggak ada cewek yang mau sama aku," ucapannya terdengar getir.Rani menyipitkan tatapannya. Sepertinya wanita itu tidak percaya dengan alasan yang Oji katakan."Masa sampai segitunya sih?" Balas Rani. "Atau mungkin, kamu orangnya agak pemalu dan kurang percaya diri ya?"Oji kembali tersipu dan dia membenarkan dengan anggukan kepala."Hmm, udah aku duga, sejak tadi aku melihatmu, sikapmu memang agak gimana," kali ini Rani nampak percaya. "Berarti tadi waktu aku meluk kamu saat di motor, kamu grogi dong?""







