LOGIN"Ji."
"Iya, Mbak?" "Kamu..." Rani menjeda ucapannya sejenak. "Pernah berselingkuh?" Sejenak kening Oji agak berkerut. Tapi tak lama kemudian, anak muda itu malah nampak tersipu dan salah tingkah. "Jangankan selingkuh, Mbak, pacaran aja belum pernah," jawab Oji malu. "Hah!" Mata Rani langsung melebar. "Serius, Ji, kamu belum pernah pacaran?" Oji mengangguk pelan sambil menahan senyum. "Kenapa?" Oji berpikir sejenak. "Mungkin karena aku bukan anak gaul dan anak orang kaya, Mbak. Jadi, nggak ada cewek yang mau sama aku," ucapannya terdengar getir. Rani menyipitkan tatapannya. Sepertinya wanita itu tidak percaya dengan alasan yang Oji katakan. "Masa sampai segitunya sih?" Balas Rani. "Atau mungkin, kamu orangnya agak pemalu dan kurang percaya diri ya?" Oji kembali tersipu dan dia membenarkan dengan anggukan kepala. "Hmm, udah aku duga, sejak tadi aku melihatmu, sikapmu memang agak gimana," kali ini Rani nampak percaya. "Berarti tadi waktu aku meluk kamu saat di motor, kamu grogi dong?" "Hehehe... iya, Mbak." "Astaga..." Rani semakin takjub. Wanita itu menyesap kopinya sejenak, lalu meletakan cangkir di atas meja. Rani bangkit dan perlahan langkah kakinya membuat Oji terkejut seketika. "Kalau diperhatikan, kamu tuh ganteng loh, Ji, hitam manis," ucap wanita yang kini duduk di sebelah Oji. "Kamu juga memiliki tubuh yang bagus, dan... tinggi badan kamu berapa sih?" "Sekitar seratus delapan puluh tiga, Mbak," balas Oji agak gugup dan semakin salah tingkah karena jarak Rani sangat dekat dengan tubuhnya. "Tuh kan, keren! Masa kamu malu sih, untuk deketin cewek," ucap Rani. "Jangan gugup gitu dong." "Hehehe..." Oji hanya bisa cengengesan. "Kamu mau tahu nggak, caranya agar kamu tidak gugup saat didekati cewek?" Oji sontak membalas tatapan Rani. Dari sorot matanya, tentu saja Oji tertarik denhan ucapan wanita itu. Senyum Rani terkembang tipis. Tangannya bergerak lalu meraih tangan Oji dan meletakan tangan anak itu di atas pahanya. Mata Oji seketika melebar. Bahkan tangan Oji sampai menegang karena apa yang dilakukan Rani sangat mengejutkan. "Nggak usah tegang gitu, santai aja," ucap Rani dengan lembut. "Coba kamu hirup nafas dan menghembuskannya pelan-pelan." Dengan patuh, Oji langsung mempraktekannya. Kali ini jiwa liar Oji bahkan bergejolak dan dia tidak mampu lagi untuk menahan dirinya. "Sekarang, gerakan tanganmu, pelan-pelan aja." Oji kembali menurut meski sekarang insting sebagai pria normal juga turut membantunya. Rani tersenyum senang. Dia meraih tangan Oji yang satunya dan melakukan hal yang sama. Keduanya pum saling melempar senyum. "Usap terus pahaku, Ji, pelan-pelan," suara Rani semakin lembut. "Gimana? Mulus nggak?" Oji mengangguk. "Mulus banget, Mbak." Kedua tangannya terus bergerak pelan dan penuh perasaan. "Tadi waktu dada aku nempel di punggung kamu, apa yang kamu bayangkan, Ji?" Rani kembali melempar pertanyaan yang membuat Oji mati gaya. Oji tak langsung menjawab. Entah kenapa, dia malah takut Rani marah jika anak itu berkata jujur. "Pasti kamu membayangkan, memainkan dada aku dan menghisapnya, kan?" Terka Rani begitu saja sampai mata Oji melebar. Oji pun kembali tersipu malu. "Namanya juga lelaki normal, Mbak. Wajar kan, kalau aku membayangkan yang tidak-tidak," kali ini jawaban Oji tidak segugup seperti tadi. Rani mencebikan bibrinya sekilas. "Kamu mau nggak praktek langsung, nggak perlu membayangkan?" Tawar wanita itu dengan santai tapi sukses membuat Oji terperanjat. "Sekarang, kamu lepas pakaianku, oke?" Belum hilang rasa terkejut Oji, kini anak muda itu dibuat tak berkutik karena Rani berpindah menjadi duduk di pangkuan Oji dan dadanya tepat berada di depan wajah pemuda itu. "Mbak Rani, kamu...." "Udah, nggak perlu mikir macam-macam," Rani langsung memotong ucapan Oji. "Lakukan aja apa yang kamu inginkan. Tunjukkan kalau kamu benar-benar laki-laki normal, oke?" Oji terbungkam. Ucapan Rani membuat jiwa liarnya tertantang. Tangan Oji mencengkram bagian bawah baju Rani dan bersiap untuk melepaskannya. Mata Oji kembali melebar, kala pakaian Rani terangkat ke atas. "Kamu cuma pakai satu baju, Mbak?" Dengan senyum nakal Rani langsung mengangguk. Wanita itu lantas melepaskan sendiri pakaiannya. "Aku sudah siap melayani kamu sejak tadi, Sayang," Rani melingkarkan tangannya pada leher Oji. "Sejak tadi?" Rani mengangguk. "Sudah, jawabnya nanti aja, sekarang, kamu nikmatin aja benda ini, oke?" Oji tercenung beberapa saat, hingga pada akhirnya, instingnya menuntun Oji untuk memainkan bulatan kembar nan kenyal yang menggantung indah pada dada Rani. Bukan hanya tangan yang bermain, mulut Oji juga turut mengambil bagian. Bahkan bagian bawah perut Rani juga turut menjadi sasaran kenakalan tangan Oji. "Sekarang, giliran aku yang mainin punya kamu ya?" Rani menghentikan permainan Oji yang begitu rakus. Lalu dia bangkit dari pangkuan anak muda itu. Rani bersimpuh di hadapan Oji, tangannya bergerak meraih pinggang anak muda itu untuk melepas kolor yang Oji pakai. "Aduh, Mbak," tiba-tiba tangan Oji menahan tangan Rani. "Kenapa?" tanya Rani kaget. Namun Oji tidak menjawab. Bahkan dia salah tingkah. "Kamu malu?" Terka wanita itu. Oji pun mengangguk sambil tersipu. "Malu kenapa?" "Punyaku kecil, Mbak," jawab Oji dengan polosnya. "Masa sih?" Rani tak percaya begitu saja. Telapak tangannya mendarat di atas milik Oji yang masih terbungkus kolor dan mengusapnya sampai Oji merinding dibuatnya. "Gede kok, Sayang," ucap Rani sambil tangannya memijat pelan milik anak muda itu. "Buka aja ya? Gede banget pasti ini." Oji pun akhirnya pasrah. Jantungnya berdegup kembali berdegup kencang karena ini pertama kalinya dia memperlihatkan isi kolornya kepada wanita. "Wah..." mata Rani langsung berbinar begitu isi kolor Oji berhasil dikeluarkan. "Bagus banget, Sayang, gede dan panjang." Darah Oji berdesir waktu tangan Rani menyentuh dan menggenggam miliknya yang sudah sangat menegang. "Ini gede banget, Sayang, malah lebih gede daripada punya suamiku. Bedanya jauh banget," Rani pun bersiap untuk memainkannya. "Tapi itu kotor, Mbak, bau keringat." "Nggak apa-apa," balas Rani. "Justru, ini lebih enak yang bau keringat daripada bau sabun." Oji pun langsung terdiam. Matanya terus memperhatikan Rani yang sudah siap untuk menikmati miliknya. "Ah..." Oji melenguh panjang kala lidah Rani mulai menempel dan menjilat milik Oji dibagian paling ujung. Baru kali ini Oji merasakan sensasi yang tak pernah dia alami dan rasanya membuat Oji hanya bisa mengeluarkan erangan kenikmatan. Hingga beberapa puluh detik berjalan, Oji tak kuasa menahan sesuatu yang ingin segera keluar. Kaki Oji menegang dan dia melenguh dengan kencang. "Ah.... ah... ah..." Cairan putih dan kental, menyembur, membasahi mulut dan wajah Rani. "Enak, Sayang?" "Enak banget, Mbak." Rani tersenyum. "Sebentar lagi, kamu akan merasakan yang lebih enak lagi loh," ucapnya wanita itu sambil terus memainkan milik Oji. Oji sendiri turut tersenyum karena dia tahu, maksud dari ucapan wanita cantik tersebut. ##### Sementara itu, di bumi belahan lain. "Pokoknya, kita harus menemukan ramuan itu. Jika ada yang menemukannya, kita harus merebutnya. Jika perlu, kita habisi sekalian orang yang menemukannya, oke!" "Oke!""Mbak, di depan kaya ada orang apa yah?" Oji terperanjat begitu telinganya mendengar sesuatu."Nggak ada," Mia malah menanggapinya dengan santai. Wanita bahkan semakin erat menempelkan tubuh polosnya pada pada tubuh Oji."Ada kok, Mbak, kaya ketuk-ketuk pintu," Oji meragukannya. "Coba sih, dicek.""Kamu aja yang ngecek, sana," balas Mia masih dengan santainya. "Paling cuma orang lewat. Udah biasa itu. Kalau pun mau masuk ke sini, setidaknya dia teriak-teriak nyari pemilik rumah."Oji tercenung. Selain mencerna ucapan si pemilik rumah, dia juga pertajam pendengarannya. Tak lama setelahnya, senyum anak muda itu terkembang agak malu."Tubuh kamu nyaman banget sih, Ji, buat dipeluk," ujar Mia sambil terus mengencangkan dekapannya. "Hangat."Oji tentu bangga mendengarnya. "Padahal tubuh kurus dan kotor loh, Mbak," balas Oji merendah. "Justru yang kurus kaya kamu ini, paling enak buat dipeluk," ucap Mia tak mau kalah. "Lagian tubuhnya bukan kurus banget. Perutnya aja ngebentuk sempurna."O
Langkah Oji seketika terhenti kala matanya menangkap sosok yang dia kenal, sedang bercanda bersama teman-teman barunya.Ada rasa iri dan kesal kala Oji melihat kebersamaan mantan sahabatnya yang nampak bahagia, berteman dengan orang-orang yang membenci Oji. Namun, dia segera menyadari kekurangannya, yang menyebabkan temannya memilih berkhianat. Untuk menghindari bertatap muka dengan mereka, Oji memilih jalan lain yang bisa nembus rumah Mia."Oji?" Seru Mia beberapa detik kemudian kala membuka pintu rumahnya. "Sini masuk," wanita itu nampak sumringah dan semangat menyambut kedatangan anak muda itu. Oji segera menutup payung dan membawanya masuk ke dalam rumah. Sedangkan Mia langsung mengunci pintu demi keamanan."Kenapa ke sini jam segini, Ji? Bukankah janjinya jam enam?" Tanya Mia lagi. Oji pun sontak cengengesan. "Daripada di rumah nggak ada kerjaan, Mbak. Lagian jam segini atau nanti sama aja kan?"Mia pun turut tersenyum senang. "Iya juga sih. Apa lagi hujannya deras banget," ba
"Nadia?" Oji sampai terperanjat begitu wanita yang namanya baru disebut, kini ada di hadapannya."Eh, Mbak, mau ngapain?" Seketika wajah Oji langsung panik kala wanita itu tiba-tiba menarik tangannya. "Mbak...""Diam!" Sentak Nadia galak. "Aku mau dibawa kemana?" Oji tetep bersuara. Tapi dari arah langkah kakinya, Oji tahu kalau dia akan dibawa kerumah wanita itu.Seketika itu juga Oji jadi teringat dengan kejadian kemarin dan dia yakin, Nadia pasti marah karena dia memilih kabur daripada membajak ladang wanita itu.Oji dipaksa masuk, lalu tubuhnya didorong hingga Oji terjerambab di atas sofa. Tidak hanya itu, Nadia juga duduk di pangkuan Oji dan mengunci pergerakan anak muda itu sampai tak berkutik."Mbak, mau ngapain?" Oji sangat panik sampai bicaranya agak terbata. "Kenapa kemarin kamu kabur?" Wanita itu menatap tajam mata Oji dengan jarak yang sangat dekat.Tebakan Oji benar, pasti ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin. "Kemarin, aku..." Oji bingung mencari alasan yan
Oji saat ini tengah duduk santai sambil beristirahat melepas lelah sambil memperhatikan orang-orang yang ada di lapangan.Namun, secara tiba-tiba, dia terperanjat kala anak muda itu merasakan sesuatu pada pinggangnya.Dengan cepat Oji menunduk. Mata anak itu langsung melebar kala menyaksikan dua tangan tengah melingkar erat memeluknya dari belakang.Oji pun langsung menoleh ke belakang. "Mbak Mia?" Seru anak itu. "Apa yang kamu lakukan?" Oji mencoba berontak.Namun sayang, Mia tak mau mengalah. Wanita itu malah tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya."Kamu kenapa kemarin kabur?" tanya Mia dengan entengnya."Aduh, Mbak, lepasin," Oji sampai memohon. "Nanti ada yang lihat. Bahaya.""Biarin," balas Mia cuek. "Salah sendiri, kamu kemarin kabur begitu saja. Kamu harus tanggung jawab dong."Oji mendengus. Anak itu benar-benar panik karena baru kali ini ada yang berani berbuat seperti itu kepadanya di tempat umum.Apa lagi yang memeluk, statusnya masih istri orang. Bisa tambah runyam j
Di luar rumah, hujan deras masih mengguyur. Di dalam rumah, Oji sudah terkapar di atas ranjang, menatap langit-langit kamar, tanpa kain yang menutupi tubuhnya.Anak muda itu sungguh tidak menyangka, perkenalannnya dengan wanita bernama Rani, berakhir di atas ranjang, dalam kamar wanita itu.Pikiran Oji pun berkelana, mengenang kembali kenikmatan demi kenikmatan, yang baru saja dia rasakan untuk pertama kalinya sebagai pria.Sejenak Oji menoleh, menatap wanita yang tengah asyik menghirup aroma ketiaknya. Kepala Oji menggeleng samar, heran dengan wanita yang menyukai bau asam ketiaknya.Oji lalu menatap miliknya yang terkulai lemas. Kali ini dia merasa bangga karena isi kolornya bekerja dengan baik sampai si wanita terus menjerit kenikmatan."Mbak," setelah sekian menit terdiam karena melepas lelah, akhirnya Oji mengeluarkan suara kembali."Hum?" Balas wanita, yang tengah asyik menghirup ketiak Oji."Boleh minta tolong nggak?" tanya anak muda itu."Minta tolong?" Rani agak mendongakan k
"Ji.""Iya, Mbak?""Kamu..." Rani menjeda ucapannya sejenak. "Pernah berselingkuh?"Sejenak kening Oji agak berkerut. Tapi tak lama kemudian, anak muda itu malah nampak tersipu dan salah tingkah."Jangankan selingkuh, Mbak, pacaran aja belum pernah," jawab Oji malu."Hah!" Mata Rani langsung melebar. "Serius, Ji, kamu belum pernah pacaran?" Oji mengangguk pelan sambil menahan senyum. "Kenapa?"Oji berpikir sejenak. "Mungkin karena aku bukan anak gaul dan anak orang kaya, Mbak. Jadi, nggak ada cewek yang mau sama aku," ucapannya terdengar getir.Rani menyipitkan tatapannya. Sepertinya wanita itu tidak percaya dengan alasan yang Oji katakan."Masa sampai segitunya sih?" Balas Rani. "Atau mungkin, kamu orangnya agak pemalu dan kurang percaya diri ya?"Oji kembali tersipu dan dia membenarkan dengan anggukan kepala."Hmm, udah aku duga, sejak tadi aku melihatmu, sikapmu memang agak gimana," kali ini Rani nampak percaya. "Berarti tadi waktu aku meluk kamu saat di motor, kamu grogi dong?""







