แชร์

Tipu Daya Wanita

ผู้เขียน: Rcancer
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-24 01:47:50

"Ji."

"Iya, Mbak?"

"Kamu..." Rani menjeda ucapannya sejenak. "Pernah berselingkuh?"

Sejenak kening Oji agak berkerut. Tapi tak lama kemudian, anak muda itu malah nampak tersipu dan salah tingkah.

"Jangankan selingkuh, Mbak, pacaran aja belum pernah," jawab Oji malu.

"Hah!" Mata Rani langsung melebar. "Serius, Ji, kamu belum pernah pacaran?" Oji mengangguk pelan sambil menahan senyum. "Kenapa?"

Oji berpikir sejenak. "Mungkin karena aku bukan anak gaul dan anak orang kaya, Mbak. Jadi, nggak ada cewek yang mau sama aku," ucapannya terdengar getir.

Rani menyipitkan tatapannya. Sepertinya wanita itu tidak percaya dengan alasan yang Oji katakan.

"Masa sampai segitunya sih?" Balas Rani. "Atau mungkin, kamu orangnya agak pemalu dan kurang percaya diri ya?"

Oji kembali tersipu dan dia membenarkan dengan anggukan kepala.

"Hmm, udah aku duga, sejak tadi aku melihatmu, sikapmu memang agak gimana," kali ini Rani nampak percaya. "Berarti tadi waktu aku meluk kamu saat di motor, kamu grogi dong?"

"Hehehe... iya, Mbak."

"Astaga..." Rani semakin takjub.

Wanita itu menyesap kopinya sejenak, lalu meletakan cangkir di atas meja. Rani bangkit dan perlahan langkah kakinya membuat Oji terkejut seketika.

"Kalau diperhatikan, kamu tuh ganteng loh, Ji, hitam manis," ucap wanita yang kini duduk di sebelah Oji. "Kamu juga memiliki tubuh yang bagus, dan... tinggi badan kamu berapa sih?"

"Sekitar seratus delapan puluh tiga, Mbak," balas Oji agak gugup dan semakin salah tingkah karena jarak Rani sangat dekat dengan tubuhnya.

"Tuh kan, keren! Masa kamu malu sih, untuk deketin cewek," ucap Rani. "Jangan gugup gitu dong."

"Hehehe..." Oji hanya bisa cengengesan.

"Kamu mau tahu nggak, caranya agar kamu tidak gugup saat didekati cewek?"

Oji sontak membalas tatapan Rani. Dari sorot matanya, tentu saja Oji tertarik denhan ucapan wanita itu.

Senyum Rani terkembang tipis. Tangannya bergerak lalu meraih tangan Oji dan meletakan tangan anak itu di atas pahanya.

Mata Oji seketika melebar. Bahkan tangan Oji sampai menegang karena apa yang dilakukan Rani sangat mengejutkan.

"Nggak usah tegang gitu, santai aja," ucap Rani dengan lembut. "Coba kamu hirup nafas dan menghembuskannya pelan-pelan."

Dengan patuh, Oji langsung mempraktekannya. Kali ini jiwa liar Oji bahkan bergejolak dan dia tidak mampu lagi untuk menahan dirinya.

"Sekarang, gerakan tanganmu, pelan-pelan aja."

Oji kembali menurut meski sekarang insting sebagai pria normal juga turut membantunya.

Rani tersenyum senang. Dia meraih tangan Oji yang satunya dan melakukan hal yang sama. Keduanya pum saling melempar senyum.

"Usap terus pahaku, Ji, pelan-pelan," suara Rani semakin lembut. "Gimana? Mulus nggak?"

Oji mengangguk. "Mulus banget, Mbak." Kedua tangannya terus bergerak pelan dan penuh perasaan.

"Tadi waktu dada aku nempel di punggung kamu, apa yang kamu bayangkan, Ji?" Rani kembali melempar pertanyaan yang membuat Oji mati gaya.

Oji tak langsung menjawab. Entah kenapa, dia malah takut Rani marah jika anak itu berkata jujur.

"Pasti kamu membayangkan, memainkan dada aku dan menghisapnya, kan?" Terka Rani begitu saja sampai mata Oji melebar.

Oji pun kembali tersipu malu. "Namanya juga lelaki normal, Mbak. Wajar kan, kalau aku membayangkan yang tidak-tidak," kali ini jawaban Oji tidak segugup seperti tadi.

Rani mencebikan bibrinya sekilas. "Kamu mau nggak praktek langsung, nggak perlu membayangkan?" Tawar wanita itu dengan santai tapi sukses membuat Oji terperanjat.

"Sekarang, kamu lepas pakaianku, oke?"

Belum hilang rasa terkejut Oji, kini anak muda itu dibuat tak berkutik karena Rani berpindah menjadi duduk di pangkuan Oji dan dadanya tepat berada di depan wajah pemuda itu.

"Mbak Rani, kamu...."

"Udah, nggak perlu mikir macam-macam," Rani langsung memotong ucapan Oji. "Lakukan aja apa yang kamu inginkan. Tunjukkan kalau kamu benar-benar laki-laki normal, oke?"

Oji terbungkam. Ucapan Rani membuat jiwa liarnya tertantang. Tangan Oji mencengkram bagian bawah baju Rani dan bersiap untuk melepaskannya.

Mata Oji kembali melebar, kala pakaian Rani terangkat ke atas.

"Kamu cuma pakai satu baju, Mbak?"

Dengan senyum nakal Rani langsung mengangguk. Wanita itu lantas melepaskan sendiri pakaiannya.

"Aku sudah siap melayani kamu sejak tadi, Sayang," Rani melingkarkan tangannya pada leher Oji.

"Sejak tadi?"

Rani mengangguk. "Sudah, jawabnya nanti aja, sekarang, kamu nikmatin aja benda ini, oke?"

Oji tercenung beberapa saat, hingga pada akhirnya, instingnya menuntun Oji untuk memainkan bulatan kembar nan kenyal yang menggantung indah pada dada Rani.

Bukan hanya tangan yang bermain, mulut Oji juga turut mengambil bagian. Bahkan bagian bawah perut Rani juga turut menjadi sasaran kenakalan tangan Oji.

"Sekarang, giliran aku yang mainin punya kamu ya?" Rani menghentikan permainan Oji yang begitu rakus. Lalu dia bangkit dari pangkuan anak muda itu.

Rani bersimpuh di hadapan Oji, tangannya bergerak meraih pinggang anak muda itu untuk melepas kolor yang Oji pakai.

"Aduh, Mbak," tiba-tiba tangan Oji menahan tangan Rani.

"Kenapa?" tanya Rani kaget. Namun Oji tidak menjawab. Bahkan dia salah tingkah.

"Kamu malu?" Terka wanita itu. Oji pun mengangguk sambil tersipu. "Malu kenapa?"

"Punyaku kecil, Mbak," jawab Oji dengan polosnya.

"Masa sih?" Rani tak percaya begitu saja. Telapak tangannya mendarat di atas milik Oji yang masih terbungkus kolor dan mengusapnya sampai Oji merinding dibuatnya.

"Gede kok, Sayang," ucap Rani sambil tangannya memijat pelan milik anak muda itu. "Buka aja ya? Gede banget pasti ini."

Oji pun akhirnya pasrah. Jantungnya berdegup kembali berdegup kencang karena ini pertama kalinya dia memperlihatkan isi kolornya kepada wanita.

"Wah..." mata Rani langsung berbinar begitu isi kolor Oji berhasil dikeluarkan. "Bagus banget, Sayang, gede dan panjang."

Darah Oji berdesir waktu tangan Rani menyentuh dan menggenggam miliknya yang sudah sangat menegang.

"Ini gede banget, Sayang, malah lebih gede daripada punya suamiku. Bedanya jauh banget," Rani pun bersiap untuk memainkannya.

"Tapi itu kotor, Mbak, bau keringat."

"Nggak apa-apa," balas Rani. "Justru, ini lebih enak yang bau keringat daripada bau sabun."

Oji pun langsung terdiam. Matanya terus memperhatikan Rani yang sudah siap untuk menikmati miliknya.

"Ah..." Oji melenguh panjang kala lidah Rani mulai menempel dan menjilat milik Oji dibagian paling ujung.

Baru kali ini Oji merasakan sensasi yang tak pernah dia alami dan rasanya membuat Oji hanya bisa mengeluarkan erangan kenikmatan.

Hingga beberapa puluh detik berjalan, Oji tak kuasa menahan sesuatu yang ingin segera keluar. Kaki Oji menegang dan dia melenguh dengan kencang.

"Ah.... ah... ah..."

Cairan putih dan kental, menyembur, membasahi mulut dan wajah Rani.

"Enak, Sayang?"

"Enak banget, Mbak."

Rani tersenyum. "Sebentar lagi, kamu akan merasakan yang lebih enak lagi loh," ucapnya wanita itu sambil terus memainkan milik Oji.

Oji sendiri turut tersenyum karena dia tahu, maksud dari ucapan wanita cantik tersebut.

#####

Sementara itu, di bumi belahan lain.

"Pokoknya, kita harus menemukan ramuan itu. Jika ada yang menemukannya, kita harus merebutnya. Jika perlu, kita habisi sekalian orang yang menemukannya, oke!"

"Oke!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Bangun Tidur

    "Eugh..." suara khas tanda orang bangun tidur, keluar dari mulut pemuda yang saat tengah terbaring di atas karpet. Tubuhnya pun sedikit bergerak namun tiba-tiba tubuh itu terdiam dan merasa aneh.Anak muda yang akrab dipanggil Oji segera membuka matanya dan melempar tatapan ke arah lain. Betap terkejurnya anak itu kala matanya menangkap seseorang wanita."Kamu sudah bangun?" Dengan entengnya wanita itu malah melempar pertanyaan sambil melempar senyum."Apa yang kamu lakukan, Mbak?" Oji mengangkat tubuhnya sedikit dan wajahnya masih diliputi rasa heran.Wanita itu malah semakin tersenyum lebar dan nampak tersipu. "Maaf, ya, kalau aku lancang. Soalnya aku udah nggak tahan."Oji masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dia lantas mengedarkan pandangannya ke sekitar dan raut herannya semakin kelihatan."Tadi kamu ketiduran. Sampai tokoku tutup kamu nggak bangun-bangun, jadi aku terpaksa tarik tubuh kamu ke dalam," tanpa diminta, wanita yang mengaku janda itu langsung memberi penjelasa

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Di Hari Berikutnya

    "Bukankah itu kotak kayu parfum kita?" Seorang pria nampak kaget begitu melihat benda yang dia kenal, teronggok diantara tumpukan sampah.Sosok pria itu pun mendekat untuk memastikan kalau dia tidak salah lihat. "Tuh, kan, benar, ini kotak ramuan itu, Jo!" Serunya antusias."Loh, iya,"rekan dari pria itu pun tak kalah senang. "Wah, akhirnya kita menemukan petunjuk baru," dia langsung celingukan, memperhatikan sekitarnya. "Kira-kira, sampah ini berasal dari rumah yang mana?""Itu dia yang harus kita cari tahu," ucap sosok yang saat ini mengenakan kaos hitam. "Pasti ini sampah salah satu rumah yang ada di sekiar sini."Sang rekan mengangguk dan mengiyakan. "Ya udah, kita cari rumah yang kehilangan parfum dulu. Setelah itu kita tinggal fokus cari orang yang menemukan kotak parfum ini.""Oke!" Kedua pria itu semakin semangat dalam melakukan usaha pencarian. Sedangkan di tempat lain, orang yang menemukan kotak kayu itu, sedang fokus dengan pekerjaan.Oji saat ini tengah sibuk melayani pem

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Jam Malam

    "Ji, apa mungkin, Arinda marah sama kamu gara-gara dia pengin bermain ranjang juga?" Tiba-tiba Karin melempar pertanyaan yang membuat Oji terperanjat.Anak muda itu menoleh, menatap wanita yang tersenyum kepadanya, lalu Oji berpaling dan memilih memejamkan matanya."Kalau bisa sih, disaat seperti ini, kita jangan membahas orang lain dulu, Mbak," ucap Oji. "Bukankah kamu ngajak aku ke sini, untuk bersenang-senang? Jadi, nggak perlu lah, kita membahas hal yang tidak penting."Sekarang, giliran Karin yang tertegun. Wanita itu lantas tersenyum dan memilih mengalah dengan cara kembali mencium aroma ketiak Oji.Tidak ada obrolan lagi di antara mereka. Hingga beberapa menit berlalu, Karin baru menyadari kalau pria yang baru saja memuaskannya, kini telah terlelap."Sepertinya, kamu capek banget ya, Ji?" Gumam Karin, menatap lekat wajah anak muda yang terlelap. Dia tersenyum, lalu menempelkan bibirnya pada pipi Oji.#####Hingga beberapa jam kemudian, tubuh Oji menunjukan sebuah pergerakan, ya

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Nenek Merasa Janggal

    Dua wanita yang sama-sama sudah memiliki cucu itu masih asyik berbincang. Sedangkan di luar warung, dua pria juga masih dalam kebingungan.Di saat bersamaan, datang lagi seorang wanita, memasuki warung tersebut. Wanita itu lebih muda dan sepertinya dia baru saja pergi karena dia datang menggukan motor maticnya."Eh, ada Nenek Sani," wanita itu terlihat sumringah sambil menyapa wanita yang usianya lebih tua darinya.Sapaan itu bukanya disambut dengan baik, tapi Nenek Sani malah terdiam dengan raut yang menandakan kalau dia terkejut. Nenek Sani cukup kenal dengan sosok wanita muda dan mereka sebenarnya hampir tak bertegur sapa tiap kali bertemu dan terkesan kurang ramah.Maka itu, Nenek Sani kaget, waktu sosok wanita itu bersikap ramah kepadanya. Beruntung, Nenek langsung menyadari sikapnya dan dia segera membalas sapaan dengan senyuman."Mbak Nadia darimana?" Tanya si pemilik warung. "Baru pulang kerja?""Iya nih, Mbok," balas Nadia sambil mencomot satu gorengan tempe. "Mbok aku minta

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Dilema

    Oji tidak langsung mengiyakan. Anak itu memilih diam sambil berpikir untuk mencari alasan, menolak permintaan wanita yang pernah menghinanya.Oji juga yakin, kalau keinginan wanita itu cuma sandiwara saja. Perubahan sikap wanita itu pasti karena dia sudah terhipnotis dengan ketiak Oji.Jika diperhatikan, Karin sebenarnya bukan wanita yang jelek. Bahkan tanpa perawatan khusus, wanita itu memang sudah terlihat cantik sejak dulu.Bentuk badannya pun cukup menggiurkan. Tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk. Benar-benar bentuk tubuh yang dirawat sangat baik."Nggak lah, Mbak," dengan sangat terpaksa, Oji menolak permintaan Karin. "Hari ini, aku sangat lelah, aku ingin istirahat yang lama."Jawaban Oji sontak membuat kaget lawan bicaranya sampai wanita itu menatap tajam dengan kening berkerut."Lelah?" Tanya Karin. "Aku kan cuma ngajak ngobrol, Ji, bukan ngajak melakukan sesuatu yang aneh-aneh."Oji terperanjat mendengar balasan lawan bicaranya. Lalu anak itu cengengesan dan agak sala

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Menghidari Godaan

    Oji diserang gelisah. Anak muda itu yakin, wanita dewasa di depannya, sedang menggoda dan seperti memberi perangkap agar Oji masuk ke dalam jeratannya.Belajar dari pengalaman, gelagat yang ditunjukan lawan bicaranya sama persis yang terjadi pada para wanita sebelumnya. Bukannya Oji tak suka mendapat kesempatan enak lagi. Anak itu takut, jika nasib sial menghampirinya seperti yang dialami tetangga Pamannya beberapa waktu lalu."Kenapa diam? Lagi mikir apa hayo?" Wanita yang belum diketahui namanya kembali mengusik Oji membuat anak itu semakin gelagapan."Nggak mikir apa-apa, Mbak," kilah Oji sambil cengengesan tersipu."Yah, nggak asyik," raut si wanita malah cemberut. "Harusnya mikir aja loh, Mas. Apa mungkin selera kamu bukan janda?"Mata Oji sontak agak terbelalak. Dia tidak menyangka lawan bicaranya bisa berpikiran seperti itu. "Wajar sih, kalau kamu nggak suka janda, kamu masih muda, ganteng, pasti lebib suka yang sama-sama muda, iya kan?""Ya, belum tentu juga sih, Mbak," bal

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status