Share

Kabur

Author: Rcancer
last update publish date: 2026-02-17 07:55:32

Oji terpaku dengan mata hampir tak berkedip. Tiba-tiba dadanya berdegup lebih kencang hanya karena ucapan dari wanita yang meninta tolong kepadanya.

Ketika Oji dapat menguasai dirinya sendiri, kepalanya menoleh ke segala arah dan saat itu juga, Oji menyadari kalau rumah itu sepi.

Pikiran Oji pun semakin kacau. Sungguh, apa yang dikatakan pemilik rumah, membuat benak dan pikiran Oji bertarung hebat sampai membuat anak muda itu resah.

"Aduh, Mbak, nggak deh, aku nggak berani," ucap Oji kemudian agak gugup.

"Kenapa nggak berani?" Mia malah melempar senyum menggoda. "Apa permintaanku terlalu berat?"

Bulu kuduk Oji seketika meremang. Baru kali ini, ada jari tangan wanita yang meraba dadanya dengan lembut, tapi malah membuat Oji merinding.

"Aduh, Mbak, jangan kaya gitu lah," Oji mencoba menghindar dengan menggeser tubuhnya agak menjauh. "Bahaya. Nanti kalau ada yang lihat bisa salah paham."

Mie kembali tersenyum nakal dan dia melangkah lalu berdiri dengan tubuh bagian belakang menempel pada sandaran kursi.

"Kan nggak ada yang tahu kalau kamu ada di rumahku," ucap Mia. "Lagian dari luar juga nggak akan kelihatan. Cuma tiduran di kamar doang kok, Ji. Mau ya?"

Oji semakin gelisah. "Aduh, Mbak, maaf, lebih baik aku pulang aja deh. Aku takut," Oji segera melangkah menuju pintu utama dengan cepat.

"Astaga! Apa yang kamu takutkan, Oji?" Seru Mia tapi Oji tak merespon.

Anak muda itu melangkah cepat keluar rumah, dan menjauh dari wanita yang ditinggal suaminya bekerja di kapal.

"Gila-gila!" Di tengah jalan, di tempat yang cukup sepi, Oji menghentikan langkahnya. "Bisa-bisanya pengin cium ketiakku kok sampai ngajakin tiduran di kamar."

"Kalau kita kebablasan, bisa kasus nanti," Oji terus bergumam lalu dia melanjutkan langkah kakinya menuju rumah.

Begitu sampai rumah, suasanaa di sekitar rumah sudah terlihat sepi. Mungkin tetangga sedang menjalankan pekerjaan masing-masing termasuk Nenek Oji yang tengah bersiap berangkat ke ladang.

Oji duduk di bangku kayu, yang disediakan di depan rumah. Anak muda itu melepas kaosnya untuk mengurangi rasa gerah.

"Nanti kamu nyusul ke ladang nggak, Ji?" tanya Nenek ketika keluar dari rumah.

"Nyusul lah, Nek," balas Oji. "Di rumah juga aku nggak ada kerjaan."

Nenek mengangguk samar. "Ya udah, kalau gitu Nenek berangkat dulu."

Oji mempersilahkan dan tatapanya terus memandang wanita yang telah merawat anak itu sejak sang ibu meninggal dunia disaat usia Oji lima belas tahun.

Begitu Nenek hilang dari pandangan matanya, Oji kembali teringat dengan kejadian yang baru saja dia alami.

"Coba kalau aku menuruti ajakan Mbak Mia, bisa-bisa aku sudah tak perjaka lagi," gumam Oji lirih. "Tapi aku kok malah kabur ya? Padahal diajak tiduran doang.'

Oji tersenyum sendiri kala pikirannya terus mengingat kejadian aneh yang dia alami pagi ini.

"Tapi aku tetap merasa aneh sih. Bagaimana bisa orang yang biasa ketus dan memandang buruk sama aku, tiba-tiba ngajakin tiduran di kamar. Kalau ternyata itu jebakan, namaku bakalan semakin buruk."

Kali ini Oji merasa tindakannya sudah tepat. Anak muda itu lantas masuk ke dalam rumah untuk bersiap menyusul nenek ke ladang.

Selama menjadi pengangguran, Oji memang sering menghabiskan waktunya di ladang. Dia mau melakukan itu karena memang hanya itu yang bisa dia kerjakan.

Oji sebenarnya pernah juga beberapa kali bekerja, bahkan dia pernah merantau. Namun Oji selalu mengalami kejadian yang membuat dia memilih keluar dari pekerjaan.

Oji itu tipe anak yang agak pendiam dan agak susah memulai sebuah hubungan. Tapi kalau sudah kenal dekat, dia bisa berubah menjadi sosok yang sangat hangat.

Sifatnya itu membuat Oji tidak terlalu banyak memiliki teman. Bahkan banyak juga yang menganggap Oji sebagai pria yang angkuh meski bukan anak orang kaya.

Setelah mengisi perutnya dengan sedikit makanan, Oji pun bersiap diri berangkat menuju ke ladang.

Jarak ladang dari rumah tidak terlalu jauh, jadi, dengan jalan kaki selama lima menita saja, Oji sudah sampai.

Sepanjang kaki melangkah, Oji merasa ada yang aneh dengan tatapan beberapa tetangga yang dia temui.

Oji yakin, pasti ini pengaruh dari kejadian semalam dan gosipnya sudah menyebar kemana-mana. Oji pun memilih berusaha bersikap cuek dan terus melangkah.

"Tolong!"

Ketika langkah kaki Oji melewati setapak di tengah kebun orang, yang arahnya tembus menuju area sawah dan ladang, tiba-tiba dia mendengar teriakan yang cukup kencang.

"Tolong!"

Oji celingukan, mencari sumber suara berasal. Tak butuh waktu lama, oji menemukan si pemilik suara yang rumahnya menghadap area sawah.

Oji terpaku. Dia ingin mendekat, tapi Oji kenal betul, siapa sosok yang minta tolong tersebut.

Oji memperhatikan tempat sekitar dan sepertinya tidak ada satu orang pun yang mendengar karena letak rumah sosok itu berdiri sendirian.

"Eh, Oji, Oji, tolong aku!" Sosok itu mendekat dan tanpa basa-basi langsung menarik tangan Oji sampai anak muda itu tersentak.

Begitu sampai di tempat yang dituju, mata Oji langsung melebar dengan apa yang dia saksikan. Apa terlihat menggelegar pada sebuah kompor dan tabung gas.

Oji segera berpikir cepat untuk mengatasi keadaan. Begitu teringat apa yang perlu dilakukan, Oji segera melepas kaosnya, kemudian dia melepas selang regulator dan mengangkat tabung gas menggunakan kaosnya menuju halaman rumah.

Tak hanya itu, Oji juga membasahi kaosnya dengan air lalu meletakkannya di atas tabung gas sampai api berhasil dipadamkan.

"Syukurlah," sosok yang tadi minta tolong terlihat sangat lega. Terima kasih, Ji." Secara spontan tiba-tiba wanita itu memeluk tubuh Oji.

Oji terperanjat. Bahkan dia tidak menunjukan reaksi apapun, hanya jantungnya yang tiba-tiba berdegup lebih cepat.

"Kalau nggak ada kamu, pasti rumahku sudah terbakar, Ji," wanita itu masih memeluk Oji, membuat anak muda itu benar-benar mati gaya.

"Iya, Mbak, sama-sama," balas Oji dengan suara terbata. "Tapi tolong, lepasin aku. Takut, ada orang yang lihat."

Wanita itu nampak tertegun dan dengan sadar dia langsung melepas pelukannya. Suasana pun menjadi agak canggung.

"Tapi, kaos kamu kotor dan basah, Ji, gimana dong?"

"Nggak apa-apa, Mbak, nanti biar aku cuci di sungai dekat ladang," balas Oji.

Wanita itu nampak berpikir beberapa saat dan tak lama kemudian Oji kembali dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan wanita tersebut.

"Oh iya aku juga punya beberapa kaos yang belum ke pakai," ucap si wanita sambil menarik tangan Oji. "Kita masuk dulu ya?"

Mata Oji sampai melebar, tapi dia tidak bisa menolaknya karena hal itu terjadi dengan sangat cepat.

"Kamu tunggu sebentar, Ji," wanita itu meninggalkan Oji di ruang tamu.

"Kenapa Nadia jadi baik banget?" gumam Oji kala wanita itu meninggalkannya. "Katanya dia jijik sama aku, kok tadi peluk aku kencang banget?"

Benak Oji terus bertanya-tanya sampai beberapa menit kemudian, mata Oji seketika melebar kala tatapannya tertuju pada satu arah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Ketika Pulang

    "Ikut aku sekarang!""Kemana?" "Pokoknya ikut!""Maaf, aku nggak bisa."Wanita yang bertamu ke rumah Oji sontak menatap anak muda itu dengan tatapan tajam. Oji sendiri, berusaha menanggapi wanita itu dengan santai. Bahkan anak muda yang saat tengah bertelanjang dada, memilih duduk pada kursi kayu, yang ada di depan teras rumahnya."Kita nggak sedekat itu, Mbak. Jadi kalau mau ada yang dibicarakan, bicara di sini saja," ucap Oji tegas."Kamu berani melawan?" Wanita yang biasa dipanggil Karin terlihat geram."Loh, siapa yang melawan?" Oji lantas menaruh kedua telapak tangannya di belakang kepala.Apa yang dilakukan Oji sontak mengalihkan pandangan serta fokus tamunya. Mata Karin terpaku pada area ketiak anak muda itu untuk kedua kalinya."Kalau ada masalah, ngomong aja langsung, apa masalahnya?" Ucap Oji lagi. Anak muda itu belum menyadari kalau ketiak yang dia pamerkan tanpa sengaja, telah membuat resah wanita yang menjadi tamunya.Karin tidak langsung menjawab dan dia masih saja te

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Masalah Lagi

    "Arinda? Siapa Arinda?" Mira langsung melempar pertanyaan begitu Oji selesai melakukan panggilan telfon dari Neneknya. "Apa yang terjadi? Apa ada masalah?""Arinda tuh cewek yang kemarin ngobrol sama aku di depan kios bakso," jawab Oji. "Aku mau cuci tangan dulu, Mbak."Mira melepaskan pelukannya dan membiarkan Oji melangkah menuju tempat cuci piring. Wanita itu lantas merapikan sisa makanan menjadi dua bagian antara sampah dan yang masih bisa dimakan seperti sate.Setelah cuci tangan, Oji kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa dengan perasaan yang cukup kacau akibat kabar tak enak dari rumahnya."Eh, aku baru sadar, ternyata kamu nggak merokok ya?" Ucap Mira sambil berpindah duduk di sisi Oji.Sebenarnya sih ngerokok, Mbak," jawab Oji. "Cuma kalau lagi benar-benar pengin banget. Nggak terlalu ketergantungan."Mira sontak tersenyum. "Bagus, biar jadi cowok sehat." Wanita itu kembali memainkan isi kolor Oji. "Barusan ada masalah apa di rumah? Kok bisa, keluarga Arinda mencari kamu?""

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Melepas Lelah

    "Sepertinya, Arinda sangat marah?" Gumam Oji yang kini terduduk di bangku kayu depan kios bakso. "Tapi nggak apa-apalah, daripada nanti aku yang dapat masalah."Karena gerah, Oji melepas kaos yang dia kenakan dan mengibas kaos tersebut ke tubuhnya agar terasa segar."Mau hujan lagi apa yah?" Oji kembali bergumam sambil menatap langit yang sudah gelap. "Sepertinya iya, nggak ada bintang satu pun yang kelihatan."Lantas anak muda itu melempar pandangan ke arah lain. "Sepertinya Mbak Mira juga belum pulang. Rumahnya masi gelap."Oji lantas menghela nafas pelan-pelan. "Kayanya, malam ini aku libur berhubungan badan dulu, deh."Oji baru menyadari, sejak menemukan parfum misterius dan menggunakannya, hampir tiap malam, anak itu melakukan hubungan ranjang dengan beberapa wanita.Anak muda itu juga heran sendiri, kenapa isi celananya bisa kuat banget? Apa mungkin, ini ada hubungannya dengan parfum misterius itu?Bahkan setiap kali mencapai klimaks, Oji merasa mampu menyeburkan benih dalam jum

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Kejutan Dari Arinda

    "Heh! Kamu mau ngapain!" Oji langsung bersuara keras kala matanya menangkap sosok wanita yang tadi ngobrol dengannya, berjalan cepat dan masuk ke dalam kios bakso.Oji segera bangkit dan menyusul wanita yang akhir-akhir ini sikapnya sangat aneh. "Kamu mau ngapain sih?" Sungut anak muda itu begitu dekat dengan Arinda."Pengin lihat-lihat doang," jawab Arinda dengan sikap santai tapi berhasil membuat Oji kesal. "Tempatnya enak ya, Ji, nyaman."Oji hanya mendengus. Dari raut wajahnya saja, sudah cukup membuktikan kalau anak muda itu ingin memaksa Arinda keluar."Kalau kamu nginap di sini, berarti kamu tidurnya dimana, Ji?" tanya wanita dengan rambut ikal dan panjang hampir sebahu. "Di lantai atas apa?""Emangnya kenapa?" Oji malah melempar pertanyaan dengan sikap tak suka."Tanya doang, Ji, ya elah, galak amat," balas Arinda malah meledek. "Kamu di sini sendirian? Emang kamu berani?" Oji kembali mendengus dan dia memilih duduk pada salah satu kursi tanpa ada niat menjawab pertanyaan yan

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Di Depan Kios Bakso

    Rasa penasaran Oji semakin besar. Apa lagi setelah dia mendengar ucapan lawan bicaranya tentang keistimewaan isi kotak kayu, membuat anak muda itu, ingin mengetahui informasi lebih banyak lagi."Ji! Oji!" Sang Paman tiba-tiba memanggil dan mau tidak mau obrolan itu harus berakhir. "Iya, Paman!" Seru Oji sambil bergegas menghampiri Pamannya.Sedangkan pria berkaos hitam hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, memandang kepergian Oji. Tak lama setelahnya, dia juga keluar menghampir rekannya yang tengah bermain ponsel.Oji kembali menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Hingga menjelang pukul enam sore, stok bakso benar-benar habis.Oji dan Paman Rafid nampak sangat senang. Mereka segera menutup kios bakso, agar tak ada pengunjung yang datang."Kamu mau nginep lagi apa?" tanya sang Paman sambil beres-beres tempat dagangannya."Nggak tahu, Paman, bingung," balas Oji. "Tapi aku sudah bawa ganti baju sih.""Ya udah nginep di sini lagi aja," balas sang Paman. "Di rumah la

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Tentang Parfum Itu

    Disaat Oji sedang merapikan meja, anak itu mendengar suara seseorang memanggil. Ketika anak muda itu menoleh, matanya menangkap dua pria dewasa menatap dirinya dan salah satu dari mereka, meminta Oji untuk mendekat."Iya, Mas, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Oji setelah yakin kalau pria itu memanggil dirinya dan dia langsung mendekat.Pria yang saat ini mengenakan kaos berwarna hitam tidak langsung menjawabnya. Namun, pria itu merogoh tas yang dibawanya lalu mengeluarka sesuatu dan menunjukkannya kepada Oji.Seketika Oji terperanjat, barang yang ditunjukan pria berkaos hitam, adalah sebuah kotak kayu yang bentuk dan warna serta motifnya, sama persis dengan yang Oji temukan."Kamu pernah lihat benda seperti ini nggak?" Tanya pria berkaos hitam.Oji tidak langsung menjawab. Dia justru terdiam dengan memperhatikan kotak kayu itu serta dua pria yang menunggu jawaban darinya."Enggak, Mas," tak lama kemudian Oji pun terpaksa berbohong meski rasa penasaran turut menguat dalam benaknya."Oh

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Jadi Pendusta

    Oji pulang dengan perasaan bahagia. Sampai detik ini, dia masih takjub dan hampir tak percaya dengan perubahan jalan hidup yang dia alami dua hari terakhir ini.Di dalam kamarnya, Oji kembali mengenang setiap kejadian yang dia lalui. Terutama kebersamaannya dengan tiga wanita yang membuat dirinya m

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Ramuan Pemikat Hasrat   Pemaksaan

    Oji saat ini tengah duduk santai sambil beristirahat melepas lelah sambil memperhatikan orang-orang yang ada di lapangan.Namun, secara tiba-tiba, dia terperanjat kala anak muda itu merasakan sesuatu pada pinggangnya.Dengan cepat Oji menunduk. Mata anak itu langsung melebar kala menyaksikan dua ta

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Ramuan Pemikat Hasrat   Barang Yang Sama

    "Loh, itu kan..." Oji tercenung beberapa saat kala matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang tergeletak di atas meja.Rasa penasaran seketika menyeruak dalam benaknya dan Oji sempat memperhatikan dua pria yang memesan bakso di sana.Ingin rasanya Oji bertanya. Namun, entah kenapa dia merasa berat

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Ramuan Pemikat Hasrat   Wah.... Dapat Bonus

    Langkah Oji seketika terhenti kala matanya menangkap sosok yang dia kenal, sedang bercanda bersama teman-teman barunya.Ada rasa iri dan kesal kala Oji melihat kebersamaan mantan sahabatnya yang nampak bahagia, berteman dengan orang-orang yang membenci Oji. Namun, dia segera menyadari kekuranganny

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status