เข้าสู่ระบบOji terpaku dengan mata hampir tak berkedip. Tiba-tiba dadanya berdegup lebih kencang hanya karena ucapan dari wanita yang meninta tolong kepadanya.
Ketika Oji dapat menguasai dirinya sendiri, kepalanya menoleh ke segala arah dan saat itu juga, Oji menyadari kalau rumah itu sepi. Pikiran Oji pun semakin kacau. Sungguh, apa yang dikatakan pemilik rumah, membuat benak dan pikiran Oji bertarung hebat sampai membuat anak muda itu resah. "Aduh, Mbak, nggak deh, aku nggak berani," ucap Oji kemudian agak gugup. "Kenapa nggak berani?" Mia malah melempar senyum menggoda. "Apa permintaanku terlalu berat?" Bulu kuduk Oji seketika meremang. Baru kali ini, ada jari tangan wanita yang meraba dadanya dengan lembut, tapi malah membuat Oji merinding. "Aduh, Mbak, jangan kaya gitu lah," Oji mencoba menghindar dengan menggeser tubuhnya agak menjauh. "Bahaya. Nanti kalau ada yang lihat bisa salah paham." Mie kembali tersenyum nakal dan dia melangkah lalu berdiri dengan tubuh bagian belakang menempel pada sandaran kursi. "Kan nggak ada yang tahu kalau kamu ada di rumahku," ucap Mia. "Lagian dari luar juga nggak akan kelihatan. Cuma tiduran di kamar doang kok, Ji. Mau ya?" Oji semakin gelisah. "Aduh, Mbak, maaf, lebih baik aku pulang aja deh. Aku takut," Oji segera melangkah menuju pintu utama dengan cepat. "Astaga! Apa yang kamu takutkan, Oji?" Seru Mia tapi Oji tak merespon. Anak muda itu melangkah cepat keluar rumah, dan menjauh dari wanita yang ditinggal suaminya bekerja di kapal. "Gila-gila!" Di tengah jalan, di tempat yang cukup sepi, Oji menghentikan langkahnya. "Bisa-bisanya pengin cium ketiakku kok sampai ngajakin tiduran di kamar." "Kalau kita kebablasan, bisa kasus nanti," Oji terus bergumam lalu dia melanjutkan langkah kakinya menuju rumah. Begitu sampai rumah, suasanaa di sekitar rumah sudah terlihat sepi. Mungkin tetangga sedang menjalankan pekerjaan masing-masing termasuk Nenek Oji yang tengah bersiap berangkat ke ladang. Oji duduk di bangku kayu, yang disediakan di depan rumah. Anak muda itu melepas kaosnya untuk mengurangi rasa gerah. "Nanti kamu nyusul ke ladang nggak, Ji?" tanya Nenek ketika keluar dari rumah. "Nyusul lah, Nek," balas Oji. "Di rumah juga aku nggak ada kerjaan." Nenek mengangguk samar. "Ya udah, kalau gitu Nenek berangkat dulu." Oji mempersilahkan dan tatapanya terus memandang wanita yang telah merawat anak itu sejak sang ibu meninggal dunia disaat usia Oji lima belas tahun. Begitu Nenek hilang dari pandangan matanya, Oji kembali teringat dengan kejadian yang baru saja dia alami. "Coba kalau aku menuruti ajakan Mbak Mia, bisa-bisa aku sudah tak perjaka lagi," gumam Oji lirih. "Tapi aku kok malah kabur ya? Padahal diajak tiduran doang.' Oji tersenyum sendiri kala pikirannya terus mengingat kejadian aneh yang dia alami pagi ini. "Tapi aku tetap merasa aneh sih. Bagaimana bisa orang yang biasa ketus dan memandang buruk sama aku, tiba-tiba ngajakin tiduran di kamar. Kalau ternyata itu jebakan, namaku bakalan semakin buruk." Kali ini Oji merasa tindakannya sudah tepat. Anak muda itu lantas masuk ke dalam rumah untuk bersiap menyusul nenek ke ladang. Selama menjadi pengangguran, Oji memang sering menghabiskan waktunya di ladang. Dia mau melakukan itu karena memang hanya itu yang bisa dia kerjakan. Oji sebenarnya pernah juga beberapa kali bekerja, bahkan dia pernah merantau. Namun Oji selalu mengalami kejadian yang membuat dia memilih keluar dari pekerjaan. Oji itu tipe anak yang agak pendiam dan agak susah memulai sebuah hubungan. Tapi kalau sudah kenal dekat, dia bisa berubah menjadi sosok yang sangat hangat. Sifatnya itu membuat Oji tidak terlalu banyak memiliki teman. Bahkan banyak juga yang menganggap Oji sebagai pria yang angkuh meski bukan anak orang kaya. Setelah mengisi perutnya dengan sedikit makanan, Oji pun bersiap diri berangkat menuju ke ladang. Jarak ladang dari rumah tidak terlalu jauh, jadi, dengan jalan kaki selama lima menita saja, Oji sudah sampai. Sepanjang kaki melangkah, Oji merasa ada yang aneh dengan tatapan beberapa tetangga yang dia temui. Oji yakin, pasti ini pengaruh dari kejadian semalam dan gosipnya sudah menyebar kemana-mana. Oji pun memilih berusaha bersikap cuek dan terus melangkah. "Tolong!" Ketika langkah kaki Oji melewati setapak di tengah kebun orang, yang arahnya tembus menuju area sawah dan ladang, tiba-tiba dia mendengar teriakan yang cukup kencang. "Tolong!" Oji celingukan, mencari sumber suara berasal. Tak butuh waktu lama, oji menemukan si pemilik suara yang rumahnya menghadap area sawah. Oji terpaku. Dia ingin mendekat, tapi Oji kenal betul, siapa sosok yang minta tolong tersebut. Oji memperhatikan tempat sekitar dan sepertinya tidak ada satu orang pun yang mendengar karena letak rumah sosok itu berdiri sendirian. "Eh, Oji, Oji, tolong aku!" Sosok itu mendekat dan tanpa basa-basi langsung menarik tangan Oji sampai anak muda itu tersentak. Begitu sampai di tempat yang dituju, mata Oji langsung melebar dengan apa yang dia saksikan. Apa terlihat menggelegar pada sebuah kompor dan tabung gas. Oji segera berpikir cepat untuk mengatasi keadaan. Begitu teringat apa yang perlu dilakukan, Oji segera melepas kaosnya, kemudian dia melepas selang regulator dan mengangkat tabung gas menggunakan kaosnya menuju halaman rumah. Tak hanya itu, Oji juga membasahi kaosnya dengan air lalu meletakkannya di atas tabung gas sampai api berhasil dipadamkan. "Syukurlah," sosok yang tadi minta tolong terlihat sangat lega. Terima kasih, Ji." Secara spontan tiba-tiba wanita itu memeluk tubuh Oji. Oji terperanjat. Bahkan dia tidak menunjukan reaksi apapun, hanya jantungnya yang tiba-tiba berdegup lebih cepat. "Kalau nggak ada kamu, pasti rumahku sudah terbakar, Ji," wanita itu masih memeluk Oji, membuat anak muda itu benar-benar mati gaya. "Iya, Mbak, sama-sama," balas Oji dengan suara terbata. "Tapi tolong, lepasin aku. Takut, ada orang yang lihat." Wanita itu nampak tertegun dan dengan sadar dia langsung melepas pelukannya. Suasana pun menjadi agak canggung. "Tapi, kaos kamu kotor dan basah, Ji, gimana dong?" "Nggak apa-apa, Mbak, nanti biar aku cuci di sungai dekat ladang," balas Oji. Wanita itu nampak berpikir beberapa saat dan tak lama kemudian Oji kembali dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan wanita tersebut. "Oh iya aku juga punya beberapa kaos yang belum ke pakai," ucap si wanita sambil menarik tangan Oji. "Kita masuk dulu ya?" Mata Oji sampai melebar, tapi dia tidak bisa menolaknya karena hal itu terjadi dengan sangat cepat. "Kamu tunggu sebentar, Ji," wanita itu meninggalkan Oji di ruang tamu. "Kenapa Nadia jadi baik banget?" gumam Oji kala wanita itu meninggalkannya. "Katanya dia jijik sama aku, kok tadi peluk aku kencang banget?" Benak Oji terus bertanya-tanya sampai beberapa menit kemudian, mata Oji seketika melebar kala tatapannya tertuju pada satu arah."Aaahhh!" Suara teriakan tiba-tiba mengusik ketenangan Oji dan Neneknya yang sedang menikmati hidangan sederhana sambil melepas lelah.Kedua orang itu serentak melempar pandangan ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya mereka dengan apa yang mereka saksikan, tak jauh dari ladang mereka."Ji, Ji, tolongin dia, Ji, cepat!" Dengan sigap Nenek langsung meminta cucunya untuk segera mengambil tindakan. Oji pun langsung bereaksi. Anak muda itu segera bangkit untuk memberi bantuan pada sosok perempuan yang terperosok ke dalam sawah.Begitu sampai di lokasi, Oji langsung turun ke sawah untuk membantu wanita itu. Setelah wanita berhasil berdiri, lantas Oji membantunya naik ke atas.Ketika si wanita berhasil naik, sekarang, Oji tinggal mencoba menaikan motor ke tempat yang sama. Meski cukup kesulitan, tapi akhirnya Oji berhasil mendorong motor itu ke jalan."Mbak Rani nggak apa-apa?" Nenek yang sudah berada di dekat lokasi kejadian, sontak melempar pertanyaan yang membuat cucunya terkejut.
Mata Oji hampir tak berkedip, begitu si pemilik rumah kembali menghampirinya. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang dan wajahnya nampak gelisah."Nih, ada beberapa kaos baru yang masih aku simpan," dengan santai, si pemilik rumah yang akrab bernama Nadia, menunjukan lima kaos yang masih terbungkus rapi di dalam plastik kemasan.Dia seakan tidak menyadari kalau pria yang usianya lebih muda darinya, kini sedang dilanda resah luar biasa karena wanita itu."Kenapa malah bengong," suara Nadia sontak mengagetkan Oji yang terdiam dengan pikiran berkelana kemana-mana. "Apa kamu tertarik dengan kaos yang aku pakai, ini juga baru loh."Oji hanya bisa meringis. Penampilan wanita itu benar-benar membuat jiwa lelaki Oji bangkit dan dia berusaha untuk mengendalikan keadaan dirinya.Entah alasan apa yang membuat Nadia mengganti pakaian yang tadi dia kenakan. Namun yang pasti, saat ini wanita cantik itu terlihat lebih seksi setelag menggunakan kaos longgar dan memperlihatkan pahanya yang putih dan mu
Oji terpaku dengan mata hampir tak berkedip. Tiba-tiba dadanya berdegup lebih kencang hanya karena ucapan dari wanita yang meninta tolong kepadanya.Ketika Oji dapat menguasai dirinya sendiri, kepalanya menoleh ke segala arah dan saat itu juga, Oji menyadari kalau rumah itu sepi.Pikiran Oji pun semakin kacau. Sungguh, apa yang dikatakan pemilik rumah, membuat benak dan pikiran Oji bertarung hebat sampai membuat anak muda itu resah."Aduh, Mbak, nggak deh, aku nggak berani," ucap Oji kemudian agak gugup."Kenapa nggak berani?" Mia malah melempar senyum menggoda. "Apa permintaanku terlalu berat?"Bulu kuduk Oji seketika meremang. Baru kali ini, ada jari tangan wanita yang meraba dadanya dengan lembut, tapi malah membuat Oji merinding."Aduh, Mbak, jangan kaya gitu lah," Oji mencoba menghindar dengan menggeser tubuhnya agak menjauh. "Bahaya. Nanti kalau ada yang lihat bisa salah paham."Mie kembali tersenyum nakal dan dia melangkah lalu berdiri dengan tubuh bagian belakang menempel pada
Ketika hari berganti, Oji kali ini bangun lebih pagi dari biasanya.Karena tidak ada pekerjaan penting yang harus dilakukan, pemuda berusia dua puluh satu tahun itu memutuskan untuk berolahraga.Hari ini Oji sudah mempersiapkan hati dan jiwanya untuk menghadapi gunjingan para tetanggga, akibat peristiwa semalam di rumahnya.Oji yakin, beberapa tetangga pasti melihat kedatangan keluarga Cokro dan menyangkut pautkan mereka dengan desas-desus yang melibatkan anak Pak Cokro dengan Oji.Sebelum keluar kamar, sejenak tatapan Oji terusik pada botol parfum yang dia temukan semalam. Oji pun mencium ketiaknya sendiri dan rasa heran seketika tergambar dalam wajahnya."Sebenarnya ini parfum bukan sih?" Gumam Oji menatap botol yang sudah berada di tangannya.Masih dengan rasa penasaran yang besar, anak itu kembali menyemprotkan cairan tersebut hingga membasahi bulu ketiaknya.Setelah beberapa detik dia terdiam dengan rasa penasarannya, akhirnya Oji memutuskan keluar kamar untuk menunaikan niatnya.
Oji melajukan motornya menuju suatu tempat. Ketika Oji melewati sebuah bangunan, matanya tak sengaja melihat wajah yang dia kenal berada di teras bangunan tersebut.Oji segera menghentikan laju motornya dan matanya menatap wajah-wajah itu dengan tatapan terkejut sekaligus heran."Oh, jadi seperti itu kelakuanmu di belakangku," ucap Oji. Tatapannya penuh amarah dan rasa kecewa.Oji terdiam beberapa saat, memikirkan tindakan apa yang akan dia lakukan kepada salah satu wajah yang dia kenal itu.Setelah mempertimbangkan segalanya, Oji akhirnya memutuskan mendekat dan menemui wajah itu."Oji?" seseorang nampak kaget kala matanya menangkap sosok yang dia kenal berada di dekatnya.Suara sosok itu pun sontak mengalihkan semua mata yang sedang berkumpul di satu tempat dan mereka menunjukan beragam reaksi."Kamu ngapain ke sini?" tanya sosok anak muda yang saat ini mengenakan kaos biru. "Mau gabung sama kita?" Senyum dan tatapannya terlihat sangat mengejekOji memilih diam tapi kakinya terus me
Gemuruh suara petir menggelegar. Menyentak sebagian umat manusia yang sedang terkurung air dari langit. Hujan deras disertai angin dan petir masih mengguyur sebagian wilayah bumi. Udara begitu terasa dingin hingga menyebabkan sebagian penduduk di salah satu muka bumi memilih merapatkan tubuhnya dengan selimut atau apapun yang bisa digunakan untuk menghalau rasa dingin yang menerpa kulit mereka.Tapi tidak dengan seorang pemuda, yang saat ini tengah ada di rumahnya yang sangat sederhana. Pemuda itu tengah menghadapi satu keluarga terpandang yang menemui pemuda itu dengan amarah yang meledak."Kamu menyukai anakku? Apa kamu sedang bermimpi!" Ucap lantang seorang pria paru baya terdengar seperti petir yang baru saja menyambar. Pria paruh baya itu menatap penuh benci dan ejekan kepada pemuda yang sedang tertunduk menahan amarah dan malu. "Kamu ini hanya pemuda miskin tak berpendidikan, pengangguran, berani-beraninya menyukai anak saya, apa kamu nggak bisa ngaca, hah!" Pemuda itu agak







