เข้าสู่ระบบMata Oji hampir tak berkedip, begitu si pemilik rumah kembali menghampirinya. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang dan wajahnya nampak gelisah.
"Nih, ada beberapa kaos baru yang masih aku simpan," dengan santai, si pemilik rumah yang akrab bernama Nadia, menunjukan lima kaos yang masih terbungkus rapi di dalam plastik kemasan. Dia seakan tidak menyadari kalau pria yang usianya lebih muda darinya, kini sedang dilanda resah luar biasa karena wanita itu. "Kenapa malah bengong," suara Nadia sontak mengagetkan Oji yang terdiam dengan pikiran berkelana kemana-mana. "Apa kamu tertarik dengan kaos yang aku pakai, ini juga baru loh." Oji hanya bisa meringis. Penampilan wanita itu benar-benar membuat jiwa lelaki Oji bangkit dan dia berusaha untuk mengendalikan keadaan dirinya. Entah alasan apa yang membuat Nadia mengganti pakaian yang tadi dia kenakan. Namun yang pasti, saat ini wanita cantik itu terlihat lebih seksi setelag menggunakan kaos longgar dan memperlihatkan pahanya yang putih dan mulus. "Nggak usah lah, Mbak," tolak Oji lembut. "Biar nanti aku cuci kaosku aja." "Eh, nggak boleh gitu," dengan tegas Nadia melarangnya. "Apa kamu takut, aku berbuat macam-macam?" Oji sontak menatap lawan bicaranya. "Aku tahu, kamu pasti benci aku kan? Karena aku masih saudaranya Paman Cokro?" Terka wanita itu sadar diri. Oji pun tersenyum dan dia mengangguk. Nadia juga tersenyum tipis. "Kalau dipikir-pikir, keluargaku aja yang keterlalaluan sama kamu. Padahal banyak laki-laki lain juga yang mengagumi dan menghayalkan Arinda. Tapi keluargaku cuma menyudutkan kamu." Oji tidak memberi respon apapun. Faktanya memang seperti itu, dia hanya sebatas mengagumi dan tak berharap untuk memiliki. "Tapi benar nggak sih, kalau hendak membawa foto Arinda ke dukun dan mengguna-guna anak itu?" Oji langsung menggeleng. "Siapa yang ngomong, Mbak?" Anak muda itu hampak terkejut mendapat pertanyaan dari Nadia. "Erik," Nadia. "Katanya dia dengar dari Tio." Seketika Oji tersenyum sinis. Dia sudah menduga pasti Tio biang keroknya. "Padahal aku hanya bercanda loh, waktu cerita sama Tio," terang Oji. "Aku cuma mengatakan cinta ditolak dukun bertindak. Eh, malah dianggap serius." Nadia lantas tersenyum. "Jadi, semua yang dikatakan Tio itu bohong?" "Ya bohong lah, Mbak," balas Oji. "Aku ya sadar diri, mana mungkin juga Arinda suka sama aku. Aku nggak pernah berharap malah." Senyum Nadia semakin melebar. "Ya udah kamu mau kaos yang mana? Atau nggak usah pakai kaos aja. Kamu kelihatan ganteng kok kalau nggak pakai baju gitu." Oji sontak terperanjat. "Ganteng? Ganteng darimana?" Saat itu juga dia jadi salah tingkah sendiri. "Dari mataku lah, Ji," balas Nadia. "Kayanya, kalau kolor kamu dilepaskan, kamu juga makin kelihatan gagah deh." Mata Oji kembali melebar, menatap wanita yang tersenyum kepadanya. Oji tidak menyangka wanita cantik yang pernah turut menghinanya bisa bicara seberani itu. "Kamu pernah tanpa busana di depan cewek nggak, Ji?" Oji sontak menggeleng tanpa bersuara. "Masa belum pernah?" Oji sontak tersenyum salah tingkah lalu dia menggeleng. "Nggak pengin coba?" Raut wajah Oji kembali berubah dan tatapanya mengandung pertanyaan balik pada Nadia. "Kamu nggak pengin mencoba, melepaskan semua pakaian kamu di depan cewek?" Nadia mempertegas maksud pertanyaaannya. Dan reaksi Oji masih sama, syok dan tak percaya dengan apa yang dia dengar. "Aduh, pertanyaannya aneh-aneh aja, Mbak," balas Oji. "Ya udahlah, Mbak, aku pamit dulu, mau ke ladang." "Ke ladang?" Nadia malah bertanya balik. "Kamu suka kerja di ladang?" Oji mengangguk. "Ladangnya Kakek, Mbak," jawabnya. Nadia menganggguk paham. "Aku juga punya ladang, Ji, tapi lama nggak dibajak, sampai kering banget." "Loh, kok bisa?" Oji sontak bertanya karena cukup tertarik. "Kenapa dianggurin, Mbak. Sayang banget." Nadia sontak tersenyum. "Ya gitu lah, Ji, sejak aku menjanda, ladangku terbengkalai." "Duh, sayang banget ya, Mbak," balas Oji terlihat ikut prihatin. "Kenapa nggak nyuruh orang buat menggarap ladang kamu, Mbak?" "Iya juga sih," balas Nadia. "Gimana kalau aku minta tolong kamu buat merawat ladangku?" "Aku?" Oji terkejut. "Iya," dengan antusias Nadia menjawabnya. "Kamu kan sudah biasa menggarap ladang, pasti kamu nggak akan kesulitan dong menggarap ladangku." Oji terdiam dan dia nampak berpikir. "Apa ladangnya luas?" "Nggak terlalu sih," balas Nadia nampak sangat serius. "Tapi aku jamin, kamu pasti bakalan suka jika sudah melihatnya." "Emang ladangnya di mana, Mbak?" Oji masih bertanya dengan polosnya. "Kali aja aku pernah lihat." "Yang pasti, kamu belum pernah lihat lah," balas Nadia makin antusias. "Tapi kalau kamu mau lihat boleh aja sih. Mau lihat sekarang?" "Emang ladangnya dekat?" balas Oji turut bersemangat. "Kalau dekat ya boleh, Mbak. Aku pengin lihat." Seketika Nadia langsung tersenyum nakal. Wanita itu lantas bangkit dari duduknya dan Oji terlihat kaget kala Nadia justru duduk di sisinya. "Loh, kenapa kamu malah duduk, Mbak? Katanya mau nunjukin ladang?" Tanya Oji kebingungan. "Ini mau aku tunjukkan," jawab Nadia sambil senyum-senyum. Sedangkan Oji semakin tak mengerti. "Kamu lepaskan aja bajuku, di balik baju ini, ada ladang yang siap untuk kamu bajak, Sayang." Mulut dan mata Oji melebar. Anak muda itu bahkan secara reflek langsung berdiri karena rasa terkejut yang menyergapnya. "Kenapa malah berdiri? Katanya pengin lihat ladangku?' Tiba-tiba tubuh Oji agak gemetar. Dia cukup syok kalau ternyata ladang yang dimaksud Nadia bukan ladang biasa. "Nggak deh, Mbak, nggak jadi," balas Oji cepat. "Aku permisi dulu, Mbak." Anak itu langsung melesat begitu saja. "Loh, Oji, tunggu dulu, heh!" Oji melangkah cepat dengan perasaan yang cukup bergejolak. Dia sangat tidak menyangka akan mengalami kejadian yang mengusik jiwa lelakinya. Sepanjang kaki melangkah mulut Oji terus bergumam. Karena baru mengalami kejadian seperti itu, entah kenapa Oji justru malah merasa takut. "Kamu kenapa, Ji? Kok ngomong sendirian?" Tiba-tiba langkah Oji terhenti kala telinganya mendengar suara yang cukup familiar. Ketika Oji mengedarkan pandangannya, dia seketika sadar kalau langkah kakinya telah sampai di ladang milik Kakeknya. Seketika Oji senyum-senyum sendiri. "Lagi nyanyi, Nek," ucapnya. "Terus kenapa kamu ke sini nggak pakai baju?" Oji pun sontak memperhatikan dirinya. "Astaga! Kenapa aku bisa sampai lupa begini?" Si Nenek hanya menggelengkan kepalanya. "Ya udah, kamu kumpulin melinjo yang kulitnya sudah menguning dan merah. Sebentar lagi akan ada orang yang mau ngambil." Oji menjawab dengan antusias. Dia segera menjalankan perintah Neneknya meski pikirannya masih tertuju pada godaan yang menguji kejantannya. Hingga menjelang tengah hari, Oji berhasil mengumpulkan melinjo sebanyak satu karung. Oji pun melepas lelah sambil menikmati makanan sederhana yang dibawa neneknya di dalam sebuah gubug. "Sepertinya mau hujan lagi," ucap Nenek. "Pasti itu, Nek, udah mendung banget," balas Oji. Keduanya pun nampak asyik bercengkrama. Hingga beberapa menit kemudian, keduanya dibuat terkejut saat mata mereka menyaksikan sesuatu."Aaahhh!" Suara teriakan tiba-tiba mengusik ketenangan Oji dan Neneknya yang sedang menikmati hidangan sederhana sambil melepas lelah.Kedua orang itu serentak melempar pandangan ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya mereka dengan apa yang mereka saksikan, tak jauh dari ladang mereka."Ji, Ji, tolongin dia, Ji, cepat!" Dengan sigap Nenek langsung meminta cucunya untuk segera mengambil tindakan. Oji pun langsung bereaksi. Anak muda itu segera bangkit untuk memberi bantuan pada sosok perempuan yang terperosok ke dalam sawah.Begitu sampai di lokasi, Oji langsung turun ke sawah untuk membantu wanita itu. Setelah wanita berhasil berdiri, lantas Oji membantunya naik ke atas.Ketika si wanita berhasil naik, sekarang, Oji tinggal mencoba menaikan motor ke tempat yang sama. Meski cukup kesulitan, tapi akhirnya Oji berhasil mendorong motor itu ke jalan."Mbak Rani nggak apa-apa?" Nenek yang sudah berada di dekat lokasi kejadian, sontak melempar pertanyaan yang membuat cucunya terkejut.
Mata Oji hampir tak berkedip, begitu si pemilik rumah kembali menghampirinya. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang dan wajahnya nampak gelisah."Nih, ada beberapa kaos baru yang masih aku simpan," dengan santai, si pemilik rumah yang akrab bernama Nadia, menunjukan lima kaos yang masih terbungkus rapi di dalam plastik kemasan.Dia seakan tidak menyadari kalau pria yang usianya lebih muda darinya, kini sedang dilanda resah luar biasa karena wanita itu."Kenapa malah bengong," suara Nadia sontak mengagetkan Oji yang terdiam dengan pikiran berkelana kemana-mana. "Apa kamu tertarik dengan kaos yang aku pakai, ini juga baru loh."Oji hanya bisa meringis. Penampilan wanita itu benar-benar membuat jiwa lelaki Oji bangkit dan dia berusaha untuk mengendalikan keadaan dirinya.Entah alasan apa yang membuat Nadia mengganti pakaian yang tadi dia kenakan. Namun yang pasti, saat ini wanita cantik itu terlihat lebih seksi setelag menggunakan kaos longgar dan memperlihatkan pahanya yang putih dan mu
Oji terpaku dengan mata hampir tak berkedip. Tiba-tiba dadanya berdegup lebih kencang hanya karena ucapan dari wanita yang meninta tolong kepadanya.Ketika Oji dapat menguasai dirinya sendiri, kepalanya menoleh ke segala arah dan saat itu juga, Oji menyadari kalau rumah itu sepi.Pikiran Oji pun semakin kacau. Sungguh, apa yang dikatakan pemilik rumah, membuat benak dan pikiran Oji bertarung hebat sampai membuat anak muda itu resah."Aduh, Mbak, nggak deh, aku nggak berani," ucap Oji kemudian agak gugup."Kenapa nggak berani?" Mia malah melempar senyum menggoda. "Apa permintaanku terlalu berat?"Bulu kuduk Oji seketika meremang. Baru kali ini, ada jari tangan wanita yang meraba dadanya dengan lembut, tapi malah membuat Oji merinding."Aduh, Mbak, jangan kaya gitu lah," Oji mencoba menghindar dengan menggeser tubuhnya agak menjauh. "Bahaya. Nanti kalau ada yang lihat bisa salah paham."Mie kembali tersenyum nakal dan dia melangkah lalu berdiri dengan tubuh bagian belakang menempel pada
Ketika hari berganti, Oji kali ini bangun lebih pagi dari biasanya.Karena tidak ada pekerjaan penting yang harus dilakukan, pemuda berusia dua puluh satu tahun itu memutuskan untuk berolahraga.Hari ini Oji sudah mempersiapkan hati dan jiwanya untuk menghadapi gunjingan para tetanggga, akibat peristiwa semalam di rumahnya.Oji yakin, beberapa tetangga pasti melihat kedatangan keluarga Cokro dan menyangkut pautkan mereka dengan desas-desus yang melibatkan anak Pak Cokro dengan Oji.Sebelum keluar kamar, sejenak tatapan Oji terusik pada botol parfum yang dia temukan semalam. Oji pun mencium ketiaknya sendiri dan rasa heran seketika tergambar dalam wajahnya."Sebenarnya ini parfum bukan sih?" Gumam Oji menatap botol yang sudah berada di tangannya.Masih dengan rasa penasaran yang besar, anak itu kembali menyemprotkan cairan tersebut hingga membasahi bulu ketiaknya.Setelah beberapa detik dia terdiam dengan rasa penasarannya, akhirnya Oji memutuskan keluar kamar untuk menunaikan niatnya.
Oji melajukan motornya menuju suatu tempat. Ketika Oji melewati sebuah bangunan, matanya tak sengaja melihat wajah yang dia kenal berada di teras bangunan tersebut.Oji segera menghentikan laju motornya dan matanya menatap wajah-wajah itu dengan tatapan terkejut sekaligus heran."Oh, jadi seperti itu kelakuanmu di belakangku," ucap Oji. Tatapannya penuh amarah dan rasa kecewa.Oji terdiam beberapa saat, memikirkan tindakan apa yang akan dia lakukan kepada salah satu wajah yang dia kenal itu.Setelah mempertimbangkan segalanya, Oji akhirnya memutuskan mendekat dan menemui wajah itu."Oji?" seseorang nampak kaget kala matanya menangkap sosok yang dia kenal berada di dekatnya.Suara sosok itu pun sontak mengalihkan semua mata yang sedang berkumpul di satu tempat dan mereka menunjukan beragam reaksi."Kamu ngapain ke sini?" tanya sosok anak muda yang saat ini mengenakan kaos biru. "Mau gabung sama kita?" Senyum dan tatapannya terlihat sangat mengejekOji memilih diam tapi kakinya terus me
Gemuruh suara petir menggelegar. Menyentak sebagian umat manusia yang sedang terkurung air dari langit. Hujan deras disertai angin dan petir masih mengguyur sebagian wilayah bumi. Udara begitu terasa dingin hingga menyebabkan sebagian penduduk di salah satu muka bumi memilih merapatkan tubuhnya dengan selimut atau apapun yang bisa digunakan untuk menghalau rasa dingin yang menerpa kulit mereka.Tapi tidak dengan seorang pemuda, yang saat ini tengah ada di rumahnya yang sangat sederhana. Pemuda itu tengah menghadapi satu keluarga terpandang yang menemui pemuda itu dengan amarah yang meledak."Kamu menyukai anakku? Apa kamu sedang bermimpi!" Ucap lantang seorang pria paru baya terdengar seperti petir yang baru saja menyambar. Pria paruh baya itu menatap penuh benci dan ejekan kepada pemuda yang sedang tertunduk menahan amarah dan malu. "Kamu ini hanya pemuda miskin tak berpendidikan, pengangguran, berani-beraninya menyukai anak saya, apa kamu nggak bisa ngaca, hah!" Pemuda itu agak







