Share

Godaan Lagi

Author: Rcancer
last update publish date: 2026-02-17 07:56:13

Mata Oji hampir tak berkedip, begitu si pemilik rumah kembali menghampirinya. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang dan wajahnya nampak gelisah.

"Nih, ada beberapa kaos baru yang masih aku simpan," dengan santai, si pemilik rumah yang akrab bernama Nadia, menunjukan lima kaos yang masih terbungkus rapi di dalam plastik kemasan.

Dia seakan tidak menyadari kalau pria yang usianya lebih muda darinya, kini sedang dilanda resah luar biasa karena wanita itu.

"Kenapa malah bengong," suara Nadia sontak mengagetkan Oji yang terdiam dengan pikiran berkelana kemana-mana. "Apa kamu tertarik dengan kaos yang aku pakai, ini juga baru loh."

Oji hanya bisa meringis. Penampilan wanita itu benar-benar membuat jiwa lelaki Oji bangkit dan dia berusaha untuk mengendalikan keadaan dirinya.

Entah alasan apa yang membuat Nadia mengganti pakaian yang tadi dia kenakan. Namun yang pasti, saat ini wanita cantik itu terlihat lebih seksi setelag menggunakan kaos longgar dan memperlihatkan pahanya yang putih dan mulus.

"Nggak usah lah, Mbak," tolak Oji lembut. "Biar nanti aku cuci kaosku aja."

"Eh, nggak boleh gitu," dengan tegas Nadia melarangnya. "Apa kamu takut, aku berbuat macam-macam?"

Oji sontak menatap lawan bicaranya.

"Aku tahu, kamu pasti benci aku kan? Karena aku masih saudaranya Paman Cokro?" Terka wanita itu sadar diri.

Oji pun tersenyum dan dia mengangguk.

Nadia juga tersenyum tipis. "Kalau dipikir-pikir, keluargaku aja yang keterlalaluan sama kamu. Padahal banyak laki-laki lain juga yang mengagumi dan menghayalkan Arinda. Tapi keluargaku cuma menyudutkan kamu."

Oji tidak memberi respon apapun. Faktanya memang seperti itu, dia hanya sebatas mengagumi dan tak berharap untuk memiliki.

"Tapi benar nggak sih, kalau hendak membawa foto Arinda ke dukun dan mengguna-guna anak itu?"

Oji langsung menggeleng. "Siapa yang ngomong, Mbak?" Anak muda itu hampak terkejut mendapat pertanyaan dari Nadia.

"Erik," Nadia. "Katanya dia dengar dari Tio."

Seketika Oji tersenyum sinis. Dia sudah menduga pasti Tio biang keroknya.

"Padahal aku hanya bercanda loh, waktu cerita sama Tio," terang Oji. "Aku cuma mengatakan cinta ditolak dukun bertindak. Eh, malah dianggap serius."

Nadia lantas tersenyum. "Jadi, semua yang dikatakan Tio itu bohong?"

"Ya bohong lah, Mbak," balas Oji. "Aku ya sadar diri, mana mungkin juga Arinda suka sama aku. Aku nggak pernah berharap malah."

Senyum Nadia semakin melebar. "Ya udah kamu mau kaos yang mana? Atau nggak usah pakai kaos aja. Kamu kelihatan ganteng kok kalau nggak pakai baju gitu."

Oji sontak terperanjat. "Ganteng? Ganteng darimana?" Saat itu juga dia jadi salah tingkah sendiri.

"Dari mataku lah, Ji," balas Nadia. "Kayanya, kalau kolor kamu dilepaskan, kamu juga makin kelihatan gagah deh."

Mata Oji kembali melebar, menatap wanita yang tersenyum kepadanya. Oji tidak menyangka wanita cantik yang pernah turut menghinanya bisa bicara seberani itu.

"Kamu pernah tanpa busana di depan cewek nggak, Ji?" Oji sontak menggeleng tanpa bersuara. "Masa belum pernah?"

Oji sontak tersenyum salah tingkah lalu dia menggeleng.

"Nggak pengin coba?"

Raut wajah Oji kembali berubah dan tatapanya mengandung pertanyaan balik pada Nadia.

"Kamu nggak pengin mencoba, melepaskan semua pakaian kamu di depan cewek?" Nadia mempertegas maksud pertanyaaannya.

Dan reaksi Oji masih sama, syok dan tak percaya dengan apa yang dia dengar.

"Aduh, pertanyaannya aneh-aneh aja, Mbak," balas Oji. "Ya udahlah, Mbak, aku pamit dulu, mau ke ladang."

"Ke ladang?" Nadia malah bertanya balik. "Kamu suka kerja di ladang?"

Oji mengangguk. "Ladangnya Kakek, Mbak," jawabnya.

Nadia menganggguk paham. "Aku juga punya ladang, Ji, tapi lama nggak dibajak, sampai kering banget."

"Loh, kok bisa?" Oji sontak bertanya karena cukup tertarik. "Kenapa dianggurin, Mbak. Sayang banget."

Nadia sontak tersenyum. "Ya gitu lah, Ji, sejak aku menjanda, ladangku terbengkalai."

"Duh, sayang banget ya, Mbak," balas Oji terlihat ikut prihatin. "Kenapa nggak nyuruh orang buat menggarap ladang kamu, Mbak?"

"Iya juga sih," balas Nadia. "Gimana kalau aku minta tolong kamu buat merawat ladangku?"

"Aku?" Oji terkejut.

"Iya," dengan antusias Nadia menjawabnya. "Kamu kan sudah biasa menggarap ladang, pasti kamu nggak akan kesulitan dong menggarap ladangku."

Oji terdiam dan dia nampak berpikir. "Apa ladangnya luas?"

"Nggak terlalu sih," balas Nadia nampak sangat serius. "Tapi aku jamin, kamu pasti bakalan suka jika sudah melihatnya."

"Emang ladangnya di mana, Mbak?" Oji masih bertanya dengan polosnya. "Kali aja aku pernah lihat."

"Yang pasti, kamu belum pernah lihat lah," balas Nadia makin antusias. "Tapi kalau kamu mau lihat boleh aja sih. Mau lihat sekarang?"

"Emang ladangnya dekat?" balas Oji turut bersemangat. "Kalau dekat ya boleh, Mbak. Aku pengin lihat."

Seketika Nadia langsung tersenyum nakal. Wanita itu lantas bangkit dari duduknya dan Oji terlihat kaget kala Nadia justru duduk di sisinya.

"Loh, kenapa kamu malah duduk, Mbak? Katanya mau nunjukin ladang?" Tanya Oji kebingungan.

"Ini mau aku tunjukkan," jawab Nadia sambil senyum-senyum. Sedangkan Oji semakin tak mengerti.

"Kamu lepaskan aja bajuku, di balik baju ini, ada ladang yang siap untuk kamu bajak, Sayang."

Mulut dan mata Oji melebar. Anak muda itu bahkan secara reflek langsung berdiri karena rasa terkejut yang menyergapnya.

"Kenapa malah berdiri? Katanya pengin lihat ladangku?'

Tiba-tiba tubuh Oji agak gemetar. Dia cukup syok kalau ternyata ladang yang dimaksud Nadia bukan ladang biasa.

"Nggak deh, Mbak, nggak jadi," balas Oji cepat. "Aku permisi dulu, Mbak." Anak itu langsung melesat begitu saja.

"Loh, Oji, tunggu dulu, heh!"

Oji melangkah cepat dengan perasaan yang cukup bergejolak. Dia sangat tidak menyangka akan mengalami kejadian yang mengusik jiwa lelakinya.

Sepanjang kaki melangkah mulut Oji terus bergumam. Karena baru mengalami kejadian seperti itu, entah kenapa Oji justru malah merasa takut.

"Kamu kenapa, Ji? Kok ngomong sendirian?"

Tiba-tiba langkah Oji terhenti kala telinganya mendengar suara yang cukup familiar.

Ketika Oji mengedarkan pandangannya, dia seketika sadar kalau langkah kakinya telah sampai di ladang milik Kakeknya.

Seketika Oji senyum-senyum sendiri. "Lagi nyanyi, Nek," ucapnya.

"Terus kenapa kamu ke sini nggak pakai baju?"

Oji pun sontak memperhatikan dirinya. "Astaga! Kenapa aku bisa sampai lupa begini?"

Si Nenek hanya menggelengkan kepalanya. "Ya udah, kamu kumpulin melinjo yang kulitnya sudah menguning dan merah. Sebentar lagi akan ada orang yang mau ngambil."

Oji menjawab dengan antusias. Dia segera menjalankan perintah Neneknya meski pikirannya masih tertuju pada godaan yang menguji kejantannya.

Hingga menjelang tengah hari, Oji berhasil mengumpulkan melinjo sebanyak satu karung. Oji pun melepas lelah sambil menikmati makanan sederhana yang dibawa neneknya di dalam sebuah gubug.

"Sepertinya mau hujan lagi," ucap Nenek.

"Pasti itu, Nek, udah mendung banget," balas Oji.

Keduanya pun nampak asyik bercengkrama. Hingga beberapa menit kemudian, keduanya dibuat terkejut saat mata mereka menyaksikan sesuatu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Di Hari Berikutnya

    "Bukankah itu kotak kayu parfum kita?" Seorang pria nampak kaget begitu melihat benda yang dia kenal, teronggok diantara tumpukan sampah.Sosok pria itu pun mendekat untuk memastikan kalau dia tidak salah lihat. "Tuh, kan, benar, ini kotak ramuan itu, Jo!" Serunya antusias."Loh, iya,"rekan dari pria itu pun tak kalah senang. "Wah, akhirnya kita menemukan petunjuk baru," dia langsung celingukan, memperhatikan sekitarnya. "Kira-kira, sampah ini berasal dari rumah yang mana?""Itu dia yang harus kita cari tahu," ucap sosok yang saat ini mengenakan kaos hitam. "Pasti ini sampah salah satu rumah yang ada di sekiar sini."Sang rekan mengangguk dan mengiyakan. "Ya udah, kita cari rumah yang kehilangan parfum dulu. Setelah itu kita tinggal fokus cari orang yang menemukan kotak parfum ini.""Oke!" Kedua pria itu semakin semangat dalam melakukan usaha pencarian. Sedangkan di tempat lain, orang yang menemukan kotak kayu itu, sedang fokus dengan pekerjaan.Oji saat ini tengah sibuk melayani pem

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Jam Malam

    "Ji, apa mungkin, Arinda marah sama kamu gara-gara dia pengin bermain ranjang juga?" Tiba-tiba Karin melempar pertanyaan yang membuat Oji terperanjat.Anak muda itu menoleh, menatap wanita yang tersenyum kepadanya, lalu Oji berpaling dan memilih memejamkan matanya."Kalau bisa sih, disaat seperti ini, kita jangan membahas orang lain dulu, Mbak," ucap Oji. "Bukankah kamu ngajak aku ke sini, untuk bersenang-senang? Jadi, nggak perlu lah, kita membahas hal yang tidak penting."Sekarang, giliran Karin yang tertegun. Wanita itu lantas tersenyum dan memilih mengalah dengan cara kembali mencium aroma ketiak Oji.Tidak ada obrolan lagi di antara mereka. Hingga beberapa menit berlalu, Karin baru menyadari kalau pria yang baru saja memuaskannya, kini telah terlelap."Sepertinya, kamu capek banget ya, Ji?" Gumam Karin, menatap lekat wajah anak muda yang terlelap. Dia tersenyum, lalu menempelkan bibirnya pada pipi Oji.#####Hingga beberapa jam kemudian, tubuh Oji menunjukan sebuah pergerakan, ya

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Nenek Merasa Janggal

    Dua wanita yang sama-sama sudah memiliki cucu itu masih asyik berbincang. Sedangkan di luar warung, dua pria juga masih dalam kebingungan.Di saat bersamaan, datang lagi seorang wanita, memasuki warung tersebut. Wanita itu lebih muda dan sepertinya dia baru saja pergi karena dia datang menggukan motor maticnya."Eh, ada Nenek Sani," wanita itu terlihat sumringah sambil menyapa wanita yang usianya lebih tua darinya.Sapaan itu bukanya disambut dengan baik, tapi Nenek Sani malah terdiam dengan raut yang menandakan kalau dia terkejut. Nenek Sani cukup kenal dengan sosok wanita muda dan mereka sebenarnya hampir tak bertegur sapa tiap kali bertemu dan terkesan kurang ramah.Maka itu, Nenek Sani kaget, waktu sosok wanita itu bersikap ramah kepadanya. Beruntung, Nenek langsung menyadari sikapnya dan dia segera membalas sapaan dengan senyuman."Mbak Nadia darimana?" Tanya si pemilik warung. "Baru pulang kerja?""Iya nih, Mbok," balas Nadia sambil mencomot satu gorengan tempe. "Mbok aku minta

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Dilema

    Oji tidak langsung mengiyakan. Anak itu memilih diam sambil berpikir untuk mencari alasan, menolak permintaan wanita yang pernah menghinanya.Oji juga yakin, kalau keinginan wanita itu cuma sandiwara saja. Perubahan sikap wanita itu pasti karena dia sudah terhipnotis dengan ketiak Oji.Jika diperhatikan, Karin sebenarnya bukan wanita yang jelek. Bahkan tanpa perawatan khusus, wanita itu memang sudah terlihat cantik sejak dulu.Bentuk badannya pun cukup menggiurkan. Tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk. Benar-benar bentuk tubuh yang dirawat sangat baik."Nggak lah, Mbak," dengan sangat terpaksa, Oji menolak permintaan Karin. "Hari ini, aku sangat lelah, aku ingin istirahat yang lama."Jawaban Oji sontak membuat kaget lawan bicaranya sampai wanita itu menatap tajam dengan kening berkerut."Lelah?" Tanya Karin. "Aku kan cuma ngajak ngobrol, Ji, bukan ngajak melakukan sesuatu yang aneh-aneh."Oji terperanjat mendengar balasan lawan bicaranya. Lalu anak itu cengengesan dan agak sala

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Menghidari Godaan

    Oji diserang gelisah. Anak muda itu yakin, wanita dewasa di depannya, sedang menggoda dan seperti memberi perangkap agar Oji masuk ke dalam jeratannya.Belajar dari pengalaman, gelagat yang ditunjukan lawan bicaranya sama persis yang terjadi pada para wanita sebelumnya. Bukannya Oji tak suka mendapat kesempatan enak lagi. Anak itu takut, jika nasib sial menghampirinya seperti yang dialami tetangga Pamannya beberapa waktu lalu."Kenapa diam? Lagi mikir apa hayo?" Wanita yang belum diketahui namanya kembali mengusik Oji membuat anak itu semakin gelagapan."Nggak mikir apa-apa, Mbak," kilah Oji sambil cengengesan tersipu."Yah, nggak asyik," raut si wanita malah cemberut. "Harusnya mikir aja loh, Mas. Apa mungkin selera kamu bukan janda?"Mata Oji sontak agak terbelalak. Dia tidak menyangka lawan bicaranya bisa berpikiran seperti itu. "Wajar sih, kalau kamu nggak suka janda, kamu masih muda, ganteng, pasti lebib suka yang sama-sama muda, iya kan?""Ya, belum tentu juga sih, Mbak," bal

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Godaan Lagi

    "Aaa...." Oji dan pemilik toko jatuh bersamaan dengan posisi Oji memunggungi pemilik toko. Jatuhnya tidak terlalu keras karena di belakang mereka ada beberapa barang yang menahannya.Namun, keduanya jadi kotor karena salah satu plastik tepung yang dipegang Oji sobek dan isinya berhamburan hingga mengotori tubuh dan pakaian mereka.Oji segera bangkit dan seketika rasa canggung menyergap keduanya karena tadi si wanita sempat menangkap tubuh Oji tapi gagal, malah jadi memeluk anak itu."Aduh, maaf, Mbak," ucap Oji tak enak hati. "Itu, tadi bangkunya licin," sambungnya sambil membersihkan badan dari taburan tepung."Nggak apa-apa," balas si pemilik toko yang juga melakukan hal yang sama. "Namanya juga bangku plastik."Oji tersenyum tipis dan dengan spontan dia melepas kaos yang dikenakan untuk membersihkan tepung."Tubuh yang bagus," celetuk si pemilik toko beberapa saat kemudian sampai membuat Oji terperanjat dan menatapnya.Si pemilik toko justru tersenyum dan dia melenggang pergi tanp

  • Ramuan Pemikat Hasrat   Di Depan Kios Bakso

    Rasa penasaran Oji semakin besar. Apa lagi setelah dia mendengar ucapan lawan bicaranya tentang keistimewaan isi kotak kayu, membuat anak muda itu, ingin mengetahui informasi lebih banyak lagi."Ji! Oji!" Sang Paman tiba-tiba memanggil dan mau tidak mau obrolan itu harus berakhir. "Iya, Paman!" Se

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Ramuan Pemikat Hasrat   Barang Yang Sama

    "Loh, itu kan..." Oji tercenung beberapa saat kala matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang tergeletak di atas meja.Rasa penasaran seketika menyeruak dalam benaknya dan Oji sempat memperhatikan dua pria yang memesan bakso di sana.Ingin rasanya Oji bertanya. Namun, entah kenapa dia merasa berat

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Ramuan Pemikat Hasrat   Wah.... Dapat Bonus

    Langkah Oji seketika terhenti kala matanya menangkap sosok yang dia kenal, sedang bercanda bersama teman-teman barunya.Ada rasa iri dan kesal kala Oji melihat kebersamaan mantan sahabatnya yang nampak bahagia, berteman dengan orang-orang yang membenci Oji. Namun, dia segera menyadari kekuranganny

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Ramuan Pemikat Hasrat   Jadi Pendusta

    Oji pulang dengan perasaan bahagia. Sampai detik ini, dia masih takjub dan hampir tak percaya dengan perubahan jalan hidup yang dia alami dua hari terakhir ini.Di dalam kamarnya, Oji kembali mengenang setiap kejadian yang dia lalui. Terutama kebersamaannya dengan tiga wanita yang membuat dirinya m

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status