LOGINMarcel terdiam ternyata Drake hanya ingin memastikan hal ini. "Tentu saja sudah, aku akan mengirim bukti pesan yang ku kirim padanya." Drake tak merasa ada yang mencurigakan dari Marcel, dia juga langsung melihat pesan yang baru saja di kirim Marcel tentang bukti pesannya pada Madame Charlotte. Namun karena ini, keyakinannya tentang Madame Charlotte yang sudah menipu Seira kian kuat. Dan ia tak senang dengan hal ini. Marcel tak mendengar Drake berbicara apa-apa lagi. Dia pun berkata, "apa ada masalah?" "Tidak ada." "Oh iya, mengenai taruhan semalam, anggap saja batal. Karena waktunya tidak tepat, tidak menyangka jika akan ada Sarah di sana," ucap Drake. Marcel menghela nafas lega, dia mengangguk, "baik, baik, aku mengerti. Kita bisa taruhan lain kali lagi." Marcel tersenyum cerah di ujung sana. Drake kemudian menutup telepon itu, dan mengepal erat teleponnya. Dia segera menuju pintu keluar, dan melihat Hector beserta beberapa pengawal berjaga di luar. Mereka menunduk menyambutn
Keesokan Pagi. Seira terbangun dengan tubuh yang kaku dan berat. Saat pertama membuka mata dari tidurnya, pemandangan yang dilihatnya pertama kali adalah sosok Drake yang masih terlelap dengan posisi telungkup di sampingnya. Ada sedikit kegugupan, apalagi setelah ingat dengan apa yang terjadi semalam. Pelan-pelan ia bangkit dari ranjang, mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang tidak mengenakan apapun. Namun, langkahnya terhenti ketika pria itu tiba-tiba membuka mata dan menatapnya. "Mau pergi kemana?" suara Drake yang masih dibalut sisa kantuk terdengar. "Aku ingin pulang," jawab Seira tenang, menghindari tatapannya. Pria itu memutar posisi tubuh kemudian duduk, menggeliat sejenak sebelum beranjak dari ranjang. Dia menekan kepalanya sejenak untuk menetralkan efek pusing di kepala. Ini tidak seperti biasanya, ia tidak pernah merasa pusing seperti ini, bahkan sebelum dia melakukannya dengan wanita itu semalam. Ini seperti efek sebuah obat, apakah semalam dia benar-benar mabu
Seira tertegun dan segera sadar dari lamunannya. Suara dalam dan berat yang keluar darinya menambah kegugupannya. "Iya, Tuan." Kemudian Seira duduk di sofa di samping Drake dengan gerakan gugup. Kegugupan itu membuat Drake dapat menyimpulkan jika Seira memang belum pernah berhadapan dengan pria. Para pelayan terus menyuguhi mereka minuman, Drake menarik pinggang Seira kian dekat. Sampai tak ada jarak di antara mereka. Hal ini membuat Seira semakin gugup dan sesak nafas, aura dominan menyeruak kuat dari dalam diri pria ini. "Minumlah!" Tawar Drake sambil menunjuk segelas anggur yang ada di depannya dengan matanya kepada Seira. Seumur-umur Seira belum pernah minum anggur, meskipun usianya sudah legal, dan ia bekerja di tempat seperti ini tapi dia tetap ingin menghindarinya. "Kenapa?" Drake bertanya saat Seira tak juga menyentuh gelas anggurnya. "Saya tidak pernah minum alkohol." "Berapa usiamu?" Seira segera menjawab, "21 tahun." Drake mengangguk, kepolosan yang di tunjukkan S
Suasana bar di lantai utama semakin ramai. Kemesraan yang terjalin antara Sarah dan Vincent juga tidak terkendali, entah mereka seperti sengaja melakukan itu di depan Drake. Tapi itu juga terlihat alami, mengalir begitu saja seperti memang mereka melakukannya karena perasaan cinta. Drake terus meneguk minumannya untuk gelas yang ke sekian kali. Kemudian mengentakkan gelasnya ke atas meja dengan cara kasar. "Di mana wanita itu mengapa belum datang juga?" tanya Drake dengan kilapan mata serius pada Marcel. Marcel tertegun, dia juga tidak tahu harus menjawab apa, semua ada dalam kendali Madame Charlotte dia yang mengatur cepat atau lambatnya. Drake benar-benar tidak sabar, bukan karena dia merasa cemburu dengan tingkah Sarah dan Vincent. Namun entah kenapa sejak dia meneguk gelas Whiskey pertamanya dia merasa ada perasaan yang berbeda yang membuatnya naik lebih cepat. Dan ingin dia tuntaskan. Sial! "Apa yang kau bilang pada Charlotte tentang wanita pesananku malam ini?" tanya Drak
Di saat ini Madame Charlotte sedang berusaha keras mencari wanita seperti itu. Dia sudah menghubungi banyak kenalannya. Namun mencari wanita Virgin di kota ini sangatlah sulit, rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami, apalagi mengingat pergaulan anak muda sekarang yang kelewatan itu semakin membuatnya kesulitan, mungkin ada tapi sangat jarang. Tapi demi uang ia akan melakukan cara apapun. Pandangan Madame Charlotte berputar ke sekeliling, namun entah bagaimana tiba-tiba matanya tertuju dengan tubuh sesosok gadis muda yang sedang mengikat rambutnya di depan kaca toilet kamar mandi. Saat ini Madame Charlotte yang tengah ada di sudut kamar mandi itu memperhatikan gadis dengan seragam pelayan itu. Jika di pikir gadis itu sangat cantik dan juga muda, hanya saja nasibnya sedikit kurang beruntung saat dia hanya bekerja menjadi seorang pelayan. Madame Charlotte sudah sangat lama menjadi mucikari di bar ini, namun dia baru kali ini melihat gadis itu di sini. Sepertinya dia memang
"Tidak usah!" Tapi Drake menolak, dia sudah tidak memedulikannya, "karena jika aku pergi maka mereka akan puas dan berpikir jika aku cemburu," ucap Drake. "Kau benar!" Marcel ikut menyetujui perkataan Drake. "Baiklah." Hector pun mengangguk. Dia tahu pentingnya menjaga harga diri bosnya di hadapan sang mantan istri. "Aku sungguh tidak menyangka jika wanita itu akan berkhianat dengan Vincent sahabat mu sendiri," ucap Marcel. Sudah bukan rahasia lagi pengkhianatan yang di alami Drake, di kalangan pebisnis keluarga Drake dan keluarga Sarah adalah dua keluarga yang sangat tersohor. Drake juga tidak tahu bagaimana bisa sahabat yang dia percayai itu akan mengkhianatinya seperti ini. Padahal satu tahun yang lalu ketika dia memeriksakan diri -Vincent adalah salah satu temannya yang menemaninya di rumah sakit. Tapi tidak ia sangka Vincent akan berkhianat seperti ini. Saat ini hubungannya dengan Vincent sangat dingin sejak satu tahun terakhir. Tapi dia masih belum melakukan apapun, ini ka







