Share

Chapter 9.

Author: Alana Karin
last update publish date: 2025-03-09 12:53:56
Keesokan Pagi. Shena terbangun dengan tubuh yang kaku dan berat. Saat pertama membuka mata dari tidurnya, pemandangan yang dilihatnya pertama kali adalah sosok Gerardo yang masih terlelap dengan posisi telungkup di sampingnya.

Ada sedikit kegugupan, apalagi setelah ingat dengan apa yang terjadi semalam.

Pelan-pelan ia bangkit dari ranjang, mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang tidak mengenakan apapun. Namun, langkahnya terhenti ketika pria itu tiba-tiba membuka mata dan menatapnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 14.

    Shena tidak menyangka Gerardo ternyata masih ada di rumah ini. Otot dadanya yang di biarkan terbuka, dan bisa di lihat telanjang mata itu seolah sengaja di perlihatkan untuk Seira, supaya Seira ingat dengan malam itu. Tapi Shena berusaha untuk mengalihkan pandangannya dari pria itu, dan fokus dengan makanannya. Dia mengunyah makanan itu dengan lambat. "Nah, makanlah dengan kenyang. Makanan di sini sangat enak, dan sehat bagus untuk organ reproduksi, kau harus mencobanya." ucap Tuan Damian, yang dia tujukan pada Gerardo. Gerardo tidak menggubris. Tuan Damian diam-diam ingin Gerardo mengubah gaya hidupnya, dia juga memiliki keinginan agar Gerardo melakukan pemeriksaan lanjutan agar dia dapat sembuh dari klaim mandul itu. Tapi lain dengan Gerardo kata-kata Tuan Damian jelas sudah menyinggung harga dirinya, apa lagi itu di ucapkan di depan Shena. Yang sudah jelas orang lain di keluarganya yang tidak boleh mengetahui rahasia itu. Klong teng! Suara sendok terbanting terdengar

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 13.

    Gerardo terkejut, tidak biasanya kakek membahas hal ini, Gerardo menegakkan punggungnya yang terasa pegal, kemudian membalas pertanyaan pria tua itu, "menikah bukan prioritas hidupku asal kakek tahu!" Gerardo mengambil sebatang rokok dari dalam saku dan menyalakannya, karena dia merasa pembahasan kali ini sedikit sensitif. Tuan Damian mengerutkan keningnya kecewa.."Meski begitu, kau tetap harus memiliki pendamping untuk menemani hidupmu." Yang tuan Damian inginkan hanya ingin melihat Gerardo memiliki seseorang yang bisa mendampingi hidupnya sebelum dia benar-benar tutup usia di dunia ini. Atau jika tidak dia tidak akan tenang di alam baka nanti, melihat Gerardo hidup dalam kesepian seperti ini. "Aku tidak membutuhkan siapapun untuk mendampingiku, kek. Kakek tidak perlu khawatir, aku bisa membayar orang ketika aku butuh teman." Gerardo berkata dengan dingin tapi nada bicaranya rendah, dia memiringkan wajahnya untuk menghembuskan asap rokok agar tak di hirup sang kakek. Tu

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 12.

    Tangan yang memegang gagang sapu bergetar. "Kau..." suara gadis itu bergetar penuh tanya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Gerardo juga awalnya terkejut, namun ia tetap tenang. "Aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini." "Jawab aku!" Shena memotong cepat, suaranya naik satu oktaf. Dia menatap Gerardo dengan campuran ketakutan dan kemarahan. Gerardo berjalan santai masuk ke ruangan, seolah-olah suasana tegang itu sama sekali tidak memengaruhinya. "Aku hanya mampir untuk urusan keluarga. Rumah ini milik kakek ku, kalau kau mau tahu." Wajah Shena berubah pucat. Rumah ini milik keluarganya? Semua rasa amannya seolah hilang dalam sekejap. Dia merasa seperti seekor tikus yang terjebak dalam perangkap. Gerardo berhenti beberapa langkah di depan Shena, menatapnya dengan penuh minat. "Tapi pertanyaannya, apa yang kau lakukan di sini?" Dia menolehkan kepala sedikit, mengamati sapu yang Shena genggam. "Jangan bilang kau bekerja di sini?" Shena menggenggam gagang sapu lebi

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 11.

    Sementara setelah Shena tiba di rumah ia langsung melangkah masuk ke dalam, langkahnya tertatih, jujur tubuhnya rasanya masih sakit sekali, terutama pada bagian inti. Dia segera membersihkan tubuhnya, meski harus menahan rasa perih. Beberapa saat kemudian ia sudah selesai membersihkan tubuh, dan juga mengganti pakaiannya dengan yang baru, tidak lupa juga membuang kemeja pria itu. Dia berharap jika ia tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. "Ayah!" Setelah itu Shena pergi mencari ayahnya, namun ia tidak mendapati dirinya di seluruh ruangan rumah ini. Shena terus memanggil-manggil namanya namun tetap tidak ada balasan, perasaan Shena mulai di penuhi firasat buruk. Ia kemudian melangkah keluar, pada saat yang sama ada tetangga yang datang dan memberinya tahu. "Shena, ayahmu baru saja terjatuh, dan aku sudah membawanya ke rumah sakit." Shena langsung terkejut. "Rumah sakit mana?" Orang itu segera memberitahu Shena alamatnya, dan Shena pun segera pergi saat ini

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 10.

    Marcel terdiam ternyata Gerardo hanya ingin memastikan hal ini. "Tentu saja sudah, aku akan mengirim bukti pesan yang ku kirim padanya." Gerardo tak merasa ada yang mencurigakan dari Marcel, dia juga langsung melihat pesan yang baru saja di kirim Marcel tentang bukti pesannya pada Madame Charlotte. Namun karena ini, keyakinannya tentang Madame Charlotte yang sudah menipu Shena kian kuat. Dan ia tak senang dengan hal ini. Marcel tak mendengar Gerardo berbicara apa-apa lagi. Dia pun berkata, "apa ada masalah?" "Tidak ada." "Oh iya, mengenai taruhan semalam, anggap saja batal. Karena waktunya tidak tepat, tidak menyangka jika akan ada Sarah di sana," ucap Gerardo. Marcel menghela nafas lega, dia mengangguk, "baik, baik, aku mengerti. Kita bisa taruhan lain kali lagi." Marcel tersenyum cerah di ujung sana. Gerardo kemudian menutup telepon itu, dan mengepal erat teleponnya. Dia segera menuju pintu keluar, dan melihat Hector beserta beberapa pengawal berjaga di luar. Mereka m

  • Ranjang Hangat Sang Mafia   Chapter 9.

    Keesokan Pagi. Shena terbangun dengan tubuh yang kaku dan berat. Saat pertama membuka mata dari tidurnya, pemandangan yang dilihatnya pertama kali adalah sosok Gerardo yang masih terlelap dengan posisi telungkup di sampingnya. Ada sedikit kegugupan, apalagi setelah ingat dengan apa yang terjadi semalam. Pelan-pelan ia bangkit dari ranjang, mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang tidak mengenakan apapun. Namun, langkahnya terhenti ketika pria itu tiba-tiba membuka mata dan menatapnya. "Mau pergi kemana?" suara Gerardo yang masih dibalut sisa kantuk terdengar. "Aku ingin pulang," jawab Shena tenang, menghindari tatapannya. Pria itu memutar posisi tubuh kemudian duduk, menggeliat sejenak sebelum beranjak dari ranjang. Dia menekan kepalanya sejenak untuk menetralkan efek pusing di kepala. Ini tidak seperti biasanya, ia tidak pernah merasa pusing seperti ini, bahkan sebelum dia melakukannya dengan wanita itu semalam. Ini seperti efek sebuah obat, apakah semalam dia benar-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status