LOGIN"Istri?" tanya Gavin heran, keningnya mengernyit.
“Iya, Pak Gavin sudah punya istri, kan? Bahkan Bapak juga sudah punya anak,” jawab Karin sambil menunduk. Davin menggelengkan kepalanya. Ia mengulum senyum mendengar jawaban yang diberikan Karin. “Aku mohon, Pak. Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang,” sambung Karin. “Maaf, aku tidak bisa menahan diri,” jawab Gavin. Ia tidak memaksa untuk meneruskan aktivitas mereka karena ia mungkin tahu semakin memaksa, maka Karin akan semakin jauh. Karin tidak menjawab. Ia menggenggam selimutnya begitu erat. Air mata menggenang di pelupuk matanya. “Aku pulang dulu, ya,” ucap Gavin sembari merapikan rambut Karin yang sedikit berantakan. Namun, ia masih sempat mengecup bibir Karin. Karin tidak menjawab. Ia hanya menatap kepergian Gavin dengan ekor matanya. Air mata Karin akhirnya jatuh setelah pintu tertutup. Ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan nafsunya. Sekarang, ia malah menikmati setiap sentuhan dari Gavin. Karin berdiri di depan kaca yang ada di kamarnya. Pantulan tubuhnya terlihat di sana. Beberapa tanda merah terlihat jelas di dadanya. Ia memejamkan matanya, bahkan ia bisa merasakan bagaimana sentuhan Gavin. “Tidak boleh, Karin. Dia sudah punya istri,” ucap Karin menggelengkan kepalanya sambil memegang dadanya sendiri. Entah berapa bagian tubuhnya merasakan denyutan, seolah masih terasa bagaimana sentuhan yang ditinggalkan oleh Gavin di tubuhnya. Karin tidak tahu apakah nanti ia masih bisa menolak ataukah tidak? Yang pasti ke depannya, ia dan Gavin akan sering bersama. Keesokan harinya... Suasana di kantor sedikit heboh. Cerita tentang keributan Karin dan Rio di lobi menyebar setiap sudut kantor. Entah siapa yang menyebarkan cerita itu pertama kalinya. “Karin, kamu nggak apa-apa?” tanya Dila ketika tiba di kantor pagi ini. Ia sangat khawatir pada sahabatnya itu. “Aku nggak papa. Emangnya kenapa?” tanya Karin. “Katanya semalam Rio menunggu kamu dan mengganggu kamu untung ditolong oleh Pak Gavin,” jawab Dila. “Siapa bilang?” tanya Karin penasaran. “Nggak tahu. Cerita ini sudah menyebar di kantor. Memang benar begitu?” tanya Dila penasaran. “Iya.” “Terus, kok bisa? Kebetulan sekali Pak Gavin menolong kamu. Apakah kamu kemarin lembur membantu kerjaan Pak Gavin? Bukannya dua hari lagi kamu baru ke sana?” “Kebetulan Pak Gavin juga baru pulang dan bertemu di lobi,” jawab Karin jujur. “Ih, aku kesel sekali, loh, mendengarnya. Apa sih maunya Rio itu? Dia yang menduakan kamu, dia juga sekarang yang stres,” ujar Dila setelah mendengar Karin menceritakan semua kejadian di lobi itu. Selama ini, Dila tidak pernah ingin ikut campur dan kepo dengan hubungan Rio dan Karin. Jika Karin tidak menceritakan, bagi Dila ia tidak akan bertanya. Itu artinya Karin tidak mau berbagi apa pun. “Aku sebenarnya takut banget,” ucap Karin. “Terus, bagaimana dengan Via? Kamu kan akrab juga sama Via. Setelah kejadian ini, apakah ada permintaan maaf atau apa gitu dari dia?” Karin menggelengkan kepalanya. “Kami tidak pernah bertemu. Sudah seminggu lebih sejak terakhir aku memergoki mereka. Kami tidak pernah bertemu.” “Benar-benar sahabat nggak tahu diri. Apa nggak ada lelaki lain sampai tunangan sahabat pun diembat?” “Sudahlah. Orang seperti itu kan menemukan jodoh yang sama. Berarti mereka berdua sama,” jawab Karin. Setelah proses hari ini, ternyata Rio langsung mendapatkan SP3 dan ia juga diminta untuk meminta maaf langsung kepada Karin. Kalau tidak, maka ia akan dipecat. Karin hanya menerima permintaan maaf Rio dengan datar. Ia bahkan tidak mengatakan apapun saat Rio mendatangi ruangannya. Sore itu, ternyata pekerjaan Karin sudah selesai semua. Hal yang harus diserahkan pada Dila sudah dipahami oleh Dila dan sudah selesai. “Berarti mulai besok kamu sudah pindah ke meja kerja di depan ruangan Pak Gavin,” ujar Frengki setelah Karin melaporkan kemajuan penyelesaian semua pekerjaannya. “Bukannya masih ada satu hari aku di HRD, Pak?” tanya Karin seolah sedang menawar. “Satu minggu itu adalah waktu maksimal yang diberikan. Jika diselesaikan di bawah satu minggu, itu akan lebih baik dan juga tidak boleh posisi sekretaris terlalu lama kosong,” jawab Frengki. Karin hanya bisa mengangguk. Ia tahu Frengki tidak akan mudah dipengaruhi. Lelaki itu begitu kaku dan juga tegas dalam hal bekerja. Akhirnya, setelah satu minggu keluar Surat Mutasi. Hari ini Karin sudah mulai bekerja sebagai sekretaris Gavin. “Selamat pagi, Pak Gavin,” sapa Karin ketika Gavin tiba di kantor. “Kamu ke ruangan saya. Kita diskusikan untuk jadwal seminggu ini. Kebetulan ini hari pertama kamu dan semua jadwal hari ini kosong,” ucap Gavin. Lelaki itu kalau di kantor terlihat begitu dingin dan profesional. “Baik, Pak.” Setelah masuk ke dalam ruangan, Gavin menyodorkan satu buah tablet pada Karin. “Ini untuk kamu mengatur semua jadwalku dan silakan buka disitu jadwal seminggu ini,” ucap Gavin. “Iya, Pak.” Karin memperhatikan layar tablet tersebut dan benar, hari ini kosong. Tapi besok mereka ada meeting jam delapan pagi. Begitu pagi untuk ukuran Karin yang memang jarang terlibat dalam meeting. “Minggu depan kamu mendapat undangan dari Keenan. Dia meminta kamu datang ke rumah karena dia sudah menyiapkan permainan untuk kamu,” ucap Gavin memecah keheningan. Karin tersentak. “Ke rumah Bapak?” “Iya, ke rumah saya. Atau kamu mau aku bawa Keenan ke apartemenmu?”Minggu pagi…Pagi-pagi Karin sudah bersiap dengan mengenakan kemeja dan kulot, rambutnya dibiarkan terurai panjang. Sekalipun ini bukanlah pekerjaan kantor, Karin tetap berpenampilan sopan.“Mudah-mudahan istri Pak Gavin tidak curiga padaku,” gumam Karin sambil menatap bayangan dirinya di cermin.Ia takut kalau kedatangannya di rumah Gavin, malah menimbulkan kecurigaan dari istri Gavin. Sebab, rasanya tidak pantas seorang sekretaris di hari libur malah main di rumah bos.Karin segera turun, ia tidak mau mengundang Gavin masuk ke apartemennya. Jadi, ia memilih untuk turun saja, menemui Gavin di depan itu akan lebih aman menurutnya.Iya, lelaki itu bersikeras mau menjemputnya. Padahal, Karin sudah bilang kalau ia bisa naik taksi. Tapi, Gavin tetap memaksa menjemput.Baru saja turun, ia melihat mobil Gavin berhenti. “Syukurlah tepat waktu.”Karin langsung masuk ke mobil, tangannya membawa satu kotak bingkisan.“Apa itu?” tanya Gavin.“Kado untuk Keenan.”Gavin tertawa. “Harusnya kamu gak
“Ah, ti-tidak Pak.” Karin gugup.Apartemennya terlalu kecil untuk tempat Keenan bermain. Tapi, Karin pun bingung, apakah ia harus datang ke rumah Gavin? Bagaimana kalau istri Gavin cemburu?“Kalau begitu, aku anggap kamu bersedia datang ke rumahku,” ucap Gavin.“I-iya, Pak.” Akhirnya Karin hanya bisa mengiyakan permintaan itu, tentu saja sebagai sekretaris baru, bahkan ia duduk di posisi itu baru beberapa jam saja. Mana berani ia menolak permintaan bos.Gavin mengangguk, tangannya tampak mengetik sesuatu di laptopnya, kemudian tatapan matanya terus menatap Karin yang begitu fokus membaca jadwalnya.“Apa sudah paham?” tanya Gavin kemudian.Karin mendongak. “Iya, Pak.”“Baguslah, aku tidak salah pilih berarti. Sekarang, kamu atur waktu untuk minggu depan, semua email sudah aku forward kan ke kamu.”“Ba-baik, pak. Kalau begitu, saya permisi, pak.”Gavin mengernyitkan keningnya. “Kamu mau kemana?”“Kembali ke meja kerja saya, Pak.”“Tidak perlu, bawa laptop kamu kemari. Biar kalau ada mas
"Istri?" tanya Gavin heran, keningnya mengernyit.“Iya, Pak Gavin sudah punya istri, kan? Bahkan Bapak juga sudah punya anak,” jawab Karin sambil menunduk.Davin menggelengkan kepalanya. Ia mengulum senyum mendengar jawaban yang diberikan Karin.“Aku mohon, Pak. Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang,” sambung Karin.“Maaf, aku tidak bisa menahan diri,” jawab Gavin. Ia tidak memaksa untuk meneruskan aktivitas mereka karena ia mungkin tahu semakin memaksa, maka Karin akan semakin jauh.Karin tidak menjawab. Ia menggenggam selimutnya begitu erat. Air mata menggenang di pelupuk matanya.“Aku pulang dulu, ya,” ucap Gavin sembari merapikan rambut Karin yang sedikit berantakan. Namun, ia masih sempat mengecup bibir Karin.Karin tidak menjawab. Ia hanya menatap kepergian Gavin dengan ekor matanya.Air mata Karin akhirnya jatuh setelah pintu tertutup. Ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan nafsunya. Sekarang, ia malah menikmati setiap sentuhan dari Gavin.Karin berd
“Pak, aku gapapa,” ucap Karin menolak.Bagaimana tidak menolak, Gavin adalah bos tertinggi di kantornya.“Kompres dingin, bisa membuat memarnya cepat hilang,” jawab Gavin.Meskipun Karin menolak, Gavin tetap memaksa sehingga membuat gadis itu tidak punya pilihan lain saat Gavin meminta handuk kecil kepadanya.Gavin membungkus es batu itu dengan handuk kecil lalu mengompres pelan-pelan pergelangan tangan Karin. Sedangkan Karin hanya diam saja, bahkan ia tampak menahan nafasnya.“Masih sakit?” tanya Gavin.Karin menggelengkan kepalanya. “Sudah tidak lagi, Pak. Terima kasih.”Alih-alih melepaskan tangan Karin, Gavin tetap memegangnya. Meskipun Karin sudah mengatakan tidak sakit lagi. Bahkan, Gavin perlahan meniupnya.“Nanti, aku kirimkan salep.”Karin menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, Pak. Ini sudah sembuh kok.”“Kenapa memilih tinggal disini? Cukup jauh dari kantor.”Karin ingin menarik tangannya, tapi Gavin menahannya.“Ini yang murah, Pak.”“Gaji kamu kurang?”“Gak, Pak.”“Terus,
Plak!Sebuah tamparan dilepaskan Karin ke wajah Rio. Sebenarnya itu refleks, karena emosinya yang sudah tertahan perlu untuk disalurkan.“Jalang! Kau menamparku?” tanya Rio sambil memegang wajahnya.“Iya. Agar mulutmu itu bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih baik. Kita tidak punya hubungan apapun lagi, jadi jangan saling mencampuri urusan,” jawab Karin.Rio marah, ia tidak pernah menyangka kalau Karin berani padanya. Selama ini, yang ia tahu Karin sangat mencintainya.“Sudah lama aku muak melihatmu yang sok suci ini, Karin. Kau pura-pura menjaga kehormatan, bahkan tunangan sendiri tidak boleh menyentuhmu. Tapi, nyatanya demi jabatan kau melakukan apa saja.”“Terserah. Tuduhkan saja sesuai dengan keyakinanmu.”Karena jawaban Karin terlalu datar, Rio tidak terima. “Katakan padaku, berapa tarifmu per jam?”Karin tidak menjawab, ia melangkah menuju pintu keluar. Tapi, Rio malah menarik tangannya.“Lepaskan!” teriak Karin menepis tangan Rio.“Kenapa kau menghindariku? Malam ini kau harus
“Keenan, kenapa panggil Mama?” tanya Gavin.“Gapapa.”Keenan masih menarik tangan Karin untuk bermain di sofa, sedangkan pengasuhnya yang berdiri di belakang hanya terdiam takut.“Pak Gavin—““Yaudah, kamu tolong ajak Keenan bermain dulu, Karin. Biar aku hubungi Frengki kalau kamu ada di ruanganku,” potong Gavin cepat dan meraih gagang telepon diujung meja kerjanya dan menekan ekstension ruangan Pak Frengki.Karin hanya mengangguk pelan. Ia ingin menolak, tapi merasa kasihan juga melihat wajah Keenan apalagi anak kecil ini begitu lucu dan menggemaskan. Pipinya sedikit gembul.“Keenan, hanya tiga puluh menit, oke?” ujar Gavin kemudian.“Hmm.”“Karin mau kerja, lain kali kamu gak boleh lagi datang ke kantor Papa. Pulang sekolah pulang ke rumah dan tunggu Papa di rumah saja.”“Papa pulangnya selalu terlambat,” jawab Keenan enteng.Gavin menggelengkan kepalanya. Ia kembali berpesan kepada pengasuh Keenan agar lain kali tidak boleh membawa Keenan ke kantor, padahal tadi Keenan datang juga







