ログイン“Pak, aku gapapa,” ucap Karin menolak.
Bagaimana tidak menolak, Gavin adalah bos tertinggi di kantornya.
“Kompres dingin, bisa membuat memarnya cepat hilang,” jawab Gavin.
Meskipun Karin menolak, Gavin tetap memaksa sehingga membuat gadis itu tidak punya pilihan lain saat Gavin meminta handuk kecil kepadanya.
Gavin membungkus es batu itu dengan handuk kecil lalu mengompres pelan-pelan pergelangan tangan Karin. Sedangkan Karin hanya diam saja, bahkan ia tampak menahan nafasnya.
“Masih sakit?” tanya Gavin.
Karin menggelengkan kepalanya. “Sudah tidak lagi, Pak. Terima kasih.”
Alih-alih melepaskan tangan Karin, Gavin tetap memegangnya. Meskipun Karin sudah mengatakan tidak sakit lagi. Bahkan, Gavin perlahan meniupnya.
“Nanti, aku kirimkan salep.”
Karin menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, Pak. Ini sudah sembuh kok.”
“Kenapa memilih tinggal disini? Cukup jauh dari kantor.”
Karin ingin menarik tangannya, tapi Gavin menahannya.
“Ini yang murah, Pak.”
“Gaji kamu kurang?”
“Gak, Pak.”
“Terus, kenapa pilih yang murah?”
“Ya, sesuai dengan gaji, Pak.”
“Aku akan menaikkan gaji kamu agar pindah ke dekat kantor.”
“Aku suka disini, Pak. Para tetangga ramah dan baik. Disini juga ramai.”
Gavin tidak menjawab, pandangannya kembali memindai seluruh bagian tempat ini. Sangat sederhana, dan begitu berbeda dengan tempat tinggalnya. Tapi, ruangan itu begitu rapi. Terlihat jelas kalau penghuninya menyukai kerapian.
Dalam suasana hening yang canggung itu, tiba-tiba saja perut Gavin berbunyi. Karin menunduk menahan tawanya, baru kali ini ia mendengar suara perut bos yang lapar.
“Bapak mau aku masakan mie? Tapi, hanya ada mie. Kebetulan telur di rumahku habis,” ujar Karin menunduk.
Ia sangat malu sebenarnya, karena Gavin malah tahu keadaannya. Bahkan sebutir telur pun tidak ada.
“Boleh,” jawab Gavin santai.
“Tunggu sebentar, Pak.”
Karin berjalan menuju dapur, ini adalah pengalaman pertamanya memasak untuk pria lain. Biasanya dulu kalau Rio datang ke apartemennya, ia tidak pernah memasakkan untuk Rio. Sebab, Rio juga datang tidak pernah lama.
Apartemen itu tidaklah luas, hanya terdiri tiga ruangan, ruangan tamu, kamar dan dapur sekaligus kamar mandi. Memang cukup untuk ditinggali seorang diri.
Tidak berapa lama, dua mangkuk mie sudah siap. Karin menambahkan sedikit sayur dan cabe, dan pada saat itu ia baru tahu kalau Gavin tidak suka pedas, sebab sebelum ia makan cabai nya disingkirkan terlebih dahulu.
“Maaf, aku gak tahu kalau Bapak gak tahan pedas,” ucap Karin.
“Bukan gak tahan, tapi gak suka.”
“Maaf, Pak.”
“Tidak masalah, tapi mie buatan kamu enak kok.”
“Namanya mie instan, Pak.”
Detik berikutnya, keduanya mulai menikmati mie buatan Karin. Gavin tampak berkeringat, mungkin karena ada cabe yang tidak sengaja tergigit.
Diluar, malam semakin gelap. Sekarang sudah jam sepuluh malam. Suasana di apartemen itu pun sudah mulai sunyi, semua orang sudah masuk ke unitnya masing-masing.
Ketika Karin mencuci mangkuk yang sudah selesai mereka pakai, tiba-tiba Gavin memeluknya dari belakang. Lelaki itu tidak bisa menahan dirinya.
“Pak, apa yang—“
Tidak selesai Karin bertanya, sebab Gavin telah menciumnya dengan lembut. Lidahnya terus memaksa Karin untuk membuka mulutnya. Hingga akhirnya Karin pasrah, ia membuka mulutnya dan membiarkan lidah Gavin bermain sepuasnya.
“Ikuti aku,” ujar Gavin berbisik saat Karin hanya diam saja dan sangat pasif.
Akhirnya pertahanan diri Karin runtuh, ia membalas ciuman Gavin perlahan sehingga itu membuat Gavin semakin berhasrat.
Tanpa melepaskan ciumannya, Gavin mendorong tubuh Karin masuk ke kamar. Kemudian ia meletakkan Karin dengan lembut ke atas pembaringan.
Gavin kembali menciumi bibir Karin, kali ini tangannya tidak tinggal diam. Ia membuka kancing kemeja yang dikenakan Karin dan melemparkan pakaian itu ke sembarangan tempat.
Gavin diam sejenak, di depannya kedua gunung kembar Karin terlihat begitu indah, kencang dan kenyal. Seperti menyesak ingin keluar dari balik bra merah yang dikenakan.
“Pak, jangan,” ujar Karin mencoba menutupi dadanya dengan tangan.
Gavin mengabaikannya, ia kembali mencium bibir Karin. Dan dalam hitungan detik, tangannya sudah berhasil melepaskan kaitan bra di punggung Karin, sehingga kini dada Karin tidak tertutup apapun.
Ciuman Gavin semakin panas, tangannya tidak tinggal diam, ia terus meremas kedua gunung kembar Karin secara bergantian. Sehingga akhirnya, desahan tertahan keluar dari bibir Karin.
“Jangan ditahan, Sayang,” bisik Gavin.
Ciuman Gavin semakin menurun, dari leher jenjang Karin hingga akhirnya berhenti tepat di depan dada Karin. Ia memasukkan salah satu ke dalam mulutnya, memainkan titik kecil ditengahnya dengan lidah, sehingga membuat tubuh Karin meliuk-liuk.
Karin berusaha menolak, tapi tubuhnya seolah berkhianat. Tubuhnya menikmati setiap sentuhan Gavin, bahkan kini tangannya mulai membalas mengelus kepala Gavin dan bibirnya terus mengeluarkan desahan panas.
“Enak?” tanya Gavin di sela-sela ia menikmati dada Karin.
Karin tidak menjawab, ia menekan kepala Gavin semakin kuat ke dadanya, seolah meminta Gavin untuk mengisapnya lebih kuat lagi.
Tangan Gavin menyusup masuk ke dalam kulot yang dikenakan Karin. “Kamu sudah basah, Karin.”
Karin merapatkan kedua pahanya, tapi kemudian tangan Gavin menerobos masuk ke dalam celana dalamnya.
Karin tersentak. Ia mendorong tubuh Gavin dengan sekuat tenaga. “Pak, jangan! Aku mohon.”
Karin hampir menangis, wajahnya memelas. Ia seolah tersadar dengan apa yang mereka lakukan.
“Kenapa? Bukankah kamu juga menikmatinya?” tanya Gavin.
“Bapak punya istri. Aku tidak mau merusak rumah tangga Bapak,” jawab Karin menarik selimut untuk menutupi tubuhnya bagian atas yang tidak lagi mengenakan apapun.
"Istri?" tanya Gavin heran, keningnya mengernyit.“Iya, Pak Gavin sudah punya istri, kan? Bahkan Bapak juga sudah punya anak,” jawab Karin sambil menunduk.Davin menggelengkan kepalanya. Ia mengulum senyum mendengar jawaban yang diberikan Karin.“Aku mohon, Pak. Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang,” sambung Karin.“Maaf, aku tidak bisa menahan diri,” jawab Gavin. Ia tidak memaksa untuk meneruskan aktivitas mereka karena ia mungkin tahu semakin memaksa, maka Karin akan semakin jauh.Karin tidak menjawab. Ia menggenggam selimutnya begitu erat. Air mata menggenang di pelupuk matanya.“Aku pulang dulu, ya,” ucap Gavin sembari merapikan rambut Karin yang sedikit berantakan. Namun, ia masih sempat mengecup bibir Karin.Karin tidak menjawab. Ia hanya menatap kepergian Gavin dengan ekor matanya.Air mata Karin akhirnya jatuh setelah pintu tertutup. Ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan nafsunya. Sekarang, ia malah menikmati setiap sentuhan dari Gavin.Karin berd
“Pak, aku gapapa,” ucap Karin menolak.Bagaimana tidak menolak, Gavin adalah bos tertinggi di kantornya.“Kompres dingin, bisa membuat memarnya cepat hilang,” jawab Gavin.Meskipun Karin menolak, Gavin tetap memaksa sehingga membuat gadis itu tidak punya pilihan lain saat Gavin meminta handuk kecil kepadanya.Gavin membungkus es batu itu dengan handuk kecil lalu mengompres pelan-pelan pergelangan tangan Karin. Sedangkan Karin hanya diam saja, bahkan ia tampak menahan nafasnya.“Masih sakit?” tanya Gavin.Karin menggelengkan kepalanya. “Sudah tidak lagi, Pak. Terima kasih.”Alih-alih melepaskan tangan Karin, Gavin tetap memegangnya. Meskipun Karin sudah mengatakan tidak sakit lagi. Bahkan, Gavin perlahan meniupnya.“Nanti, aku kirimkan salep.”Karin menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, Pak. Ini sudah sembuh kok.”“Kenapa memilih tinggal disini? Cukup jauh dari kantor.”Karin ingin menarik tangannya, tapi Gavin menahannya.“Ini yang murah, Pak.”“Gaji kamu kurang?”“Gak, Pak.”“Terus,
Plak!Sebuah tamparan dilepaskan Karin ke wajah Rio. Sebenarnya itu refleks, karena emosinya yang sudah tertahan perlu untuk disalurkan.“Jalang! Kau menamparku?” tanya Rio sambil memegang wajahnya.“Iya. Agar mulutmu itu bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih baik. Kita tidak punya hubungan apapun lagi, jadi jangan saling mencampuri urusan,” jawab Karin.Rio marah, ia tidak pernah menyangka kalau Karin berani padanya. Selama ini, yang ia tahu Karin sangat mencintainya.“Sudah lama aku muak melihatmu yang sok suci ini, Karin. Kau pura-pura menjaga kehormatan, bahkan tunangan sendiri tidak boleh menyentuhmu. Tapi, nyatanya demi jabatan kau melakukan apa saja.”“Terserah. Tuduhkan saja sesuai dengan keyakinanmu.”Karena jawaban Karin terlalu datar, Rio tidak terima. “Katakan padaku, berapa tarifmu per jam?”Karin tidak menjawab, ia melangkah menuju pintu keluar. Tapi, Rio malah menarik tangannya.“Lepaskan!” teriak Karin menepis tangan Rio.“Kenapa kau menghindariku? Malam ini kau harus
“Keenan, kenapa panggil Mama?” tanya Gavin.“Gapapa.”Keenan masih menarik tangan Karin untuk bermain di sofa, sedangkan pengasuhnya yang berdiri di belakang hanya terdiam takut.“Pak Gavin—““Yaudah, kamu tolong ajak Keenan bermain dulu, Karin. Biar aku hubungi Frengki kalau kamu ada di ruanganku,” potong Gavin cepat dan meraih gagang telepon diujung meja kerjanya dan menekan ekstension ruangan Pak Frengki.Karin hanya mengangguk pelan. Ia ingin menolak, tapi merasa kasihan juga melihat wajah Keenan apalagi anak kecil ini begitu lucu dan menggemaskan. Pipinya sedikit gembul.“Keenan, hanya tiga puluh menit, oke?” ujar Gavin kemudian.“Hmm.”“Karin mau kerja, lain kali kamu gak boleh lagi datang ke kantor Papa. Pulang sekolah pulang ke rumah dan tunggu Papa di rumah saja.”“Papa pulangnya selalu terlambat,” jawab Keenan enteng.Gavin menggelengkan kepalanya. Ia kembali berpesan kepada pengasuh Keenan agar lain kali tidak boleh membawa Keenan ke kantor, padahal tadi Keenan datang juga
“Pak, saya tidak menjual diri,” ucap Karin.Air matanya sudah menggenang di pelupuknya. Rasanya, beban yang dihadapinya begitu berat. Dan tawaran dari Gavin itu seolah ia tidak ada harga dirinya.“Aku tidak menganggap begitu, Karin. Aku hanya ingin membantu kamu.”“Tidak perlu, Pak.”“Tapi, ayah kamu—“Belum sempat Gavin melanjutkan kata-katanya, ponsel Karin kembali berdering. Ibunya kembali menelpon dan tentu saja akan menagih uang agar anaknya tidak dipenjara.Karin bahkan tidak berani menjawabnya.Akhirnya, Gavin lah yang menjawab panggilan itu. Meskipun Karin memberikan kode agar Gavin tidak melakukannya, tapi lelaki itu tidak peduli. Ia menggeser gambar gagang telepon warna hijau di layar lalu mengaktifkan loudspeaker.“Karin! Dasar anak durhaka sekali kamu ya! Mana uangnya? Bapak kamu sudah mau mati ini!” teriak ibunya di ujung telepon.“Bu, aku—“ suara Karin tercekat.Bayangan sepuluh juta rupiah itu bukan lah hal yang kecil. Bahkan, setiap bulan gajinya tidak mencapai sepuluh
Uhuk!Karin refleks terbatuk mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Gavin. Jika ia punya pintu doraemon, Karin tentu akan pergi kemana saja, yang jelas bukan yang ada Gavin disana.Ia pikir Gavin tidak mengenalinya, tapi ternyata lelaki itu hanya menunggu waktu yang tepat. “M-maksud Bapak?”Gavin menghela nafas berat, ia tersenyum dan tidak langsung menjawab. Ia justru mendongak menatap Karin cukup lama.“Apa kamu benar-benar tidak mengerti pertanyaanku?” tanya Gavin.“I-iya, Pak,” jawab Karin gugup.Bahkan, ia memaki dalam hatinya. Seharusnya ia bersikap biasa saja, sebab menunjukkan kegugupannya di depan Gavin itu justru membuat Gavin semakin yakin kalau malam itu adalah dirinya.Gavin mengangguk pelan.Karin pikir semuanya akan selesai, ia sedikit bisa bernafas lega karena Gavin tidak memperpanjang lagi masalahnya.Namun, ketenangan itu hanyalah sementara. Setelah detik berikutnya Gavin menyodorkan id card karyawan lengkap dengan lanyard kepadanya.Deg!Jantung Karin rasanya berhe







