LOGIN“Pak, saya tidak menjual diri,” ucap Karin.
Air matanya sudah menggenang di pelupuknya. Rasanya, beban yang dihadapinya begitu berat. Dan tawaran dari Gavin itu seolah ia tidak ada harga dirinya.
“Aku tidak menganggap begitu, Karin. Aku hanya ingin membantu kamu.”
“Tidak perlu, Pak.”
“Tapi, ayah kamu—“
Belum sempat Gavin melanjutkan kata-katanya, ponsel Karin kembali berdering. Ibunya kembali menelpon dan tentu saja akan menagih uang agar anaknya tidak dipenjara.
Karin bahkan tidak berani menjawabnya.
Akhirnya, Gavin lah yang menjawab panggilan itu. Meskipun Karin memberikan kode agar Gavin tidak melakukannya, tapi lelaki itu tidak peduli. Ia menggeser gambar gagang telepon warna hijau di layar lalu mengaktifkan loudspeaker.
“Karin! Dasar anak durhaka sekali kamu ya! Mana uangnya? Bapak kamu sudah mau mati ini!” teriak ibunya di ujung telepon.
“Bu, aku—“ suara Karin tercekat.
Bayangan sepuluh juta rupiah itu bukan lah hal yang kecil. Bahkan, setiap bulan gajinya tidak mencapai sepuluh juta, meskipun sudah ditambah dengan uang lembur.
Sekarang, ibunya memaksanya memberikan uang sepuluh juta. Perihal ia belum mengirimkan saja sudah dianggap anak durhaka, lalu bagaimana yang selama ini setiap bulan ia kirim semua ke desa?
Dan juga, darimana ia mendapatkan uang sepuluh juta? Gajinya tidak pernah bisa ditabung.
“Kau benar-benar mau Bapakmu mati? Tuh sesak nafas, nyawanya sudah diujung!”
“As—“
“Bu, saya atasannya Karin. Saat ini, Karin sedang bekerja. Bisa ibu kirimkan saja nomor rekeningnya, biar saya transfer kan uangnya sekarang. Soalnya Karin sedang sibuk,” potong Gavin cepat saat melihat Karin sudah tidak mampu berkata-kata lagi.
Karin menatap Gavin lekat sambil menggelengkan kepalanya. Entahlah, ia tidak tahu apakah ini memang sebuah bantuan yang diberikan bos kepadanya. Atau ada jebakan dibalik kata-kata bantuan. Dan Karin yakin itu adalah opsi yang kedua kalau di sangkutkan dengan permintaan Gavin sebelumnya.
“Nah begitu harusnya!”
Panggilan kembali berakhir dan langsung sebuah pesan masuk, nomor rekening tujuan uang yang harus di transferkan.
Gavin mengeluarkan ponselnya dan langsung mentransferkan uang sebanyak lima belas juta rupiah kepada ibunya Karin.
“Sudah selesai,” ucap Gavin kepada Karin.
Bukannya senang, kali ini Karin tidak bisa lagi menahan air matanya. Karena ia tahu, dengan uang itu hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Itu sama sama dengan ia menyerahkan dirinya kepada Gavin.
“Hei, kenapa menangis?” tanya Gavin panik.
Karin tidak menjawab, tapi air matanya tidak bisa berhenti. Ia sudah pasrah, apapun yang akan terjadi kedepannya ini mungkin sudah menjadi jalannya.
“Aku akan membayarnya, Pak,” ucap Karin akhirnya.
Gavin menggelengkan kepalanya. Ia menarik dagu Karin dengan lembut, meminta Karin menatapnya. Tangan Gavin terulur menghapus air mata di wajah gadis itu.
“Aku tidak meminta kamu membayarnya, Karin. Kamu tidak perlu menangis, aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan,” jawab Gavin kemudian mendekatkan wajahnya.
Kini, wajah keduanya begitu dekat. Bahkan Karin bisa merasakan embusan nafas Gavin mengenai wajahnya. Dadanya berdegup kencang.
“Katakan padaku, kamu mau gaji berapa?” tanya Gavin.
Karin menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu, Pak.”
“Sebutkan saja, Karin. Aku akan menandatanganinya.”
“Terserah Bapak saja.”
Gavin semakin mendekatkan wajahnya sampai mereka tidak berjarak lagi. Bibir Gavin menyapu bibir lembut Karin yang sedikit asin karena bercampur dengan airmata.
Karin tidak merespon, tubuhnya menegang. Ia ingin menghindar, tapi entah mengapa tubuhnya seperti mengkhianatinya, sedikitpun tidak menolak.
“Buka mulut kamu, Karin,” bisik Gavin.
Gavin menahan kepala Karin, lidahnya memaksa Karin membuka mulutnya. Perlahan Karin membuka mulutnya membiarkan lidah Gavin bermain disana.
Ketika tangan Gavin mulai menyusup ke dalam kemeja Karin, tiba-tiba saja pintu diketuk dari luar.
“Papa!” teriak suara dari luar.
Gavin membuang nafas kasar, ternyata anaknya masih berada di kantor ini. Dan sekarang malah kembali ke ruangannya.
“Masuk!” jawab Gavin yang segera kembali ke kursinya, lalu memberikan tisu kepada Karin.
Ceklek!
Pintu dibuka, bocah lelaki itu masuk dengan wajah merengut. “Papa, aku tidak mau pulang.”
“Terus mau apa? Apa Keenan mau kerja dan Papa yang pulang?” tanya Gavin.
“Aku mau disini sama Papa. Papa sudah janji mau ajak aku main ke arena bermain, aku mau mainnya hari ini!” jawabnya. Bibirnya dikerucutkan dan ia terlihat semakin menggemaskan.
Gavin menarik Keenan agar duduk di pangkuannya. Sikapnya ini begitu kebapakan, bahkan sifatnya ini berbanding terbalik dengan apa yang ia lakukan barusana pada Karin.
Di mata Karin, Gavin seperti tiga orang yang berbeda. Seorang bos yang dingin dan tegas, bos yang mesum dan juga seorang ayah yang hangat.
“Bukankah harusnya weekend?” tanya Gavin sambil merapikan rambut Keenan.
“Aku mau sekarang!”
“Papa sedang kerja.”
“Aku mau main sama Mama aja!” teriak Keenan turun dari pangkuan Gavin, dan siapa sangka ia malah menarik tangan Karin.
“Hei…”
“Ayo Mama, kita main,” ucap Keenan kepada Karin.
“Hah?” Karin terkejut bukan main, anak kecil itu malah memanggilnya Mama.
“Ini kan ruanganku, Sayang. Tidak akan ada yang mendengar.”“Takutnya kamu keceplosan pas di luar ruangan.”“Nggak akan,” jawab Gavin sambil tersenyum.Karin menikmati makanannya. Ia tampak begitu lahap, sedangkan Gavin hanya melihatnya tanpa berkedip.Gadis itu terlihat begitu cantik. Ia selalu berusaha tersenyum, selalu berusaha menyenangkan orang lain. Bahkan, ia menutupi kesedihannya demi melihat orang lain tersenyum.“Enak?” tanya Gavin.“Eh, ya ampun. Maaf, aku lupa menawarkan kamu. Ini enak. Makasih, ya,” jawab Karin dengan wajah memerah karena malu.“Nggak apa-apa, Sayang. Itu memang untuk kamu.”“Kamu nggak makan lagi?”Gavin menggelengkan kepalanya. “Enggak. Aku cuma mau menemani kamu makan aja.”“Aku suapin, ya,” ucap Karin yang langsung menyodorkan sendoknya pada Gavin. Mau tidak mau, lelaki itu akhirnya membuka mulutnya.Hidup seperti itu benar-benar membuat Gavin bahagia. Meskipun kadang Karin seperti anak-anak, tetapi ia lebih dewasa daripada umurnya.Hari ini pekerjaan
“Baiklah, kalau begitu aku akan menjemput Bapak,” ucap Karin.“Mau jemput ke mana? Bapak kamu sudah megap-megap, sok-sokan mau dijemput.”“Agar Bapak mendapat perawatan yang lebih bagus.”“Maksudnya kamu mau bawa Bapak kamu ke kota?”Suara ibu tirinya mulai merendah. Pasti ia berpikir kalau membawa ayahnya ke kota, ia pasti ikut.“Terserah aku mau bawa ke mana pun.”Tut!Saking kesalnya Karin pada ibu tirinya, ia mematikan panggilan itu dan langsung memblokir nomor ibu tirinya.“Ada apa?” tanya Gavin.“Wanita itu benar-benar membuat kesal. Dia marah karena aku hanya memberikan uang dua juta dan ingin meninggalkan Bapak sendirian. Namun, ketika aku mau menjemput Bapak, dia mulai bertingkah lagi.”“Jadi mau gimana?”“Aku akan meminta tolong pada saudara Bapak untuk melihat keadaan Bapak. Kalau memang dia tidak menjaganya, maka aku akan membawa Bapak ke kota.”Gavin menganggukkan kepalanya. Ia mengelus pundak Karin, memberikan ketenangan pada gadis itu.Ting!Tidak terasa, lift telah mem
“Jangan,” ucap Karin dengan cepat.Gavin membulatkan matanya mendengar larangan dari Karin. “Apakah kamu tidak memiliki perasaan sedikitpun padaku?” tanya Gavin.“Ini bukan tentang perasaan, tapi ini untuk menyelamatkan kamu.”Gavin tidak menjawab. Ia paham dengan apa yang Karin katakan, sebab waktu itu Karin pernah mengatakan alasannya tidak ingin Gavin kenal dengan keluarganya.Karin tidak mau Gavin dimanfaatkan. Ia tahu bagaimana ibu tirinya itu. Wanita tersebut tidak memiliki rasa malu.“Tapi bagaimanapun juga sifat mereka, aku mencintai kamu, jadi aku menerima apapun sifat keluarga kamu,” ucap Gavin.“Kamu mungkin bisa menerima, bisa paham dengan sifat mereka, tapi lama-kelamaan kamu juga pasti akan merasa kesal. Dan yang bikin malunya, nanti mereka tidak segan-segan mengganggu keluarga kamu.”Gavin menatap Karin lama. Ia merasa betapa tersiksanya jiwa Karin selama ini.“Dulu keluarga Rio sampai memblokir semua kontak mereka karena ibu tiriku itu tidak memiliki rasa malu sedikitp
Gavin menatap Karin cukup lama. “Apa kamu yakin seperti itu?” tanya Gavin.Karin menganggukkan kepalanya. “Iya, aku yakin. Cukup transfer uang untuk mereka makan saja. Nanti bayar rumah sakit baru akan di transfer belakangan.”“Kamu yakin nggak mau pulang? Bagaimanapun juga, yang sakit itu adalah ayah kamu.”“Tidak perlu. Aku benar-benar sudah muak. Rasanya pulang pun tetap akan diperas. Yang dia butuhkan adalah uang dan uang.”“Ayah kamu pasti ingin bertemu dengan kamu.”“Sejak dia menikah lagi, dia sudah melupakan kalau aku adalah anaknya. Jadi, dia tidak akan pernah merindukanku. Sama saja dengan istrinya, yang dia tahu hanya butuh uang saja.”Gavin menganggukkan kepalanya. Ia tahu ia tidak bisa memaksa Karin. Yang pasti, kalau gadis itu ingin pulang, ia siap mengantarkan.Gavin dan Karin berjalan menuju kamar. Karin akan bersiap untuk berangkat kerja, namun sebelumnya ia melangkah ke dapur.“Aku akan memasak sarapan sebentar. Kamu mau sarapan di sini atau pulang?” tanya Karin meno
“Hah, sakit?” tanya Karin refleks.Karena sebenarnya Karin tidak harus bertanya seperti itu, namun dalam keadaan tiba-tiba dia pun bingung harus menanggapi seperti apa.“Iya, sakit dan sekarang masih di rumah sakit. Merepotkan sekali,” jawab ibu tirinya.Baru saja Karin akan membuka mulutnya untuk menjawab apa yang dikatakan oleh sang ibu tiri, wanita paruh baya di ujung telepon itu sudah melanjutkan kata-katanya.“Kirimkan uang sepuluh juta sekarang.”Karin membulatkan matanya mendengar permintaan sang ibu. Entah apa yang dipikirkan oleh ibu tirinya itu sehingga ia meminta Karin mengirimkan uang sebanyak sepuluh juta, padahal baru juga bulan lalu ia meminta uang puluhan juta pada Karin saat menebus Viko dari penjara.Apakah wanita itu berpikir kalau Karin di kota mencetak uang sehingga dengan begitu mudahnya mulutnya mengeluarkan permintaan uang sebesar itu?Sebelum Karin menjadi sekretaris Gavin, gaji Karin sendiri tidak sampai sepuluh juta.“Sepuluh juta? Bukankah baru masuk rumah
"Eh, Bi Murni..." Karin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia seperti tertangkap basah. Bagaimana tidak? Ia berniat pergi pagi-pagi sekali jangan sampai ada yang menyadari kalau ia menginap di rumah Gavin. Ia malah bertemu dengan Bi Murni. "Aku mau pulang, Bi..." Bi Murni mengernyitkan keningnya mendengar kalau Karin sudah mau pulang, padahal ini masih sangat pagi. Beliau juga sepagi inibukan sengaja mau memergoki Karin, tapi beliau mau ke kamar Keenan. Bi Murni ingin mengecek majikan kecilnya itu, sekalian menyiapkan semua keperluan Keenan untuk hari ini. Kamar Keenan dan Gavin memang tidak berjauhan, jadi wajar kalau Bi Murni melewati kamar Gavin untuk menuju ke kamar Keenan. "Loh, kok sudah mau pulang? Ini masih gelap, Non. Sebaiknya sarapan dulu, Bibi juga sudah masak," jawab Bi Murni. Bi Murni begitu santai, wajahnya tampak biasa saja. Tidak ada tanda-tanda kecurigaan ataupun menatap Karin dengan aneh. Sepertinya, Bi Murni sudah tahu dan bisa menebak seperti apa hu







