Share

Bab 7

Penulis: Aray Fu
last update Tanggal publikasi: 2026-07-21 17:42:38

“Keenan, kenapa panggil Mama?” tanya Gavin.

“Gapapa.”

Keenan masih menarik tangan Karin untuk bermain di sofa, sedangkan pengasuhnya yang berdiri di belakang hanya terdiam takut.

“Pak Gavin—“

“Yaudah, kamu tolong ajak Keenan bermain dulu, Karin. Biar aku hubungi Frengki kalau kamu ada di ruanganku,” potong Gavin cepat dan meraih gagang telepon diujung meja kerjanya dan menekan ekstension ruangan Pak Frengki.

Karin hanya mengangguk pelan. Ia ingin menolak, tapi merasa kasihan juga melihat wajah Keenan apalagi anak kecil ini begitu lucu dan menggemaskan. Pipinya sedikit gembul.

“Keenan, hanya tiga puluh menit, oke?” ujar Gavin kemudian.

“Hmm.”

“Karin mau kerja, lain kali kamu gak boleh lagi datang ke kantor Papa. Pulang sekolah pulang ke rumah dan tunggu Papa di rumah saja.”

“Papa pulangnya selalu terlambat,” jawab Keenan enteng.

Gavin menggelengkan kepalanya. Ia kembali berpesan kepada pengasuh Keenan agar lain kali tidak boleh membawa Keenan ke kantor, padahal tadi Keenan datang juga setelah mendapatkan izin darinya.

Gavin memperhatikan Karin dan  Keenan yang tampak begitu asyik bermain. Bahkan, Gavin sampai heran kenapa Keenan tiba-tiba saja ingin bermain dengan Karin. Dan langsung dekat seperti itu. Padahal biasanya Keenan paling susah dekat dengan orang baru.

Entah mengapa dengan Karin ia bisa seperti itu, bahkan memanggil Karin dengan sebutan “mama”.

“Keenan suka gambar?” tanya Karin.

“Suka.”

“Bagaimana kalau kita mewarnai saja?”

Anak lelaki itu mengangguk dan meminta tasnya yang dibawa sang pengasuh. Ia mulai mengeluarkan buku mewarnai dan juga pewarna, jadilah ruangan Gavin seperti kelas TK saja. Bahkan, beberapa kali ia melihat Karin dan Keenan tertawa.

Saat tertawa, Karin begitu cantik. Gavin, akui ia semakin tertarik pada gadis itu. Pertemuan tidak sengaja malam itu seolah takdir benang merah untuk mereka. Dari club yang berakhir di kamar hotel, dan Gavin tidak sulit menemukannya. Gadis yang tidur dengannya malam itu adalah karyawannya sendiri.

Tiga puluh menit berlalu, Keenan ternyata anak yang begitu patuh. Saat Gavin memintanya berhenti dan pulang kali ini ia menurut.

“Papa, besok aku boleh main lagi sama Mama?” tanya Keenan sambil merengek.

“Tidak boleh.”

“Kenapa?”

“Ini kantor, Karin harus bekerja.”

“Kalau begitu, bawa Mama pulang ke rumah agar bisa main sama Keen.”

Gavin menepuk keningnya, anaknya kadang seperti orang dewasa saja. Bisa-bisanya ia  meminta sang ayah membawa Karin pulang ke rumah. Memang anak kecil itu ada-ada saja tingkahnya.

“Nanti kapan-kapan kita undang Aunty Karin ke rumah.”

“Mama.”

“Gapapa, Pak,” sahut Karin saat Gavin melihat ke arahnya seolah lelaki itu sedang meminta izin padanya atas panggilan dari Keenan itu.

Keenan melambaikan tangan kepada Karin sebelum meninggalkan ruangan Gavin, sepertinya kali ini ia benar-benar pulang. Wajahnya sudah ceria, ia sudah merasa senang bermain dengan Karin.

“Saya kembali ke ruangan, Pak,” ucap Karin dan langsung beranjak menyusul Keenan.

Pikiran Karin penuh dengan berbagai kemungkinan. Ia merasa bersalah karena ternyata Gavin sudah punya anak, itu artinya Gavin memiliki istri. Dan apa yang telah ia lakukan? Karin merasa seperti pelakor saja, merusak rumah tangga orang.

Tapi, bagaimana caranya ia melepaskan diri dari Gavin? Mulai minggu depan, hidupnya akan berubah. Ia akan bertemu Gavin setiap hari, bahkan seperempat waktu sehari semalam itu akan ia habiskan di ruangan Gavin.

“Huuuft!” Karin menghela napas berat.

**

Selama seminggu ini, pekerjaan Karin begitu padat. Banyak laporan harus ia selesaikan sebelum menduduki posisi baru. Bahkan, ia juga harus melakukan serah terima kepada Dila, sahabatnya sekaligus staff yang akan menggantikan posisinya di HRD bagian kepegawaian.

“Nanti kita akan sulit lagi menggosip,” ujar Dila kepada Karin.

“Kita masih berada di gedung yang sama. Kantin juga gak pindah,” kekeh Karin.

“Beruntung banget sih kamu, bisa dipilih bos langsung,” sambung Dila lagi.

“Kalau boleh milih sih, aku gak mau.”

“Eh, ada apa?” tanya Dila penasaran.

Karin menggelengkan kepalanya. “Gapapa, maksudku kan akan jadi lebih sibuk.”

Karin kembali fokus dengan pekerjaannya, ia selalu mengalihkan pembicaraan saat Dila mulai bertanya tentang Gavin.

Hari ini, seperti sudah menjadi rutinitas seminggu ini Karin akan pulang terlambat. Pukul delapan malam ia baru menyelesaikan semua pekerjaannya. Tinggal dua hari lagi ia sudah harus mulai pindah tugas menjadi sekretaris Gavin.

“Baru pulang, Bu Karin?” tanya satpam yang menjaga di depan basa basi, sebab sudah hampir satu minggu Karin menjadi langganan pulang terlambat.

“Iya, Pak. Belum dikunci, kan?” kekeh Karin bercanda.

“Tenang, Bu. Belum.”

Karin berjalan menuju lobi, ojek online yang ia pesan sudah dalam perjalanan dan sebentar lagi tiba. Namun, saat di lobi ia melihat Rio berdiri disana.

Karin ingin menghindar, tapi Rio seolah sedang menunggunya.

“Apakah kamu naik jabatan itu karena merayu Pak Gavin?” tanya Rio tanpa basa basi.

“Aku tidak ada urusan denganmu,” jawab Karin datar.

“Bukankah kamu memang terbiasa seperti itu? Dulu, bisa mendapatkan posisi di HRD karena kamu merayu Pak Frengki. Sekarang kamu menjual tubuhmu kepada Pak Gavin? Perempuan sok suci!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 12

    Minggu pagi…Pagi-pagi Karin sudah bersiap dengan mengenakan kemeja dan kulot, rambutnya dibiarkan terurai panjang. Sekalipun ini bukanlah pekerjaan kantor, Karin tetap berpenampilan sopan.“Mudah-mudahan istri Pak Gavin tidak curiga padaku,” gumam Karin sambil menatap bayangan dirinya di cermin.Ia takut kalau kedatangannya di rumah Gavin, malah menimbulkan kecurigaan dari istri Gavin. Sebab, rasanya tidak pantas seorang sekretaris di hari libur malah main di rumah bos.Karin segera turun, ia tidak mau mengundang Gavin masuk ke apartemennya. Jadi, ia memilih untuk turun saja, menemui Gavin di depan itu akan lebih aman menurutnya.Iya, lelaki itu bersikeras mau menjemputnya. Padahal, Karin sudah bilang kalau ia bisa naik taksi. Tapi, Gavin tetap memaksa menjemput.Baru saja turun, ia melihat mobil Gavin berhenti. “Syukurlah tepat waktu.”Karin langsung masuk ke mobil, tangannya membawa satu kotak bingkisan.“Apa itu?” tanya Gavin.“Kado untuk Keenan.”Gavin tertawa. “Harusnya kamu gak

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 11

    “Ah, ti-tidak Pak.” Karin gugup.Apartemennya terlalu kecil untuk tempat Keenan bermain. Tapi, Karin pun bingung, apakah ia harus datang ke rumah Gavin? Bagaimana kalau istri Gavin cemburu?“Kalau begitu, aku anggap kamu bersedia datang ke rumahku,” ucap Gavin.“I-iya, Pak.” Akhirnya Karin hanya bisa mengiyakan permintaan itu, tentu saja sebagai sekretaris baru, bahkan ia duduk di posisi itu baru beberapa jam saja. Mana berani ia menolak permintaan bos.Gavin mengangguk, tangannya tampak mengetik sesuatu di laptopnya, kemudian tatapan matanya terus menatap Karin yang begitu fokus membaca jadwalnya.“Apa sudah paham?” tanya Gavin kemudian.Karin mendongak. “Iya, Pak.”“Baguslah, aku tidak salah pilih berarti. Sekarang, kamu atur waktu untuk minggu depan, semua email sudah aku forward kan ke kamu.”“Ba-baik, pak. Kalau begitu, saya permisi, pak.”Gavin mengernyitkan keningnya. “Kamu mau kemana?”“Kembali ke meja kerja saya, Pak.”“Tidak perlu, bawa laptop kamu kemari. Biar kalau ada mas

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 10

    "Istri?" tanya Gavin heran, keningnya mengernyit.“Iya, Pak Gavin sudah punya istri, kan? Bahkan Bapak juga sudah punya anak,” jawab Karin sambil menunduk.Davin menggelengkan kepalanya. Ia mengulum senyum mendengar jawaban yang diberikan Karin.“Aku mohon, Pak. Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang,” sambung Karin.“Maaf, aku tidak bisa menahan diri,” jawab Gavin. Ia tidak memaksa untuk meneruskan aktivitas mereka karena ia mungkin tahu semakin memaksa, maka Karin akan semakin jauh.Karin tidak menjawab. Ia menggenggam selimutnya begitu erat. Air mata menggenang di pelupuk matanya.“Aku pulang dulu, ya,” ucap Gavin sembari merapikan rambut Karin yang sedikit berantakan. Namun, ia masih sempat mengecup bibir Karin.Karin tidak menjawab. Ia hanya menatap kepergian Gavin dengan ekor matanya.Air mata Karin akhirnya jatuh setelah pintu tertutup. Ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan nafsunya. Sekarang, ia malah menikmati setiap sentuhan dari Gavin.Karin berd

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 9

    “Pak, aku gapapa,” ucap Karin menolak.Bagaimana tidak menolak, Gavin adalah bos tertinggi di kantornya.“Kompres dingin, bisa membuat memarnya cepat hilang,” jawab Gavin.Meskipun Karin menolak, Gavin tetap memaksa sehingga membuat gadis itu tidak punya pilihan lain saat Gavin meminta handuk kecil kepadanya.Gavin membungkus es batu itu dengan handuk kecil lalu mengompres pelan-pelan pergelangan tangan Karin. Sedangkan Karin hanya diam saja, bahkan ia tampak menahan nafasnya.“Masih sakit?” tanya Gavin.Karin menggelengkan kepalanya. “Sudah tidak lagi, Pak. Terima kasih.”Alih-alih melepaskan tangan Karin, Gavin tetap memegangnya. Meskipun Karin sudah mengatakan tidak sakit lagi. Bahkan, Gavin perlahan meniupnya.“Nanti, aku kirimkan salep.”Karin menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, Pak. Ini sudah sembuh kok.”“Kenapa memilih tinggal disini? Cukup jauh dari kantor.”Karin ingin menarik tangannya, tapi Gavin menahannya.“Ini yang murah, Pak.”“Gaji kamu kurang?”“Gak, Pak.”“Terus,

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 8

    Plak!Sebuah tamparan dilepaskan Karin ke wajah Rio. Sebenarnya itu refleks, karena emosinya yang sudah tertahan perlu untuk disalurkan.“Jalang! Kau menamparku?” tanya Rio sambil memegang wajahnya.“Iya. Agar mulutmu itu bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih baik. Kita tidak punya hubungan apapun lagi, jadi jangan saling mencampuri urusan,” jawab Karin.Rio marah, ia tidak pernah menyangka kalau Karin berani padanya. Selama ini, yang ia tahu Karin sangat mencintainya.“Sudah lama aku muak melihatmu yang sok suci ini, Karin. Kau pura-pura menjaga kehormatan, bahkan tunangan sendiri tidak boleh menyentuhmu. Tapi, nyatanya demi jabatan kau melakukan apa saja.”“Terserah. Tuduhkan saja sesuai dengan keyakinanmu.”Karena jawaban Karin terlalu datar, Rio tidak terima. “Katakan padaku, berapa tarifmu per jam?”Karin tidak menjawab, ia melangkah menuju pintu keluar. Tapi, Rio malah menarik tangannya.“Lepaskan!” teriak Karin menepis tangan Rio.“Kenapa kau menghindariku? Malam ini kau harus

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 7

    “Keenan, kenapa panggil Mama?” tanya Gavin.“Gapapa.”Keenan masih menarik tangan Karin untuk bermain di sofa, sedangkan pengasuhnya yang berdiri di belakang hanya terdiam takut.“Pak Gavin—““Yaudah, kamu tolong ajak Keenan bermain dulu, Karin. Biar aku hubungi Frengki kalau kamu ada di ruanganku,” potong Gavin cepat dan meraih gagang telepon diujung meja kerjanya dan menekan ekstension ruangan Pak Frengki.Karin hanya mengangguk pelan. Ia ingin menolak, tapi merasa kasihan juga melihat wajah Keenan apalagi anak kecil ini begitu lucu dan menggemaskan. Pipinya sedikit gembul.“Keenan, hanya tiga puluh menit, oke?” ujar Gavin kemudian.“Hmm.”“Karin mau kerja, lain kali kamu gak boleh lagi datang ke kantor Papa. Pulang sekolah pulang ke rumah dan tunggu Papa di rumah saja.”“Papa pulangnya selalu terlambat,” jawab Keenan enteng.Gavin menggelengkan kepalanya. Ia kembali berpesan kepada pengasuh Keenan agar lain kali tidak boleh membawa Keenan ke kantor, padahal tadi Keenan datang juga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status