Share

Bab 8

Author: Aray Fu
last update publish date: 2026-07-22 16:17:11

Plak!

Sebuah tamparan dilepaskan Karin ke wajah Rio. Sebenarnya itu refleks, karena emosinya yang sudah tertahan perlu untuk disalurkan.

“Jalang! Kau menamparku?” tanya Rio sambil memegang wajahnya.

“Iya. Agar mulutmu itu bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih baik. Kita tidak punya hubungan apapun lagi, jadi jangan saling mencampuri urusan,” jawab Karin.

Rio marah, ia tidak pernah menyangka kalau Karin berani padanya. Selama ini, yang ia tahu Karin sangat mencintainya.

“Sudah lama aku muak melihatmu yang sok suci ini, Karin. Kau pura-pura menjaga kehormatan, bahkan tunangan sendiri tidak boleh menyentuhmu. Tapi, nyatanya demi jabatan kau melakukan apa saja.”

“Terserah. Tuduhkan saja sesuai dengan keyakinanmu.”

Karena jawaban Karin terlalu datar, Rio tidak terima. “Katakan padaku, berapa tarifmu per jam?”

Karin tidak menjawab, ia melangkah menuju pintu keluar. Tapi, Rio malah menarik tangannya.

“Lepaskan!” teriak Karin menepis tangan Rio.

“Kenapa kau menghindariku? Malam ini kau harus melayaniku, anggap saja sebagai perpisahan kita,” jawab Rio menahan tangan Karin.

Karin mencoba memberontak, tapi tenaga Rio jauh lebih besar darinya. Sehingga pergelangan tangannya masih dicengkram oleh Rio.

Tidak ada yang mencoba menolong Karin, sebab semua orang di kantor tahu kalau Karin dan Rio adalah pasangan kekasih. Pun dengan satpam yang berjaga, mungkin ia mengira itu hanyalah komunikasi pasangan kekasih saja.

“Lepas, Rio!” ujar Karin lagi.

“Tidak akan. Berikan aku kenangan perpisahan, Karin!”

Karin kembali menampar Rio, kali ini hanya dengan tangan kirinya agar lelaki itu melepaskan tangannya. Tapi, rupanya itu semakin membuat Rio marah. Ia melepaskan tangan Karin dengan kasar, tapi tangannya terangkat untuk memberikan tamparan balasan pada Karin.

“Apa kau pikir aku takut menamparmu disini, Karin?” tanya Rio.

Karin berdiri ketakutan, membayangkan kalau Rio menamparnya rasa sakitnya pasti luar biasa. Namun, sebelum tangan Rio mengenai wajahnya sebuah tangan menariknya ke belakang dan seorang maju ke hadapannya.

Rio panik dan terkejut, untung saja ia masih mampu menahan tangannya. Kalau tidak, ia pasti akan menampar wajah Gavin. Hancurlah kariernya.

“Kenapa tidak jadi menampar?” tanya Gavin.

Karin menghela nafas lega, ia berdiri di belakang Gavin.

“Ma-maaf, Pak Gavin.”

Di belakang Gavin juga ada dua satpam yang segera mendekat saat menyadari kalau Rio dan Karin sedang bersitegang.

“Apakah seperti ini cara kamu memperlakukan perempuan?” tanya Gavin.

“Tidak, Pak. Saya salah.”

“Siapa namamu?”

Wajah Rio langsung memucat. “Rio, Pak.”

“Bagian?”

“Legal, Pak.”

Gavin mengangguk, tapi tatapan matanya tajam kearah Rio. “Kalau kalian ada masalah, selesaikan di luar. Jangan di kantor. Karena kau sudah membuat keributan di kantor, maka aturan kantor yang berlaku. Besok temui saya!”

Pandangan Gavin beralih pada Karin, wajah gadis itu memucat. “Karin, pulang bareng saya.”

“Iya, Pak,” jawab Karin lemah, ia tidak memiliki tenaga lagi untuk membantah. Dan juga, saat ini ia ketakutan. Ikut dengan Gavin mungkin adalah pilihan yang terbaik.

“Catat namanya, besok laporkan kepada Pak Frengki dan Manager di bagian Legal,” ujar Gavin kepada dua satpam itu sebelum akhirnya meninggalkan lobi diikuti oleh Karin.

Karin berjalan di belakang Gavin dengan tertunduk. “Pak Gavin…”

“Hmmm.”

“Aku sudah pesan ojek. Drivernya sudah tiba. Terima kasih sudah membantuku,” ucap Karin.

“Mana drivernya?” tanya Gavin.

Karin menunjukkan seorang bapak paruh baya dengan jaket warna hijau di depan kantor yang sedang menunggunya.

Ia kira Gavin akan membiarkannya pulang dengan ojek itu, tapi rupanya Gavin memberikan lima lembar uang seratus ribuan kepada Bapak itu dan meminta pesanan Karin dibatalkan.

“Pak…”

“Kamu pulang biar saya antar.”

“Tapi, Pak—“

“Apa kamu mau pulang dengan lelaki kasar itu?”

Tidak ada pilihan lain bagi Karin, akhirnya ia hanya mengikuti langkah kaki Gavin menuju mobilnya.

Saat masuk ke dalam mobil, jantung Karin berdegup kencang. Ia merasa bersalah pada istri Gavin karena menumpang mobil suaminya. Dan ini pertama kalinya Karin naik ke mobil mewah.

“Dia siapa?” tanya Gavin saat mulai menjalankan mobilnya setelah Karin memberikan alamat apartemennya. Sebenarnya mungkin lebih tepatnya bukan apartemen melainkan rumah susun, karena Karin mencari yang harganya murah dan terjangkau dengan gajinya.

“Mantan tunangan,” jawab Karin.

“Kenapa putus?”

“Dia selingkuh.”

“Oh.”

Gavin tidak meneruskan pertanyaannya, ia mengangguk pelan lalu menghela nafas berat. Soal diselingkuhi, ternyata ia dan Karin bernasib sama.

Dan ia tahu bagaimana rasa sakitnya menjadi Karin.

“Sampai sini saja, Pak,” ucap Karin setelah Gavin berhenti di depan apartemennya.

“Aku gak diajak masuk?” tanya Gavin.

Akhirnya Karin mengajak Gavin turun menuju ke unitnya yang berada di lantai lima. Gavin masuk dan melihat ke sekeliling ruangan yang begitu sederhana.

“Ada es batu?” tanya Gavin.

“Bapak haus? Aku ambilkan dulu, pak,” jawab Karin.

Karin pun salah tingkah, seolah ia tidak menyuguhkan tamu minum saja. Baru datang Gavin langsung minta es.

“Sini tangan kamu,” ujar Gavin setelah Karin memberikan batu es kepadanya.

“Hah?”

“Aku akan mengompres tangan kamu yang sakit,” jawab Gavin sambil menarik tangan Karin dan melihat pergelangan tangan yang merah akibat cengkraman Rio yang begitu kuat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 12

    Minggu pagi…Pagi-pagi Karin sudah bersiap dengan mengenakan kemeja dan kulot, rambutnya dibiarkan terurai panjang. Sekalipun ini bukanlah pekerjaan kantor, Karin tetap berpenampilan sopan.“Mudah-mudahan istri Pak Gavin tidak curiga padaku,” gumam Karin sambil menatap bayangan dirinya di cermin.Ia takut kalau kedatangannya di rumah Gavin, malah menimbulkan kecurigaan dari istri Gavin. Sebab, rasanya tidak pantas seorang sekretaris di hari libur malah main di rumah bos.Karin segera turun, ia tidak mau mengundang Gavin masuk ke apartemennya. Jadi, ia memilih untuk turun saja, menemui Gavin di depan itu akan lebih aman menurutnya.Iya, lelaki itu bersikeras mau menjemputnya. Padahal, Karin sudah bilang kalau ia bisa naik taksi. Tapi, Gavin tetap memaksa menjemput.Baru saja turun, ia melihat mobil Gavin berhenti. “Syukurlah tepat waktu.”Karin langsung masuk ke mobil, tangannya membawa satu kotak bingkisan.“Apa itu?” tanya Gavin.“Kado untuk Keenan.”Gavin tertawa. “Harusnya kamu gak

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 11

    “Ah, ti-tidak Pak.” Karin gugup.Apartemennya terlalu kecil untuk tempat Keenan bermain. Tapi, Karin pun bingung, apakah ia harus datang ke rumah Gavin? Bagaimana kalau istri Gavin cemburu?“Kalau begitu, aku anggap kamu bersedia datang ke rumahku,” ucap Gavin.“I-iya, Pak.” Akhirnya Karin hanya bisa mengiyakan permintaan itu, tentu saja sebagai sekretaris baru, bahkan ia duduk di posisi itu baru beberapa jam saja. Mana berani ia menolak permintaan bos.Gavin mengangguk, tangannya tampak mengetik sesuatu di laptopnya, kemudian tatapan matanya terus menatap Karin yang begitu fokus membaca jadwalnya.“Apa sudah paham?” tanya Gavin kemudian.Karin mendongak. “Iya, Pak.”“Baguslah, aku tidak salah pilih berarti. Sekarang, kamu atur waktu untuk minggu depan, semua email sudah aku forward kan ke kamu.”“Ba-baik, pak. Kalau begitu, saya permisi, pak.”Gavin mengernyitkan keningnya. “Kamu mau kemana?”“Kembali ke meja kerja saya, Pak.”“Tidak perlu, bawa laptop kamu kemari. Biar kalau ada mas

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 10

    "Istri?" tanya Gavin heran, keningnya mengernyit.“Iya, Pak Gavin sudah punya istri, kan? Bahkan Bapak juga sudah punya anak,” jawab Karin sambil menunduk.Davin menggelengkan kepalanya. Ia mengulum senyum mendengar jawaban yang diberikan Karin.“Aku mohon, Pak. Aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang,” sambung Karin.“Maaf, aku tidak bisa menahan diri,” jawab Gavin. Ia tidak memaksa untuk meneruskan aktivitas mereka karena ia mungkin tahu semakin memaksa, maka Karin akan semakin jauh.Karin tidak menjawab. Ia menggenggam selimutnya begitu erat. Air mata menggenang di pelupuk matanya.“Aku pulang dulu, ya,” ucap Gavin sembari merapikan rambut Karin yang sedikit berantakan. Namun, ia masih sempat mengecup bibir Karin.Karin tidak menjawab. Ia hanya menatap kepergian Gavin dengan ekor matanya.Air mata Karin akhirnya jatuh setelah pintu tertutup. Ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menahan nafsunya. Sekarang, ia malah menikmati setiap sentuhan dari Gavin.Karin berd

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 9

    “Pak, aku gapapa,” ucap Karin menolak.Bagaimana tidak menolak, Gavin adalah bos tertinggi di kantornya.“Kompres dingin, bisa membuat memarnya cepat hilang,” jawab Gavin.Meskipun Karin menolak, Gavin tetap memaksa sehingga membuat gadis itu tidak punya pilihan lain saat Gavin meminta handuk kecil kepadanya.Gavin membungkus es batu itu dengan handuk kecil lalu mengompres pelan-pelan pergelangan tangan Karin. Sedangkan Karin hanya diam saja, bahkan ia tampak menahan nafasnya.“Masih sakit?” tanya Gavin.Karin menggelengkan kepalanya. “Sudah tidak lagi, Pak. Terima kasih.”Alih-alih melepaskan tangan Karin, Gavin tetap memegangnya. Meskipun Karin sudah mengatakan tidak sakit lagi. Bahkan, Gavin perlahan meniupnya.“Nanti, aku kirimkan salep.”Karin menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, Pak. Ini sudah sembuh kok.”“Kenapa memilih tinggal disini? Cukup jauh dari kantor.”Karin ingin menarik tangannya, tapi Gavin menahannya.“Ini yang murah, Pak.”“Gaji kamu kurang?”“Gak, Pak.”“Terus,

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 8

    Plak!Sebuah tamparan dilepaskan Karin ke wajah Rio. Sebenarnya itu refleks, karena emosinya yang sudah tertahan perlu untuk disalurkan.“Jalang! Kau menamparku?” tanya Rio sambil memegang wajahnya.“Iya. Agar mulutmu itu bisa mengeluarkan kata-kata yang lebih baik. Kita tidak punya hubungan apapun lagi, jadi jangan saling mencampuri urusan,” jawab Karin.Rio marah, ia tidak pernah menyangka kalau Karin berani padanya. Selama ini, yang ia tahu Karin sangat mencintainya.“Sudah lama aku muak melihatmu yang sok suci ini, Karin. Kau pura-pura menjaga kehormatan, bahkan tunangan sendiri tidak boleh menyentuhmu. Tapi, nyatanya demi jabatan kau melakukan apa saja.”“Terserah. Tuduhkan saja sesuai dengan keyakinanmu.”Karena jawaban Karin terlalu datar, Rio tidak terima. “Katakan padaku, berapa tarifmu per jam?”Karin tidak menjawab, ia melangkah menuju pintu keluar. Tapi, Rio malah menarik tangannya.“Lepaskan!” teriak Karin menepis tangan Rio.“Kenapa kau menghindariku? Malam ini kau harus

  • Ranjang Hangat Tuan Presdir   Bab 7

    “Keenan, kenapa panggil Mama?” tanya Gavin.“Gapapa.”Keenan masih menarik tangan Karin untuk bermain di sofa, sedangkan pengasuhnya yang berdiri di belakang hanya terdiam takut.“Pak Gavin—““Yaudah, kamu tolong ajak Keenan bermain dulu, Karin. Biar aku hubungi Frengki kalau kamu ada di ruanganku,” potong Gavin cepat dan meraih gagang telepon diujung meja kerjanya dan menekan ekstension ruangan Pak Frengki.Karin hanya mengangguk pelan. Ia ingin menolak, tapi merasa kasihan juga melihat wajah Keenan apalagi anak kecil ini begitu lucu dan menggemaskan. Pipinya sedikit gembul.“Keenan, hanya tiga puluh menit, oke?” ujar Gavin kemudian.“Hmm.”“Karin mau kerja, lain kali kamu gak boleh lagi datang ke kantor Papa. Pulang sekolah pulang ke rumah dan tunggu Papa di rumah saja.”“Papa pulangnya selalu terlambat,” jawab Keenan enteng.Gavin menggelengkan kepalanya. Ia kembali berpesan kepada pengasuh Keenan agar lain kali tidak boleh membawa Keenan ke kantor, padahal tadi Keenan datang juga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status