LOGIN“Mana Kakek, Mama?” Kenzo dan Kenzi terus merengek sambil menarik-narik tangan sang Mama agar segera memberi jawaban yang membuat mereka puas.Sudah hampir setengah jam Salsa tiba di rumah setelah Alea menelepon Nathan. Tadi Alea mengabarkan kalau si kembar tidak berhenti menangis, dan Salsa terpaksa pulang karena takut suara tangisan anak-anaknya mengganggu tetangga di malam hari. Tapi bahkan setelah Salsa berada di hadapan mereka, tangisan kedua bocah itu belum juga reda.“Kakek lagi berobat, sayang,” jawab Salsa pelan. Kalimat yang sama terus ia ulang setiap kali si kembar melempar pertanyaan yang sama. Matanya yang sembab dan merah berusaha menatap kedua anaknya.“Anterin ke sana. Kenzo mau temenin Kakek berobat,” cerocos Kenzo dengan suara serak.Di pikiran polos mereka, Kakek kasihan kalau harus sendirian di luar sana. Sejak kecil, si kembar memang sangat dekat dengan sang kakek. Pria tua itulah yang selalu masak makanan enak untuk mereka dan juga selalu menemani si kembar berma
“Gak ah. Kamu ini ada-ada saja idenya. Lihat fotoku sama Clara di sosmed saja udah tiga kali ngambek dia. Gak ah,” tolak Nathan. Menurutnya ide asistennya ini sangat konyol. “Tapi hanya itu cara paling mudah untuk membongkar semua, Pak. Salsa pasti ngerti karena memang status anda dan Nona Clara masih tunangan,” bujuk Raka lagi. “Ngerti apaan? Dia itu sekarang memposisikan dirinya sebagai orang ketiga. Sampai stress aku jelasin. Asal kamu tahu ya, dua jam di apartemen, aku sudah hampir gila jelasin ke dia tentang keadaan rumit ini. Sekali dijelasin dia bilang paham, nggak lama lagi nangis lagi. Terus aja kayak gitu. Belum lagi nanti dia pasti akan melihat foto terbaruku dan Clara di sosial media yang berhasil diedit oleh wartawan sialan itu. Sudah pasti dia marah-marah lagi. Kamu sih enak karena Alea nurut dan percaya. Lah Salsa itu jelmaan singa betina kalau dia sudah lagi marah dan ngambek,” omel Nathan lagi.“Jadi bapak kalah sama Salsa? Suami takut istri nanti kalau sudah menika
Salsa cuma bisa duduk diam di depan ruang ICU, diapit Nathan dan Raka. Sejak ayahnya dipindahkan ke ruangan itu, air matanya tak pernah kering. Pipinya basah dan matanya sudah bengkak. Dari balik pintu kaca, dia bisa melihat ayahnya terbaring lemas dengan berbagai alat medis dan selang yang menempel di tubuhnya.Nathan sudah berkali-kali memegang pundaknya, berusaha mengajak berbicara dan menenangkannya. Raka juga berulang kali menyodorkan air minum dan menyuruhnya istirahat sebentar. Tapi Salsa sama sekali tidak merespons. Dia seolah tidak menganggap keberadaan dua orang di dekatnya itu. Suara orang-orang di sekitarnya cuma terdengar seperti angin lalu.Tatapannya kosong mengarah ke pintu ruang ICU. Pikirannya benar-benar kalut karena takut. Dia sangat takut kalau tiba-tiba pintu itu terbuka dan dokter keluar membawa berita buruk. Salsa takut sekali kalau ayahnya tidak bertahan dan pergi meninggalkan dia.Kenyataan kalau ayahnya kena kanker darah benar-benar bikin Salsa hancur. Dia t
“Raka,” sapa Nathan. Dia mengurai pelukannya pada Salsa, “dari mana kamu tahu kami di sini?” tanyanya.“Saya tadi nganterin Alea ke rumah Salsa. Katanya kangen Twins, dan suster bilang Ayahnya Salsa pingsan. Jadi saya menyusul ke sini,” jawab Raka.“Makasih, Pak Raka,” ujar Salsa. Ternyata dia tak sendirian.“Sama-sama, Sa.”“Lalu di mana Alea?” tanya Nathan.“Alea di rumah Salsa, Pak. Kenzo dan Kenzi masih menangis,” jelasnya.Mendengar itu kembali membuat hati Salsa sakit. Tapi dia tidak mungkin mengajak kedua anaknya ke rumah sakit, berharap agar sang sahabat bisa membuat keduanya tidak menangis lagi. Raka pun duduk di samping Nathan dan berbicara tentang kondisi ayahnya Salsa yang kemungkinan kelelahan. Sementara Salsa memilih diam.Hampir satu jam Salsa duduk membungkuk di kursi tunggu UGD. Matanya tidak berkedip menatap celah kecil di pintu ruang tindakan.Setelah menunggu proses pemeriksaan tes darah awal yang terasa sangat lama dan menyiksa, pintu ruangan UGD akhirnya terbuka.
“Sabar, sayang. Ayah pasti cuma kecapean,” bujuk Nathan karena tak kuasa melihat Salsa terus menangis. “Harusnya dulu aku gak izinin Ayah jagain Kenzo dan Kenzi sendirian. Kadang aku pulang larut malam. Ayah pasti lelah banget,” sahut Salsa mencoba menyalahkan dirinya sendiri atas keadaan yang menimpa Ayahnya. Tangan sang ayah sangat dingin membuat Salsa semakin takut. “Kalau ada yang harus disalahkan atas keadaan ini, itu adalah aku, sayang. Gara-gara aku kalian menderita. Gara-gara aku kamu harus banting tulang bekerja demi menghidupi anak-anak kita dan juga Ayah. Gara-gara aku, ayah harus kelelahan. Dengan nyawa pun aku tukar, tidak akan pernah bisa membalas penderitaan yang sudah kalian alami terdahulu. Aku tahu penyesalan ini akan aku rasakan seumur hidup dan semuanya akan sia-sia karena aku tidak akan pernah bisa merubah masa lalu kita. Aku minta maaf,” ujar Nathan ikut menyalahkan dirinya sendiri. Demi apapun sejak pertama kali mengetahui penderitaan Salsa, rasa bersalah men
“Ayah, Ayah... Bangun, Yah,” panggil Salsa terisak sambil mengguncang bahu ayahnya. Seketika itu juga, Salsa bisa merasakan suhu tubuh ayahnya mendadak naik dan panas tinggi.“Ada apa ini, Bu? Ada apa?” tanya pengasuh si kembar yang langsung berhamburan masuk karena mendengar teriakan Salsa.“Ayah saya pingsan, Suster!” ucap Salsa panik setengah mati. Tangannya sampai gemetar hebat saat berusaha merogoh ponsel di tasnya untuk memesan taksi online.Di saat yang bersamaan, Nathan baru saja tiba di depan rumah dengan membawa banyak kantong makanan. Sesuai janjinya pada Salsa, pria itu memang datang mengendarai taksi online demi menjaga kerahasiaan mereka.“Ada apa, Suster?” tanya Nathan heran begitu melihat salah satu pengasuh anaknya berdiri di ambang pintu kamar dengan raut wajah panik. Kedua anaknya yang juga berdiri di ambang pintu menoleh ke arah Nathan lalu menunjuk ke kamar sang kakek. Keduanya seakan tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres. Mereka sama sekali tidak fokus pada mak
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu
Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya
Di sisi lain, layar ponsel di genggaman Zara mendadak terasa panas saat sebuah unggahan video di media sosial menampilkan sosok Aditya. Di dalam rekaman video itu, Aditya berjalan menunduk dengan tangan terborgol, dikelilingi beberapa petugas kepolisian yang menggiringnya masuk ke mobil tahanan. T







