LOGIN“Aaaaah,” Salsa langsung mendesah saat dadanya dihisap penuh nafsu oleh Nathan. Tangannya meremas rambut Nathan. Nathan terlihat sangat tergesa-gesa melakukannya. Selain takut anak-anaknya masuk ke dalam rumah, dia juga harus segera pergi ke kantor. Tapi nafsunya pada wanita ini tak pernah bisa dia tahan. Ciumannya naik langsung ke leher Salsa. Membuat wanita itu terus mengeluarkan desahan yang semakin membuat Nathan berhasrat untuk segera melakukan penyatuan. Nathan berdiri di sisi ranjang, pria itu pun berkata, “sayang, hisap bentar punyaku,” ujarnya. Salsa menegakkan tubuhnya lalu duduk di sisi ranjang. Dia membungkuk untuk memanjakan pria itu dengan mulutnya. Rasa nikmat langsung Nathan rasakan saat miliknya tertanam penuh di bibir sang wanita. Pendingin ruangan sudah bekerja dengan maksimal tapi perlu mereka di pagi ini masih bercucuran. Salsa terus melahap benda keramat itu dengan penuh nafsu. Lidahnya bermain-main di ujungnya membuat desahan panjang kembali keluar dari mul
Kecanduan Tubuh Salsa Salsa menuruni anak tangga hendak menyapa kedua orang tua Nathan. Salsa menghentikan langkahnya Setelah suara Nathan terdengar menyentil telinganya.“Itu mereka sampai ketakutan, sayang. Please jangan dimarahi bikin lagi belum tentu dapat yang begitu,” ujarnya. Suaranya sangat pelan agar tidak sampai membuat urat leher Salsa keluar lagi menanggapi ucapannya. Di kantor dirinya boleh jadi yang berkuasa, tapi jika berhadap-hadapan dengan Salsa tentu saja dia harus sabar dan selalu mengalah. Salsa kalau sudah berubah menjadi harimau betina seisi rumah bisa terdiam. “Aku memangnya ngapain?” ulang Salsa.“Tadi kamu berdehem,” jawab Nathan. “Adik-adik aja yang lebay, Mamanya cuma berdehem kok malah kabur,” Alea membantu Nathan. “Sayang,” tegur sang papa. Alea hanya nyengir mendengarnya.“Coba nanti kamu tanyain mereka kenapa aku bisa marah. Ngelesnya kamu banget itu!” seru Salsa lantas melenggang pergi menghampiri Mommynya Nathan di dapur. Nathan yang hendak membu
“Maksud Mommy apa?” tanya Nathan bingung Sang mommy tersenyum penuh arti, “kita boyong Salsa dan baby Twins ke luar negeri lalu kalian menikah di sana. Tapi nanti setelah urusan dengan Darmawan beres baru umumkan pernikahan itu,” usul sang Mommy seakan usulnya itu adalah sesuatu yang sangat berharga yang pastinya membuat Nathan senang. Ternyata pria itu malah menghela nafas berat lalu bersandar pada sandaran sofa sebelum akhirnya menjawab, “Salsa gak mau kayak gitu, Mom. Nathan memang boleh mengakui anak-anak sebagai anak-anak Nathan dan dia, tapi untuk urusan menikah dia tetap mau agak selesai dulu urusan kita sama keluarga Darmawan,” sahut Nathan. Seketika wajah Nyonya Abimanyu menjadi sendu. Dia pikir ini adalah ide paling cemerlang, ternyata sang anak sudah sempat membahas ini dengan Salsa. Suara Nathan kembali mengalihkan fokusnya. “Tapi siapa tahu jika sekarang sudah dapat restu dari Mommy dan Daddy, Salsa berubah pikiran. Besok kita coba dah bicara baik-baik dengannya
"Heran deh sama anak itu! Bisa-bisanya tergila-gila sama Nathan!" Mamanya Clara berkali-kali membuang napas kasar, meluapkan kejengkelannya yang sudah tak bisa disembunyikan lagi terhadap Nathan. "Aku udah malas banget mau bicarain Nathan lagi. Ada aja alasannya setiap kali diundang makan malam. Dia bener-bener gak menghargai kita sebagai orang tua Clara, beberapa kerabat sampai meminta Clara untuk berhenti mencintai Nathan saking tidak sebanding cinta yang Clara punya untuk si brengsek itu dengan apa yang Clara dapatkan!" cecarnya penuh amarah pada sang suami.Berbeda dengan istrinya yang emosinya berantakan, Pak Darmawan justru tampak lebih santai memikirkan soal Nathan. Pria paruh baya itu menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi, sama sekali tidak terpancing dan ikut ngamuk seperti istrinya."Kamu tenang aja," sahut Pak Darmawan datar. "Dia gak akan bisa berkutik begitu aku mulai bergerak. Aku gak akan biarkan siapa pun menyakiti putriku. Apa pun yang Clara mau bakal aku turuti,
Nathan akhirnya melangkah naik ke lantai dua saat melihat dua pengasuh si kembar sedang ketakutan mengintip dari balik tirai balkon. Wajar saja mereka panik, di depan rumah berjejer delapan mobil Jeep hitam dengan belasan pria berbadan tegap. Setelah menenangkan mereka dan menjelaskan kalau itu orang-orang suruhannya, Nathan berbalik menuju tangga lalu turun lagi ke lantai satu untuk menghampiri Raka."Mereka sudah di depan. Cepat beresin," ujar Nathan."Baik, Pak," jawab Raka. Pria itu paham betul tugasnya dan langsung bergegas keluar rumah untuk menemui para pengawal tersebut.Setelah urusan pengamanan di luar tuntas, Raka langsung mengantar Tuan dan Nyonya Abimanyu serta Alea pulang ke rumah utama. Suasana di lantai satu yang tadinya penuh isak tangis kini menjadi lengang.Hari ini benar-benar menguras emosi. Dari perbincangan panjang tadi, Nathan makin sadar kalau cintanya ke Salsa sama sekali tidak salah. Salsa punya hati yang sangat lapang. Kalau mau, bisa saja Salsa membalas de
Salsa nyaris tak bisa bernafas melihat pemandangan di depan matanya. Dia tidak pernah menyangka bisa bertemu kembali dengan orang tua Nathan dalam keadaan seperti ini. Ini benar-benar kejutan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hatinya mendadak perih seperti ada tangan tak kasat mata yang sedang meremasnya dengan sangat kencang.Sementara itu, tubuh Nyonya Abimanyu bergetar hebat saat melihat kedua cucu kembarnya masuk ke dalam rumah membuat kedua orang tua Nathan terkejut bukan main seperti sedang melihat Nathan di waktu kecil. “Ya Tuhan. Ampuni aku,” tangisnya tak bisa ditahan lagi. Salsa matanya sudah berkaca-kaca. Di dekat kolam ikan berdiri Nathan dengan kedua orang tuanya serta Alea. Kenapa dia berani sekali menceritakan semua ini pada orang tuanya yang dulu mengusir Salsa? pikirnya. Si kembar yang awalnya mau masuk ke dalam rumah terpaksa mundur lagi dan berdiri persis di sisi kanan dan kiri sang mama. Mereka memeluk kaki Salsa seolah sedang memberi perlindungan terhada
Nathan menatap tubuh Salsa dari atas hingga bawah, sementara gadis itu hanya bisa meneteskan air mata sampai akhirnya suara Nathan membuatnya buru-buru mengusap air mata yang membasahi kedua sudut matanya.“Jangan buat nafsuku hilang. Kau disini wajib melayani nafsuku dan membuatku puas,” ujar pria
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu
Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya







