LOGIN“Kamu mau kemana sekarang?” tanya Mamanya. “Aku mau sewa mobil dulu, Ma. Setelah itu kita coba cari hutan tempat Aditya bersembunyi,” ucapnya.“Tapi, nak-” ucapan mamanya terpotong. “Mama tenang saja, kita pasti berhasil menemukan lelaki terkutuk itu. Berdoa saja semoga harta kita masih ada di tempat yang sama,” ujarnya. Mamanya hanya bisa mengangguk pasrah.Clara pun meminta izin untuk sewa mobil, setelah itu dia kembali ke hotel untuk menjemput mamanya. Clara yakin banget pasti bisa menemukan tempat persembunyian Aditya.Mobil sewaan yang dikendarai Clara terus melaju membelah jalanan berbatu yang makin menyempit di pinggiran kota. Hampir setengah hari penuh wanita itu mengitari kawasan yang sama, memutar otak dan mengamati tiap sudut pepohonan untuk mengingat-ingat jalan setapak yang pernah mereka lalui. Ketegangan di dalam kabin mobil makin terasa berat seiring bensin yang terus berkurang dan napas mamanya yang makin memburu di kursi samping. Setiap kali berbelok di persimpangan
"Ada apa lagi, Raka?" tanya Nathan saat mengangkat panggilan telepon dari orang kepercayaannya yang juga calon menantunya itu."Pak, sepertinya dia membutuhkan perawatan intensif. Apa boleh kami langsung bawa dia ke rumah sakit terbaik di kota ini?" tanya Raka dari seberang telepon. Dia paham betul kalau biaya rumah sakit swasta paling bagus di pusat kota sangat mahal. Jadi bagaimanapun juga, dia harus minta izin dulu kepada Nathan Abimanyu sebagai pemilik keputusan dan pemilik dana penuh atas pengobatan korban yang disekap oleh Aditya."Silakan, bawa saja. Obati dia sampai bener-bener sembuh, berikan pengobatan terbaik," jawab Nathan cepat tanpa ada keraguan sedikit pun di setiap ucapannya. Bagi Nathan, keselamatan anak buahnya jauh lebih penting daripada sekadar angka di rekening."Baik, Pak. Terima kasih banyak," sahut Raka sebelum akhirnya memutus sambungan telepon.Salsa yang duduk di sebelah suaminya langsung menoleh dengan wajah cemas. Sejak tadi dia memang ikut khawatir memiki
“Suara apa itu?” Teriak Aditya. Dia langsung mendobrak pintu tempat anak buah Nathan disekap dan kosong.“Bangsat!” Umpatnya penuh amarah.Pintu belakang villa yang sedikit terbuka membuat anak buah Nathan memanfaatkan celah sempit itu dengan sangat cepat. Begitu berhasil keluar dari bangunan, dia tidak langsung lari lurus melintasi semak-semak karena sadar jejak kakinya akan sangat mudah ditemukan oleh Aditya. Dengan sisa tenaga yang ada dan tangan yang masih terasa perih akibat luka yang dialami di sekujur tubuhnya, pria itu memilih memanjat sebuah pohon besar berdaun rindang yang berdiri hanya beberapa meter dari dinding luar villa.Di atas dahan tinggi dan tertutup oleh dedaunan yang sangat lebat itu, dia menahan napas sambil merapatkan tubuhnya ke batang pohon. Tepat di bawahnya, Aditya keluar dari pintu belakang sambil menggenggam pistol dengan raut wajah penuh amarah. Mata Aditya meliar menyapu seluruh area sekitar villa, melangkah terburu-buru menyusuri semak-semak dan jalan
“Apa?” Salsa terkejut mendengar pengakuan mertuanya yang bilang ada sepuluh dus total belanjaan si kembar.“Pelankan suaramu, sayang. Malu banget istri konglomerat marah-marah kayak gini. Jangankan hanya 10 dus mainan, mallnya pun mau mereka beli akan aku belikan, sayang,” jawab Nathan.Salsa mengatur napasnya. Emosinya sudah naik ke ubun-ubun mendengar jawaban suaminya. Tapi dia tidak ingin bertengkar dengan Nathan di depan kedua mertuanya. Sementara Nathan sengaja memanfaatkan itu agar dia tidak kena marah oleh sang istri.“Maafkan kami ya, Mama,” ucap si kembar sudah berlutut di depan Mamanya. Tangan kecil mereka mengusap perut sang mama.“Awas saja kalau mainan yang dibeli terbuang sia-sia!” Salsa menyelipkan kata ancaman dalam kalimatnya sambil menatap kedua buah hatinya yang sedang berlutut di depannya. “Semuanya berguna kok, Mama. Bahkan kami beliin adik bayi mainan juga. Jadi belinya tiga,” sahut Kenzo yang dibalas anggukan oleh Kenzi. “Beli baju juga buat adik bayi,” jawab
“Sayang, ayo bersih-bersih dulu. Nanti anak-anak keburu pulang,” ucap Salsa sambil menyenggol dada sang suami menggunakan siku.Mereka berdua masih enggan beranjak dari tempat tidur. Seprai kamar villa yang berantakan jadi saksi betapa hebat dan panasnya kegiatan ranjang mereka berdua hari itu. Selimut tebal berwarna putih masih membungkus tubuh mereka yang polos tanpa sehelai benang pun sebagai penutupnya. Padahal sesi bercinta mereka yang kedua sudah selesai dari lima belas menit yang lalu, tapi Nathan sama sekali tidak ada niat buat bangun apalagi melangkah untuk menuju ke kamar mandi. Pria itu justru menjadi semakin erat memeluk istrinya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Salsa sambil tak berhenti mengusap lembut perut sang istri yang kini mulai membuncit.Momen-momen seperti ini bener-bener berharga buat Nathan. Akhirnya dia bisa merasakan langsung bagaimana rasanya jadi calon ayah siaga untuk kehamilan Salsa yang kedua ini. Di dalam hatinya, Nathan sudah bersumpah akan
Nathan mulai melakukan penyatuan. Tubuhnya mulai bergerak maju mundur di atas tubuh sang istri. Sensasi yang berbeda kembali mereka rasakan, karena ini pertama kali Nathan menyentuh Salsa saat perut wanita itu mulai membuncit. Benar kata orang, setelah sah sang anak tidak perlu ragu-ragu lagi untuk memperlihatkan pada semua orang kalau sebentar lagi dia akan tumbuh di keluarga bahagia ini. Melihat Salsa yang tak kuasa menahan kenikmatan atas sentuhannya, Nathan berjanji akan rajin-rajin menyentuh istrinya.“Nikmat gak, sayang?” Tanya Nathan. Matanya juga merem melek karena milik Salsa masih terasa menjepit miliknya. Cengkramannya masih sangat kuat pada junior Nathan.“Nikmat banget, sayang,” desah Salsa. Wanita itu mengimbangi gerakan Nathan. “Tubuhmu sangat nikmat, sayang,” bisik Nathan semakin membuat istrinya mendesah nikmat, “dedek bayinya aman gak, sayang?” tanya Nathan. Dia takut Salsa kesakitan.“Aman kok, sayang,” balasnya.Natah membungkuk lalu melumat lagi bibir ranum sang
Braaaaak Pintu kamar Zara dibuka lebar hingga menimbulkan dentuman yang cukup keras membuat Salsa kaget. “Kurang ajar! Kamu ngintip, ya?” tuduh Aditya kesal. Dia keluar untuk mencari tahu apa sebetulnya yang pecah di depan kamar calon istrinya. Dan betapa kesalnya dia mendapati Salsa di sana. Ad
Ting. Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk. “Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!” Hati Salsa
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu







