Masuk“Aman gak ya?” gumam Nathan.Dia takut tiba-tiba ada security yang melihat mobilnya tidak kunjung pergi dari area parkir. Nathan menoleh ke kanan dan ke kiri lalu ke arah belakang untuk memastikan keadaan di sana aman. Berada di dekat gadis ini benar-benar membuatnya sangat sulit mengontrol nafsu. Di manapun mereka sedang berduaan Nathan selalu saja ingin menyentuh Salsa. “Kalau gak aman kita cari tempat lain saja, Om,” sahut Salsa. Saat gadis itu hendak menjauh dari pangkuan Nathan, pria itu berhasil mencegahnya.“Aman kayaknya,” jawab Nathan. Enak saja Salsa mau cari tempat lain sementara nafsunya udah bikin kepalanya pening sampai di ubun-ubun.Salsa mendongak untuk menatap pria yang akan ia manjakan itu dengan mulutnya. Rambutnya berantakan tapi terlihat sangat seksi dan menggemaskan di mata Nathan.Tak ada sepatah katapun yang terucap tapi Nathan memberi ciuman lembut dan singkat di bibir Salsa.“Ayo, lakukan lagi,” ujarnya. Saat pria itu udah diliputi oleh hawa nafsu, dia akan
“Wanita itu sepupunya Pak Nathan. Anak dari adik bungsu Nyonya Abimanyu. Dia itu brand ambassador dari perusahaan Abimanyu Group. Ya, istilah lainnya, dia model eksklusif yang sudah dikontrak puluhan tahun oleh Abimanyu Group,” ucap Raka, repot-repot menjelaskan panjang lebar padahal Salsa sama sekali tidak bertanya.Setelah mendengar penjelasan dari Raka, Salsa hanya mengangguk lalu kembali mengalihkan pandangan pada piring di depannya. Dia memilih fokus menyantap makanan dan sama sekali tidak tertarik untuk mencuri dengar obrolan Nathan dengan wanita tersebut. Tapi kalau dipikir-pikir, wanita itu memang sangat pantas menjadi ikon perusahaan besar. Di mata Salsa, selain postur tubuhnya yang tinggi ramping, wajah wanita itu juga sangat cantik.“Wanita itu bernama Clara. Dia wanita yang akan dijodohkan dengan Pak Nathan.”Uhuk! Uhuk! Uhuk!Salsa langsung tersedak makanan yang baru saja ditelannya tepat saat kalimat terakhir Raka mencubit pendengarannya. Siapa yang tidak kaget lelaki ya
Pagi harinya, Nyonya Abimanyu sudah berdandan sangat cantik. Meskipun tidak ada agenda keluar rumah, wanita paruh baya yang sangat menyukai penampilan glamor dan barang-barang mewah itu tetap tampil modis. Pagi ini, dia turun tangan langsung ke dapur, ikut menyiapkan sarapan untuk keluarga tercinta, termasuk untuk Raka dan Salsa.Di sela-sela kesibukan itu, tiba-tiba kepala pelayan mendekat ke arahnya. Pelayan itu bermaksud untuk memberikan laporan bahwa tugas rahasia tadi malam telah berhasil dilaksanakan, sembari menyodorkan ponselnya untuk memperlihatkan rekaman video saat dia memergoki Nathan melangkah masuk ke kamar tamu yang ditempati Salsa.“Jadi, kamu benar-benar melihat putraku masuk ke kamar tamu tempat Salsa tidur?” tanya Mommynya Nathan, memastikan dengan mata berbinar saking iya sangat penasaran.“Benar, Nyonya. Saya melihat sendiri Tuan Muda Nathan masuk ke dalam kamar itu. Bahkan, beliau berada di sana hampir lima belas menit,” adu si kepala pelayan dengan bangga, meras
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan tidak akan pernah membiarkanmu berjuang sendirian untuk balas dendam,” ujar Zara, suaranya terdengar begitu meyakinkan, seolah dia adalah malaikat penolong untuk Aditya.Namun, Aditya bukanlah orang bodoh. Dia tahu persis bahwa wanita di hadapannya ini tidak mungkin melakukan pengorbanan sebesar itu secara cuma-cuma. Zara juga memiliki dendam pribadi yang jauh lebih mengerikan terhadap Salsa. Meski begitu, Aditya sama sekali tidak berniat mempermasalahkannya. Siapa pun dalang di balik kebencian itu tidaklah penting. Hal utama yang ada di benaknya saat ini adalah kepastian bahwa begitu ia keluar dari penjara nanti, dia sudah memiliki uang untuk mewujudkan keinginannya dan tempat untuk berteduh. Dia tahu Zara tidak sedang membual.“Thanks,” jawab Aditya, matanya menyipit penuh keyakinan kalau kemenangan akan berpihak pada mereka.Mendengar respons itu, Zara tersenyum hangat pada sang mantan. Dia menyentuh kedua tangan Aditya yang terhalang pemba
Ketika jarum jam di London baru menunjukkan pukul tiga dini hari—waktu di mana Salsa terpaksa terjaga demi melayani nafsu Nathan di atas ranjang—di belahan bumi yang lain, matahari sudah meninggi. Waktu telah bergeser ke pukul sembilan pagi, jam sibuk di mana Zara sudah tampil nyentrik dan bersiap melangkahkan kaki menuju Rumah Tahanan untuk menemui Aditya. Hubungan masa lalu mereka memang sudah lama kandas, namun belakangan ini Zara sengaja membuka kembali jalinan komunikasi yang sempat terputus. Ada satu tujuan besar yang menyatukan mereka berdua, keinginan menggebu untuk membalas dendam dan menghancurkan Salsa.Di dalam sel tahanannya, Aditya sering sekali teringat pada hari kelam saat hidupnya dihancurkan dalam hitungan hari. Dia masih ingat betul bagaimana segerombolan preman berbadan tegap tiba-tiba merangsek masuk ke ruang kerjanya, mengobrak-abrik tempat itu, dan merampas paksa ponselnya serta benda-benda elektronik miliknya. Saat tubuhnya dihajar habis-habisan, sayup-sayup A
“Om,” Salsa spontan menegakkan tubuhnya di atas ranjang, ia terkejut bukan main begitu mendapati sosok Nathan tiba-tiba melangkah masuk ke dalam kamar yang ia tempati.“Aku mau bicara, kemarilah,” panggil Nathan datar. Pria itu langsung berjalan menuju sofa di dekat layar besar yang ada di dalam kamar itu.Salsa yang tadinya sedang berbaring sambil memainkan ponsel di atas ranjang terpaksa meletakkan gawainya di atas ranjang. Dia turun dari tempat tidur, lalu melangkah mendekat untuk ikut duduk di sofa yang posisinya tepat berhadap-hadapan dengan Nathan. Salsa yakin ada hal penting yang akan dibicarakan oleh pria ini. Jika dia datang hanya untuk minta jatah darinya, kemungkinan besar Nathan langsung akan menyentuhnya. Meskipun Salsa sekarang mengenakan gaun tidur yang sangat seksi. Tapi nyatanya Nathan sama sekali tidak tergoda untuk menyentuhnya.“Ada apa, Om?” tanya Salsa, berusaha menjaga agar sikap dan suaranya terdengar biasa saja di telinga Nathan. Padahal jantungnya menggedor-g
“Apa anda membutuhkan sesuatu, Pak?” tanya Amelia. “Tidak. Aku mau istirahat jangan diganggu,” sahut Nathan.Dia masuk ke dalam ruangan khusus di pesawat pribadinya. Ruangan yang dibuat untuk dirinya sendiri jika ingin beristirahat di dalam pesawat saat menempuh perjalanan panjang. Tapi kali ini d
“Pak Nathan yang bayar?” tanya Salsa sekali lagi.Matanya membelalak lebar, memandangi lembar kertas di genggaman tangan petugas wanita di balik meja loket. Lidahnya terasa kelu, bahkan detak jantungnya mendadak berantakan hanya karena mendengar nama pria itu disebut di tempat ini.“Iya, beliau yan
Salsa masih mematung di tempatnya. Yang benar saja dia disuruh buka baju sendiri, pikirnya kesal. Dia mencoba memberanikan diri untuk menatap Nathan, tapi begitu melihat pria bertubuh bongsor itu berjalan mendekat nyalinya langsung ciut. Kakinya seketika terasa seperti tak ada tulangnya. Apalagi sa
“Alea sayang,” tegur Nathan. Tentu saja dia harus menegur sang anak yang kepo dengan isi pesan di ponsel Salsa. Jangan sampai sang anak membaca pesan yang ia kirim pada Salsa. Seketika Alea nyengir kuda dan mengembalikan ponsel Salsa. Sejujurnya dia hanya khawatir kalau Aditya yang mengirim pesan







