MasukMalam itu juga Nathan meminta pada Raka untuk membelikannya parfum dengan aroma yang berbeda. Dia yakin yang dipermasalahkan Salsa hanya bau parfumnya. Padahal dulu Salsa sangat menyukai wangi parfum yang biasa dia pakai. Setelah selesai makan malam mereka bersantai dulu sejenak di rumah itu. Niat Nathan mau menginap terpaksa batal, dan kedua anaknya menolak diajak pergi apalagi setelah mereka tahu kalau sang Mama tidak bekerja lagi.“Jadi kalian gak mau nginep di rumah Papa lagi, nih?” tanya Nathan. “Iya. Kami mau bobo sama Mama,” jawabnya membuat Nathan membuang napas kasar.Pria itu tidak menyerah begitu saja saat mendapat penolakan dari anaknya, “tapi kan rumah Papa bagus. Bukannya kalian suka bobo di kamar Papa? Besok Papa beliin mainan yang banyak deh,” bujuk Nathan lagi. Tapi kali ini jawaban si kembar masih tidak bisa diganggu gugat. Dia tidak terpengaruh sama sekali dengan iming-iming mainan. Mereka tetap mau tidur sama Mama.“Nggak mau mainan. Maunya bobo sama Mama,” jawa
Sementara itu, Salsa masih bersandar di tepi tempat tidur, mencoba meluruskan kakinya yang mulai pegal karena lelah bolak-balik ke kamar mandi. Di balkon luar kamar, Nathan terlihat masih sibuk bicara di telepon dengan wajah serius. Selama pria itu berada di luar dengan pintu kaca yang tertutup, kondisi Salsa aman-aman saja. Dia bisa bernapas tenang tanpa merasakan gangguan apa pun di tubuhnya.Begitu obrolan di telepon selesai, Nathan mematikan ponselnya dan melangkah masuk kembali ke dalam kamar. Baru saja kakinya melewati pintu kaca dan berjalan mendekati tempat tidur, reaksi tubuh Salsa seketika berubah drastis. Perutnya bergejolak hebat secara tiba-tiba. Rasa mual kembali ia rasakan dan itu sangat mengganggu, memicu rasa ingin muntah yang tak bisa ditahan lagi.Salsa refleks mengibaskan tangan, memberi isyarat agar Nathan tidak mendekat. Dia buru-buru bangkit dan berlari gontai menuju kamar mandi. Nathan yang panik berniat menyusul ke dalam untuk memijat tengkuknya, tapi begitu j
“Grandma,” panggil Kenzo. Anak itu menyembulkan kepalanya dari balik pintu.“Iya, sayang?” sahutnya lembut.“Udah belum marahin Papa? Soalnya mau ketemu Mama,” Kenzi yang bertanya. Nathan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal merasa diledek oleh sang anak.“Belum, sayang. Tunggu sebentar ya,” bujuk Nyonya Abimanyu dari lantai satu. “Papa bandel banget ya? Pukul pakai sapu saja Grandma,” timpal Kenzo memberi usul. “Iya, sayang. Nanti Grandma pukul pakai sapu. Udah kalian main dulu sama suster, nanti kalau udah selesai Grandma akan panggil lagi,” ujarnya. Tak terdengar lagi bantahan dari kedua cucunya membuat Nyonya Abimanyu tersenyum. Setelah cucunya kembali ke kamar, Nyonya Abimanyu kembali fokus pada putranya. “Cukup Kenzo dan Kenzi yang lahir tanpa didampingi Ayah, adiknya jangan lagi merasakan hal yang menyakitkan. Jadi perempuan itu susah, tempatnya selalu salah. Kalau kamu tetap yakin anak itu bukan darah dagingmu, ya udah Mommy gak akan maksa kamu untuk mengakuinya. T
Braaak!Aditya membanting tas berukuran sedang ke atas meja kerja David, tas itu jatuh tepat di samping Davis. Sejak tadi, pembicaraan mereka melalui telepon tidak pernah menemukan titik terang. David terus-terusan mengelak setiap kali ditanya soal keberadaan Salsa. Akhirnya atas perintah Clara, Aditya akhirnya turun tangan langsung sambil membawa uang satu miliar untuk memancing pria di depannya ini.“Di dalam tas itu ada uang satu miliar. Kau cukup berikan informasi yang aku butuhkan!” seru Aditya penuh penekanan. Tanpa menunggu diizinkan, dia langsung menarik kursi dan duduk di hadapan David.David masih bergeming di kursi kebesarannya. Kedua kakinya santai diangkat ke atas meja, sama sekali tidak terpengaruh oleh gertakan atau tumpukan uang di depannya.“Mana mungkin aku memberikan informasi tentang wanita yang aku cintai,” sahut David. “Aku tidak mau dia terluka di tanganmu.”David tetap kukuh untuk menutup mulutnya. Dia tahu betul tipe manusia seperti Aditya—pria ini pasti punya
Amelia buru-buru menyambar ponselnya lalu menekan nama Clara. Tiga kali panggilan cuma diisi nada dering panjang yang akhirnya terputus sendiri."Sialan," umpatnya penuh kekesalan.Amelia mulai terlihat frustasi atas kesalahan yang dia buat. Sakit sekali rasanya seperti ini seperti maling yang tertangkap basah. Bego banget dia sampai bisa tergiur dengan imbalan manis yang dijanjikan Clara. Pandangannya tidak sengaja tertuju pada pintu ruang kerja Raka yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Cuma Raka yang bisa menyelamatkannya sekarang."Aku harus minta tolong Pak Raka. Janji, habis ini aku nggak bakal aneh-aneh lagi," gumamnya, mencoba membesarkan hati sendiri. Dia bersumpah akan memanfaatkan kesempatan kedua ini dengan baik, tanpa mau bekerja sama dengan siapapun dengan alasan apapun.Tanpa membuang waktu, Amelia melangkah cepat menuju ruangan itu.Tok, tok."Masuk." Suara berat dari dalam memberi izin.Amelia mendorong pintu, melangkah dengan penuh keraguan sampai berdiri tepat di de
“Loh kok ada-ada” ucapan Kenzo terpotong.“Itu pelayan yang dikirim Papa untuk bekerja di sini,” ujar Tuan Abimanyu. Tuan Abimanyu lantas meminta Indah dan Anggun untuk menyambut mereka. Ada juga yang berpakaian suster membuat si kembar kembali bertanya karena penasaran, “itu susternya siapa, Grandpa?” tanyanya polos saat melihat suster ikut turun dari mobil.“Itu suster buat jagain Mama,” jawab Tuan Abimanyu.Di luar dugaan si kembar malah tertawa terbahak-bahak, “memangnya Mama anak kecil harus dijagain?” ejek mereka kompak.Tuan Abimanyu tersenyum sambil mengusap Puncak kepala kedua cucunya dengan lembut, “bukan hanya anak kecil yang butuh suster buat jagain, nak. Tapi orang dewasa yang sedang sakit atau sedang hamil seperti Mama Salsa juga butuh dijagain,” ujarnya menjelaskan. “Tapi kan ada Grandma,” sahut Kenzi.“Grandma dan Grandpa mau pulang dulu ke luar negeri, nak. Tapi gak lama kok,” jawabnya.Si kembar hanya mengangguk karena fokus mereka teralihkan pada tiga pelayan yang
Braaaaak Pintu kamar Zara dibuka lebar hingga menimbulkan dentuman yang cukup keras membuat Salsa kaget. “Kurang ajar! Kamu ngintip, ya?” tuduh Aditya kesal. Dia keluar untuk mencari tahu apa sebetulnya yang pecah di depan kamar calon istrinya. Dan betapa kesalnya dia mendapati Salsa di sana. Ad
Ting. Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk. “Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!” Hati Salsa
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu
“Tapi, Om…” “Kalau kamu punya barang berharga sebagai jaminan, boleh pakai itu. Asal nilai jualnya lebih besar dari uang satu miliar yang kamu butuhkan sekarang,” ucap Nathan cepat, memotong kalimat Salsa sebelum gadis itu sempat menyelesaikannya. Salsa tampak semakin frustasi. Detik jam dinding







