LOGINMengisi kelas, menghadiri seminar, melukis, atau datang ke sebuah pameran merupakan keseharian Rosélia dan dia sama sekali tidak keberatan dan merasa lelah dengan kegiatannya. Tetapi, jika Viviane sudah hadir di antara kesibukannya itu, di sanalah Rosélia merasa ingin menghilang dari semesta.
Telepon dari keluarganya sudah seperti teror yang terus mengganggu ketenangan hidupnya. Tak jarang Rosélia menolak panggilan-panggilan itu. Tapi, seolah tahu Rosélia melakukannya dengan sengaja, mereka akan kembali menelepon sampai Rosélia mengangkatnya dan memenuhi keinginan mereka. Bola matanya memutar lelah. Seperti yang dia duga, panggilan telepon itu tak akan berhenti sebelum Rosélia mengangkatnya. Maka, dengan berat hati dia menekan tombol hijau di ponselnya. "Apa lagi kali ini?" tanya Rosélia lelah. "Lama sekali kamu angkat telepon!" Suara Viviane melengking di seberang sana. Namun, Rosélia mengabaikannya, dia ingin urusan mereka segera berakhir hari ini. "Jadi, apa maumu?" Rosélia mengulangi pertanyaannya saat tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. "Hari ini ada pameran seni di Arkash Nocturne. Valerie berkata ingin datang, tapi dia belum begitu mengerti. Jadi, kamu temani dia ke sana," jelas Viviane. "Aku sibuk." Baru saja Rosélia akan menutup sambungan telepon, suara ancaman menggema di telinganya. "Aku akan laporkan pada Ayahmu kalau kamu menolak permintaan Valerie." Rosélia memejamkan matanya, dia tarik napasnya dalam-dalam sebelum dihembuskannya secara perlahan. "Pagi ini aku ada kelas dan harus menghadiri seminar sampai pukul dua belas siang. Mungkin aku bisa di jam itu." Pada akhirnya Rosélia hanya bisa memberikan penawaran alih-alih penolakan. "Tapi, Valerie sudah bersiap sejak tadi," jawab Viviane. "Kali ini saja, tolong… tolong mengerti aku. Aku tidak bisa terus absen dari kelas." Rosélia memohon dengan nada bicara yang sangat lemah dan menyiratkan dia sudah tidak tahu bagaimana cara agar Viviane mau mengabulkan permintaannya kali ini. Ada helaan napas yang terdengar dari seberang sana. "Baiklah, jam satu siang kalian akan bertemu di Arkash Nocturne." Akhirnya Roseloia bisa sedikit bernapas dengan lega saat permintaannya disetujui oleh Viviane. Setidaknya dia tidak harus absen kelas hari ini dan tetap menghadiri seminar sebagai narasumber. * Arkash Nocturne, sebuah galeri cukup besar yang sering menjadi tempat di mana para seniman memamerkan hasil karyanya. Tak hanya lukisan, tapi juga karya seni lainnya seperti patung, keramik, seni kriya dan sebagainya. Meski Rosélia pada awalnya tidak berniat datang karena kesibukannya, tapi karena Valerie, dia harus menginjakkan kakinya di sini. Begitu tiba, Rosélia sudah bisa melihat sosok Valerie yang berdiri menunggunya di depan galeri. Adiknya itu melambaikan tangan dibarengi dengan senyum manis seperti biasanya. Namun, ada hal lain yang menarik perhatian Rosélia. Valerie tidak datang sendiri, satu tangan Valerie menggandeng seorang pria dengan setelan formal dan wajah arogan seperti biasanya. Ya, Valerie datang bersama Maverick. Rosélia berjalan mendekat. "Kalau kalian datang bersama, harusnya kalian tak memerlukanku, kan?" Rosélia memastikan. Dia harap bisa segera pergi dari sana. "Kak, ayolah… Aku dan Maverick tidak tahu banyak tentang seni. Aku ingin Kakak yang menjelaskannya pada kita," rengeknya. Kedua tangan Valerie menggenggam lengan Rosélia, memohon dengan mata berbinar. “Ya ya ya… aku mohon…” ulangnya lagi saat Rosélia tak kunjung menjawab. Rosélia menghela napas pasrah. “Baiklah, ayo!” Rosélia berjalan lebih dulu setelah dia memberikan tiket. Mereka berjalan pelan dengan Rosélia memimpin dan dua sejoli itu mengekorinya. Mata mereka mulai memindai satu persatu karya seni dan Rosélia dengan sigap menjelaskan setiap karya yang mereka lihat. Di menit awal, Valerie dan Maverick mendengarkan dengan seksama. Namun, sepuluh menit terlewat, keduanya sudah mulai asik dengan dunianya. Rosélia mereka hiraukan, tak peduli lagi dengan setiap untaian kalimat yang keluar dari mulut Kakaknya itu. Rosélia berhenti berbicara, matanya menatap tajam dua orang di belakangnya, kemudian menghela napas. “Sudah aku bilang, aku tidak diperlukan di sini,” ucap Rosélia. Tentu saja dia merasa tersinggung, bukan karena keromantisan dua orang itu, tapi membawa dirinya ke situasi yang keberadaannya sama sekali tidak diperlukan sangat membuatnya kesal. “Kakak, maaf… aku sama sekali tidak ada maksud mengabaikan Kakak. Aku cuma ngobrol sebentar dengan Maverick. Maaf ya…” ucap Valerie. Dia dengan cepat menggandeng tangan Rosélia. Yang bisa dilakukan Rosélia lagi-lagi hanya menelan rasa kecewanya dan melanjutkan perjalanan mereka. Namun, belum sempat Roselia membuka mulutnya kembali untuk menjelaskan, seseorang menghampiri mereka. “Hai, Nona Rosé. Lama tidak bertemu, apa kabarmu?” Pria dengan newsboy cap hitam itu datang tersenyum lebar pada Rosélia. Ethan Lee, siapa yang tidak mengenalnya. Seorang jurnalis dari media terbesar dalam negeri. Disiplin, kompeten serta selalu mengangkat isu berdasarkan fakta, dan tentu saja topik yang dia angkat akan sangat booming saat itu juga. “Oh, hai, Ethan. Lama tidak berjumpa. Aku baik, kamu?” Rosélia menjabat tangan pria yang umurnya tak berbeda jauh dengannya. “Aku juga baik, sangat baik,” kekehnya. Netranya menangkap sosok yang juga sangat dia kenali. Mungkin seluruh penjuru negeri juga mengenalinya, Maverick Ashbourne. “Halo, Tuan Maverick. Tidak aku duga kita akan bertemu di sini,” ucapnya kemudian beralih menjabat tangan Maverick. Pria itu hanya membalas dengan senyumannya. “Kalian saling mengenal?” tanya Ethan, melirik bergantian Rosélia dan Maverick. “Dia tunangan Adikku, Valerie.” Rosélia menarik pelan Valerie ke sampingnya untuk dia kenalkan pada Ethan. “Ah aku mengerti.” Keduanya saling berkenalan. Kemudian, Valerie kembali ke sisi Maverick dan membicarakan tentang karya-karya yang mereka lihat. “Rosé, bukannya salah satu karyamu juga ada di sini?” tanya Ethan. “Yang mana? Aku baru datang jadi belum sempat melihat-lihat.” “Tidak seru jika aku yang menunjukannya padamu. Lebih baik kamu lihat-lihat dulu, dan kamu akan terkejut kalau sudah menemukan milikku,” kekeh Rosé. Mereka berjalan berdampingan, masih diikuti oleh Valerie dan Maverick. “Kamu masih sama, selalu komunikatif dan aku selalu nyaman jika kamu yang jadi narasumber,” pujinya. “Jangan terlalu memujiku,” jawab Roselia dengan kekehannya. “Tapi… kalau kamu mau berterima kasih, bisakah aku mendapatkan waktumu sebentar setelah selesai dari sini?” Tawa ringan Ethan pecah juga. “Tentu saja. Tidak ada yang akan menolak ajakan berbicara darimu, Rosé.” Percakapan yang mereka lakukan semakin seru dengan sesekali memuji karya seni yang mereka lewati, hingga tanpa sadar Rosélia melupakan dua orang yang tadi datang bersamanya. “Kamu lihat apa, sih? Kenapa tidak mendengarkan ucapanku?” Valerie bertanya dengan nada sedikit merajuk. Pasalnya Maverick tidak fokus pada ucapannya. Jadi dia harus selalu mengulang. “Ah tidak, aku hanya…” Dia menggantungkan ucapannya. “Bukan apa-apa, lupakan saja.” Maverick tersenyum simpul, tangannya terangkat mengelus surai Valerie dengan lembut. “Maaf, ya. Sekarang aku hanya akan fokus padamu,” ucapnya. Tanpa Valerie sadari, ekor mata Maverick sesekali melirik wanita yang sibuk berbincang dengan pria bernama Ethan. Sangat kompeten, pikirnya.“Jangan harap air matamu bisa meluluhkanku, Rosélia,” ucap Maverick tajam. “Jangan bersikap seolah kamu adalah korbannya dan merasa paling menderita,” sambungnya. Kening Rosélia mengernyit bingung. Bukankah memang iya? Dia sepenuhnya menjadi korban atas keegoisan keluarganya.“Lalu menurutmu, jika bukan aku, siapa?” jawab Rosélia. Terselip kekehan tipis dalam ucapannya.“Kamu lupa? Kamu lupa bagaimana keadaan Valerie sekarang? Kamu lupa siapa yang membuatnya koma? Apa kamu juga lupa kalau kamu penyebab adanya pernikahan kita? Kalau bukan kamu yang menyembunyikan obat Valerie, semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Kesimpulannya, Valerie adalah korban dari keegoisanmu itu!” Nada bicaranya meninggi di kalimat terakhir.Rosélia mengangguk-anggukan kepalanya, bukan mengakui, tapi dia lelah dengan semua tuduhan yang tidak pernah dia lakukan.Diraihnya blazer dan juga tasnya kemudian dia menatap Maverick tajam.“Pikirkan apapun yang mau kamu pikirkan. Salahkan aku sebesar yang kamu mau,
Revisi dekorasi memakan waktu cukup lama sehingga membuat Rosélia tertahan di venue hingga larut. Tubuhnya sudah lelah, hidungnya juga sudah mengeluarkan darah segar beberapa saat lalu. Hal itu sudah membuktikan jika tubuhnya sudah melebihi batas pertahanannya.Setelah menyeka wajahnya yang basah akibat cuci muka, Rosélia kembali ke tengah venue sambil membenarkan jasnya. “Berapa lama lagi sampai kalian selesai?” tanya Rosélia. Dia sangat berharap bisa selesai lebih cepat dan pulang.“Kami tidak tahu, Nona. Lampu kristal ini agak sulit dilepas. Kami minta maaf,” jawab salah satu staf menyesal.Rosélia mengangguk paham. Dia juga tidak ingin menyepelekan pekerjaan orang lain. Ada kalanya kesalahan teknis terjadi ketika masa-masa genting. “Baiklah, beri tahu aku jika sudah selesai. Aku akan tunggu di sana,” ucapnya sambil menunjuk sudut ruangan. Ada sebuah single sofa di sudut ruangan yang sepertinya belum mereka singkirkan.Rosélia duduk di sana, cukup nyaman dan mampu menenagkan send
Hari menjelang pernikahan semakin dekat sehingga persiapan pernikahan juga semakin padat. Hal itu sangat terasa oleh Rosélia karena dia hampir tidak cukup beristirahat sejak beberapa minggu lalu.Rosélia lebih sering pulang larut karena harus mengurus venue, kampus dan juga galeri sekaligus. Tubuhnya mulai memberikan tanda-tanda kelelahan. Sering pusing bahkan beberapa kali dia hampir pingsan. Tapi, tidak ada yang peduli.Besok adalah hari pernikahan Valerie dan Maverick. Itu artinya, hari ini adalah hari terakhir Rosélia menguras tenaga, pikiran dan waktunya untuk persiapan.Matahari sudah kembali ke peraduannya berganti dengan sang pemilik malam yang bersinar terang di langit hitam. Bukannya pulang, Rosélia kembali menuju venue dengan harapan dia tak harus merevisi lagi."Semuanya aman?" Ucapannya menggema begitu suara hak sepatu berhenti. Para staf menoleh dan mengangguk hampir bersamaan. Namun, Rosélia merasa ada yang salah. Diteliti kembali seluruh venue sebelum kemudian dia men
Pernikahan bukan sesuatu yang dapat dipermainkan. Kesakralannya layak dihormati dan pelaksanaannya adalah hal yang patut dismbut oleh semua orang, terutama keluarga dari kedua belah pihak. Jika mereka rakyat biasa saja sangat antusias menyambut hari besar yang satu ini, apalagi keluarga Deveraux dan Ashbourne yang notabenenya keluarga ternama, terkenal, tersohor baik dalam dunia bisnis atau status sosial. Pernikahan Maverick Ashbourne dan Valerie Deveraux adalah pernikahan pertama yang akan dilakukan masing-masing keluarga mengingat Maverick adalah anak tunggal dan Kakaknya Valerie, Rosélia belum menikah.Jadi, persiapan dilakukan sematang mungkin dengan konsep semewah yang diinginkan Valerie. Mulai dari dekorasi, layout venue, pemilihan warna dan juga estetika warna, mereka pilih dengan hati-hati."Tak bisakah Kakak kabulkan permintaanku yang satu ini? Ini pernikahan pertama dan terakhirku, aku mau ini special, salah satunya dengan Kakak terlibat dalam dekorasi dan layout venue di
Mengisi kelas, menghadiri seminar, melukis, atau datang ke sebuah pameran merupakan keseharian Rosélia dan dia sama sekali tidak keberatan dan merasa lelah dengan kegiatannya. Tetapi, jika Viviane sudah hadir di antara kesibukannya itu, di sanalah Rosélia merasa ingin menghilang dari semesta.Telepon dari keluarganya sudah seperti teror yang terus mengganggu ketenangan hidupnya. Tak jarang Rosélia menolak panggilan-panggilan itu. Tapi, seolah tahu Rosélia melakukannya dengan sengaja, mereka akan kembali menelepon sampai Rosélia mengangkatnya dan memenuhi keinginan mereka.Bola matanya memutar lelah. Seperti yang dia duga, panggilan telepon itu tak akan berhenti sebelum Rosélia mengangkatnya. Maka, dengan berat hati dia menekan tombol hijau di ponselnya."Apa lagi kali ini?" tanya Rosélia lelah."Lama sekali kamu angkat telepon!" Suara Viviane melengking di seberang sana. Namun, Rosélia mengabaikannya, dia in
Paksaan dari keluarga sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari Rosélia. Dia dipaksa untuk mulai terbiasa dengan semua itu, dia dipaksa untuk memaklumi keluarganya dan dia dipaksa untuk selalu mematuhi titah mereka.Rosélia lelah, ingin berontak, ingin hidup dengan tenang seperti yang lain. Tapi, lagi-lagi dia tak bisa. Hidupnya serasa dirantai oleh rasa bersalah karena kematian sang Ibu, ditambah validasi yang selalu Ayahnya ucapkan sehingga membuat Rosélia percaya jika dia pembunuhnya.Maka, malam ini pun sama. Rosélia tidak diizinkan memilih atau menggunakan alasannya untuk tidak datang ke acara makan malam yang diadakan keluarganya. Namun, biarkan kali ini dia menggunakan sedikit waktunya untuk egois. Akan dia selesaikan dulu urusannya sebelum pergi ke acara makan malam di rumahnya.Sesekali diliriknya jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum kemudian fokusnya kembali pada ramainya jalan di malam hari."Hanya terlambat setengah jam. Tidak apa-apa, bukan?" ucapn







