แชร์

Chapter 04

ผู้เขียน: SereiaAlvenna_
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-19 10:03:56

Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah.

Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjalan dengan cepat menghampiri Rosélia yang masih bersimpuh di lantai.

Suara tamparan menggema di lorong rumah sakit. Bukan sekali, tapi dua kali. Kedua pipi Rosélia memerah. Dan, di antara banyaknya orang di sana, tak ada satupun yang membelanya atau hanya mencegah Viviane.

Dunia seakan berhenti sesaat bagi Rosélia. Isak tangisnya terhenti namun air mata masih mengalir dengan deras. Wajahnya memerah sempurna.

“Dasar pembunuh! Belum puas kamu bunuh Ibumu sendiri, sekarang anakku yang ingin kau jadikan korban, hah?!” Emosi sudah sangat memuncak membuat Viviane tak bisa mengendalikannya.

Ucapan Viviane begitu menusuk hati Rosélia. Cap seorang pembunuh membuatnya sakit karena dia sama sekali tak melakukan apa yang mereka tuduhkan.

Calestine, Ibu Rosélia memang meninggal saat melahirkannya. Tapi bukan berarti semua orang seenaknya men-cap dirinya sebagai seorang pembunuh. Takdir yang memiliki kuasa, lantas Rosélia bisa apa?

“Bukan aku yang melakukannya. Aku tidak tahu apa-apa…” lirihnya. 

“Jangan mengelak, Rosélia. Bukti sudah jelas menunjukkan bahwa itu kamu dan kamu punya motif yang sangat jelas untuk melakukannya!” Dada Viviane naik turun dengan ritme yang cukup cepat buah dari amarahnya. “Aku tahu kamu iri pada Valerie sejak kecil karena dia mendapatkan lebih banyak kasih sayang dari kita, kan?”

Rosélia menengadah, menatap manik sang ibu sambung. Tatapan lelah, kecewa dan tak habis pikir dengan ucapan Viviane.

“Aku memang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari kalian, tapi aku tidak serendah itu untuk melakukan hal ini pada adikku sendiri.” Rosélia masih bertahan dengan bantahannya karena dia memang tidak merasa melakukannya. Kedua tangannya terkepal erat, semakin erat saat dia mendengar cacian dari Evander.

“Aku tidak habis pikir kamu bisa melakukan hal rendah seperti ini pada Adikmu sendiri, Roselia. Selama ini Valerie selalu menyayangimu dan selalu membelamu di depan kami. Tapi, ini balasanmu?” ucap Evander pelan tapi menusuk.

“Ayah… aku mohon kali ini percaya padaku. Bukan aku yang melakukannya.” Entah sudah keberapa kali kalimat itu keluar dari mulutnya.

“Lalu kenapa obat milik Valerie ada dalam tasmu!” Suara Evander menggelegar membuat Rosélia terlonjak.

Ada saat hening sebelum Rosélia kembali berkata, “aku juga tidak tahu kenapa itu ada di sana,” cicitnya. 

Seberapa keras pun dia menyangkal, nyatanya sudah tak ada yang mempercayainya. Semua bungkam dan menganggap Rosélia lah pelaku dan penyebab Valerie berada dalam kondisi koma.

Bahkan, Maverick sama sekali tak membuka mulutnya. Diamnya menjadi hal yang lebih menakutkan bagi Rosélia. 

Tatapannya seolah merasa jijik dan kecewa pada Roselia. “Ternyata kamu memang tidak punya hati,” ucap Maverick pada akhirnya.

“Sudah-sudah, nasi sudah menjadi bubur. Biarkan sekarang berjalan seperti ini. Rosélia tetap menjadi istri Maverick untuk sementara. Sekarang, kesehatan Valerie yang utama.” Theodore akhirnya membuka suara. 

Bahkan di saat seperti ini Rosélia masih tetap dianggap barang yang bisa seenaknya mereka gunakan dan buang saat sudah tidak terpakai lagi. Selain hati, harga dirinya juga terluka.

“Selain itu, media masih mengawasi kita. Jangan sampai ada isu tidak mengenakan di hari pernikahan ini,” sambung Theodore.

Tetap nama baik keluarga yang menjadi akhir dari pembicaraan mereka. Satu persatu dari mereka pergi, menunggu Valerie sadar di ruangan VVIP itu. Tak ada satu pun yang peduli dengan keadaan Rosélia. 

Sementara Rosélia, gadis itu masih di tempat yang sama. Wajahnya memerah karena terlalu lama menangis. Kain kasa di kakinya berubah menjadi warna merah, kemungkinan lukanya kembali terbuka. Dia melihat semua orang sangat menantikan kesembuhan Valerie sementara dirinya sendirian.

Dia berusaha bangkit, namun kakinya belum cukup menopang tubuhnya. Bersyukur, seorang perawat datang dan membantu Rosélia untuk duduk di salah satu kursi tunggu di sana.

“Terima kasih,” ucap Rosélia. 

“Nona, biar saya lihat lukanya. Sepertinya jahitannya sedikit terbuka,” ucap Perawat itu.

Rosélia mengangguk. Perawat itu pergi sebentar untuk mengambil kursi roda. Dipapahnya Rosélia untuk duduk di sana, kemudian membawa gadis itu ke sebuah ruangan di mana dia membantu dokter menangani pasien.

“Sudah selesai, jangan banyak bergerak dulu ya.” Dokter memperingatkan. 

“Terima kasih, Dok.” Dokter mengangguk sambil tersenyum sebelum kemudian berlalu dari sana. Sementara perawat tadi kembali membantu Rosélia duduk di kursi roda.

“Aku bisa sendiri,” ucap Rosélia saat perawat itu hendak mendorong kursinya. 

“Ah, baiklah. Hati-hati, Nona.” 

Rosélia mengangguk dan berlalu dari sana. 

Begitu keluar, dia melihat pantulan dirinya di pintu kaca. Gaun pengantin yang masih melekat di badannya seolah menertawakannya. Di mana seharusnya hanya ada kebahagiaan ketika dia mengenakan pakaian ini, namun justru malah duka dan luka yang dia dapatkan. 

*

Malam itu, mau tidak mau Rosélia dibawa ke penthouse milik Maverick. Tempatnya bernaung selama menjadi istri Maverick. Masih dengan kondisi yang mengenaskan, masih menggunakan kursi roda.

Gaun mahal yang dia kenakan terasa seperti hinaan dan riasan wajah yang sudah sangat betantakan.

Saat masuk, hanya ada perasaan dingin dan asing. Rosélia sangat tidak terbiasa dengan semua ini.

Di depannya, Maverick berjalan terus menuju sebuah ruangan yang Rosélia tebak sebagai kamar pria itu, tak mempedulikan kondisi Rosélia yang berusaha masuk dengan kursi roda. 

Tepat di ambang pintu, Maverick menghentikan langkahnya, dia menoleh.

“Jangan berharap apapun dari pernikahan ini. Begitu Valerie sadar, semua selesai.” Satu kalimat singkat namun menusuk. Setelah itu Maverick menghilang di balik pintu yang mulai tertutup rapat.

Tidak ada malam pertama yang romantis dan tidak ada sambutan hangat. Ternyata ini benar-benar menjadi awal kehancuran hidup Roselia.

Rosélia terkekeh pelan. “Berharap apa kamu, Roselia.” Dia berhenti tertawa, mendudukan dirinya di sofa. Pandangannya kosong dengan penampilan kacaunya.

Malam itu, Rosélia sadar bahwa dia telah menjadi orang yang tidak diinginkan dalam hidup orang lain.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   The Last

    Bagi sebagian orang, waktu mungkin bukan apa-apa. Hanya membawa perubahan pada usia dan penampilan. Tapi bagi Maverick, waktu jauh daripada itu semua. Waktu mengajarkan banyak hal tentang kehilangan, cinta dan arti sebuah rumah.Dulu, dia mengira memiliki segalanya berarti paling berkuasa di manapun. Dia memiliki harta, kuasa dan juga nama keluarga yang dihormati banyak orang.Namun, semua itu ternyata tak pernah cukup untuk membuatnya merasa utuh. Sampai seorang perempuan bernama Rosélia Deveraux tanpa sengaja datang ke dalam hidupnya.Perempuan yang dulu tak pernah ingin dia miliki. Perempuan yang pernah dia lukai begitu dalamnya. Perempuan yang bahkan setelah melewati begitu banyak rasa sakit, masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki.Dan sekarang, perempuan itu sedang duduk di sofa ruang keluarga mereka, membaca buku sambil sesekali mengingatkan anak laki-laki agar tidak berlari dalam rumah."Alistair, pelan-pelan!" interupsinya. Entah sudah berapa kali dia berkata demikian,

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 205

    Setelah Maverick menceritakan kegelisahannya pada Rosélia, mereka berdua duduk di atas ranjang. Maverick sama sekali tak mendengarkan ucapan Rosélia untuk tidak terlalu khawatir.Buktinya, saat ini di tangannya sudah ada tab yang menampilkan informasi yang didapatkan dari James.Ethan Voxley, putra bungsu keluarga Voxley. Alis Maverick mengernyit.“Kenapa dia yang dibawa ke acara itu kalau dia anak bungsu?” tanyanya setelah membaca apa yang ada di layar.“Kenapa?” Rosélia mendekat. Dia ikut penasaran dengan apa yang tengah dilihat oleh Maverick.“Anak yang diceritakan Elodie… dia putra bungsu Darwin, cucu dari pemilik VoxMedia Group, Moris Voxley. Jika dia putra bungsu, kenapa dia yang datang? Kenapa bukan putra sulungnya?” Maverick masih mempertanyakan hal yang sama.Memang, umumnya para pemilik perusahaan akan membawa putra atau putri sulung mereka ke acara semacam itu dengan tujuan memperkenalkan pada rekan-rekan kerjanya jika dialah yang akan menjadi penerus perusahaan.“Mungkin K

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 204

    Elodie berlari kecil ke arah Maverick yang ternyata sudah kembali dari podium. Ayahnya itu sepertinya tengah mencarinya. Terlihat dari ekspresi khawatir yang tersemat jelas di wajah pria itu.Tak jauh dengan James. Pria itu juga sibuk bertanya kepada setiap orang tentang keberadaan putri atasannya itu. “Iya, dia berusia sekitar dua belas tahun,” ucap James.“Kami tidak terlalu memperhatikan karena sejak tadi fokus kami hanya pada pembicara,” jawab orang itu.“Ups, sepertinya aku membuat Ayahku kelimpungan,” kekehnya. Elodie berjalan cepat ke arah Ayahnya dengan senyuman tanpa dosanya. “Ayah,” panggilnya. Dia mencolek lengan Ayahnya.Hal itu membuat rasa lega di dada Maverick hadir. Seolah semua belenggu hilang begitu saja saat mendengar suara lembut putrinya.James yang juga mendengar panggilan itu akhirnya bisa bernapas lega.*“Ayah tidak mau hal itu sampai terulang lagi. Kamu tahu betapa khawatirnya Ayah tadi?” Maverick terus menceramahi Elodie sepanjang perjalanan. Bahkan ketik

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 203

    Lima tahun kemudian…“Kamu yakin tidak ikut?” tanya Maverick. Dia memandang Rosélia di hadapannya yang sedang membetulkan letak dasinya.“Hmm, jika aku ikut, bagaimana dengan dia,” ucap Rosélia sembari melirik ke arah sampingnya, di mana seorang anak laki-laki berusia lima tahun itu tengah bermain dengan berbagai macam mainannya.“Kita bisa mengajaknya,” usul Maverick. “Dan dia akan segera bosan kemudian menangis di sana? Tidak, tidak. Biar Elodie saja yang menemanimu,” jawab Rosélia.Alistair Ashbourne, anak kedua Maverick dan Rosélia. Anak kecil berkulit putih itu lahir lima tahun yang lalu. Putranya yang berhasil membuat Maverick mati-matian menahan mual saat dia berada dalam kandungan.“Mommy, ini bagaimana?” Gadis yang mulai memasuki usia remaja itu sibuk dengan gaun baru pemberian Ayahnya. Tali di bagian belakang membuatnya kesulitan. Akhirnya dia menyerah dan meminta bantuan Rosélia.Elodie, gadis itu tumbuh menjadi gadis cantik yang ceria, cerewet dan lembut. Dia selalu meng

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 202

    Bukan hanya hitungan hari Maverick merasakan penderitaan itu. Bahkan sampai satu minggu Maverick tidak berangkat kerja. Setiap pagi, dia selalu muntah. Namun tak ada yang keluar. Hanya cairan bening, sisanya rasa mual yang tak berujung.Demamnya sudah membaik, mungkin tubuhnya sudah mulai membiasakan diri dengan perasaan itu. Tapi, hari ini saat dirasa mualnya tidak tertahan, Maverick malah menangis. Tidak meraung, hanya isakan kecil namun berhasil membuat Rosélia mendekat saat samar mendengarnya.“Sayang, kenapa? Ada yang sakit? Tambah mual?” Rangkaian pertanyaan datang bersamaan karena rasa khawatirnya. Mata Maverick berair. Bahkan semakin terisak ketika Rosélia melayangkan pertanyaan.Karena itu, Rosélia semakin bingung. Bukannya jawaban yang dia dapatkan tapi air mata Maverick yang bisa dikatakan jarang sekali muncul.“Bilang, ada apa?” Rosélia semakin kebingungan.Namun tiba-tiba Maverick mendekat. Dia merentangkan tangannya meminta sebuah pelukan pada Rosélia. Bibirnya menek

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 201

    Bersantai dipagi hari, ditutupi selimut tebal bahkan ketika matahari sudah lebih naik dari sebelumnya sama sekali bukan kebiasaan seorang Maverick Ashbourne.Sejak dulu, pria itu diajarkan untuk bangun pagi. Bahkan ketika dia sudah mulai tahu dunia kerja, dia menjadi lebih rajin karena entah mengapa dia merasa begitu mencintai pekerjaannya.Namun hari ini, pria itu masih betah bergumul di balik selimut tanpa suara. Hanya suara nafas berat yang terdengar begitu Rosélia masuk ke kamarnya setelah selesai menyiapkan sarapannya.“Kamu tidak akan pergi bekerja?” tanya Rosélia. Dia tidak menghampiri Maverick, melainkan datang untuk mengambil tas kerjanya.“Rosé... sepertinya aku sakit...” lirihnya. Suaranya begitu serak dan lemah.Mendengar itu, Rosélia yang sudah menyampirkan tas di bahunya, kembali menyimpannya dan fokus pada Maverick.Gadis itu duduk di samping Maverick, dia menyimpan tangannya di kening pria itu. Namun, beberapa detik kemudian, Maverick seolah menghindar. Dia menciptakan

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 07

    Satu minggu berlalu bagi Rosélia terasa sangat lama. Pameran usai dan semua berjalan dengan lancar, bisa dikatakan sukses. Selama satu minggu itu, Rosélia beberapa kali menyempatkan waktu untuk menengok Valerie. Adiknya itu tak kunjung membuka mata, dia masih betah dalam tidurnya. Sama seperti har

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 06

    Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana. Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja he

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 05

    Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 03

    Venue yang Rosélia dekor selama kurang lebih satu bulan lamanya ditambah dengan berbagai drama menjelang hari-H, nyatanya hanya dipakai untuk beberapa jam saja. Kini, ruangan megah nan mewah itu sudah mulai kembali sepi. Para tamu undangan, kolega bisnis, petinggi perusahaan dan juga para pimpinan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status