LOGINTangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah.
Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjalan dengan cepat menghampiri Rosélia yang masih bersimpuh di lantai. Suara tamparan menggema di lorong rumah sakit. Bukan sekali, tapi dua kali. Kedua pipi Rosélia memerah. Dan, di antara banyaknya orang di sana, tak ada satupun yang membelanya atau hanya mencegah Viviane. Dunia seakan berhenti sesaat bagi Rosélia. Isak tangisnya terhenti namun air mata masih mengalir dengan deras. Wajahnya memerah sempurna. “Dasar pembunuh! Belum puas kamu bunuh Ibumu sendiri, sekarang anakku yang ingin kau jadikan korban, hah?!” Emosi sudah sangat memuncak membuat Viviane tak bisa mengendalikannya. Ucapan Viviane begitu menusuk hati Rosélia. Cap seorang pembunuh membuatnya sakit karena dia sama sekali tak melakukan apa yang mereka tuduhkan. Calestine, Ibu Rosélia memang meninggal saat melahirkannya. Tapi bukan berarti semua orang seenaknya men-cap dirinya sebagai seorang pembunuh. Takdir yang memiliki kuasa, lantas Rosélia bisa apa? “Bukan aku yang melakukannya. Aku tidak tahu apa-apa…” lirihnya. “Jangan mengelak, Rosélia. Bukti sudah jelas menunjukkan bahwa itu kamu dan kamu punya motif yang sangat jelas untuk melakukannya!” Dada Viviane naik turun dengan ritme yang cukup cepat buah dari amarahnya. “Aku tahu kamu iri pada Valerie sejak kecil karena dia mendapatkan lebih banyak kasih sayang dari kita, kan?” Rosélia menengadah, menatap manik sang ibu sambung. Tatapan lelah, kecewa dan tak habis pikir dengan ucapan Viviane. “Aku memang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari kalian, tapi aku tidak serendah itu untuk melakukan hal ini pada adikku sendiri.” Rosélia masih bertahan dengan bantahannya karena dia memang tidak merasa melakukannya. Kedua tangannya terkepal erat, semakin erat saat dia mendengar cacian dari Evander. “Aku tidak habis pikir kamu bisa melakukan hal rendah seperti ini pada Adikmu sendiri, Roselia. Selama ini Valerie selalu menyayangimu dan selalu membelamu di depan kami. Tapi, ini balasanmu?” ucap Evander pelan tapi menusuk. “Ayah… aku mohon kali ini percaya padaku. Bukan aku yang melakukannya.” Entah sudah keberapa kali kalimat itu keluar dari mulutnya. “Lalu kenapa obat milik Valerie ada dalam tasmu!” Suara Evander menggelegar membuat Rosélia terlonjak. Ada saat hening sebelum Rosélia kembali berkata, “aku juga tidak tahu kenapa itu ada di sana,” cicitnya. Seberapa keras pun dia menyangkal, nyatanya sudah tak ada yang mempercayainya. Semua bungkam dan menganggap Rosélia lah pelaku dan penyebab Valerie berada dalam kondisi koma. Bahkan, Maverick sama sekali tak membuka mulutnya. Diamnya menjadi hal yang lebih menakutkan bagi Rosélia. Tatapannya seolah merasa jijik dan kecewa pada Roselia. “Ternyata kamu memang tidak punya hati,” ucap Maverick pada akhirnya. “Sudah-sudah, nasi sudah menjadi bubur. Biarkan sekarang berjalan seperti ini. Rosélia tetap menjadi istri Maverick untuk sementara. Sekarang, kesehatan Valerie yang utama.” Theodore akhirnya membuka suara. Bahkan di saat seperti ini Rosélia masih tetap dianggap barang yang bisa seenaknya mereka gunakan dan buang saat sudah tidak terpakai lagi. Selain hati, harga dirinya juga terluka. “Selain itu, media masih mengawasi kita. Jangan sampai ada isu tidak mengenakan di hari pernikahan ini,” sambung Theodore. Tetap nama baik keluarga yang menjadi akhir dari pembicaraan mereka. Satu persatu dari mereka pergi, menunggu Valerie sadar di ruangan VVIP itu. Tak ada satu pun yang peduli dengan keadaan Rosélia. Sementara Rosélia, gadis itu masih di tempat yang sama. Wajahnya memerah karena terlalu lama menangis. Kain kasa di kakinya berubah menjadi warna merah, kemungkinan lukanya kembali terbuka. Dia melihat semua orang sangat menantikan kesembuhan Valerie sementara dirinya sendirian. Dia berusaha bangkit, namun kakinya belum cukup menopang tubuhnya. Bersyukur, seorang perawat datang dan membantu Rosélia untuk duduk di salah satu kursi tunggu di sana. “Terima kasih,” ucap Rosélia. “Nona, biar saya lihat lukanya. Sepertinya jahitannya sedikit terbuka,” ucap Perawat itu. Rosélia mengangguk. Perawat itu pergi sebentar untuk mengambil kursi roda. Dipapahnya Rosélia untuk duduk di sana, kemudian membawa gadis itu ke sebuah ruangan di mana dia membantu dokter menangani pasien. “Sudah selesai, jangan banyak bergerak dulu ya.” Dokter memperingatkan. “Terima kasih, Dok.” Dokter mengangguk sambil tersenyum sebelum kemudian berlalu dari sana. Sementara perawat tadi kembali membantu Rosélia duduk di kursi roda. “Aku bisa sendiri,” ucap Rosélia saat perawat itu hendak mendorong kursinya. “Ah, baiklah. Hati-hati, Nona.” Rosélia mengangguk dan berlalu dari sana. Begitu keluar, dia melihat pantulan dirinya di pintu kaca. Gaun pengantin yang masih melekat di badannya seolah menertawakannya. Di mana seharusnya hanya ada kebahagiaan ketika dia mengenakan pakaian ini, namun justru malah duka dan luka yang dia dapatkan. * Malam itu, mau tidak mau Rosélia dibawa ke penthouse milik Maverick. Tempatnya bernaung selama menjadi istri Maverick. Masih dengan kondisi yang mengenaskan, masih menggunakan kursi roda. Gaun mahal yang dia kenakan terasa seperti hinaan dan riasan wajah yang sudah sangat betantakan. Saat masuk, hanya ada perasaan dingin dan asing. Rosélia sangat tidak terbiasa dengan semua ini. Di depannya, Maverick berjalan terus menuju sebuah ruangan yang Rosélia tebak sebagai kamar pria itu, tak mempedulikan kondisi Rosélia yang berusaha masuk dengan kursi roda. Tepat di ambang pintu, Maverick menghentikan langkahnya, dia menoleh. “Jangan berharap apapun dari pernikahan ini. Begitu Valerie sadar, semua selesai.” Satu kalimat singkat namun menusuk. Setelah itu Maverick menghilang di balik pintu yang mulai tertutup rapat. Tidak ada malam pertama yang romantis dan tidak ada sambutan hangat. Ternyata ini benar-benar menjadi awal kehancuran hidup Roselia. Rosélia terkekeh pelan. “Berharap apa kamu, Roselia.” Dia berhenti tertawa, mendudukan dirinya di sofa. Pandangannya kosong dengan penampilan kacaunya. Malam itu, Rosélia sadar bahwa dia telah menjadi orang yang tidak diinginkan dalam hidup orang lain.Darah yang berlumuran di sekitar Valerie, kaki dan kepala Valerie yang hampir hancur membuat keluarga Deveraux panik bukan main.Saat itu juga Valerie dilarikan ke rumah sakit dengan harapan semua belum terlambat.Selain luka fisik yang gadis itu dapatkan, ada kemungkinan psikisnya juga kembali terganggu. “Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kami menemukan cedera yang cukup berat pada area genital pasien. Tim bedah sudah melakukan tindakan darurat untuk menghentikan pendarahan dan membersihkan luka. Berdasarkan pola yang kami temukan, kami menduga jika korban mengalami kekerasan seksual yang dilakukan secara berulang. Dan untuk luka di kedua kaki pasien, itu tidak hanya mengenai jaringan lunak. Kami menemukan cedera pada saraf yang mengendalikan gerak tungkai. Saat ini dia belum bisa menggerakkan kakinya dengan baik. Kami juga belum bisa memastikan apakah kelumpuhan ini bersifat sementara atau permanen. Kami baru bisa mengevaluasi setelah rehabilitasi nanti.” Dokter Christina menjel
Sejak dulu, Valerie bukan orang yang akan percaya pada sebuah hukum karma. Karena yang dia rasakan semasa hidupnya hanya kebahagiaan dengan bergelimang harta. Meski penyakit jantung pernah diidapnya, tapi menurutnya itu bukan apa-apa karena dia masih memiliki uang dan juga orang tua yang utuh, yang tentu saja bisa mengusahakan apapun untuknya.Salah satunya, dia tak segan memfitnah, menyakiti Rosélia karena dia melihat Ayahnya melakukan hal yang sama. Dia merasa apapun yang dirinya lakukan, orang tuanya akan selalu berada di sisinya.Hingga akhirnya skandal tentangnya mulai tersebar, Maverick meninggalkannya, kemudian dia masuk Rumah Sakit Jiwa dan sekarang seluruh harta mereka terkuras habis, bahkan mereka harus menumpang tinggal di rumah sepetak milik mantan sopir mereka.Memalukan. Tapi, saat ini Valerie tidak dalam keadaan yang mengharuskannya merasa malu ataupun gengsi. Masih memiliki tempat untuk bernaung merupakan berkah yang saat ini terasa begitu besar untuknya."Ibu, aku per
Minggu-minggu pertama Valerie berada di tempat baru, dia sering kali menangis. Selain karena merasa sepi, tidak ada yang dia kenal, tak jarang pasien lain di sana mengganggunya dengan celotehan-celotehan yang sama sekali tak Valerie mengerti."Pergi! Pergi!" Hanya satu kata itu yang bisa keluar dari ranum Valerie saat banyak yang mengganggunya. Sebelum petugas berdatangan, Valerie hanya bisa menangis di pojok ruangan sambil memeluk dirinya sendiri.Jika pikirannya sedang sedikit senggang, gadis itu akan keluar untuk merenung di sebuah bangku taman. Namun, kehadiran sosok Rosélia sering kali mengganggu ketenangannya hingga akhirnya gadis itu berubah berteriak histeris dan berakhir harus diberikan obat penenang oleh petugas.Selama sekitar sepuluh bulan lamanya Valerie harus menghabiskan waktu di tempat yang baginya sudah bagai neraka itu.Namun ketika gadis itu bisa keluar dari sana, dia sedikit bersyukur, dia bisa sedikit tenang dan banyak merenung tentang perbuatannya di masa lalu.
Valerie benar-benar kehilangan akal sehatnya. Meski Viviane dan Evander sudah melarang dan berusaha berbicara dengan gadis itu, nyatanya Valerie masih terus merancau tidak jelas, terus memukuli kepalanya dan sesekali menjambak rambutnya hingga beberapa helai rambut tercabut begitu saja."Valerie, Ibu bilang sudah!" Bahkan Viviane sudah kehilangan kelembutannya. Wanita itu benar-benar berusaha membuat Valerie sadar."Sayang, kita harus bagaimana?" Viviane yang sudah kebingungan akhirnya bertanya pada Evander yang sama paniknya hanya saja tidak begitu diperlihatkan."Aku sudah meminta Dokter Lucky datang. Setidaknya mungkin dia bisa membuat Valerie tenang untuk beberapa saat," jawab suaminya.Cukup lama mereka menunggu Dokter Lucky dan masih berusaha menahan tangan Valerie agar tak menyakiti dirinya sendiri.Hingga akhirnya Dokter Lucky datang lengkap dengan peralatan yang dia perlukan."Permisi, Tuan," ucapnya meminta agar kedua orang tua Valerie itu memberikan jarak untuknya memeriksa
Valerie berjalan dalam gelapnya malam, setelah menelepon sopirnya, dia menunggu di sebuah halte bus di sekitar sana. Setiap dia berpapasan atau bertemu dengan orang-orang, gendang telinganya tak luput dari bisikan-bisikan menyakitkan orang-orang itu."Memuakkan, punya kekasih masih bermain nakal dengan pria lain.""Aku juga dengar jika sikapnya kepada Nona Rosélia sangat buruk. Dia pemfitnah paling kejam.""Sia-sia Nona Rosélia rela memberikan jantungnya untuk orang seperti ini?" Begitulah desas-desus yang bisa Valerie dengar. Gadis itu sudah sekuat mungkin menahan amarahnya, namun begitu nama Rosélia disebut dan dihubungkan dengan jantungnya, dia menjadi tidak terkendali."Apa katamu tadi?! Orang seperti apa yang kamu maksud?! Rosélia sendiri yang memberikan jantungnya padaku, bukan salahku jika dia mati sekarang!" Valerie menyerang seorang gadis yang berbicara tentang jantungnya tadi. Dia mengangkat kerah baju gadis itu."Dasar orang gila! Lepaskan tangan kotormu itu dariku!" Tak
Semua seolah kembali pada jalannya masing-masing. Satu tahun lalu, tepat setelah Maverick memutuskan hubungannya dengan Valerie, berita-berita miring tentang Valerie mulai bermunculan.Bahkan setelah semesta memisahkan gadis itu dengan Maverick, sang pujaan hati, seolah tak puas, media mulai membicarakan rekaman CCTV yang memperlihatkan Valerie memasuki hotel dengan putra dari Rektor di kampusnya."Lihat perbuatanmu! Jika sudah seperti ini apa yang akan kita lakukan?!" Untuk kali pertama dalam hidupnya Valerie merasakan bentakan dari Evander. Rahang pria yang berstatus sebagai Ayahnya itu mengeras dengan tatapan nyalang pada sang putri yang sudah bersimpuh memohon ampun padanya."Kamu tahu, bahkan Rumah Sakit mengalami kerugian besar setelah orang-orang kehilangan kepercayaan pada kita! Jika terus seperti ini kita benar-benar akan habis, Valerie!" Evander memberikan jeda pada ucapannya sekadar untuk menghirup napas panjang. "Jika dalam keadaan seperti ini, Rosélia berpikir dan bertind
Gaun ivory yang sedikit menjuntai di bagian belakang, belahan di bagian paha kiri hingga bawah membuat kaki jenjang sang pemilik terpampang indah. Putih, mulus tanpa cela sedikitpun. Rosélia datang, membelah keramaian para tamu yang sebagian sudah datang. Setiap langkahnya, dia mendengar orang-or
Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana. Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja he
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal
Satu minggu berlalu bagi Rosélia terasa sangat lama. Pameran usai dan semua berjalan dengan lancar, bisa dikatakan sukses. Selama satu minggu itu, Rosélia beberapa kali menyempatkan waktu untuk menengok Valerie. Adiknya itu tak kunjung membuka mata, dia masih betah dalam tidurnya. Sama seperti har







