FAZER LOGINRevisi dekorasi memakan waktu cukup lama sehingga membuat Rosélia tertahan di venue hingga larut. Tubuhnya sudah lelah, hidungnya juga sudah mengeluarkan darah segar beberapa saat lalu. Hal itu sudah membuktikan jika tubuhnya sudah melebihi batas pertahanannya.
Setelah menyeka wajahnya yang basah akibat cuci muka, Rosélia kembali ke tengah venue sambil membenarkan jasnya. “Berapa lama lagi sampai kalian selesai?” tanya Rosélia. Dia sangat berharap bisa selesai lebih cepat dan pulang. “Kami tidak tahu, Nona. Lampu kristal ini agak sulit dilepas. Kami minta maaf,” jawab salah satu staf menyesal. Rosélia mengangguk paham. Dia juga tidak ingin menyepelekan pekerjaan orang lain. Ada kalanya kesalahan teknis terjadi ketika masa-masa genting. “Baiklah, beri tahu aku jika sudah selesai. Aku akan tunggu di sana,” ucapnya sambil menunjuk sudut ruangan. Ada sebuah single sofa di sudut ruangan yang sepertinya belum mereka singkirkan. Rosélia duduk di sana, cukup nyaman dan mampu menenagkan sendi-sendinya yang terasa pegal. Entah terlalu nyaman atau terlalu lelah, tanpa Rosélia sadari, dia terlelap di sana, di venue pernikahan adik tirinya dengan dia yang berjuang mendekor venue seestetik mungkin. Tidurnya lelap, tak terganggu dengan suara-suara yang dihasilkan dari para staf yang bekerja. Napasnya juga teratur. Sangat tenang. Sampai… dia dibangunkan oleh salah satu staf. Bersamaan dengan itu, Maverick kembali ke sana, dengan Valerie saat waktu sudah menunjukkan tengah malam. “Nona, maaf mengganggu tidurmu. Kita sudah selesai,” ucap staf itu tak enak hati. Rosélia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Sekitar empat puluh menit dia terlelap. “Ah baiklah, aku akan ke sana,” jawabnya sambil beranjak. “Kakak!” Panggilan itu membuat Rosélia mengurungkan niatnya untuk pergi. Di lihatnya suara yang sangat familiar itu. Nampak sekali raut heran di wajahnya. “Kenapa kalian balik lagi?” tanya Roselia untuk menuntaskan rasa penasarannya. “Maverick bilang Kakak masih di sini untuk revisi. Aku juga ingin melihat hasilnya, jadi aku dan Maverick datang,” jawabnya. “Kebetulan aku sulit tidur malam ini,” sambungnya. Rosélia mengangguk paham, melanjutkan langkahnya dan diikuti oleh calon pengantin. Valerie berlari kecil menyusul sang kakak meninggalkan Maverick di belakangnya. Dia memeluk lengan Rosélia dengan manja. “Kak… sebenarnya aku melihat trend di media sosial belakangan ini. Konsep black and gold luxury wedding sangat bagus. Para influencer juga melakukannya. Aku menginginkannya. Bisakah Kakak ubah konsepnya?” Bagai dihantam batu besar, Rosélia terkejut bukan main. Saat persiapan sudah hampir rampung dan acara akan dilakukan besok, Valerie baru mengatakannya sekarang? “Valerie, jangan bercanda. Kamu tidak memintaku untuk merevisi keseluruhan konsep awal kita, kan?” Demi Tuhan, rasanya Rosélia sudah tidak sanggup lagi jika jawaban Valerie adalah ‘ya’. Valerie mengangguk pelan. “Aku mohon…” rengeknya. Maverick mendengar semuanya dan dia tahu apa yang diminta Valerie sudah keterlaluan. Namun, Maverick ingin yang terbaik untuk Valerie termasuk konsep pernikahan impiannya. “Lakukanlah, masih ada waktu,” timpal Maverick pada akhirnya. “Tunggu dulu. Valerie, ini sudah tengah malam dan aku sama sekali belum istirahat. Kamu benar-benar mau menyiksaku?! Tidak, aku tidak akan melakukannya!” Emosi Rosélia memuncak. Tubuhnya yang lelah, otaknya yang terus dipaksa berputar, dan hari yang hampir berganti membuatnya tak bisa mengontrol emosinya dengan baik. Valerie terlonjak dan spontan memeluk lengan Maverick, bersembunyi di sana mencari rasa aman. “Rosélia!” Rosélia mendapat bentakan balik dari Maverick. Wanita itu menoleh ke arah lain, memejamkan matanya dan tangannya terangkat memijat pelipisnya. Dia menghela napas dan menghembuskannya dengan berat. “Ya oke, seperti yang kalian mau, aku akan melakukannya semampuku!” Rosélia beranjak, memerintahkan kepada para staf seperti yang diinginkan Valerie. Tepat setelah selesai memberikan perintah, kaki Rosélia mendadak lemas, mati rasa. Kepalanya pening, dunia seakan berputar. Penglihatannya semakin gelap dan perlahan kesadaran sepenuhnya hilang. “Rosélia,” Maverick yang lebih dulu melihat Rosélia terjatuh pingsan, spontan memanggil nama gadis itu. Valerie mengikuti arah pandang dan membelalakan matanya. Keduanya mendekat setelah beberapa staf lebih dulu tiba di sana. “Kalian bantu bawa dia ke mobil saya. Setelah itu lanjutkan pekerjaan kalian,” ucap Maverick yang mendapatkan anggukan. Rosélia diangkat menuju mobil Maverick oleh beberapa staf yang ada di sana. “Kakak kenapa?” tanya Valerie panik. “Gak apa-apa. Dia pasti baik-baik saja,” ucapnya menenangkan Valerie. “Kamu pulang saja ya. Aku gak mau besok kamu kecapean. Aku telpon sopir buat antar kamu. Rosélia biar aku yang urus, sekalian nanti aku balik lagi ke sini untuk memastikan dekorasinya sesuai dengan apa yang kamu mau,” sambung Maverick. Valerie hanya bisa mengangguk. “Kabari aku tentang kondisi Kak Rosé ya.” “Pasti. Aku akan selalu mengabarimu.” Maverick bergegas membawa Rosélia ke klinik terdekat. Sementara Valerie menunggu jemputan di ballroom. * Selang infus menjuntai mengalirkan cairan ke dalam tubuh Rosélia melalui tangannya. Matanya terpejam seakan-akan inilah hal yang dia tunggu sejak tadi, tidur. Sementara itu, pria yang mengantarnya menuju klinik berdiri di depan cermin yang ada di sebelah brankarnya. Tangannya menggenggam ponsel yang dia dekatkan ke daun telinganya. Tak lama, kesadaran Rosélia kembali. Dia mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang dia terima. Cukup lama sampai dia melihat Maverick berbalik padanya. “Sudah bangun?” tanya pria itu. Kedua tangannya dia masukan pada saku celananya. Rosélia tak menjawab. Dia masih meringis merasa seluruh badannya ngilu. “Istirahatlah sebentar. Setelah mendingan kembali lagi ke venue. Pastikan semuanya sesuai dengan apa yang Valerie inginkan,” ujarnya. “Aku harus pergi. Kirimkan foto dekorasi finalnya padaku atau pada Valeri untuk memastikan semuanya selesai.” Setelah berucap demikian, Maverick beranjak. Di ambang pintu, dia kembali menoleh pada Rosélia. “Ah aku lupa mengatakannya. Kata dokter, kamu kecapean.” Setelahnya dia benar-benar berlalu meninggalkan Rosélia dengan keheningan. “Dia tahu aku kecapean, tapi masih menyuruhku ke venue di saat keadaanku pun sedang seperti ini,” ucapnya. Hening cukup lama sampai dia kembali berkata, “berharap apa kamu, Rosélia.” Dering ponselnya membuat gadis itu terpaksa mengangkat panggilan yang sama sekali enggan dia angkat sebenarnya. “Ya?” tanyanya singkat. “Rosélia, aku mendapatkan kabar dari Valerie kalau kamu pingsan? Kamu masuk rumah sakit, di saat genting seperti ini?” Evander berkat dengan tegas. Bukan kepedulian pada Rosélia, tapi ketakutan akan kegagalan acara esok hari. “Ya, aku kelelahan,” jawabnya. “Kamu tahu acara pernikahan Valerie akan dilaksanakan besok. Bisa-bisanya kamu tidak menjaga kesehatanmu sendiri? Kamu harus kembali ke venue, Valerie mengatakan ada revisi lagi,” ucapnya. “Ayah, aku lelah. Tak bisakah malam ini aku istirahat? Biarkan para staf itu yang mengurusnya. Lagipula aku sudah mengatakan kepada mereka revisi dari Valerie,” bela Rosélia. “Orang lain tidak bisa dipercaya, Rosélia. Kamu tetap harus ke sana, aku tidak mau tahu!” Panggilan terputus sebelah pihak. Rosélia dengan lelah dan sakitnya hanya bisa menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Tangannya meremat ponsel yang masih ada di tangannya. Setelahnya, dilepas paksa jarum infus yang tertancap di tangannya hingga membuatnya berdarah. Rosélia berjalan lemah dengan darah yang tak kunjung berhenti di tangannya serta wajah pucat yang sangat ketara.“Jangan harap air matamu bisa meluluhkanku, Rosélia,” ucap Maverick tajam. “Jangan bersikap seolah kamu adalah korbannya dan merasa paling menderita,” sambungnya. Kening Rosélia mengernyit bingung. Bukankah memang iya? Dia sepenuhnya menjadi korban atas keegoisan keluarganya.“Lalu menurutmu, jika bukan aku, siapa?” jawab Rosélia. Terselip kekehan tipis dalam ucapannya.“Kamu lupa? Kamu lupa bagaimana keadaan Valerie sekarang? Kamu lupa siapa yang membuatnya koma? Apa kamu juga lupa kalau kamu penyebab adanya pernikahan kita? Kalau bukan kamu yang menyembunyikan obat Valerie, semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Kesimpulannya, Valerie adalah korban dari keegoisanmu itu!” Nada bicaranya meninggi di kalimat terakhir.Rosélia mengangguk-anggukan kepalanya, bukan mengakui, tapi dia lelah dengan semua tuduhan yang tidak pernah dia lakukan.Diraihnya blazer dan juga tasnya kemudian dia menatap Maverick tajam.“Pikirkan apapun yang mau kamu pikirkan. Salahkan aku sebesar yang kamu mau,
Revisi dekorasi memakan waktu cukup lama sehingga membuat Rosélia tertahan di venue hingga larut. Tubuhnya sudah lelah, hidungnya juga sudah mengeluarkan darah segar beberapa saat lalu. Hal itu sudah membuktikan jika tubuhnya sudah melebihi batas pertahanannya.Setelah menyeka wajahnya yang basah akibat cuci muka, Rosélia kembali ke tengah venue sambil membenarkan jasnya. “Berapa lama lagi sampai kalian selesai?” tanya Rosélia. Dia sangat berharap bisa selesai lebih cepat dan pulang.“Kami tidak tahu, Nona. Lampu kristal ini agak sulit dilepas. Kami minta maaf,” jawab salah satu staf menyesal.Rosélia mengangguk paham. Dia juga tidak ingin menyepelekan pekerjaan orang lain. Ada kalanya kesalahan teknis terjadi ketika masa-masa genting. “Baiklah, beri tahu aku jika sudah selesai. Aku akan tunggu di sana,” ucapnya sambil menunjuk sudut ruangan. Ada sebuah single sofa di sudut ruangan yang sepertinya belum mereka singkirkan.Rosélia duduk di sana, cukup nyaman dan mampu menenagkan send
Hari menjelang pernikahan semakin dekat sehingga persiapan pernikahan juga semakin padat. Hal itu sangat terasa oleh Rosélia karena dia hampir tidak cukup beristirahat sejak beberapa minggu lalu.Rosélia lebih sering pulang larut karena harus mengurus venue, kampus dan juga galeri sekaligus. Tubuhnya mulai memberikan tanda-tanda kelelahan. Sering pusing bahkan beberapa kali dia hampir pingsan. Tapi, tidak ada yang peduli.Besok adalah hari pernikahan Valerie dan Maverick. Itu artinya, hari ini adalah hari terakhir Rosélia menguras tenaga, pikiran dan waktunya untuk persiapan.Matahari sudah kembali ke peraduannya berganti dengan sang pemilik malam yang bersinar terang di langit hitam. Bukannya pulang, Rosélia kembali menuju venue dengan harapan dia tak harus merevisi lagi."Semuanya aman?" Ucapannya menggema begitu suara hak sepatu berhenti. Para staf menoleh dan mengangguk hampir bersamaan. Namun, Rosélia merasa ada yang salah. Diteliti kembali seluruh venue sebelum kemudian dia men
Pernikahan bukan sesuatu yang dapat dipermainkan. Kesakralannya layak dihormati dan pelaksanaannya adalah hal yang patut dismbut oleh semua orang, terutama keluarga dari kedua belah pihak. Jika mereka rakyat biasa saja sangat antusias menyambut hari besar yang satu ini, apalagi keluarga Deveraux dan Ashbourne yang notabenenya keluarga ternama, terkenal, tersohor baik dalam dunia bisnis atau status sosial. Pernikahan Maverick Ashbourne dan Valerie Deveraux adalah pernikahan pertama yang akan dilakukan masing-masing keluarga mengingat Maverick adalah anak tunggal dan Kakaknya Valerie, Rosélia belum menikah.Jadi, persiapan dilakukan sematang mungkin dengan konsep semewah yang diinginkan Valerie. Mulai dari dekorasi, layout venue, pemilihan warna dan juga estetika warna, mereka pilih dengan hati-hati."Tak bisakah Kakak kabulkan permintaanku yang satu ini? Ini pernikahan pertama dan terakhirku, aku mau ini special, salah satunya dengan Kakak terlibat dalam dekorasi dan layout venue di
Mengisi kelas, menghadiri seminar, melukis, atau datang ke sebuah pameran merupakan keseharian Rosélia dan dia sama sekali tidak keberatan dan merasa lelah dengan kegiatannya. Tetapi, jika Viviane sudah hadir di antara kesibukannya itu, di sanalah Rosélia merasa ingin menghilang dari semesta.Telepon dari keluarganya sudah seperti teror yang terus mengganggu ketenangan hidupnya. Tak jarang Rosélia menolak panggilan-panggilan itu. Tapi, seolah tahu Rosélia melakukannya dengan sengaja, mereka akan kembali menelepon sampai Rosélia mengangkatnya dan memenuhi keinginan mereka.Bola matanya memutar lelah. Seperti yang dia duga, panggilan telepon itu tak akan berhenti sebelum Rosélia mengangkatnya. Maka, dengan berat hati dia menekan tombol hijau di ponselnya."Apa lagi kali ini?" tanya Rosélia lelah."Lama sekali kamu angkat telepon!" Suara Viviane melengking di seberang sana. Namun, Rosélia mengabaikannya, dia in
Paksaan dari keluarga sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari Rosélia. Dia dipaksa untuk mulai terbiasa dengan semua itu, dia dipaksa untuk memaklumi keluarganya dan dia dipaksa untuk selalu mematuhi titah mereka.Rosélia lelah, ingin berontak, ingin hidup dengan tenang seperti yang lain. Tapi, lagi-lagi dia tak bisa. Hidupnya serasa dirantai oleh rasa bersalah karena kematian sang Ibu, ditambah validasi yang selalu Ayahnya ucapkan sehingga membuat Rosélia percaya jika dia pembunuhnya.Maka, malam ini pun sama. Rosélia tidak diizinkan memilih atau menggunakan alasannya untuk tidak datang ke acara makan malam yang diadakan keluarganya. Namun, biarkan kali ini dia menggunakan sedikit waktunya untuk egois. Akan dia selesaikan dulu urusannya sebelum pergi ke acara makan malam di rumahnya.Sesekali diliriknya jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum kemudian fokusnya kembali pada ramainya jalan di malam hari."Hanya terlambat setengah jam. Tidak apa-apa, bukan?" ucapn







