Share

Chapter 07

last update publish date: 2026-05-20 22:05:06

Satu minggu berlalu bagi Rosélia terasa sangat lama. Pameran usai dan semua berjalan dengan lancar, bisa dikatakan sukses.

Selama satu minggu itu, Rosélia beberapa kali menyempatkan waktu untuk menengok Valerie. Adiknya itu tak kunjung membuka mata, dia masih betah dalam tidurnya.

Sama seperti hari ini, sore hari selepas pulang mengajar, Rosélia sempatkan untuk datang.

Heels yang dia kenakan menyebabkan gema ketika beradu dengan lantai di lorong rumah sakit. 

Sepi, Rosélia sepenuhnya tahu kapan keluarganya akan datang dan pergi. Sengaja dia sesuaikan agar tidak perlu bertemu dengan keluarganya.

Begitu pintu dibukanya, tubuh Valerie masih terbaring lemah di brankar. Matanya tertutup rapat, tak ada pergerakan sama sekali dan nafasnya pun dibantu dengan oksigen.

Rosélia mendudukkan dirinya di sebuah kursi di samping brankar.

“Kapan kamu akan bangun?” tanyanya yang hanya dibalas dengan keheningan.

“Karena kamu drop, aku jadi harus menggantikan posisimu,aku dicaci dan aku yakin, ketika kamu bangun nanti kamu juga akan mencaciku,” sambungnya. Tatapannya lurus pada mata Valerie yang terpejam. Kosong, gundah dan bimbang. 

Lima menit, sepuluh menit berlalu semua baik-baik saja seperti biasa. Hingga… lima belas menit berlalu tubuh Valerie tiba-tiba terguncang, kejang cukup kencang.

“Valeri! Hei kamu kenapa?!” Rosélia panik untuk sesaat sebelum dia menekan tombol di dinding belakang brankar untuk memanggil bantuan.

Rosélia harap-harap cemas menunggu kedatangan tenaga medis. Sampai, pintu terbuka, aura memanas dan memancarkan kemarahan.

Bukan hanya dokter yang datang melainkan Ayah dan Ibu sambungnya juga ada di sana.

“Sedang apa kamu di sini?!” Viviane berjalan dengan cepat mencengkram pergelangan tangan Rosélia.

“Aku menjenguk Valerie,” jawabnya jujur.

“Lalu kamu apakan dia sampai kejang seperti itu?!” 

Belum sempat Rosélia menjawab, seorang perawat datang menghampiri mereka. 

“Maaf, Nyonya, kalian boleh tunggu di luar? Kami akan menangani pasien terlebih dulu,” ucapnya dengan sopan.

Tanpa jawaban mereka keluar dari sana dengan Viviane yang menarik tangan Rosélia. Begitu tiba di depan ruang rawat dan pintu sudah sepenuhnya tertutup, Viviane menghempaskan tangan Rosélia dengan kasar.

“Kamu apakan Anakku?” Viviane mengulang kembali pertanyaannya.

“Aku tidak melakukan apapun, dia tiba-tiba kejang dan aku langsung memanggil Dokter,” belanya.

“Tidak mungkin dia kejang kalau tidak kamu apa-apakan. Pasti kamu melakukan sesuatu, kan?” Evander mengambil alih. Dia maju beberapa langkah hingga jarak dengan Rosélia begitu dekat sementata Viviane berada di belakangnya.

“Ayah, tidak bisakah Ayah percaya sekali saja padaku? Seburuk itukah aku di mata kalian?” ucap Rosélia lelah. Namun masih ada kekuatan dalam ucapannya.

“Karena kamu memang selalu bisa mencelakai keluarga kita!” teriak Evander menggema di lorong rumah sakit.

Bibir Rosélia kelu, dia tak bisa mengucapkan apapun lagi. Kakinya mundur beberapa langkah, pandangannya kosong. Kemudian, dia berbalik tanpa mengucapkan apapun dan pergi dari sana.

*

Hatinya tak memungkinkan untuk pulang ke penthouse. Bertemu dengan Maverick bukanlah obat, melainkan racun yang akan memperparah lukanya.

Maka, Rosélia putuskan untuk pulang ke galeri malam ini. Dia sudah kirimkan pesan pula pada Maverick agar pria itu tak mencarinya, walaupun itu tak mungkin.

Sepanjang perjalanan fokusnya begitu terganggu. Beberapa kali dia hampir menyerempet pengendara lain, melewatkan lampu hijau sampai banyak klakson yang mengingatkannya dan beberapa kali dia hampir bertabrakan di persimpangan. Kacau.

Mesin mobil mati, Rosélia menghela napas lega karena Tuhan masih mengizinkannya untuk hidup. Dia tiba di galeri yang satu minggu ini tidak pernah dia kunjungi, begitu sibuk sampai tidak sempat.

“Aku harus melanjutkannya. Terlalu banyak pengorbananku jika aku tak melanjutkan galeri ini,” lirihnya. 

Matanya memandang, mengedar memperhatikan setiap pahatan gedung di hadapannya. Seluruh mimpinya dia curahkan di sini. Sangat disayangkan jika tidak dilanjutkan. 

Rosélia melangkah masuk setelah membuka kuncinya. Hanya sepi dan gelap yang menyapa. Meski begitu, dia lanjutkan menuju kamarnya.

Masih sama, tak ada yang berbeda, hanya ada tumpukan debu yang cukup tebal di lukisannya yang belum usai.

Setelah menyalakan saklar, Rosélia menyimpan tasnya dan duduk di kursi di depan kanvas yang sebagian masih bersih.

Tangannya dengan telaten mulai mencampur warna yang dia perlukan. Kuas itu mulai menari-nari di atas kanvas menyisakan warna indah yang menceritakan segala keluh kesahnya.

Tak ayal air matanya jatuh setiap kuas menyentuh kanvas. Sunyi, sepi, dinginnya suasana mendukungnya untuk menguras tuntas kesedihan dan air mata.

Satu jam berlalu Rosélia masih dalam posisi yang sama. Namun, samar dia mendengar derap langkah yang semakin mendekat. Buru-buru terkesan mengejar sesuatu.

Brak

Pintu terbuka dengan keras membuat Rosélia terperanjat dan berbalik seketika. Dihapusnya dengan segera sisa-sisa air mata di pipinya.

“Kamu keterlaluan, Rosélia!” Emosinya memuncak. Iris legam itu menatap nyalang pada sang pemilik ruangan.

“Apa-apaan kamu ini?!” Rosélia tak kalah marah. Ini wilayahnya dan Maverick masuk tanpa permisi, merusak suasana dan fasilitas di sana dengan kemarahannya. 

Maverick mendekat, diraihnya kerah baju yang Rosélia kenakan sampai gadis itu berjinjit agar lehernya tak tercekik.

“Belum cukup kamu mengambil obat Valerie sampai kondisinya koma? Sekarang kamu buat Valerie kejang-kejang?!” Setelah Maverick mengatakannya, barulah Rosélia paham apa yang pria itu bicarakan.

Kedua tangan mungil itu mencoba menahan tangan Maverick agar tak menarik bajunya lebih tinggi.

“Lepaskan!” Rosélia menyentak sampai dia berhasil lepas dari cengkraman pria itu. kesabarannya habis, nafasnya memburu. Pandangan sayu dengan penuh air mata tergantikan dengan tatapan nyalang penuh amarah.

“Kamu bisanya cuma menyalahkan, Maverick. Apa kamu tahu kejadian sebenarnya? Apa kamu tak ada niat bertanya lebih dulu tentang apa yang sebenarnya terjadi? Atau mata dan telingamu sudah buta dan tuli karena omong kosong Evander dan Viviane?!” Tangisnya pecah karena emosi yang meluap. Bahkan dia tak menyisipkan panggilan Ayah dan Ibu pada kedua orang tuanya.

“Di mana sopan santunmu?! Mereka orang tuamu, Rosélia!” 

“Jangan bahas sopan santun saat kamu masuk ke sini saja tanpa persetujuan sang pemilik!” Rosélia membalas tak kalah tajam.

Emosi Maverick memuncak, dalam waktu singkat, tangannya mengambil palet yang masih terdapat cat di atasnya dan melempar palet itu tepat ke lukisan yang belum sepenuhnya usai. 

Semua warna terciprat, merusak lukisan, mengotori ruangan dan juga mengotori pakaian Rosélia. “Aku suamimu!” Ucapan itu menggema di ruangan yang hanya berisi mereka berdua.

Hening untuk beberapa saat sampai Rosélia berdecih, senyumnya mengembang yang perlahan berubah menjadi tawa kencang, sangat kencang sampai membuat Maverick bingung. 

Setelahnya, pandangan Rosélia kembali jatuh pada Maverick. Tawanya berhenti, tatapannya tajam dan dia berkata, “suami? Suami katamu?” Tawa itu kembali menggema lebih kencang dari sebelumnya.

“Kamu tak lupa jika aku hanya pengganti, kan? Apa hak mu mengaturku jika status ‘suami’ mu itu saja hanya sebuah canda?” Ucapannya terhenti, mereka saling pandang satu sama lain dengan Maverick yang kehabisan kata-katanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 103

    Beberapa bulan terakhir, perasaan Rosélia terasa begitu tak enak. Hubungannya yang baru seumur jagung dengan Bastian entah mengapa membuat Rosélia merasa begitu bersalah pada pria itu.Sekitar empat bulan lalu, akhirnya Rosélia mengiyakan ajakan Bastian untuk menjalin kasih, setelah permintaan itu datang dari Bastian bertahun-tahun lamanya. Saat itu Bastian bahagia bukan main karena akhirnya Rosélia bisa menjadi miliknya. Belum seutuhnya, tapi setidaknya mereka sudah satu langkah lebih maju dari sebelumnya.Rosélia berusaha, berusaha memberikan hatinya seutuhnya hanya untuk Bastian.Setelah lamunan singkat dibersamai dengan suasana sejuk di pagi hari, Rosélia kembali fokus pada kegiatannya. Dia kembali menyiapkan sarapan untuk Bastian dan Elodie."Selamat pagi," sapa Bastian. Seperti biasa, pria itu sudah mandi. Namun kali ini dia tidak mengenakan snelly dan pakaian kerjanya. Dia hanya berpakaian santai."Pagi," jawab Rosélia menoleh sejenak sebelum kemudian dia kembali pada sarapanny

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 102

    Lima tahun kemudian…Interlaken menyambut dengan ketenangan yang terasa asing bagi siapapun yang terbiasa hidup dalam hiruk-pikuk kota. Hamparan padang rumput hijau membentang disela bangunan yang didominasi oleh kayu berwarna coklat. Di kejauhan, puncak Jungfrau yang diselimuti salju berdiri anggun.Sungai dengan air sebening kristal. Permukaannya memantulkan langit Swiss yang bersih tanpa cela. Denting lonceng yang berpadu dengan suara kereta yang melintas seolah lagu yang berbisik syahdu di telinga.Orang-orang berjalan santai, beberapa menggayuh sepeda dan sebagian duduk di kafe atau di teras rumah ditemani dengan secangkir kopi hangat.Seperti seorang wanita yang tersenyum manis dengan secangkir kopi di tangannya, sementara itu tatapan hangatnya begitu fokus pada seorang gadis kecil dengan rambut terurai. Gadis kecil itu berlarian mengejar seekor kupu-kupu di halaman rumah. Di bagian sudut kanan rumah terdapat pohon cukup besar dilengkapi dengan ayunan tempat lain gadis itu berm

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 101

    Valerie benar-benar mendapatkan karmanya. Gadis itu dinyatakan lumpuh setelah kejadian yang dia alami dua bulan lalu. Hatinya terlalu sakit, kepalanya kerap dibuat pening dan di malam hari, dia akan menangis dalam diam meratapi nasib yang rasanya semakin lama semakin buruk.Kadang nafasnya tiba-tiba memburu saat teringat kepingan kejadian yang menimpanya. Gadis itu merasa kotor. Tiga orang pria tak dikenal menodainya, menyakitinya hingga meninggalkan trauma yang cukup dalam. Namun Valerie diam. Dia tak ingin menginjakkan kaki di Rumah Sakit Jiwa lagi.Biarkan dia membawa trauma dan gilanya sendiri tanpa ada yang mengetahui. Meski dia yakin kedua orang tuanya menyadari hal itu.Sejak keluar dari rumah sakit, hampir setiap hari Valerie selalu datang ke makam Roselia dengan bantuan kursi roda dan Valdez yang mengantarnya. Selama itu juga, Valerie sering melihat Maverick datang.Seperti hari ini, dari kejauhan Valerie menatap nanar makam Roselia dan seorang pria yang tengah menangis terse

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 100

    Bahkan, dengan segala dosa yang sudah keluarga Deveraux lakukan, Tuhan masih berbaik hati. Semesta masih memperbolehkan mereka menginjakkan kaki di atasnya.Dua bulan lamanya Valerie menjalani perawatan di Rumah Sakit. Rasanya, tempat itu sudah menjadi rumahnya, mengingat betapa seringnya gadis itu datang ke sana.Jika dulu, Evander hanya tinggal memerintahkan dokter menangani putrinya tanpa harus mengkhawatirkan biaya, maka selama dua bulan ini Evander benar-benar banting tulang untuk mencari sejumlah uang.“Nona Valerie bisa keluar nanti siang. Namun sebelum itu, biayanya selama perawatan satu minggu terakhir harus dilunasi dulu, Pak,” ucap resepsionis. “A-ah, iya akan saya usahakan,” jawab Evander.Dia berbalik, berjalan menuju ruang rawat Valerie. Dari balik jendela, Evander bisa menyaksikan bagaimana Valerie tersenyum pada Viviane yang dia yakini hanya senyuman palsu. Dadanya ikut teriris melihat hal itu. Tangan Evander naik dan meremat dadanya yang terasa begitu nyeri.“Maafk

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 99

    Darah yang berlumuran di sekitar Valerie, kaki dan kepala Valerie yang hampir hancur membuat keluarga Deveraux panik bukan main.Saat itu juga Valerie dilarikan ke rumah sakit dengan harapan semua belum terlambat.Selain luka fisik yang gadis itu dapatkan, ada kemungkinan psikisnya juga kembali terganggu. “Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kami menemukan cedera yang cukup berat pada area genital pasien. Tim bedah sudah melakukan tindakan darurat untuk menghentikan pendarahan dan membersihkan luka. Berdasarkan pola yang kami temukan, kami menduga jika korban mengalami kekerasan seksual yang dilakukan secara berulang. Dan untuk luka di kedua kaki pasien, itu tidak hanya mengenai jaringan lunak. Kami menemukan cedera pada saraf yang mengendalikan gerak tungkai. Saat ini dia belum bisa menggerakkan kakinya dengan baik. Kami juga belum bisa memastikan apakah kelumpuhan ini bersifat sementara atau permanen. Kami baru bisa mengevaluasi setelah rehabilitasi nanti.” Dokter Christina menjel

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 98

    Sejak dulu, Valerie bukan orang yang akan percaya pada sebuah hukum karma. Karena yang dia rasakan semasa hidupnya hanya kebahagiaan dengan bergelimang harta. Meski penyakit jantung pernah diidapnya, tapi menurutnya itu bukan apa-apa karena dia masih memiliki uang dan juga orang tua yang utuh, yang tentu saja bisa mengusahakan apapun untuknya.Salah satunya, dia tak segan memfitnah, menyakiti Rosélia karena dia melihat Ayahnya melakukan hal yang sama. Dia merasa apapun yang dirinya lakukan, orang tuanya akan selalu berada di sisinya.Hingga akhirnya skandal tentangnya mulai tersebar, Maverick meninggalkannya, kemudian dia masuk Rumah Sakit Jiwa dan sekarang seluruh harta mereka terkuras habis, bahkan mereka harus menumpang tinggal di rumah sepetak milik mantan sopir mereka.Memalukan. Tapi, saat ini Valerie tidak dalam keadaan yang mengharuskannya merasa malu ataupun gengsi. Masih memiliki tempat untuk bernaung merupakan berkah yang saat ini terasa begitu besar untuknya."Ibu, aku per

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 01

    Gaun ivory yang sedikit menjuntai di bagian belakang, belahan di bagian paha kiri hingga bawah membuat kaki jenjang sang pemilik terpampang indah. Putih, mulus tanpa cela sedikitpun. Rosélia datang, membelah keramaian para tamu yang sebagian sudah datang. Setiap langkahnya, dia mendengar orang-or

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 06

    Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana. Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja he

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 05

    Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 04

    Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status