LOGINSatu minggu berlalu bagi Rosélia terasa sangat lama. Pameran usai dan semua berjalan dengan lancar, bisa dikatakan sukses.
Selama satu minggu itu, Rosélia beberapa kali menyempatkan waktu untuk menengok Valerie. Adiknya itu tak kunjung membuka mata, dia masih betah dalam tidurnya. Sama seperti hari ini, sore hari selepas pulang mengajar, Rosélia sempatkan untuk datang. Heels yang dia kenakan menyebabkan gema ketika beradu dengan lantai di lorong rumah sakit. Sepi, Rosélia sepenuhnya tahu kapan keluarganya akan datang dan pergi. Sengaja dia sesuaikan agar tidak perlu bertemu dengan keluarganya. Begitu pintu dibukanya, tubuh Valerie masih terbaring lemah di brankar. Matanya tertutup rapat, tak ada pergerakan sama sekali dan nafasnya pun dibantu dengan oksigen. Rosélia mendudukkan dirinya di sebuah kursi di samping brankar. “Kapan kamu akan bangun?” tanyanya yang hanya dibalas dengan keheningan. “Karena kamu drop, aku jadi harus menggantikan posisimu,aku dicaci dan aku yakin, ketika kamu bangun nanti kamu juga akan mencaciku,” sambungnya. Tatapannya lurus pada mata Valerie yang terpejam. Kosong, gundah dan bimbang. Lima menit, sepuluh menit berlalu semua baik-baik saja seperti biasa. Hingga… lima belas menit berlalu tubuh Valerie tiba-tiba terguncang, kejang cukup kencang. “Valeri! Hei kamu kenapa?!” Rosélia panik untuk sesaat sebelum dia menekan tombol di dinding belakang brankar untuk memanggil bantuan. Rosélia harap-harap cemas menunggu kedatangan tenaga medis. Sampai, pintu terbuka, aura memanas dan memancarkan kemarahan. Bukan hanya dokter yang datang melainkan Ayah dan Ibu sambungnya juga ada di sana. “Sedang apa kamu di sini?!” Viviane berjalan dengan cepat mencengkram pergelangan tangan Rosélia. “Aku menjenguk Valerie,” jawabnya jujur. “Lalu kamu apakan dia sampai kejang seperti itu?!” Belum sempat Rosélia menjawab, seorang perawat datang menghampiri mereka. “Maaf, Nyonya, kalian boleh tunggu di luar? Kami akan menangani pasien terlebih dulu,” ucapnya dengan sopan. Tanpa jawaban mereka keluar dari sana dengan Viviane yang menarik tangan Rosélia. Begitu tiba di depan ruang rawat dan pintu sudah sepenuhnya tertutup, Viviane menghempaskan tangan Rosélia dengan kasar. “Kamu apakan Anakku?” Viviane mengulang kembali pertanyaannya. “Aku tidak melakukan apapun, dia tiba-tiba kejang dan aku langsung memanggil Dokter,” belanya. “Tidak mungkin dia kejang kalau tidak kamu apa-apakan. Pasti kamu melakukan sesuatu, kan?” Evander mengambil alih. Dia maju beberapa langkah hingga jarak dengan Rosélia begitu dekat sementata Viviane berada di belakangnya. “Ayah, tidak bisakah Ayah percaya sekali saja padaku? Seburuk itukah aku di mata kalian?” ucap Rosélia lelah. Namun masih ada kekuatan dalam ucapannya. “Karena kamu memang selalu bisa mencelakai keluarga kita!” teriak Evander menggema di lorong rumah sakit. Bibir Rosélia kelu, dia tak bisa mengucapkan apapun lagi. Kakinya mundur beberapa langkah, pandangannya kosong. Kemudian, dia berbalik tanpa mengucapkan apapun dan pergi dari sana. * Hatinya tak memungkinkan untuk pulang ke penthouse. Bertemu dengan Maverick bukanlah obat, melainkan racun yang akan memperparah lukanya. Maka, Rosélia putuskan untuk pulang ke galeri malam ini. Dia sudah kirimkan pesan pula pada Maverick agar pria itu tak mencarinya, walaupun itu tak mungkin. Sepanjang perjalanan fokusnya begitu terganggu. Beberapa kali dia hampir menyerempet pengendara lain, melewatkan lampu hijau sampai banyak klakson yang mengingatkannya dan beberapa kali dia hampir bertabrakan di persimpangan. Kacau. Mesin mobil mati, Rosélia menghela napas lega karena Tuhan masih mengizinkannya untuk hidup. Dia tiba di galeri yang satu minggu ini tidak pernah dia kunjungi, begitu sibuk sampai tidak sempat. “Aku harus melanjutkannya. Terlalu banyak pengorbananku jika aku tak melanjutkan galeri ini,” lirihnya. Matanya memandang, mengedar memperhatikan setiap pahatan gedung di hadapannya. Seluruh mimpinya dia curahkan di sini. Sangat disayangkan jika tidak dilanjutkan. Rosélia melangkah masuk setelah membuka kuncinya. Hanya sepi dan gelap yang menyapa. Meski begitu, dia lanjutkan menuju kamarnya. Masih sama, tak ada yang berbeda, hanya ada tumpukan debu yang cukup tebal di lukisannya yang belum usai. Setelah menyalakan saklar, Rosélia menyimpan tasnya dan duduk di kursi di depan kanvas yang sebagian masih bersih. Tangannya dengan telaten mulai mencampur warna yang dia perlukan. Kuas itu mulai menari-nari di atas kanvas menyisakan warna indah yang menceritakan segala keluh kesahnya. Tak ayal air matanya jatuh setiap kuas menyentuh kanvas. Sunyi, sepi, dinginnya suasana mendukungnya untuk menguras tuntas kesedihan dan air mata. Satu jam berlalu Rosélia masih dalam posisi yang sama. Namun, samar dia mendengar derap langkah yang semakin mendekat. Buru-buru terkesan mengejar sesuatu. Brak Pintu terbuka dengan keras membuat Rosélia terperanjat dan berbalik seketika. Dihapusnya dengan segera sisa-sisa air mata di pipinya. “Kamu keterlaluan, Rosélia!” Emosinya memuncak. Iris legam itu menatap nyalang pada sang pemilik ruangan. “Apa-apaan kamu ini?!” Rosélia tak kalah marah. Ini wilayahnya dan Maverick masuk tanpa permisi, merusak suasana dan fasilitas di sana dengan kemarahannya. Maverick mendekat, diraihnya kerah baju yang Rosélia kenakan sampai gadis itu berjinjit agar lehernya tak tercekik. “Belum cukup kamu mengambil obat Valerie sampai kondisinya koma? Sekarang kamu buat Valerie kejang-kejang?!” Setelah Maverick mengatakannya, barulah Rosélia paham apa yang pria itu bicarakan. Kedua tangan mungil itu mencoba menahan tangan Maverick agar tak menarik bajunya lebih tinggi. “Lepaskan!” Rosélia menyentak sampai dia berhasil lepas dari cengkraman pria itu. kesabarannya habis, nafasnya memburu. Pandangan sayu dengan penuh air mata tergantikan dengan tatapan nyalang penuh amarah. “Kamu bisanya cuma menyalahkan, Maverick. Apa kamu tahu kejadian sebenarnya? Apa kamu tak ada niat bertanya lebih dulu tentang apa yang sebenarnya terjadi? Atau mata dan telingamu sudah buta dan tuli karena omong kosong Evander dan Viviane?!” Tangisnya pecah karena emosi yang meluap. Bahkan dia tak menyisipkan panggilan Ayah dan Ibu pada kedua orang tuanya. “Di mana sopan santunmu?! Mereka orang tuamu, Rosélia!” “Jangan bahas sopan santun saat kamu masuk ke sini saja tanpa persetujuan sang pemilik!” Rosélia membalas tak kalah tajam. Emosi Maverick memuncak, dalam waktu singkat, tangannya mengambil palet yang masih terdapat cat di atasnya dan melempar palet itu tepat ke lukisan yang belum sepenuhnya usai. Semua warna terciprat, merusak lukisan, mengotori ruangan dan juga mengotori pakaian Rosélia. “Aku suamimu!” Ucapan itu menggema di ruangan yang hanya berisi mereka berdua. Hening untuk beberapa saat sampai Rosélia berdecih, senyumnya mengembang yang perlahan berubah menjadi tawa kencang, sangat kencang sampai membuat Maverick bingung. Setelahnya, pandangan Rosélia kembali jatuh pada Maverick. Tawanya berhenti, tatapannya tajam dan dia berkata, “suami? Suami katamu?” Tawa itu kembali menggema lebih kencang dari sebelumnya. “Kamu tak lupa jika aku hanya pengganti, kan? Apa hak mu mengaturku jika status ‘suami’ mu itu saja hanya sebuah canda?” Ucapannya terhenti, mereka saling pandang satu sama lain dengan Maverick yang kehabisan kata-katanya.Bagi sebagian orang, waktu mungkin bukan apa-apa. Hanya membawa perubahan pada usia dan penampilan. Tapi bagi Maverick, waktu jauh daripada itu semua. Waktu mengajarkan banyak hal tentang kehilangan, cinta dan arti sebuah rumah.Dulu, dia mengira memiliki segalanya berarti paling berkuasa di manapun. Dia memiliki harta, kuasa dan juga nama keluarga yang dihormati banyak orang.Namun, semua itu ternyata tak pernah cukup untuk membuatnya merasa utuh. Sampai seorang perempuan bernama Rosélia Deveraux tanpa sengaja datang ke dalam hidupnya.Perempuan yang dulu tak pernah ingin dia miliki. Perempuan yang pernah dia lukai begitu dalamnya. Perempuan yang bahkan setelah melewati begitu banyak rasa sakit, masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki.Dan sekarang, perempuan itu sedang duduk di sofa ruang keluarga mereka, membaca buku sambil sesekali mengingatkan anak laki-laki agar tidak berlari dalam rumah."Alistair, pelan-pelan!" interupsinya. Entah sudah berapa kali dia berkata demikian,
Setelah Maverick menceritakan kegelisahannya pada Rosélia, mereka berdua duduk di atas ranjang. Maverick sama sekali tak mendengarkan ucapan Rosélia untuk tidak terlalu khawatir.Buktinya, saat ini di tangannya sudah ada tab yang menampilkan informasi yang didapatkan dari James.Ethan Voxley, putra bungsu keluarga Voxley. Alis Maverick mengernyit.“Kenapa dia yang dibawa ke acara itu kalau dia anak bungsu?” tanyanya setelah membaca apa yang ada di layar.“Kenapa?” Rosélia mendekat. Dia ikut penasaran dengan apa yang tengah dilihat oleh Maverick.“Anak yang diceritakan Elodie… dia putra bungsu Darwin, cucu dari pemilik VoxMedia Group, Moris Voxley. Jika dia putra bungsu, kenapa dia yang datang? Kenapa bukan putra sulungnya?” Maverick masih mempertanyakan hal yang sama.Memang, umumnya para pemilik perusahaan akan membawa putra atau putri sulung mereka ke acara semacam itu dengan tujuan memperkenalkan pada rekan-rekan kerjanya jika dialah yang akan menjadi penerus perusahaan.“Mungkin K
Elodie berlari kecil ke arah Maverick yang ternyata sudah kembali dari podium. Ayahnya itu sepertinya tengah mencarinya. Terlihat dari ekspresi khawatir yang tersemat jelas di wajah pria itu.Tak jauh dengan James. Pria itu juga sibuk bertanya kepada setiap orang tentang keberadaan putri atasannya itu. “Iya, dia berusia sekitar dua belas tahun,” ucap James.“Kami tidak terlalu memperhatikan karena sejak tadi fokus kami hanya pada pembicara,” jawab orang itu.“Ups, sepertinya aku membuat Ayahku kelimpungan,” kekehnya. Elodie berjalan cepat ke arah Ayahnya dengan senyuman tanpa dosanya. “Ayah,” panggilnya. Dia mencolek lengan Ayahnya.Hal itu membuat rasa lega di dada Maverick hadir. Seolah semua belenggu hilang begitu saja saat mendengar suara lembut putrinya.James yang juga mendengar panggilan itu akhirnya bisa bernapas lega.*“Ayah tidak mau hal itu sampai terulang lagi. Kamu tahu betapa khawatirnya Ayah tadi?” Maverick terus menceramahi Elodie sepanjang perjalanan. Bahkan ketik
Lima tahun kemudian…“Kamu yakin tidak ikut?” tanya Maverick. Dia memandang Rosélia di hadapannya yang sedang membetulkan letak dasinya.“Hmm, jika aku ikut, bagaimana dengan dia,” ucap Rosélia sembari melirik ke arah sampingnya, di mana seorang anak laki-laki berusia lima tahun itu tengah bermain dengan berbagai macam mainannya.“Kita bisa mengajaknya,” usul Maverick. “Dan dia akan segera bosan kemudian menangis di sana? Tidak, tidak. Biar Elodie saja yang menemanimu,” jawab Rosélia.Alistair Ashbourne, anak kedua Maverick dan Rosélia. Anak kecil berkulit putih itu lahir lima tahun yang lalu. Putranya yang berhasil membuat Maverick mati-matian menahan mual saat dia berada dalam kandungan.“Mommy, ini bagaimana?” Gadis yang mulai memasuki usia remaja itu sibuk dengan gaun baru pemberian Ayahnya. Tali di bagian belakang membuatnya kesulitan. Akhirnya dia menyerah dan meminta bantuan Rosélia.Elodie, gadis itu tumbuh menjadi gadis cantik yang ceria, cerewet dan lembut. Dia selalu meng
Bukan hanya hitungan hari Maverick merasakan penderitaan itu. Bahkan sampai satu minggu Maverick tidak berangkat kerja. Setiap pagi, dia selalu muntah. Namun tak ada yang keluar. Hanya cairan bening, sisanya rasa mual yang tak berujung.Demamnya sudah membaik, mungkin tubuhnya sudah mulai membiasakan diri dengan perasaan itu. Tapi, hari ini saat dirasa mualnya tidak tertahan, Maverick malah menangis. Tidak meraung, hanya isakan kecil namun berhasil membuat Rosélia mendekat saat samar mendengarnya.“Sayang, kenapa? Ada yang sakit? Tambah mual?” Rangkaian pertanyaan datang bersamaan karena rasa khawatirnya. Mata Maverick berair. Bahkan semakin terisak ketika Rosélia melayangkan pertanyaan.Karena itu, Rosélia semakin bingung. Bukannya jawaban yang dia dapatkan tapi air mata Maverick yang bisa dikatakan jarang sekali muncul.“Bilang, ada apa?” Rosélia semakin kebingungan.Namun tiba-tiba Maverick mendekat. Dia merentangkan tangannya meminta sebuah pelukan pada Rosélia. Bibirnya menek
Bersantai dipagi hari, ditutupi selimut tebal bahkan ketika matahari sudah lebih naik dari sebelumnya sama sekali bukan kebiasaan seorang Maverick Ashbourne.Sejak dulu, pria itu diajarkan untuk bangun pagi. Bahkan ketika dia sudah mulai tahu dunia kerja, dia menjadi lebih rajin karena entah mengapa dia merasa begitu mencintai pekerjaannya.Namun hari ini, pria itu masih betah bergumul di balik selimut tanpa suara. Hanya suara nafas berat yang terdengar begitu Rosélia masuk ke kamarnya setelah selesai menyiapkan sarapannya.“Kamu tidak akan pergi bekerja?” tanya Rosélia. Dia tidak menghampiri Maverick, melainkan datang untuk mengambil tas kerjanya.“Rosé... sepertinya aku sakit...” lirihnya. Suaranya begitu serak dan lemah.Mendengar itu, Rosélia yang sudah menyampirkan tas di bahunya, kembali menyimpannya dan fokus pada Maverick.Gadis itu duduk di samping Maverick, dia menyimpan tangannya di kening pria itu. Namun, beberapa detik kemudian, Maverick seolah menghindar. Dia menciptakan
Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana. Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja he
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal
Suara musik bernuansa sakral mulai menggema di ruangan yang begitu luas dan ramai oleh tamu undangan. Namun, hal itu tidak membuat ke-khidmatan acara berkurang. Di atas altar, Maverick belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu jika hari ini bukan sang belahan jiwa yang akan dia nikahi, dia tidak tahu jik
Gaun ivory yang sedikit menjuntai di bagian belakang, belahan di bagian paha kiri hingga bawah membuat kaki jenjang sang pemilik terpampang indah. Putih, mulus tanpa cela sedikitpun. Rosélia datang, membelah keramaian para tamu yang sebagian sudah datang. Setiap langkahnya, dia mendengar orang-or







