Share

Ranjang Panas Pengantin Pengganti
Ranjang Panas Pengantin Pengganti
Penulis: SereiaAlvenna_

Chapter 01

Penulis: SereiaAlvenna_
last update Tanggal publikasi: 2026-05-18 11:05:25

Gaun ivory yang sedikit menjuntai di bagian belakang, belahan di bagian paha kiri hingga bawah membuat kaki jenjang sang pemilik terpampang indah. Putih, mulus tanpa cela sedikitpun. Rosélia  datang, membelah keramaian para tamu yang sebagian sudah datang. 

Setiap langkahnya, dia mendengar orang-orang mulai membicarakan, memuji dan mengagumi hasil karya Rosélia  mulai dari dekorasi maupun layout venue. Itu cukup membuat hati Rosélia  terobati meski menurutnya tema baru yang diinginkan Valerie, adiknya, tidak seindah yang sebelumnya. 

Mata indahnya mencari sebuah ruangan di mana Valerie berada, bride room. Heels berwarna senada berhenti begitu ruangan yang dia cari sudah ada di depan mata. Ada ragu, namun Rosélia  tetap masuk. 

Semua mata tertuju padanya saat suara pintu terbuka. Keluarganya dan keluarga Ashbourne, keluarga mempelai pria juga ada di sana, memperhatikan.

"Kak, sini!" seru Valerie. Kali ini dia tidak bisa menghampiri Kakaknya sebab masih ada beberapa tangan yang menyapukan brush di wajahnya. Dia hanya mampu melihat Rosélia  dari pantulan cermin di hadapannya.

Rosélia  menyimpan tas yang dia tenteng di sebuah meja kecil di ruangan itu sebelum menghampiri Valerie. Begitu sudah berada di samping Adiknya, Valerie bertanya, "gimana, gaunnya bagus tidak?" Gaun pengantin juga berwarna ivory karena itu memang warna semula yang ada di konsep sebelum Valerie berubah pikiran dan berakhir Rosélia merevisi konsepnya habis-habisan malam tadi.

"Gaunnya bagus," jawabnya singkat. Rasa lelah masih dia rasakan setelah dua hari ke belakang dia mengurus seluruh layout venue pernikahan Valerie dan Maverick.

"Riasannya? Menurut Kakak ada yang kurang?" Lagi-lagi Valerie meminta pendapat Rosélia . Kali ini Rosélia  hanya menggeleng, menandakan jika riasan Valerie sudah lebih dari cukup. Semua sesuai dengan porsinya.

"Mending kamu segera menyusul untuk menikah. Gak enak kalau jadi perawan tua, apalagi hidup di masa tua sendirian." Viviane mendekat, kedua tangannya melipat di depan dada, tatapannya tajam dan menyindir. Rosélia sudah terbiasa dengan hal semacam itu. Cacian, makian kerap keluarganya layangkan padanya.

Rosélia  memilih tak menjawab dan mengabaikan ucapan Ibu Sambungnya itu.

"Bouquet untuk kamu pegang nanti sudah aman?" tanya Rosélia  memastikan.

"Sudah, meski aku tidak terlalu suka dengan perpaduan warnanya. Tapi, karena Kakak yang membuatnya untukku, jadi akan aku pakai." Ucapannya antusias, namun tetap ada yang menggores hati Rosélia  dari ucapan adiknya itu.

"Hmm, aku keluar sebentar. Masih ada hal yang harus aku cek," ucapnya segera berlalu dari sana.

"Rosélia , bisa ke sini sebentar." Maverick memanggil Rosélia  dari ambang pintu. 

Gadis itu kebingungan, ada apa gerangan Maverick tiba-tiba memanggilnya. Namun, dia tetap mendekat takut ada hal penting yang hendak pria itu bicarakan.

Mendengar Maverick memanggil Kakaknya, Valerie lantas ikut menoleh. Dia juga penasaran dengan apa yang akan mereka bicarakan.

Namun, dia sama sekali tak mendengar sepatah kata pun karena keduanya berbicara sambil meninggalkan bridal room. 

Valerie tahu itu bukan pembicaraan romantis, mungkin hanya pembicaraan seputar venue dan acara. Tapi Valerie cemburu.

“Valerie, kamu sudah minum obat?” Viviane bertanya sambil menggeledah tasnya mencari pouch berisi obat milih Valerie. 

Perhatian gadis itu teralihkan sesaat. “Belum, aku akan meminumnya nanti.” Valeri mengangkat pouch yang Ibunya cari sebagai pertanda jika Ibunya tak perlu mencari lagi.

Penyakit jantung yang Valerie idap sejak kecil membuat gadis itu harus mengonsumsi obat setiap hari. Hal itu juga yang membuatnya menjadi anak kesayangan Viviane dan Evander. Sementara Rosélia… hampir tidak pernah mendapatkan perhatian itu sama sekali.

Viviane tersenyum dan menghentikan kegiatannya. “Jangan lupa diminum, Ibu keluar sebentar untuk menelpon,” ucapnya yang dijawab anggukan oleh Valerie.

Satu persatu orang-orang di ruangan itu pergi mulai dari makeup artist hingga seluruh keluarganya. Katanya menemui beberapa kolega yang mulai berdatangan sebagai tamu VVIP.

Mata Valerie menggelap. Efek lelah, kurang istirahat, emosi dan juga cemburu membuatnya bersifat impulsif. Ekor matanya melirik sebuah tas tangan berwarna ivory yang dia yakini itu milik Rosélia . 

Perlahan dia mendekat dan berakhir memasukan pouch itu ke dalam tas milik Kakaknya. Tak berlebihan, dia hanya ingin Kakaknya tidak disukai orang terutama Maverick, jangan sampai.

“Terlewat sekali saja tidak masalah, aku masih bisa menahannya,” ucapnya. Setelah itu dia kembali ke tempatnya. Sampai Rosélia  kembali ke sana bersama Evander.

“Bersiaplah, acaranya akan segera dimulai,” ucap Rosélia  memperingati. 

“Kamu siap, Sayang?” Evander bertanya pada putri kesayangannya di depan Rosélia . Pahit sekali hidupnya, ketika Valerie hampir setiap hari mendapatkan panggilan sayang, sementara dirinya hanya selalu mendapatkan makian.

Valerie mengangguk. Evander menggandeng sang putri sampai mereka tiba di depan sebuah pintu tinggi yang masih tertutup. Pintu itu mengarah ke altar.

Pengantin wanita mulai merasakan ada yang tidak beres. Nafasnya sesak, penglihatannya mulai mengabur dan tubuhnya lemas. Dia tergeletak di pangkuan sang Ayah.

“Sayang, Valerie kamu kenapa?” Evander panik saat putrinya sudah tidak sadar. Rosélia , Keluarga Deveraux dan keluarga Ashbourne yang ada di belakang mereka juga ikut panik. Mereka mengerumuni tubuh Valerie.

“Valerie, bagun.” Rosélia  menepuk pelan pipi adiknya. 

“Kita harus membawanya ke rumah sakit, Sayang,” ucap Viviane. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan anak semata wayangnya. “Tapi pernikahannya…” sambung Viviane bingung. 

Di satu sisi pernikahan Maverick dan Valerie tidak mungkin dilanjutkan karena pengantin wanita tidak sadar, tapi di sisi lain, semua persiapan, semua tamu yang sudah datang, tidak mungkin mereka membatalkannya begitu saja. Apalagi hal ini pasti akan merusak nama keluarga mereka.

“Lanjutkan, lanjutkan pernikahannya,” ucap Evander yakin. Matanya perlahan menatap Rosélia . Rosélia  yang semula masih menatap Valerie mulai mengalihkan atensinya saat dirasa ada beberapa pasang mata yang menatapnya. “Rosélia , menikahlah dengan Maverick.”

Bagai disambar petir di siang bolong, Rosélia  terkejut bukan main. Badannya kaku, lidahnya kelu untuk beberapa saat.

“Ja-jangan bercanda, Ayah,” ucapnya dengan gemetar. Otaknya masih belum bisa memproses semua yang Evander katakan.

“Aku bilang, menikah dengan Maverick!” Kesabarannya habis. Bersamaan dengan itu seorang staf menghubungi ambulans.

“Tunggu, Tuan Evander—”

“Tak ada cara lain Tuan Edric Kita harus melakukannya. Semua persiapan sudah selesai, para tamu undangan juga sudah datang. Kita tak bisa ambil resiko untuk mempermalukan keluarga kita, kan?” Evander menyela Edric, calon besannya.

Hening, tak ada suara sampai Rosélia  berkata, “aku menolak, Ayah. Aku tidak mau.” 

Suara ketukan tongkat di lantai granit memecah keheningan. Theodore Deveraux, kakek Rosélia dan Valerie, mendekatinya.

“Ikuti saja apa yang dikatakan Ayahmu! Kamu tidak punya hak untuk menolak!” ucapnya kemudian.

"Punya, aku punya hak untuk menolak, Kek! Ini hidupku, jadi biarkan aku yang memilih hidup seperti apa yang aku mau!" Akhirnya amarah Rosélia pecah. Dia tidak bisa terus menahannya.

"Dasar anak pembawa sial!" Tangan Theodore melayang hendak memukul Rosélia, namun seseorang berhasil menahan tangan itu.

"Tuan Theodore jangan lakukan itu. Kita bawa dulu Valerie ke rumah sakit," ucap Edric meyakinkan.

"Kamu pikir berapa lama mereka bisa menunggu?" Jawab Theodore menunjuk para tamu undangan yang sudah ada di venue. "Para kolega, pejabat, dan bahkan ada Ketua Dewan di sini," lanjutnya.

Edric diam, dia tidak bisa menjawab. Apa yang dikatakan Theodore ada benarnya.

Saat itu, atensi Theodore kembali pada Rosélia. "Kamu mau acara dibatalkan?! Kamu mau buat nama baik keluarga kita hancur, hah?!" sentaknya.

Suasana hening sesaat, Rosélia tidak menjawab pun dengan yang lainnya.

"Untuk sementara saja agar tamu tidak merasa kesal. Maverick tetap milik Valerie!"

Rosélia terdiam. Semua terdiam sampai ada beberapa perawat yang datang membawa Valerie ke rumah sakit.

“Lanjutkan, Rosélia.” Suara Evander kali ini memelan. Masih tak ada jawaban. Menurut Rosélia  tak ada gunanya dia menolak, toh Evander akan tetap memaksanya.

Air mata menetes dengan cepat. Dihalaunya dengan tangan dan Rosélia  berkata, “lakukan apa yang Ayah mau.” 

Rosélia  pikir, drama pernikahan ini sudah selesai pagi tadi saat dia selesai merevisi venue. Dia kira dia akan terbebas dan bisa sedikit tenang. Tapi, siapa sangka justru ini adalah sebuah awal yang nyata dari penderitaannya.

Menikah dengan orang yang sama sekali tak dia cintai juga tak mencintainya dan hanya dijadikan sebagai pengganti. Ini adalah mimpi terburuk dalam hidup Rosélia . 

Setelah ini, sepertinya sudah tidak ada lagi tempat aman baginya di dunia. Semua akan terasa menyakitkan dan menyesakkan.

Di tengah semua hal yang singgah dalam pikiran Rosélia , para makeup artist datang dan menambah pakaian Rosélia  dengan beberapa elemen yang lebih istimewa sampai dia sudah siap menjadi seorang pengantin pengganti.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 170

    “Bahkan sebelum Anda mengatakannya, sejak awal aku selalu tahu jika aku bukan penyebab dari kepergian Ibuku. Jadi, Anda tak perlu memperjelasnya lagi.” Rosélia yang masih menggenggam tangan Elodie menarik pelan gadis kecil itu untuk pergi dari sana. Rosélia tak ingin Elodie mendengar lebih banyak. Rasanya sudah cukup apa yang gadis kecil itu dengar beberapa saat lalu.BrukBaru saja Rosélia berjalan beberapa langkah, Rosélia mendengar bunyi orang terjatuh. Dia tidak menoleh, hanya saja langkahnya terhenti.“Setidaknya tolong maafkan Ayah. Ayah bersyukur kamu masih hidup di dunia ini, jadi Ayah bisa meminta maaf dengan benar. Maaf atas segala kesalahan yang telah Ayah perbuat. Ayah sudah menerima karma itu, Rosé,” ucap Evander.Rosélia berbalik setelah Evander menyelesaikan ucapannya. Iris legam itu menangkap Evander yang bersimpuh di jalan dengan kepala yang tertunduk.“Berdiri, aku tak ingin orang salah paham,” ucap Rosélia dingin. Dia sesekali memastikan jika di sana tak ada orang

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 169

    “Mommy, ini di mana?” Pertanyaan singkat itu yang keluar pertama kali dari bibir Elodie. Gadis kecil itu sudah bertanya beberapa kali sejak Rosélia mulai memasukan beberapa baju mereka ke dalam koper.Namun Rosélia hanya terus menjawab, “nanti Elodie akan tahu ketika kita sudah sampai di sana.” Jadi Elodie hanya menunggu ketika mereka telah tiba di tempat tujuan.Dan saat ini, disinilah mereka. Di sebuah kamar hotel mewah dengan pemandangan kota yang bisa mereka lihat dari ketinggian kamar itu. Lantas, Elodie sudah tahu di mana mereka? Tidak. Maka dari itu dia kembali bertanya.Rosélia terdiam beberapa saat sembari membuka koper mereka.“Jakarta. Kita ada di Jakarta, Indonesia,” jawab Rosélia pada akhirnya.Elodie mengernyit, dia belum paham kenapa Rosélia membawanya ke sana.“Kenapa kita ke sini?”“Mommy ada acara beberapa hari di sini.” Rosélia kembali menjawab. Awalnya, Elodie hendak bertanya lebih lanjut, namun melihat raut wajah Rosélia yang kurang bersahabat, akhirnya dia mengu

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 168

    Jika kalian berpikir hanya Rosélia yang bimbang tentang undangan itu, maka kalian salah. Maverick, setelah pria itu melihat dan tahu tentang undangan itu, di sela kegiatannya Maverick selalu memikirkannya.Dalam benaknya, Maverick berterima kasih pada orang yang sudah mengundang Rosélia. Dia juga berharap Rosélia akan mengambil kesempatan itu, bukan hanya karena Maverick ingin Rosélia kembali ke Jakarta, tapi Maverick juga ingin nama Rosélia kembali muncul di dunia seni, bukan sebagai anonim tapi sebagai seorang Rosélia.Maka, setelah Maverick menidurkan Elodie, dia menghampiri Rosélia yang juga sedang berada di depan kanvas yang belum sempurna itu.“Rosé…” panggil Maverick.Panggilan itu membuat Rosélia menghentikan goresan kuas di kanvas sebelum kemudian dia berbalik.“Ah lanjutkanlah, aku hanya ingin melihatmu melukis dan sedikit berbincang,” ucapnya.Lantas, seperti yang dikatakan Maverick, Rosélia kembali pada lukisannya, dia tidak terganggu sama sekali sampai suara Maverick kemb

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 167

    Nadira tersenyum tipis."Seorang kolektor yang melihat karya Anda di salah satu pameran di Jakarta. Dan kebetulan dia tidak meminta namanya disebut. Dia hanya mengatakan satu hal," jawab Nadira tenang."Apa itu?" Rosélia kembali bertanya berharap jawaban Nadira selanjutnya bisa menjadi petunjuk baginya untuk tahu siapa kolektor yang dimaksud Nadira."Katanya kamu pelukis yang unik. Kamu jarang melukis wajah, melainkan lebih sering melukis jejak rasa yang ditinggalkan manusia setelah pergi." Nadira menyampaikan apa adanya sesuai yang dia dengar dari kurator itu.Dada Rosélia terasa sesak. Dia tak pernah menyampaikan makna dari lukisannya secara gamblang, tapi siapa sangka ada yang mengerti maksudnya.Gadis itu menunduk memandang palet kayu di dalam kotak premium."Kenapa saya harus datang ke Jakarta?""Karena kami tidak ingin sekedar membeli karya Anda. Kami ingin memberi ruang bagi Anda untuk menentukan bagaimana karya-karya itu dilihat. Anda tentu saja boleh tetap anonim. Bahkan nama

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 166

    Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa sedikit sesak. Dia menatap Maverick beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Maverick sama sekali tidak mencoba membuat Rosélia terkesan. Dia hanya mengatakan apa yang dia rasakan, seolah-olah menemukan dunia baru ketika Rosélia sudah tidak lagi berada di sisinya."Kamu belajar melukis?" tanya Rosélia pada akhirnya.Maverick mengangguk kecil. "Sebenarnya tidak bisa disebut belajar. Aku hanya mencoba memahami kenapa kamu bisa duduk berjam-jam untuk membuat sesuatu yang bagi orang lain mungkin tidak berarti," jawabnya.Rosélia seakan tersadar, dia membuang pandangannya dari Maverick. Gadis itu hanya membalas ucapan Maverick dengan hening.Sementara Maverick masih fokus memperhatikan gadis itu dan tersenyum tipis.Angin berhembus melewati pepohonan. Beberapa helai rambut Rosélia terlepas dari ikatannya dan jatuh ke sisi wajah.Gadis itu mengangkat tangan untuk merapikannya, tetapi sebuah helai justru malah semakin berantakan. Entah

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 165

    Setengah hari yang dia gunakan untuk berbicara dengan Tuan Owen tidak sia-sia. Maverick bukan hanya membawa proposal yang sudah ditandatangan dan disetujui, tapi juga membawa relasi yang mungkin bisa dikatakan lebih dari sekedar rekan kerja.Dengan perasaan yang sudah lebih tenang, Maverick kembali ke rumah. Tak lama, hanya berganti pakaian sebelum kemudian dia keluar lagi. Tentu saja tanpa James karena kali ini Maverick keluar bukan untuk bekerja melainkan bersenang-senang. Mobilnya berhenti di depan pagar rumah Rosélia. Setelah memastikan mobilnya tidak menghalangi jalan, pria itu lekas keluar dan berjalan konstan menuju rumah Rosélia.Dia menatap pintu kayu yang ada di hadapannya sebelum kemudian mengetuknya. Satu kali, dua kali tak ada yang membukanya. Baru di ketukan ketiga, pintu mulai terbuka dan Rosélia ada di hadapannya.“Hai,” sapa Maverick agak canggung.“Masuklah, aku sedang mengepang rambutnya,” jawab Rosélia sambil mempersilahkan Maverick masuk. Pria itu mengangguk dan

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 07

    Satu minggu berlalu bagi Rosélia terasa sangat lama. Pameran usai dan semua berjalan dengan lancar, bisa dikatakan sukses. Selama satu minggu itu, Rosélia beberapa kali menyempatkan waktu untuk menengok Valerie. Adiknya itu tak kunjung membuka mata, dia masih betah dalam tidurnya. Sama seperti har

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 04

    Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 03

    Venue yang Rosélia dekor selama kurang lebih satu bulan lamanya ditambah dengan berbagai drama menjelang hari-H, nyatanya hanya dipakai untuk beberapa jam saja. Kini, ruangan megah nan mewah itu sudah mulai kembali sepi. Para tamu undangan, kolega bisnis, petinggi perusahaan dan juga para pimpinan

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 02

    Suara musik bernuansa sakral mulai menggema di ruangan yang begitu luas dan ramai oleh tamu undangan. Namun, hal itu tidak membuat ke-khidmatan acara berkurang. Di atas altar, Maverick belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu jika hari ini bukan sang belahan jiwa yang akan dia nikahi, dia tidak tahu jik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status