LOGIN
Gaun ivory yang sedikit menjuntai di bagian belakang, belahan di bagian paha kiri hingga bawah membuat kaki jenjang sang pemilik terpampang indah. Putih, mulus tanpa cela sedikitpun. Rosélia datang, membelah keramaian para tamu yang sebagian sudah datang.
Setiap langkahnya, dia mendengar orang-orang mulai membicarakan, memuji dan mengagumi hasil karya Rosélia mulai dari dekorasi maupun layout venue. Itu cukup membuat hati Rosélia terobati meski menurutnya tema baru yang diinginkan Valerie, adiknya, tidak seindah yang sebelumnya. Mata indahnya mencari sebuah ruangan di mana Valerie berada, bride room. Heels berwarna senada berhenti begitu ruangan yang dia cari sudah ada di depan mata. Ada ragu, namun Rosélia tetap masuk. Semua mata tertuju padanya saat suara pintu terbuka. Keluarganya dan keluarga Ashbourne, keluarga mempelai pria juga ada di sana, memperhatikan. "Kak, sini!" seru Valerie. Kali ini dia tidak bisa menghampiri Kakaknya sebab masih ada beberapa tangan yang menyapukan brush di wajahnya. Dia hanya mampu melihat Rosélia dari pantulan cermin di hadapannya. Rosélia menyimpan tas yang dia tenteng di sebuah meja kecil di ruangan itu sebelum menghampiri Valerie. Begitu sudah berada di samping Adiknya, Valerie bertanya, "gimana, gaunnya bagus tidak?" Gaun pengantin juga berwarna ivory karena itu memang warna semula yang ada di konsep sebelum Valerie berubah pikiran dan berakhir Rosélia merevisi konsepnya habis-habisan malam tadi. "Gaunnya bagus," jawabnya singkat. Rasa lelah masih dia rasakan setelah dua hari ke belakang dia mengurus seluruh layout venue pernikahan Valerie dan Maverick. "Riasannya? Menurut Kakak ada yang kurang?" Lagi-lagi Valerie meminta pendapat Rosélia . Kali ini Rosélia hanya menggeleng, menandakan jika riasan Valerie sudah lebih dari cukup. Semua sesuai dengan porsinya. "Mending kamu segera menyusul untuk menikah. Gak enak kalau jadi perawan tua, apalagi hidup di masa tua sendirian." Viviane mendekat, kedua tangannya melipat di depan dada, tatapannya tajam dan menyindir. Rosélia sudah terbiasa dengan hal semacam itu. Cacian, makian kerap keluarganya layangkan padanya. Rosélia memilih tak menjawab dan mengabaikan ucapan Ibu Sambungnya itu. "Bouquet untuk kamu pegang nanti sudah aman?" tanya Rosélia memastikan. "Sudah, meski aku tidak terlalu suka dengan perpaduan warnanya. Tapi, karena Kakak yang membuatnya untukku, jadi akan aku pakai." Ucapannya antusias, namun tetap ada yang menggores hati Rosélia dari ucapan adiknya itu. "Hmm, aku keluar sebentar. Masih ada hal yang harus aku cek," ucapnya segera berlalu dari sana. "Rosélia , bisa ke sini sebentar." Maverick memanggil Rosélia dari ambang pintu. Gadis itu kebingungan, ada apa gerangan Maverick tiba-tiba memanggilnya. Namun, dia tetap mendekat takut ada hal penting yang hendak pria itu bicarakan. Mendengar Maverick memanggil Kakaknya, Valerie lantas ikut menoleh. Dia juga penasaran dengan apa yang akan mereka bicarakan. Namun, dia sama sekali tak mendengar sepatah kata pun karena keduanya berbicara sambil meninggalkan bridal room. Valerie tahu itu bukan pembicaraan romantis, mungkin hanya pembicaraan seputar venue dan acara. Tapi Valerie cemburu. “Valerie, kamu sudah minum obat?” Viviane bertanya sambil menggeledah tasnya mencari pouch berisi obat milih Valerie. Perhatian gadis itu teralihkan sesaat. “Belum, aku akan meminumnya nanti.” Valeri mengangkat pouch yang Ibunya cari sebagai pertanda jika Ibunya tak perlu mencari lagi. Penyakit jantung yang Valerie idap sejak kecil membuat gadis itu harus mengonsumsi obat setiap hari. Hal itu juga yang membuatnya menjadi anak kesayangan Viviane dan Evander. Sementara Rosélia… hampir tidak pernah mendapatkan perhatian itu sama sekali. Viviane tersenyum dan menghentikan kegiatannya. “Jangan lupa diminum, Ibu keluar sebentar untuk menelpon,” ucapnya yang dijawab anggukan oleh Valerie. Satu persatu orang-orang di ruangan itu pergi mulai dari makeup artist hingga seluruh keluarganya. Katanya menemui beberapa kolega yang mulai berdatangan sebagai tamu VVIP. Mata Valerie menggelap. Efek lelah, kurang istirahat, emosi dan juga cemburu membuatnya bersifat impulsif. Ekor matanya melirik sebuah tas tangan berwarna ivory yang dia yakini itu milik Rosélia . Perlahan dia mendekat dan berakhir memasukan pouch itu ke dalam tas milik Kakaknya. Tak berlebihan, dia hanya ingin Kakaknya tidak disukai orang terutama Maverick, jangan sampai. “Terlewat sekali saja tidak masalah, aku masih bisa menahannya,” ucapnya. Setelah itu dia kembali ke tempatnya. Sampai Rosélia kembali ke sana bersama Evander. “Bersiaplah, acaranya akan segera dimulai,” ucap Rosélia memperingati. “Kamu siap, Sayang?” Evander bertanya pada putri kesayangannya di depan Rosélia . Pahit sekali hidupnya, ketika Valerie hampir setiap hari mendapatkan panggilan sayang, sementara dirinya hanya selalu mendapatkan makian. Valerie mengangguk. Evander menggandeng sang putri sampai mereka tiba di depan sebuah pintu tinggi yang masih tertutup. Pintu itu mengarah ke altar. Pengantin wanita mulai merasakan ada yang tidak beres. Nafasnya sesak, penglihatannya mulai mengabur dan tubuhnya lemas. Dia tergeletak di pangkuan sang Ayah. “Sayang, Valerie kamu kenapa?” Evander panik saat putrinya sudah tidak sadar. Rosélia , Keluarga Deveraux dan keluarga Ashbourne yang ada di belakang mereka juga ikut panik. Mereka mengerumuni tubuh Valerie. “Valerie, bagun.” Rosélia menepuk pelan pipi adiknya. “Kita harus membawanya ke rumah sakit, Sayang,” ucap Viviane. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan anak semata wayangnya. “Tapi pernikahannya…” sambung Viviane bingung. Di satu sisi pernikahan Maverick dan Valerie tidak mungkin dilanjutkan karena pengantin wanita tidak sadar, tapi di sisi lain, semua persiapan, semua tamu yang sudah datang, tidak mungkin mereka membatalkannya begitu saja. Apalagi hal ini pasti akan merusak nama keluarga mereka. “Lanjutkan, lanjutkan pernikahannya,” ucap Evander yakin. Matanya perlahan menatap Rosélia . Rosélia yang semula masih menatap Valerie mulai mengalihkan atensinya saat dirasa ada beberapa pasang mata yang menatapnya. “Rosélia , menikahlah dengan Maverick.” Bagai disambar petir di siang bolong, Rosélia terkejut bukan main. Badannya kaku, lidahnya kelu untuk beberapa saat. “Ja-jangan bercanda, Ayah,” ucapnya dengan gemetar. Otaknya masih belum bisa memproses semua yang Evander katakan. “Aku bilang, menikah dengan Maverick!” Kesabarannya habis. Bersamaan dengan itu seorang staf menghubungi ambulans. “Tunggu, Tuan Evander—” “Tak ada cara lain Tuan Edric Kita harus melakukannya. Semua persiapan sudah selesai, para tamu undangan juga sudah datang. Kita tak bisa ambil resiko untuk mempermalukan keluarga kita, kan?” Evander menyela Edric, calon besannya. Hening, tak ada suara sampai Rosélia berkata, “aku menolak, Ayah. Aku tidak mau.” Suara ketukan tongkat di lantai granit memecah keheningan. Theodore Deveraux, kakek Rosélia dan Valerie, mendekatinya. “Ikuti saja apa yang dikatakan Ayahmu! Kamu tidak punya hak untuk menolak!” ucapnya kemudian. "Punya, aku punya hak untuk menolak, Kek! Ini hidupku, jadi biarkan aku yang memilih hidup seperti apa yang aku mau!" Akhirnya amarah Rosélia pecah. Dia tidak bisa terus menahannya. "Dasar anak pembawa sial!" Tangan Theodore melayang hendak memukul Rosélia, namun seseorang berhasil menahan tangan itu. "Tuan Theodore jangan lakukan itu. Kita bawa dulu Valerie ke rumah sakit," ucap Edric meyakinkan. "Kamu pikir berapa lama mereka bisa menunggu?" Jawab Theodore menunjuk para tamu undangan yang sudah ada di venue. "Para kolega, pejabat, dan bahkan ada Ketua Dewan di sini," lanjutnya. Edric diam, dia tidak bisa menjawab. Apa yang dikatakan Theodore ada benarnya. Saat itu, atensi Theodore kembali pada Rosélia. "Kamu mau acara dibatalkan?! Kamu mau buat nama baik keluarga kita hancur, hah?!" sentaknya. Suasana hening sesaat, Rosélia tidak menjawab pun dengan yang lainnya. "Untuk sementara saja agar tamu tidak merasa kesal. Maverick tetap milik Valerie!" Rosélia terdiam. Semua terdiam sampai ada beberapa perawat yang datang membawa Valerie ke rumah sakit. “Lanjutkan, Rosélia.” Suara Evander kali ini memelan. Masih tak ada jawaban. Menurut Rosélia tak ada gunanya dia menolak, toh Evander akan tetap memaksanya. Air mata menetes dengan cepat. Dihalaunya dengan tangan dan Rosélia berkata, “lakukan apa yang Ayah mau.” Rosélia pikir, drama pernikahan ini sudah selesai pagi tadi saat dia selesai merevisi venue. Dia kira dia akan terbebas dan bisa sedikit tenang. Tapi, siapa sangka justru ini adalah sebuah awal yang nyata dari penderitaannya. Menikah dengan orang yang sama sekali tak dia cintai juga tak mencintainya dan hanya dijadikan sebagai pengganti. Ini adalah mimpi terburuk dalam hidup Rosélia . Setelah ini, sepertinya sudah tidak ada lagi tempat aman baginya di dunia. Semua akan terasa menyakitkan dan menyesakkan. Di tengah semua hal yang singgah dalam pikiran Rosélia , para makeup artist datang dan menambah pakaian Rosélia dengan beberapa elemen yang lebih istimewa sampai dia sudah siap menjadi seorang pengantin pengganti.Valerie benar-benar mendapatkan karmanya. Gadis itu dinyatakan lumpuh setelah kejadian yang dia alami dua bulan lalu. Hatinya terlalu sakit, kepalanya kerap dibuat pening dan di malam hari, dia akan menangis dalam diam meratapi nasib yang rasanya semakin lama semakin buruk.Kadang nafasnya tiba-tiba memburu saat teringat kepingan kejadian yang menimpanya. Gadis itu merasa kotor. Tiga orang pria tak dikenal menodainya, menyakitinya hingga meninggalkan trauma yang cukup dalam. Namun Valerie diam. Dia tak ingin menginjakkan kaki di Rumah Sakit Jiwa lagi.Biarkan dia membawa trauma dan gilanya sendiri tanpa ada yang mengetahui. Meski dia yakin kedua orang tuanya menyadari hal itu.Sejak keluar dari rumah sakit, hampir setiap hari Valerie selalu datang ke makam Roselia dengan bantuan kursi roda dan Valdez yang mengantarnya. Selama itu juga, Valerie sering melihat Maverick datang.Seperti hari ini, dari kejauhan Valerie menatap nanar makam Roselia dan seorang pria yang tengah menangis terse
Bahkan, dengan segala dosa yang sudah keluarga Deveraux lakukan, Tuhan masih berbaik hati. Semesta masih memperbolehkan mereka menginjakkan kaki di atasnya.Dua bulan lamanya Valerie menjalani perawatan di Rumah Sakit. Rasanya, tempat itu sudah menjadi rumahnya, mengingat betapa seringnya gadis itu datang ke sana.Jika dulu, Evander hanya tinggal memerintahkan dokter menangani putrinya tanpa harus mengkhawatirkan biaya, maka selama dua bulan ini Evander benar-benar banting tulang untuk mencari sejumlah uang.“Nona Valerie bisa keluar nanti siang. Namun sebelum itu, biayanya selama perawatan satu minggu terakhir harus dilunasi dulu, Pak,” ucap resepsionis. “A-ah, iya akan saya usahakan,” jawab Evander.Dia berbalik, berjalan menuju ruang rawat Valerie. Dari balik jendela, Evander bisa menyaksikan bagaimana Valerie tersenyum pada Viviane yang dia yakini hanya senyuman palsu. Dadanya ikut teriris melihat hal itu. Tangan Evander naik dan meremat dadanya yang terasa begitu nyeri.“Maafk
Darah yang berlumuran di sekitar Valerie, kaki dan kepala Valerie yang hampir hancur membuat keluarga Deveraux panik bukan main.Saat itu juga Valerie dilarikan ke rumah sakit dengan harapan semua belum terlambat.Selain luka fisik yang gadis itu dapatkan, ada kemungkinan psikisnya juga kembali terganggu. “Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kami menemukan cedera yang cukup berat pada area genital pasien. Tim bedah sudah melakukan tindakan darurat untuk menghentikan pendarahan dan membersihkan luka. Berdasarkan pola yang kami temukan, kami menduga jika korban mengalami kekerasan seksual yang dilakukan secara berulang. Dan untuk luka di kedua kaki pasien, itu tidak hanya mengenai jaringan lunak. Kami menemukan cedera pada saraf yang mengendalikan gerak tungkai. Saat ini dia belum bisa menggerakkan kakinya dengan baik. Kami juga belum bisa memastikan apakah kelumpuhan ini bersifat sementara atau permanen. Kami baru bisa mengevaluasi setelah rehabilitasi nanti.” Dokter Christina menjel
Sejak dulu, Valerie bukan orang yang akan percaya pada sebuah hukum karma. Karena yang dia rasakan semasa hidupnya hanya kebahagiaan dengan bergelimang harta. Meski penyakit jantung pernah diidapnya, tapi menurutnya itu bukan apa-apa karena dia masih memiliki uang dan juga orang tua yang utuh, yang tentu saja bisa mengusahakan apapun untuknya.Salah satunya, dia tak segan memfitnah, menyakiti Rosélia karena dia melihat Ayahnya melakukan hal yang sama. Dia merasa apapun yang dirinya lakukan, orang tuanya akan selalu berada di sisinya.Hingga akhirnya skandal tentangnya mulai tersebar, Maverick meninggalkannya, kemudian dia masuk Rumah Sakit Jiwa dan sekarang seluruh harta mereka terkuras habis, bahkan mereka harus menumpang tinggal di rumah sepetak milik mantan sopir mereka.Memalukan. Tapi, saat ini Valerie tidak dalam keadaan yang mengharuskannya merasa malu ataupun gengsi. Masih memiliki tempat untuk bernaung merupakan berkah yang saat ini terasa begitu besar untuknya."Ibu, aku per
Minggu-minggu pertama Valerie berada di tempat baru, dia sering kali menangis. Selain karena merasa sepi, tidak ada yang dia kenal, tak jarang pasien lain di sana mengganggunya dengan celotehan-celotehan yang sama sekali tak Valerie mengerti."Pergi! Pergi!" Hanya satu kata itu yang bisa keluar dari ranum Valerie saat banyak yang mengganggunya. Sebelum petugas berdatangan, Valerie hanya bisa menangis di pojok ruangan sambil memeluk dirinya sendiri.Jika pikirannya sedang sedikit senggang, gadis itu akan keluar untuk merenung di sebuah bangku taman. Namun, kehadiran sosok Rosélia sering kali mengganggu ketenangannya hingga akhirnya gadis itu berubah berteriak histeris dan berakhir harus diberikan obat penenang oleh petugas.Selama sekitar sepuluh bulan lamanya Valerie harus menghabiskan waktu di tempat yang baginya sudah bagai neraka itu.Namun ketika gadis itu bisa keluar dari sana, dia sedikit bersyukur, dia bisa sedikit tenang dan banyak merenung tentang perbuatannya di masa lalu.
Valerie benar-benar kehilangan akal sehatnya. Meski Viviane dan Evander sudah melarang dan berusaha berbicara dengan gadis itu, nyatanya Valerie masih terus merancau tidak jelas, terus memukuli kepalanya dan sesekali menjambak rambutnya hingga beberapa helai rambut tercabut begitu saja."Valerie, Ibu bilang sudah!" Bahkan Viviane sudah kehilangan kelembutannya. Wanita itu benar-benar berusaha membuat Valerie sadar."Sayang, kita harus bagaimana?" Viviane yang sudah kebingungan akhirnya bertanya pada Evander yang sama paniknya hanya saja tidak begitu diperlihatkan."Aku sudah meminta Dokter Lucky datang. Setidaknya mungkin dia bisa membuat Valerie tenang untuk beberapa saat," jawab suaminya.Cukup lama mereka menunggu Dokter Lucky dan masih berusaha menahan tangan Valerie agar tak menyakiti dirinya sendiri.Hingga akhirnya Dokter Lucky datang lengkap dengan peralatan yang dia perlukan."Permisi, Tuan," ucapnya meminta agar kedua orang tua Valerie itu memberikan jarak untuknya memeriksa
Venue yang Rosélia dekor selama kurang lebih satu bulan lamanya ditambah dengan berbagai drama menjelang hari-H, nyatanya hanya dipakai untuk beberapa jam saja. Kini, ruangan megah nan mewah itu sudah mulai kembali sepi. Para tamu undangan, kolega bisnis, petinggi perusahaan dan juga para pimpinan
Suara musik bernuansa sakral mulai menggema di ruangan yang begitu luas dan ramai oleh tamu undangan. Namun, hal itu tidak membuat ke-khidmatan acara berkurang. Di atas altar, Maverick belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu jika hari ini bukan sang belahan jiwa yang akan dia nikahi, dia tidak tahu jik
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal







