LOGIN
Sejuknya ruangan berukuran empat kali tiga meter itu membuat seseorang yang ada di dalamnya cukup gemetar. Bukan hanya karena air conditioner saja, melainkan sosok di hadapannya.
Wanita dengan blazer maroon, duduk menunduk fokus pada sebuah tumpukan kertas yang sangat tebal. Tangan kanannya beberapa kali memainkan pena, memutar dan mengetuknya pada meja. Sesekali, wanita itu menggoreskan penanya di atas lembaran kertas yang dipenuhi dengan goresan tinta hitam. Entah itu mencoret, melingkari atau memberikan tanda panah. Setelah cukup lama berkutat, wanita itu menutup sampulnya dan menghela nafas dalam. Atensinya beralih pada gadis yang duduk di hadapannya. “Apakah saya bisa selesai tepat waktu, Bu?” Ada nada khawatir dalam ucapannya. Jangan lupakan kedua tangan yang saling memilin karena gugup. “Revisi saja yang sudah saya tandai. Saya akan berusaha semaksimal mungkin agar kamu bisa selesai tepat waktu,” jawab wanita itu. Rosélia Deveraux, seorang Dosen Seni di salah satu kampus ternama. Membimbing mahasiswa dalam tugas akhir sudah menjadi rutinitasnya selain mengisi kelas, seminar dan juga saat ini sedang berproses mengembangkan galerinya. Gadis itu mengangguk paham. “Aku juga akan menyelesaikannya secepat mungkin.” Berkat ucapan Rosélia, dia menjadi lebih bertekad untuk menyelesaikan tugas akhirnya dengan cepat. “Sudah selesai, kamu boleh keluar.” Sepeninggalan mahasiswanya, Rosélia hendak mengisi kelas sore. Namun, panggilan pada ponselnya membuatnya mengurungkan niat. Ada ragu di hatinya setelah dia melihat nama di layar ponselnya. Viviane, entah sudah kali ke berapa wanita itu menelponnya. Karena tak ingin mendapatkan gangguan lagi, akhirnya Rosélia memilih mengangkatnya. “Di mana sopan santunmu?! Aku menelpon sejak tadi dan kamu baru mengangkatnya sekarang!” Rosèlia menjauhkan ponselnya dari telinga. Teriakan Viviane memekakan telinganya. Wanita itu memutar bola matanya lelah. Dia dekatkan kembali ponselnya ke telinga setelah di seberang sana sudah agak tenang. “Ada apa?” tanyanya pelan. “Belikan apel untuk adikmu. Dia kambuh lagi dan sangat mengingin apel.” Dingin, cepat dan acuh. “Kenapa tidak kamu yang belikan atau orang lain yang sedang senggang? Aku ada kelas sekarang,” jawabnya jujur. “Dia ingin kamu yang belikan. Jangan egois ya, Valerie itu adikmu dan dia sudah sakit dari kecil, beda sama kamu yang hidupnya sehat-sehat saja!” bentaknya. “Tapi ak—” “Rosélia! Kamu tidak dengar apa yang Ibumu katakan?! Dia cuma mau apel, bukan nyawa orang!” Suara di seberang sana berubah menjadi suara bariton, keras dan mengintimidasi. Dan… yang keluar dari mulut ayahnya hal tentang kematian lagi. Rosélia memejamkan matanya, dia menghembuskan nafas lelah. Pada akhirnya dia hanya bisa mengalah. “Aku ke sana sekarang.” Panggilan terputus, Rosélia menatap ponselnya sejenak sambil berpikir. Kemudian dia kirimkan pesan pada salah satu mahasiswa kepercayaannya agar menggantikannya untuk mengisi kelas. Diambilnya tas bahu berwarna senada dengan pakaiannya, kunci mobil dan juga dompetnya. Langkah kaki Rosélia tidak terlalu cepat tetapi cukup lebar. Banyak mahasiswa dan mahasiswi berlalu lalang yang menyapanya hanya dibalas senyum dan anggukan singkat. Begitu tiba di depan mobilnya, dia bergegas masuk. Supermarket menjadi tujuan utamanya saat ini. Mobil miliknya melaju membelah keramaian kota. Cukup lama hingga dia tiba di tempat tujuannya. Wanita itu memilih apel terbaik dengan kulit merah, tanpa cacat dan lecet sedikitpun. Setelah usai, Rosélia bergegas menuju rumahnya meski baginya tempat itu sama sekali tak layak disebut rumah. “Huhh, aku akan kena marah lagi,” ucapnya pelan. Dua tangannya masih pada kemudi, pandangannya lurus pada ramainya jalan yang membuat dirinya terjebak di sana cukup lama. Macet, dan sudah setengah jam dia sama sekali tak berpindah tempat. **** Akhirnya Rosélia tiba di sebuah rumah mewah dengan halaman yang luas. Sudah cukup lama dia tidak pulang, sekitar satu minggu yang lalu. Kakinya melangkah, pintu terbuka lebar dan di sana sudah ada pelayan yang mempersilahkannya masuk. “Di mana Valerie?” tanyanya tanpa basa basi. “Nona Valerie kambuh lagi, Nona. Dia ada di kamarnya.” Setelah mendapatkan jawaban, Rosélia segera menuju kamar Valerie. Tangannya menjinjing sebuah keranjang buah yang berisi apel. Begitu masuk, matanya menangkap sosok Viviane, Evander dan Valerie yang terbaring lemah di ranjangnya. Senyumnya mengembang begitu melihat sang kakak datang. “Akhirnya datang juga,” ucap Viviane sambil menghampiri Rosélia untuk mengambil keranjang buah. “Cuma disuruh beli buah aja kamu harus dipaksa dulu! Asal kamu tahu, wajahmu sudah seperti orang yang paling menderita saja!” Cacian itu berasal dari Evander, ayahnya sendiri. Rosélia membuang nafas untuk mengendalikan emosinya. Cacian itu sudah biasa dia dapatkan, tapi entah kenapa kali ini terasa lebih menyakitkan. "Ayah tahu sendiri apa saja kegiatanku setiap hari. Aku sibuk, Yah. Bahkan untuk menemukan waktu istirahat pun sangat sulit bagiku," belanya. “Ayah, sudahlah jangan marah. Lagipula sekarang Kak Rosé sudah ada di sini.” Valerie berkata dengan lembut seolah dia wanita paling rapuh di bumi ini. Hal itu sengaja dia lakukan untuk mencuri semua perhatian ayahnya. Dengan begitu, Evander bukannya berhenti, tapi dia malah semakin menjadi. “Kamu itu sejak kecil gak pernah bawa hal baik! Kalau aja kamu gak lahir, Calestine gak akan mati! Semua terjadi gara-gara kamu!” bentaknya. "Ayah sudah… Ayah jangan marah sama Kak Rosé. Ini salah aku karena aku cuma mau buah yang dipilihkan Kak Rosé. Soalnya Kakak pinter banget pilih buah," ucapnya manja. Pandangan Evander beralih pada putri bungsunya. Dia mendekatinya sebelum kemudian mengelus lembut surai Valerie. "Kamu lihat?! Adikmu bahkan masih membelamu di depanku!" "Ayah…" Valerie menggenggam tangan Ayahnya dengan wajah memelas meminta agar Ayahnya berhenti. “Kamu gak tahu menderitanya aku setiap aku lihat kamu?! Aku selalu ingat bagaimana istriku mati di meja operasi!” lanjutnya. Kata-kata tajam itu keluar dengan lancar dari bibir sang Ayah kepada anaknya. Sementara itu, mata Rosélia sudah memerah. Namun, dia tahan sekuat tenaga agar rasa sakit di dadanya tidak berganti dengan mengalirnya air mata. Dia membiarkan netranya memerah tanpa mengeluarkan air mata. Viviane dan Valerie tidak menghentikan, tidak melerai. Malah, terselip rasa puas di dalam hati mereka masing-masing. “Harusnya saat itu kamu yang mati, bukan Celestine!” Hening, sementara telinga Rosélia terasa berdengung kencang, sangat lama dan dengan segera wanita itu mengendalikannya. “Ayah selesai?” Ucapan itu justru berhasil membuat Evander semakin marah karena Rosélia tidak menangis, tidak juga membela diri. Rahangnya mengeras dan juga giginya bergemeletuk. “Kalau memang aku penyebab kematian Ibu, kenapa Ayah tidak membunuhku dari dulu?” Di tengah keheningan yang menyelimuti, Rosélia berlalu dari sana. Tanpa ucapan perpisahan, tanpa pamit, hanya meninggalkan gema ucapannya yang terus terngiang di telinga Evander. Setelah mobil Rosélia meninggalkan rumah keluarga Deveraux, air matanya baru mengalir. Dia menangis dalam diam. Ucapan yang dilontarkan Evander berhasil membuka luka lama Rosélia yang tak pernah sembuh. Tanpa sadar, Rosélia sudah berada di sebuah hamparan luas dengan deretan nisan yang menghampar di bawah langit kelabu. Suasana terlalu sepi, hanya ada suara dedaunan yang bergesekan terkena angin. Tangis gadis itu pecah bersamaan dengan hujan yang tiba-tiba turun begitu deras, mengikis suasana sepi. “Ibu… aku harus bagaimana? Aku lelah, pesan terakhir ibu masih selalu hidup dalam kepalaku bahwa aku harus hidup dengan baik,” isaknya. “Tapi... bagaimana aku bisa menjalani hidup dengan baik disaat setiap harinya aku ingin mati, Bu? Ayah selalu menyalahkanku atas kematianmu, dan.... Ibu sambungku... Ibu tahu bagaimana jahatnya dia. Juga... semua orang sibuk pada Valerie, hanya karena dia sakit.” Rosélia memeluk nisan itu erat hingga jemarinya bergetar kedinginan, membiarkan hujan membasahi rambut dan wajahnya tanpa berniat berteduh sedikit pun. Bahunya naik turun menahan sesak yang terasa terlalu penuh di dadanya, sementara dahinya perlahan bersandar pada batu nisan sang ibu.Di tempat itu, di antara tanah basah dan aroma hujan yang muram, hanya makam inilah yang selalu terasa seperti rumah baginya, karena di dunia yang terus menyalahkan keberadaannya, hanya ibunya yang pernah membuat Rosélia merasa bahwa dirinya pantas untuk hidup.
“Jangan harap air matamu bisa meluluhkanku, Rosélia,” ucap Maverick tajam. “Jangan bersikap seolah kamu adalah korbannya dan merasa paling menderita,” sambungnya. Kening Rosélia mengernyit bingung. Bukankah memang iya? Dia sepenuhnya menjadi korban atas keegoisan keluarganya.“Lalu menurutmu, jika bukan aku, siapa?” jawab Rosélia. Terselip kekehan tipis dalam ucapannya.“Kamu lupa? Kamu lupa bagaimana keadaan Valerie sekarang? Kamu lupa siapa yang membuatnya koma? Apa kamu juga lupa kalau kamu penyebab adanya pernikahan kita? Kalau bukan kamu yang menyembunyikan obat Valerie, semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Kesimpulannya, Valerie adalah korban dari keegoisanmu itu!” Nada bicaranya meninggi di kalimat terakhir.Rosélia mengangguk-anggukan kepalanya, bukan mengakui, tapi dia lelah dengan semua tuduhan yang tidak pernah dia lakukan.Diraihnya blazer dan juga tasnya kemudian dia menatap Maverick tajam.“Pikirkan apapun yang mau kamu pikirkan. Salahkan aku sebesar yang kamu mau,
Revisi dekorasi memakan waktu cukup lama sehingga membuat Rosélia tertahan di venue hingga larut. Tubuhnya sudah lelah, hidungnya juga sudah mengeluarkan darah segar beberapa saat lalu. Hal itu sudah membuktikan jika tubuhnya sudah melebihi batas pertahanannya.Setelah menyeka wajahnya yang basah akibat cuci muka, Rosélia kembali ke tengah venue sambil membenarkan jasnya. “Berapa lama lagi sampai kalian selesai?” tanya Rosélia. Dia sangat berharap bisa selesai lebih cepat dan pulang.“Kami tidak tahu, Nona. Lampu kristal ini agak sulit dilepas. Kami minta maaf,” jawab salah satu staf menyesal.Rosélia mengangguk paham. Dia juga tidak ingin menyepelekan pekerjaan orang lain. Ada kalanya kesalahan teknis terjadi ketika masa-masa genting. “Baiklah, beri tahu aku jika sudah selesai. Aku akan tunggu di sana,” ucapnya sambil menunjuk sudut ruangan. Ada sebuah single sofa di sudut ruangan yang sepertinya belum mereka singkirkan.Rosélia duduk di sana, cukup nyaman dan mampu menenagkan send
Hari menjelang pernikahan semakin dekat sehingga persiapan pernikahan juga semakin padat. Hal itu sangat terasa oleh Rosélia karena dia hampir tidak cukup beristirahat sejak beberapa minggu lalu.Rosélia lebih sering pulang larut karena harus mengurus venue, kampus dan juga galeri sekaligus. Tubuhnya mulai memberikan tanda-tanda kelelahan. Sering pusing bahkan beberapa kali dia hampir pingsan. Tapi, tidak ada yang peduli.Besok adalah hari pernikahan Valerie dan Maverick. Itu artinya, hari ini adalah hari terakhir Rosélia menguras tenaga, pikiran dan waktunya untuk persiapan.Matahari sudah kembali ke peraduannya berganti dengan sang pemilik malam yang bersinar terang di langit hitam. Bukannya pulang, Rosélia kembali menuju venue dengan harapan dia tak harus merevisi lagi."Semuanya aman?" Ucapannya menggema begitu suara hak sepatu berhenti. Para staf menoleh dan mengangguk hampir bersamaan. Namun, Rosélia merasa ada yang salah. Diteliti kembali seluruh venue sebelum kemudian dia men
Pernikahan bukan sesuatu yang dapat dipermainkan. Kesakralannya layak dihormati dan pelaksanaannya adalah hal yang patut dismbut oleh semua orang, terutama keluarga dari kedua belah pihak. Jika mereka rakyat biasa saja sangat antusias menyambut hari besar yang satu ini, apalagi keluarga Deveraux dan Ashbourne yang notabenenya keluarga ternama, terkenal, tersohor baik dalam dunia bisnis atau status sosial. Pernikahan Maverick Ashbourne dan Valerie Deveraux adalah pernikahan pertama yang akan dilakukan masing-masing keluarga mengingat Maverick adalah anak tunggal dan Kakaknya Valerie, Rosélia belum menikah.Jadi, persiapan dilakukan sematang mungkin dengan konsep semewah yang diinginkan Valerie. Mulai dari dekorasi, layout venue, pemilihan warna dan juga estetika warna, mereka pilih dengan hati-hati."Tak bisakah Kakak kabulkan permintaanku yang satu ini? Ini pernikahan pertama dan terakhirku, aku mau ini special, salah satunya dengan Kakak terlibat dalam dekorasi dan layout venue di
Mengisi kelas, menghadiri seminar, melukis, atau datang ke sebuah pameran merupakan keseharian Rosélia dan dia sama sekali tidak keberatan dan merasa lelah dengan kegiatannya. Tetapi, jika Viviane sudah hadir di antara kesibukannya itu, di sanalah Rosélia merasa ingin menghilang dari semesta.Telepon dari keluarganya sudah seperti teror yang terus mengganggu ketenangan hidupnya. Tak jarang Rosélia menolak panggilan-panggilan itu. Tapi, seolah tahu Rosélia melakukannya dengan sengaja, mereka akan kembali menelepon sampai Rosélia mengangkatnya dan memenuhi keinginan mereka.Bola matanya memutar lelah. Seperti yang dia duga, panggilan telepon itu tak akan berhenti sebelum Rosélia mengangkatnya. Maka, dengan berat hati dia menekan tombol hijau di ponselnya."Apa lagi kali ini?" tanya Rosélia lelah."Lama sekali kamu angkat telepon!" Suara Viviane melengking di seberang sana. Namun, Rosélia mengabaikannya, dia in
Paksaan dari keluarga sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari Rosélia. Dia dipaksa untuk mulai terbiasa dengan semua itu, dia dipaksa untuk memaklumi keluarganya dan dia dipaksa untuk selalu mematuhi titah mereka.Rosélia lelah, ingin berontak, ingin hidup dengan tenang seperti yang lain. Tapi, lagi-lagi dia tak bisa. Hidupnya serasa dirantai oleh rasa bersalah karena kematian sang Ibu, ditambah validasi yang selalu Ayahnya ucapkan sehingga membuat Rosélia percaya jika dia pembunuhnya.Maka, malam ini pun sama. Rosélia tidak diizinkan memilih atau menggunakan alasannya untuk tidak datang ke acara makan malam yang diadakan keluarganya. Namun, biarkan kali ini dia menggunakan sedikit waktunya untuk egois. Akan dia selesaikan dulu urusannya sebelum pergi ke acara makan malam di rumahnya.Sesekali diliriknya jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum kemudian fokusnya kembali pada ramainya jalan di malam hari."Hanya terlambat setengah jam. Tidak apa-apa, bukan?" ucapn







