分享

Chapter 06

last update publish date: 2026-05-20 10:50:21

Hari menjelang pernikahan semakin dekat sehingga persiapan pernikahan juga semakin padat. Hal itu sangat terasa oleh Rosélia karena dia hampir tidak cukup beristirahat sejak beberapa minggu lalu.

Rosélia lebih sering pulang larut karena harus mengurus venue, kampus dan juga galeri sekaligus. Tubuhnya mulai memberikan tanda-tanda kelelahan. Sering pusing bahkan beberapa kali dia hampir pingsan. Tapi, tidak ada yang peduli.

Besok adalah hari pernikahan Valerie dan Maverick. Itu artinya, hari ini adalah hari terakhir Rosélia menguras tenaga, pikiran dan waktunya untuk persiapan.

Matahari sudah kembali ke peraduannya berganti dengan sang pemilik malam yang bersinar terang di langit hitam. Bukannya pulang, Rosélia kembali menuju venue dengan harapan dia tak harus merevisi lagi.

"Semuanya aman?" Ucapannya menggema begitu suara hak sepatu berhenti. Para staf menoleh dan mengangguk hampir bersamaan. Namun, Rosélia merasa ada yang salah. Diteliti kembali seluruh venue  sebelum kemudian dia menghela napas berat.

"Lima menit lagi berkumpul di ballroom," perintahnya. Begitu dia berbalik, di sana sudah ada Maverick, Valerie lengkap dengan keluarga Ashbourne serta Deveraux.

"Ada apa ini?" tanya Evander kebingungan mendengar ucapan Rosélia. 

"Ada kesalahan, dan aku harus mengevaluasinya." Rosélia tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan semua orang di sana.

Kini, semua orang sudah berkumpul di ballroom termasuk keluarga Deveraux dan Ashbourne yang tadi baru tiba.

"Bukannya aku mengatakan bahwa konsepnya ivory, warm gold, dan elegan? Kalian tidak mengerti?" tanya Roselia masih menekan emosinya.

"Maaf, Nona. Menurut kami warna putih terang dan lampu cool tone kebiruan akan lebih mewah dan terkesan suci," jawab salah satu staf.

"Siapa? Siapa yang mengeluarkan gagasan itu?" Iris hitamnya mencari-cari orang yang memberikan ide untuk merubah konsepnya.

Staf hanya saling menunjuk dan menyalahkan. Mereka sama sekali tidak mendapatkan solusi dari masalah ini.

"Kalian mau gaun pengantin nanti terlihat pucat?" Rosélia kembali bertanya. Hening, tidak ada jawaban. 

"Kakak, gimana dong? Acaranya besok, dan kesalahannya sebesar ini?" Valerie mulai stres dengan keadaan yang kacau.

"Tenang, Sayang." Viviane berusaha menenangkan Valerie. "Rosélia, lakukan sesuatu. Jangan biarkan adikmu merasa stres dan tertekan. Kamu tahu kan kalau stres kemungkinan penyakitnya kambuh?!" Viviane marah-marah di tengah situasi yang juga membuat Rosélia stres.

"Diam semuanya!" Rosélia mengambil floor plan dan menyusun ulang prioritas. Membutuhkan waktu beberapa saat sampai wanita itu kembali melayangkan perintah.

"Semua staf kembali ke venue sekarang!" Rosélia mendahului mereka disusul oleh seluruh staf. Sementara yang lainnya masih diam di tempat yang sama dengan kebingungan dan kekhawatiran mereka.

"Turunkan intensitas lampu, ganti kain backdrop dengan warna ivory," perintahnya. Ada jeda sesaat sebelum dia memerintahkan staf lain. "Minta lilin tambahan dan turunkan lampu kristal di ujung sana!" sambungnya. 

"Kalau semuanya terlalu mencolok, orang-orang bahkan tidak akan fokus pada pengantinnya, mengerti?!" 

Para staf mengangguk paham kemudian melanjutkan titah Rosélia dengan benar kali ini, tanpa ada yang diubah ataupun ditambahkan.

Di belakang sana, Maverick dan Edric Ashbourne, ayahnya berdiri melihat bagaimana Rosélia bekerja, niatnya untuk mengontrol dekorasi. Menurut mereka, Rosélia bukan hanya dosen seni biasa. Dia benar-benar memahami detail dan emosi.

*

Setelah masalah venue selesai, ballroom mulai sepi. Valerie dan keluarganya sudah pulang karena kelelahan. Di sana hanya tersisa Maverick, Edric dan Roselia untuk mengecek revisi akhir. Maverick menawarkan diri untuk melakukannya karena dia tidak tega jika harus Valerie yang di sana, mengingat kondisi calon istrinya itu sangat lemah.

Mereka berdiri di tengah-tengah venue yang masih dibenahi untuk detail kecilnya.

Edric hanya berniat menemani putranya saja. Besok hari penting, jadi dia sendiri yang harus memastikan semuanya lancar tanpa hambatan. 

"Kamu terlalu detail," ucap Maverick yang mengundang tatap Rosélia di sampingnya.

"Detail kecil yang menentukan apakah sesuatu terasa murahan atau tidak," jawab Rosélia datar. Pandangannya kembali lurus ke depan tanpa ada niatan memandang Maverick lebih lama.

"Apa itu yang membuat mereka tidak tertarik?" ucap Maverick pelan.

Lagi-lagi Rosélia menolek kepada Maverick. "Maksudmu?" tanyanya.

"Perusahaanku membangun resort baru di sekitar pantai. Dengan pemandangan yang langsung mengarah ke pantai, harusnya para investor datang menawarkan diri. Tapi sepertinya hal itu gagal menarik perhatian mereka, khususnya investor luar negeri," jelasnya. Entah mengapa juga Maverick menjelaskan semuanya pada Rosélia. 

"Karena kalian memperlakukan seni cuma sebagai pelengkap." Maverick sama sekali tidak suka nada bicara Rosélia, tapi dia tetap mendengarkan.

"Kalau mau menjual kemewahan, jangan isi ruang dengan benda mahal. Tapi, buat mereka merasakan kehangatan setiap desain yang ada di ruangan. Rasa itu lebih penting daripada harga," lanjut Rosélia. 

Cerdas, artistik dan komunikatif. Mungkin itu kata yang dapat menggambarkan seorang Rosélia Deveraux. Siapa sangka kemampuan komunikasi Rosélia menarik perhatian Edric.

Di tengah keheningan setelah Rosélia berbicara, dering ponsel Maverick mengundang gema di antara mereka. Diambilnya benda pipih di saku bagian dalam jasnya. Nama pemilik hatinya tertera di sana, Valerie. 

“Iya, Sayang?” Maverick mengangkatnya dan agak menjauh dari Rosélia dan ayahnya.

“Temani aku, aku tidak bisa tidur. Aku terlalu gugup untuk besok,” ucap Valerie di seberang sana.

“Tapi, dekorasi belum sepenuhnya selesai. Aku masih harus mengecek keseluruhan di sini,” jawab Maverick apa adanya. 

Jarak yang tak terlalu jauh membuat Rosélia bisa mendengar apa yang dikatakan Maverick. Kemungkinan besar, Valerie memintanya pulang.

“Jadi, kamu pilih aku atau terus di sana bersama Kak Rosé?” Ada nada merajuk yang artinya Maverick tak bisa menolak keinginan Valerie. 

Dia menghela napas dan akhirnya memutuskan. “Baiklah, aku ke sana sebentar lagi,” ucap Maverick. Tentu saja Maverick akan memilih Valerie. Biarkan urusan dekor dia percayakan pada Rosélia. 

“Ya, tentu saja. Kamu harus pilih aku bagaimanapun keadaannya.” Kini Maverick bisa mendengar perubahan nada biacara Valerie lebih ceria.

“Aku tutup telponnya, ya. Aku akan segera ke sana.” Hanya anggukan di seberang sana dan Maverick menutup sambungan.

Dia berbalik, berjalan menuju tempatnya semula. “Ayah, aku harus ke rumah Valerie. Dia tak bisa tidur dan memintaku untuk menemaninya,” izinnya.

“Dekorasinya?” tanya Edric bingung. Mereka bahkan belum selesai membenahi kekacauan tadi. Maverick memandang ke arah Rosélia. Roselia yang sadar akan hal itu balik memandang dengan tanda tanya.

“Aku bisa mempercayakannya padamu, kan, Rosélia?” tanya Maverick. 

“Ya, biar ini menjadi urusanku. Aku akan pastikan tak ada kesalahan dan besok acara bisa berjalan dengan lancar,” jawabnya.

“Baiklah, ayo pulang.” Edric setuju untuk pulang setelah dia mendapat kepastian dari Rosélia. 

Setelah kepergian Maverick dan ayahnya, Rosélia kembali mengatur semuanya. Memastikan stafnya bekerja dengan cepat dan tepat mengingat hari sudah semakin larut. 

Baru saja kakinya melangkah untuk mengecek keseluruhan dekorasi, dia merasakan ada sesuatu yang basah menetes dari hidungnya. Tangannya terangkat untuk menyekanya.

Begitu netranya melihat, cairan merah itu sudah menetes ke tangannya, bibirnya bahkan di lantai. Salah satu staf yang sadar akan hal itu segera mendekatinya.

“Nona, Anda baik-baik saja?” tanyanya khawatir. Pertanyaannya mengundang perhatian staf lain yang mendengar.

“Aku tidak apa-apa. Lanjutkan pekerjaan kalian, aku ke toilet sebentar.” Setelah mengatakan itu, Rosélia bergegas menuju toilet. 

Dibasuhnya darah di sekitar hidung dan juga di tangannya. Dia menumpukan kedua tangannya pada wash table. Pandangannya lurus pada pantulan dirinya. 

“Menyedihkan,” ucapnya lirih. Bahkan di saat kesehatannya sudah tidak memadai, dia masih dipaksa menyelesaikan pekerjaan yang katanya sebuah balas budi. Rosélia menunduk, air matanya mengalir, dia menangis, meratapi hidupnya yang bahkan jauh dari kata baik-baik saja.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 08

    “Jangan harap air matamu bisa meluluhkanku, Rosélia,” ucap Maverick tajam. “Jangan bersikap seolah kamu adalah korbannya dan merasa paling menderita,” sambungnya. Kening Rosélia mengernyit bingung. Bukankah memang iya? Dia sepenuhnya menjadi korban atas keegoisan keluarganya.“Lalu menurutmu, jika bukan aku, siapa?” jawab Rosélia. Terselip kekehan tipis dalam ucapannya.“Kamu lupa? Kamu lupa bagaimana keadaan Valerie sekarang? Kamu lupa siapa yang membuatnya koma? Apa kamu juga lupa kalau kamu penyebab adanya pernikahan kita? Kalau bukan kamu yang menyembunyikan obat Valerie, semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Kesimpulannya, Valerie adalah korban dari keegoisanmu itu!” Nada bicaranya meninggi di kalimat terakhir.Rosélia mengangguk-anggukan kepalanya, bukan mengakui, tapi dia lelah dengan semua tuduhan yang tidak pernah dia lakukan.Diraihnya blazer dan juga tasnya kemudian dia menatap Maverick tajam.“Pikirkan apapun yang mau kamu pikirkan. Salahkan aku sebesar yang kamu mau,

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 07

    Revisi dekorasi memakan waktu cukup lama sehingga membuat Rosélia tertahan di venue hingga larut. Tubuhnya sudah lelah, hidungnya juga sudah mengeluarkan darah segar beberapa saat lalu. Hal itu sudah membuktikan jika tubuhnya sudah melebihi batas pertahanannya.Setelah menyeka wajahnya yang basah akibat cuci muka, Rosélia kembali ke tengah venue sambil membenarkan jasnya. “Berapa lama lagi sampai kalian selesai?” tanya Rosélia. Dia sangat berharap bisa selesai lebih cepat dan pulang.“Kami tidak tahu, Nona. Lampu kristal ini agak sulit dilepas. Kami minta maaf,” jawab salah satu staf menyesal.Rosélia mengangguk paham. Dia juga tidak ingin menyepelekan pekerjaan orang lain. Ada kalanya kesalahan teknis terjadi ketika masa-masa genting. “Baiklah, beri tahu aku jika sudah selesai. Aku akan tunggu di sana,” ucapnya sambil menunjuk sudut ruangan. Ada sebuah single sofa di sudut ruangan yang sepertinya belum mereka singkirkan.Rosélia duduk di sana, cukup nyaman dan mampu menenagkan send

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 06

    Hari menjelang pernikahan semakin dekat sehingga persiapan pernikahan juga semakin padat. Hal itu sangat terasa oleh Rosélia karena dia hampir tidak cukup beristirahat sejak beberapa minggu lalu.Rosélia lebih sering pulang larut karena harus mengurus venue, kampus dan juga galeri sekaligus. Tubuhnya mulai memberikan tanda-tanda kelelahan. Sering pusing bahkan beberapa kali dia hampir pingsan. Tapi, tidak ada yang peduli.Besok adalah hari pernikahan Valerie dan Maverick. Itu artinya, hari ini adalah hari terakhir Rosélia menguras tenaga, pikiran dan waktunya untuk persiapan.Matahari sudah kembali ke peraduannya berganti dengan sang pemilik malam yang bersinar terang di langit hitam. Bukannya pulang, Rosélia kembali menuju venue dengan harapan dia tak harus merevisi lagi."Semuanya aman?" Ucapannya menggema begitu suara hak sepatu berhenti. Para staf menoleh dan mengangguk hampir bersamaan. Namun, Rosélia merasa ada yang salah. Diteliti kembali seluruh venue sebelum kemudian dia men

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 05

    Pernikahan bukan sesuatu yang dapat dipermainkan. Kesakralannya layak dihormati dan pelaksanaannya adalah hal yang patut dismbut oleh semua orang, terutama keluarga dari kedua belah pihak. Jika mereka rakyat biasa saja sangat antusias menyambut hari besar yang satu ini, apalagi keluarga Deveraux dan Ashbourne yang notabenenya keluarga ternama, terkenal, tersohor baik dalam dunia bisnis atau status sosial. Pernikahan Maverick Ashbourne dan Valerie Deveraux adalah pernikahan pertama yang akan dilakukan masing-masing keluarga mengingat Maverick adalah anak tunggal dan Kakaknya Valerie, Rosélia belum menikah.Jadi, persiapan dilakukan sematang mungkin dengan konsep semewah yang diinginkan Valerie. Mulai dari dekorasi, layout venue, pemilihan warna dan juga estetika warna, mereka pilih dengan hati-hati."Tak bisakah Kakak kabulkan permintaanku yang satu ini? Ini pernikahan pertama dan terakhirku, aku mau ini special, salah satunya dengan Kakak terlibat dalam dekorasi dan layout venue di

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 04

    Mengisi kelas, menghadiri seminar, melukis, atau datang ke sebuah pameran merupakan keseharian Rosélia dan dia sama sekali tidak keberatan dan merasa lelah dengan kegiatannya. Tetapi, jika Viviane sudah hadir di antara kesibukannya itu, di sanalah Rosélia merasa ingin menghilang dari semesta.Telepon dari keluarganya sudah seperti teror yang terus mengganggu ketenangan hidupnya. Tak jarang Rosélia menolak panggilan-panggilan itu. Tapi, seolah tahu Rosélia melakukannya dengan sengaja, mereka akan kembali menelepon sampai Rosélia mengangkatnya dan memenuhi keinginan mereka.Bola matanya memutar lelah. Seperti yang dia duga, panggilan telepon itu tak akan berhenti sebelum Rosélia mengangkatnya. Maka, dengan berat hati dia menekan tombol hijau di ponselnya."Apa lagi kali ini?" tanya Rosélia lelah."Lama sekali kamu angkat telepon!" Suara Viviane melengking di seberang sana. Namun, Rosélia mengabaikannya, dia in

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 03

    Paksaan dari keluarga sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari Rosélia. Dia dipaksa untuk mulai terbiasa dengan semua itu, dia dipaksa untuk memaklumi keluarganya dan dia dipaksa untuk selalu mematuhi titah mereka.Rosélia lelah, ingin berontak, ingin hidup dengan tenang seperti yang lain. Tapi, lagi-lagi dia tak bisa. Hidupnya serasa dirantai oleh rasa bersalah karena kematian sang Ibu, ditambah validasi yang selalu Ayahnya ucapkan sehingga membuat Rosélia percaya jika dia pembunuhnya.Maka, malam ini pun sama. Rosélia tidak diizinkan memilih atau menggunakan alasannya untuk tidak datang ke acara makan malam yang diadakan keluarganya. Namun, biarkan kali ini dia menggunakan sedikit waktunya untuk egois. Akan dia selesaikan dulu urusannya sebelum pergi ke acara makan malam di rumahnya.Sesekali diliriknya jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum kemudian fokusnya kembali pada ramainya jalan di malam hari."Hanya terlambat setengah jam. Tidak apa-apa, bukan?" ucapn

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status