Share

Chapter 06

last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-20 10:50:21

Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana.

Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar.

Baru saja hendak memejamkan mata, pintu kamarnya dibuka tanpa permisi. Seorang pria berbadan proporsional, wajah lelah yang masih mengenakan pakaian kerjanya berdiri di ambang pintu.

Rosélia dibuat terlonjak karenanya. “Ada apa?” tanyanya.

“Lusa ikut denganku makan malam dengan investor asing,” ucap Maverick.

Rosélia berpikir sejenak. “Lusa aku tidak bisa. Aku harus mengurus pameran,” jawabnya jujur.

“Aku datang bukan untuk memohon ataupun meminta padamu. Aku datang memberitahu, yang artinya kamu harus ikut dan aku tidak menerima penolakan.” Setelah berkata demikian, Maverick berlalu dari sana setelah sebelumnya dia menutup pintu kamar Rosélia cukup kencang.

Helaan nafas terdengar sangat berat. Jadwalnya bentrok dengan pameran. Bagaimana dia akan membagi waktu?

*

Pagi-pagi sekali, tepat sebelum pameran dilaksanakan, Rosélia datang menemui Irene di ruangan yang memang dikhususkan untuk staf.

“Mbak, maaf. Boleh bicara sebentar?” Saat itu Irene sepertinya tengah mengarahkan staf lain.

“Kita lanjut nanti, ya.” Irene menepuk bahu staf yang semula sedang berbicara dengannya sebelum kemudian atensinya beralih sepenuhnya pada Rosélia. 

“Kenapa, Rosé?” tanya Irene, menarik Rosélia duduk agar pembicaraan mereka lebih nyaman.

“Mbak, aku mau minta izin. Sepertinya hari ini aku tidak bisa di lokasi sampai selesai. Ada keperluan lain yang tidak bisa aku tinggalkan,” ucapnya.

Tatapan Irene berubah dalam menelisik khawatir ada yang salah.

“Ah, suamiku… dia ada pertemuan dengan calon investor dan aku harus ada di sana, Mbak,” jelas Rosélia pada akhirnya.

Irene tersenyum. “Oke gak apa-apa. Tapi, pastikan tim-mu mengerti dan melakukan tugasnya dengan baik hari ini,” jawab Irene yang langsung diangguki Rosélia.

Setelahnya, pameran berjalan dengan lancar. Hari pertama, pengunjung cukup ramai, semuanya tertata, live report dilaksanakan sebagaimana rencana awal hingga tiba waktunya Rosélia pergi dari sana. 

Dia lewat pintu belakang, buru-buru tapi tetap hati-hati sampai Rosélia tiba di penthouse. 

Maverick tak ada, tapi Rosélia mendengar suara gemericik dari kamar Maverick. Dia berlalu untuk membersihkan dirinya.

Rosélia hanya memiliki waktu satu jam untuk bersiap-siap. Sementara itu Maverick sudah siap dengan setelah formal berwarna navy. Pria itu duduk santai di ruang tamu menunggu Rosélia. 

Tidak terlalu maksimal mengingat dia dikejar waktu. Setelan semi formal, rok span berwarna denim setengah betis, dipadukan dengan inner putih dibalut blazer crop berwarna denim pula.

Sentuhan terakhir, heels dengan warna senada dan tas bahu kecil yang membuat penampilannya lengkap.

Rosélia keluar setelah merasa semuanya siap. “Ayo,” ucapnya.

Maverick menoleh ke arah Rosélia. Bukan kali pertama bagi Maverick melihat penampilan Rosélia yang seperti ini dan Maverick mengakui jika Rosélia cantik, dewasa dan elegan tanpa dibuat-buat.

Maverick berdehem, mengedarkan pandangannya dan mengangguk. Dia berjalan mendahului Rosélia seperti biasanya.

Tempat yang mereka tuju tak terlalu jauh. Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan. Sama sekali tak ada yang berniat mengawali pembicaraan. 

Mereka tiba di depan sebuah restoran mewah yang sudah sering Maverick kunjungi. Begitu turun dari mobil, Maverick berdiri diam. Tangan sebelah kirinya dia tekuk. Matanya menatap Rosélia memberikan kode gadis itu untuk menggandengnya.

Sandiwara dimulai dengan senyum di wajah kedua pengantin baru itu. Jalannya tak terlalu cepat, mengimbangi Rosélia yang memakai heels.

Mereka menuju ke sebuah ruangan VIP. Hanya ada mereka, investor yang hendak mereka temui belum tiba.

“Diam saja, jangan mempermalukanku,” ucap Maverick memperingati Rosélia. Gadis itu memilih diam tak menjawab.

Tak lama, orang-orang yang ditunggu datang, ada sekitar empat orang lengkap dengan pasangannya masing-masing. 

Mereka saling sapa memperkenalkan diri dan juga pasangan mereka. Makan malam berlalu dengan tenang dan nyaman. Hingga saatnya masuk ke pembicaraan inti.

Berbagai hal Maverick bahas terkait rencana pembangunan resort di pinggir pantai itu. Semuanya memahami, namun raut wajah mereka tidak bisa berbohong, mereka sudah sering mendengar konsep seperti ini dan merasa terlalu template.

“Anda yakin dengan konsep luxury seperti ini wisatawan akan tertarik? Sekarang banyak sekali resort dengan konsep yang sama, lalu apa uniknya resort yang akan kita bangun ini jika fasilitas, desain dan juga suasananya sama saja dengan resort lain?” Tuan Benedict, salah satu calon investor bertanya. 

Maverick terdiam kaku, mencoba mencari jawaban. “Kita bisa tambahkan beberapa elemen alam di desain interiornya,” jawabnya mencoba memasukan ide Rosélia beberapa saat lalu.

Semuanya memperhatikan, namun sanggahan lain dilontarkan pula oleh pria berbadan besar, Tuan Christ. 

“Saya kurang yakin wisatawan akan tertarik hanya dengan menambahkan beberapa elemen alam saja.”

Ada keheningan beberapa saat sebelum Rosélia mengeluarkan suaranya. “Maaf, Tuan. Izinkan saya berbicara,” ucap Rosélia. 

Maverick panik, dia sama sekali tak tahu apa yang akan dikatakan oleh Rosélia. Terlebih dia sebelumnya juga sudah memperingatkan Rosélia agar tidak ikut campur.

“Sebelumnya perkenalkan, saya Rosélia istri Maverick. Kita berencana untuk membangun resort di sekitar pantai. Tema luxury yang kita ambil memang sudah umum digunakan. Dengan beberapa desain interior yang menggambarkan alam akan membantu konsep sedikit berbeda dari yang lain.” Penyampaiannya tenang, tidak terlalu cepat, cukup untuk mendapatkan atensi dari semua orang yang ada di sana termasuk Maverick. “Jika itu saja tidak cukup, kita bisa tambahkan hal lain sebagai penarik wisatawan. Saya yakin kebanyakan wisatawan menyewa penginapan bukan hanya untuk istirahat dan tidur, tapi mereka juga mencari pengalaman. Kita bisa adakan beberapa pertunjukan setiap satu atau dua kali dalam satu minggu. Bukan pertunjukan modern yang kita serap dari negara lain, tapi pertunjukan budaya lokal yang mengandung cerita, makna dan juga dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman bagi wisatawan,” sambung Rosélia. 

“Pertunjukan apa yang akan mereka harapkan?” Nyonya Diana, istri Tuan Benedict bertanya.

“Kita ambil contoh, Edinburgh Festival Fringe di Skotlandia. Mereka mengadakan pertunjukan setiap tahun, itu untuk skala nasional. Karena kita hanya sebuah resort, kita bisa adakan sekitar satu sampai dua kali dalam satu pekan. Kita adakan pertunjukan seperti teater yang temanya masih berkaitan dengan asal-usul atau seni dan budaya sekitar,” jelasnya.

Semuanya mengangguk mulai tertarik dengan pembicaraan ini. 

“Masuk akal, dengan begitu wisatawan tidak hanya mengincar resort kita untuk tidur, tapi juga ingin tahu teater yang akan kita tampilkan,” Tuan Harist membantu menambahkan.

Mereka mengangguk serentak. Roselia tersenyum simpul, puas dengan usahanya.

“Oke, kalau begitu kita akan coba. Jadi, Tuan Maverick boleh kirim salinan proposalnya dengan konsep yang Nyonya Rosé katakan barusan?” ucap Tuan Christ.

“Baik, Tuan. Saya akan kirim proposal secepatnya.” Senyum sumringah tampak begitu nyata di wajah Maverick, Rosélia menangkapnya dengan jelas.

Pertemuan itu berakhir setelah mereka berbincang santai beberapa menit. Semuanya kembali lebih dulu hingga menyisakan Maverick dan Rosélia saja.

“Bisa berguna juga kamu,” ucapnya. Bukan nada memuji apalagi kagum, tapi lebih meremehkan.

Maverick bangkit, badannya memunggungi Rosélia, kemudian dia berkata, “pulang sendiri. Aku akan ke rumah sakit dulu.” Setelahnya Maverick berlalu meninggalkan Rosélia. 

“Huh, berapa kali lagi orang-orang akan meninggalkanku.” Sambil berkata demikian, Rosélia keluar dari sana, memesan taksi dan pulang sendiri.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 103

    Beberapa bulan terakhir, perasaan Rosélia terasa begitu tak enak. Hubungannya yang baru seumur jagung dengan Bastian entah mengapa membuat Rosélia merasa begitu bersalah pada pria itu.Sekitar empat bulan lalu, akhirnya Rosélia mengiyakan ajakan Bastian untuk menjalin kasih, setelah permintaan itu datang dari Bastian bertahun-tahun lamanya. Saat itu Bastian bahagia bukan main karena akhirnya Rosélia bisa menjadi miliknya. Belum seutuhnya, tapi setidaknya mereka sudah satu langkah lebih maju dari sebelumnya.Rosélia berusaha, berusaha memberikan hatinya seutuhnya hanya untuk Bastian.Setelah lamunan singkat dibersamai dengan suasana sejuk di pagi hari, Rosélia kembali fokus pada kegiatannya. Dia kembali menyiapkan sarapan untuk Bastian dan Elodie."Selamat pagi," sapa Bastian. Seperti biasa, pria itu sudah mandi. Namun kali ini dia tidak mengenakan snelly dan pakaian kerjanya. Dia hanya berpakaian santai."Pagi," jawab Rosélia menoleh sejenak sebelum kemudian dia kembali pada sarapanny

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 102

    Lima tahun kemudian…Interlaken menyambut dengan ketenangan yang terasa asing bagi siapapun yang terbiasa hidup dalam hiruk-pikuk kota. Hamparan padang rumput hijau membentang disela bangunan yang didominasi oleh kayu berwarna coklat. Di kejauhan, puncak Jungfrau yang diselimuti salju berdiri anggun.Sungai dengan air sebening kristal. Permukaannya memantulkan langit Swiss yang bersih tanpa cela. Denting lonceng yang berpadu dengan suara kereta yang melintas seolah lagu yang berbisik syahdu di telinga.Orang-orang berjalan santai, beberapa menggayuh sepeda dan sebagian duduk di kafe atau di teras rumah ditemani dengan secangkir kopi hangat.Seperti seorang wanita yang tersenyum manis dengan secangkir kopi di tangannya, sementara itu tatapan hangatnya begitu fokus pada seorang gadis kecil dengan rambut terurai. Gadis kecil itu berlarian mengejar seekor kupu-kupu di halaman rumah. Di bagian sudut kanan rumah terdapat pohon cukup besar dilengkapi dengan ayunan tempat lain gadis itu berm

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 101

    Valerie benar-benar mendapatkan karmanya. Gadis itu dinyatakan lumpuh setelah kejadian yang dia alami dua bulan lalu. Hatinya terlalu sakit, kepalanya kerap dibuat pening dan di malam hari, dia akan menangis dalam diam meratapi nasib yang rasanya semakin lama semakin buruk.Kadang nafasnya tiba-tiba memburu saat teringat kepingan kejadian yang menimpanya. Gadis itu merasa kotor. Tiga orang pria tak dikenal menodainya, menyakitinya hingga meninggalkan trauma yang cukup dalam. Namun Valerie diam. Dia tak ingin menginjakkan kaki di Rumah Sakit Jiwa lagi.Biarkan dia membawa trauma dan gilanya sendiri tanpa ada yang mengetahui. Meski dia yakin kedua orang tuanya menyadari hal itu.Sejak keluar dari rumah sakit, hampir setiap hari Valerie selalu datang ke makam Roselia dengan bantuan kursi roda dan Valdez yang mengantarnya. Selama itu juga, Valerie sering melihat Maverick datang.Seperti hari ini, dari kejauhan Valerie menatap nanar makam Roselia dan seorang pria yang tengah menangis terse

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 100

    Bahkan, dengan segala dosa yang sudah keluarga Deveraux lakukan, Tuhan masih berbaik hati. Semesta masih memperbolehkan mereka menginjakkan kaki di atasnya.Dua bulan lamanya Valerie menjalani perawatan di Rumah Sakit. Rasanya, tempat itu sudah menjadi rumahnya, mengingat betapa seringnya gadis itu datang ke sana.Jika dulu, Evander hanya tinggal memerintahkan dokter menangani putrinya tanpa harus mengkhawatirkan biaya, maka selama dua bulan ini Evander benar-benar banting tulang untuk mencari sejumlah uang.“Nona Valerie bisa keluar nanti siang. Namun sebelum itu, biayanya selama perawatan satu minggu terakhir harus dilunasi dulu, Pak,” ucap resepsionis. “A-ah, iya akan saya usahakan,” jawab Evander.Dia berbalik, berjalan menuju ruang rawat Valerie. Dari balik jendela, Evander bisa menyaksikan bagaimana Valerie tersenyum pada Viviane yang dia yakini hanya senyuman palsu. Dadanya ikut teriris melihat hal itu. Tangan Evander naik dan meremat dadanya yang terasa begitu nyeri.“Maafk

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 99

    Darah yang berlumuran di sekitar Valerie, kaki dan kepala Valerie yang hampir hancur membuat keluarga Deveraux panik bukan main.Saat itu juga Valerie dilarikan ke rumah sakit dengan harapan semua belum terlambat.Selain luka fisik yang gadis itu dapatkan, ada kemungkinan psikisnya juga kembali terganggu. “Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kami menemukan cedera yang cukup berat pada area genital pasien. Tim bedah sudah melakukan tindakan darurat untuk menghentikan pendarahan dan membersihkan luka. Berdasarkan pola yang kami temukan, kami menduga jika korban mengalami kekerasan seksual yang dilakukan secara berulang. Dan untuk luka di kedua kaki pasien, itu tidak hanya mengenai jaringan lunak. Kami menemukan cedera pada saraf yang mengendalikan gerak tungkai. Saat ini dia belum bisa menggerakkan kakinya dengan baik. Kami juga belum bisa memastikan apakah kelumpuhan ini bersifat sementara atau permanen. Kami baru bisa mengevaluasi setelah rehabilitasi nanti.” Dokter Christina menjel

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 98

    Sejak dulu, Valerie bukan orang yang akan percaya pada sebuah hukum karma. Karena yang dia rasakan semasa hidupnya hanya kebahagiaan dengan bergelimang harta. Meski penyakit jantung pernah diidapnya, tapi menurutnya itu bukan apa-apa karena dia masih memiliki uang dan juga orang tua yang utuh, yang tentu saja bisa mengusahakan apapun untuknya.Salah satunya, dia tak segan memfitnah, menyakiti Rosélia karena dia melihat Ayahnya melakukan hal yang sama. Dia merasa apapun yang dirinya lakukan, orang tuanya akan selalu berada di sisinya.Hingga akhirnya skandal tentangnya mulai tersebar, Maverick meninggalkannya, kemudian dia masuk Rumah Sakit Jiwa dan sekarang seluruh harta mereka terkuras habis, bahkan mereka harus menumpang tinggal di rumah sepetak milik mantan sopir mereka.Memalukan. Tapi, saat ini Valerie tidak dalam keadaan yang mengharuskannya merasa malu ataupun gengsi. Masih memiliki tempat untuk bernaung merupakan berkah yang saat ini terasa begitu besar untuknya."Ibu, aku per

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 07

    Satu minggu berlalu bagi Rosélia terasa sangat lama. Pameran usai dan semua berjalan dengan lancar, bisa dikatakan sukses. Selama satu minggu itu, Rosélia beberapa kali menyempatkan waktu untuk menengok Valerie. Adiknya itu tak kunjung membuka mata, dia masih betah dalam tidurnya. Sama seperti har

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 05

    Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 02

    Suara musik bernuansa sakral mulai menggema di ruangan yang begitu luas dan ramai oleh tamu undangan. Namun, hal itu tidak membuat ke-khidmatan acara berkurang. Di atas altar, Maverick belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu jika hari ini bukan sang belahan jiwa yang akan dia nikahi, dia tidak tahu jik

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 01

    Gaun ivory yang sedikit menjuntai di bagian belakang, belahan di bagian paha kiri hingga bawah membuat kaki jenjang sang pemilik terpampang indah. Putih, mulus tanpa cela sedikitpun. Rosélia datang, membelah keramaian para tamu yang sebagian sudah datang. Setiap langkahnya, dia mendengar orang-or

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status