LOGINVenue yang Rosélia dekor selama kurang lebih satu bulan lamanya ditambah dengan berbagai drama menjelang hari-H, nyatanya hanya dipakai untuk beberapa jam saja. Kini, ruangan megah nan mewah itu sudah mulai kembali sepi.
Para tamu undangan, kolega bisnis, petinggi perusahaan dan juga para pimpinan pemerintahan satu persatu mulai pamit. Hari semakin larut membuat udara dingin dengan gampang menusuk kulit. “Ayo cepat, Yah. Kasihan Valerie sendirian di sana,” ucap Vivian panik. Setelah sekian lama dia mengabaikan putrinya demi reputasi keluarga, sekarang rasa paniknya pecah menjadi tangisan kecil. “Iya Ayah tahu. Ayo kita ke sana sama-sama.” Saat itu, di bridal room hanya ada mereka dan Rosélia. Gadis itu terlihat lemah dan sangat pucat. Rosélia menumpukan badannya pada salah satu meja di sana saat dirasa tubuhnya hendak limbung. Gadis itu memegang kepalanya, memijatnya ringan berharap rasa peningnya bisa sedikit berkurang. “Ayah.” Panggilan Rosélia tak hanya menarik atensi Evander, tapi juga Viviane. Pandangannya berubah tajam pada Rosélia. “Kepalaku sedikit pening,” ucapnya. Bersamaan dengan selesainya ucapan Rosélia, darah segar dari hidungnya kembali menetes, kali ini lebih banyak dari sebelumnya. “Rosélia aku tahu kamu hanya ingin menarik perhatian Ayahmu. Tapi waktunya tidak tepat,” ucap Viviane. Bahkan di saat dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana darah itu menetes tak ada henti. “Valerie lebih membutuhkan Ayahnya sekarang. Entah bagaimana keadaannya saat ini, dan kita tidak ada di sana,” lirihnya sambil memohon pada sang suami. “Sudahlah, biarkan saja Rosélia. Dia tidak apa-apa. Lebih baik kita segera ke rumah sakit sekarang,” jawab Evander. Sepasang manik legam itu menatap tajam Rosélia. “Kamu sudah dewasa! Urus dirimu sendiri!” Setelah mengatakannya, hanya sepi yang hadir. Rosélia kembali ditinggalkan dalam sepi dengan keadaan yang jauh dari kata baik-baik saja. Saat kesadarannya terkikis, pintu bride room terbuka dengan kasar. Sosok berbadan tinggi, berahang tegas dan masih memakai setelah tuxedo itu berdiri di ambang pintu. Rosélia memaksakan dirinya untuk menengadah, melihat siapa yang datang dengan harapan bisa dia mintai pertolongan. “Kenapa kamu lakukan ini?” Ucapannya pelan namun menusuk. Pria itu, Maverick mendekati Rosélia yang masih berpegangan pada meja. “Kenapa kamu dengan mudah menerima pernikahan ini?!” Bersamaan dengan teriakan Maverick, suara pecahan vas bunga menghantam indera pendengarannya. Pria itu pelakunya, dengan seluruh emosi, Maverick melempar sembarang vas bunga yang ada di atas meja. Rosélia terlonjak, bukan hanya terkejut, tapi serpihan vas itu tak sengaja sedikit menggores kaki jenjangnya. Dia meringis ngilu sambil tetap menahan keseimbangan badannya. “Jawab aku, Rosélia!” Suara itu semakin meninggi. Telinga Rosélia berdengung dibuatnya. “Aku sudah berusaha semampuku untuk menolak. Tapi mereka memaksaku. Ini hanya sementara,” jawab Rosélia. “Cih, aku tahu bagaimana antusiasnya mereka menunggu pernikahan ini. Mana mungkin mereka mengambil keputusan separah menggantikan Valerie dengan dirimu,” jawab Maverick cukup menusuk. “Valerie pingsan saat hendak masuk venue. Semua panik dan keluarga kita tidak ingin mengambil resiko membatalkan acara. Semua tamu sudah datang termasuk tamu VIP dan VVIP. Aku sudah berusaha menolak sebisaku, tapi mereka tetap memaksa,” jelasnya. Saking bingungnya, air mata Rosélia bahkan sudah menetes deras di pipinya. Bukan hanya bingung, tapi gadis itu juga menahan sakit di kepala dan kakinya. “Dan kenapa Valerie bisa pingsan?” Maverick semakin marah saat mengingat jika Valerie berada di rumah sakit saat ini. Rosélia menggeleng karena memang dia sama sekali tidak tahu. “Dia tiba-tiba tak sadarkan diri saat hendak masuk ke venue,” jawabnya. “Aarghhh.” Maverick mengacak rambutnya. Satu vas bunga kembali menjadi korban sekaligus keributan terakhir di bride room sebelum pria itu melangkah dengan cepat keluar dari sana. Tak ada rasa iba atau sekedar rasa kemanusiaan untuk menolong Rosélia. Padahal Maverick melihat sendiri bagaimana keadaan gadis itu. Dengan terpaksa, Rosélia berjalan sendirian, keluar dari sana. Tujuannya juga rumah sakit. Peningnya agak lebih parah dari biasanya, dia harus menemui dokter untuk berkonsultasi atau sekedar meminta vitamin. “Nyonya, Anda baik-baik saja?” Salah satu staf bertanya. Mungkin dia melihat keadaan Rosélia yang tidak baik-baik saja, pun gadis itu berjalan tertatih. “Kepalaku agak pening.. Boleh tolong papah aku sampai depan,” pinta Rosélia. “Tentu saja, tunggu sebentar saya akan menyimpan ini terlebih dulu,” jawabnya sambil menunjukan sebuah nampan yang dia bawa. Tak lama, hanya sekitar satu menit sampai staf wanita itu kembali ke sana. “Silahkan, Nyonya.” Semesta masih berbaik hati mengirimkan penolong untuknya. * Keheningan menjadi ciri khas dari tempat ini. Aroma obat-obatan dan ruangan serba putih semakin menunjukkan di mana mereka berada saat ini. Di depan brankar di mana Valerie terbaring lemah, mata terpejam dan wajah yang pucat. Tuan dan Nyonya Deveraux, Kakek Nenek Valerie, dan Maverick kecuali orang tua Maverick yang tak bisa datang karena ada jadwal lain. Mereka harap-harap cemas menunggu kesadaran sang kesayangan. “Tuan Evander, bisa bicara sebentar… tentang kondisi putri Anda.” Seorang dokter seumurannya memanggil di tengah keheningan mereka. Evander dan Viviane mengikuti langkah pria ber-snelly putih itu untuk berbicara di luar ruangan agar Valerie tidak merasa terganggu. “Setelah pemeriksaan, saya menduga hal ini terjadi karena dia terlambat mengonsumsi obatnya. Apakah belakangan dia berhenti meminumnya?” ujar Dokter itu. “Sore tadi saya mengingatkannya untuk minum obat. Tapi, setelah itu saya pergi keluar, jadi saya tidak melihat dia meminumnya atau tidak.” Viviane menjawab. Dia merasa menyesal tak memastikan Valerie meminum obatnya lebih dulu sebelum pergi tadi. Dokter itu mengangguk. “Hasil sementara hanya itu. Setelah ini kami akan pantau terus kondisinya.” “Tapi kondisinya sekarang…” Evander menggantung ucapannya menunggu Dokter yang menjawab. “Beliau koma saat ini. Penyakit jantung yang diderita Beliau memang membutuhkan kontrol cairan dan tekanan darah yang sangat ketat melalui obat-obatan setiap harinya. Ketika ada jeda atau keterlambatan dalam konsumsi obat tersebut, beban kerja jantung meningkat secara drastis dalam waktu singkat, yang memicu kondisi darurat ini." Ada jeda sejenak dalam penjelasannya. “Kami akan memantau respons jantung dan fungsi saraf otaknya dalam 24 hingga 72 jam ke depan. Kami akan melihat apakah ada refleks mata, respons nyeri, atau tanda-tanda kesadaran yang membaik seiring dengan jantungnya yang mulai stabil. Kami meminta kerja sama dan doa dari keluarga." Dokter itu mengakhiri penjelasannya. “Lakukan yang terbaik untuk putri saya, Dok. Saya akan berikan apapun,” ucap Evander memohon. “Pasti, saya pasti akan melakukan yang terbaik.” Bersamaan dengan kepergian sang Dokter, Rosélia datang dengan tertatih. Luka di kakinya sudah dibalut kasa dan rasa peningnya sudah lebih baik saat ini. “Tapi aku yakin tadi Valerie memegang pouch obatnya,” ucap Viviane pelan. Tatapan mereka bersirobok dengan Rosélia yang baru tiba. “Bagaimana keadaan Valerie?” tanyanya. “Sedang apa kamu di sini? Semua selalu kacau jika melibatkanmu, Rosélia!” Rasa panik, takut dan khawatir Viviane memicu emosinya yang kemudian dia lampiaskan pada Rosélia. “Apa salahku? Aku tidak melakukan apa-apa,” jawabnya. Maverick, Theodore dan Eleanora keluar dari ruangan Valerie. “Maverick, apa sebelum kamu ke sini kamu melihat pouch obat di bride room?” tanya Viviane. Maverick menggeleng karena dia memang tidak melihatnya. Viviane dengan cepat mengobrak-abrik isi tas Valerie. Kosong, tak ada. “Jika di sana tak ada, lalu di mana obat milik Valerie?” Semua mata spontan memandang Rosélia. Yang mereka tahu, hanya Rosélia satu-satunya yang memiliki motif untuk melakukannya karena mereka hanya tahu Rosélia tak menyukai Valerie. “Apa?” cicit Roselia. “Berikan tasmu!” Viviane merebut tas tangan Rosélia, membalik dan mengeluarkan semua isinya. Semuanya tertegun saat pouch obat itu jatuh dari tas Rosélia, begitu juga dengan sang pemilik tas. “A-aku tidak melakukannya. A-aku t-tidak tahu,” ucap Rosélia tergagap. Perlahan kakinya berjalan mundur, tubuhnya lemas, kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya dan dia duduk terjatuh bersamaan dengan air matanya yang kembali terjatuh pula.Tiga hari kemarin Maverick menghabiskan waktunya di Zurich. Cukup banyak pengalaman dan hal baru yang dia dapatkan. Dan hari ini untuk dua hari ke depan, dia akan menghabiskan waktu di Basel. Dia datang ke sebuah kompleks bangunan modern. Dinding-inding kaca, baja dan beton membentuk garis-garis tegak yang tampak sederhana tapi memiliki karekter kuat. Bangunan unik berbentuk geometris.Di sana, Maverick mempelajari inovasi salah satunya bentuk bangunan. Selain itu Maverick juga mempelajari efisiensi yang dapat dia lihat dari hampir tidak ada lampu yang menyala karena pencahayaan alami dari skylight di langit-langit.Maverick tak sendirian, dia di sana bersama dengan Felix, seorang CEO perusahaan konstruksi yang sudah banyak membangun bangunan-bangunan unik dan mewah di Swiss.Ketiganya akhirnya tiba di atap gedung yang hampir dipenuhi dengan panel surya."Tidak salah aku datang ke sini. Terima kasih atas bantuanmu. Aku harap aku tidak merepotkanmu," ucap Maverick."Tentu saja tidak.
Setelah lima tahun berlalu, persaingan pasar properti belakangan menjadi semakin ketat. Banyak perusahaan properti baru yang sudah berkembang pesat.Banyaknya karyawan muda di perusahaan tersebut membuat Ashbourne Holdings sedikit tertinggal karena sebagian besar desain dan konsep yang mereka miliki bisa dibilang kuno dan tidak kekinian.Beberapa minggu ini Maverick memutar otak untuk mengubah konsep mereka menjadi lebih unik namun tetap memiliki identitas sebagai Ashbourne Holdings. Berulang kali dia menulis konsep baru, kemudian menghapusnya lagi saat dirasa tidak sesuai. Terus seperti itu hingga dia berkunjung ke Atelier De Rosélia.Salah satu lukisan milik Rosélia berhasil mendatangkan ide pada Maverick. Sebuah lukisan bangunan klasik yang bersanding dengan panorama senja di sebuah padang rumput hijau."Mungkin aku harus bepergian agar bisa mendapatkan inspirasi lebih banyak," desisnya. "Bangunan klasik…" sambungnya. Matanya berbinar seolah dia mendapatkan ide. Pria itu bergegas
“Elodie ganti bajunya ya. Mom akan siapkan makan siang,” ucap Rosélia begitu mereka tiba di rumah.Gadis kecil itu tak banyak membantah. Dia berjalan menuju kamarnya dengan tas kecil di gendongannya.Sesekali dia berbalik mengkhawatirkan sang ibu. Namun tak ingin membantah, Elodie memilih mengganti bajunya dulu sebelum nanti menghampiri Rosélia.Sementara itu, sepeninggalan Elodie, tubuh Rosélia luruh. Dia mendudukkan dirinya di kursi yang terletak di depan jendela. Rasanya dia tak sanggup berjalan lebih jauh. Tangannya meraih pitcher kaca dan menuangkan air ke dalam gelas yang ada di atas meja di hadapannya.Tangannya begitu gemetar saat melakukannya. Ingatannya kembali ke masa lalu. Dia pernah merasakannya. Kekerasan yang bukan hanya secara verbal tapi juga fisik.“Maverick,” desisnya.Nama yang sudah lama tidak dia panggil, sudah lama tidak keluar dari mulutnta dan nama yang berhasil menghancurkan hidupnya dengan sempurna, akhirnya detik ini dia kembali mengucapkannya setelah meli
“Siapa Ayah Elodie, Mom?” Pertanyaan itu terus saja terngiang dalam ingatannya. Saat itu, Rosélia sama sekali tak bisa menjawab, dia hanya diam seribu bahasa.Beruntung, Cordelia cepat mengalihkan perhatian anak itu dan mengajaknya untuk segera pergi ke sekolah.“Jangan terlalu di pikirkan. Dia juga akan lupa nanti,” ucap Bastian. Dia tahu jika Rosélia tak fokus karena pertanyaan anaknya beberapa jam lalu.Saat ini, Rosélia tengah duduk menghadap kanvas dan pemandangan pegunungan di balik jendela. Indah, namun keindahan itu sempat teralihkan sesaat oleh pikirannya Rosélia tersadar oleh ucapan Bastian. Lantas dia tersenyum simpul dan mengangguk sebagai balasan.“Mau jalan-jalan hari ini? Mumpung aku libur?” ajak Bastian.“Boleh, mau ke mana?” Rosélia sangat beruntung. Bastian selalu ada di sisinya sejak dulu. Tak pernah pergi meski beberapa kali Rosélia menolak ajakannya untuk menjalin kasih.“Kita cari galeri yang belum pernah kita kunjungi,” jawab Bastian. Dan Bastian selalu tahu
Beberapa bulan terakhir, perasaan Rosélia terasa begitu tak enak. Hubungannya yang baru seumur jagung dengan Bastian entah mengapa membuat Rosélia merasa begitu bersalah pada pria itu.Sekitar empat bulan lalu, akhirnya Rosélia mengiyakan ajakan Bastian untuk menjalin kasih, setelah permintaan itu datang dari Bastian bertahun-tahun lamanya. Saat itu Bastian bahagia bukan main karena akhirnya Rosélia bisa menjadi miliknya. Belum seutuhnya, tapi setidaknya mereka sudah satu langkah lebih maju dari sebelumnya.Rosélia berusaha, berusaha memberikan hatinya seutuhnya hanya untuk Bastian.Setelah lamunan singkat dibersamai dengan suasana sejuk di pagi hari, Rosélia kembali fokus pada kegiatannya. Dia kembali menyiapkan sarapan untuk Bastian dan Elodie."Selamat pagi," sapa Bastian. Seperti biasa, pria itu sudah mandi. Namun kali ini dia tidak mengenakan snelly dan pakaian kerjanya. Dia hanya berpakaian santai."Pagi," jawab Rosélia menoleh sejenak sebelum kemudian dia kembali pada sarapanny
Lima tahun kemudian…Interlaken menyambut dengan ketenangan yang terasa asing bagi siapapun yang terbiasa hidup dalam hiruk-pikuk kota. Hamparan padang rumput hijau membentang disela bangunan yang didominasi oleh kayu berwarna coklat. Di kejauhan, puncak Jungfrau yang diselimuti salju berdiri anggun.Sungai dengan air sebening kristal. Permukaannya memantulkan langit Swiss yang bersih tanpa cela. Denting lonceng yang berpadu dengan suara kereta yang melintas seolah lagu yang berbisik syahdu di telinga.Orang-orang berjalan santai, beberapa menggayuh sepeda dan sebagian duduk di kafe atau di teras rumah ditemani dengan secangkir kopi hangat.Seperti seorang wanita yang tersenyum manis dengan secangkir kopi di tangannya, sementara itu tatapan hangatnya begitu fokus pada seorang gadis kecil dengan rambut terurai. Gadis kecil itu berlarian mengejar seekor kupu-kupu di halaman rumah. Di bagian sudut kanan rumah terdapat pohon cukup besar dilengkapi dengan ayunan tempat lain gadis itu berm
Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana. Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja he
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal
Suara musik bernuansa sakral mulai menggema di ruangan yang begitu luas dan ramai oleh tamu undangan. Namun, hal itu tidak membuat ke-khidmatan acara berkurang. Di atas altar, Maverick belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu jika hari ini bukan sang belahan jiwa yang akan dia nikahi, dia tidak tahu jik







