Share

Chapter 03

last update publish date: 2026-05-19 09:39:08

Paksaan dari keluarga sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari Rosélia. Dia dipaksa untuk mulai terbiasa dengan semua itu, dia dipaksa untuk memaklumi keluarganya dan dia dipaksa untuk selalu mematuhi titah mereka.

Rosélia lelah, ingin berontak, ingin hidup dengan tenang seperti yang lain. Tapi, lagi-lagi dia tak bisa. Hidupnya serasa dirantai oleh rasa bersalah karena kematian sang Ibu, ditambah validasi yang selalu Ayahnya ucapkan sehingga membuat Rosélia percaya jika dia pembunuhnya.

Maka, malam ini pun sama. Rosélia tidak diizinkan memilih atau menggunakan alasannya untuk tidak datang ke acara makan malam yang diadakan keluarganya. Namun, biarkan kali ini dia menggunakan sedikit waktunya untuk egois. Akan dia selesaikan dulu urusannya sebelum pergi ke acara makan malam di rumahnya.

Sesekali diliriknya jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum kemudian fokusnya kembali pada ramainya jalan di malam hari.

"Hanya terlambat setengah jam. Tidak apa-apa, bukan?" ucapnya. Sebaris keheninganlah yang menjawab pertanyaannya. Dia kembali menginjak pedal gas berusaha untuk lebih cepat tiba di rumahnya atau dia akan mendapatkan amukan dari Ayahnya.

Begitu tiba, tentu saja bukan uluran tangan dan sambutan hangat yang dia dapatkan, melaikan tatapan tajam dan sinis dari dari Ayah dan Ibu Tirinya. Namun, ada satu orang yang segera menghampirinya dengan raut wajah yang sumringah.

"Kakak, akhirnya kamu datang juga. Aku nunggu Kakak dari tadi tahu," rengeknya sambil memeluk Rosélia.

Mereka berjalan beriringan ke arah meja makan. Bahkan Valerie juga membantunya menarik kursi untuknya duduk. Rosélia masih diam membisu, tak ada niat untuk membalas semua ucapan adiknya. Baru saja dia dudukan dirinya, cacian sudah dia dapatkan secepat kilat.

"Kamu ini gak punya sopan santun, ya! Kamu terlambat puluhan menit, Rosélia!" bentak Evander. "Bisa-bisanya kamu jadi Dosen di saat kamu gak mementingkan waktu seperti ini!" sambungnya. Belum sempat Rosélia menjawab, amukan lain sudah dia dapatkan.

"Gara-gara kamu telat, Valerie sampai tidak mau memakan makanannya! Dasar menyusahkan!" Viviane ikut menambahkan. Matanya menatap tajam Rosélia.

"Ih, Ibu… sudah. Aku gak apa-apa, kok. Lagian aku paham kalau Kak Rosé sibuk sama pekerjaannya." Rosélia kembali mendengar pembelaan untuknya dengan nada manja itu lagi. Jauh di lubuk hatinya, dia sangat muak. Tapi, dia hanya bisa diam, lebih tepatnya dia memilih diam.

Viviane mengalihkan atensinya pada putri kesayangannya. "Sekarang kamu makan ya, Sayang. Jangan sampai kamu telat minum obat lagi." Wanita paruh baya itu mengusap pipi Valerie. Valerie mengangguk dengan senyumannya.

"Ayo kita makan. Maaf ya, Maverick, kami membuatmu harus menahan lapar," ucap Evander.

"Tidak apa, Tuan. Aku baik-baik saja." 

"Kak Rosé, mau makan apa? Biar aku yang ambilkan," ucap Valerie. Gadis itu sudah siap dengan piring di tangannya.

"Tidak usah, aku bisa sendiri kok." Rosélia mengambil alih piring di tangan Valerie. Hal itu membuat Valerie terlihat sedih. Viviane tentu saja menyadarinya.

"Kamu ini gak tahu diuntung! Valerie cuma mau ambilkan makanan buat kamu saja, kamu tolak mentah-mentah!" 

"Ibu, sudah. Aku gak apa-apa. Ayo kita makan saja." Viviane melayangkan tatapan sinis pada Rosélia begitupun dengan yang lainnya.

Mereka makan malam sambil sesekali sibuk dalam pembicaraan ringan. Siapa yang tahu, ternyata pembicaraan utama dimulai saat mereka telah selesai dengan makanannya.

"Jadi, sudah sejauh mana persiapan pernikahan kalian?" Evander bertanya setelah mengusap sisa-sisa makanan di sekitar bibirnya dengan tisu.

"Soal venue, kemarin kita sudah melihat beberapa dan ada ballroom hotel yang sangat aku sukai, Ayah," jawab Valerie dengan antusias.

"Oh ya? Yang mana?" tanya Evander.

"Ballroom baru di The Horison Hotel sangat bagus. Aku sangat suka chandelier-nya yang besar itu," jawab Valerie. Matanya berbinar membayangkan bagaimana mewahnya ballroom yang kemarin sempat dia kunjungi.

"Menurut kamu bagaimana, Maverick?" Viviane berusaha mendengar tanggapan dari calon menantunya.

"Aku akan ikut apa maunya Valerie, karena dia yang utama." Mendengar jawaban kekasihnya, Valerie tersipu malu. Sementara itu Viviane dan Evander ikut tersenyum mendengarnya. Rosélia? Wanita itu hanya menjadi pendengar yang baik. Lagi pula, masukannya tidak akan diterima di tempat ini.

"Kakak, kalau menurut Kakak bagaimana? Kakak kan paham seni, jadi akan lebih baik kalau aku tanya Kakak untuk unsur estetika." Seperti biasa, nada manja itu kembali terdengar.

Rosélia diam untuk beberapa saat. Terkejut dan juga bingung. Ini bukan ranahnya, tapi kenapa Valerie harus bertanya padanya.

"Kamu bisu? Adikmu bertanya padamu!" bentak Evander.

Rosélia menarik napas dalam-dalam. "Ballroom di The Horison Hotel memang mewah. Tapi, menurutku tempat itu lebih cocok dipakai untuk acara perusahaan atau gala dinner. Kalau untuk pernikahan… menurutku kurang hangat," jawab Rosélia apa adanya.

"Oh… jelek ya?" Lirih Valerie. Matanya sudah memerah dan bibirnya melengkung ke bawah.

"Aku tidak bilang jelek. Itu kan cuma pendapatku saja," jawab Rosélia. 

"Kamu ini emang gak suka ya lihat Valerie bahagia?! Setidaknya di saat dia bahagia seperti ini kamu harus kasih dia dukungan, bukan malah menjatuhkannya seperti ini!" Viviane mengambil alih hingga semua tatapan tertuju padanya.

Membela diri pun sia-sia rasanya. Dia sudah lelah berada dalam posisi seperti ini. Akhirnya Rosélia hanya diam, tak ada lagi kata yang keluar dari bibirnya.

"Sudah-sudah, kita lanjutkan saja," lerai Evander. "Rencananya, kapan pernikahan kalian akan dilaksanakan?" tanyanya.

"Kalau bisa secepatnya, Tuan. Mungkin sekitar tiga sampai empat minggu lagi?" jawab Maverick. Bagi mereka, hanya butuh kesiapan dari diri mereka masing-masing untuk menikah. Sisanya dapat mereka atur belakangan.

"Putri Ibu memang hebat. Kamu sudah mau menikah, dan kamu juga pintar mencari calon menantu untuk Ibu." Pandangannya tertuju pada Maverick. Senyum lembut mengembang begitu saja. "Dia pintar, hebat dan tentu saja tampan," kekehnya.

Semua orang di sana tertawa ringan kecuali Rosélia. Menurutnya tak ada yang lucu dari ucapan Viviane. Jadi, Rosélia hanya diam memandang sisa makanan yang sesekali dia mainkan dengan sendoknya.

"Rosélia!" panggil Evander dengan nada sedikit tinggi.

Wanita yang sedang sibuk dengan dunianya itu terlonjak kemudian menatap Ayahnya. 

"Lihat Adikmu ini! Selain berprestasi di kampusnya, dia juga akan segera menikah. Padahal umurnya jauh di bawah kamu. Kamu tidak ingin menikah?" Pertanyaan ayahnya seolah berhasil membuat detak jantungnya berhenti.

"Iya, jangan sampai kamu itu jadi perawan tua, Rosélia. Apalagi kamu yang terlalu fokus sama kerjaan, nanti membuat kamu sulit dicintai!" timpal Viviane. Henti jantungnya bertambah dengan rasa sakit yang menusuk sedikit demi sedikit. 

"Ibu kamu benar. Mending dari sekarang kamu mencari kekasih. Semakin tua, akan semakin sulit mendapatkan keturunan nanti." 

Kedua tangan Rosélia mengepal erat hingga buku-buku tangannya memutih. Meski begitu, dia berusaha sekuat tenaga untuk mengontrol raut wajah dan emosinya. Rasa sakit yang dia rasakan berkali lipat. Dibanding-bandingkan dengan Valerie bahkan sampai dikatai perawan tua karena belum memiliki pasangan.

Jika sudah seperti ini, rasanya Rosélia tak punya alasan lagi untuk tetap bertahan di bumi ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 08

    “Jangan harap air matamu bisa meluluhkanku, Rosélia,” ucap Maverick tajam. “Jangan bersikap seolah kamu adalah korbannya dan merasa paling menderita,” sambungnya. Kening Rosélia mengernyit bingung. Bukankah memang iya? Dia sepenuhnya menjadi korban atas keegoisan keluarganya.“Lalu menurutmu, jika bukan aku, siapa?” jawab Rosélia. Terselip kekehan tipis dalam ucapannya.“Kamu lupa? Kamu lupa bagaimana keadaan Valerie sekarang? Kamu lupa siapa yang membuatnya koma? Apa kamu juga lupa kalau kamu penyebab adanya pernikahan kita? Kalau bukan kamu yang menyembunyikan obat Valerie, semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Kesimpulannya, Valerie adalah korban dari keegoisanmu itu!” Nada bicaranya meninggi di kalimat terakhir.Rosélia mengangguk-anggukan kepalanya, bukan mengakui, tapi dia lelah dengan semua tuduhan yang tidak pernah dia lakukan.Diraihnya blazer dan juga tasnya kemudian dia menatap Maverick tajam.“Pikirkan apapun yang mau kamu pikirkan. Salahkan aku sebesar yang kamu mau,

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 07

    Revisi dekorasi memakan waktu cukup lama sehingga membuat Rosélia tertahan di venue hingga larut. Tubuhnya sudah lelah, hidungnya juga sudah mengeluarkan darah segar beberapa saat lalu. Hal itu sudah membuktikan jika tubuhnya sudah melebihi batas pertahanannya.Setelah menyeka wajahnya yang basah akibat cuci muka, Rosélia kembali ke tengah venue sambil membenarkan jasnya. “Berapa lama lagi sampai kalian selesai?” tanya Rosélia. Dia sangat berharap bisa selesai lebih cepat dan pulang.“Kami tidak tahu, Nona. Lampu kristal ini agak sulit dilepas. Kami minta maaf,” jawab salah satu staf menyesal.Rosélia mengangguk paham. Dia juga tidak ingin menyepelekan pekerjaan orang lain. Ada kalanya kesalahan teknis terjadi ketika masa-masa genting. “Baiklah, beri tahu aku jika sudah selesai. Aku akan tunggu di sana,” ucapnya sambil menunjuk sudut ruangan. Ada sebuah single sofa di sudut ruangan yang sepertinya belum mereka singkirkan.Rosélia duduk di sana, cukup nyaman dan mampu menenagkan send

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 06

    Hari menjelang pernikahan semakin dekat sehingga persiapan pernikahan juga semakin padat. Hal itu sangat terasa oleh Rosélia karena dia hampir tidak cukup beristirahat sejak beberapa minggu lalu.Rosélia lebih sering pulang larut karena harus mengurus venue, kampus dan juga galeri sekaligus. Tubuhnya mulai memberikan tanda-tanda kelelahan. Sering pusing bahkan beberapa kali dia hampir pingsan. Tapi, tidak ada yang peduli.Besok adalah hari pernikahan Valerie dan Maverick. Itu artinya, hari ini adalah hari terakhir Rosélia menguras tenaga, pikiran dan waktunya untuk persiapan.Matahari sudah kembali ke peraduannya berganti dengan sang pemilik malam yang bersinar terang di langit hitam. Bukannya pulang, Rosélia kembali menuju venue dengan harapan dia tak harus merevisi lagi."Semuanya aman?" Ucapannya menggema begitu suara hak sepatu berhenti. Para staf menoleh dan mengangguk hampir bersamaan. Namun, Rosélia merasa ada yang salah. Diteliti kembali seluruh venue sebelum kemudian dia men

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 05

    Pernikahan bukan sesuatu yang dapat dipermainkan. Kesakralannya layak dihormati dan pelaksanaannya adalah hal yang patut dismbut oleh semua orang, terutama keluarga dari kedua belah pihak. Jika mereka rakyat biasa saja sangat antusias menyambut hari besar yang satu ini, apalagi keluarga Deveraux dan Ashbourne yang notabenenya keluarga ternama, terkenal, tersohor baik dalam dunia bisnis atau status sosial. Pernikahan Maverick Ashbourne dan Valerie Deveraux adalah pernikahan pertama yang akan dilakukan masing-masing keluarga mengingat Maverick adalah anak tunggal dan Kakaknya Valerie, Rosélia belum menikah.Jadi, persiapan dilakukan sematang mungkin dengan konsep semewah yang diinginkan Valerie. Mulai dari dekorasi, layout venue, pemilihan warna dan juga estetika warna, mereka pilih dengan hati-hati."Tak bisakah Kakak kabulkan permintaanku yang satu ini? Ini pernikahan pertama dan terakhirku, aku mau ini special, salah satunya dengan Kakak terlibat dalam dekorasi dan layout venue di

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 04

    Mengisi kelas, menghadiri seminar, melukis, atau datang ke sebuah pameran merupakan keseharian Rosélia dan dia sama sekali tidak keberatan dan merasa lelah dengan kegiatannya. Tetapi, jika Viviane sudah hadir di antara kesibukannya itu, di sanalah Rosélia merasa ingin menghilang dari semesta.Telepon dari keluarganya sudah seperti teror yang terus mengganggu ketenangan hidupnya. Tak jarang Rosélia menolak panggilan-panggilan itu. Tapi, seolah tahu Rosélia melakukannya dengan sengaja, mereka akan kembali menelepon sampai Rosélia mengangkatnya dan memenuhi keinginan mereka.Bola matanya memutar lelah. Seperti yang dia duga, panggilan telepon itu tak akan berhenti sebelum Rosélia mengangkatnya. Maka, dengan berat hati dia menekan tombol hijau di ponselnya."Apa lagi kali ini?" tanya Rosélia lelah."Lama sekali kamu angkat telepon!" Suara Viviane melengking di seberang sana. Namun, Rosélia mengabaikannya, dia in

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 03

    Paksaan dari keluarga sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari Rosélia. Dia dipaksa untuk mulai terbiasa dengan semua itu, dia dipaksa untuk memaklumi keluarganya dan dia dipaksa untuk selalu mematuhi titah mereka.Rosélia lelah, ingin berontak, ingin hidup dengan tenang seperti yang lain. Tapi, lagi-lagi dia tak bisa. Hidupnya serasa dirantai oleh rasa bersalah karena kematian sang Ibu, ditambah validasi yang selalu Ayahnya ucapkan sehingga membuat Rosélia percaya jika dia pembunuhnya.Maka, malam ini pun sama. Rosélia tidak diizinkan memilih atau menggunakan alasannya untuk tidak datang ke acara makan malam yang diadakan keluarganya. Namun, biarkan kali ini dia menggunakan sedikit waktunya untuk egois. Akan dia selesaikan dulu urusannya sebelum pergi ke acara makan malam di rumahnya.Sesekali diliriknya jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum kemudian fokusnya kembali pada ramainya jalan di malam hari."Hanya terlambat setengah jam. Tidak apa-apa, bukan?" ucapn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status