FAZER LOGINPernikahan bukan sesuatu yang dapat dipermainkan. Kesakralannya layak dihormati dan pelaksanaannya adalah hal yang patut dismbut oleh semua orang, terutama keluarga dari kedua belah pihak.
Jika mereka rakyat biasa saja sangat antusias menyambut hari besar yang satu ini, apalagi keluarga Deveraux dan Ashbourne yang notabenenya keluarga ternama, terkenal, tersohor baik dalam dunia bisnis atau status sosial. Pernikahan Maverick Ashbourne dan Valerie Deveraux adalah pernikahan pertama yang akan dilakukan masing-masing keluarga mengingat Maverick adalah anak tunggal dan Kakaknya Valerie, Rosélia belum menikah. Jadi, persiapan dilakukan sematang mungkin dengan konsep semewah yang diinginkan Valerie. Mulai dari dekorasi, layout venue, pemilihan warna dan juga estetika warna, mereka pilih dengan hati-hati. "Tak bisakah Kakak kabulkan permintaanku yang satu ini? Ini pernikahan pertama dan terakhirku, aku mau ini special, salah satunya dengan Kakak terlibat dalam dekorasi dan layout venue di pernikahanku dengan Maverick, ya." Valerie masih berusaha merayu Rosélia agar setuju dengan keinginannya. "Bukan tak mau. Yang pertama, aku sibuk. Dan yang kedua, meski aku seorang seniman, aku tidak berpengalaman dalam dekorasi pernikahan, Valerie. Tolong mengerti aku," jawabnya. Apa yang Rosélia katakan sepenuhnya adalah sebuah kebenaran. Valerie melepaskan pelukannya pada lengan Rosélia. Dia membuang napas berat dan hal itu disaksikan oleh seluruh anggota keluarga Deveraux termasuk Theodore dan Eleanora, Kakek dan Nenek Valerie juga ada di sana. "Rosélia, kamu tidak pernah belajar dari kejadian sebelumnya, ya? Apa kamu lebih mementingkan pekerjaanmu itu daripada keluarga? Mau berapa kali lagi kamu mengenyampingkan keluargamu demi ego kamu itu?! Sampai ada dari kita yang mati lagi, hah?!" Theodore berdiri, bertumpu pada sebua tongkat yang menopang tubuhnya. "Iya, lagipula ini untuk hari special dalam hidup Valeri, satu kali untuk seumur hidup. Anggaplah itu hadiah yang kamu berikan untuk adikmu!" Eleanora tentu saja ada di pihak Theodore. "Tap—" "Tinggal bilang 'iya' apa susahnya, sih?" Viviane menyela sebelum Rosélia menyelesaikan ucapannya. Rosélia menghembuskan napasnya. "Baiklah jika itu mau kalian," jawab Rosélia pada akhirnya. Wanita itu menoleh pada Valerie. "Kirimkan padaku konsep awalmu, aku akan berusaha mewujudkannya." "Yeay! Terima kasih, Kak. Kamu memang yang terbaik! Aku sayang kamu!" seru Valerie sambil berhambur ke dalam pelukan Rosélia. Namun, seperti biasa, Rosélia hanya diam, tidak menerima juga tidak menolak. * Setelah hari di mana Valerie memintanya terlibat dalam dekorasi pernikahannya, Rosélia telah mendapatkan konsep awal yang diinginkan Valeri. Hanya garis besar, untuk detailnya harus dia sendiri yang urus. Rosélia berusaha menyelesaikan pekerjaan kampusnya di siang hari sehingga malamnya dia bisa mengerjakan pernikahan Valerie. Hari sudah mulai larut. Namun, karena Rosélia harus bisa membagi waktunya untuk pekerjaan, jadi untuk membantu pernikahan Valerie, terpaksa dia kerjakan di malam hari. Pakaiannya masih sama dengan siang hari, pertanda dia sama sekali belum pulang ke galerinya. Wanita itu berjalan ke tengah venue dengan tablet di tangannya. Para pekerja masih sibuk menaikkan rangka bunga dan juga lampu kristal yang menggantung tepat di panggung utama. "Turunkan susunan bunga yang ada di sebelah kiri. Komposisinya terlalu berat di satu sisi," ucap Rosélia. Salah satu staf menjawab, "tapi desain awalnya memang sudah seperti ini, Nona." "Itu karena desain awalnya salah. Turunkan!" Rosélia tetap teguh pada pendiriannya. Dia seorang dosen seni dan tentu saja penilaiannya tidak akan salah. Detail artistik sekecil apapun dapat dia lihat meski orang lain tak bisa melihatnya. "Kalau semuanya dibuat sepenuh ini, fokus ruangan hilang. Pernikahan bukan toko bunga," ucapnya. Hal itu tak luput dari perhatian Maverick yang baru datang beberapa saat lalu. Dia tak mendekat, tak juga menjauh. Dia memperhatikan seberapa kompeten dan perfeksionis Rosélia. Sampai dia melihat wanita itu berjalan, duduk di sebuah kursi dan membuka kedua hels-nya. Rosélia memijat pelan kakinya yang pegal. Luka kecil di kaki akibat terlalu lama menggunajuga membuatnya sedikit terganggu. Rambutnya berantakan dan perutnya mengeluarkan bunyi karena belum menyentuh makanan sejak siang. Namun, Rosélia tetap melanjutkan pekerjaannya. "Dia terlalu memaksakan diri," ucap Maverick pelan. "Sayang, ayo!" Valerie datang dari belakang Maverick. Maverick menoleh, cukup terkejut akan kedatangannya, padalah mereka berangkat bersama tadi. "Sudah?" tanya Maverick yang dibalas dengan anggukan dari calon suaminya. Wajah Valerie terlihat lebih segar daripada sebelumnya. "Padalah tanpa touch up pun kamu sudah cantik, Sayang," ujar Maverick, tangannya terangkat untuk mengelus surai Valerie. Yang mendapatkan perlakuan manis seperti itu tentu saja tersipu. "Sudah, ah. Ayo!" Valerie berjalan mendahului Maverick menuju Rosélia yang masih duduk di salah satu kursi dengan kaki telanjangnya. "Kakak!" serunya sampai membuat Rosélia cukup terkejut. "Sedang apa kamu di sini?" tanya Rosélia. Valerie mencebikan bibirnya merasa Rosélia tak mengharapkan kehadirannya. "Ini kan acara pernikahanku, aku juga mau lihat bagaimana prosesnya," jawabnya. "Aku berjanji kamu tidak akan kecewa, jadi sekarang pulanglah. Jangan terlalu lelah atau kamu akan sakit lagi." Bukan kepedulian pada seorang adik, tapi Rosélia tahu jika penyakit Valerie kambuh, entah apapun penyebabnya, dia yang akan disalahkan. Bukan takut, tapi dia sudah lelah mendengar semua cacian yang menyalahkannya atas apa yang tidak dia lakukan sama sekali. Sementara itu, mata Valerie memerah, air sudah menggenang di pelupuk matanya, bibirnya melengkung siap mengeluarkan rengekan yang sudah sangat Rosélia hafal. "Kak, Kakak anggap aku selemah itu, ya? Apa karena aku penyakitan?" isaknya. "Sayang, sstt jangan menangis," ucap Maverick menenangkan. Pria itu sudah merangkul Valerie. Rosélia memejamkan matanya, tangannya terangkat memijat pelipis yang sebenarnya sudah sejak tadi terasa sakit. "Valerie aku mohon kali ini saja jangan membuatku dalam posisi sulit, ya." "Jadi, selama ini aku menyulitkan Kakak?" "Ah bukan begitu." Rosélia sudah tidak mengerti lagi bagaimana dia harus menyampaikan isi hatinya pada Valeri. "Lebih baik sekarang kamu pulang," mohonnya. Valerie mengangguk, air matanya sudah mengalir. Tak ada gunanya dia membenarkan riasan wajahnya tadi jika sekarang akan terhapus lagi. "Baik, aku akan pulang. Maaf ya kalau aku bikin Kakak kesulitan." Valerie pergi tanpa menunggu Maverick. Sementara itu, Maverick memandang tajam Rosélia, rahangnya mengeras dan kedua tangannya sudah mengepal erat. "Rosélia, asal kamu tahu, Valerie sangat menyayangimu, tapi malah ini yang kamu berikan padanya? Kamu tahu, seberapa sering dia menangis karenamu? Dia bahkan sering berkata dengan sedih bahwa mungkin kamu tidak menyayanginya. Perbaiki sikapmu sebelum kesabaranku habis." Setelah mengatakannya, Maverick pergi melangkah untuk menghampiri Valerie. Rosélia? Wanita itu juga ingin menangis. Selain fisiknya, batinnya juga lelah. Tapi, dia berusaha sekuat tenaga agar air mata itu tidak keluar. Rosélia menghela napas, acara pernikahan Valerie akan segera datang dan itu berarti dirinya kembali dipastikan menjadi bahan cibiran keluarga besar, perempuan yang usianya terus bertambah tetapi belum juga memiliki pasangan, si anak pembawa sial yang bahkan dianggap tidak pantas mendapatkan kebahagiaan lebih dulu dibanding adiknya yang sakit-sakitan. Entah sudah berapa kali dia mendengar bisikan tentang dirinya sebagai perawan tua setiap kali acara keluarga berlangsung, seolah nilai hidup seorang wanita hanya diukur dari siapa yang menikahinya. Namun, lagi-lagi Rosélia memilih diam. Hari itu tubuhnya terasa sangat lelah saat tangannya masih sibuk mengatur dekorasi gedung pernikahan Valerie seorang diri, memindahkan bunga, mengecek susunan meja dan memastikan setiap detail terlihat sempurna. Punggungnya nyeri, kepalanya berdenyut pelan, tetapi tidak ada pilihan selain terus bergerak. Bagaimanapun juga, jika acara itu sedikit saja berantakan, maka dirinyalah orang pertama yang akan disalahkan.“Jangan harap air matamu bisa meluluhkanku, Rosélia,” ucap Maverick tajam. “Jangan bersikap seolah kamu adalah korbannya dan merasa paling menderita,” sambungnya. Kening Rosélia mengernyit bingung. Bukankah memang iya? Dia sepenuhnya menjadi korban atas keegoisan keluarganya.“Lalu menurutmu, jika bukan aku, siapa?” jawab Rosélia. Terselip kekehan tipis dalam ucapannya.“Kamu lupa? Kamu lupa bagaimana keadaan Valerie sekarang? Kamu lupa siapa yang membuatnya koma? Apa kamu juga lupa kalau kamu penyebab adanya pernikahan kita? Kalau bukan kamu yang menyembunyikan obat Valerie, semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Kesimpulannya, Valerie adalah korban dari keegoisanmu itu!” Nada bicaranya meninggi di kalimat terakhir.Rosélia mengangguk-anggukan kepalanya, bukan mengakui, tapi dia lelah dengan semua tuduhan yang tidak pernah dia lakukan.Diraihnya blazer dan juga tasnya kemudian dia menatap Maverick tajam.“Pikirkan apapun yang mau kamu pikirkan. Salahkan aku sebesar yang kamu mau,
Revisi dekorasi memakan waktu cukup lama sehingga membuat Rosélia tertahan di venue hingga larut. Tubuhnya sudah lelah, hidungnya juga sudah mengeluarkan darah segar beberapa saat lalu. Hal itu sudah membuktikan jika tubuhnya sudah melebihi batas pertahanannya.Setelah menyeka wajahnya yang basah akibat cuci muka, Rosélia kembali ke tengah venue sambil membenarkan jasnya. “Berapa lama lagi sampai kalian selesai?” tanya Rosélia. Dia sangat berharap bisa selesai lebih cepat dan pulang.“Kami tidak tahu, Nona. Lampu kristal ini agak sulit dilepas. Kami minta maaf,” jawab salah satu staf menyesal.Rosélia mengangguk paham. Dia juga tidak ingin menyepelekan pekerjaan orang lain. Ada kalanya kesalahan teknis terjadi ketika masa-masa genting. “Baiklah, beri tahu aku jika sudah selesai. Aku akan tunggu di sana,” ucapnya sambil menunjuk sudut ruangan. Ada sebuah single sofa di sudut ruangan yang sepertinya belum mereka singkirkan.Rosélia duduk di sana, cukup nyaman dan mampu menenagkan send
Hari menjelang pernikahan semakin dekat sehingga persiapan pernikahan juga semakin padat. Hal itu sangat terasa oleh Rosélia karena dia hampir tidak cukup beristirahat sejak beberapa minggu lalu.Rosélia lebih sering pulang larut karena harus mengurus venue, kampus dan juga galeri sekaligus. Tubuhnya mulai memberikan tanda-tanda kelelahan. Sering pusing bahkan beberapa kali dia hampir pingsan. Tapi, tidak ada yang peduli.Besok adalah hari pernikahan Valerie dan Maverick. Itu artinya, hari ini adalah hari terakhir Rosélia menguras tenaga, pikiran dan waktunya untuk persiapan.Matahari sudah kembali ke peraduannya berganti dengan sang pemilik malam yang bersinar terang di langit hitam. Bukannya pulang, Rosélia kembali menuju venue dengan harapan dia tak harus merevisi lagi."Semuanya aman?" Ucapannya menggema begitu suara hak sepatu berhenti. Para staf menoleh dan mengangguk hampir bersamaan. Namun, Rosélia merasa ada yang salah. Diteliti kembali seluruh venue sebelum kemudian dia men
Pernikahan bukan sesuatu yang dapat dipermainkan. Kesakralannya layak dihormati dan pelaksanaannya adalah hal yang patut dismbut oleh semua orang, terutama keluarga dari kedua belah pihak. Jika mereka rakyat biasa saja sangat antusias menyambut hari besar yang satu ini, apalagi keluarga Deveraux dan Ashbourne yang notabenenya keluarga ternama, terkenal, tersohor baik dalam dunia bisnis atau status sosial. Pernikahan Maverick Ashbourne dan Valerie Deveraux adalah pernikahan pertama yang akan dilakukan masing-masing keluarga mengingat Maverick adalah anak tunggal dan Kakaknya Valerie, Rosélia belum menikah.Jadi, persiapan dilakukan sematang mungkin dengan konsep semewah yang diinginkan Valerie. Mulai dari dekorasi, layout venue, pemilihan warna dan juga estetika warna, mereka pilih dengan hati-hati."Tak bisakah Kakak kabulkan permintaanku yang satu ini? Ini pernikahan pertama dan terakhirku, aku mau ini special, salah satunya dengan Kakak terlibat dalam dekorasi dan layout venue di
Mengisi kelas, menghadiri seminar, melukis, atau datang ke sebuah pameran merupakan keseharian Rosélia dan dia sama sekali tidak keberatan dan merasa lelah dengan kegiatannya. Tetapi, jika Viviane sudah hadir di antara kesibukannya itu, di sanalah Rosélia merasa ingin menghilang dari semesta.Telepon dari keluarganya sudah seperti teror yang terus mengganggu ketenangan hidupnya. Tak jarang Rosélia menolak panggilan-panggilan itu. Tapi, seolah tahu Rosélia melakukannya dengan sengaja, mereka akan kembali menelepon sampai Rosélia mengangkatnya dan memenuhi keinginan mereka.Bola matanya memutar lelah. Seperti yang dia duga, panggilan telepon itu tak akan berhenti sebelum Rosélia mengangkatnya. Maka, dengan berat hati dia menekan tombol hijau di ponselnya."Apa lagi kali ini?" tanya Rosélia lelah."Lama sekali kamu angkat telepon!" Suara Viviane melengking di seberang sana. Namun, Rosélia mengabaikannya, dia in
Paksaan dari keluarga sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari Rosélia. Dia dipaksa untuk mulai terbiasa dengan semua itu, dia dipaksa untuk memaklumi keluarganya dan dia dipaksa untuk selalu mematuhi titah mereka.Rosélia lelah, ingin berontak, ingin hidup dengan tenang seperti yang lain. Tapi, lagi-lagi dia tak bisa. Hidupnya serasa dirantai oleh rasa bersalah karena kematian sang Ibu, ditambah validasi yang selalu Ayahnya ucapkan sehingga membuat Rosélia percaya jika dia pembunuhnya.Maka, malam ini pun sama. Rosélia tidak diizinkan memilih atau menggunakan alasannya untuk tidak datang ke acara makan malam yang diadakan keluarganya. Namun, biarkan kali ini dia menggunakan sedikit waktunya untuk egois. Akan dia selesaikan dulu urusannya sebelum pergi ke acara makan malam di rumahnya.Sesekali diliriknya jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum kemudian fokusnya kembali pada ramainya jalan di malam hari."Hanya terlambat setengah jam. Tidak apa-apa, bukan?" ucapn







