MasukLangkah kaki itu menggema di sepanjang koridor rumah sakit jiwa, tidak hanya Sambara yang menunjukkan raut wajah cemas, tetapi Agnira pun sama. Mereka sama-sama bergerak cepat menghampiri petugas rumah sakit yang berjaga.
"Bagaimana bisa adik saya pergi?!" hardik Sambara, sorot matanya begitu tajam.Dokter tertegun sekilas, lalu berdeham pelan. "Maaf Tuan Sambara, tapi ini di luar kendali kami."Sambara dengan cepat meraih kerah kemeja dokter di depannya. Ia mencenAngin laut begitu kencang saat Agnira sampai di pesisir pantai. Langit terlihat menghitam di atas sana dengan guntur yang saling bersahutan, udara semakin dingin dengan cuaca yang memburuk."Bagaimana Bu? Apa kita menunggu pak Sambara saja?" tanya Kenan sekali lagi. Agnira terdiam. Mereka hanya berdua terlebih Kenan tidak dapat diandalkan jika harus beradu kepala tangan, Nayara pun sulit di hubungi, dia juga tidak mempunyai nomor ponsel Sambara, semua semakin runyam saat guntur di atas sana berubah menjadi butiran air kecil yang semakin besar.Hujan turun, mengguyur tubuh Agnira. Bukan masuk kembali ke dalam mobil, wanita itu malah berjalan cepat ke arah pohon lebat yang tidak jauh dari kendaraannya. "Bu, sebaiknya kita pulang saja, ini biar menjadi urusan pak Sambara." Kenan mencoba memperingati. Entah kenapa perasaannya tidak tenang."Ck, kita nggak bisa menunggu Sambara, lagipula dia tidak tahu kita berada di sini!" teriak Agnira, su
Mobil milik Agnira melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, membelah jalanan ramai ibukota, menyalip beberapa kendaraan di depannya. Agnira meremas kedua tangan dengan kuat, jantungnya berpacu cepat saat alamat yang tertera di kertas membuat ia mengingat kejadian tiga tahun lalu."Bu, sebaiknya Anda hubungi Pak Sambara." Kenan berusaha fokus pada jalanan di depannya, sesekali ia melihat Agnira dari balik kaca spion."Iya, kamu benar." Agnira dengan cepat menggulir nomor yang tertera, namun tidak mendapati nomor suaminya. Wanita itu meringis pelan, saat menyadari bahwa ia tidak menyimpan nomor ponsel Sambara."Sial," desis Agnira pelan. "Aku tidak menyimpan nomor ponselnya." Kenan tercengang mendengar ungkapan Agnira, bagaimana bisa suami istri tidak saling menyimpan nomor ponsel? Pria itu menarik napas dalam, lalu menyerahkan ponselnya pada Agnira."Coba hubungi Nayara lewat ponsel saya Bu." Agnira mengeryit heran,
Langkah kaki itu menggema di sepanjang koridor rumah sakit jiwa, tidak hanya Sambara yang menunjukkan raut wajah cemas, tetapi Agnira pun sama. Mereka sama-sama bergerak cepat menghampiri petugas rumah sakit yang berjaga."Bagaimana bisa adik saya pergi?!" hardik Sambara, sorot matanya begitu tajam.Dokter tertegun sekilas, lalu berdeham pelan. "Maaf Tuan Sambara, tapi ini di luar kendali kami." Sambara dengan cepat meraih kerah kemeja dokter di depannya. Ia mencengkeram erat kerah kemeja itu dan mendorong tubuh dokter, hingga terbanting ke arah dinding."Di luar kendali? Saya membayar kalian untuk menjaga adik saya! Kenapa bisa kalian mengatakan di luar kendali!" teriak Sambara kehilangan kesabaran. Suaranya menggema di lorong rumah sakit yang lenggang."Dengarkan ini baik-baik, jika sesuatu terjadi pada adik saya. Maka saya pastikan rumah sakit ini di tutup seketika," ujar Sambara dingin, ia mencabut name tag dokter itu begitu saja. "
"Agnira," panggil Sambara pelan.Agnira yang hendak masuk ke dalam kamar mengurungkan niatnya, ia berbalik dan menatap sepenuhnya pada pria itu. Wanita itu menunggu, namun Sambara malah terdiam."Selamat beristirahat," ucap Sambara pelan.Agnira hanya mengangguk lemah, ia memang sudah lelah. Kehidupan tenangnya mungkin sudah tidak akan ada lagi, terlebih karena dia memilih berperang dengan Kirana, adik ipar gila yang tiga tahun lalu membuat ulah cukup besar.Tubuh Agnira terhempas pelan ke arah ranjang, memantul ringan dan menenggelamkannya pada balutan empuk itu. Sedangkan di kamar lain, Sambara terlihat memandang langit malam, pikirannya masih tertuju pada Nana, adik satu-satunya yang ia jaga.Sejak kecil, Nana dan Sambara memang hidup terpisah akibat perceraian orang tua mereka. Nana ikut bersama ibunya, sementara Sambara ikut bersama ayahnya ke Belanda. Pria itu tidak tahu apa yang selama ini menimpa adiknya, sampai saat ayahnya menin
"Minumlah dulu." Sambara memberikan satu botol air putih pada istrinya.Kini, mereka duduk diam di depan rumah sakit jiwa. Termenung dan memikirkan satu nama–Nana. Helaan napas berat terdengar dari mulut Agnira, dari semua yang terjadi, Agnira terlihat paling tertekan."Sampai kapan kau akan menutupi ini semua?" tanya Agnira, melirik kecil pada Sambara."Saya sudah mengatakan sejak awal, tidak akan ada yang bisa merubah keputusan saya." Sambara berucap dingin, ia meraih kembali air minum Agnira dan membuka penutup botolnya.Perhatian kecil yang membuat perasaan Agnira menghangat. Pria di depannya ini tidaklah jahat, selama tiga tahun ia tinggal bersama, tidak pernah sekalipun Sambara memperlakukannya buruk. Ia hanya diabaikan tanpa pernah benar-benar dianggap ada, hanya itu dan selebihnya tidak ada lagi.Mungkin karena memang permintaan Agnira sejak awal seperti itu. Mereka menjalani hidup simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. Agnir
Mobil Agnira berhenti tepat di depan sebuah gedung rumah sakit jiwa. Bangunan itu menjulang pucat, catnya kusam seolah telah lama menyerah pada waktu. Jendela-jendelanya tertutup jeruji, sebagian tirainya tergerai setengah, memperlihatkan bayangan samar di baliknya. Agnira melangkah masuk lebih dalam. Kenan begitu setia mengikuti dari belakang, selalu bersiaga menjaga atasannya itu.Agnira berhenti melangkahkan, matanya melirik kecil ke arah taman yang berada di tengah-tengah rumah sakit ini. Di sana terduduk seseorang yang ia kenal, gadis muda yang dulu ia sempat tolong."Kau tunggu di sini, jangan memperlihatkan diri padanya," peringat Agnira tegas.Kenan hanya mengangguk patuh, lalu bergerak menjauh dari jangkauan mata. Agnira menarik napas dalam sebelum kakinya melangkah, dia bergerak ceria dan berhenti tepat di depan gadis itu."Selamat sore, Nana," sapa Agnira lembut, bibirnya melengkung indah, sampai membuat matanya menyipit.







