Mag-log inAngin laut begitu kencang saat Agnira sampai di pesisir pantai. Langit terlihat menghitam di atas sana dengan guntur yang saling bersahutan, udara semakin dingin dengan cuaca yang memburuk.
"Bagaimana Bu? Apa kita menunggu pak Sambara saja?" tanya Kenan sekali lagi.Agnira terdiam. Mereka hanya berdua terlebih Kenan tidak dapat diandalkan jika harus beradu kepala tangan, Nayara pun sulit di hubungi, dia juga tidak mempunyai nomor ponsel Sambara, semua semakin runyam saat guAgnira menggeliat pelan di atas ranjang. Seluruh tubuhnya terasa kaku karena semalaman tidur dalam posisi yang sempit. Ia menguap lebar sambil merentangkan kedua lengannya, berusaha mengusir rasa pegal yang masih tersisa.Namun, sebelum benar-benar sadar sepenuhnya, hidungnya menangkap aroma teh yang samar memenuhi ruangan. Seketika wajahnya berubah. Perutnya mendadak bergejolak hebat. Dengan refleks, Agnira menutup mulutnya lalu bergegas turun dari ranjang. Tanpa sempat mengatakan apa pun, wanita itu berlari sekencang mungkin menuju kamar mandi."Agnira!" panggil Sambara dengan nada terkejut.Pria itu refleks hendak bangkit dari tempat tidur, tetapi segera meringis saat rasa nyeri kembali menjalar dari luka di perutnya, serta rasa nyeri hebat yang menjalar dari betisnya.Suara muntah itu terdengar memenuhi ruangan kamar. Dengan sekuat tenaga Sambara berusaha bangkit berdiri dari ranjang, pria itu mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa bergeser dan meraih kursi roda.Namun, jarak ku
Ranjang yang tidak terlalu luas membuat keduanya harus tidur saling berhimpitan. Agnira bahkan memilih tidur menyamping agar Sambara bisa berbaring telentang dengan lebih leluasa tanpa khawatir mengenai luka di tubuhnya.Di tengah keheningan malam, mata Sambara perlahan terbuka saat merasakan gerakan kecil dari sisi kirinya. Ia menoleh dan mendapati Agnira tampak gelisah dalam tidurnya. Tubuh wanita itu beberapa kali bergeser, seolah berusaha mencari posisi yang lebih nyaman di ruang yang sempit.Tanpa berkata apa pun, Sambara menggeser tubuhnya perlahan, menahan nyeri yang menjalar dari luka di perutnya. Ia menyisakan ruang yang lebih lega untuk Agnira, berharap wanita itu bisa tidur lebih nyaman, meski dirinya sendiri harus menahan rasa sakit.Fajar menyingsing perlahan, membawa hari baru bagi semua penghuni rumah. Sambara sudah membuka mata sejak satu jam yang lalu. Dengan punggung bersandar pada kepala ranjang, pria itu kembali bergelut dengan setumpuk dokumen dan tablet yang sema
Tangan Agnira mengusap pelan rambut hitam suaminya perlahan. Memberikan rasa nyaman dan aman yang membuat Sambara kehilangan fokus pada kartun yang Nana tonton, kartun dunia anak SD berasal dari China itu berhasil membuat Sambara anteng dan diam."Dia salah, seharusnya meminta maaf," komentar Sambara, saat melihat salah satu tokoh merusak kotak pencil temannya.Nana memalingkan wajah, matanya menyipit saat ia dengan kesadaran penuh tahu maksud dari ucapan itu. Namun, bukannya meminta maaf, Nana justru berjalan ke arah Agnira dan duduk di sisi wanita itu. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas paha Agnira yang lainnya."Ko ikut-ikutan sih," sentak Sambara yang merasa tidak nyaman, kepalanya terhantuk kepala milik adiknya."Apa sih, Ka Agnira juga tidak keberatan ko, iya 'kan, Ka?" Nana mencoba mencari pembelaan dari kakak iparnya.Agnira hanya mampu mendesah lelah, adik-kakak ini berhasil membuat tensi darahnya meningkat drastis. Ingin menonton televisi saja sulit sekali, dia merindukan
"Kita tidak mungkin tidur di lantai atas dengan kondisi mu yang seperti ini, jadi aku meminta Bi Nurma untuk membersihkan kamar tamu yang berada di lantai bawah," ujar Agnira memberitahu.Ia mendorong tubuh suaminya menuju kamar yang berada di pojok ruang tamu. Kamar kosong yang tidak pernah di buka sama sekali, kamar yang dulu sempat di tempati oleh Panji.Kamar itu cukup luas, walaupun tidak seluas kamar utama miliknya. Kasurnya pun terbilang kecil dari dua kamar di lantai atas. Akan tetapi, apa boleh buat, Agnira tidak akan sanggup menggendong Sambara ke lantai atas."Ke mana Nana?" tanya Sambara yang tidak melihat keberadaan adiknya sejak tadi."Mungkin di halaman belakang. Dia sedang gemar melukis saat ini," ucap Agnira sambil berjalan ke arah jendela.Wanita itu membuka tirai selebar mungkin. Membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam kamar dan menerangi seisi kamar, membuat suasana semakin nyaman. "Lihat, adikmu di sana," tunjuk Agnira pada halaman belakang yang langsung terlih
"Sidang pertama Panji akan di adakan satu minggu dari sekarang," beritahu Nayara di sela langkah mereka, "dan Tuan harus hadir di sana." "Iya, saya tau." Sambara menggeser duduknya agar terasa nyaman. Kini mereka akan pulang ke rumah Lakeswara, karena Sambara yang bersikeras sudah sembuh dari rasa sakitnya. Walaupun sangat jelas dari segi fisik pria itu sangat jauh dari kata sembuh.Untuk berdiri tegak saja kesulitan, bahkan duduk tegak pun harus ekstra menahan sakit. Akan tetapi, apa boleh buat, Sambara itu keras kepala. "Aku pengen bakso," celetuk Agnira sambil menatap keluar kaca mobil. Wanita itu menarik napas dalam seperti sedang merasakan sakit yang luar biasa.Sambara berpura-pura tuli. Dia lebih memilih membuka notebook nya daripada mendengarkan permintaan aneh Agnira. Makanan pinggir jalan sangat tidak baik di konsumsi terlalu sering, dan itu adalah hal yang harus Agnira patuhi."Untuk apa duitmu banyak, kalau seharga dua puluh ribu saja tidak punya," sindir Agnira tajam.
Begitu memasuki gedung utama, seorang polisi berpangkat inspektur segera menghampiri mereka."Selamat pagi, Pak Sambara.""Pagi." Sambara menjawab sapaan itu dengan apa adanya. "Terima kasih sudah datang memenuhi panggilan kami," lanjut polisi itu, sambil tersenyum hangat.Sambara hanya mengangguk singkat. Pria itu memang tidak pernah pandai berbasa-basi."Silakan ikut saya." Polisi itu memimpin mereka menuju sebuah ruangan pemeriksaan yang berada di lantai bawah yang berada di paling ujung ruangan.Sesampainya di sana, Sambara dipersilakan masuk. Namun ketika Agnira hendak mengikuti dari belakang, petugas itu mengangkat tangan."Maaf, Bu. Hanya Pak Sambara yang bisa masuk."Langkah Agnira langsung terhenti. Wanita itu menoleh ke arah Sambara, lalu menatap Nayara dan juga Robi. Ia tidak bisa membiarkan Sambara masuk sendirian, mengingat terakhir kali pria itu bersama aparat kepolisian dan berakhir seperti ini."Kenapa?" tanya Sambara yang melihat wajah ragu istrinya. "Tidak apa-apa,
Makan malam terasa hening di antara keduanya. Tidak ada satu pun yang memulai percakapan, hanya suara denting sendok dan garpu yang sesekali terdengar memecah kesunyian.Agnira terlihat begitu lahap menghabiskan makan malamnya. Berkali-kali wanita itu menambah nasi dan mengambil ayam di depannya, s
Raungan tangis terdengar nyaring memenuhi kediaman utama Lakeswara. Dini tampak bersimpuh lemas di depan jasad putrinya yang telah terbujur kaku, tangis wanita itu pecah tanpa bisa dibendung lagi, memecahkan sunyi malam yang terasa begitu muram.Beberapa pelayat datang silih berganti. Suara lantuna
Agnira menjadi orang pertama yang tersadar setelah kejadian panjang yang mereka lewati. Wanita itu menggeliat pelan di dalam dekapan Sambara, tubuhnya terasa pegal karena tertidur dalam posisi duduk di ruang sempit mobil.Kelopak matanya mengerjap perlahan saat merasakan sesuatu yang keras dan hang
Sirine ambulans terdengar nyaring saat kendaraan itu perlahan meninggalkan area rumah sakit. Setelahnya, keheningan yang sejak tadi menggantung kembali menyelimuti suasana. Agnira masih menatap lurus ke arah Ambulance yang kian menjauh, pandangannya kosong dengan dada yang terasa sesak.







