LOGINPagi itu dimulai dengan keheningan yang menyesatkan di kantor pusat grup perusahaan Dion. Namun, ketenangan itu hancur berkeping-keping tepat pukul sembilan pagi, ketika salah satu stasiun televisi berita nasional menayangkan breaking news dengan judul besar yang mencolok: "Sisi Gelap Sang CEO: Mantan Istri Laporkan Dugaan KDRT dan Penyembunyian Aset!"
Dion sedang berada di ruang rapat bersama beberapa kepala divisi ketika ponsel milik semua orang di ruangan itu bergetar hampir bersamaan. Wina, yang duduk di sebelah Dion, langsung membuka tabletnya dengan wajah yang memucat seketika.
"Pak... Bapak harus lihat ini," bisik Wina, suaranya gemetar.
Di layar televisi besar yang ada di ruang rapat, muncul sosok Wawa. Ia tampak sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada gaun desainer atau riasan glamor. Wawa mengenakan kemeja polos berwarna abu-abu, wajahnya pucat tanpa makeup, dan rambutnya sengaja dibuat sedikit acak-acakkan. Di lengan
Dinding sel yang lembap dan aroma pesing yang menyengat kini menjadi cakrawala baru bagi Dion. Dari puncak kejayaan sebagai penakluk di Jakarta, ia kini terjerembap ke titik nadir di awal periode ini. Jas mahalnya telah digantikan oleh kaos oranye kusam, namun sorot matanya tetap tajam, mencerminkan api yang menolak padam meski labirin kekuasaan dan intrik kini mengurungnya secara fisik.Dion duduk bersandar di tembok sel yang dingin, mengamati tikus yang lewat di sudut ruangan. Pikirannya melayang pada protokol penghancuran data yang ia aktifkan di rumah Menteng semalam. Jika rencananya berhasil, maka Bram, Clarissa, dan Bu Diana kini sedang panik karena kehilangan bukti utama mereka.Pintu jeruji besi berderit terbuka. Seorang sipir bertubuh tambun berdiri di sana dengan wajah malas. "Dion. Ada kunjungan. Pengacara kamu."Dion berdiri, merapikan kaosnya sejenak. Ia mengira itu adalah pengacara yayasan, namun saat ia sampai di ruang kunjungan yang dibatasi kaca
Dion merasa kakinya seperti tertanam di lantai marmer ruang tamu yang dingin. Di hadapannya, Bram—sahabat setianya yang memegang kunci dunia malam dan rahasia terdalamnya—berdiri dengan tenang, memegang borgol yang berkilauan di bawah lampu kristal. Wajah Bram yang biasanya dipenuhi seringai sinis khas penguasa kegelapan, kini nampak sangat berwibawa, jauh dari kesan narapidana yang baru saja melarikan diri dari penjara."Bram? Apa maksudnya ini? Bukannya kamu... di gudang tadi..." suara Dion tercekat, matanya beralih ke arah Bu Diana yang tetap duduk tenang di kursinya.Bram melangkah maju, lencana di tangannya ia masukkan kembali ke saku jaketnya. "Gudang Cakung itu cuma panggung sandiwara, Yon. Clarissa, tim bayarannya, bahkan penembak jitu yang melukai Wina itu semua bagian dari operasi ini. Kamu pikir gimana caranya aku bisa tetap berkomunikasi lancar sama pihak luar dari balik jeruji kalau bukan karena aku memang diizinkan?".Dion tertawa getir
Dion berdiri membeku di tengah gudang tua Cakung yang pengap. Suara rintihan Wina yang memegangi lengannya yang tertembak seolah menjadi musik latar bagi kehancuran martabatnya. Clarissa, dengan keanggunan yang dingin, baru saja melontarkan teka-teki yang menghancurkan sisa-sisa ketenangan Dion. Bukan Santi, bukan pula Wina yang menjadi dalang pengkhianatan terdalam ini."Pulanglah, Dion," bisik Clarissa sembari merapikan kerah kemeja Dion yang berantakan. "Labirin ini bukan hanya milikmu lagi. Kamu terlalu asyik menaklukkan wanita di luar, sampai lupa siapa yang sebenarnya mengendalikan fondasi rumahmu."Tanpa menunggu komando kedua, Dion berlari menuju mobilnya. Ia mengabaikan Santi yang menatapnya dengan pandangan kosong, juga mengabaikan Sita yang masih terisak di lantai gudang. Pikirannya hanya tertuju pada satu tempat: rumah Menteng. Tempat di mana ia memulai segalanya sebagai menantu yang patuh sebelum berubah menjadi penguasa yang haus gairah.Dion mengi
Suasana di dalam gudang tua Cakung itu mendadak beku. Suara tetesan air dari atap seng yang bocor terdengar seperti detak jam kematian. Dion merasakan hawa dingin merambat di punggungnya saat ia menyadari moncong pistol Wina tidak lagi mengarah ke Roy, melainkan tepat ke arah tulang belikatnya. Bram tertawa, sebuah tawa yang serak dan penuh kemenangan, sementara Roy tetap menempelkan pisau lipatnya ke leher Sita yang kini sudah basah oleh air mata dan keringat dingin."Win... apa-apaan ini?" tanya Dion, suaranya tetap rendah namun ada getaran ketidakpercayaan di dalamnya. "Kamu sadar apa yang kamu lakukan?"Wina tidak menurunkan senjatanya. Wajah sekretaris yang biasanya penuh gairah dan kepatuhan itu kini nampak sedingin es. "Aku sadar banget, Yon. Aku sadar kalau selama ini aku cuma jadi pemuas nafsu dan anjing pelacak kamu. Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu mulai mendekati Clarissa dengan cara yang sama seperti kamu menjerat aku?"."Gila kamu, Win! Itu uru
Pagi itu, suasana di kediaman Menteng terasa jauh lebih dingin daripada suhu pendingin ruangan yang mendesis. Dion sudah berangkat ke kantor sejak subuh, meninggalkan aroma maskulin dan jejak pengkhianatan yang masih segar di ingatan Santi. Santi berdiri di depan cermin besar kamarnya, mematut diri dengan gaun sutra berwarna hitam pekat. Matanya yang sembab telah ia tutupi dengan riasan tebal, namun luka di hatinya tidak bisa disembunyikan hanya dengan bedak mahal.Ia teringat siluet di balik rak buku semalam. Dion dan Wina. Sekretaris itu bukan lagi sekadar alat bisnis bagi Dion, melainkan duri dalam daging yang harus dicabut. Santi mengambil tas tangannya, memasukkan sebuah amplop berisi salinan dokumen audit internal yang diam-diam ia ambil dari laci meja Dion."Kamu pikir aku cuma boneka yang bisa kamu kasih gairah tiap kali aku marah, Yon?" bisik Santi pada bayangannya sendiri. "Kamu salah besar."***Santi melajukan mobilnya menuju sebuah kafe terse
Pagi itu, suasana di kediaman Menteng terasa jauh lebih dingin daripada suhu pendingin ruangan yang mendesis. Dion sudah berangkat ke kantor sejak subuh, meninggalkan aroma maskulin dan jejak pengkhianatan yang masih segar di ingatan Santi. Santi berdiri di depan cermin besar kamarnya, mematut diri dengan gaun sutra berwarna hitam pekat. Matanya yang sembab telah ia tutupi dengan riasan tebal, namun luka di hatinya tidak bisa disembunyikan hanya dengan bedak mahal.Ia teringat siluet di balik rak buku semalam. Dion dan Wina. Sekretaris itu bukan lagi sekadar alat bisnis bagi Dion, melainkan duri dalam daging yang harus dicabut. Santi mengambil tas tangannya, memasukkan sebuah amplop berisi salinan dokumen audit internal yang diam-diam ia ambil dari laci meja Dion."Kamu pikir aku cuma boneka yang bisa kamu kasih gairah tiap kali aku marah, Yon?" bisik Santi pada bayangannya sendiri. "Kamu salah besar."***Santi melajukan mobilnya menuju sebuah kafe terse







