MasukMalam di Jakarta terasa kian menyesakkan bagi Dion. Video penyekapan Maya yang baru saja ia tonton terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Dion memutuskan untuk mengambil langkah paling berisiko: menemui Tante Rossa di hotelnya, sementara ia memerintahkan Wina untuk mengoordinasi pelacakan sinyal secara rahasia.
Dion melangkah masuk ke Presidential Suite Grand Hyatt dengan wajah yang mengeras. Di sana, Rossa sudah menunggu, duduk di kursi velvet sembari menyesap sampanye. Ia nampak sangat tenang, seolah tidak baru saja mengirimkan ancaman pembunuhan lewat video.
"Kamu datang lebih cepat dari dugaan saya, Dion. Rupanya nyawa asisten atau... sahabat istrimu itu memang sangat berharga buat kamu," Rossa menyapa dengan senyum tipis yang meremehkan.
Dion tidak duduk. Ia berdiri tepat di depan Rossa, menatapnya dengan api amarah yang tertahan. "Lepasin Maya, Tante. Kita bicara soal bisnis, jangan bawa orang luar yang nggak ada hubungannya sam
Udara subuh di kawasan Jakarta Utara terasa lembap dan berbau garam. Dion tidak bisa tidur setelah sesi panasnya bersama Lisa di karaoke. Informasi tentang Roy, kaki tangan Bram yang membawa dokumen krusial dari Surabaya, terus berputar di kepalanya. Ia tahu, jika dokumen itu sampai ke tangan pengacara Wawa, dominasi yang ia bangun di saat ini akan runtuh sebelum sempat memuncak.Dion memacu mobilnya mengikuti instruksi Wina lewat alat komunikasi di telinganya. Wina, sekretarisnya yang setia sekaligus berbahaya, sudah berada di posisi pengintaian bersama dua orang suruhannya."Target terlihat, Yon. Mobil boks putih plat L. Mereka baru saja keluar dari area gudang pelabuhan," suara Wina terdengar dingin melalui earpiece."Jangan sampai lepas, Win. Gue mau dokumen itu utuh. Dan Roy... bawa dia ke gudang lama kita," perintah Dion sembari menginjak gas lebih dalam.Aksi pengejaran terjadi di lorong-lorong sempit pemukiman kumuh. Mobil boks itu mencob
Dion menyadari bahwa jeruji besi bukan berarti akhir dari sebuah ancaman. Bram, mantan sahabat setianya yang memegang kunci rahasia terdalam, kini mulai merajut jaring dari balik sel. Pagi itu, kabar tentang Clarissa yang memiliki data internal perusahaan membuat Dion yakin bahwa ada kebocoran informasi yang berasal dari tempat yang paling tak terduga—penjara.Dion melangkah masuk ke ruang kunjungan khusus di Lapas dengan setelan jas hitam yang kontras dengan suasana ruangan yang pengap. Bram muncul dengan pakaian tahanan, wajahnya tirus namun matanya berkilat penuh dendam."Gimana rasanya di luar, Yon? Masih dingin atau makin panas gara-gara kedatangan tamu dari Surabaya?" tanya Bram sembari menyandarkan punggungnya dengan angkuh.Dion menatap mantan sahabatnya itu tanpa ekspresi. "Kamu pikir dengan ngasih data ke Clarissa, kamu bakal dapet pengampunan? Kamu cuma jadi alat buat dia, Bram."Bram tertawa renyah. "Alat? Gue nggak peduli. Asalkan lo ja
Fajar di Jakarta menyambut Dion dengan ketegangan yang menyesakkan. Setelah malam yang melelahkan di hotel bersama Rossa, Dion memacu mobilnya menuju kantor. Wina duduk di sampingnya, matanya tak lepas dari layar tablet. Di kursi belakang, Maya tampak masih sangat terguncang setelah aksi penyelamatan dramatis semalam."Yon, kamu benar-benar harus fokus pagi ini," ujar Wina sembari menunjukkan grafik saham yang memerah. "Seseorang dari Surabaya melakukan short-sell besar-besaran terhadap saham D-Next. Mereka sengaja mau bikin panik investor kita."Dion mengerutkan kening, tangannya mencengkeram kemudi lebih erat. "Surabaya? Siapa yang punya nyali sebesar itu di saat Satria masih kritis?""Namanya Clarissa," jawab Wina dingin. "Dia baru mendarat di Jakarta kemarin. Aku belum dapet data lengkap soal apa maunya, tapi yang jelas dia punya modal besar buat guncang posisi kita.""Clarissa, ya? Nama yang bagus buat seseorang yang mau car
Malam di Jakarta terasa kian menyesakkan bagi Dion. Video penyekapan Maya yang baru saja ia tonton terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Dion memutuskan untuk mengambil langkah paling berisiko: menemui Tante Rossa di hotelnya, sementara ia memerintahkan Wina untuk mengoordinasi pelacakan sinyal secara rahasia.Dion melangkah masuk ke Presidential Suite Grand Hyatt dengan wajah yang mengeras. Di sana, Rossa sudah menunggu, duduk di kursi velvet sembari menyesap sampanye. Ia nampak sangat tenang, seolah tidak baru saja mengirimkan ancaman pembunuhan lewat video."Kamu datang lebih cepat dari dugaan saya, Dion. Rupanya nyawa asisten atau... sahabat istrimu itu memang sangat berharga buat kamu," Rossa menyapa dengan senyum tipis yang meremehkan.Dion tidak duduk. Ia berdiri tepat di depan Rossa, menatapnya dengan api amarah yang tertahan. "Lepasin Maya, Tante. Kita bicara soal bisnis, jangan bawa orang luar yang nggak ada hubungannya sam
Dion memacu mobilnya kembali menuju Menteng dengan pikiran yang hampir meledak. Baru saja ia meninggalkan rumah sakit setelah mendapatkan ancaman terselubung dari Satria yang baru siuman, kini ia harus menghadapi kekacauan di rumah sendiri. Wina yang duduk di kursi penumpang pun nampak gelisah, jemarinya tak henti mengetik di tablet, mencoba melacak lokasi pengirim pesan ancaman terkait hilangnya Maya.Begitu memasuki lobi rumah, suara pecahan kaca terdengar nyaring dari arah ruang tengah. Dion mempercepat langkahnya, sementara Wina mengekor di belakang dengan wajah waspada.Di sana, Santi berdiri dengan napas tersengal. Sebuah vas bunga kristal sudah hancur berkeping-keping di lantai. Di depannya, Bu Diana terduduk di sofa dengan wajah pucat, mencoba menenangkan putri sulungnya itu."Kamu gila, Santi! Apa-apaan sih pecahin barang!" bentak Dion saat ia sampai di hadapan mereka.Santi menoleh, matanya merah karena tangis d
Pagi itu, Menteng tidak sejuk seperti biasanya. Meski pendingin ruangan di kamar Dion sudah disetel ke suhu paling rendah, udara terasa mencekik. Dion terbangun dengan tubuh pegal setelah semalam harus meredam api cemburu Santi di meja marmer ruang tamu. Ia menatap plafon kamar, menyadari bahwa semakin tinggi ia memanjat, semakin banyak tangan yang mencoba menarik kakinya ke bawah.Ia baru saja hendak melangkah ke kamar mandi ketika pintu kamarnya diketuk dengan kasar. Bukan ketukan pelan pelayan, melainkan ketukan ritmis yang ia kenal sebagai tanda urgensi dari Wina."Yon! Buka pintunya! Ini darurat!" suara Wina terdengar meredam namun penuh tekanan.Dion membuka pintu dengan hanya mengenakan celana kain panjang. Wina langsung merangsek masuk, wajahnya pucat, dan ia terus membolak-balik layar tablet di tangannya."Ada apa, Win? Pagi-pagi sudah teriak-teriak. Satria mati?" tanya Dion dingin."Lebih buruk dari itu, Yon. Maya hilang,







