Share

Ratu yang Tak Pernah Menunduk
Ratu yang Tak Pernah Menunduk
Author: Muriaz

Bab 1

Author: Muriaz
....

"Apa Yang Mulia benar-benar harus membuat keadaan menjadi seburuk ini tepat di hari pernikahan?"

Rangga tiba-tiba melangkah maju.

Tangan yang telah bertahun-tahun terbiasa memegang pedang itu kini mencengkeram erat kusen pintu kereta kencana berukir.

Urat-urat di punggung tangannya menonjol, cengkeramannya begitu kuat hingga nyaris meremukkan kayu ulin emas itu.

Aku duduk tegak di dalam kereta kencana, menatap dingin sosok yang oleh rakyat Negeri Mandala ini dijuluki sebagai Jenderal Penakluk Utara yang gagah perkasa.

Wajahnya saat ini tak menunjukkan sedikit pun raut kebahagiaan seorang pria yang tengah menikahi istri sah.

Pandangannya hanya dipenuhi amarah dan kekesalan akibat dipermalukan di depan khalayak.

"Seburuk ini?"

Aku memainkan batu rubi pada pelindung kukuku, nada suaraku datar tanpa sedikit pun emosi.

"Jenderal Rangga membiarkan wanita simpanannya menghadang di gerbang dan mendesakku di hari pernikahan. Sungguh tindakan yang sangat terpuji."

Raut wajah Rangga menegang, kilatan rasa malu melintas di tatapannya.

Namun, tak lama kemudian dia kembali memasang raut wajah seolah sangat terpukul.

"Yang Mulia, sejak kecil dibesarkan dalam kemewahan istana, bagaimana mungkin memahami pahit getirnya perbatasan?"

"Saat pasukan musuh melancarkan serangan malam, kalau bukan Laras yang menerima anak panah itu demi melindungiku, mungkin kini yang tersisa dariku hanyalah tumpukan tulang belulang!"

"Sebagai seorang wanita lemah, dia nyaris kehilangan nyawanya demi diriku, bahkan harus menanggung cemoohan lantaran melahirkan anak di luar nikah."

"Kalau aku, Rangga Baskoro, tega membuangnya, mana pantas aku disebut sebagai pria sejati?"

Ucapan itu terlontar dengan begitu lantang dan meyakinkan, seolah-olah tak ada pria yang lebih setia darinya.

Orang-orang yang berkerumun di sekitar tadinya masih berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk.

Namun, begitu mendengar ucapannya, mereka seketika berubah sikap.

Tatapan penuh welas asih dan haru kini serentak tertuju pada Laras yang masih berlutut di atas tanah.

Laras dengan sangat jeli menyadari perubahan suasana di sekelilingnya.

Tubuhnya bergetar hebat, bagai sekuntum bunga putih kecil yang nyaris tumbang diterpa angin dingin.

Air matanya mengalir bagai untaian mutiara yang terputus.

"Jenderal, hamba mohon …. Jangan berkata apa-apa lagi ...."

Dia menggigit erat bibirnya yang pucat, nada suaranya terdengar begitu pilu dan menyayat hati.

"Semua ini salah hamba. Hamba yang tidak pantas ...."

"Hamba datang hari ini hanyalah agar anak saya, Bayu, dapat diakui sebagai keturunan Keluarga Baskoro. Sama sekali tidak pernah terlintas untuk memperebutkan apa pun dengan Yang Mulia."

"Kedudukan Yang Mulia begitu luhur. Sekali pun hamba hanya dijadikan pelayan rendahan untuk membasuh kaki Yang Mulia, hamba akan melakukannya dengan sepenuh hati."

Sambil berkata demikian, dia memeluk bayi itu erat-erat sambil bersujud berulang kali ke arah kereta kencanaku.

Dahinya menghantam lempengan batu, menghasilkan bunyi benturan tumpul.

Baru beberapa kali bersujud, darah sudah merembes dari dahinya yang mulus, tampak begitu mencolok.

Rangga begitu tidak tega melihatnya hingga matanya nyaris memerah. Dia berbalik dengan sigap hendak memapah Laras.

Namun, karena aku masih berada di sana, dia terpaksa menghentikan langkahnya dan hanya bisa menatapku tajam dengan sorot mata yang dipenuhi amarah dan kebencian.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 12

    Petasan meledak bersahutan, sementara tabuhan gong dan genderang menggema memenuhi angkasa.Arya turun dari kudanya, lalu melangkah cepat menuju pintu tandu dan mengetuknya pelan dengan ujung kakinya.Tirai tandu tersingkap, dan tangannya yang beruas-ruas tegas kembali terulur di hadapanku."Wanda, kita sudah sampai di rumah."Suaranya begitu lembut, jauh berbeda dari sosok Raja Neraka yang masih bernapas dan tak kenal ampun seperti biasanya.Kuletakkan tanganku di telapak tangannya, membiarkan dia menuntunku melangkah perlahan melewati perapian bara yang melambangkan kedamaian dan kelancaran.Tiada lagi tekanan moral yang menjijikkan, tiada lagi selingkuhan yang membawa anak haram untuk memblokade pintu, pun tiada lagi intrik-intrik busuk yang menyesakkan.Yang ada hanyalah ucapan selamat dari seluruh hadirin, dan pria di hadapanku yang tatapannya sepenuhnya tertuju padaku.Setelah pernikahan agung itu, Keluarga Baskoro benar-benar lenyap dari ibu kota.Konon, Nyonya Besar Baskoro tak

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 11

    Kini dia berakhir dengan nama baik yang hancur dan ditinggalkan semua orang. Bukankah ini memang balasan karma?"Rangga, nikmatilah sisa hidupmu."Melihatnya hidup dalam keadaan yang lebih buruk daripada mati, keterikatan terakhir di dalam hatiku akhirnya lenyap tanpa sisa."Besok saat tengah hari, seluruh sembilan klan Keluarga Baskoro akan dibuang ke wilayah selatan yang terpencil.""Sedangkan kamu, tinggallah di sel air ini, dan tebuslah dosamu perlahan-lahan."Aku berbalik tanpa menoleh lagi, lalu melangkah keluar dari penjara bawah tanah."Wanda! Wanda, jangan pergi!"Di belakangku terdengar teriakan putus asa Rangga."Aku salah! Aku sungguh sadar aku salah! Beri aku satu kesempatan lagi, kumohon!""Bahkan kalau kamu menyuruhku menjadi sapi atau kuda bagimu, asalkan aku boleh tetap berada di sisimu, aku rela melakukan apa saja!"Rantai besi berdering keras saat dia menariknya. Suara permohonannya yang putus asa bagaikan raungan terakhir seekor binatang buas yang terperangkap.Namu

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 10

    "Rangga, apa kamu pernah berkaca?"Aku berdiri di lantai yang kering, menatap dingin ke arahnya yang masih terendam dalam air kotor. "Dengan keadaanmu saat ini, bahkan anjing di kediamanku pun lebih berharga darimu. Mana mungkin aku masih memiliki perasaan untukmu?"Pancaran cahaya di mata Rangga seketika padam.Dia batuk hebat. Setiap kali batuk, dia memuntahkan darah dalam jumlah banyak. "Mengapa ... Wanda, mengapa kamu begitu kejam?"Dia bergumam tak keruan di sela-sela batuknya."Aku adalah pahlawan berjasa Negeri Mandala. Aku telah memenangkan begitu banyak pertempuran untukmu, mana mungkin kamu memperlakukanku seperti ini?""Menang perang?"Aku menatapnya seolah dia seorang idiot."Rangga, kamu sungguh mengira dirimu tak terkalahkan di perbatasan?""Kalau bukan karena Arya yang diam-diam mengirim perbekalan dan membereskan semua kekacauanmu ….""Hanya bermodalkan ilmu perang setengah matangmu itu, kamu sudah lama mati terkubur di hamparan pasir gurun utara!"Rangga seketika mem

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 9

    Dia mengira orang yang menyelamatkan nyawanya adalah seorang dayang yang telah lama meninggal. Dengan enaknya, dia menikmati segala pengorbananku, tetapi di saat yang sama membenci statusku yang begitu tinggi. "Aku tidak hanya tahu itu, aku juga tahu alasan kamu buru-buru membawa wanita simpanan ini masuk ke rumah sama sekali bukan demi meneruskan keturunan."Aku menatapnya dengan sorot merendahkan, mengoyak topeng terakhirnya kata demi kata. "Itu karena kamu menderita luka parah di perbatasan, dan seumur hidupmu takkan pernah bisa menghasilkan keturunan lagi.""Kamu takut setelah aku masuk ke rumah dan mengetahui kebenarannya, Keluarga Baskoro akan kehilangan penerus, makanya kamu buru-buru mencari anak haram untuk kamu akui sebagai anakmu sendiri!"Begitu ucapan itu terdengar, suasana seketika hening mencekam. Semua orang menatap Rangga dengan tatapan aneh.Impoten.Bagi seorang putra keluarga bangsawan yang menjunjung tinggi kelangsungan garis keturunan, kenyataan ini bahkan lebih

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 8

    "Ini sungguh lelucon terbesar di muka bumi!"Tawa ejekan dan makian pun bergulung bagai ombak.Wajah Laras seketika pucat pasi. Dia memeluk anaknya erat-erat sambil menggeleng kuat-kuat. "Tidak! Aku bukan seperti itu! Kalian bohong!"Dia berbalik dan menerjang ke arah Rangga, mencengkeram erat lengan pria itu. "Kak Rangga, percayalah! Bayu benar-benar darah dagingmu!"Rangga menoleh dengan tatapan kosong, menatap wanita yang dulu begitu dicintainya sepenuh hati. Cinta yang selama ini dia banggakan, "cinta sejati" yang bahkan rela dia pertahankan dengan menentang kekuasaan kerajaan. Ternyata semua itu hanyalah sebuah tipu muslihat yang sempurna dari awal hingga akhir."Enyah!" Rangga tiba-tiba meraung seperti binatang buas, lalu menampar wajah Laras dengan sangat keras.Laras terpental ke udara dan menghantam undakan batu dengan keras. Anak yang ada dalam dekapannya ikut terlempar ke samping dan langsung menangis keras."Perempuan jalang! Beraninya kamu menipuku!"Rangga menerjang sepe

  • Ratu yang Tak Pernah Menunduk   Bab 7

    "Plakat ini diserahkan ayahandaku menjelang ajalnya."Aku menatapnya dari atas, suaraku dingin hingga menusuk ke tulang. "Beliau bilang, Sang Putri Agung Negeri Mandala takkan pernah berbagi suami dengan wanita mana pun.""Titah pernikahan ini sejatinya hanyalah untuk menguji kesetiaan Keluarga Baskoro.""Sayangnya, kamu tak hanya gagal membuktikannya, tapi kamu juga cukup bodoh hingga menyeret seluruh sembilan klanmu ikut hancur."Rangga menatap lekat plakat emas itu. Bibirnya gemetar, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Selama ini dia mengira aku hanyalah pajangan istana tanpa kuasa apa-apa.Padahal, yang kugenggam di tanganku adalah kekuasaan tertinggi di seluruh Negeri Mandala."Yang Mulia …. Hamba bersalah ...."Akhirnya, dia menundukkan kepalanya yang selama ini begitu angkuh, mengabaikan rasa perih yang luar biasa di dadanya, lalu berusaha bangkit, lalu bersujud dengan membenturkan dahinya ke tanah berkali-kali."Hamba benar-benar telah gelap mata. Mohon Yang Mulia menginga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status