เข้าสู่ระบบSosok jangkung semakin lama semakin mendekat. Pada awalnya Pakdhe Surya tidak terlalu memperhatikannya. Ketika semakin terlihat, barulah dia mendengus menunjukkan rasa tidak suka. Tapi sebagai orang Timur, sopan santun tetap dijunjung tinggi, bahkan kepada orang yang tidak disukainya,
“Siapa, Pakdhe?” tanya Rawi pelan. Dia hanya membuka mulutnya sedikit saja dengan harapan suaranya hanya terdengar oleh Pakdhe Surya.
Suasana hingar bingar terlihat di aula kampus Universitas Manunggal. Enam orang berjejer dengan tas punggung berukuran raksasa berada di dekat kaki-kaki mereka. Selain itu, tas kecil mereka terselempang manis di pundak.Beberapa koper terbaring pasrah di sekitar mereka. Banyak mahasiswa memberi selamat, dan berjabat tangan dengan mereka. Beberapa dari teman mahasiswa juga memberi pesan juga meminta oleh-oleh saat mereka pulang.Rawi melihat ke segala arah untuk melihat apakah Kak Brama sudah datang atau belum. Hiruk pikuk membuatnya kadang-kadang kehilangan fokus untuk mencari Kak Brama.Bermenit-menit kemudian, Dia melihat Kak Brama berlari panik ke arah mereka.Dia terengah-engah ketika sampai, dan berusaha mengatur nafas sebelum berbicara denga
Keesokan harinya …Semua sudah berkumpul di tempat yang ditentukan. Dahayu sempat terlambat beberapa detik. Pram, Damian, dan Haris datang bersamaan sambil membawa perbekalan.“Kalian bawa apa itu?” teriak Kak Brama.“Cemilan, Bram,” jawab mereka sambil cengar-cengir.Kak Brama yang mendengar itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Pram, Damian, dan Haris segera meletakkan makanan yang dibawanya ke tempat yang aman.“Ayo! Semuanya berkumpul di sumber suara!”Kak Brama memberi instruksi.Rawi, Kinanthi, Dahayu, Pram, Damian, dan Haris segera berlari mendekat ke arah Kak Brama.“Kalian sudah membawa yang kemarin
Pesan dari Kak Brama.{Sebentar, Kinan. Ada pesan dari Kak Brama. Kita lanjutkan lagi nanti]Rawi membuka pesan dari Kak Brama.{Rawi, apa benar berita yang aku dapat?}{Berita apa, Kak?}{Katanya kamu mau mengundurkan diri dari program pertukaran mahasiswa}Rawi mengambil jeda untuk mengetik balasan pada Kak Brama. Dia merasa harus memberikan jawaban yang bijaksana sehingga Kak Brama tidak salah paham.{Sebenarnya iya, Kak}Kak Brama kini yang lama memberi pesan balasan. Rawi memandang gawainya sampai hampir bosan, tapi balasan itu tak kunjung datang. Dia sampai merebahka
Rawi terhenyak. Rawi masih menatap gawainya sambil membaca kembali pesan-pesan yang ada di grup. Dia tidak menyangka akan secepat itu dikeluarkan dari grup. Walaupun juga dia sadar, dia tidak ada kepentingan di grup tersebut. “Sudahlah. Mungkin mereka sudah memahami keadaanku saat ini. Biarkan saja mereka fokus untuk menyiapkan untuk keperluan pelatihan dan pemberangkatan.”Rawi kembali meletakkan gawainya, dan kembali merebahkan diri di atas kasur. Dia merasa lega karena teman-teman bisa menerima situasi dirinya yang memang berbeda dengan mereka. Dia berdehem. Tenggorokannya terasa kering. Dia bangkit dan berjalan menuju ruang tengah untuk mengambil segelas air minum. Dia menuangkan air dan meminumnya perlahan. Bu Krisan keluar juga dari kamarnya. Matanya terlihat lelah. Dia terlihat sedikit terkejut melihat Rawi ada di sana sedang memegang gelas. Hampir saja Rawi tersedak karena kaget. “Bu.” Bu Krisan duduk di kursi yang ada. “Maafkan kami, Rawi. Kami tidak bisa mewujudkan kei
[Lho! Kok mendadak batal begitu saja, Rawi. Harus ada penjelasan untuk hal ini!}{Ya, aku ada alasan tersendiri untuk hal ini. Maaf, memang semua serba mendadak jadi mungkin tidak ada keterangan tambahan}{Tidak bisa, Rawi. Kamu tidak bisa memutuskan sendiri. Kasihan teman-teman yang lain.}{Masih ada kamu, Kinan. Semua pasti teratasi}{Pokoknya keputusan ini belum final ya}{Maaf, dan terima kasih}Rawi masih membalas pesan Kinanthi beberapa kali sebelum dia mengacuhkannya. Matanya tertutup tapi pikirannya mengembara mencari jalan keluar terbaik untuk kondisinya saat ini.Walaupun hatinya tetap tidak rela melepaskan program yang
Rawi menutup mata sebentar, kemudian membuka matanya kembali. Ketika dia membuka mata, dia sudah berada di kamarnya sendiri. Sebuah kamar temapt dia biasanya melepas penat selama kuliah. Tempat tenyaman baginya.Bu Krisan dan Pak Bagaskara segera menuju kamarnya. Entah mengapa mereka melakukan hal itu.“Rawi!” teriak Bu Krisan memastikan keberadaan anaknya.“Ibu! Bapak!”“Kok tiba-tiba sekali pulang ke rumah. Ada apa? Kamu sehat, kan?” Bu Krisan kembali melihat Rawi dengan seksama.Rawi tersenyum.“Aku sehat, Bu.”“Lalu ada apa? tidak biasanya kamu pulang dengan cara yang tidak biasa ini.” Pak Bagaskara mu
Suara sorak sorai itu masih terdengar sampai beberapa saat kemudian. Tentu saja itu bagi mereka yang mendukung Rawi. Lain halnya dengan Pram, Damian, Haris, juga pak Salam yang semakin mendendam. Mereka memandang penuh amarah pada Rawi. Pak Salam juga segera melarikan diri dari tempat itu setelah
Wajah pucat Pram, Damian, dan Haris terlihat jelas ketika mereka duduk di kursi. Mereka berhadapan langsung dengan Kak Brama yang ditunjuk secara resmi oleh pihak kampus untuk kasus Rawi. Kak Brama sedang sibuk membolak-balik kertas-kertas yang ada di atas meja sambil sesekali melihat ke arah mer
Rawi melangkah meninggalkan ruang asdos. Walaupun kini dia ada harapan untuk bebas dari segala tuduhan dari kampus, tapi dia masih belum bisa lega sepenuhnya. Dia harus bisa mencari bukti dan saksi supaya tuduhan itu bisa terjawab tanpa sangsi sedikitpun.
Rawi baru saja bernafas lega ketika dia mendengar gawainya berbunyi keras. Nada panggil yang lumayan keras. Dia segera berlari ke kamar untuk memeriksanya. Pak Bagaskara dan Bu Krisan juga kembali ke dalam rumah. Mereka berjalan santai. Namun, langkah mereka terhenti di ruang keluarga. Mereka meli





![Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

