Beranda / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Harga Yang Mencekik

Share

Harga Yang Mencekik

Penulis: Falisha Ashia
last update Tanggal publikasi: 2026-04-30 19:18:32

Langkah panjang sang dewa bedah menembus kabut tebal menjelang fajar. Udara dingin pegunungan sama sekali tidak mampu mendinginkan darahnya yang mendidih oleh antisipasi kemenangan.

Setibanya di pekarangan rumah kayu, aroma kopi tubruk hitam langsung menyambut indra penciuman Leo, berpadu dengan wanginya kayu bakar.

"Tuan sudah pulang? Kopi panasnya baru saja siap," sambut Maya dengan senyum lembut dari ambang pintu dapur, daster batiknya berkibar pelan tertiup angin subuh.

"Sempurna. Letakkan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Rayuan Desa Wanita   Reruntuhan Masa Depan

    Debu kering berterbangan di atas lapangan tanah SD Inpres yang atapnya ambruk dua minggu lalu.Tiga tenda terpal berwarna biru didirikan seadanya sebagai ruang kelas darurat. Suhu udara di dalam tenda itu mencapai tiga puluh lima derajat celcius di bawah terik matahari siang.Leo berdiri di ambang gerbang sekolah yang sudah reyot. Mata hitamnya memindai kondisi fasilitas pendidikan desa yang sangat memprihatinkan tersebut.Nida sedang berdiri di depan papan tulis kapur di dalam salah satu tenda. Guru honorer itu mengusap peluh di dahinya menggunakan punggung tangan, namun tetap mempertahankan senyum keibuan pada murid-muridnya.Suara deru mesin diesel mendadak memecah konsentrasi belajar.Sebuah ekskavator berwarna kuning menyala merangsek masuk menghancurkan sisa pagar bambu sekolah.Asap hitam mengepul dari knalpot alat berat tersebut. Lengan besinya terangkat tinggi, bersiap meratakan sisa bangunan kelas yang masih berdiri setengah.Lima pria berbadan tegap berjalan mengawal ekskav

  • Rayuan Desa Wanita   Pesta Susu di Gudang Jerami

    Jam tangan logam di pergelangan kiri Leo menunjuk tepat ke angka sepuluh malam.Pintu kayu gudang jerami utama berderit pelan saat didorong terbuka dari luar.Lampu bohlam kuning gantung menerangi tumpukan jerami kering yang tersusun rapi hingga menyentuh atap seng berkarat.Dua wanita sudah berdiri menunggunya di tengah ruangan berbau rumput dan debu tanah tersebut.Widya masih mengenakan kemeja katun putih dan rok selututnya. Tari berdiri di sebelahnya memakai kaus oblong pudar dan celana pendek kain.Keduanya menundukkan pandangan saat sepatu pantofel Leo menjejak lantai semen gudang yang berdebu."Kalian berdua datang lima menit lebih awal dari jadwal inspeksiku," ucap Leo mengunci tuas pintu dari dalam.Pria itu berjalan mendekati tumpukan jerami tertinggi di sudut kanan ruangan."Kami tidak berani membuat Anda menunggu lama, Dokter Leo," jawab Widya melangkah maju dengan gerakan kaku.Tari meremas ujung kausnya dengan kedua tangan. Gadis tomboi itu tampak sangat canggung berada

  • Rayuan Desa Wanita   Lembar Kebangkrutan

    Lutut Broto terperosok ke dalam kubangan lumpur kotoran sapi sedalam lima sentimeter.Pria tambun itu menatap nanar tubuh Brahma yang tergeletak kaku. Otot rahangnya bergetar tidak terkendali melihat kegagalannya.Senjata pemusnah utamanya takluk oleh satu tusukan jarum perak.Suara sirine mobil patroli terdengar meraung nyaring dari arah jalan aspal utama peternakan.Tiga unit kendaraan baja milik kepolisian distrik barat menerobos masuk melewati gerbang yang terbuka lebar."Waktumu sudah habis, Broto," ucap Leo menatap pria yang telah kehilangan seluruh kekuasaannya itu.Mobil polisi tersebut melaju cepat dan berhenti mengepung area kandang isolasi.Lima petugas berseragam hitam turun membawa senapan laras panjang. Komandan regu berjalan lurus mendekati posisi Broto."Borgol pria ini sekarang juga," perintah sang komandan menunjuk Broto. "Data transaksi steroid ilegalnya sudah diverifikasi oleh tim forensik pa

  • Rayuan Desa Wanita   Menjinakkan Sang Alpha

    Ban bergerigi Jeep hitam menggilas pelataran Peternakan Lembu Putih pada pukul tujuh pagi.Leo turun dari kursi kemudi membawa sebuah map plastik bening di tangan kanannya.Pria itu mengenakan jas putih medisnya, kontras dengan kubangan lumpur dan kotoran basah sapi di bawah kakinya.Sekar melangkah turun dari pintu penumpang. Wanita itu memegang papan akrilik berisi daftar kalkulasi aset dan jadwal distribusi.Puluhan pekerja peternakan menghentikan rutinitas memerah susu pagi mereka. Mereka menatap kedatangan dua tamu tersebut dengan wajah tegang.Leo berjalan lurus mendekati bangunan kayu dua lantai yang menjadi kantor pengawas.Pria itu melemparkan map plastik beningnya ke atas tong drum besi penyimpan air. Bunyi tamparan plastik beradu dengan logam memecah keheningan pagi."Buka salinan dokumen itu, Broto," perintah Leo menatap sang juragan yang baru saja keluar dari pintu kantornya.Broto melangkah menurun

  • Rayuan Desa Wanita   Runtuhnya Loyalitas Sang Dokter

    Pintu kaca buram itu hancur berkeping-keping menerima hantaman bahu sang penjaga.Pecahan kaca berhamburan ke atas lantai keramik laboratorium. Anjing herder langsung melompat masuk mengendus kegelapan.Leo berdiri tegak menyembunyikan Widya di balik punggung lebar jas kulit hitamnya.Pria itu mengeluarkan sebotol alkohol medis kadar tinggi dari saku dan melemparkannya tepat ke lantai di depan moncong anjing tersebut.Prang!Botol kaca itu pecah menyebarkan uap alkohol pekat yang seketika membutakan indra penciuman sensitif hewan pelacak.Anjing herder itu melolong kesakitan sambil menggosokkan hidungnya ke lantai, kehilangan kemampuan melacak jejak.Broto melangkah masuk menyalakan senter besarnya. Sorot cahayanya menembus tirai plastik yang sudah terkoyak."Kau!" geram Broto mengenali postur Leo dari siang tadi. "Bagaimana kau bisa masuk ke sini?!""Pintu belakangmu tidak pernah dirancang untuk menghentikan ahli anatomi," jawab Leo santai.Sang juragan sapi mengarahkan senternya pad

  • Rayuan Desa Wanita   Terapi di Atas Meja Lab

    Jari tangan Widya bergetar parah saat menyentuh kancing jas putihnya.Wanita itu menarik napas panjang. Akal sehatnya menolak instruksi tersebut, namun rasa kebas yang menjalar di pergelangan tangannya menjadi bukti mutlak kematian sel jaringan ototnya.Kain bernoda lumpur itu jatuh ke atas permukaan meja bedah baja. Kemeja katun tipis yang ia kenakan menyusul terlepas dan menumpuk di sisi pinggiran logam.Wanita itu memeluk dadanya sendiri menyembunyikan pakaian dalamnya. Matanya menatap waspada ke arah pria berjas hitam di depannya."Turunkan tanganmu," instruksi Leo melangkah maju merapatkan posisinya ke sela lutut Widya. "Proses pembuangan racun ini tidak bisa terhalang kain apa pun."Widya menurut dengan napas tersengal. Kedua tangannya perlahan turun meremas erat pinggiran meja logam dingin tersebut.Permukaan baja anti karat itu bergesekan langsung dengan kulit belakang pahanya.Leo meletakkan telapak tangan kanannya tepat di atas pangkal bahu kanan Widya yang membengkak parah.

  • Rayuan Desa Wanita   Wabah Misterius di Lereng Timur

    Sinar matahari pagi dengan cepat menyapu sisa-sisa kegelapan malam, menggantikan ketegangan di ruang direktur pabrik dengan terik yang membakar kulit.Di atas lahan kosong seluas dua hektar di sisi barat desa, deru mesin ekskavator dan dentuman paku bumi menggetarkan tanah, menjadi bukti nyata dimu

  • Rayuan Desa Wanita   Bukti Dedikasi Siska

    Lampu neon di ruang direktur pabrik berpendar pucat, membelah kegelapan malam yang telah menyelimuti wilayah kecamatan.Di balik meja jati raksasa yang dulu menjadi simbol kesombongan Juragan Darmo, Leonardo Xaverius duduk dengan tenang. Pria itu menyandarkan punggung kokohnya, menatap tumpukan ber

  • Rayuan Desa Wanita   Cetak Biru Puskesmas Elite

    Deru mesin Jeep rampasan itu kembali membelah jalanan tanah menuju pusat desa. Setelah meninggalkan teror absolut di pabrik kecamatan, Leonardo Xaverius pulang dengan wibawa seorang kaisar yang baru saja memperluas wilayah taklukannya.Begitu Jeep berhenti di halaman balai desa, Pak Joko langsung b

  • Rayuan Desa Wanita   Kau Sadar Sedang Berurusan Dengan Siapa?!

    Kilatan bilah pisau lipat itu memantulkan cahaya lampu ruang direktur. Preman berotot di sebelah kanan Beni menerjang maju dengan kecepatan penuh, berniat merobek dada sang dewa bedah yang dianggapnya hanya seorang dokter kampung."Mati kau, Dokter sialan!" raung preman itu, mengayunkan pisaunya se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status