로그인Debu kering berterbangan di atas lapangan tanah SD Inpres yang atapnya ambruk dua minggu lalu.Tiga tenda terpal berwarna biru didirikan seadanya sebagai ruang kelas darurat. Suhu udara di dalam tenda itu mencapai tiga puluh lima derajat celcius di bawah terik matahari siang.Leo berdiri di ambang gerbang sekolah yang sudah reyot. Mata hitamnya memindai kondisi fasilitas pendidikan desa yang sangat memprihatinkan tersebut.Nida sedang berdiri di depan papan tulis kapur di dalam salah satu tenda. Guru honorer itu mengusap peluh di dahinya menggunakan punggung tangan, namun tetap mempertahankan senyum keibuan pada murid-muridnya.Suara deru mesin diesel mendadak memecah konsentrasi belajar.Sebuah ekskavator berwarna kuning menyala merangsek masuk menghancurkan sisa pagar bambu sekolah.Asap hitam mengepul dari knalpot alat berat tersebut. Lengan besinya terangkat tinggi, bersiap meratakan sisa bangunan kelas yang masih berdiri setengah.Lima pria berbadan tegap berjalan mengawal ekskav
Jam tangan logam di pergelangan kiri Leo menunjuk tepat ke angka sepuluh malam.Pintu kayu gudang jerami utama berderit pelan saat didorong terbuka dari luar.Lampu bohlam kuning gantung menerangi tumpukan jerami kering yang tersusun rapi hingga menyentuh atap seng berkarat.Dua wanita sudah berdiri menunggunya di tengah ruangan berbau rumput dan debu tanah tersebut.Widya masih mengenakan kemeja katun putih dan rok selututnya. Tari berdiri di sebelahnya memakai kaus oblong pudar dan celana pendek kain.Keduanya menundukkan pandangan saat sepatu pantofel Leo menjejak lantai semen gudang yang berdebu."Kalian berdua datang lima menit lebih awal dari jadwal inspeksiku," ucap Leo mengunci tuas pintu dari dalam.Pria itu berjalan mendekati tumpukan jerami tertinggi di sudut kanan ruangan."Kami tidak berani membuat Anda menunggu lama, Dokter Leo," jawab Widya melangkah maju dengan gerakan kaku.Tari meremas ujung kausnya dengan kedua tangan. Gadis tomboi itu tampak sangat canggung berada
Lutut Broto terperosok ke dalam kubangan lumpur kotoran sapi sedalam lima sentimeter.Pria tambun itu menatap nanar tubuh Brahma yang tergeletak kaku. Otot rahangnya bergetar tidak terkendali melihat kegagalannya.Senjata pemusnah utamanya takluk oleh satu tusukan jarum perak.Suara sirine mobil patroli terdengar meraung nyaring dari arah jalan aspal utama peternakan.Tiga unit kendaraan baja milik kepolisian distrik barat menerobos masuk melewati gerbang yang terbuka lebar."Waktumu sudah habis, Broto," ucap Leo menatap pria yang telah kehilangan seluruh kekuasaannya itu.Mobil polisi tersebut melaju cepat dan berhenti mengepung area kandang isolasi.Lima petugas berseragam hitam turun membawa senapan laras panjang. Komandan regu berjalan lurus mendekati posisi Broto."Borgol pria ini sekarang juga," perintah sang komandan menunjuk Broto. "Data transaksi steroid ilegalnya sudah diverifikasi oleh tim forensik pa
Ban bergerigi Jeep hitam menggilas pelataran Peternakan Lembu Putih pada pukul tujuh pagi.Leo turun dari kursi kemudi membawa sebuah map plastik bening di tangan kanannya.Pria itu mengenakan jas putih medisnya, kontras dengan kubangan lumpur dan kotoran basah sapi di bawah kakinya.Sekar melangkah turun dari pintu penumpang. Wanita itu memegang papan akrilik berisi daftar kalkulasi aset dan jadwal distribusi.Puluhan pekerja peternakan menghentikan rutinitas memerah susu pagi mereka. Mereka menatap kedatangan dua tamu tersebut dengan wajah tegang.Leo berjalan lurus mendekati bangunan kayu dua lantai yang menjadi kantor pengawas.Pria itu melemparkan map plastik beningnya ke atas tong drum besi penyimpan air. Bunyi tamparan plastik beradu dengan logam memecah keheningan pagi."Buka salinan dokumen itu, Broto," perintah Leo menatap sang juragan yang baru saja keluar dari pintu kantornya.Broto melangkah menurun
Pintu kaca buram itu hancur berkeping-keping menerima hantaman bahu sang penjaga.Pecahan kaca berhamburan ke atas lantai keramik laboratorium. Anjing herder langsung melompat masuk mengendus kegelapan.Leo berdiri tegak menyembunyikan Widya di balik punggung lebar jas kulit hitamnya.Pria itu mengeluarkan sebotol alkohol medis kadar tinggi dari saku dan melemparkannya tepat ke lantai di depan moncong anjing tersebut.Prang!Botol kaca itu pecah menyebarkan uap alkohol pekat yang seketika membutakan indra penciuman sensitif hewan pelacak.Anjing herder itu melolong kesakitan sambil menggosokkan hidungnya ke lantai, kehilangan kemampuan melacak jejak.Broto melangkah masuk menyalakan senter besarnya. Sorot cahayanya menembus tirai plastik yang sudah terkoyak."Kau!" geram Broto mengenali postur Leo dari siang tadi. "Bagaimana kau bisa masuk ke sini?!""Pintu belakangmu tidak pernah dirancang untuk menghentikan ahli anatomi," jawab Leo santai.Sang juragan sapi mengarahkan senternya pad
Jari tangan Widya bergetar parah saat menyentuh kancing jas putihnya.Wanita itu menarik napas panjang. Akal sehatnya menolak instruksi tersebut, namun rasa kebas yang menjalar di pergelangan tangannya menjadi bukti mutlak kematian sel jaringan ototnya.Kain bernoda lumpur itu jatuh ke atas permukaan meja bedah baja. Kemeja katun tipis yang ia kenakan menyusul terlepas dan menumpuk di sisi pinggiran logam.Wanita itu memeluk dadanya sendiri menyembunyikan pakaian dalamnya. Matanya menatap waspada ke arah pria berjas hitam di depannya."Turunkan tanganmu," instruksi Leo melangkah maju merapatkan posisinya ke sela lutut Widya. "Proses pembuangan racun ini tidak bisa terhalang kain apa pun."Widya menurut dengan napas tersengal. Kedua tangannya perlahan turun meremas erat pinggiran meja logam dingin tersebut.Permukaan baja anti karat itu bergesekan langsung dengan kulit belakang pahanya.Leo meletakkan telapak tangan kanannya tepat di atas pangkal bahu kanan Widya yang membengkak parah.
Leo menahan pinggul Elara menggunakan kedua telapak tangannya yang besar. Pria itu mengatur ritme pergerakannya dengan perhitungan matematis.Setiap dorongan pinggul Leo menargetkan persimpangan saraf sakral di dasar tulang belakang sang wanita. Titik itu menyambung langsung dengan pusat kendali mo
Engsel pintu kayu jati kamar Maya berderit pelan. Elara melangkah masuk menembus keremangan ruang tidur berukuran tiga kali empat meter tersebut.Kamar itu hanya berisi sebuah ranjang kayu jati berlapis seprai putih polos. Sebuah lemari pakaian rotan berdiri kaku di sudut ruangan.Leo menyusul masu
Pintu pagar bambu kembali memunculkan suara gesekan pelan dari luar.Nadia melangkah masuk membawa sebuah map plastik berwarna merah. Mantan inspektur provinsi itu menghentikan langkahnya melihat Diana tergeletak tanpa busana di atas batu datar."Saya membawa salinan pencabutan izin proyek komersia
Leo menepis lensa kamera itu menggunakan punggung tangannya. Bunyi benturan plastik keras menggema nyaring di lorong bangsal timur."Jangan mengganggu staf kebersihanku," tegur Leo menatap tajam wartawan berbaju kotak-kotak itu. "Jika kalian butuh berita, masuk ke ruang kerjaku sekarang."Pria berb