LOGINUjung obeng minus mencongkel engsel jendela kaca nako di lantai dua bangunan laboratorium hewan.Logam tipis itu memutar sekrup karatan tanpa menimbulkan suara gesekan keras.Leo mendorong kaca jendela hingga terbuka selebar bahu.Pria itu melompat masuk ke dalam ruangan gelap tepat pada pukul sebelas malam. Sepatu pantofelnya mendarat mulus di atas lantai keramik putih tanpa menimbulkan gema.Deretan lemari pendingin berbahan stainless steel berdiri berjejer di sisi kiri ruangan. Sinar bulan menembus kaca jendela memberikan pencahayaan minim. Bau alkohol medis bercampur aroma pakan ternak menguasai ventilasi udara.Langkah kaki Leo mendekati lemari pendingin nomor tiga. Tangannya menarik tuas pintu yang hanya dikunci menggunakan kait mekanis sederhana.Puluhan botol kaca berisi cairan kekuningan tanpa label tersusun rapi di rak pendingin. Embun dingin menetes dari permukaan kaca tersebut."Dosis tinggi testosteron dan hormon pertumbuhan sintetik sapi," catat Leo mengambil dua botol k
Palu godam baja seberat sepuluh kilogram itu melesat membelah udara pagi.Genggaman dua tangan sang algojo raksasa menyalurkan seluruh tenaga ototnya untuk menghancurkan sendi lutut target. Angin berdesir keras mengiringi lintasan senjata tumpul pematah tulang hewan tersebut.Leo tidak memundurkan kakinya untuk mencari jarak aman dari jangkauan palu. Pria itu justru melompat ringan satu langkah ke depan, masuk ke dalam area titik buta ayunan sang algojo.Tangan kiri Leo melesat menembus celah pertahanan lawan yang terbuka lebar saat sedang mengayunkan senjata berat.Empat ujung jari Leo menekan dengan kekuatan konstan menembus lapisan otot tebal di pergelangan tangan kanan algojo raksasa tersebut. Tekanan presisi itu menghantam langsung simpul saraf radialis yang mengendalikan fungsi motorik jari.Genggaman tangan kanan algojo itu merenggang seketika di luar kendali sadarnya.Kehilangan setengah titik tumpuan membuat ayunan palu godam itu melenceng jauh dari sasaran. Kepala baja palu
Ban bergerigi Jeep hitam berhenti tepat satu sentimeter di depan gerbang baja berkarat.Leo mematikan mesin kendaraannya dan mencabut kunci kontak.Pria itu melangkah turun menginjak kubangan lumpur bercampur kotoran sapi di pintu masuk Peternakan Lembu Putih.Papan reklame kayu berukuran besar terpampang miring di atas gerbang tersebut.Dua penjaga berbadan tegap langsung menyilangkan tongkat besi menghalangi langkah sang dokter."Buka gerbang ini sekarang juga," perintah Leo menatap lurus ke arah kedua penjaga tersebut."Juragan Broto tidak menerima tamu di jam perah pagi," tolak salah satu penjaga mendorong dada Leo.Leo tidak mengulangi perintahnya atau mundur.Tangan kanannya bergerak secepat kilat meraih persendian siku penjaga itu.Leo memberikan tarikan presisi yang mengunci saraf lengan lawannya hingga tongkat besi itu terlepas.Penjaga itu menjerit tertahan dan ambruk berlutut di atas lumpur.Leo mendorong panel gerbang baja tersebut menggunakan satu hentakan bahu hingga ter
Gagang kunci inggris berbahan baja itu menghantam meja resepsionis kaca dengan keras.Retakan panjang terbentuk seketika membelah permukaan kaca tebal tersebut."Mana dokter sombong itu?!" bentak Sarah mengabaikan pecahan kaca yang berserakan.Montir wanita itu berdiri di tengah lobi puskesmas dengan pakaian mekanik yang masih dipenuhi noda oli. Wajah tomboinya merah padam menahan amarah.Bidan Ayu melangkah mundur berlindung di balik rak rekam medis dengan wajah pucat.Pintu ruang VIP lantai dua terbuka. Leo melangkah keluar sambil memasang kancing kemeja linennya dengan tenang.Sepatu pantofelnya menuruni anak tangga tanpa ada nada ketergesaan sedikit pun."Kau merusak fasilitas medisku, Nona Montir," tegur Leo berhenti di bordes tangga terakhir.Sarah langsung menodongkan kunci inggrisnya lurus ke arah dada Leo."Anak buah Maman membakar bengkelku tiga jam yang lalu!" teriak Sarah dengan suara bergetar."Kau bilang kau yang akan menanggung semua kerusakan fisik jika mereka berani m
Laras senapan menodong lurus menembus kegelapan gudang pengap tersebut.Juragan Maman berdiri di ambang pintu besi yang hancur. Pria tambun itu berjalan tertatih menyeret lutut kanannya yang terbungkus perban medis."Kau pikir bisa merampok gudangku malam ini, Dokter?" geram Maman menarik pelatuk senapannya.Tika bersembunyi di balik punggung tegap Leo. Jari wanita itu meremas erat ujung jaket kulit hitam sang dokter.Napas Tika memburu cepat menahan sisa gairah dan ketakutan yang kini bercampur menjadi satu.Leo memasukkan ponsel pintarnya ke dalam saku celana dengan gerakan santai."Aku tidak merampok. Aku hanya melakukan pendataan barang bukti," jawab Leo tanpa memundurkan langkahnya."Dua puluh ton pupuk curian dan amfetamin cair sudah cukup untuk memastikanmu membusuk di penjara perbatasan."Maman meludah kasar ke lantai semen. Ujung laras senapannya kini mengarah tepat ke dada kiri Leo."Tidak ada yang akan menemukan mayat kalian di hutan pinus ini," ancam Maman bersiap menembak
Senter medis kecil di tangan Leo kembali menyala. Sorot cahaya putihnya menyapu deretan tumpukan karung berlogo pemerintah."Dua puluh ton pupuk subsidi, persis seperti ucapanmu," catat Leo.Tumpukan blok mesin transmisi berjejer rapi di atas palet kayu. Bau besi berkarat mendominasi ruangan tersebut.Tika menutup pintu kayu di belakang mereka perlahan. Wanita itu melangkah mendekati tumpukan ban truk tronton."Maman menjual suku cadang ini ke penadah utara," jelas Tika."Data ini cukup untuk membusukkannya di penjara," balas Leo mengeluarkan ponsel pintarnya.Lensa kamera ponsel memindai nomor seri pada blok mesin curian itu. Kilat cahaya menyala redup mendokumentasikan bukti fisik.Tika berdiri di samping tumpukan ban truk yang tingginya mencapai pinggang orang dewasa.Tangan wanita itu bergerak menurunkan resleting dasternya dari arah kerah leher."Apa yang kau lakukan?" tegur Leo menghentikan bidikan kameranya."Membayar lunas perlindungan yang Anda janjikan," jawab Tika membiarka
Pintu kayu berpelitur gelap di ruang istirahat pribadi lantai dua terbuka pelan. Jarum jam dinding menunjuk angka sebelas malam.Nida melangkah masuk menembus keremangan lampu tidur berwarna kuning. Rok cokelatnya masih menyisakan noda darah kering peninggalan insiden siang tadi.Leo duduk menyanda
Tubuh Jaya menghantam tanah lapangan dengan bunyi berdebum kasar.Debu merah mengepul di sekitar kepalanya yang terkulai lemas. Amplop cokelat berisi uang sepuluh juta itu terlepas dari genggamannya, jatuh menutupi genangan darah segar.Sorakan penonton terhenti secara mendadak. Keriuhan festival b
Tumpukan uang kertas seratus ribuan tersusun rapi di atas meja kayu panjang.Gendang kulit ditabuh bertalu-talu mengiringi sorakan ratusan penonton di sekeliling lapangan desa. Siang itu, festival panen tahunan memasuki puncak acaranya."Hadiah utama lomba halang rintang ini senilai sepuluh juta ru
Jarum jam dinding kuningan di ruang kerja VIP menunjuk tepat ke angka empat sore.Suara ketukan buku jari beradu dengan panel pintu kayu memecah keheningan."Masuk!" perintah Leo meletakkan pena peraknya ke atas meja kaca.Gagang pintu berputar ke bawah secara perlahan. Nida melangkah masuk ke dala







