LOGINSepatu pantofel Leo menginjak lantai epoksi laboratorium utama Pabrik Farmasi Kimia Raya.Pria itu melangkah melewati deretan mesin sentrifugal yang masih berputar memproses cairan kimia sintetik. Lampu neon putih memendarkan cahaya terang menyorot koridor panjang di area produksi obat tersebut.Aroma klorin dan campuran amonia menyengat tajam di udara menandakan standar sterilisasi pabrik yang sangat buruk.Di sudut ruang sterilisasi, Dokter Rosa berdiri tersudut membelakangi meja baja tahan karat.Ahli farmakologi wanita itu mencengkeram erat sebuah tabung reaksi berisi serbuk putih di dada kirinya. Jas putih kebesaran miliknya terlihat kotor oleh noda debu dan bercak cairan kimia.Dua penjaga berbadan gempal berseragam hitam menghalangi jalan keluarnya membawa tongkat kejut listrik."Serahkan sampel obat itu sekarang juga, Dokter Rosa!" bentak penjaga pertama menyalakan aliran listrik di ujung tongkatnya.Suara gemeretak listrik bertegangan tinggi beradu dengan deru mesin di
Sisa abu pembakaran buku utang masih menempel di tepi sepatu pantofel Leo.Pria itu baru saja menginjakkan kakinya kembali di lobi Rumah Sakit Terpadu. Karina segera menghampirinya dengan langkah tergesa membawa papan jadwal kerja."Stok obat anestesi dan antibiotik sintetis kita dihentikan paksa pengirimannya malam ini, Dokter," lapor Kepala Keperawatan itu menahan napas.Laci penyimpanan farmasi yang berada di balik meja resepsionis terbuka lebar memperlihatkan rak baja kosong.Wanita berseragam putih itu menunjuk deretan kotak karton yang hanya berisi kemasan tanpa isi di sudut ruangan."Jadwal bedah trauma darurat terancam batal," tambah Karina merapikan letak kacamata kotaknya. "Obat herbal kita tidak diizinkan untuk pembiusan total pada prosedur operasi tulang besar."Leo meletakkan pena logamnya ke atas meja tanpa mengubah ritme tarikan napasnya. Pria itu berjalan mendekati meja memeriksa sendiri tumpukan daftar inventaris farmasi yang tersisa."Siapa pihak yang berani me
Suara pukulan benda keras pada dinding brankas baja memantul menyakitkan telinga di dalam ruang penyimpanan yang sempit. Udara pengap di dalam kotak besi itu semakin menipis digantikan oleh napas mereka yang memburu.Leo perlahan menarik tangannya dari perut bawah Rika untuk mengakhiri manipulasi saraf pencernaan tersebut. Pria itu menahan kedua bahu sang penaksir gadai untuk menjaga agar tubuh wanita itu tidak merosot ke lantai.Rika menarik napas meredam sisa lonjakan endorfin yang memanaskan aliran darahnya. Keringat membasahi kening dan lehernya menembus kerah kemeja kerjanya yang sederhana."Tetap di sini sampai aku membereskan masalah utang desa," instruksi Leo melepaskan pelukan lengan Rika dari lehernya.Sang dokter memutar tubuhnya membelakangi wanita itu dan mengangkat kaki kanannya.Tendangan keras dari ujung sepatu pantofel Leo menghantam panel pintu brankas baja dari arah dalam. Engsel kunci mekanik itu patah terlepas menghasilkan suara dentuman logam yang menggema d
Sepatu pantofel Leo menginjak lantai beton ruko pegadaian di tengah riuhnya suara musik dangdut dari pasar malam.Pria itu menyelinap melewati celah pintu gulung baja yang dibiarkan setengah terbuka.Dua penjaga berbadan besar berdiri membelakangi lorong memegang tongkat kayu pemukul kasti."Hitung ulang bunga utang desa sebelah," ucap penjaga pertama membuang puntung rokok ke lantai."Mereka selalu telat membayar cicilan bulan ini," balas penjaga kedua menginjak puntung rokok tersebut hingga padam.Leo memangkas jarak dua meter di belakang mereka tanpa menimbulkan suara langkah sedikit pun.Dua jari tangan kanannya melesat ke depan menyerupai peluru menekan telak simpul saraf di leher belakang penjaga pertama.Pria itu merosot jatuh ke ubin beton tanpa sempat mengeluarkan erangan. Penjaga kedua menoleh panik melihat rekannya tumbang begitu saja."Siapa kau?!" bentak penjaga kedua mengangkat tongkat kayunya.Lengan kiri Leo bergerak mengunci pita suara pria itu dari arah depan
Suara tangisan tertahan terdengar dari deretan bangku ruang tunggu perawat di lantai dasar Rumah Sakit Terpadu.Puluhan perawat muda berseragam putih duduk menunduk menutupi wajah mereka dengan kedua tangan.Operasional bangsal rawat inap terganggu total pagi itu karena sebagian besar tenaga medis gagal memfokuskan pikiran pada pekerjaan mereka.Leo berjalan menyusuri koridor memeriksa kondisi para pekerjanya dengan langkah kaki yang terukur."Ponsel mereka terus berdering menerima ancaman fisik dari komplotan penagih utang Pusat Pegadaian Gelap," lapor Karina mengikuti langkah Leo dari belakang.Kepala Keperawatan itu menunjukkan layar ponsel yang menampilkan deretan pesan teror bernada kasar."Hampir separuh staf kita menjaminkan ijazah dan kendaraan mereka pada lintah darat itu," lanjut Karina merapikan kacamata kotaknya. "Bunga pinjaman mencapai lima ratus persen per bulan menjebak mereka dalam utang seumur hidup."Keributan besar mendadak memecah kesunyian dari arah gerbang
Suara derap sepatu pantofel Burhan berputar gelisah di depan meja operator ruang siaran. Tangan pria itu terus memukulkan tiang penyangga mikrofon berbahan baja ke lantai beralas karpet tipis.Hawa panas dari mesin pemancar di belakang lemari penyimpanan semakin mendidih menyengat kulit.Leo perlahan menarik tangannya dari perut bagian atas Sisca untuk menghentikan manipulasi saraf diafragma tersebut. Pria itu menyentuh kedua bahu sang penyiar wanita menstabilkan posturnya yang masih gemetar.Sisca meraup udara pengap itu dengan mulut terbuka meredam sisa-sisa lonjakan hormon endorfin di aliran darahnya."Tetap di sini sampai aku membersihkan hama media itu," instruksi Leo melepaskan pelukan lengan Sisca dari lehernya.Sang dokter memutar tubuhnya membelakangi wanita tersebut dan mengangkat kaki kirinya.Tendangan keras dari ujung sepatu pantofel Leo menghantam daun pintu lemari kayu dari arah dalam. Engsel rapuh itu patah seketika memicu ledakan serpihan kayu jati yang terlempa
Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi
Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu
Sebuah motor klasik hitam yang nilainya di pasar barang antik mencapai ratusan juta, membelah jalanan tanah berbatu. Debu tebal mengepul liar di belakangnya, menutupi pandangan.Namun tiba-tiba saja, motor yang dikendarai oleh pria tampan bernama Leonardo Xaverius itu mogok."Sial! Kenapa harus mog







