LOGINBan bergerigi Jeep hitam menggilas aspal retak perbatasan barat.Kendaraan berat itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan kayu beratap seng miring.Papan reklame kusam bertuliskan 'Bengkel Motor & Mobil' menggantung miring tertiup angin sore yang kering.Jaya duduk menekuk lutut di atas tumpukan ban bekas pinggir jalan. Pria kurus itu melompat berdiri saat melihat majikannya turun dari pintu kemudi."Tuan Leo! Maafkan kelalaian saya," lapor Jaya menundukkan kepala."Saya hanya memarkirkan truk ini lima menit untuk membeli air minum."Leo mengabaikan ucapan kurirnya. Pria itu berjalan lurus mendekati kap depan truk boks yang terbuka lebar.Asap putih berbau sangit masih mengepul tipis dari area mesin diesel tersebut.Tangan kanan Leo menyentuh ujung selang karet radiator yang terputus."Klep selang ini dipotong menggunakan pisau lipat," observasi Leo menatap potongan karet yang sangat rapi. "Cairan pendinginnya sengaja dikuras habis ke tanah.""Mereka menyabotasenya?" gumam Jaya mem
Tetesan keringat mengalir menuruni pelipis Nida.Wanita itu mengatur ritme napasnya yang memburu. Ujung kuku jemarinya mencengkeram erat sandaran kursi kulit hitam di ruang kerja VIP.Blus pudar yang biasa ia kenakan kini tergeletak sembarangan di atas lantai keramik, berdampingan dengan jas putih sang dokter.Leo duduk tegak di kursinya. Pria itu mengendalikan ritme pergerakan secara konstan tanpa mengubah ekspresi wajah datar khasnya.Nida melengkungkan punggungnya ke belakang. Dia menerima hantaman dominasi fisik itu dengan kepatuhan total yang tidak pernah ia tunjukkan satu minggu lalu."Fokuskan pandanganmu ke depan," instruksi Leo menahan pinggul wanita itu menggunakan kedua tangannya.Nida membuka matanya perlahan. Pantulan tubuhnya dan Leo terlihat jelas di kaca jendela besar yang menghadap langsung ke arah jalanan desa.Dari luar, kaca gelap itu tidak menembus pandangan warga. Namun dari dalam, Nida merasa sedang ditonton oleh seluruh isi desa.Sensasi visual itu memacu adren
Langkah kaki Nida terasa berat menapaki anak tangga menuju lantai dua puskesmas. Jam dinding di lorong menunjuk angka delapan pagi. Tangan wanita itu memutar knop pintu ruang kerja VIP perlahan. Leo sedang duduk di balik meja kaca memeriksa tumpukan dokumen logistik. Pria itu mengenakan kemeja linen putih tanpa jas medis. Rambutnya disisir rapi menyamping. "Tutup pintunya dan kunci dari dalam," perintah Leo tanpa mengangkat wajahnya dari kertas. Nida menelan ludah. Dia mendorong pintu kayu berpelitur gelap itu hingga tertutup rapat. Jari tangannya yang sedikit bergetar memutar tuas kunci mekanis. Bunyi klik terdengar nyaring di ruangan sepi itu. "Saya siap menerima instruksi kebersihan hari ini, Dokter," ucap Nida menundukkan pandangannya ke arah lantai keramik. Wanita itu meremas ujung kain lap basah di tangannya mencari pelampiasan rasa gugup. Leo meletakkan pena peraknya di atas meja. Pria itu berdiri tegak. Sepatu pantofelnya bergesekan pelan dengan lantai saat ia berja
Tangan Nida menarik blus pudarnya dari lantai keramik dengan gerakan acak. Wanita itu memasang kancing bajunya tanpa mempedulikan urutan yang benar.Leo mengambil jas putihnya dari atas meja kayu. Tangan kanan pria itu memutar tuas pintu baja ruang arsip.Klik.Roda gigi yang sebelumnya macet kini terbuka hanya dengan satu entakan keras sang dokter bedah."Lewat pintu belakang gudang. Jangan sampai suamimu melihat pakaian basahmu," instruksi Leo menyerahkan senter kecil ke telapak tangan Nida.Nida tidak membalas ucapan tersebut. Wanita itu berlari kecil menembus kegelapan lorong menghindari cahaya lampu sorot truk di pelataran depan.Cahaya lampu minyak di warung kopi depan gang menandakan aktivitas pagi baru saja dimulai.Nida menutup pintu kayu rumah biliknya rapat-rapat. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya bersandar pada daun pintu dengan napas terengah-engah.Lantai semen rumahnya terasa sangat dingin, namun suhu kulitnya masih merekam panas dari sentuhan Leo.Dia berjalan gontai men
Ujung kuku jari Nida berubah membiru kusam.Wanita itu merosot pelan hingga lututnya membentur lantai keramik ruang arsip."Suhu tubuhmu sudah berada di angka tiga puluh empat derajat Celsius," observasi Leo menatap jam di pergelangan tangannya. "Sistem saraf pusatmu akan segera mati."Nida memeluk kedua lututnya dengan sisa tenaga yang ada. Gigi wanita itu beradu menghasilkan bunyi gemeretak yang konstan."Tolong aku," bisik Nida dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar.Leo tidak memajukan langkah kakinya sedikit pun."Aku sudah pernah memberitahumu syaratnya di ruang istirahat waktu itu," tolak Leo melipat kedua tangannya di dada."Aku tidak menerima penyerahan seonggok daging kosong yang terpaksa karena keadaan."Ingatan malam itu kembali menghantam kepala Nida. Pria ini menuntut penyerahan mutlak yang didorong oleh gairah biologis, bukan paksaan utang atau ancaman kematian."Kang Jaya tidak ada di sini," racau Nida meneteskan air mata yang langsung terasa dingin di pipinya.
Kain pel berbahan katun itu menyapu genangan air di lantai keramik.Nida menekan gagang kayunya kuat-kuat untuk mengeringkan tetesan yang merembes dari celah pintu balkon. Kaca jendela di sepanjang lorong lantai dua bergetar hebat menerima hantaman angin kencang.Suara radio komunikasi berbunyi statis dari arah meja kerja Leo. Pria itu menekan tombol panggil menggunakan ibu jarinya."Jalur lintas utara tertutup material longsor, Tuan," lapor suara Sekar memecah bising di luar. "Truk nomor empat terjebak di area pemberhentian. Jaya tidak bisa kembali ke desa malam ini."Leo melepaskan tekanan pada tombol radionya. Matanya melirik ke arah Nida yang masih berjongkok memeras kain pel. Suaminya dipastikan bermalam di jalanan antarkota.Lampu neon putih di langit-langit berkedip tiga kali secara berturut-turut.Bunyi ledakan gardu listrik terdengar sangat keras dari arah bukit timur. Cahaya di dalam bangunan puskesmas mati total dalam hitungan detik."Generator cadangan kita sedang dalam pe