Home / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Satu Kasur Bertiga

Share

Satu Kasur Bertiga

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-04-15 19:29:46

Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua.

Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius terpaksa memblokir ruang di tengah-tengahnya.

Leo memandang lurus ke langit-langit kamar berdebu itu dan menahan napas. Sebagai dokter bedah, ia terbiasa mengendalikan diri dalam situasi paling kritis sekalipun. Akan tetapi, malam ini ketahanannya sebagai laki-laki normal benar-benar diuji hingga ke batas maksimal.

"Nghh... Dokter... di sini hangat," gumam Kania dengan suara parau khas orang mengigau.

Gadis belia yang tidur di sebelah kanan itu semakin merapatkan tubuhnya, memeluk lengan kanan Leo erat-erat. Napas hangat Kania yang berbau sabun mandi menyapu ceruk leher Leo. Sesekali, bukit kembarnya yang ranum dan tak terhalang bra bergesekan pelan dengan bisep lengan Leo. Sentuhan tak disengaja itu seolah memantik api di dalam darah sang dokter.

Leo menelan ludah. "Tidurlah, Kania. Jangan banyak bergerak," bisiknya sangat pelan, meski ia tahu gadis itu tidak mendengarnya.

Namun, pemicu utama gairah Leo sebenarnya ada di sebelah kirinya. Maya berbaring membelakangi Leo. Janda berwajah ayu itu dari luar tampak sudah terlelap, tetapi telinga tajam Leo bisa mendengar ritme napas Maya yang memburu kencang. Wanita dewasa itu sama sekali tidak tidur.

Leo memejamkan mata, mati-matian menahan rasa tegang di perut bagian bawahnya yang mulai berpusat di balik resleting celananya. Tepat pada saat ketegangan itu memuncak, Maya membalikkan tubuhnya secara perlahan.

"Dokter belum tidur...?" bisik Maya dengan suara yang luar biasa serak dan menggoda. Napasnya terasa panas, langsung menerpa pipi Leo.

Aroma keringat dingin yang bercampur dengan wangi musk khas tubuh wanita dewasa menginvasi indra penciuman Leo. Aromanya jauh lebih pekat dan memabukkan dari kepolosan Kania.

Di balik selimut tipis yang menutupi mereka bertiga, sebuah tangan lembut mulai merayap perlahan dari lutut Leo menuju ke atas paha.

Otot di pelipis Leo berkedut. Ia menoleh ke kiri.

Dalam cahaya redup, sepasang mata sayu Maya menatap wajah Leo dengan rasa lapar yang tak lagi disembunyikan.

"Badanku rasanya panas dan aneh malam ini, Dok. Apa Dokter nggak merasakannya juga?" goda Maya pelan.

Tanpa menunggu persetujuan, jari-jari Maya menyusup ke balik ujung kaus Leo. Ia mengusap perlahan otot perut sang dokter yang rata dan sekeras batu giok, memberikan sensasi menggelitik yang menyengat saraf.

"Jangan memancing masalah di tempat yang sempit ini, Maya," balas Leo dengan suara bariton yang ditekan sangat rendah.

Tangan kiri Leo bergerak secepat kilat, menangkap pergelangan tangan Maya di bawah selimut. Maya sedikit tersentak kaget, mengira dewa penyelamatnya itu akan menepisnya. Namun, bibir janda kembang itu justru melengkung membentuk senyum tipis yang penuh kemenangan.

"Kalau Dokter menganggapku masalah..." bisik Maya semakin mendekatkan wajahnya, "Lalu kenapa Dokter nggak menyingkirkan tanganku? Aku deg-degan banget, Dok."

Leo terdiam, auranya memancarkan dominasi yang tenang. Jari-jari besarnya memang tidak menyingkirkan tangan Maya. Alih-alih menolak, ibu jari Leo justru menekan sebuah titik saraf di pergelangan tangan Maya, memunculkan aliran rasa geli dan nikmat yang membuat wanita itu nyaris mengerang.

Sambil tetap menatap mata Maya, Leo menuntun perlahan tangan nakal wanita itu bergerak semakin turun, melewati batas ikat pinggang celananya.

"Itu karena aku tahu persis seberapa putus asanya kamu menginginkannya malam ini," desis Leo tepat di telinga Maya, napasnya membakar tengkuk sang janda.

Maya memejamkan matanya rapat-rapat, air mata gairah menggenang di pelupuknya. Jari-jarinya kini menyentuh milik Leo yang telah menegang kaku bagaikan besi panas di balik ritsleting celana. Wanita itu meremasnya pelan, memijatnya dengan ritme yang membuat napas Leo memberat.

"Ah... punyamu sudah sekeras ini, Dokter," desah Maya dengan suara terputus-putus. "Tolong... biarkan aku bantu untuk mengeluarkannya. Aku nggak tahan lagi."

Insting pria Leo mengambil alih. Tangan kiri sang dokter kini membalas tuntas. Ia menyusupkan telapak tangannya ke balik kemben batik Maya, menemukan gundukan bukit yang padat, lalu mulai menjelajahinya dengan perlahan.

"Lakukan dengan pelan dan jangan bersuara," perintah Leo mutlak. "Jangan sampai anakmu bangun."

"Mmh... tentu saja, Dok," erang Maya tertahan. Tubuh sintalnya menggeliat pelan mencari ruang di bawah selimut tipis itu.

Tangan Maya semakin liar. Jari-jari lentiknya bergerak menyentuh kepala resleting celana jeans pemuda itu.

Leo sendiri bersiap menyambut sentuhan lembut dari tangan sang janda yang sudah kepalang basah.

Namun, tepat di detik ritsleting celana Leo ditarik ke bawah dengan bunyi srek yang pelan...

"Nghh..."

Suara lenguhan yang jauh lebih keras terdengar dari sebelah kanan. Kania bergerak!

Leo dan Maya seketika membeku kaku. Jantung Maya serasa berhenti berdetak, dan tubuhnya diguyur keringat dingin.

Gadis belia yang sedari tadi tertidur pulas itu tiba-tiba mengubah posisi tidurnya dengan kasar. Tanpa disangka, kaki kiri Kania melintang melempar ke atas paha Leo. Di saat yang sama, tangan kiri Kania merayap acak ke bawah selimut.

Sebuah tangan kecil dan polos mendarat tepat di atas punggung tangan ibunya, yang saat itu sedang menggenggam erat pusaka Leonardo.

Leo menahan napasnya. Rahangnya mengeras.

Kania mengusap-usap tangannya yang berada tepat di atas tumpukan tangan ibunya dan 'pusaka' sang dokter. Kening gadis itu berkerut kebingungan. Perlahan, bulu mata lentiknya bergetar dan kelopak matanya terbuka penuh.

Dalam jarak yang sangat dekat, mata bulat Kania menatap wajah Leo dan ibunya secara bergantian di bawah keremangan cahaya teplok. Suara seraknya khas orang bangun tidur terdengar membelah kesunyian kamar yang mematikan itu.

"Ibu... Dokter Leo..." gumam Kania polos. "Kalian berdua lagi pegang apa di bawah selimut?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Bilik Dekontaminasi

    Sepatu pantofel Leo menginjak lantai epoksi laboratorium utama Pabrik Farmasi Kimia Raya.​Pria itu melangkah melewati deretan mesin sentrifugal yang masih berputar memproses cairan kimia sintetik. Lampu neon putih memendarkan cahaya terang menyorot koridor panjang di area produksi obat tersebut.​Aroma klorin dan campuran amonia menyengat tajam di udara menandakan standar sterilisasi pabrik yang sangat buruk.​Di sudut ruang sterilisasi, Dokter Rosa berdiri tersudut membelakangi meja baja tahan karat.​Ahli farmakologi wanita itu mencengkeram erat sebuah tabung reaksi berisi serbuk putih di dada kirinya. Jas putih kebesaran miliknya terlihat kotor oleh noda debu dan bercak cairan kimia.​Dua penjaga berbadan gempal berseragam hitam menghalangi jalan keluarnya membawa tongkat kejut listrik.​"Serahkan sampel obat itu sekarang juga, Dokter Rosa!" bentak penjaga pertama menyalakan aliran listrik di ujung tongkatnya.​Suara gemeretak listrik bertegangan tinggi beradu dengan deru mesin di

  • Rayuan Desa Wanita   Monopoli Obat Sintetis

    Sisa abu pembakaran buku utang masih menempel di tepi sepatu pantofel Leo.​Pria itu baru saja menginjakkan kakinya kembali di lobi Rumah Sakit Terpadu. Karina segera menghampirinya dengan langkah tergesa membawa papan jadwal kerja.​"Stok obat anestesi dan antibiotik sintetis kita dihentikan paksa pengirimannya malam ini, Dokter," lapor Kepala Keperawatan itu menahan napas.​Laci penyimpanan farmasi yang berada di balik meja resepsionis terbuka lebar memperlihatkan rak baja kosong.Wanita berseragam putih itu menunjuk deretan kotak karton yang hanya berisi kemasan tanpa isi di sudut ruangan.​"Jadwal bedah trauma darurat terancam batal," tambah Karina merapikan letak kacamata kotaknya. "Obat herbal kita tidak diizinkan untuk pembiusan total pada prosedur operasi tulang besar."​Leo meletakkan pena logamnya ke atas meja tanpa mengubah ritme tarikan napasnya. Pria itu berjalan mendekati meja memeriksa sendiri tumpukan daftar inventaris farmasi yang tersisa.​"Siapa pihak yang berani me

  • Rayuan Desa Wanita   Lambung yang Bocor

    Suara pukulan benda keras pada dinding brankas baja memantul menyakitkan telinga di dalam ruang penyimpanan yang sempit. Udara pengap di dalam kotak besi itu semakin menipis digantikan oleh napas mereka yang memburu.​Leo perlahan menarik tangannya dari perut bawah Rika untuk mengakhiri manipulasi saraf pencernaan tersebut. Pria itu menahan kedua bahu sang penaksir gadai untuk menjaga agar tubuh wanita itu tidak merosot ke lantai.​Rika menarik napas meredam sisa lonjakan endorfin yang memanaskan aliran darahnya. Keringat membasahi kening dan lehernya menembus kerah kemeja kerjanya yang sederhana.​"Tetap di sini sampai aku membereskan masalah utang desa," instruksi Leo melepaskan pelukan lengan Rika dari lehernya.​Sang dokter memutar tubuhnya membelakangi wanita itu dan mengangkat kaki kanannya.​Tendangan keras dari ujung sepatu pantofel Leo menghantam panel pintu brankas baja dari arah dalam. Engsel kunci mekanik itu patah terlepas menghasilkan suara dentuman logam yang menggema d

  • Rayuan Desa Wanita   Brankas Barang Sitaan

    Sepatu pantofel Leo menginjak lantai beton ruko pegadaian di tengah riuhnya suara musik dangdut dari pasar malam.Pria itu menyelinap melewati celah pintu gulung baja yang dibiarkan setengah terbuka.​Dua penjaga berbadan besar berdiri membelakangi lorong memegang tongkat kayu pemukul kasti.​"Hitung ulang bunga utang desa sebelah," ucap penjaga pertama membuang puntung rokok ke lantai.​"Mereka selalu telat membayar cicilan bulan ini," balas penjaga kedua menginjak puntung rokok tersebut hingga padam.Leo memangkas jarak dua meter di belakang mereka tanpa menimbulkan suara langkah sedikit pun.​Dua jari tangan kanannya melesat ke depan menyerupai peluru menekan telak simpul saraf di leher belakang penjaga pertama.​Pria itu merosot jatuh ke ubin beton tanpa sempat mengeluarkan erangan. Penjaga kedua menoleh panik melihat rekannya tumbang begitu saja.​"Siapa kau?!" bentak penjaga kedua mengangkat tongkat kayunya.​Lengan kiri Leo bergerak mengunci pita suara pria itu dari arah depan

  • Rayuan Desa Wanita   Teror Bunga Mencekik

    Suara tangisan tertahan terdengar dari deretan bangku ruang tunggu perawat di lantai dasar Rumah Sakit Terpadu.​Puluhan perawat muda berseragam putih duduk menunduk menutupi wajah mereka dengan kedua tangan.Operasional bangsal rawat inap terganggu total pagi itu karena sebagian besar tenaga medis gagal memfokuskan pikiran pada pekerjaan mereka.​Leo berjalan menyusuri koridor memeriksa kondisi para pekerjanya dengan langkah kaki yang terukur.​"Ponsel mereka terus berdering menerima ancaman fisik dari komplotan penagih utang Pusat Pegadaian Gelap," lapor Karina mengikuti langkah Leo dari belakang.​Kepala Keperawatan itu menunjukkan layar ponsel yang menampilkan deretan pesan teror bernada kasar.​"Hampir separuh staf kita menjaminkan ijazah dan kendaraan mereka pada lintah darat itu," lanjut Karina merapikan kacamata kotaknya. "Bunga pinjaman mencapai lima ratus persen per bulan menjebak mereka dalam utang seumur hidup."​Keributan besar mendadak memecah kesunyian dari arah gerbang

  • Rayuan Desa Wanita   Suara yang Hilang

    Suara derap sepatu pantofel Burhan berputar gelisah di depan meja operator ruang siaran. Tangan pria itu terus memukulkan tiang penyangga mikrofon berbahan baja ke lantai beralas karpet tipis.​Hawa panas dari mesin pemancar di belakang lemari penyimpanan semakin mendidih menyengat kulit.​Leo perlahan menarik tangannya dari perut bagian atas Sisca untuk menghentikan manipulasi saraf diafragma tersebut. Pria itu menyentuh kedua bahu sang penyiar wanita menstabilkan posturnya yang masih gemetar.​Sisca meraup udara pengap itu dengan mulut terbuka meredam sisa-sisa lonjakan hormon endorfin di aliran darahnya.​"Tetap di sini sampai aku membersihkan hama media itu," instruksi Leo melepaskan pelukan lengan Sisca dari lehernya.​Sang dokter memutar tubuhnya membelakangi wanita tersebut dan mengangkat kaki kirinya.​Tendangan keras dari ujung sepatu pantofel Leo menghantam daun pintu lemari kayu dari arah dalam. Engsel rapuh itu patah seketika memicu ledakan serpihan kayu jati yang terlempa

  • Rayuan Desa Wanita   Berikan Tubuhmu!

    Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in

  • Rayuan Desa Wanita   Dapur Yang Panas Dan Menegangkan

    Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m

  • Rayuan Desa Wanita   Sentuhan Sang Dokter

    Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi

  • Rayuan Desa Wanita   Anak dan Ibu Sama-sama Menggoda

    Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status