LOGINKamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua.
Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius terpaksa memblokir ruang di tengah-tengahnya. Leo memandang lurus ke langit-langit kamar berdebu itu dan menahan napas. Sebagai dokter bedah, ia terbiasa mengendalikan diri dalam situasi paling kritis sekalipun. Akan tetapi, malam ini ketahanannya sebagai laki-laki normal benar-benar diuji hingga ke batas maksimal. "Nghh... Dokter... di sini hangat," gumam Kania dengan suara parau khas orang mengigau. Gadis belia yang tidur di sebelah kanan itu semakin merapatkan tubuhnya, memeluk lengan kanan Leo erat-erat. Napas hangat Kania yang berbau sabun mandi menyapu ceruk leher Leo. Sesekali, bukit kembarnya yang ranum dan tak terhalang bra bergesekan pelan dengan bisep lengan Leo. Sentuhan tak disengaja itu seolah memantik api di dalam darah sang dokter. Leo menelan ludah. "Tidurlah, Kania. Jangan banyak bergerak," bisiknya sangat pelan, meski ia tahu gadis itu tidak mendengarnya. Namun, pemicu utama gairah Leo sebenarnya ada di sebelah kirinya. Maya berbaring membelakangi Leo. Janda berwajah ayu itu dari luar tampak sudah terlelap, tetapi telinga tajam Leo bisa mendengar ritme napas Maya yang memburu kencang. Wanita dewasa itu sama sekali tidak tidur. Leo memejamkan mata, mati-matian menahan rasa tegang di perut bagian bawahnya yang mulai berpusat di balik resleting celananya. Tepat pada saat ketegangan itu memuncak, Maya membalikkan tubuhnya secara perlahan. "Dokter belum tidur...?" bisik Maya dengan suara yang luar biasa serak dan menggoda. Napasnya terasa panas, langsung menerpa pipi Leo. Aroma keringat dingin yang bercampur dengan wangi musk khas tubuh wanita dewasa menginvasi indra penciuman Leo. Aromanya jauh lebih pekat dan memabukkan dari kepolosan Kania. Di balik selimut tipis yang menutupi mereka bertiga, sebuah tangan lembut mulai merayap perlahan dari lutut Leo menuju ke atas paha. Otot di pelipis Leo berkedut. Ia menoleh ke kiri. Dalam cahaya redup, sepasang mata sayu Maya menatap wajah Leo dengan rasa lapar yang tak lagi disembunyikan. "Badanku rasanya panas dan aneh malam ini, Dok. Apa Dokter nggak merasakannya juga?" goda Maya pelan. Tanpa menunggu persetujuan, jari-jari Maya menyusup ke balik ujung kaus Leo. Ia mengusap perlahan otot perut sang dokter yang rata dan sekeras batu giok, memberikan sensasi menggelitik yang menyengat saraf. "Jangan memancing masalah di tempat yang sempit ini, Maya," balas Leo dengan suara bariton yang ditekan sangat rendah. Tangan kiri Leo bergerak secepat kilat, menangkap pergelangan tangan Maya di bawah selimut. Maya sedikit tersentak kaget, mengira dewa penyelamatnya itu akan menepisnya. Namun, bibir janda kembang itu justru melengkung membentuk senyum tipis yang penuh kemenangan. "Kalau Dokter menganggapku masalah..." bisik Maya semakin mendekatkan wajahnya, "Lalu kenapa Dokter nggak menyingkirkan tanganku? Aku deg-degan banget, Dok." Leo terdiam, auranya memancarkan dominasi yang tenang. Jari-jari besarnya memang tidak menyingkirkan tangan Maya. Alih-alih menolak, ibu jari Leo justru menekan sebuah titik saraf di pergelangan tangan Maya, memunculkan aliran rasa geli dan nikmat yang membuat wanita itu nyaris mengerang. Sambil tetap menatap mata Maya, Leo menuntun perlahan tangan nakal wanita itu bergerak semakin turun, melewati batas ikat pinggang celananya. "Itu karena aku tahu persis seberapa putus asanya kamu menginginkannya malam ini," desis Leo tepat di telinga Maya, napasnya membakar tengkuk sang janda. Maya memejamkan matanya rapat-rapat, air mata gairah menggenang di pelupuknya. Jari-jarinya kini menyentuh kejantanan Leo yang telah menegang kaku bagaikan besi panas di balik ritsleting celana. Wanita itu meremasnya pelan, memijatnya dengan ritme yang membuat napas Leo memberat. "Ah... punyamu sudah sekeras ini, Dokter," desah Maya dengan suara terputus-putus. "Tolong... biarkan aku bantu untuk mengeluarkannya. Aku nggak tahan lagi." Insting pria Leo mengambil alih. Tangan kiri sang dokter kini membalas tuntas. Ia menyusupkan telapak tangannya ke balik kemben batik Maya, menemukan bukit kembarnya yang padat dan matang, lalu meremas puncaknya dengan dominasi mutlak. "Lakukan dengan pelan dan jangan bersuara," perintah Leo mutlak. "Jangan sampai anakmu bangun." "Mmh... tentu saja, Dok," erang Maya tertahan. Tubuh sintalnya menggeliat pelan mencari ruang di bawah selimut tipis itu. Tangan Maya semakin liar. Jari-jari lentiknya bergerak menyentuh kepala resleting celana jeans pemuda itu. Leo memperkuat remasannya pada dada Maya, bersiap menyambut sentuhan telanjang dari tangan sang janda yang sudah kepalang basah. Namun, tepat di detik ritsleting celana Leo ditarik ke bawah dengan bunyi srek yang pelan... "Nghh..." Suara lenguhan yang jauh lebih keras terdengar dari sebelah kanan. Kania bergerak! Leo dan Maya seketika membeku kaku. Jantung Maya serasa berhenti berdetak, dan tubuhnya diguyur keringat dingin. Gadis belia yang sedari tadi tertidur pulas itu tiba-tiba mengubah posisi tidurnya dengan kasar. Tanpa disangka, kaki kiri Kania melintang melempar ke atas paha Leo. Di saat yang sama, tangan kiri Kania merayap acak ke bawah selimut. Sebuah tangan kecil dan polos mendarat tepat di atas punggung tangan ibunya, yang saat itu sedang menggenggam erat kejantanan Leonardo. Leo menahan napasnya. Rahangnya mengeras. Kania mengusap-usap tangannya yang berada tepat di atas tumpukan tangan ibunya dan 'pusaka' sang dokter. Kening gadis itu berkerut kebingungan. Perlahan, bulu mata lentiknya bergetar dan kelopak matanya terbuka penuh. Dalam jarak yang sangat dekat, mata bulat Kania menatap wajah Leo dan ibunya secara bergantian di bawah keremangan cahaya teplok. Suara seraknya khas orang bangun tidur terdengar membelah kesunyian kamar yang mematikan itu. "Ibu... Dokter Leo..." gumam Kania polos. "Kalian berdua lagi pegang apa di bawah selimut?”Silau lampu sorot halogen dari Jeep hitam itu perlahan meredup, namun tekanan aura membunuh yang dibawanya justru semakin pekat mencekik udara.Kobra menyipitkan mata, berusaha memfokuskan pandangannya pada siluet tinggi tegap yang melangkah turun dengan tenang. Pisau parangnya masih menempel di leher Sekar, namun entah mengapa telapak tangannya mulai berkeringat dingin."Kau yang bernama Dokter Leonardo?!" bentak Kobra dengan suara serak, berusaha mati-matian mempertahankan wibawanya di depan anak buahnya. "Ternyata kau punya nyali juga datang mengantarkan nyawa ke sarang serigala!""Aku menyuruhmu menjauhkan pisau karatan itu dari wanitaku, Tikus," ulang Leo dengan suara bariton yang teramat tenang namun mematikan. Langkah sepatunya terdengar berat, memecah keheningan malam yang tegang.Merasa harga dirinya sebagai eksekutor mafia diinjak-injak, Kobra menarik parangnya dari leher Sekar dan menudingkannya tepat ke arah dada sang dewa bedah."Habisi dokter sombong ini! Cincang tubuhny
Tengah malam menyelimuti desa teh dengan kepekatan yang mencekam. Berkat sapuan badai berdarah dingin dari sang dewa bedah di perbatasan tadi siang, sepuluh armada truk pengangkut baja dan semen kini telah terparkir aman di area proyek puskesmas."Wibawa Tuan Leo sungguh tak masuk akal. Saya dengar dari para sopir, barikade di perbatasan itu hancur hanya dalam lima belas menit," gumam Pak Joko dengan nada takjub, merapatkan jaket tebalnya di pos jaga darurat."Itulah mengapa kita harus menjaga material ini dengan nyawa kita," balas Sekar tegas. Janda sintal yang kini menjabat Kepala Operasional itu memanggul pipa besi di bahunya, menatap waspada ke arah gulita. "Sindikat Naga Hitam tidak akan menelan rasa malu itu begitu saja."Firasat tajam sang mandor rupanya sangat akurat.Belum genap Pak Joko menyesap kopinya, suara deru puluhan mesin motor bersilangan dengan langkah kaki berat memecah kesunyian malam. Dari arah hutan pinus yang berbatasan dengan jalan kabupaten, puluhan titik api
Sinar mentari pagi mengusir sisa-sisa dingin di ruang istirahat klinik darurat. Leonardo Xaverius melangkah keluar dengan kemeja linen yang melekat pas di tubuh kekarnya, memancarkan wibawa absolut seorang penguasa yang baru saja memuaskan hasratnya.Di belakang sang dewa bedah, Ayu menunduk patuh. Gadis berhijab itu memeluk tas medisnya dengan rona merah yang masih menghiasi wajah cantiknya."Pastikan suplai herbal penetralisir untuk para korban Lereng Timur tetap terjaga hari ini, Ayu," perintah Leo mutlak tanpa menoleh sedikit pun."Siap, Tuan Leonardo. Saya akan mengawasi mereka tanpa henti," jawab Ayu lembut, suaranya dipenuhi ketundukan penuh sebagai abdi setia.Leo mengangguk pelan, lalu melangkah menuju area proyek di sisi barat desa. Namun, alih-alih disambut oleh deru bising ekskavator dan pekerja yang sibuk, suasana pagi itu justru hening. Ratusan pemuda desa hanya duduk-duduk di atas gundukan tanah galian dengan wajah tegang dan tangan mengepal."Ada apa ini, Sekar? Kenapa
Matahari akhirnya tenggelam di balik cakrawala, membawa pergi sisa-sisa kekacauan dari balai desa.Puluhan warga Lereng Timur kini tertidur pulas dengan wajah damai di bawah tenda darurat yang disiapkan warga, tubuh mereka telah sepenuhnya bersih dari ancaman racun mematikan.Di dalam ruang istirahat darurat klinik desa yang remang-remang, Leonardo Xaverius duduk bersandar di tepi ranjang periksa. Sang dewa bedah memejamkan mata, memulihkan tenaga batinnya setelah melakukan akupunktur massal yang cukup menguras energi."Tuan Leonardo... Anda belum istirahat?" sapa sebuah suara lembut dari ambang pintu.Bidan Ayu berdiri di sana, masih mengenakan seragam dinas perawat putihnya yang bersih. Wajah cantiknya memancarkan kelelahan, namun sepasang matanya berbinar dengan rasa kagum yang luar biasa pekat saat menatap wibawa Leo."Darah kotor dan racun tidak akan membiarkan seorang raja tertidur sebelum tugasnya dipastikan selesai," jawab Leo dengan suara bariton yang berat dan maskulin. Mata
"Enam puluh detik dimulai dari sekarang, Tuan Leonardo!" seru Bidan Ayu sambil menekan tombol stopwatch di ponselnya. Suara gadis berhijab itu melengking tegas, sepenuhnya terbawa oleh dominasi sang dewa bedah.Mendengar hitungan mundur itu, wajah dr. Herman merah padam. Gengsinya sebagai dokter spesialis senior dari kabupaten merasa diinjak-injak hingga rata dengan tanah."Kau pikir trik murahan menghitung mundur itu bisa mengintimidasiku?!" geram Herman dengan urat leher menonjol. Ia berbalik menatap perawatnya. "Abaikan orang gila ini! Suntikkan Diazepam dosis tinggi untuk menghentikan kejangnya, lalu masukkan antibiotik Ceftriaxone ke pembuluh darah pria gemuk di sana!""Tahan jarum kalian," peringat Leo dengan nada suara sedingin es batu. Pria berjaket kulit itu melangkah maju dengan tangan di dalam saku. "Kau menyuntikkan Diazepam pada pasien dengan toksisitas arsenik dan timbal? Kau baru saja menandatangani surat kematiannya, Herman.""Jangan sok tahu kau, Dokter Udik!" bentak
Suara decit rem dan raungan sirine itu membelah ketegangan di balai desa, mengalihkan perhatian seluruh warga dari keajaiban jarum perak Leonardo Xaverius.Dari dalam mobil dinas berpelat merah muda, turunlah seorang pria paruh baya mengenakan jas putih kedokteran yang disetrika sangat rapi. Di lehernya terkalung stetoskop impor mahal. Pria itu menatap jijik ke arah tanah berdebu balai desa, melangkah angkuh diikuti empat perawat pria bertubuh tegap."Hentikan semua tindakan medis ilegal ini detik ini juga!" bentak pria berjas putih itu dengan suara melengking arogan.Bidan Ayu yang sedang menyiapkan alkohol seketika terlonjak. Wajah gadis berhijab itu memucat saat mengenali siapa yang baru saja datang."D-dokter Herman?! Kepala Pengawas Medis dari Dinas Kesehatan Kabupaten?" cicit Ayu dengan tangan bergetar, tanpa sadar mundur selangkah mendekati punggung kokoh Leo."Siapa anjing tua yang berani menggonggong dan mengotori halamanku di tengah prosedur penyelamatan nyawa?" sahut Leo da