LOGINSenyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bulan.
"Ah!" Kania memekik tertahan. Wajahnya seketika merona merah padam hingga ke telinga. Dengan tangan gemetar, Kania buru-buru menarik kain tersebut ke atas, berusaha menutupi apa yang telanjur terpampang di depan mata pria asing penyelamatnya. Melihat kepanikan gadis itu, Leo seharusnya memalingkan wajah untuk menjaga kesopanan. Namun, ia bukanlah pria munafik. Ia menikmati pemandangan indah itu selama sekian detik. Akan tetapi, tatapan tajam Leo dengan cepat menangkap sebuah detail lain yang membuat sorot matanya berubah serius. Tepat di bawah tulang selangka Kania, di area bahu yang terbuka, terdapat memar kemerahan berbentuk cetakan jari yang mulai membengkak. Cengkeraman salah satu preman tadi rupanya terlalu keras. Tanpa membuang waktu, Leo melangkah maju. Sepatu bot kulitnya berderak di atas tanah berbatu, memangkas jarak di antara mereka hingga hanya tersisa satu jengkal. Tubuh tinggi tegap Leo menjulang, memberikan bayangan intimidasi yang membuat Kania refleks memundurkan langkahnya hingga punggungnya membentur tembok bata yang dingin. "T-Tuan... ada apa?" cicit Kania dengan suara bergetar. Jantungnya berdebar gila-gilaan. "Jangan bergerak!" perintah Leo dengan suara bariton yang berat dan tak terbantahkan. Itu adalah nada yang sama saat ia memberikan instruksi absolut kepada para perawat di ruang gawat darurat. Kania membeku seketika. Napasnya tertahan saat tangan besar Leo yang hangat terulur ke arahnya. Ia memejamkan mata, mengira pria kota yang liar ini akan melakukan sesuatu yang buruk. Namun, yang ia rasakan justru sentuhan yang sangat lembut. Ujung jari telunjuk dan ibu jari Leo menyentuh area bahu Kania yang memar. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan menekan perlahan dengan ritme tertentu untuk memeriksa kondisi otot di bawahnya. Kontras antara tangan pembunuh yang tadi menghancurkan rahang preman dengan sentuhan selembut sutra ini membuat bulu kuduk Kania meremang hebat. Aliran darahnya terasa berdesir panas ke seluruh tubuh. "Otot bahumu sedikit tegang, dan ada pembengkakan minor di area klavikula," ucap Leo santai, wajahnya begitu dekat hingga Kania bisa mencium aroma maskulin dari parfum mahal pria itu yang bercampur dengan wangi debu jalanan. "Untung tulangnya nggak ada yang retak. Kompres pakai air dingin pas kamu sampai di rumah nanti." Kania membuka matanya perlahan, menatap wajah tampan Leo dari jarak sedekat ini. "T-Tuan... Tuan tahu soal pengobatan?" Leo menarik tangannya, mengukir senyum tipis yang penuh karisma. "Aku dokter bedah. Mengenali luka memar seperti ini cuma butuh satu lirikan mata." Sebelum Kania sempat mencerna informasi itu, Leo melepaskan jaket kulit tebal yang ia kenakan. Dengan gerakan luwes, ia menyampirkan jaket kebesaran itu ke bahu Kania, menutupi tubuh bagian atas gadis itu beserta kembennya yang berantakan. "Pakai ini. Udara malam nggak bagus untuk pasien yang baru saja mengalami syok," ucap Leo datar, meski sebenarnya ia hanya ingin menutupi pemandangan itu agar miliknya tidak bereaksi lebih jauh di tempat terbuka ini. Kania merapatkan jaket kulit itu ke tubuhnya. Rasa hangat dan wangi tubuh Leo langsung menyelimutinya, memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. "Te-terima kasih banyak, Dokter... Namaku Kania," ucap gadis itu dengan tulus. "Leonardo," balas Leo singkat. Ia kemudian berbalik, berjalan menghampiri motor klasik hitamnya yang sedari tadi teronggok mati di pinggir jalan. Leo mencoba menyalakan mesinnya sekali lagi. Suara mesin menderu lemah sebelum akhirnya mati total dengan bunyi mendesis. Leo mendecak kesal, memukul tangki motor ratusan juta itu. "Sialan. Kania, apa di desa ini ada bengkel yang masih buka? Atau seenggaknya tempat buat cari sinyal telepon?" tanya Leo sambil merogoh ponselnya yang menunjukkan indikator tanpa layanan. Kania menggeleng pelan. "Di sini susah sinyal, Dokter Leo. Bengkel Pak Rahmat juga ada di desa sebelah. Kalau jalan kaki butuh waktu satu jam, dan jam segini pasti sudah tutup." Leo menghela napas panjang. Menginap di jalanan desa yang berdebu ini jelas bukan pilihan bagi pewaris rumah sakit sepertinya. Uang seratus juta di dalam ranselnya sama sekali tidak berguna jika tidak ada fasilitas yang bisa ia beli. Melihat dewa penyelamatnya kebingungan, Kania mengumpulkan keberaniannya. Ia merasa sangat berutang budi. "Kalau Dokter Leo nggak keberatan..." Kania menggigit bibir bawahnya ragu, "Rumahku nggak jauh dari sini. Dokter bisa istirahat dulu di sana, seenggaknya untuk minum teh hangat dan membersihkan diri. Halaman belakang rumah kami juga cukup luas buat parkir motor Dokter. Besok pagi-pagi, aku coba minta tolong warga untuk mencarikan montir dari desa sebelah." Alis Leo terangkat sebelah. Sebuah tawaran yang sangat logis dan menguntungkan. Menginap di rumah gadis cantik? Ini jauh lebih baik daripada bermalam di pinggir jalan. "Baiklah kalau nggak ngerepotin kamu, Kania," ucap Leo dengan senyum tipis. Leo mulai menuntun motor klasiknya yang berat, berjalan berdampingan dengan Kania menembus jalanan desa yang gulita. Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di pekarangan belakang sebuah rumah kayu yang sederhana. Leo baru saja menyandarkan motornya di dekat gudang tua saat suara decit engsel pintu terdengar memecah kesunyian. Pintu belakang rumah terbuka, memancarkan cahaya kekuningan dari lampu teplok di dalam. "Kania? Kamu baru pulang, Nak?" Suara yang sangat lembut dan matang itu mengalihkan perhatian Leo. Sesosok wanita melangkah keluar dari ambang pintu. Mata tajam sang dokter bedah seketika terpaku, nyaris lupa cara bernapas. Wanita itu adalah Maya, ibu Kania. Meski usianya sekitar tiga puluh delapan tahun, wajahnya luar biasa awet muda. Namun, bukan itu yang membuat Leo terpana. Maya hanya mengenakan kain jarik dan kemben ketat yang seolah kewalahan menahan volume dadanya yang penuh, ranum, dan sintal. Lekuk tubuhnya adalah definisi sempurna dari buah yang sudah matang di pohon dan siap untuk dipetik. Melihat pemandangan di depannya, senyum nakal kembali terukir di sudut bibir Leonardo. 'Aku bakal nginep di sini, malam ini? Ah, ini lebih baik dibanding nginep di hotel bintang lima,' batinnya penuh gairah. Otaknya sudah dipenuhi oleh hal-hal yang tidak-tidak.Uap putih tebal mengepul dari permukaan kolam belerang panas menutupi area Resor Pemandian VIP desa teh.Lampu taman bernuansa temaram menyinari deretan pagar bambu yang memisahkan area privat tersebut dari lingkungan luar. Tidak ada satu pun pasien, warga desa, atau staf operasional yang diizinkan melintasi batas gerbang kayu pada malam itu.Leo menyandarkan bahu dan kepalanya pada tepian batu kali yang membentuk formasi kolam pemandian tersebut.Pria itu merendam tubuhnya sebatas dada menikmati suhu air empat puluh derajat Celcius yang merelaksasi ototnya. Tidak ada lagi kemeja linen atau jas medis yang menempel pada tubuh kokohnya malam ini.Enam wanita melangkah menuruni anak tangga batu menuju area kolam utama tanpa keraguan sedikit pun.Maya berjalan di posisi paling depan membawa sebuah nampan kayu berisi cangkir teh herbal panas dan handuk bersih. Janda kembang itu telah melucuti blus kerjanya menyisakan balutan kain sutra tipis yang melekat pada kulitnya.Di sebelah kir
Tumpukan map kulit tebal mendarat di atas permukaan meja bundar berbahan kayu jati.Suara benturan tumpukan dokumen itu menggema di dalam ruang rapat utama Rumah Sakit Terpadu. Cahaya matahari pagi menembus celah kerai jendela menyinari debu yang beterbangan di udara.Leo menarik kursi kulit di ujung meja dan duduk menyandarkan punggungnya secara perlahan.Kemeja linen pria itu bergerak menyesuaikan postur tubuhnya tanpa menyisakan satu pun lipatan kusut. Pria itu menyilangkan kaki kanannya dan menyesap kopi hitam dari cangkir porselen di tangan kirinya."Duduk di kursimu masing-masing," perintah Leo menatap deretan kursi baja yang mengelilingi meja.Sembilan wanita berseragam kerja menempati posisi mereka tanpa menimbulkan suara gesekan kursi yang berisik. Nida, Ratih, Ayu, Sekar, Karina, Sisca, Rika, Wina, dan Laras duduk tegak merapatkan lutut mereka.Mereka meletakkan buku catatan dan pena logam di atas meja secara serentak."Seluruh sertifikat lahan dan dokumen legal perpi
Ujung sepatu pantofel Leo menghantam keras daun pintu kayu ek gudang anggur dari arah dalam. Engsel baja tebal itu patah seketika menciptakan bunyi dentuman keras yang menggema memekakkan telinga di ruang bawah tanah.Pintu gudang terlempar terbuka menabrak rak penyimpanan hingga puluhan botol kaca mahal jatuh berserakan menghantam lantai.Leo melangkah keluar menembus udara ruangan yang dipenuhi bau alkohol menyengat hidung. Kemeja linennya tidak memiliki satu pun lipatan kusut. Taipan Harun terkesiap memundurkan langkah kakinya merespons suara benturan kayu tersebut."Mati kau, Dokter kampungan!" bentak Harun mengangkat laras pistol revolvernya lurus ke arah dada Leo.Pria tua itu menarik pelatuk senjatanya tanpa keraguan sedikit pun di kedua matanya. Suara letusan mesiu memantul di dinding beton ruang bawah tanah tersebut menghasilkan gema yang sangat tajam.Leo sama sekali tidak memundurkan pijakan kakinya untuk menghindari terjangan proyektil peluru mematikan itu. Pria itu me
Sepatu pantofel Leo menginjak rumput sintetis di halaman belakang kediaman mewah Harun pada larut malam.Lampu taman memancarkan cahaya kekuningan menyinari dinding marmer mansion di lereng bukit tersebut. Pria itu menyusup melewati sensor inframerah tanpa memicu bunyi peringatan pada sistem keamanan.Leo membuka pintu kaca geser dan melangkah masuk ke ruang keluarga utama bangunan itu.Di dekat perapian elektrik, Kirana duduk bersimpuh di atas karpet bulu dengan rambut berantakan. Istri muda konglomerat itu menangis sesenggukan memegangi bahu kirinya yang memar akibat siksaan fisik.Dua pengawal pribadi berseragam loreng berdiri mengapit wanita itu membawa tongkat rotan tebal."Tuan Harun memerintahkan kami untuk mendisiplinkanmu malam ini, Nyonya Kirana," ucap pengawal pertama mengetukkan rotan ke telapak tangannya."Aku tidak melakukan kesalahan apa pun pada suamiku!" tolak Kirana dengan suara bergetar menahan tangis."Kau menatap dokter kampung itu terlalu lama siang tadi,"
Suara putaran baling-baling helikopter menghantam atap Rumah Sakit Terpadu pada Selasa siang.Angin kencang dari baling-baling ganda itu menerbangkan debu dan kerikil tajam di pelataran parkir. Helikopter bercat hitam legam itu mendarat paksa tepat di tengah akses jalan utama desa teh.Tiga unit buldoser beroda rantai baja melaju beriringan merangsek masuk ke halaman. Mesin alat berat itu meruntuhkan pagar beton fasilitas medis dalam satu kali hantaman keras.Potongan beton dan kawat berduri berserakan di atas jalan aspal yang baru saja diaspal ulang bulan lalu.Puluhan pria berpakaian seragam paramiliter loreng melompat turun dari sisi kiri dan kanan badan helikopter. Mereka membawa senapan laras panjang dan menyebar cepat memblokir seluruh titik keluar masuk desa."Kosongkan bangunan ini dalam sepuluh menit atau buldoser ini akan meratakan kalian semua!" teriak seorang komandan paramiliter melalui pelantang suara.Suara peringatan itu memantul di dinding kaca lobi rumah sakit
Sepatu pantofel Leo mendarat tanpa suara di atas karpet tebal koridor utama kantor dewan distrik.Cahaya remang dari lampu pendar darurat menjadi satu-satunya sumber penerangan sebelum fajar tiba. Pria itu menyusup melewati sistem keamanan berlapis gedung pemerintahan tersebut tanpa memicu alarm.Di ruang arsip lantai dasar, Sintia berlutut di depan lemari baja yang terbuka lebar.Sekretaris dewan itu membongkar tumpukan map kuning dengan tangan gemetar. Ia mencari bukti catatan aliran dana suap yang mengalir ke rekening pribadi Baskoro.Tiga ajudan berbadan gempal berdiri di ambang pintu memegang tongkat kejut listrik."Kau menggali kuburanmu sendiri dengan mencari dokumen itu, Sintia," ucap ajudan pertama melangkah maju ke dalam ruangan."Bos Baskoro sudah menduga kau akan mengkhianatinya setelah penyegelan kemarin," tambah ajudan kedua menyalakan tongkat setrumnya hingga memercikkan bunga api.Sintia memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak rak besi arsip. Wanita ber
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi
Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta
Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in
Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m







