مشاركة

Bab 3: Persaingan Dimulai

مؤلف: Ann Soe
last update تاريخ النشر: 2026-08-04 07:15:39

Keesokan harinya Lia masuk kantor penuh semangat, bahkan ia absen tiga puluh menit lebih awal dari jam masuk, pukul delapan pagi. Tadi malam Lia sudah membuat daftar klien potensial yang akan dihubunginya hari ini.

Lia sudah menyusun jadwal kerja hari ini dengan apik, yaitu menelepon klien-kliennya untuk memastikan pesanan bulan ini, juga mengabarkan promo dan diskon agar klien tidak pindah ke distributor lain.

Dengan semangat membara Lia masuk ke ruangan divisinya, mengira dirinya adalah orang pertama yang datang setelah OB. Namun, Lia salah. Ada orang yang datang lebih dulu.

Elvan sudah ada di pantry sedang membuat kopi. Saat melihat Lia, Elvan langsung menyapa, “Selamat pagi, Saingan.”

“Pagi,” sahut Lia sebal.

“Pagi-pagi jangan merengut, nanti klien kabur,” ujar Elvan yang membuat wajah Lia makin bertekuk. “Mau kopi nggak?” Elvan menawarkan.

“Mau kopi susu gula aren,” jawab Lia asal-asalan. Ia pikir Elvan hanya basa-basi atau menawarkan dengan niat jahil.

Jadi, Lia kaget saat Elvan benar-benar membuatkan kopi susu gula aren untuknya. Bahkan merepotkan diri mengantarkan kopi ke kubikel Lia.

“Aku pakai kopi sachet di pantry, ditambah seratus mili susu full cream.”

Lia menatap gelas kopi di mejanya dan wajah Elvan bergantian. Masih kaget karena Elvan benar-benar membuatkannya kopi.

Elvan menaikkan alisnya. “Kenapa? Takut diracun?”

“Hah?” Lia malah kebingungan.

Elvan menggeleng pelan. “Minum kopinya biar bisa kerja. Kalau kamu masih bingung begitu sampai kiamat juga nggak bakal bisa mengalahkanku,” kata Elvan seraya pergi.

Butuh beberapa detik bagi Lia sebelum menyadari maksud Elvan. “Kamu tuh! Dasar kesayangan Tante!” teriak Lia dan Elvan tertawa, membuat Lia makin dongkol dengan saingannya itu.

[Mau makan siang bareng?]

Bibir Lia langsung merekah saat mendapatkan pesan dari Milan. Buru-buru Lia membalas pesan itu.

[Mau banget.]

[Aku mau makan nasi pa-]

Ketikan Lia berhenti, ketika pesan Milan masuk.

[Lima belas menit lagi aku sampai di kantormu. Kita makan di New ya, aku kangen makan spageti di sana.]

Lia menghapus pesan yang sudah diketiknya, mengetik ulang lalu mengirimnya.

[Oke, aku tunggu.]

Lia membaca lagi pesan itu. Sebenarnya, ia ingin makan nasi padang dengan rendang dan ayam pop, tapi Milan malah mengajak makan di restoran Italia favorit pria itu.

“Sudahlah, makan rendangnya besok,” ujar Lia sambil mematikan komputer. Lia punya kebiasaan mematikan komputer di meja kerjanya jika ingin keluar, meskipun hanya pergi makan siang dekat kantor.

Lia tidak kenal tombol Fn+F4, karena jarang sekali menggunakan mode sleep di komputernya. Setelah memastikan komputer mati, Lia mengambil dompet make up dari laci dan pergi ke toilet untuk touch up.

Ketika Lia kembali dari toilet, Farah bertanya, “Mau makan apa siang ini?”

Lia baru ingat kalau ada janji dengan Farah. “Maaf, Far. Milan ngajakin makan bareng.”

Wajah ceria Farah menghilang, tapi masih terdengar santai saat menyahut, “Oh, oke. Kalau gitu aku makan di kantin aja.”

“Maaf ya, Far.” Lia merasa bersalah karena lupa ada janji dengan Farah.

Farah menyunggingkan senyum dan menjawab, “Aman, Lia. Nanti bawain camilan aja sebagai permintaan maaf.”

Lia mengangkat dua jempol.

“Buatku juga.”

Lia dan Farah menoleh pada Elvan yang hendak keluar ruangan.

“Bayaran buat kopi tadi pagi,” ujar Elvan.

“Ih, males banget beliin buatmu,” sahut Lia seraya menuju kubikelnya.

“Pelit.”

Lia masih sempat mendengar gerutuan Elvan ketika menuju mejanya. “Kamu perhitungan,” sahut Lia cukup nyaring hingga membuat beberapa rekan kerja yang masih ada di ruangan menatapnya.

Elvan hanya mengangkat bahu lalu pergi.

“Berantem terus, ntar kalau satu rumah masih berantem nggak ya?” celetuk Farah.

“Ih, amit-amit. Nggak mau aku serumah sama manusia perhitungan. Bukannya dinafkahin malah split bill tiap hari.”

Farah tertawa, begitupula rekan lain yang mendengar omelan Lia.

Lia mengambil tas sambil mendumel dan pergi.

Lia masuk ke mobil Milan dengan wajah bete. Saat Milan memberikan buket bunga, Lia sempat merasa senang. Namun, wajah Lia kembali mendung setelah mendengar Milan berkata:

“Selamat sudah berhasil jadi sales terbaik!”

Kejutan yang Milan niatkan untuk membahagiakan Lia malah membuat Lia kesal.

“Kenapa Sayang? Kok malah cemberut?”

Lia menarik napas dalam dan berusaha menghilangkan kekesalannya sebelum menjawab kebingungan Milan.

“Sorry, Ayang, bukannya nggak senang, tapi aku nggak jadi sales terbaik,” kata Lia lesu. Lalu ia menjelaskan tentang kejadian kemarin pada Milan.

Milan langsung mengomel, ikut kesal karena Lia diperlakukan tidak adil. “Kamu bisa tuntut atasanmu karena bersikap tidak adil. Aku bisa bantuin kamu, perkara kayak gini keahlianku.”

Lia menjawab dengan panik, “Nggak perlu sampai nuntut segala.”

Lia tidak ingin hal ini sampai jadi kasus hukum. Meskipun ia berada di posisi yang benar dan didampingi pengacara andal dari salah satu firma hukum terbaik di Kota Siban, Milan Alvaro Putra, tetap saja Lia tidak ingin menghadapi kerumitan berurusan dengan tuntutan dan pengadilan.

“Tapi kamu sudah diperlakukan nggak adil. Atasanmu harus tahu kalau kamu nggak bisa diperlakukan seenaknya,” kata Milan berapi-api.

Lia mengerti Milan ingin membelanya, tapi bukan pembelaan di meja hijau yang Lia mau. “Iya, tapi capek kalo harus nuntut segala. Masalahnya panjang dan ribet. Aku nggak mau ribet.” Lia mencoba membujuk Milan..

“Kenapa sih kamu selalu gini? Mau aja diperlakukan nggak adil padahal kamu bisa nuntut mereka dan menang.” Milan masih tidak terima Lia mengalah dengan mudah.

“Iya, tapi emang aku nggak mau ribet,” ujar Lia mencoba menjelaskan keinginannya. “Mending resign daripada harus nuntut kayak gitu.”

“Kamu mau resign?” Milan kaget dan langsung melarang Lia. “Janganlah, sekarang susah cari kerja. Emangnya sudah punya kerjaan baru?”

Lia menggeleng.

“Kalau kamu nggak kerja. Kamu nggak bisa bayar kos dan biayai diri sendiri. Memangnya kamu mau pulang ke rumah ortu?”

Perkataan Milan membuat Lia ngeri dan langsung menjawab, “Nggak. Aku nggak jadi resign kok. Aku nggak bakal resign sebelum bisa mengalahkan Elvan.”

“Elvan?” Nada suara Milan langsung berubah. “Sainganmu itu? Selalu dia yang kamu ingat ya?” 

“Apaan sih, kok Ayang ngomong gitu?” Lia kebingungan.

“Menurutmu kenapa?” sahut Milan yang terlihat bete.

“Kok Ayang jadi marah.” Lia berusaha membujuk sambil menggoyang-goyangkan lengan Milan. “Jangan marah Ayang.”

Milan bergeming. “Gimana nggak marah, kamu nyebut nama pria lain.”

“Tapi kan nyebutnya karena kesal sama dia.” Lia membela diri.

Milan tidak mau terima alasan Lia. “Ini bukan pertama kalinya kamu nyebut nama dia. Kayaknya setiap ketemu dia mulu yang dibahas.”

Lia menarik napas dalam, mencoba meredakan emosi sebelum berkata, “Udah, kita nggak usah bahas dia lagi.” Lia berusaha bermanja agar Milan luluh. “Kita makan aja ya. Udah laper.” Milan akhirnya melajukan mobil menuju rumah makan tujuan mereka, tapi baru setengah jalan Milan menghentikan mobil karena harus menjawab telepon.

“Baik, saya segera ke sana,” kata Milan pada lawan bicara di telepon. 

Setelah sambungan telepon diakhiri, Milan menoleh pada Lia. Sekarang Milan yang membujuk Lia. “Maaf, Sayang. Ada klien yang butuh bantuan sekarang. Ini kasus penting, aku harus pergi sekarang kalau tidak ingin digantikan pengacara lain.”

Meskipun kesal, tapi Lia mencoba mengerti. “Kalau gitu, Ayang bisa antar aku kem-“

“Aku turunin di sini ya, kamu ke restoran pakai taksi online aja. Nanti aku ganti uangnya, bill di resto juga nanti aku yang bayarin.”

Lia diam. Tidak menyangka Milan akan berkata seperti itu.

“Sayang, nggak papa kan kita nggak jadi makan?”

Lia tetap diam, berharap Milan mengerti kalau ia sedang marah.

Ternyata diamnya Lia malah dianggap sebagai persetujuan. Terdengar bunyi klik tanda kunci otomatis mobil dibuka. Milan bergerak membuka pintu di sebelah Lia dari dalam.

“Maaf, Sayang. Aku nggak bisa bukain pintunya dari luar. Aku buru-buru,” ucap Milan.

Tanpa kata Lia membuka sabuk pengaman, mendorong pintu mobil hingga terbuka lebar, turun, lalu menutup pintu hingga menimbulkan suara keras.

Kaca mobil turun, memperlihatkan Milan yang duduk di belakang kemudi. “Maaf ya, Sayang. Aku janji lain kali kita makan bareng,” kata Milan penuh penyesalan. “Kamu pergi aja ke resto, soalnya sayang aja bookingan restonya. Susah loh booking di resto itu. Aku pergi dulu.”

Setelah itu, kaca mobil dinaikkan dan Milan melaju pergi.

Lia menatap kepergian Milan sambil berpikir mengapa sikapnya yang suka memprotes dan blak-blakan tidak pernah bisa dikeluarkan di depan Milan.

Selama dua tahun menjalin hubungan, Lia selalu menampilkan image seorang wanita penurut dan pengertian di depan Milan. Berkebalikan dengan sifat aslinya.

“Tin … tin …!”

Lia terperanjat karena suara motor yang berbunyi sangat dekat. Ia menoleh dan menemukan Elvan duduk di atas motor PCX putih.

Lia menggerutu dalam hati, “Dia lagi."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 9: Tidak Bisa Menolak

    Lia pulang ke rumah orangtuanya saat matahari berada di puncak kepala. Sebelumnya, Lia sudah memberitahu Mama lewat pesan kalau pergi ke luar karena ada urusan. Namun, pesan itu tetap tidak membuat Lia luput dari kemarahan Papa.“Dari mana kamu? Baru pulang jam segini!”Omelan Papa menjadi kalimat pertama yang Lia dengan saat masuk rumah. Papa sama sekali tidak membalas salam yang Lia ucapkan, malah terus memarahi dan menginterogasi Lia.“Kamu pergi ke mana? Dengan siapa? Harusnya bilang dulu sebelum pergi. Kamu tak tahu ‘kan Mama mencarimu sepagian karena kamu menghilang.”Lia mengabaikan Papa dan pergi ke dapur. Setelah mengambil sebotol air dingin di kulkas, Lia langsung naik tangga dan masuk ke kamarnya.“Lihat itu, anak yang kamu besarkan. Sudah berani melawan dia. Dipikirnya kita-“Lia mengambil earphone dan menyetel musik agar tak lagi mendengar suara Papa. Sebelum ini, hubungan Lia dengan Papa memang kurang baik. Salah satu alasannya, karena Lia memilih kerja di luar kota.Adan

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 8: Dijodohkan? Males Banget

    Lia membiarkan panggilan dari Elvan hingga berhenti sendiri. Namun, Elvan masih mencoba menghubungi sehingga Lia akhirnya mengangkat telepon.“Sorry, ganggu tidurmu, tapi ada hal penting yang perlu kuomongin.”“Mau ngomong apa?”“Nggak enak ngomong di telepon, kita ketemuan.”Sebenarnya, Lia malas bertemu Elvan. Namun, nada mendesak dalam suara Elvan tidak bisa Lia abaikan. Pasti ada hubungannya dengan kejadian tadi malam. “Kapan?”“Pagi ini. Mau kujemput di rumah?”“Aku lagi di luar. Nanti ku shareloc, kamu samperin.”“Oke.”Panggilan ditutup, lalu Lia membagikan lokasinya.Tidak sampai sepuluh menit Elvan sudah terlihat dan langsung duduk di samping Lia setelah memesan seporsi nasi kuning.“Mau ngomong apa?” tanya Lia tanpa basa-basi.“Makan dulu baru ngobrol,” jawab Elvan.Lia hanya mengangkat bahu. Ternyata bagi Elvan makan selalu jadi hal nomor satu. Setelah nasi disajikan, Elvan langsung makan dengan cepat.“Lapar apa doyan?” Lia takjub dengan kecepatan Elvan makan.“Takut kamu

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 7: Bertengkar dengan Papa

    Sepanjang makan malam bersama itu Lia memberengut, tidak banyak bicara, dan hampir tidak menyentuh makanannya. Berbanding terbalik dengan Elvan yang makan dengan lahap seperti tidak ada masalah apa pun.“Kok kamu masih bisa makan?” bisik Lia.Elvan malah balik bertanya, “Kamu kenapa nggak makan?”“Mana bisa makan,” sahut Lia sebal, tapi tetap berusaha berbicara dengan pelan. “Ortu kita mau jodohin kita. Kok kamu bisa sesantai ini?”Elvan memandang Lia, lalu beralih ke para orangtua yang sedang makan sambil mengobrol. “Paling cuma bercanda,” ujar Elvan. “Lihat aja, sekarang mereka asyik membicarakan politik dan gossip artis. Mana ingat mereka soal jodoh-jodohan tadi.”Berbeda dengan Elvan yang santai, Lia justru khawatir. “Gimana kalau serius?”Elvan menelengkan kepala. “Ya, tinggal tolak. Kecuali kamu memang mau, bisa deh aku pertimbangkan.”“Nggak sudi!” Lia menyahut dengan cepat, tapi Elvan tidak terlihat tersinggung.“Nanti kalau ortumu nanya tinggal bilang nggak mau. Nggak mungkin

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 6: Pertemuan yang Diatur

    Setelah sarapan, Lia mandi dan bersiap. Kemudian pergi bersama orangtuanya. Pertama, mereka mengunjungi salah satu toko oleh-oleh milik orangtua Lia.“Pilih beberapa jajanan untuk dibawa ke rumah Fahmi,” kata Mama saat Lia melihat-lihat rak jajanan.Lia mengambil beberapa bungkus jajanan untuk Fahmi, lalu mengambil satu keranjang lagi dan mengisinya sampai penuh. Lia berniat membawa jajanan untuk oleh-oleh rekan kerjanya.“Kok bayar, Kak Lia? Kan anak yang punya toko,” ujar Rani, kasir di toko.“Tetap harus bayar dong, ntar tokonya rugi kalo anak yang punya ngambil mulu tanpa bayar,” sahut Lia dengan nada bercanda. “Yang di keranjang ini, nanti dipacking terus dikirim ke alamat ini.” Lia menulis alamat di kertas dan menyerahkannya pada Rani.“Siap, Kak Lia.”Mama menghampiri Lia dan berkata, “Kita beli hadiah buat Fahmi berdua aja, soalnya Papa mau ngecek pembukuan dulu.”Lia penasaran dan bertanya pada Papa.“Ada masalah ya?” “Nggak, cuma pengecekan rutin,” jawab Papa tanpa penjelasa

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 5: Pulang ke Rumah

    Akhir pekan datang dengan cepat. Setelah menempuh perjalanan empat jam naik bus, Lia sampai di kota kelahirannya, Kota Marta. Selanjutnya, butuh 15 menit perjalanan untuk sampai ke rumah dengan naik ojek.Jumat malam Lia sampai di rumah dan mengejutkan orangtuanya. Mamanya, Esti menyambut dengan gembira kedatangan Lia sementara ayahnya, Pandu, bersikap tenang seperti biasa.“Kamu nggak bilang-bilang mau pulang. Mama jadi nggak nyiapin apa-apa.”Meski Mama berkata begitu, tapi meja makan penuh dengan makanan kesukaan Lia. Ayam balado, sayur pare, sampai kentang mustofa dengan toples yang masih bersegel ada di atas meja. Terlihat seperti orangtua Lia memang sudah siap menyambut kedatangannya malam ini.“Besok aku mau ke tempat Fahmi, Ma,” kata Lia di sela makan malam.“Ada urusan apa?” tanya Papa.Lia lalu menceritakan mengenai Fahmi yang ingin memesan suku cadang motor padanya.“Oh, jadi kamu pulang karena kerjaan.” Perkataan Papa membuat ulu hati Lia seperti ditinju.“Nggak juga, aku

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 4: Elvan yang Menyebalkan

    “Hai, Saingan!”Lia yang sudah dongkol makin kesal mendengar sapaan Elvan. Ia membuang muka sambil berharap Elvan pergi meninggalkannya.“Ngapain di sini? Promosi produk, eh?”Lia memelototi Elvan, tapi tidak membuat pria itu tutup mulut.“Iya sih di sini banyak motor lalu lalang, tapi rasanya kurang efektif dah promosi di sini. Lagi pula, sasaran kita itu perusahaan bukan perorangan.”Lia masih mengunci rapat mulutnya. Benar-benar malas meladeni Elvan. Padahal Elvan dikenal sebagai pria pendiam dan cuek, tapi di depan Lia sikap Elvan jadi berubah. Jadi banyak bicara dan sering meledek juga.“Daripada bagi brosur di sini, mending sekalian di lampu merah. Atau pakai media sosial aja. Lebih efektif menjangkau konsumen.”Lia mengabaikan Elvan dan berjalan menjauh, tapi pria itu mengikuti.“Kamu nggak lagi bagi brosur, ya?”Lia terus berjalan.“Berantem sama pacar terus ditinggal di pinggir jalan?”Langkah Lia terhenti. Ia menoleh pada Elvan. “Bisa diam nggak?”“Saingan lagi bad mood rupa

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status