LOGINKeesokan harinya Lia masuk kantor penuh semangat, bahkan ia absen tiga puluh menit lebih awal dari jam masuk, pukul delapan pagi. Tadi malam Lia sudah membuat daftar klien potensial yang akan dihubunginya hari ini.
Lia sudah menyusun jadwal kerja hari ini dengan apik, yaitu menelepon klien-kliennya untuk memastikan pesanan bulan ini, juga mengabarkan promo dan diskon agar klien tidak pindah ke distributor lain.
Dengan semangat membara Lia masuk ke ruangan divisinya, mengira dirinya adalah orang pertama yang datang setelah OB. Namun, Lia salah. Ada orang yang datang lebih dulu.
Elvan sudah ada di pantry sedang membuat kopi. Saat melihat Lia, Elvan langsung menyapa, “Selamat pagi, Saingan.”
“Pagi,” sahut Lia sebal.
“Pagi-pagi jangan merengut, nanti klien kabur,” ujar Elvan yang membuat wajah Lia makin bertekuk. “Mau kopi nggak?” Elvan menawarkan.
“Mau kopi susu gula aren,” jawab Lia asal-asalan. Ia pikir Elvan hanya basa-basi atau menawarkan dengan niat jahil.
Jadi, Lia kaget saat Elvan benar-benar membuatkan kopi susu gula aren untuknya. Bahkan merepotkan diri mengantarkan kopi ke kubikel Lia.
“Aku pakai kopi sachet di pantry, ditambah seratus mili susu full cream.”
Lia menatap gelas kopi di mejanya dan wajah Elvan bergantian. Masih kaget karena Elvan benar-benar membuatkannya kopi.
Elvan menaikkan alisnya. “Kenapa? Takut diracun?”
“Hah?” Lia malah kebingungan.
Elvan menggeleng pelan. “Minum kopinya biar bisa kerja. Kalau kamu masih bingung begitu sampai kiamat juga nggak bakal bisa mengalahkanku,” kata Elvan seraya pergi.
Butuh beberapa detik bagi Lia sebelum menyadari maksud Elvan. “Kamu tuh! Dasar kesayangan Tante!” teriak Lia dan Elvan tertawa, membuat Lia makin dongkol dengan saingannya itu.
[Mau makan siang bareng?]
Bibir Lia langsung merekah saat mendapatkan pesan dari Milan. Buru-buru Lia membalas pesan itu.
[Mau banget.]
[Aku mau makan nasi pa-]
Ketikan Lia berhenti, ketika pesan Milan masuk.
[Lima belas menit lagi aku sampai di kantormu. Kita makan di New ya, aku kangen makan spageti di sana.]
Lia menghapus pesan yang sudah diketiknya, mengetik ulang lalu mengirimnya.
[Oke, aku tunggu.]
Lia membaca lagi pesan itu. Sebenarnya, ia ingin makan nasi padang dengan rendang dan ayam pop, tapi Milan malah mengajak makan di restoran Italia favorit pria itu.
“Sudahlah, makan rendangnya besok,” ujar Lia sambil mematikan komputer. Lia punya kebiasaan mematikan komputer di meja kerjanya jika ingin keluar, meskipun hanya pergi makan siang dekat kantor.
Lia tidak kenal tombol Fn+F4, karena jarang sekali menggunakan mode sleep di komputernya. Setelah memastikan komputer mati, Lia mengambil dompet make up dari laci dan pergi ke toilet untuk touch up.
Ketika Lia kembali dari toilet, Farah bertanya, “Mau makan apa siang ini?”
Lia baru ingat kalau ada janji dengan Farah. “Maaf, Far. Milan ngajakin makan bareng.”
Wajah ceria Farah menghilang, tapi masih terdengar santai saat menyahut, “Oh, oke. Kalau gitu aku makan di kantin aja.”
“Maaf ya, Far.” Lia merasa bersalah karena lupa ada janji dengan Farah.
Farah menyunggingkan senyum dan menjawab, “Aman, Lia. Nanti bawain camilan aja sebagai permintaan maaf.”
Lia mengangkat dua jempol.
“Buatku juga.”
Lia dan Farah menoleh pada Elvan yang hendak keluar ruangan.
“Bayaran buat kopi tadi pagi,” ujar Elvan.
“Ih, males banget beliin buatmu,” sahut Lia seraya menuju kubikelnya.
“Pelit.”
Lia masih sempat mendengar gerutuan Elvan ketika menuju mejanya. “Kamu perhitungan,” sahut Lia cukup nyaring hingga membuat beberapa rekan kerja yang masih ada di ruangan menatapnya.
Elvan hanya mengangkat bahu lalu pergi.
“Berantem terus, ntar kalau satu rumah masih berantem nggak ya?” celetuk Farah.
“Ih, amit-amit. Nggak mau aku serumah sama manusia perhitungan. Bukannya dinafkahin malah split bill tiap hari.”
Farah tertawa, begitupula rekan lain yang mendengar omelan Lia.
Lia mengambil tas sambil mendumel dan pergi.
Lia masuk ke mobil Milan dengan wajah bete. Saat Milan memberikan buket bunga, Lia sempat merasa senang. Namun, wajah Lia kembali mendung setelah mendengar Milan berkata:
“Selamat sudah berhasil jadi sales terbaik!”
Kejutan yang Milan niatkan untuk membahagiakan Lia malah membuat Lia kesal.
“Kenapa Sayang? Kok malah cemberut?”
Lia menarik napas dalam dan berusaha menghilangkan kekesalannya sebelum menjawab kebingungan Milan.
“Sorry, Ayang, bukannya nggak senang, tapi aku nggak jadi sales terbaik,” kata Lia lesu. Lalu ia menjelaskan tentang kejadian kemarin pada Milan.
Milan langsung mengomel, ikut kesal karena Lia diperlakukan tidak adil. “Kamu bisa tuntut atasanmu karena bersikap tidak adil. Aku bisa bantuin kamu, perkara kayak gini keahlianku.”
Lia menjawab dengan panik, “Nggak perlu sampai nuntut segala.”
Lia tidak ingin hal ini sampai jadi kasus hukum. Meskipun ia berada di posisi yang benar dan didampingi pengacara andal dari salah satu firma hukum terbaik di Kota Siban, Milan Alvaro Putra, tetap saja Lia tidak ingin menghadapi kerumitan berurusan dengan tuntutan dan pengadilan.
“Tapi kamu sudah diperlakukan nggak adil. Atasanmu harus tahu kalau kamu nggak bisa diperlakukan seenaknya,” kata Milan berapi-api.
Lia mengerti Milan ingin membelanya, tapi bukan pembelaan di meja hijau yang Lia mau. “Iya, tapi capek kalo harus nuntut segala. Masalahnya panjang dan ribet. Aku nggak mau ribet.” Lia mencoba membujuk Milan..
“Kenapa sih kamu selalu gini? Mau aja diperlakukan nggak adil padahal kamu bisa nuntut mereka dan menang.” Milan masih tidak terima Lia mengalah dengan mudah.
“Iya, tapi emang aku nggak mau ribet,” ujar Lia mencoba menjelaskan keinginannya. “Mending resign daripada harus nuntut kayak gitu.”
“Kamu mau resign?” Milan kaget dan langsung melarang Lia. “Janganlah, sekarang susah cari kerja. Emangnya sudah punya kerjaan baru?”
Lia menggeleng.
“Kalau kamu nggak kerja. Kamu nggak bisa bayar kos dan biayai diri sendiri. Memangnya kamu mau pulang ke rumah ortu?”
Perkataan Milan membuat Lia ngeri dan langsung menjawab, “Nggak. Aku nggak jadi resign kok. Aku nggak bakal resign sebelum bisa mengalahkan Elvan.”
“Elvan?” Nada suara Milan langsung berubah. “Sainganmu itu? Selalu dia yang kamu ingat ya?”
“Apaan sih, kok Ayang ngomong gitu?” Lia kebingungan.
“Menurutmu kenapa?” sahut Milan yang terlihat bete.
“Kok Ayang jadi marah.” Lia berusaha membujuk sambil menggoyang-goyangkan lengan Milan. “Jangan marah Ayang.”
Milan bergeming. “Gimana nggak marah, kamu nyebut nama pria lain.”
“Tapi kan nyebutnya karena kesal sama dia.” Lia membela diri.
Milan tidak mau terima alasan Lia. “Ini bukan pertama kalinya kamu nyebut nama dia. Kayaknya setiap ketemu dia mulu yang dibahas.”
Lia menarik napas dalam, mencoba meredakan emosi sebelum berkata, “Udah, kita nggak usah bahas dia lagi.” Lia berusaha bermanja agar Milan luluh. “Kita makan aja ya. Udah laper.” Milan akhirnya melajukan mobil menuju rumah makan tujuan mereka, tapi baru setengah jalan Milan menghentikan mobil karena harus menjawab telepon.
“Baik, saya segera ke sana,” kata Milan pada lawan bicara di telepon.
Setelah sambungan telepon diakhiri, Milan menoleh pada Lia. Sekarang Milan yang membujuk Lia. “Maaf, Sayang. Ada klien yang butuh bantuan sekarang. Ini kasus penting, aku harus pergi sekarang kalau tidak ingin digantikan pengacara lain.”
Meskipun kesal, tapi Lia mencoba mengerti. “Kalau gitu, Ayang bisa antar aku kem-“
“Aku turunin di sini ya, kamu ke restoran pakai taksi online aja. Nanti aku ganti uangnya, bill di resto juga nanti aku yang bayarin.”
Lia diam. Tidak menyangka Milan akan berkata seperti itu.
“Sayang, nggak papa kan kita nggak jadi makan?”
Lia tetap diam, berharap Milan mengerti kalau ia sedang marah.
Ternyata diamnya Lia malah dianggap sebagai persetujuan. Terdengar bunyi klik tanda kunci otomatis mobil dibuka. Milan bergerak membuka pintu di sebelah Lia dari dalam.
“Maaf, Sayang. Aku nggak bisa bukain pintunya dari luar. Aku buru-buru,” ucap Milan.
Tanpa kata Lia membuka sabuk pengaman, mendorong pintu mobil hingga terbuka lebar, turun, lalu menutup pintu hingga menimbulkan suara keras.
Kaca mobil turun, memperlihatkan Milan yang duduk di belakang kemudi. “Maaf ya, Sayang. Aku janji lain kali kita makan bareng,” kata Milan penuh penyesalan. “Kamu pergi aja ke resto, soalnya sayang aja bookingan restonya. Susah loh booking di resto itu. Aku pergi dulu.”
Setelah itu, kaca mobil dinaikkan dan Milan melaju pergi.
Lia menatap kepergian Milan sambil berpikir mengapa sikapnya yang suka memprotes dan blak-blakan tidak pernah bisa dikeluarkan di depan Milan.
Selama dua tahun menjalin hubungan, Lia selalu menampilkan image seorang wanita penurut dan pengertian di depan Milan. Berkebalikan dengan sifat aslinya.
“Tin … tin …!”
Lia terperanjat karena suara motor yang berbunyi sangat dekat. Ia menoleh dan menemukan Elvan duduk di atas motor PCX putih.
Lia menggerutu dalam hati, “Dia lagi."
Lia terbangun keesokan harinya di atas kasur di kamar utama yang ia tempati. Namun, seingatnya tadi malam tidak kembali ke kamar dan jatuh tertidur di sofa depan televisi setelah mengobrol dengan Elvan. Lia jadi bertanya-tanya apakah Elvan yang membantunya pindah ke kamar atau ia berjalan sendiri dalam keadaan setengah sadar?Lia tidak bisa memikirkan lebih lanjut karena ketukan di pintu meminta perhatiannya. Lia sudah berjalan ke pintu ketika suara Elvan terdengar.“Lia, sudah bangun?”“Sudah,” jawab Lia sambil membuka pintu.“Kirain belum bangun,” ujar Elvan saat melihat Lia.“Baru bangun,” sahut Lia. “Semalam kamu yang mindahin aku ke kamar?”“Huum,” ujar Elvan sambil lalu sementara wajah Lia merona setelah mendengar jawaban itu. Karena jawaban itu berarti Elvan menggendong Lia ke kamar, artinya mereka sudah bersentuhan."Takutnya, kamu masuk angin kalau tidur di luar. Jadi aku pindahin ke kamar.” Elvan terlihat biasa saja saat menjelaskan. Seolah itu bantuan yang akan diberikan El
“Emang kamu gitu ya kalau nyari klien?” tanya Lia hati-hati. Pertanyaan itu memang lancang dan bisa membuat Elvan tersinggung, tapi Lia tidak bisa menahan diri untuk menanyakannya.Lia penasaran. Selain itu, juga ingin tahu sisi Elvan yang lain. Bukan saingan sempurna yang sulit sekali Lia kalahkan sebelumnya, tapi Elvan yang merupakan manusia biasa sepertinya.“Apaan nih, mau nyontek strategiku?”Lia begidik. Teringat apa yang sudah dialaminya beberapa jam lalu. “Ogah!” sahutnya. “Cuma nanya karena penasaran, kalau nggak mau jawab juga nggak papa.”Elvan diam. Mata pria itu kembali mengarah ke layar televisi yang menanyangkan acara variety show yang dirancang untuk membuat penonton tertawa, tapi Elvan tidak tertawa sedikit pun. Sebab tidak memerhatikan tayangan sama sekali.Lia jadi serba salah. Daripada nanti salah omong lagi, ia mencomot apel untuk membuat mulutnya sibuk.“Dulu, aku memang sering begitu.” Tiba-tiba Elvan membuat pengakuan. “Aku melakukan apa saja yang penting dapat
“Kamu bersih-bersih dulu,” kata Elvan setelah sampai di rumah.Lia menggangguk sebagai jawaban. Niatnya memang ingin langsung mandi dan ganti pakaian sesampainya di rumah. Meski tidak terjadi hal-hal tak diinginkan, tapi Lia merasa ingin segera membersihkan diri.“Kamu mau dimasakin sesuatu atau pesan anta raja?”Lia berhenti di depan pintu kamar sesaat. Saat ini ia tidak merasa lapar dan tidak nafsu makan, tapi perutnya harus diisi. “Aku ngikut kamu aja. Soalnya nggak tau mau makan apa, belum ada selera,” sahut Lia.“Aku masakin aja, pakai bahan yang ada di kulkas,” kata Elvan dan Lia tidak protes. Ia langsung masuk ke kamar, mengambil pakaian ganti, lalu masuk ke kamar mandi.Saat Lia keluar kamar mandi, aroma masakan tercium dari dapur. Lia urung kembali ke kamar dan mengalihkan langkah ke dapur.Elvan sedang di depan kompor sibuk dengan wajan ketika Lia mendekat.“Bikin apa?” tanya Lia sambil menengok isi wajan.“Mi goreng seafood,” jawab Elvan.Meskipun Elvan tak menjawab, Lia su
Tugas dari Bu Elvira adalah mengantarkan penawaran ke CV. Adeera yang sebelumnya menghubungi untuk memesan sparepart untuk bengkel mereka. Sebelumnya CV Adeera pernah bekerjasama dengan perusahaan tempat Lia bekerja, tapi tiga bulan lalu kontrak berakhir dan tidak ada pesanan semenjak itu.Elvan adalah sales yang sebelumnya bertanggung jawab mengurus pesanan dari Adeera, tapi kali ini Lia lah yang dipercaya. Kesibukan Elvan dengan pesanan besar ternyata berdampak baik ke Lia hingga bisa mendapatkan kesempatan menangani klien besar. Sebab pesanan dari CV Adeera sebelum ini tidak pernah sedikit.[Lia, kamu di mana?]Pesan masuk dari Elvan saat Lia di perjalanan menuju CV Adeera. Lia langsung membalas.[OTW ke Adeera. Adeera udah jadi klienku ya, jangan coba-coba ngerebut.]Lia langsung memperingatkan Elvan. Kalau kejadian lagi seperti sebelumnya klien Lia diambil Elvan, Lia tidak akan diam saja dan melakukan pembalasan langsung.[Balik deh, nggak usah ke situ. Itu kliennya susah, ribet
Sesuai perjanjian yang telah disepakati, Lia dan Elvan mencoba bersikap seperti biasa di kantor. Jarang berinteraksi dan masih bersaing seperti hari-hari sebelumnya. Lia masih menganggap Elvan saingan terbesarnya di kantor dan berusaha menjaga gelar sales terbaik yang berhasil didapatkannya bulan lalu.Di rumah mereka juga jarang berinteraksi. Setelah pulang kantor, biasanya Lia langsung masuk kamar. Ia hanya keluar kalau ingin makan atau pergi ke kamar mandi.Lia jarang menghabiskan waktu di luar kamar karena masih kurang nyaman dengan Elvan, tapi jika Elvan memanggil untuk makan bersama Lia akan keluar. Sebab masakan Elvan enak sehingga Lia tidak akan melewatkannya.“Bulan ini aku akan mengalahkannya lagi,” ujar Lia pada Farah saat mereka makan siang bersama. Lia benar-benar harus menyemangati dirinya karena selama seminggu terakhir usahanya mendapatkan konsumen atau orderan besar tidak banyak berhasil.“Semangat yang bagus,” Farah memberi dukungan, mengerti kalau semangat Lia sedan
Lia lega karena Elvan mau makan spageti buatannya dan tidak mempermasalahkan pertengkaran mereka semalam.“Aku juga minta maaf. Semalam kita sama-sama lagi emosi dan capek,” ucap Elvan merespon permintaan maaf Lia. “Makasih untuk sarapannya. Nggak nyangka kamu bisa masak juga.”Lia memberengut. “Baru juga maaf-maafan udah ngajak berantem aja,” sahutnya kesal.Elvan mengangkat tangan. “Tahan dulu. Nggak ngajak berantem, tapi sebagai bentuk ekspresi kekaguman terhadap sesuatu yang kusangka tidak bisa kamu lakukan.”Kata-kata Elvan membuat Lia tertawa. “Lebay banget,” ujar Lia di sela-sela tawa.“Kamu lebih cakep kalau ketawa daripada marah loh.”Ucapan Elvan membuat Lia terdiam dan mengarahkan mata dengan tatapan curiga pada Elvan.“Kenapa, nggak senang dibilang cakep?” tanya Elvan takut-takut.Melihat Elvan yang gugup karena takut salah bicara, Lia tertawa.Elvan berdecak. “Serius, Lia. Becandamu itu nggak lucu,” keluh Elvan.“Tapi mukamu lucu,” sahut Lia yang masih tertawa.Elvan tida







