แชร์

Bab 2: Resign yang Tertunda

ผู้เขียน: Ann Soe
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-04 07:15:06

Lia langsung merebut kertas itu, tapi Elvan sempat membacanya. Tanpa kata Elvan menarik Lia ke pantry.

“Apa sih.” Lia melepaskan diri dari Elvan setelah mereka di pantry.

“Kenapa resign, ngambek karena klienmu dialihkan ke aku?”

Lia menatap marah ke Elvan dan meluapkan emosinya. “Iya, aku nggak mau satu kantor sama orang-orang licik.”

“Jangan nuduh sembarangan,” sahut Elvan. “Untuk kasus Bengkel Olila aku bener-bener nggak tahu sampai satu jam lalu. Bu Elvira yang-“

“Ya, ya, Bu Elvira yang kasih. Sales kesayangan emang dapat perlakuan khusus,” potong Lia, sudut bibirnya sedikit terangkat dengan gestur meremehkan.

Elvan menghela napas. “Bisa nggak kalau orang ngomong didengerin sampai selesai?” Elvan mulai kesal, tapi Lia tidak peduli di matanya, Elvan sudah mencuri kliennya dengan bantuan Bu Elvira.

Lia memandangi Elvan dari atas ke bawah. “Apa sih yang kamu kasih sampai bisa jadi kesayangan Bu Elvira?”

Elvan mundur selangkah, lalu memperingatkan Lia. “Stop, Lia. Kamu sudah kelewatan.”

Emosi Lia makin naik. “Aku kelewatan? Bercermin, gih.”

“Aku nggak nyolong, Lia. Itu murni keputusan atasan.” Elvan masih membela diri.

Lia melambaikan tangan. “Terserahlah.”

Elvan menghela napas dan coba bicara tanpa emosi. “Aku bisa kembalikan klien itu padamu.”

Namun, Lia tidak mau menerima kebaikan yang terlambat itu. “Nggak usah, aku nggak butuh belas kasihan dari orang sepertimu.”

“Apa maksudnya orang sepertiku?”

Lia terdiam. Nada dingin dalam suara Elvan membuatnya agak takut. Jadi, Lia mengambil jarak aman sebelum menjawab, “Orang yang mendapatkan privilege karena jadi kesayangan atasan.”

Lia mengamati wajah Elvan yang memerah karena marah. Ketika pria itu mengangkat tangan, Lia refleks melindungi wajah dengan kedua tangan.

Kemarahan Elvan langsung surut, tatapan pria itu melembut. Lia memerhatikan ketika Elvan mengambil gelas di meja, lalu beranjak ke dispenser untuk mengambil air.

Tadi saat Elvan mengangkat tangan, Lia pikir pria itu ingin memukulnya. Namun, Lia salah, ternyata Elvan malah mengambil air minum.

“Bicara sama kamu bikin emosi,” ujar Elvan setelah minum.

“Lihat kamu aja sudah bikin emosi,” sahut Lia tak mau kalah.

Elvan menarik napas panjang berkali-kali sebelum akhirnya bisa bicara dengan lebih tenang. “Sekali lagi kubilang, urusan Bengkel Olila bakal kuselesaikan, dan gelar sales terbaik bulan ini ju-“

“Nggak perlu, aku nggak butuh,” potong Lia.

Elvan harus mengeluarkan semua stok kesabaran untuk menghadapi Lia. “Jadi, tetap mau resign?”

“Ya iyalah, males saingan sama kesaya-“ Lia diam, lalu meralat kata-katanya. “Males saingan kalau nggak adil.”

“Takut kalah ya?” cibir Elvan, lalu melajutkan dengan jumawa, “Memang susah sih mengalahkan juara bertahan.”

Ingin rasanya Lia menonjok Elvan atau mencubit pipi pria itu sampai merah saking kesalnya. “Nggak lah. Kalau persaingannya adil, bulan ini aku sudah menang.”

“Bulan depan.”

“Apa?” Lia tak mengerti.

“Kita bersaing adil selama satu bulan ke depan untuk posisi sales terbaik.” Elvan mengajukan tantangan.

“Eh?”

“Aku pastikan persaingan kita adil. Nggak ada intervensi atasan lagi.”

Lia masih diam, berusaha mencerna perkataan Elvan sementara pria itu melangkah meninggalkan pantry.

Langkah Elvan terhenti, lalu pria itu menoleh dan berkata, “Jangan resign dulu sebelum bisa mengalahkanku.” Setelahnya, Elvan meninggal Lia sendirian di pantry.

Farah masuk ke pantry setelah Elvan pergi dan Lia langsung bertanya pada temannya itu. “Dia tadi bilang apa?”

“Elvan bilang, jangan resign dulu sebelum kamu bisa mengalahkannya,” jawab Farah.

Lia memandang Farah. “Kok dia bilang gitu?”

Farah melangkh ke dispenser dan mengisi tumbler. “Dia mungkin merasa bersalah, karena tindakan Bu Elvira kamu sampai mau resign segala.”

Lia mendekati Farah dan berbisik, “Dia beneran nggak tau soal Bengkel Olila?”

Farah berpikir sejenak sebelum menjawab, “Sepertinya nggak, soalnya tadi aku nggak sengaja dengar dia protes ke Bu Elvira.”

“Kamu nguping?” tuduh Lia.

“Hush, nggak nguping.” Farah langsung mengelak dan beralasan. “Tapi nggak sengaja dengar waktu mau antar laporan ke Bu Elvira.”

“Iya, iya, nggak sengaja dengar,” ujar Lia sambil tertawa.

“Udah bisa ketawa sekarang,” kata Farah dan Lia langsung diam. “Kalau soal kerjaan Elvan emang serius dan fair.”

Sebenarnya, Lia juga bisa melihat hal itu dari kinerja Elvan sehari-hari. Namun, Lia tetap kesal pada Elvan. “Tetap aja nyebelin,” ujarnya.

“Jangan terlalu benci, nanti ja-“

“Jadi cinta?” potong Lia. “Ih, amit-amit. Nggak bakal terjadi, karena di hatiku sudah ada Milan.” Senyum Lia merekah ketika ingat pujaan hatinya, Milan.

“Si ganteng yang nggak berani dikenalin ke ortumu itu?” ujar Farah.

Lia langsung membela pacarnya. “Bukannya nggak berani, dia cuma nunggu waktu yang tepat.”

“Entah kapan waktu yang tepat itu, ya.”

Lia memberengut mendengar kata-kata Farah. Meskipun agak sebal, tapi perkataan Farah benar. Waktu yang tepat itu belum pernah terwujud padahal sudah dua tahun Lia berpacaran dengan Milan.

Ah, soal waktu yang tepat-nya Milan bisa dipikirkan nanti. Sekarang Lia harus memutuskan jadi resign atau tidak.

Lia menatap kertas di tangannya yang sudah lecek.

Kertas itu diambil Farah, dirobek-robek, lalu dibuang ke bak sampah, dan Lia hanya melihat saja ketika Farah melakukan semua itu.

“Resign-nya nanti kalau sudah bisa menang dari si Kulkas Dua Pintu,” kata Farah seraya keluar pantry.

Lia memandangi tutup bak sampah yang bergoyang hingga berhenti bergerak. Dalam hati Lia membuat keputusan. Dengan keyakinan penuh Lia keluar pantry dan langsung menghampiri kubikel Elvan.

Dengan yakin Lia berkata pada Elvan, “Bulan depan aku pasti bisa merebut gelar sales terbaik.”

Elvan berdiri membuat Lia harus sedikit mendongak agar bisa melihat wajah pria itu.

“Oke. Kalau kau menang aku akan memberimu hadiah,” ujar Elvan.

Lia penasaran sehingga bertanya, “Hadiah apa?”

Elvan berpikir sebentar. “Aku akan mengabulkan apa pun permintaanmu,” jawab Elvan.

“Apa saja?” Mata Lia membulat penuh minat. 

Elvan cepat-cepat meralat, “Ya, apa saja, tapi cuma satu permintaan.” 

“Deal.” Lia mengulurkan tangan.

Elvan menyambut uluran tangan Lia. “Deal.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 9: Tidak Bisa Menolak

    Lia pulang ke rumah orangtuanya saat matahari berada di puncak kepala. Sebelumnya, Lia sudah memberitahu Mama lewat pesan kalau pergi ke luar karena ada urusan. Namun, pesan itu tetap tidak membuat Lia luput dari kemarahan Papa.“Dari mana kamu? Baru pulang jam segini!”Omelan Papa menjadi kalimat pertama yang Lia dengan saat masuk rumah. Papa sama sekali tidak membalas salam yang Lia ucapkan, malah terus memarahi dan menginterogasi Lia.“Kamu pergi ke mana? Dengan siapa? Harusnya bilang dulu sebelum pergi. Kamu tak tahu ‘kan Mama mencarimu sepagian karena kamu menghilang.”Lia mengabaikan Papa dan pergi ke dapur. Setelah mengambil sebotol air dingin di kulkas, Lia langsung naik tangga dan masuk ke kamarnya.“Lihat itu, anak yang kamu besarkan. Sudah berani melawan dia. Dipikirnya kita-“Lia mengambil earphone dan menyetel musik agar tak lagi mendengar suara Papa. Sebelum ini, hubungan Lia dengan Papa memang kurang baik. Salah satu alasannya, karena Lia memilih kerja di luar kota.Adan

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 8: Dijodohkan? Males Banget

    Lia membiarkan panggilan dari Elvan hingga berhenti sendiri. Namun, Elvan masih mencoba menghubungi sehingga Lia akhirnya mengangkat telepon.“Sorry, ganggu tidurmu, tapi ada hal penting yang perlu kuomongin.”“Mau ngomong apa?”“Nggak enak ngomong di telepon, kita ketemuan.”Sebenarnya, Lia malas bertemu Elvan. Namun, nada mendesak dalam suara Elvan tidak bisa Lia abaikan. Pasti ada hubungannya dengan kejadian tadi malam. “Kapan?”“Pagi ini. Mau kujemput di rumah?”“Aku lagi di luar. Nanti ku shareloc, kamu samperin.”“Oke.”Panggilan ditutup, lalu Lia membagikan lokasinya.Tidak sampai sepuluh menit Elvan sudah terlihat dan langsung duduk di samping Lia setelah memesan seporsi nasi kuning.“Mau ngomong apa?” tanya Lia tanpa basa-basi.“Makan dulu baru ngobrol,” jawab Elvan.Lia hanya mengangkat bahu. Ternyata bagi Elvan makan selalu jadi hal nomor satu. Setelah nasi disajikan, Elvan langsung makan dengan cepat.“Lapar apa doyan?” Lia takjub dengan kecepatan Elvan makan.“Takut kamu

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 7: Bertengkar dengan Papa

    Sepanjang makan malam bersama itu Lia memberengut, tidak banyak bicara, dan hampir tidak menyentuh makanannya. Berbanding terbalik dengan Elvan yang makan dengan lahap seperti tidak ada masalah apa pun.“Kok kamu masih bisa makan?” bisik Lia.Elvan malah balik bertanya, “Kamu kenapa nggak makan?”“Mana bisa makan,” sahut Lia sebal, tapi tetap berusaha berbicara dengan pelan. “Ortu kita mau jodohin kita. Kok kamu bisa sesantai ini?”Elvan memandang Lia, lalu beralih ke para orangtua yang sedang makan sambil mengobrol. “Paling cuma bercanda,” ujar Elvan. “Lihat aja, sekarang mereka asyik membicarakan politik dan gossip artis. Mana ingat mereka soal jodoh-jodohan tadi.”Berbeda dengan Elvan yang santai, Lia justru khawatir. “Gimana kalau serius?”Elvan menelengkan kepala. “Ya, tinggal tolak. Kecuali kamu memang mau, bisa deh aku pertimbangkan.”“Nggak sudi!” Lia menyahut dengan cepat, tapi Elvan tidak terlihat tersinggung.“Nanti kalau ortumu nanya tinggal bilang nggak mau. Nggak mungkin

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 6: Pertemuan yang Diatur

    Setelah sarapan, Lia mandi dan bersiap. Kemudian pergi bersama orangtuanya. Pertama, mereka mengunjungi salah satu toko oleh-oleh milik orangtua Lia.“Pilih beberapa jajanan untuk dibawa ke rumah Fahmi,” kata Mama saat Lia melihat-lihat rak jajanan.Lia mengambil beberapa bungkus jajanan untuk Fahmi, lalu mengambil satu keranjang lagi dan mengisinya sampai penuh. Lia berniat membawa jajanan untuk oleh-oleh rekan kerjanya.“Kok bayar, Kak Lia? Kan anak yang punya toko,” ujar Rani, kasir di toko.“Tetap harus bayar dong, ntar tokonya rugi kalo anak yang punya ngambil mulu tanpa bayar,” sahut Lia dengan nada bercanda. “Yang di keranjang ini, nanti dipacking terus dikirim ke alamat ini.” Lia menulis alamat di kertas dan menyerahkannya pada Rani.“Siap, Kak Lia.”Mama menghampiri Lia dan berkata, “Kita beli hadiah buat Fahmi berdua aja, soalnya Papa mau ngecek pembukuan dulu.”Lia penasaran dan bertanya pada Papa.“Ada masalah ya?” “Nggak, cuma pengecekan rutin,” jawab Papa tanpa penjelasa

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 5: Pulang ke Rumah

    Akhir pekan datang dengan cepat. Setelah menempuh perjalanan empat jam naik bus, Lia sampai di kota kelahirannya, Kota Marta. Selanjutnya, butuh 15 menit perjalanan untuk sampai ke rumah dengan naik ojek.Jumat malam Lia sampai di rumah dan mengejutkan orangtuanya. Mamanya, Esti menyambut dengan gembira kedatangan Lia sementara ayahnya, Pandu, bersikap tenang seperti biasa.“Kamu nggak bilang-bilang mau pulang. Mama jadi nggak nyiapin apa-apa.”Meski Mama berkata begitu, tapi meja makan penuh dengan makanan kesukaan Lia. Ayam balado, sayur pare, sampai kentang mustofa dengan toples yang masih bersegel ada di atas meja. Terlihat seperti orangtua Lia memang sudah siap menyambut kedatangannya malam ini.“Besok aku mau ke tempat Fahmi, Ma,” kata Lia di sela makan malam.“Ada urusan apa?” tanya Papa.Lia lalu menceritakan mengenai Fahmi yang ingin memesan suku cadang motor padanya.“Oh, jadi kamu pulang karena kerjaan.” Perkataan Papa membuat ulu hati Lia seperti ditinju.“Nggak juga, aku

  • Rayuan Marketing Pak Sales Terbaik   Bab 4: Elvan yang Menyebalkan

    “Hai, Saingan!”Lia yang sudah dongkol makin kesal mendengar sapaan Elvan. Ia membuang muka sambil berharap Elvan pergi meninggalkannya.“Ngapain di sini? Promosi produk, eh?”Lia memelototi Elvan, tapi tidak membuat pria itu tutup mulut.“Iya sih di sini banyak motor lalu lalang, tapi rasanya kurang efektif dah promosi di sini. Lagi pula, sasaran kita itu perusahaan bukan perorangan.”Lia masih mengunci rapat mulutnya. Benar-benar malas meladeni Elvan. Padahal Elvan dikenal sebagai pria pendiam dan cuek, tapi di depan Lia sikap Elvan jadi berubah. Jadi banyak bicara dan sering meledek juga.“Daripada bagi brosur di sini, mending sekalian di lampu merah. Atau pakai media sosial aja. Lebih efektif menjangkau konsumen.”Lia mengabaikan Elvan dan berjalan menjauh, tapi pria itu mengikuti.“Kamu nggak lagi bagi brosur, ya?”Lia terus berjalan.“Berantem sama pacar terus ditinggal di pinggir jalan?”Langkah Lia terhenti. Ia menoleh pada Elvan. “Bisa diam nggak?”“Saingan lagi bad mood rupa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status