MasukLia langsung merebut kertas itu, tapi Elvan sempat membacanya. Tanpa kata Elvan menarik Lia ke pantry.
“Apa sih.” Lia melepaskan diri dari Elvan setelah mereka di pantry.
“Kenapa resign, ngambek karena klienmu dialihkan ke aku?”
Lia menatap marah ke Elvan dan meluapkan emosinya. “Iya, aku nggak mau satu kantor sama orang-orang licik.”
“Jangan nuduh sembarangan,” sahut Elvan. “Untuk kasus Bengkel Olila aku bener-bener nggak tahu sampai satu jam lalu. Bu Elvira yang-“
“Ya, ya, Bu Elvira yang kasih. Sales kesayangan emang dapat perlakuan khusus,” potong Lia, sudut bibirnya sedikit terangkat dengan gestur meremehkan.
Elvan menghela napas. “Bisa nggak kalau orang ngomong didengerin sampai selesai?” Elvan mulai kesal, tapi Lia tidak peduli di matanya, Elvan sudah mencuri kliennya dengan bantuan Bu Elvira.
Lia memandangi Elvan dari atas ke bawah. “Apa sih yang kamu kasih sampai bisa jadi kesayangan Bu Elvira?”
Elvan mundur selangkah, lalu memperingatkan Lia. “Stop, Lia. Kamu sudah kelewatan.”
Emosi Lia makin naik. “Aku kelewatan? Bercermin, gih.”
“Aku nggak nyolong, Lia. Itu murni keputusan atasan.” Elvan masih membela diri.
Lia melambaikan tangan. “Terserahlah.”
Elvan menghela napas dan coba bicara tanpa emosi. “Aku bisa kembalikan klien itu padamu.”
Namun, Lia tidak mau menerima kebaikan yang terlambat itu. “Nggak usah, aku nggak butuh belas kasihan dari orang sepertimu.”
“Apa maksudnya orang sepertiku?”
Lia terdiam. Nada dingin dalam suara Elvan membuatnya agak takut. Jadi, Lia mengambil jarak aman sebelum menjawab, “Orang yang mendapatkan privilege karena jadi kesayangan atasan.”
Lia mengamati wajah Elvan yang memerah karena marah. Ketika pria itu mengangkat tangan, Lia refleks melindungi wajah dengan kedua tangan.
Kemarahan Elvan langsung surut, tatapan pria itu melembut. Lia memerhatikan ketika Elvan mengambil gelas di meja, lalu beranjak ke dispenser untuk mengambil air.
Tadi saat Elvan mengangkat tangan, Lia pikir pria itu ingin memukulnya. Namun, Lia salah, ternyata Elvan malah mengambil air minum.
“Bicara sama kamu bikin emosi,” ujar Elvan setelah minum.
“Lihat kamu aja sudah bikin emosi,” sahut Lia tak mau kalah.
Elvan menarik napas panjang berkali-kali sebelum akhirnya bisa bicara dengan lebih tenang. “Sekali lagi kubilang, urusan Bengkel Olila bakal kuselesaikan, dan gelar sales terbaik bulan ini ju-“
“Nggak perlu, aku nggak butuh,” potong Lia.
Elvan harus mengeluarkan semua stok kesabaran untuk menghadapi Lia. “Jadi, tetap mau resign?”
“Ya iyalah, males saingan sama kesaya-“ Lia diam, lalu meralat kata-katanya. “Males saingan kalau nggak adil.”
“Takut kalah ya?” cibir Elvan, lalu melajutkan dengan jumawa, “Memang susah sih mengalahkan juara bertahan.”
Ingin rasanya Lia menonjok Elvan atau mencubit pipi pria itu sampai merah saking kesalnya. “Nggak lah. Kalau persaingannya adil, bulan ini aku sudah menang.”
“Bulan depan.”
“Apa?” Lia tak mengerti.
“Kita bersaing adil selama satu bulan ke depan untuk posisi sales terbaik.” Elvan mengajukan tantangan.
“Eh?”
“Aku pastikan persaingan kita adil. Nggak ada intervensi atasan lagi.”
Lia masih diam, berusaha mencerna perkataan Elvan sementara pria itu melangkah meninggalkan pantry.
Langkah Elvan terhenti, lalu pria itu menoleh dan berkata, “Jangan resign dulu sebelum bisa mengalahkanku.” Setelahnya, Elvan meninggal Lia sendirian di pantry.
Farah masuk ke pantry setelah Elvan pergi dan Lia langsung bertanya pada temannya itu. “Dia tadi bilang apa?”
“Elvan bilang, jangan resign dulu sebelum kamu bisa mengalahkannya,” jawab Farah.
Lia memandang Farah. “Kok dia bilang gitu?”
Farah melangkh ke dispenser dan mengisi tumbler. “Dia mungkin merasa bersalah, karena tindakan Bu Elvira kamu sampai mau resign segala.”
Lia mendekati Farah dan berbisik, “Dia beneran nggak tau soal Bengkel Olila?”
Farah berpikir sejenak sebelum menjawab, “Sepertinya nggak, soalnya tadi aku nggak sengaja dengar dia protes ke Bu Elvira.”
“Kamu nguping?” tuduh Lia.
“Hush, nggak nguping.” Farah langsung mengelak dan beralasan. “Tapi nggak sengaja dengar waktu mau antar laporan ke Bu Elvira.”
“Iya, iya, nggak sengaja dengar,” ujar Lia sambil tertawa.
“Udah bisa ketawa sekarang,” kata Farah dan Lia langsung diam. “Kalau soal kerjaan Elvan emang serius dan fair.”
Sebenarnya, Lia juga bisa melihat hal itu dari kinerja Elvan sehari-hari. Namun, Lia tetap kesal pada Elvan. “Tetap aja nyebelin,” ujarnya.
“Jangan terlalu benci, nanti ja-“
“Jadi cinta?” potong Lia. “Ih, amit-amit. Nggak bakal terjadi, karena di hatiku sudah ada Milan.” Senyum Lia merekah ketika ingat pujaan hatinya, Milan.
“Si ganteng yang nggak berani dikenalin ke ortumu itu?” ujar Farah.
Lia langsung membela pacarnya. “Bukannya nggak berani, dia cuma nunggu waktu yang tepat.”
“Entah kapan waktu yang tepat itu, ya.”
Lia memberengut mendengar kata-kata Farah. Meskipun agak sebal, tapi perkataan Farah benar. Waktu yang tepat itu belum pernah terwujud padahal sudah dua tahun Lia berpacaran dengan Milan.
Ah, soal waktu yang tepat-nya Milan bisa dipikirkan nanti. Sekarang Lia harus memutuskan jadi resign atau tidak.
Lia menatap kertas di tangannya yang sudah lecek.
Kertas itu diambil Farah, dirobek-robek, lalu dibuang ke bak sampah, dan Lia hanya melihat saja ketika Farah melakukan semua itu.
“Resign-nya nanti kalau sudah bisa menang dari si Kulkas Dua Pintu,” kata Farah seraya keluar pantry.
Lia memandangi tutup bak sampah yang bergoyang hingga berhenti bergerak. Dalam hati Lia membuat keputusan. Dengan keyakinan penuh Lia keluar pantry dan langsung menghampiri kubikel Elvan.
Dengan yakin Lia berkata pada Elvan, “Bulan depan aku pasti bisa merebut gelar sales terbaik.”
Elvan berdiri membuat Lia harus sedikit mendongak agar bisa melihat wajah pria itu.
“Oke. Kalau kau menang aku akan memberimu hadiah,” ujar Elvan.
Lia penasaran sehingga bertanya, “Hadiah apa?”
Elvan berpikir sebentar. “Aku akan mengabulkan apa pun permintaanmu,” jawab Elvan.
“Apa saja?” Mata Lia membulat penuh minat.
Elvan cepat-cepat meralat, “Ya, apa saja, tapi cuma satu permintaan.”
“Deal.” Lia mengulurkan tangan.
Elvan menyambut uluran tangan Lia. “Deal.”
Lia terbangun keesokan harinya di atas kasur di kamar utama yang ia tempati. Namun, seingatnya tadi malam tidak kembali ke kamar dan jatuh tertidur di sofa depan televisi setelah mengobrol dengan Elvan. Lia jadi bertanya-tanya apakah Elvan yang membantunya pindah ke kamar atau ia berjalan sendiri dalam keadaan setengah sadar?Lia tidak bisa memikirkan lebih lanjut karena ketukan di pintu meminta perhatiannya. Lia sudah berjalan ke pintu ketika suara Elvan terdengar.“Lia, sudah bangun?”“Sudah,” jawab Lia sambil membuka pintu.“Kirain belum bangun,” ujar Elvan saat melihat Lia.“Baru bangun,” sahut Lia. “Semalam kamu yang mindahin aku ke kamar?”“Huum,” ujar Elvan sambil lalu sementara wajah Lia merona setelah mendengar jawaban itu. Karena jawaban itu berarti Elvan menggendong Lia ke kamar, artinya mereka sudah bersentuhan."Takutnya, kamu masuk angin kalau tidur di luar. Jadi aku pindahin ke kamar.” Elvan terlihat biasa saja saat menjelaskan. Seolah itu bantuan yang akan diberikan El
“Emang kamu gitu ya kalau nyari klien?” tanya Lia hati-hati. Pertanyaan itu memang lancang dan bisa membuat Elvan tersinggung, tapi Lia tidak bisa menahan diri untuk menanyakannya.Lia penasaran. Selain itu, juga ingin tahu sisi Elvan yang lain. Bukan saingan sempurna yang sulit sekali Lia kalahkan sebelumnya, tapi Elvan yang merupakan manusia biasa sepertinya.“Apaan nih, mau nyontek strategiku?”Lia begidik. Teringat apa yang sudah dialaminya beberapa jam lalu. “Ogah!” sahutnya. “Cuma nanya karena penasaran, kalau nggak mau jawab juga nggak papa.”Elvan diam. Mata pria itu kembali mengarah ke layar televisi yang menanyangkan acara variety show yang dirancang untuk membuat penonton tertawa, tapi Elvan tidak tertawa sedikit pun. Sebab tidak memerhatikan tayangan sama sekali.Lia jadi serba salah. Daripada nanti salah omong lagi, ia mencomot apel untuk membuat mulutnya sibuk.“Dulu, aku memang sering begitu.” Tiba-tiba Elvan membuat pengakuan. “Aku melakukan apa saja yang penting dapat
“Kamu bersih-bersih dulu,” kata Elvan setelah sampai di rumah.Lia menggangguk sebagai jawaban. Niatnya memang ingin langsung mandi dan ganti pakaian sesampainya di rumah. Meski tidak terjadi hal-hal tak diinginkan, tapi Lia merasa ingin segera membersihkan diri.“Kamu mau dimasakin sesuatu atau pesan anta raja?”Lia berhenti di depan pintu kamar sesaat. Saat ini ia tidak merasa lapar dan tidak nafsu makan, tapi perutnya harus diisi. “Aku ngikut kamu aja. Soalnya nggak tau mau makan apa, belum ada selera,” sahut Lia.“Aku masakin aja, pakai bahan yang ada di kulkas,” kata Elvan dan Lia tidak protes. Ia langsung masuk ke kamar, mengambil pakaian ganti, lalu masuk ke kamar mandi.Saat Lia keluar kamar mandi, aroma masakan tercium dari dapur. Lia urung kembali ke kamar dan mengalihkan langkah ke dapur.Elvan sedang di depan kompor sibuk dengan wajan ketika Lia mendekat.“Bikin apa?” tanya Lia sambil menengok isi wajan.“Mi goreng seafood,” jawab Elvan.Meskipun Elvan tak menjawab, Lia su
Tugas dari Bu Elvira adalah mengantarkan penawaran ke CV. Adeera yang sebelumnya menghubungi untuk memesan sparepart untuk bengkel mereka. Sebelumnya CV Adeera pernah bekerjasama dengan perusahaan tempat Lia bekerja, tapi tiga bulan lalu kontrak berakhir dan tidak ada pesanan semenjak itu.Elvan adalah sales yang sebelumnya bertanggung jawab mengurus pesanan dari Adeera, tapi kali ini Lia lah yang dipercaya. Kesibukan Elvan dengan pesanan besar ternyata berdampak baik ke Lia hingga bisa mendapatkan kesempatan menangani klien besar. Sebab pesanan dari CV Adeera sebelum ini tidak pernah sedikit.[Lia, kamu di mana?]Pesan masuk dari Elvan saat Lia di perjalanan menuju CV Adeera. Lia langsung membalas.[OTW ke Adeera. Adeera udah jadi klienku ya, jangan coba-coba ngerebut.]Lia langsung memperingatkan Elvan. Kalau kejadian lagi seperti sebelumnya klien Lia diambil Elvan, Lia tidak akan diam saja dan melakukan pembalasan langsung.[Balik deh, nggak usah ke situ. Itu kliennya susah, ribet
Sesuai perjanjian yang telah disepakati, Lia dan Elvan mencoba bersikap seperti biasa di kantor. Jarang berinteraksi dan masih bersaing seperti hari-hari sebelumnya. Lia masih menganggap Elvan saingan terbesarnya di kantor dan berusaha menjaga gelar sales terbaik yang berhasil didapatkannya bulan lalu.Di rumah mereka juga jarang berinteraksi. Setelah pulang kantor, biasanya Lia langsung masuk kamar. Ia hanya keluar kalau ingin makan atau pergi ke kamar mandi.Lia jarang menghabiskan waktu di luar kamar karena masih kurang nyaman dengan Elvan, tapi jika Elvan memanggil untuk makan bersama Lia akan keluar. Sebab masakan Elvan enak sehingga Lia tidak akan melewatkannya.“Bulan ini aku akan mengalahkannya lagi,” ujar Lia pada Farah saat mereka makan siang bersama. Lia benar-benar harus menyemangati dirinya karena selama seminggu terakhir usahanya mendapatkan konsumen atau orderan besar tidak banyak berhasil.“Semangat yang bagus,” Farah memberi dukungan, mengerti kalau semangat Lia sedan
Lia lega karena Elvan mau makan spageti buatannya dan tidak mempermasalahkan pertengkaran mereka semalam.“Aku juga minta maaf. Semalam kita sama-sama lagi emosi dan capek,” ucap Elvan merespon permintaan maaf Lia. “Makasih untuk sarapannya. Nggak nyangka kamu bisa masak juga.”Lia memberengut. “Baru juga maaf-maafan udah ngajak berantem aja,” sahutnya kesal.Elvan mengangkat tangan. “Tahan dulu. Nggak ngajak berantem, tapi sebagai bentuk ekspresi kekaguman terhadap sesuatu yang kusangka tidak bisa kamu lakukan.”Kata-kata Elvan membuat Lia tertawa. “Lebay banget,” ujar Lia di sela-sela tawa.“Kamu lebih cakep kalau ketawa daripada marah loh.”Ucapan Elvan membuat Lia terdiam dan mengarahkan mata dengan tatapan curiga pada Elvan.“Kenapa, nggak senang dibilang cakep?” tanya Elvan takut-takut.Melihat Elvan yang gugup karena takut salah bicara, Lia tertawa.Elvan berdecak. “Serius, Lia. Becandamu itu nggak lucu,” keluh Elvan.“Tapi mukamu lucu,” sahut Lia yang masih tertawa.Elvan tida







