LOGIN“Farah!”Lia terkejut menemukan sahabat sekaligus rekan kerjanya berdiri di depannya.“Iya, aku Farah. Kamu nggak usah kaget gitu, kayak ngeliat hantu aja,” ujar Farah.Lia hanya bisa menyengir kaku menanggapi Farah. Karena ia sekarang panik karena bertemu Farah tiba-tiba.“Kok bisa ada di sini?” tanya Lia sambil mencari-cari keberadaan Elvan. Semoga saja, Elvan masih menunggu makanan sehingga tidak segera datang. Jadi, Lia sempat mengirim pesan pada pria itu agar menghindar sehingga mereka tidak ketahuan Farah.“Mau apa lagi di food court kalau nggak makan,” ujar Farah. “Kamu sendiri ngapain di sini?” Farah balas bertanya.“Ya mau makan lah, sama kayak kamu,” sahut Lia.“Pertanyaan bodoh, sorry … sorry. Maksudku, ngapain kamu di supermarket bahan bangunan?” Farah mengganti pertanyaan yang membuat Lia bingung bagaimana menjawab.Lia berusaha menemukan alasan yang terdengar masuk akal, setelah berpikir sesaat ia menjawab, “Jalan-jalan aja sih, sekalian lihat-lihat hiasan dinding. Ada s
Kencan di supermarket bahan bangunan memang bukan hal yang biasa Lia lakukan, bahkan belum pernah dilakukannya sebelumnya. Bersama Milan, Lia biasanya pergi ke tempat-tempat yang memang umum dituju orang untuk berkencan. Seperti mal, restoran, kafe, atau nonton film.Bersama Milan, Lia jarang sekali diajak kencan receh seperti makan di warung pinggir jalan atau sekadar naik motor berkeliling kota untuk melepas jenuh. Milan tidak pernah mengajak Lia naik motor karena pria itu tidak ingin Lia kepanasan atau kehujanan maupun sakit kena angin malam.Intinya, bersama Milan membuat Lia merasa sangat diperhatikan dan dimanjakan. Minusnya, tidak ada kepastian. Itulah yang membuat hubungan mereka kandas beberapa waktu lalu.Bersama Elvan, Lia selalu mendapatkan pengalaman berbeda. Seperti yang saat ini terjadi, berkencan di supermarket bahan bangunan yang ternyata tidak buruk juga.“Kamu mau warna apa untuk ruang santai?” tanya Elvan ketika mereka berdiri di bagian yang menjual berbagai wallpa
Lia terbangun keesokan harinya di atas kasur di kamar utama yang ia tempati. Namun, seingatnya tadi malam tidak kembali ke kamar dan jatuh tertidur di sofa depan televisi setelah mengobrol dengan Elvan. Lia jadi bertanya-tanya apakah Elvan yang membantunya pindah ke kamar atau ia berjalan sendiri dalam keadaan setengah sadar?Lia tidak bisa memikirkan lebih lanjut karena ketukan di pintu meminta perhatiannya. Lia sudah berjalan ke pintu ketika suara Elvan terdengar.“Lia, sudah bangun?”“Sudah,” jawab Lia sambil membuka pintu.“Kirain belum bangun,” ujar Elvan saat melihat Lia.“Baru bangun,” sahut Lia. “Semalam kamu yang mindahin aku ke kamar?”“Huum,” ujar Elvan sambil lalu sementara wajah Lia merona setelah mendengar jawaban itu. Karena jawaban itu berarti Elvan menggendong Lia ke kamar, artinya mereka sudah bersentuhan."Takutnya, kamu masuk angin kalau tidur di luar. Jadi aku pindahin ke kamar.” Elvan terlihat biasa saja saat menjelaskan. Seolah itu bantuan yang akan diberikan El
“Emang kamu gitu ya kalau nyari klien?” tanya Lia hati-hati. Pertanyaan itu memang lancang dan bisa membuat Elvan tersinggung, tapi Lia tidak bisa menahan diri untuk menanyakannya.Lia penasaran. Selain itu, juga ingin tahu sisi Elvan yang lain. Bukan saingan sempurna yang sulit sekali Lia kalahkan sebelumnya, tapi Elvan yang merupakan manusia biasa sepertinya.“Apaan nih, mau nyontek strategiku?”Lia begidik. Teringat apa yang sudah dialaminya beberapa jam lalu. “Ogah!” sahutnya. “Cuma nanya karena penasaran, kalau nggak mau jawab juga nggak papa.”Elvan diam. Mata pria itu kembali mengarah ke layar televisi yang menanyangkan acara variety show yang dirancang untuk membuat penonton tertawa, tapi Elvan tidak tertawa sedikit pun. Sebab tidak memerhatikan tayangan sama sekali.Lia jadi serba salah. Daripada nanti salah omong lagi, ia mencomot apel untuk membuat mulutnya sibuk.“Dulu, aku memang sering begitu.” Tiba-tiba Elvan membuat pengakuan. “Aku melakukan apa saja yang penting dapat
“Kamu bersih-bersih dulu,” kata Elvan setelah sampai di rumah.Lia menggangguk sebagai jawaban. Niatnya memang ingin langsung mandi dan ganti pakaian sesampainya di rumah. Meski tidak terjadi hal-hal tak diinginkan, tapi Lia merasa ingin segera membersihkan diri.“Kamu mau dimasakin sesuatu atau pesan anta raja?”Lia berhenti di depan pintu kamar sesaat. Saat ini ia tidak merasa lapar dan tidak nafsu makan, tapi perutnya harus diisi. “Aku ngikut kamu aja. Soalnya nggak tau mau makan apa, belum ada selera,” sahut Lia.“Aku masakin aja, pakai bahan yang ada di kulkas,” kata Elvan dan Lia tidak protes. Ia langsung masuk ke kamar, mengambil pakaian ganti, lalu masuk ke kamar mandi.Saat Lia keluar kamar mandi, aroma masakan tercium dari dapur. Lia urung kembali ke kamar dan mengalihkan langkah ke dapur.Elvan sedang di depan kompor sibuk dengan wajan ketika Lia mendekat.“Bikin apa?” tanya Lia sambil menengok isi wajan.“Mi goreng seafood,” jawab Elvan.Meskipun Elvan tak menjawab, Lia su
Tugas dari Bu Elvira adalah mengantarkan penawaran ke CV. Adeera yang sebelumnya menghubungi untuk memesan sparepart untuk bengkel mereka. Sebelumnya CV Adeera pernah bekerjasama dengan perusahaan tempat Lia bekerja, tapi tiga bulan lalu kontrak berakhir dan tidak ada pesanan semenjak itu.Elvan adalah sales yang sebelumnya bertanggung jawab mengurus pesanan dari Adeera, tapi kali ini Lia lah yang dipercaya. Kesibukan Elvan dengan pesanan besar ternyata berdampak baik ke Lia hingga bisa mendapatkan kesempatan menangani klien besar. Sebab pesanan dari CV Adeera sebelum ini tidak pernah sedikit.[Lia, kamu di mana?]Pesan masuk dari Elvan saat Lia di perjalanan menuju CV Adeera. Lia langsung membalas.[OTW ke Adeera. Adeera udah jadi klienku ya, jangan coba-coba ngerebut.]Lia langsung memperingatkan Elvan. Kalau kejadian lagi seperti sebelumnya klien Lia diambil Elvan, Lia tidak akan diam saja dan melakukan pembalasan langsung.[Balik deh, nggak usah ke situ. Itu kliennya susah, ribet







